Anda di halaman 1dari 42

PERCOBAAN I

GRANULASI BASAH

I. Tujuan
- Memahami bahan penyususn formula sediaan tablet paracetamol
- Memahami perhitungan pembuatan tablet
- Memahami proses dan cara pembuatan tablet dengan metode granlasi
basah
- Mengetahui alat alat yang digunakan pada proses pembuatan tablet
dengan metode granulasi basah
- Memahami evaluasi yang harus dilakukan pada saat pembuatan tablet
dengan metode granulasi basah
- Mengetahui alat yang digunakan untuk evaluasi tablet

II. Teori Dasar


Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa ahan
pengisi. Berdasarkan metode pembuatan tablet dapat digolongkan sebagai tablet
cetak dan tablet kempa (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,1995).
Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan
bentuk sediaan yang paling banyak digunakan dibandingkan semua bentuk
sediaan farmasetik, untuk sejumlah alasan. Tablet nyaman dan mudah digunakan,
mudahdibawa, dan relatif lebih murah dibandingkan dengan bentuk sediaan oral
lainnya. Sediaan tablet menghantarkan dosis yang tepat dan akurat. Tablet dapat
dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Tablet kempa didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat unit dosis yang
dibuat dengan memadatkan suatu formulasi yang mengandung zat aktif dan
eksipien tertentu yang dipilih sebagai bahan pembantu dalam memproses dan
untuk memberikan sifat dan mutu sediaan tablet yang sesuai dengan persyaratan.
Ada berbagai jenis sediaan tablet didesain untuk penggunaan atau fungsi
tertentu. Jenis ini mencakup tablet untuk ditelan; tablet untuk dikunyah yang
diformulasikan untuk dikunyah dan bukan ditelan, seperti beberapa tablet antasid

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 1


dan tablet vitamin; tablet bukal yang didesain agar larut lambat dalam kantong
pipi; tablet sublingual untuk disolusi cepat dibawah lidah; tablet efervesen yang
dilarutkan terlebih dahulu dalam air berbuij karena reaksi asam sitrat dan
bikarbonat atau beberapa kombinasi busa lain yang menghasilkan busa dalam air
dan diminum setelah reaksi selesai. Selain itu, masih ada tablet baginal dan rektal
yang didesain melalui rute vaginal dan rektum; tablet lepas lambat, tablet salut
enterik, dan sebagainya.
Sediaan tablet terdiri atas zat aktif dan eksipien. Ada beragam zat aktif dan
eksipien yang terdapat dalam berbagai formulasi sediaan tablet, masing-masing
mempunyai sifat dan fungsi tertentu.
Komponen pertama adalah zat aktif, ada dua golongan zat aktif yang
diberikan secara oral dalam bentuk sediaan tablet, yaitu zat aktif tidak larut
dimaksudkan untuk penggunaan efeklokal dalam saluran cerna seperti antasida
atau adsorben dan zat aktif terlarut dimaksudkan untuk penggunaan efekobat
sistemik setelaj disollusinya dalam usus halus dan selanjutnya diabsorpsi. Untuk
setiap golongan zat aktif tersebut, perhatian yang sangat seksama harus diberikan
terhadap formulasi dan desain sediaan tablet dan juga metode pembuatannya
untuk meproduksi suatu sediaan yang berkhasiat dan handal. Sasaran dalam
mendesain bentuk sediaan tablet untuk kedua golongan zat aktif berbeda.
Komponen yang kedua adalah komponen zat non aktif. Walaupun hampir
semua tablet mensyaratkan penambahan komponen nonaktif atau eksipien untuk
menghasilkan pelepasan zat aktif yang memuaskan, formulator hendaknya tidak
ragu-ragu menambahkan eksipien setelah sifat-sifat zat aktif telah dimengerti
sepenuhnya untuk mencapai sifat-sifat fisik dan mekanik yang dapat di terima,
dan untuk memudahkan pembuatannya.
Komponen tablet nonaktif atau eksipien merupakan zat inert secara fisik,
kimia, dan farmakologi yang ditambahkan kedalam formulasi seduaan tablet
untuk membantunya memenuhi persyaratan proses teknologi; persyaratan
spesifikasi teknis, fisik, penampilan; persyaratan tidak resmi yang ditetapkan oleh
tiap tiap pabrik.

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 2


Eksipien biasanya digolongkan sesuai dengan fungsi utama yang
dilakukannya dalam tablet. Anyak eksipien yang juga sering mempunyai fungsi
sekunder, yang dapat atau tidak dapat menguntungkan dalam desain bentuk
sediaan tablet yangbaik. Keuntungan beberapa pengisi atau pengencer dapat
mempermudah disulusi tablet, sementara yang lain mengganggu disolusi.
Lubrikan yang paling efektif adalah yang bersifat penolak air, yang dapat
memperlambat disintegrasi dan disolusi.
Penggolongan eksipien tablet pada umumnya adalah pengisi, pengikat,
disintegran, lubrikan, antiadgeren, glidan, pewarna, penyedap rasa dan aroma, an
adsorben
Semua ekspien tablet harus memenuhi kriteria tertentu dalam formulasi
seperti:
1. Tidak toksik dan dapat diterima oleh lembaga regulator semua engara
tempat produk tablet dipasarkan
2. Tersedia secara komersial dalam tingkat kualitas yang dapat diterima di
semua negara tempat produk dipasarkan
3. Tersedian dengan biaya rendah yang dapat diterima
4. Tidak kontraindikasi oleh bahan itu sendiri atau komponennya untuk
populasi tertentu
5. Inert secara fisiologis
6. Stabil secara fisik dan kimia, baik tunggal dan atau kombinasi dengan
zat aktif dan komponen tablet lainnya
7. Bebas dari kandungan mikrobiologis yang tidak dapat diterima
8. Kompatibel dengan zat warna
9. Tidak mempunya pengaruh buruk pada ketersediaan hayati zat aktif
dalam tablet
10. Disetujui langsung sebagai zat tambahan makanan jika sediaan obat juga
digolongkan sebagai makanan.
Granulasi serbuk adalah proses membesakan ukuran partikel kecil yang
dikumpulkan bersama-sama menjadi agregat yang lebih besar, secara fisik lebih
kuat dan pertikel orisinil masih teridentifikasi dan membuat agregat mengalir

