Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian


integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan
pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan
penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan
bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik. Berdasarkan undang-undang No.
44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna dengan menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat.

Unit gawat darurat adalah unit pelayanan rumah sakit yang memberikan
pelayanan pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara
terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin (DepKes RI, 2005). Jumlah dan
kasus pasien yang datang ke unit gawat darurat tidak dapat diprediksi karena kejadian
kegawatan atau bencana dapat terjadi kapan saja, dimana saja serta menimpa siapa
saja. Karena kondisinya yang tidak terjadwal dan bersifat mendadak serta tuntutan
pelayanan yang cepat dan tepat maka diperlukan triage sebagai langkah awal
penanganan pasien di unit gawat darurat dalam kondisi sehari-hari, kejadian luar biasa
maupun bencana.

Triage pertamakali dilakukan tahun 1797 oleh Dominique Jean Larrey ahli bedah
Napoleon Bonaparte, dengan cara memilah kasus berdasarkan kondisi luka. Prioritas
utama saat itu adalah tentara dengan luka ringan dapat segera kembali ke medan perang
setelah dilakukan penanganan minimal. Konsep triage dilakukan saat itu karena
pertempuran mengakibatkan banyak korban sementara ahli bedah Napoleon terbatas.

Triage adalah suatu sistem seleksi dan pemilihan pasien untuk menentukan
kegawatan dan prioritas penanganan pasien (DepKes RI, 2005). Sistem triage merupakan
salah satu penerapan sistem manajemen risiko di unit gawat darurat sehingga pasien yang
datang mendapatkan penanganan dengan cepat dan tepat sesuai kebutuhannya dengan
menggunakan sumberdaya yang tersedia. Triage juga membantu mengatur pelayanan
sesuai dengan alur pasien di unit gawat darurat. Penilaian triage merupakan pengkajian
awal pasien unit gawat darurat yang dilakukan oleh perawat. Berdasarakan pemaparan di
atas, maka penulis tertarik untuk memaparkan konsep triage.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Triage?
2. Apa tujuan dari Triage?
3. Bagaimana prinsip-prinsip dari Triage?
4. Apa saja klasifikasi dari Triage?
5. Apa saja tipe dari Triage?
6. Bagaimana kategori dari Triage?
7. Bagaimana proses dari Triage dalam keperawatan?
8. Bagaimana dokumentasi dari Triage?

C. Tujuan
1. Untuk menegtahui apa yang dimaksud dengan Triage.
2. Untuk mengetahui tujuan dari Triage.
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dari Triage.
4. Untuk mengetahui klasifikasi dari Triage.
5. Untuk mengetahui tipe-tipe dari Triage.
6. Untuk mengetahui kategori dari Triage.
7. Untuk mengetahui bagaimana proses dari Triage dalam keperawatan
8. Untuk mengetahui pendokumentasian dari Triage
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Triage
Menurut Zimmermann dan Herr (dalam Kartikawati,2012) mengungkapkan
triage adalah suatu proses penggolongan pasien berdasarkan tipe dan tingkat
kegawatan kondisinya. Triage juga diartikan sebagai suatu tindakan pengelompokkan
penderita berdasarkan pada beratnya cedera yang diprioritaskan ada tidaknya
gangguan pada airway (A), breating (B), dan circulation (C) dengan
mempertimbangkan sarana, sumber daya manusia, dan probabilitas hidup penderita
(Kartikawati,2012).
Triage adalah suatu cara untuk menseleksi atau memilah korban berdasarkan
tingkat kegawatan. Menseleksi dan memilah korban tersebut bertujuan untuk
mempercepat dalam memberikan pertolongan terutama pada para korban yang dalam
kondisi kritis atau emergensi sehingga nyawa korban dapat diselamatkan(Ciptaning
Tyas, 2016).

B. Tujuan Triage
1. Mengidentifikasi kondisi yang mengancam nyawa
2. Memprioritaskan pasien menurut kondisi keakutannya
3. Menempatkan pasien sesuai dengan keakutannya berdasarkan pada pengkajian
yang tepat dan akurat
4. Menggali data yang lengkap tentang keadaan pasien

C. Prinsip Triage

Triage seharusnya segera mengatasi masalah pasien dan mengurangi terjadi


kecacatan akibat kerusakan organ. Pengkajian seharusnya adekuat dan akurat, data
yang didapatkan dengan adekuat dan akurat menghasilkan diagnosa masalah yang
tepat. Keputusan didasarkan dari pengkajian, penegakan diagnose dan keputusan
tindakan yang diberikan sesuai kondisi pasien. Intervensi dilakukan sesuai kondisi
korban, penanganan atau tindakan yang diberikan sesuai dengan masalah/keluhan
pasien. Kepuasan korban harus dicapai, kepuasan korban menunjukkan teratasinya
masalah. Dokumentasi dengan benar, dokumentasi yang benar merupakan sarana
komunikasi antar tim gawat darurat dan merupakan aspek legal.

