Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan ektopik adalah salah satu komplikasi kehamilan di mana ovum yang
sudah dibuahi menempel di jaringan yang bukan dinding rahim. Kehamilan ektopik
terganggu (KET) adalah kegawatdaruratan obstetrik yang mengancam nyawa ibu dan
kelangsungan hidup janin, serta merupakan salah satu penyebab utama mortalitas ibu,
khususnya pada trimester pertama. Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa
yang dapat di hadapi oleh setiap dokter, karena sangat beragamnya gambaran klinik
kehamilan ektopik terganggu itu. Hal yang perlu di ingat ialah, bahwa pada setiap wanita
dalam masa reproduksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang di sertai dengan
nyeri perut bagian bawah, perlu dipikirkan kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik dapat terjadi sebagai akibat usaha fertilisasi in vitro pada
seorang ibu, dan kehamilan ektopik tersebut dapat menurunkan kesempatan pasangan
infertil yang bersangkutan untuk mendapatkan anak pada usaha berikutnya. Kehamilan
ektopik ialah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang bersangkutan
berhubungan dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat, keadaan yang
gawat ini dapat terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu.
Dalam keadaan normal kehamilan akan terjadi intrauterine, nidasi akan terjadi
pada endometrium korpus uteri. Dalam keadaan abnormal implantasi hasil konsepsi
terjadi di luar endometrium rahim, disebut kehamilan ekstrauterin. Ovum yang telah
dibuahi (blastosit) secara normal akan melakukan implantasi pada lapisan endometrium
didalam kavum uteri. Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di luar
kavum uteri. Sekitar 2 dari 100 kehamilan di Amerika Serikat merupakan kehamilan
ektopik, dan sekitar 95% pada tuba fallopi. Bentuk lain dari kehamilan ektopik yaitu
kehamilan servikal, kehamilan ovarial, dan kehamilan abdominal. (Prawiroharjo, 2011)
Kehamilan ektopik yang belum terganggu juga menjadi masalah tersendiri, karena
seolah-olah menjadi bom waktu dalam tubuh pasien. Hal ini terjadi bila tidak ada fasilitas
diagnostik yang menunjang. Dengan diagnosis yang tepat dan cepat kesejahteraan ibu,
bahkan janin, dapat ditingkatkan. Oleh karena itu seorang tenaga medis harus mampu
untuk menangani bebagai kasus kegawatdaruratan pada ibu hamil salah satunya yaitu
kehamilan ektopik.
B. Rumusan Masalah
1.
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi diluar
endometrium kavum uteri. Kebanyakan kehamilan ektopik di tuba, hanya sebagian kecil
di ovarium, kavum abdomen, kornu (Setyarini, 2016).
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di luar kavum uteri.
Kehamilan ektopik terganggu (KET) merupakan komplikasi kehamilan dimana sel terul
yang dibuahi tidak bisa menempel pada jaringan yang semestinya. Kondisi ini merupakan
kondisi gawat darurat yang harus segera diketahui oleh petugas medis karena
membahayakan nyawa ibu.

B. Lokasi Kehamilan Ektopik


Kebanyakan kehamilan ekstrauterin terjadi pada tuba Fallopi (gestasi ektopik), tetapi
jarang ovum yang fertil berimplantasi pada permukaan ovarium atau serviks uterin.
Sangat jarang ovum yang fertil berimplantasi pada omentum/kehamilan abnormal
(Manuaba, dkk, 2008).
Lokasi kehamilan ektopik meliputi :

1. Kehamilan tuba (interstisial, ampula tuba, istmus tuba, osteum tuba eksternum)
2. Kehamilan servikal
3. Kehamilan ovarium
4. Kehamilan abdomen (primer implantasi, sekunder implantasi)
5. Kehamilan intralegamenter di ligamentum rotundum

C. Etiologi
Semua faktor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri menyebabkan seorang
ibu semakin rentan untuk menderita kehamilan ektopik, yaitu :
1. Faktor dalam lumen tuba:

a. Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan lumen tuba.


b. Hipoplasia uteri, dengan lumen tuba menyempit dan berkelok-kelok.
c. Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna.
2. Faktor pada dinding tuba:

a. Endometriosis, sehingga memudahkan terjadinya implantasi di tuba.


b. Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi ovum.
3. Faktor di luar dinding tuba:

a. Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba


b. Tumor yang menekan dinding tuba.
c. Pelvic Inflammatory Disease (PID)

4. Faktor lain:

a. Hamil saat berusia lebih dari 35 tahun.


b. Fertilisasi in vitro.
c. Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).
d. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya.
e. Infertilitas.
f. Mioma uteri.
g. Hidrosalping (Rachimhadhi, 2005).

D.
E.
Penyebab Gangguan ini adalah terlambatnya transport ovum karena obstruksi mekanis
pada jalan yang melewati tuba uteri. Kehamilan tuba terutama di ampula, jarang terjadi
kehamilan di ovarium. Tanda dan Gejala Nyeri yang terjadi serupa dengan nyeri
melahirkan, sering unilateral (abortus tuba), hebat dan akut (rupture tuba), ada nyeri tekan
abdomen yang jelas dan menyebar. Kavum douglas menonjol dan sensitive terhadap
tekanan. Jika ada perdarahan intra-abdominal, gejalanya sebagai berikut: a. Sensitivitas
tekanan pada abdomen bagian bawah, lebih jarang pada abdomen bagian atas. b.
Abdomen tegang. c. Mual. d. Nyeri bahu. e. Membran mukosa anemis. Jika terjdi syok,
akan ditemukan nadi lemah dan cepat, tekanan darah di bawah 100 mmHg, wajah tampak
kurus dan bentuknya menonjol-terutama hidung, keringat dingin, ekstremitas pucat, kuku
kebiruan, dan mungkin terjadi gangguan kesadaran.
F.