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 3


bebas. Granulasi basah adalah proses menambahkan cairan pada suatu serbuk atau
campuran serbuk dalam suatu wadah yang dilengkapi dengan pengaduk yang akan
menghasilkan aglomerasi atau granul.
Metode ini merupakan metode paling tua dan paling konvensional dalam
pembuatan tablet. Walaupun metode ini sangat padat karya dan paling mahal,
masih tetap digunakan karena keserbagunaannya. Kemungkinan pembasahan
serbuk dengan beraneka ragam cairan, yang juga dapat bertindak sebagai suatu
pembawa bahan tertentu, sehingga meningkatkan karakteristik dan sifat-sifat
granulasi yang baik dan mempunyai banyak keuntungan. Dalam granulasi basah,
sifat kohesif pengikat cair yang disiapkan biasanya cukup untuk menghasilkan
ikatan dengan zat tambahan yang minimal
Mekanisme yang terlibat dalam proses ikatan antara lain adalah
1. Pembentukan jembatan kristalin oleh pengikat selama pengeringan
2. Struktur dibentuk dengan pengerasan pengikat dalam pengeringan
3. Penghancuran dan pengikatan partikel-partikel selama pengempaan.
Walaupun metode granulasi basah merupakan metode padat karya yang
menghabiskan waktu yang banyak memerlukan sejumlah tahapan, metode ini
masih terus diterapkan secara luas untuk sejumlah alasan. Salah satu alasannya
aadalah penggunaannya yang luas di masa lampau dan metode masih terus
berlaku untuk produk yang sudah mantap karena untuk salah satu alasan dan
lainnya, metode ini tidak dapat diganti dengan kempa langsung
Karena telah banyak data yang mungkin terkumpul tentang prosuk yang
sudah ada dan dapat dimengereti, industri farmasi enggan melakuka perubahan,
kecuali untuk alasan yang terpaksa. Alasan lainnya adalah formulator memilih
menggunakanmetode granulasi basah untuk memastikan keseragaman kandungan
tablet dengan mendispersikan dosis kecil zat aktif atau zat tambahan pewarna
dengan melarutkannya dalam pengikat cair. Prosedur ini menghasilkan distribusi
zat terlarut lebih baik dan seragam. Metode ini juga merupakan metode tunggal
untuk digunakan dalam granulasi zat aktif dosis besar karena dengan kempa
langsung akan memerlukan lagi penambahan sejumlah besar pengisi untuk

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 4


mempermudah pengempaan, tetapi mengakibatkan tablet menjadi tidak layak
karena akan menghasilka peningkatan ukuran tablet.
Keuntungan penggunaan metode granulasi basah pada proses pembuatan
tablet antara lain adalah:
1. Kohesivitas dan ketermampatan serbuk ditingkatkan selama dan setelah
pengempaan karena pengikat yang ditambahkan menyalut setiap partikel
menyebabkan melekatnya satu sama lain sehingga partikel-oartikel dapat
dibentuk menjadi granul
2. Zat aktif dosis tinggi yang mempunyai aliran dan kompreibilitas yang
buruk, harus digranulasi dengan metode basah untuk memperoleh aliran
dan kompresibilitas yang baikdistribusi dan keseragam kandungan yang
baik
3. Keseragaman serbuk yang luas dapat diperoleh bersama-sama dalam bets
tunggal.
4. Serbuk ruahan dan berdebu dapat ditangani
5. Mencegah pemisahan komponen campuran serbuk
6. Laju dsolusi zat aktif yang tidak larut ditingkatkan
7. Mengurangi penjeratan udara
Namun terdapat pula beberapa kerugian pembuatan tablet dengan
menggunakan metode granulasi basah yaitu:
1. Biaya yang diperlukan besar
2. Memerlukan banyak tahapan
3. Tiap unit proses menimbulkan kesulitan khusus. Makin banyak unit proses
makin banyak kesempatan masalah terjadi
Parasetamol merupakan serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa sedikit
pahit. Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari
101,0% C8H9NO2.
Paraseamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang
sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretik ditimbulkan oleh
gugus aminobenzen. Fenasetin tidak digunakan lagi dalam pengobatan karena

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 5


penggunaannya dikaitkan dengan terjadinya analgesik nefropati, anemia hemolitik
dan kemungkinan kangker kandung kemih.
Paracetamol tersedia sebagai obat bebas, walaupun demikian laporan
kerusakan fatal hepar akibat takar lajak akut perlu diperhatikan. Tetapi perlu
diperhatikan oleh pemakai ataupun dokter bahwa efek anti inflamasi paracetamol
hampir tidak ada (Departemen farmakologi dan Teurapetik UI,2009).
Efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan
atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh
dengan mekanisme yang dduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat.
Efek anti inflamasi sangat lemah, oleh karena itu paracetamol tidak
digunakan sebagai antirematik. Paracetamol merupakan penghambat biosintesis
PG yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada
paracetamol.
Paracetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.
Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit dan masa paruh
plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh. Dalam plasma
25% paracetamol terikat protein plasma. Obat ini dimetabolisme oleh enzim
mikrosom hati. Sebagian paracetamol dikonjugasi dengan asam glukoronat dan
sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat.paracetamol diekskresi melalui ginjal,
sebagian kecil sebagai paracetamol(3%) dan sebagian besar dalam bentuk
terkinjugasi
Penggunaan paracetamol sebagai analgesik dan antipiretik telah
menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik lainnya, paracetamol
sebaiknya tidak diberikan terlalu lama karena kemungkinan
menimbulkannefropato analgesik. Jika dosis terapi tidak memberikan mamfaat
biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Karena hampir tidak mengiritasi
lambung, parasetamol sering dikombinasikan dengan AINS untuk efek analgesik.
Reaksi alergi terhadap derivat para aminofenol jarang terjadi.
Manifestasinya berupa eritema atau ertikaria dan gejala yang lebih berat berupa
demam dan lesi pada mukosa

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 6


III. Resep
Formula Kadar
1. Paracetamol 250 mg
Fase Dalam

2. Pasta amilum 5%
3. Amilum 10%
4. Laktosa q.s.
1. Talk 2%
Fase Luar

2. Amilum 5%
3. Mg.stearat 1%

IV. Preformulasi Zat Aktif


Struktur Kimia

Rumus molekul C8H9NO2


Nama Paracetamol
Nama lain Asetaminofen
Nama kimia N-Acetyl p- aminophenol, 4`-hydroxyacetamid
Berat molekul 151,2
Pemerian Bubuk kristal, putih atau hampir putih
Suhu Lebur 168o C 172oC
pH 5,3 6,5
Kelarutan 1:70 dalam air dingin
1:20 dalam air panas
1:7 dalam etanol
1:13 dalam aseton
Stabilitas adanya perubahan pada kekerasan, disintegrasi dan
disolusi dari tablet paracetamol dengan formula povidon
dan pati yang digelatinasi selama penyimpanan 8

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 7


minggu pada suhu 40oC dan kelembaban relatif 94%.
Tablet yang menggunakan granulasi basah dengan pati
yang tergranulasi tidak terpengaruh oleh kelembaban
yang tinggi dibandingkan dengan yang dibuat dengan
povidon
Inkompatibilitas Paracetamol berikatan dengan permukaan nilon dan
rayon karena adanya ikatan hidrogen
Penyimpanan Disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung dari
cahaya
Daftar Pustaka The Pharmaceutical Codex 987 989

V. Preformulasi Eksipien
Amilum

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 8


Rumus molekul (C6H10O5)n n = 300 1000
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Sinonim Starch
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Berat molekul Antara 50 500 juta dalton
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Pemerian Bubuk putih atau tak begitu putih, tidak berbau, tidak berasa,
halus
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Fungsi Desintegran
Titik leleh
Kandungan Semua amilum merupakan senyawa yang higroskopik dan
lembab menyerap kelembaban dan atmosfer untuk mencapai
kelembaban yang setimbang.
Setiap jenis amilum memiliki kesetimbangan RH yang
berbeda-beda satu dengan yang lainnya:
12% pati jagung
14% pati kacang polong
18% pati kentang
14% pati beras
13% pati gandum
Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol 95% dan dalam air dingin
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Densitas BJ Nyata
0.450.58 g/cm3 (Pati jagung)
0.560.82 g/cm3 (Pati kentang)
0.50 g/cm3 (Pati gandum)
BJ mampat
0.690.77 g/cm3 (Pati jagung)
0.800.90 g/cm3 (Pati kentang)

