Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan ektopik adalah salah satu komplikasi kehamilan di mana ovum yang
sudah dibuahi menempel di jaringan yang bukan dinding rahim. Kehamilan ektopik
terganggu (KET) adalah kegawatdaruratan obstetrik yang mengancam nyawa ibu dan
kelangsungan hidup janin, serta merupakan salah satu penyebab utama mortalitas ibu,
khususnya pada trimester pertama. Karena manifestasinya yang cukup dramatis, sering
kali KET dijumpai terlebih dahulu bukan oleh dokter-dokter ahli kebidanan, melainkan
dokter-dokter yang bekerja di unit gawat darurat, sehingga entitas ini perlu diketahui oleh
setiap dokter.
Kehamilan ektopik dapat terjadi sebagai akibat usaha fertilisasi in vitro pada
seorang ibu, dan kehamilan ektopik tersebut dapat menurunkan kesempatan pasangan
infertil yang bersangkutan untuk mendapatkan anak pada usaha berikutnya. Masalah yang
lain ialah masalah diagnosis. Tidak semua pusat kesehatan di negara ini mempunyai
fasilitas pencitraan, dan dalam menghadapi pasien yang datang dengan keluhan maupun
tanda KET, tidak semua dokter, terutama primary-care physician, segera memikirkan
KET sebagai salah satu diagnosis banding. Hal ini mengakibatkan keterlambatan
diagnosis dan terapi yang adekuat.
Kehamilan ektopik yang belum terganggu juga menjadi masalah tersendiri, karena
seolah-olah menjadi bom waktu dalam tubuh pasien. Hal ini terjadi bila tidak ada fasilitas
diagnostik yang menunjang. Dengan diagnosis yang tepat dan cepat kesejahteraan ibu,
bahkan janin, dapat ditingkatkan. Dari berbagai faktor yang berperan pada kematian ibu
dan bayi, kemampuan kinerja petugas kesehatan berdampak langsung pada peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal terutama kemampuan dalam
mengatasi masalah yang bersifat kegawatdaruratan. Semua penyulit kehamilan atau
komplikasi yang terjadi dapat dihindari apabila kehamilan dan persalinan direncanakan,
diasuh dan dikelola secara benar. Untuk dapat memberikan asuhan kehamilan tepat dan
benar diperlukan tenaga kesehatan yang terampil dan profesional dalam menanganan
kondisi kegawatdaruratan.
B. Rumusan Masalah
1.
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi diluar
endometrium kavum uteri. Kebanyakan kehamilan ektopik di tuba, hanya sebagian kecil
di ovarium, kavum abdomen, kornu (Setyarini, 2016).
Kehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil konsepsi
berimplantasi,tumbuh dan berkembang di luar endometrium kavum uteri. Bila kehamilan
tersebut mengalami proses pengakhiran (abortus) maka disebut kehamilan ektopik
terganggu. Kehamilan ektopik terganggu adalah kehamilan ektopik yang terganggu, dapat
terjadi abortus atau pecah dan hal ini berbahaya bagi wanita tersebut.

B. Lokasi Kehamilan Ektopik


1. Kehamilan ektopik paling sering terjadi di daerah tuba falopi (98%)

a. Ujung fimbriae tuba falopii (17%)


b. Ampula tubae ( 55%)
c. Isthmus tuba falopii (25%)
d. Pars interstitsialis tuba falopii (2%)

2. Ovarium (indung telur)


3. Rongga abdomen (perut)
4. Serviks (leher rahim)

C.
D.
Penyebab Gangguan ini adalah terlambatnya transport ovum karena obstruksi mekanis
pada jalan yang melewati tuba uteri. Kehamilan tuba terutama di ampula, jarang terjadi
kehamilan di ovarium. Tanda dan Gejala Nyeri yang terjadi serupa dengan nyeri
melahirkan, sering unilateral (abortus tuba), hebat dan akut (rupture tuba), ada nyeri tekan
abdomen yang jelas dan menyebar. Kavum douglas menonjol dan sensitive terhadap
tekanan. Jika ada perdarahan intra-abdominal, gejalanya sebagai berikut: a. Sensitivitas
tekanan pada abdomen bagian bawah, lebih jarang pada abdomen bagian atas. b.
Abdomen tegang. c. Mual. d. Nyeri bahu. e. Membran mukosa anemis. Jika terjdi syok,
akan ditemukan nadi lemah dan cepat, tekanan darah di bawah 100 mmHg, wajah tampak
kurus dan bentuknya menonjol-terutama hidung, keringat dingin, ekstremitas pucat, kuku
kebiruan, dan mungkin terjadi gangguan kesadaran.
E.