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 9


0.76 g/cm3 (Pati gandum)
BJ sebenarnya
1.478 g/cm3 (pati jagung)
Viskositas Pati yang belum dimodiifkasi bukan merupakan polimer
yang cocok untuk mengatur kekentalan sediaan farmasetikal,
kecuali digunakan untuk produk nutrisi klinik. Hal ini
dikarenakan ketidakstabilan fisika dan mikrobiologi pasta
amilum.
Pada makanan pati berfungsi untuk meningkatkan
kekentalan, dengan cara peningkatan volume melalui
pengembangan partikel
Urutan kekentalan pasta amilum yang dikur dan dihitung
pada kondisi yang sama adalah:
Pati kentang >> pati tapioka >> pati jagung.

Stabilitas Amilum kering stabil jika terlindung darikelembaban yang


tinggi. Larutan atau pasta amilum secara fisik tidak stail dan
mudah dimetabolisme oleh mikroorganisme, karenanya
harus baru dibuat untuk granulasi basah

Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689


Penyimpanan Dalam wadah kedap udara, sejuk, kering
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Kompatibilitas Inkompatibel dengan zat pengoksidasi, terbentuk senyawa
inklusi berwarna dengan iodium

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 10


Laktosa anhidrat

Rumus molekul C12H22O11


Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Sinonim O-b-D-Galactopyranosyl-(1!4)-b-D-glucopyranose
Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Berat molekul 342.30
Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Pemerian Serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih krem, tidak
berbau, rasa sedikit manis, stabil di udara tapi mudah
menyerap bau
Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Fungsi Pengisi
Titik leleh 230oC (-lactose anhidrat); 252,2 oC (-anhidrat)
Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Kandungan
lembab
Kelarutan Larut dalam air, sedikit larut dalam etanol 95% dan eter
Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Densitas 1.589 g/cm3 anhydrousb-lactose

Viskositas
Stabilitas Pertumbuhan jamur dapat terjadi dbawah kondisi lembab

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 11


(kelembaban relatif 80% atau lebih). Laktosa dapat berubah
warna menjadi coklat saat penyimpanan. Reaksi dapat
dipercepat adanya pemanasan dan kondisi lembab. Pada shu
80oC dan RH sebesar 80% tablet yang mengandung laktosa
menunjukkan hasil yang mengembang sebanyak 1,2 kali
setelah satu hari
Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup, sejuk dan kering
Handbook of Pharmaceutical Excipient 359-361
Kompatibilitas Reaksi kondensasi terjadi antara laktosa dan senyawa amin
primer, membentuk warna coklat/ kuning. Laktosa juga
inkompatibel dengan asam amino, amfetamin, dan isopropil

Talkum
Rumus molekul
Sinonim Talc
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Berat molekul 379,3
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Pemerian Bentuk kristal halus, putih keabu-abuan, tidak berbau,
mudah melekat dikulit, bebas dari butiran
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Fungsi Glidan
Titik leleh 230oC (-lactose anhidrat); 252,2 oC (-anhidrat)
Kandungan Talk mengabsorpsi jumlah air secara signifikan pada suhu
25oC, dan RH 90%
lembab

Kelarutan Larut dalam air, sedikit larut dalam etanol 95% dan eter
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Densitas

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 12


Viskositas
Stabilitas Talkum merupakan material yang stabil
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup baik, sejuk dan kering
Handbook of Pharmaceutical Excipient 685 689
Kompatibilitas Inkompatibel dengan surfaktan

Mg Stearat
Rumus molekul Mg6(Si2O5)4(OH)4
Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405
Sinonim Octadecanoic acid magnesium salt
Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405
Berat molekul 591,24
Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405
Pemerian Serbuk halus putih voluminus, bau lemah khas, mudah
melekat pada kulit, bebas dari butir-butir.
Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405
Fungsi Lubrikan
Titik leleh 117150oC
Kandungan -
lembab
Kelarutan Praktis tidak larut dalam eatanol, etanol 95%, eter dan air.
Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405
Densitas Nyata : 0.159 g/cm3
Mampat : 0.159 g/cm3
Sebenarnya : 1.092 g/cm3
Viskositas -
Stabilitas Magnesium stearat stabil, harus disimpan dalam wadah
terututp baik ditempat sejuk dan kering

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 13


Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405
Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup baik, sejuk dan kering
Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405
Kompatibilitas Inkompatibel dengan asam kuat, alkali garam ion. Mg stearat
tidak dapat digunakan dengan aspirin, beberapa vitamin dan
garam alkaloid.
Handbook of Pharmaceutical Excipient 404 405

VI. Rasionalisasi Formula


Tablet paracetamol 250 mg dibuat dengan menggunakan metode granulasi
basah, alasan dipilihnya metode granulasi basah adalah karena paracetamol
memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang buruk.. Sehingga memungkinkan
tablet yang dibuat memiliki keseragaman bobot dan dosis yang buruk dan
mengalami capping dan laminating maka digunakanlah metode granulasi basah
untuk memperbaiki siat alir dan kompresibilitas paracetamol.
Parasetamol stabil hingga suhu 45oC, degranulasi paracetamol terjadi
karena adanya reaksi yang dikatalis oleh asam dan basa, sehingga pengeringan
dilakukan dibawah shu 45oC.
Latosa ditambahkan sebagai pengisi tablet, karena bobot tablet yang dibuat
adalah 350 mg, sehingga laktosa digunakan untuk mencukupi bobot tersebut.
Jenis laktosa yang digunakan adalah laktosa anhidrat, alasan pemilihan laktosa
jenis anhidrat dikarenakan reaksi meilard yaitu reaksi penggelapan warna yang
terjadi antara laktosa anhidrat dan gugus laktosa terjadi bila campuran berada pada
kelembaban yang tinggi dan pada penyimpanan yang lama.
Pati amilum ditambahkan sebagai pengikat, karena pada pembatan tablet
partikel partikel penyusun tablet harus melekat satu sama lain.
Amilum ditambahkan sebagai desintegran, yaitu penghancur tablet. Tablet
yang dimakan harus dapat hancur di dalam tubuh dalam waktu yang telah
ditentukan. Desintegran ditambahkan pada fase luar dan fase dalam. Tujuannya
adalah untuk menghancurkan tablet menjadi granul dan selanjutnya
menghancurkan granul menjadi partikel.

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 14


Mg. stearat ditambahakan sebagai lubrikan, fungsinya adalah untuk
meminimalisir friksi yang terjadi antara granul dan dies.
Talk ditambahkan sebagai glidan, untuk memperbaiki sifat alir dari granul
yang akan dimasukkan ke dalam dies.

VII. Perhitungan
Formula
Kadar parasetamol = 250 mg
Bobot tablet = 350 mg (dibuat untuk 500 tablet)
Perhitungan Kondisi
Formula Perhitungan 1 Tablet
500 Tablet Sebenarnya
Fase dalam (92%) = 92/100 x 350 mg = 322 mg
Paracetamol 250 mg 250 mg x 500 125 g
Amilum 10/100 x 350 mg = 35 mg 35 mg x 500 17,5 g
Pasta amilum 1/3 x 322 x 5% = 5,37 mg 5,37 mg x 500 2,69 g
Laktosa 322 (250+35+5,37)= 31,63 31,63 mg x 500 15,82 g
mg
Fase luar (8%)
Talk 2/92 x 134,124 g 2,92 g
Amilum 5/92 x 134,124 g 7,29 g
Mg. stearat 1/92 x 134,124 g 1,46 g

PA yang digunakan = 2,69 gram


Massa granul yang diperoleh = 134,124 gram
Bobot granul teoretis menjadi = 322 gram
Fasa luar yang ditambahkan:
Talk 2/92 x 134,124 g

Amilum 5/92 x 134,124 g

Mg. stearat 1/92 x 134,124 g

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 15


Kadar lembab pada granul = 0,4814 %
Jumlah tablet yang dapat dibuat = 500 tablet
Bobot tablet = 350 mg

VIII. Prosedur
1. Dibuat pasta amilum 5% sebagai bahan pengikat (larutan dibuat sebanyak
75g)
a. Beaker glass 250 ml dan batang pengandung ditimbang sehingga
dihasilkan berat Wo
b. Dimasukkan 3,75 g amilum kedalam beaker glass, kemudian
tambahkan 25 g aquadest
c. Dipanaskan beaker glass pada suhu gelatinasi (70oC) sambil diaduk
d. Disiapkan beaker glass lain yang berisi 50 g aquadest
e. Ditambahkan aquadest ke beaker glass yang berisi larutan pati
f. Ditimbang kembali beaker glass yang berisi pasta amilum. Dan
didapatkan berat W1 (selisih antara W1 dan Wo harus 75 g)
g. Jika berat beaker glass belum sesuai, maka tambahkan air panas
hingga mencapai berat yang diinginkan
2. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan
a. Ditimbang paracetamol sebanyak 125 g diatas kertas perkamen
menggunakan neraca analitik
b. Ditimbang pasta amilum 5% sebanyak 53,665 g menggunakan cawan
uap
c. Ditimbang amilum untuk fase dalam sebanyak 17,5 g menggunakan
kertas perkamen dengan neraca analitik
d. Ditimbang laktosa sebanyak 15,82 g menggunakan kertas perkamen
dengan neraca analitik
3. Dilakukan pencampuran fase dalam secara geometris (1:1)
a. Dimasukkan laktosa sebanyak 15,82 g kedalam turbula mixer
b. Dimasukkan amilum sejumlah laktosa (15,82) kedalam turbula mixer,
campur hingga homogen

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 16


c. Dimasukkan sisa amilum sebanyak 1,68 g dan paracetamol sebanyak
29,96 g hingga sebanding dengan serbuk yang telah berada dalam
mixer, campur hingga homogen
d. Dimasukkan paracetamol sebanyak 63,28 g agar sebanding dengan
jumlah serbuk dalam mixer, campur hingga homogen.
e. Dimasukkan sisa paracetamol sebanyak 31,76 g kedalam mixer,
campur hingga homogen.
4. Ditambahkan pasta amilum 5% sebnayak 53,67 g kedalam fase dalam
sedikit demi sedikit hingga diperoleh masa basah yang sesuai untuk dibuat
granul.
5. Masa yang basah kemudian dimasukkan kedalam oscilating granulator,
untuk dibuat granul
6. Granul basah dikeringkan dalam oven dengan shu maksimal 45oC sampai
kandungan kelembaban <3%
7. Timbang granul kering dan lakukan evaluasi granul
8. Granul kering kemudian diayak menggunakan ayakan mesh 14
9. Dilakukan penimbangan bahan-bahan untuk fase luar
a. Ditimbang amilum untuk fase luar sebanyak 7,29 g menggunakan
kertas perkamen dengan neraca analitik
b. Ditimbang talk sebanyak 2,92 g menggunakan kertas perkamen dengan
neraca analitik
c. Ditimbang magnesium stearat sebanyak 1,46 g dengan kertas
perkamen dengan neraca analitik.
10. Dilakukan pemcampuran granul yang lolos evaluasi granul dengn fase luar
yang telah ditimbang (talk, amilum, magnesium stearat) selama 2 menit
11. Masa siap cetak kemudian ditabletasi menggunakan alat pencetak tablet
single punch, dengan bobot 350 mg/tablet.

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 17


IX. Evaluasi Granul dan Tablet
Formulasi

Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4


Fase dalam

Paracetamol 250 mg Paracetamol 250 mg Paracetamol 250 Paracetamol 250


Pasta amilum 5% Pasta amilum mg mg
Amilum 10% 12,5% PVP 2% PVP 5%
Laktosa q.s. Amilum 10% Amilum 10% Amilum 10%
Laktosa q.s. Laktosa q.s. Laktosa q.s.

Fase luar
Amilum 5% Amilum 5% Amilum 5% Amillum 5%
Talk 2% Talk 2% Talk 2% Talk 2%
Mg.stearat 1% Mg.stearat 1% Mg.stearat 1% Mg.stearat 1%

1. Evaluasi Granul (FORMULASI 1)


a. Distribusi ukuran granul
Tujuan: - Menentukan ukuran partikel yang diperoleh pada masing-
masing mesh
- Untuk memperoleh kseragaman distribusi ukuran partikel
Prinsip :Menentukan distribusi ukuran granul dengan cara
mengayak granul yang dihasilkan menggunakan
pengayak dengan nomer mesh tertentu dan menimbang
berat granul yang tertinggal pada masing-masing ayakan
Alat : Ayakan mesh 12,14,40,60

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 18


Penafsiran hasil:
No. mesh Diameter lubang Bobot granul lolos Bobot granul tertinggal
(m) (g) (g)
12 1680 23,324 1,338
14 1410 13,460 9,565
40 420 1,535 11,303
60 250 0,935 0,455
Jumlah 22,661

Tabel distribusi ukuran granul


Bobot granul
Ukuran granul Bobot %
(m) granul % kumulatif
tertahan (g) (under size)
> 1680 1,338 1,338 100%
100% = 5,67%
23,596

1410 1680 9,565 9,565


100% = 40,537 94,33%
23,596

%
420 1410 11,303 11,303
100% = 47,908 53,793%
23,596

%
250 420 0,455 0,455
100% = 1,928 5,891%
23,596

%
< 250 0,935 0,935
100% = 3,963 3,963%
23,596

%
Jumlah 23,596 100%

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 19


Kurva histogram frekuensi /frekuensi ukuran

Histogram %Frekuensi Formulasi 1


60
50
% Frekuensi

40
30
20
10
0
< 250 250 -420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

Histogram %Frekuensi Formulasi 2


60
50
% Frekuensi

40
30
20
10
0
< 250 250 -420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 20


Histogram %Frekuensi Formulasi 3
80
70
60
% Frekuensi

50
40
30
20
10
0
< 250 250 -420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

Histogram %Frekuensi Formulasi 4


50

40
% Frekuensi

30

20

10

0
< 250 250 -420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 21


Kurva frekuensi kumulatif

Grafik % Kumulatif Formulasi 1


120
100
%Kumulatif

80
60
40
20
0
<250 20 - 420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

Grafik % Kumulatif Formulasi 2


120
100
%Kumulatif

80
60
40
20
0
<250 20 - 420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 22


Grafik % Kumulatif Formulasi 3
120
%Kumulatif 100
80
60
40
20
0
<250 20 - 420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

Grafik % Kumulatif Formulasi 4


120
100
%Kumulatif

80
60
40
20
0
<250 20 - 420 420 - 1410 1410 - 1680 > 1680
Diameter Granul

b. BJ nyata, BJ mampat dan % Kompresibilitas (%K)


Tujuan : untuk mengetahui kerapatan serbuk ruahan serta kerapatan
serbuk mampat, sifat alir, serta kompresibilitas
Prinsip : Pengukuran BJ nyata dan BJ mampat berdasarkan
perbandingan bobot granul terhadap volume sebelum dan
setelah dimampatkan (diketuk 500x). Pengukuran %
kompresibilitas berdasarkan Carrs Index.
bobot granul
BJ nyata
volume granul

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 23


bobot granul
BJ mampat
volume mampat

BJ mampat BJ nyata
%K 100%
BJ mampat

Penafsiran hasil: Jika % K:

5 10 % artinya aliran sangat baik


11 20 % artinya aliran cukup baik
21 - 25 % artinya aliran cukup
>26 % artinya aliran buruk

Hausner ratio =

BJ nyata (dilakukan secara triplo) = bobot granul / volume granul

NO W (g) V(ml) BJ(g/ml)


1 25,014 48,0 0,5211
2 25,010 44,5 0,5620
3 25,067 45 0,6670

0,5211+0,5620+0,6670
Rata-rata BJ nyata = 3
= 0,5467 g/ml

BJ mampat (dilakukan secara triplo) = bobot granul / volume mampat


Volume (ml)
Jumlah ketukan
1 2 3
10 47 44 45
500 43 42 43
1250 42,5 42 41,5
1750 42 - 41,5

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 24


Perhitungan BJ mampat
25,014
I= = = 0,5956 g/ml
1750 42
25,010
II= = = 0,5955 g/ml
1250 42
25,067
III = = = 0,6040 g/ml
1750 41,5
0,5956+0,5955+0,6040
Rata-rata BJ mampat = = 0,5984 g/ml
3

*Hausner Ratio
0,5956
I= = = 1,1430
0,5211
0,5955
II = = = 1,0596
0,5620
0,6040
III = = = 1,0844
0,5570

*Carrs index = (BJ mampat BJ nyata / BJ mampat) x 100%


percobaan BJ nyata BJ mampat Kompresibilitas
(g/ml) (g/ml)
1 0,5211 0,5956 0,59560,5211
100% = 12,5084%
0,5956

02 0,5620 0,5955 0,59550,5620


100% = 5,6255%
0,5955

3 0,5570 0,6040 0,60400,5570


100% = 7,7815%
0,6040
,+,+,
Rata-rata = = , %

Kesimpulan: kompressibilitas excelent (5-15%)

Perbandingan semua formula


Formula BJ nyata BJ mampat Kompresibilitas
g/ml g/ml
1 0,5595 0,5955 8,6385%
2 0,4544 0,4984 8,839%
3 0,3673 0,4098 10,4719%
4 0,3468 0,3744 7,4012%

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 25


c. Kecepatan aliran
Tujuan : Mengetahui sifat alir granul dan menjamin keseragaman
pengisian kedalam cetakan
Prinsip : Mengentukan sifat alir granul dengan mengukur Angel
of Repose
Alat : Corong, penggaris
()
Penafsiran Hasi l: Angel of Repose = Tan = ()

< 20o = sifat alir excelent


20o 30o = sifat alir Good
30o 34o = sifat alir Passabel
>40o = sifat alir Very poor

Sebelum penambahan lubrikan Setelah penambahan lubrikan

NO W(g) T(detik) Kec. Alir W(g) T(detik) Kec. Alir


(g/detik) (g/detik)
1 50,00 0,50 100 50,00 1,08 46,29
2 50,00 0,26 192,31 50,00 0,65 76,92
3 50,00 0,38 131,58 50,00 0,56 89,29

Rata-rata kecepatan aliran:


Sebelum penambahan lubrikan : 83,11 gram/detik
Setelah penambahan lubrikan : 161,95 gram/detik

Percobaan H(cm) R(cm) Angel of repose (o)


1 2,9 8,96 17,74
2 2,3 8,73 14,54
3 2,8 8,98 17,22
Rata-rata = 17,48o

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 26


Perbandingan dengan semua formula
Kecepatan alir (g/detik)
Angel of
Formula Sebelum penambahan Setelah penambahan
repose
lubrikan lubrikan
1 83,11 161,95 17,48o
2 85,92 117,53 33,39o
3 115,75 132,89 16,5780o
4 74,417 126,0624 8,118o

d. Kandungan lembab
Tujuan : Mengontrol kandungan lembab granul sehingga dapat
mengantisipasi masalah yang terjadi selama proses
pengempaan tablet, terutama kandungan lembab
menjadi faktor penyebabnya.
Prinsip : Pengukuran kandungan lembab dilakukan dengan
membandingkan berat granul sebelum dikeringkan
menggunakan oven dengan berat granul setelah
dikeringkan menggunakan oven.
1
% Kandungan lembab = 100%

Alat : Oven, neraca analitik


Penafsiran Hasil : Persentase kadar air dalam granul tidak kurang dari
2% dan tidak lebih dari 4%
Hasil :

Percobaan W granul + wadah (g)


Sebelum di oven Setelah di oven
1 22,7640 22,6717
2 25,1530 24,9260
3 22,4046 22,2797

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 27


% kandungan lembab:
1 22,764022,6717
I= 100% = 100% = 0,4054%
22,7640
1 25,153024,9260
II = 100% = 100% = 0,9024%
25,1530
1 22,404622,2797
III = 100% = 100% = 0,5574%
22,4046

0,4054%+ 0,5574%
Rata rata kandungan lembab = = 0,4814%
2

Perbandingan dengan semua formula

Formulasi % kandungan lembab

1 0,4814%
2 0,3933%
3 0,0269%
4 0,4814%

2. Evaluasi Tablet
a. Organoleptis
Tujuan : Penerimaan oleh konsumen
Prinsip : Pemeriksaan organoleptik meliputi warna, bau dan rasa
Prosedur : - siapkan tablet yang akan diamati
- Amati warna bau dan tampilan menggunakan panca
indra
Penafsiran hasil: Warna homogen, tidak ada binitk-bintik/noda, bau sesuai
spesifikasi (bau khas bahan, tidak ada bau yang tidak
sesuai), rasa sesuai spesifikasi

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 28


Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
Warna Putih Putih Putih Putih
Bau Khas zat Khas zat Khas zat Khas zat
aktif aktif aktif aktif
Rasa - - - -
Struktur Halus Halus Halus Halus
Homogenita
homogen Homogen Homogen Homogen
s

b. Keseragaman ukuran
Tujuan : Menjamin penampilan tablet yang baik
Prinsip : Selama proses pencetakan, perubahan ketebalan
merupakan indikasi adanya masalah pada aliran massa
cetak atau pada pengisian granul ke dalam die.
Pengukuran dilakukan terhadap diameter dan tebal
tablet.
Alat : jangka sorong
Prosedur : - siapkan 20 tablet yang akan diukur
- Ukur diameter dan ketebalan setiap tablet
menggunakan jangka sorong
- Catat diameter dan ketebalan setiap tablet
Penafsiran hasil: Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang
dari 1 kali tebal tablet.
Sebanyak 20 tablet diambil secara acak, lalu diukur diameter dan tebalnya
menggunakan jangka sorong.

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 29


Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
No d t d t d t d t
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
1. 12.30 4,05 12,30 4,10 12,20 4,05 12,25 4,00
2. 12.30 4,05 12,25 3,90 12,25 4,10 12,25 4,00
3. 12,25 4,00 12,30 4,10 12,25 3,95 12,20 4,00
4. 12,25 4,00 12,25 3,95 12,25 4,00 12,20 4,05
5. 12,25 4,00 12,30 4,00 12,25 4,00 12,25 4,05
6. 12,25 3,90 12,30 4,05 12,20 4,10 12,25 4,05
7. 12,30 4,05 12,25 4,00 12,25 4,00 12,25 4,00
8. 12,30 4,05 12,30 4,10 12,25 4,05 12,20 4,00
9. 12,25 4,05 12,25 4,00 12,25 4,05 12,20 4,00
10. 12,25 4,15 12,25 4,00 12,25 4,05 12,20 4,00
Rata- 12,27 4,03 12,27 4,02 12,24 4,04 12,23 4,02
rata
Syara Diameter tidak boleh lebih dari 3x tebal ablet dan tidak kurang dari 1
t 1/3 tebal tablet

c. Friabilitas
Tujuan : Menjamin ketahanan tablet terhadap gaya mekanik pada
proses, pengemasan dan penghantaran.
Prinsip : Pengukuran friabilitas dilakukan dengan menentukan
persentase bobot tablet yang hilang selama diputar dan
dijatuhkan dari ketinggian tertentu dalam waktu tertentu.
Alat : Friabilator taster
Prosedur : - siapkan 20 tablet yang akan diuji
- Timbang bobot tablet
- Masukkan tablet yang telah ditimbang kedalam
friabilator
- Putar alat dengan kecepatan 100 putaran/15 menit

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 30


- Bersihkan tablet dari fine yang menempel
- Timbang kembali tablet
Penafsiran hasil :
- Kehilangan bobot tidak boleh > 1%
- Jika tablet pecah maka tidak memenuhi syarat dan tidak dimasukan
dalam penimbangan tablet akhir.
- Jika hasil meragukan/kehilangan bobot lebih besar dari yang
ditargetkan maka pengujian diulang 2-3 kali.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat friabilitator terhadap 20
tablet yang diambil acak. Tablet yang diambil secara acak dibersihkan
satu-satu dengan kuas lalu ditimbang.Tablet lalu dimasukkan pada alat
dan diputar sebanyak 100 putaran.Tablet dibersihkan lagi dan ditimbang.
Wo W1
Friabilitas = 100%
Wo
Untuk formula 1:
Bobot tablet awal (Wo) =
Bobot tablet akhir (W1) =

Percobaan Bobot awal (g) Bobot (g) Kerapuhan (%)


1 6,530 6,517 0,1991
2 6,588 6,575 0,1973
4 6,542 6,524 0,2751
Rata-rata 0,1982

Perbandingan friabilitas dengan semua formulasi


Formulasi Friabilitas (%)
1 0,1982
2 0,36
3 0,18
4 0,19

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 31


d. Keragaman bobot
Tujuan : Menjamin keseragaman kandungan zat aktif.
Prinsip : (untuk tablet tidak bersalut) Sebanyak 20 tablet diambil
secara acak lalu ditimbang masing-masing tablet. Rata-
rata bobot kemudian dihitung bersama penyimpangan
terhadap bobot rata-rata.
Alat : neraca analitik
Penafsiran hasil: Tidak boleh ada 2 tablet yang masing-masing
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari 7,5%,
dan tidak boleh ada satupun tablet yang menyimpang
dari bobot rata-rata lebih dari 15%.
Untuk formula : 1
No. Bobot tablet (mg) X1
1. 0,595 99,562
2. 0,586 98,0562
3. 0,589 98,5582
4. 0,590 98,7255
5. 0,597 99,8968
6. 0,606 101,4028
7. 0,610 102,0721
8. 0,610 102,0721
9. 0,634 106,0881
10. 0,601 100,5661
Rata- 0,6018 100,7 %
rata

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 32


%AV = |M-X| + k.s
(1)2
S= 1

T=100 maka M=X


N=10 maka K= 2,4
S= 2,3740
%AV = k.s
% AV = 2,4 x 2,3740
= 5,6976%
Memenuhi persyaratan karena %AV tidak lebih dari 15%

Perbandingan dengan semua formulasi


Formula 1 2 3 4
Rata-rata 0,6018 0,592 0,605 0,5981
%AV 5,6976% 4,3452% 5,3011% 3,468%

e. Kekerasan tablet
Tujuan : Menjamin ketahanan tablet pada gaya mekanik pada
proses, pengemasan dan penghantaran
Prinsip : Kekerasan tablet menggambarkan kekuatan tablet untuk
menahan tekanan pada saat produksi, pengemasan, dan
pengangkut. Pengujian dilakukan dengan memberikan
tekanan pada tablet sampai tablet retak kemudian pecah.
Alat : Hardness tester
Prosedur : - ukur tempat sample sesuai dengan diameter tablet
- Atur sekrup penekan sample sampai tepat diatas tablet
- Masukkan kertas ke printer
- Nyalakan alat dan sapu tablet ketika pecah dan ganti
dengan tablet selanjutnya
- Angka kekerasan akan tercetak pada kertas
Penafsiran hasil : Kekerasan tablet yang baik adalah 4-7 kg/cm2

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 33


Pengukuran dilakukan terhadap 20 tablet yang diambil acak. Kekerasan
diukur berdasarkan luas permukaan tablet dengan menggunakan beban
yang dinyatakan dalam kg.

No. Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4


Tablet (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm2)
1. 6,4 7,6 5 5,4
2. 6,9 6,2 6,6 7,4
3. 5,8 6,4 6 5,4
4. 7,6 6,4 5,1 5,9
5. 7,0 5,8 6,4 5,1
6. 6,9 5,5 7,5 6,1
7. 5,5 6,9 6,2 6,6
8. 7,8 7 6,4 6,2
9. 5,8 6,2 7 5,6
10. 5,5 6,9 6,4 6,8
Rata-rata 6,52 6,49 6,26 6,05

f. Waktu hancur
Alat : desintegrating taster
Tujuan : Menentukan kesesuaian dengan persyaratan waktu
hancur yang tertera dalam masing-masing monografi
untuk sediaan tablet dan kapsul (kecuali jika dinyatakan
untuk tablet kunyah, sustained release).
Prinsip : Pengukuran waktu yang diperlukan tablet untuk hancur
sempurna dengan menggunakan alat uji waktu hancur
dalam media air (untuk tablet tidak bersalut) bersuhu 37
2 kecuali dinyatakan lain dalam monografi. Bejana
diisi dengan HCl 0,1 N, volume diatur pada kedudukan
tertinggi, lempeng kasa tepat pada permukaan larutan

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 34


dan pada kedudukan terendah. Mulut tabung tetap diatas
permukaan.Enam tabung dimasukkan satu-satu ke
masing-masing tabung, lalu keranjang dinaik turunkan
secara teratur 30 kali tiap menit. Waktu hancur dicatat
sejak pertama kali tablet mulai hancur hingga tidak ada
bagian yang tertinggal di atas kasa.
Prosedur : - masukkan tablet pada lubang yang ada pada keranjang
- Siapkan beaker yang berisi air 37oC sebanyak 700 ml
- Nyalakan alat, keranjang akan dinaik turunkan ke
dalam beaker glass
- Angkat keranjang dan amati semua tablet
- Jika satu atau dua tablet tidak hancur sempurna, ulangi
pengujian dengan 12 tablet lainnya
Penafsiran hasil: Pada akhir batas waktu seperti yang tertera dalam
monografi, semua tablet hancur sempurna. Tablet hancur
jika tidak ada bagian tablet tertinggal di atas kasa kecuali
fragmen bahan pembantu.Menurut FI III, jika tidak
dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk
menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15 menit
untuk tablet tidak bersalut.

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 35


No
Waktu hancur (menit)
Tablet
Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4
1 9,34 9,47 5,12 9,04
2 9,45 9,47 8,3 9,04
3 9,4 9,38 7,55 8,3
4 10,21 8,59 8,17 8,24
5 9,03 10,08 8,5 9,04
6 9 10,04 9,39 9,04
Ratarata 9,41 9,51 9,59 9,18

X. Pembahasan
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa ahan
pengisi. Berdasarkan metode pembuatan tablet dapat digolongkan sebagai tablet
cetak dan tablet kempa (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,1995).
Terdapat tiga metode pembuatan tablet, yaitu metode granulasi basah,
garanulasi kering, dan kempa langsung. Metode granulasi bsah digunakan bila
bahan aktif yang akan ditabletasi mempunya sifat alir dan kopresibilitas yang
buruk, namun tahan terhadap air dan pemanasan, metode granulasi kering
digunakan bilabahan aktif yang digunakan memiliki sifat alir dan kompresibilitas
yang buruk, dan tidak tahan terhadap air. Metode kempa langsung digunakan bila
bahan aktif mempunya sifat alir dan kompresibilitas yang baik, atau bila zat aktif
mempunya sifat alir dan kompresibilitas yang buruk namun hanya digunakan
dalam jumlah yang kecil <25 mg
Tablet parasetamol dibuat dengan metode granulasi basah. Karena
parasetamol memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang buruk. Oleh karena itu
dengan dibuat menggunakan metode granulasi basah, dapat memperbaiki sifat alir
dan kompresibilitas parasetamol sehingga dapat dihasilakn tablet yang baik sesuai
dengan spesifikasi yang diinginkan

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 36


Bahan yang ditambahkan terdiri dari fase luar dan fase dalam, fase dalam
yaitu terdriri dari laktosa, amilum, dan apti amilum. Fase luar terdiri dari talk dan
mg.stearat dan amilum fase luar.
Laktosa berfungsi sebagai pengisi. Untuk mencukupi berat tablet yaitu 350
mg. laktosa yang digunakan adalah laktosa anhidrat, karena reaksi melard akan
terjadi bila antara laktosa dan gugus amina bila disimpan dalam keadaan
kelmbaban yang tinggi dalam waktu yang relatif lama, sehingga sampai proses
pengeringan dilakukan diharapkan reaksi meilard belum terjadi.
Amilum berfungsi sebagai desintegran untuk dapat memecahkan tablet
dalam tubuh, karena tablet harus dapat hancur sesegera mungkin dalam tubuh agar
zat aktif dapat mengalami liberasi dan akhirnya terdisolusi dan diabsorpsi
kedalam tubuh. Amilum merupakan zat yang akan mengembang bila terkena air
(cairan asam lambung) dan akan memecah tablet. Amilum digunakan pada fase
luar dan fase dalam. Tujuan digunakan pada fase luar adalah untuk memecahkan
tablet menjadi granul, dan tujuan ditambahkan pada fase dalam adalah untuk
memecah granul menjadi serbuk.
Pati amilum digunakan sebagai pengikat karena serbuk harus saling melekat
satu sama lain.
Tahapan pertama adalah pembuatan pati amilum 5%. Jumlah yang
digunakan adalah 1/3 dari jumlah fase dalam. Yaitu 1/3 x 322 mg = 107,333 mg.
Sedangkan pati kering yang ditimbang adalah 5% x 107,333 = 5,36 mg untuk satu
tablet. Untuk digunakan pada limaratus tablet dikalikan 500. 500x 5,35 = 2,69 g
Namun jumlah pati yang dibuat dilebihkan menjadi 50 g. jadi berat pati kering
yang ditimbang adalah sebanyak 2,5 g. cara pembuatan pati adalah menimbang
beaker glass yang akan digunakan. Setelah itu masukan pati kering kedalam
beaker glass. Tambahkan air sebanyak 25 g. panaskan sambil diaduk sampai larut.
Lallu tambahkan air kembali sedikit demi sedikit. Timbang beaker glass berisi
pati. Selisih antara berat kosong dan berat isi haruslah 50g bila berat belum
mencapai, maka tambahkan kembali air sampai selisih berat yang diinginkan.
Setelah pembuatan pati amilum dilakukan penimbangan fase dalam sesuai
dengan perhitungan. Penimbngan dilakukan dengan menggunakan neraca analitik.

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 37


Setelah semua bahan ditimbang dilakukan perncampuran fase dalam
menggunakan turbula mixer. Dimasukkan laktosa sebanyak 15,82 g kedalam
turbula mixer. Dimasukkan amilum sejumlah laktosa (15,82) kedalam turbula
mixer, campur hingga homogen. Dimasukkan sisa amilum sebanyak 1,68 g dan
paracetamol sebanyak 29,96 g hingga sebanding dengan serbuk yang telah berada
dalam mixer, campur hingga homogen.Dimasukkan paracetamol sebanyak 63,28
g agar sebanding dengan jumlah serbuk dalam mixer, campur hingga homogen.
Dimasukkan sisa paracetamol sebanyak 31,76 g kedalam mixer, campur hingga
homogen.
Setelah semua bahan tercampur dilakukan penambahan pati sedikit demi
sedikit, sambil diuleni sampai terbentuk masa basah yang sesuai untuk pembuatan
granul.
Setelah itu masa basah dimasukkan kedalam oscilating granulator untuk
dibuat granul. Granul basah yang sudah jadi kemudian di keringkan dengan oven
tidak lebih dari 45oC sampai kelembaban kurang dari 3%.
Granul kering siap untuk dicampurkan dengan fase luar, namun sebelum
dilakukan pencampuran dengan fase luar, dilakukan evaluasi in process control
terhadap granul. Proses IPC dilakukan dengan tujuan untuk menjamin kualitas
bahan setengah jadi yang akan dijadikan tablet. Pengujian yang dilakukan
meliputi uji distribusi ukuran, % MC,BJ dan kompresibilitas dan sifat alir.
Uji distribusi ukuran dilakukan dengan melewatkan granul pada beberapa
ayakan dengan mesh berbeda, yaitu 12,14,40,60 setiap nomor mesh memiliki
ukuran lubang yang berbeda. Langkah pertama yaitu menimbang granul yang
akan dievaluasi seberat 25 g. kemudian diayak pada mesh 12 selama 5 menit.
Timbang berat granul yang tertahan pada mesh 12, dan berat granul yang lolos
dari mesh 12. Ranul yang lolos pada mesh 12 dilanjutkan untuk diayak pada
ayakan mesh 14, 40, dan 60. Setelah dilakukan pengujian diketahui bahwa
distribusi ukuran granul formulasi 1 adalah distribusi normal.
Uji MC dilakukan dengan cara menimbang botol timbang terlebih dahulu
sesudah itu dimasukkan granul 2 g dan di oven selama 1 jam, kemudian dilakukan
penimbangan kedua dan dihitung selisih berat. Diketahui kandungan lembab dari

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 38


granul adalah 0,4814%. Kelembaban tidak memenuhi persyaratan karena kurang
dari 2%
Uji sifat alir dilakukan dengan menghitung angel of repose. Caranya adalah
dengan mengalirkan granul pada corong, seruk ditimbang sebanyak 50 g.
kemudiaan dialirkan pada corong dengan ketinggian 15 cm. kemudian diukur
tinggi dan jari jari gundukan granul. Angel of repose dihitung dengan rumus tan
=h/r. setelah dilakukan pengujian sebanyak 3 kali, didapatkan sudut istirahat
adalah sebesar 17,48%. Dan diketahui bahwa sifat alir dari granulasi dengan
formulasi satu adalah excelent, karena angel of repose kurang dari 20o
Pengujian BJ dan kompresibilitas dilakukan dengan mengukur bj nyata dan
bj mampat. Rumus kompresibilitas adalah %k=bj mampat-bj nyata/bj mampat.
Didapatkan kompresibililtas granul adalah 8,6385%. Dan diketahui sifat alir
sangat baik karena masuk dalam rentang 5-10%
Setelah dilakukan evaluasi terhadap granul dilakukan pencampuran fase luar
yaitu talk dan mg stearat dan amilum fase luar Pencampuran dilakukan dalam
turbula mixer selam 2 menit Setelah tercampur. Masa cetak dicetak menggunakan
alat pencetak tablet single punch merek ERWEKA.
Alat pencetak tablet single punch dapat menetak tablet hingga 200 tablet/
menit.
Tablet yang sudah jadi dilakukan evaluasi. Diantaranya adalah uji
kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, keseragaman ukuran, keseragaman bobot,
organoleptik
Uji kekerasan dilakukan dengan alat yang bernama hardness taster, alat akan
mencatat berapa gaya yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Setelah
dilakukan pengujian kekerasan diketahui bahwa kekerasan tablet adalah 6,52
kg/cm2. Diketahui bahwa kekerasan tablet memenuhi persyaratan karena bearada
dalam rentang 4-7 kg/cm2
Uji kerapuhan dilakukan dengan menggunakan friability taster. Tablet
ditimbang terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke dalam alat yang akan berputar,
kemudian tablet dibersihkan dan ditimbang kembali, dan dihitung berapa berat

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 39


tablet yang hilang. Didapatkan bahwa kerapuhan tablet adalah 0,1991. Yang
didapatkan dari perhitungan menggunakan rumus

Wo W1
Friabilitas = 100%
Wo
Kekerasan tablet memenuhi persyaratan karena kehilangan bobot tidak melebihi
1%
uji waktu hancur dilakukan dengan alat disintegrating, yang berupa
keranjang yang akan dicelupkan kedalah air yang sesuai dengan suasana lambung.
Tablet yang akan diuji dimasukkan kedalam lubang yang ada pada keranjang, dan
kemudian disiapkan beaker glass yang berisi air. Dan didapatkan rata-rata waktu
hancur tablet adalah 9,41 menit
uji keseragaman ukuran dilakukan dengan mengukur diameter dan tebal
tablet dengan jangka sorong. Didapatkan hasil rata rata diameter dan tebal tablet
adalah 12,27 mm dan 4,03 mm. tablet dinyatakan memiliki ukuran yang tidak
memenuhi persyaratan karena diameter tablet melebihi 3 x tebal tablet
Uji keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang sejumlah tablet,dan
dihitung rata rata berat. Setelah ditu dihitung % penerimaan menggunakan rumus
%AV = |M-X| + k.s
setelah dilakukan perhitungan %AV diketahui nilai penerimaan tablet adalah
5,6976%. %AV memenuhi persyaratan karena tidak lebih dari15%.
Pengujian selanjutnya adalah uji organoleptik, pengujian meliputih
pengamatan terhadap warna, bau, struktur, dan homogenitas tablet. Pengamatan
dilakukan dengan menggunakan panca indra. Setelah dilakukan pengamatan
terhadap beberapa tablet uji diketahui bahwa tablet memiliki warna yang merata,
struktur yang halus, bau khas zat aktif, dan homogenitas tablet baik.

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 40


XI. Kesimpulan
Dari hasil evaluasi yang dilakukan, diketahui bahwa tablet yang
menggunakan pengikat pati amilum baik dibandingkan dengan
menggunakan pengikat lainnya.

Evaluasi Formula Formula Formulasi Formulasi


1 2 3 4
Uji Homogenitas X X
Kandungan X X X X
Granul

Lembab
Kecepatan Aliran X
Bobot Jenis
Uji Organoleptik
Keseragaman X X X X
Bentuk dan Ukuran
Keseragaman Bobot
Tablet

Kekerasan
Friabilitas
Friksibilitas
Waktu Hancur
Uji Disolusi

Keterangan:
= memenuhi syarat
X = tidak memenuhi syarat

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 41


XII. Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia,.
edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia,.


edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Raymond c rowe, paul J shekey, marian E quinn.2009. Handbook of


pharmaceutical excipient.london.
James Swarbrick.2005.Handbook of Pharmaceutical granulation
technology.London
Siregar,charles jp, saleh wikarsa.2010.Teknologi armasi sediaan
tablet.Jakarta. EGC
Departemen farmakologi dan teurapetik. 2009. Farmakologi dan
Terapi.Jakarta. Departemen farmakologi dan teurapetik

Laporan Praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Solida Granulasi Basah 42