Adapun prinsip-prinsip Triage menurut Kartikawati, 2012 adalah segabagi


berikut:

1. Triage harus dilakukan dengan segera dan singkat


2. Kemampuan untuk menilai dan merespon dengan cepat kemungkinan yang
dapat menyelamatkan pasien dalam kondisi sakit atau cedera yang
mengancam nyawa dalam departemen gawat darurat
3. Pengkajian harus dilakukan dengan adekuat dan akurat
4. Keajuratan dan ketepatan data merupakan kunci dalam proses pengkajian
5. Keputusan dibuat berdasarkan pengkajian
6. Keselamatan dan keefektifan perawatan pasien dapat direncanakan jika
terdapat data dan informasi yang akurat dan adekuat
7. Intervensi yang dilakukan berdasarkan kondisi keakuatan pasien
8. Tanggung jwab yang paling utama dari proses triage yang dilakukan perawat
adalah keakiuratan dalam mengkaji pasien dan memberikan perawatan sesuai
dengan prioritas pasien
9. Tercapainya kepuasan pasien
a. Perawatan Triage harus menjalankan triage secara simultan, cepat, dan
langsung sesuai kebeutuhan pasien
b. Menghindari keterlambatan dalam perawatan pada kondisi yang kritis
c. Memberikan dorongan emosional pada pasien dan keluarga
10. Penempatan pasien yang benar pada tempat yang benar saat waktu yang benar
dengan penyedia pelayanan yang benar

D. Klasifikasi Triage
Klasifikasi penting dilakukan untuk menseleksi korban yang datang sehingga
keselamatan korban segera ditolong. Klasifikasi ini dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Prioritas 1 atau Emergency (Emergensi)
Diberikan warna atau label merah, pada korban yang mendapatkan
prioritas 1 apabila tidak segera ditangani menganjam jiwa, waktu tunggu 0-5
menit. Contoh : henti paru dan jantung, obstruksi total saluran nafas, IMA,
trauma thorak.
2. Prioritas 2 atau Urgent (Gawat)
Diberikan warna atau label kuning, apabila tidak tolong korban maka
korban tidak segera terjadi kolap paru dan jantung, perawatan dan pengobatan
tidak lebih dari 30 menit. Contoh : Asma Bronkiale, fraktur ekstremitas tanpa
perdarahan.

3. Prioritas 3 atau NonUrgent (Tidak Gawat)


Diberikan warna atau label hijau, kondisi korban tidak serius,
membutuhkan perawatan kurang dari 2 jam. Contoh : Pilek, batuk.

Banyak tipe dari klasifikasi triage yang digunakan pada pre-hospital ataupun
post-hospital

1. Triage Pre-Hospital
Triage pada musibah masal atau bencana dilakukan dengan tujuan
bahwa dengan sumber daya yang minimal dapat menyelamatkan korban
sebanyak mungkin. Pada musibah masal, jumlah korban puluhan atau mungkin
ratusan, dimana penolong sangat belum mencukupi baik saran amaupun
penolongnya sehingga dianjurkan menggunakan teknik START.
Hal pertama yang dapat lakukan pada saat di tempat kejadian bencana
adalah berusaha untung tenang, lihat sekeliling dan menyeluruh pada lokasi
kejadian. Pengamatan visual memberikan kesan pertama mengenai jenis
musibah, perkiraan jumlah korban, dan beratnya cedera korban. Pengamatan
visual juga memberikan perkiraan mengenai jumlah dan tipe bantuan yang
diperlukan untuk mengatasi situasi yang terjadi. Laporkan secara singkat pada
call centre dengan bahasa yang jelas mengenai hasil dari pengkajian, meliputi
lokasi kejadian, tipe insiden yang terjadi, adanya ancaman atau bahaya yang
mungkin terjadi, perkiraan jumlah pasien , tipe bantuan yang harus diberikan
a. Metode Simple Triage and Rapid Treatment (START)
Metode START dikembangkan untuk penolong pertama yang
bertugas memilih pasien pada korban musibah masal / bencana dengan
waktu 30 detik atau kurang berdasarkan 3 pemeriksaan primer seperti
berikut ini :
1) Respirasi
2) Perfusi (mengecek nadi radialis)
3) Status mental
Hal yang penting untuk diperhatikan adalah tidak melakukan tindakan
terapi pada korban yang akan dilakukan triage. Tugas utama penolong triage
adalah untuk memeriksa pasien secepat mungkin dan memilah atau
memprioritaskan pasien berdasarkan berat ringannya cedera. Penolong tidak
boleh berhenti saat melakukan pengkajian kecuali untuk mengamankan jalan
nafas dan menghentikan perdarahan yag terjadi. Selain melakukan triage
(pemilahan korban), penolong lain akan melakukan follow up dan perawatan
jika diperlukan di lokasi.
Apabila penolong lain sudah datang ke lokasi kejadian, maka korban
akan dilakukan retriase (dengan pemeriksaan yang lebih lengkap untuk
mengenali kegawatan yang mungkin terjadi), evaluasi lebih lanjut, resusitasi,
stabililasi, dan transportasi. Retriasi dilakukan dengan menggunakan
pemasangan label metag sistem yang sudah mencantumkan identitas dan hasil
pemeriksaan terhadap korban.
Pasien diberi label sehingga akan mudah dikenali oleh penolong lain saat
tiba di tempat kejadian. Metode pemasangan label mungkin berbeda di setiap
pusat kesehatan, dapat berupa pita atau kertas berwarna untuk melabeli korban.
Pasien dapat diklasifikasikan menjadi berikut ini :
1) Korban kritis atau immediate diberi label merah / kegawatan yang
mengancam nyawa (prioritas 1)
Untuk mendeskripsikan pasien dengan luka parah diperlukan transportasi
segera ke rumah sakit. Kriteria pada pengkajian adalah sebagai berikut.
a) Respirasi > 30x / menit
b) Tidak ada nasi radialis
c) Tidak sadar / penurunan kesadaran
2) Delay / tertunda / diberi label kuning / kegawatan yang tidak mengancam
nyawa dalam waktu dekat (prioritas 2).
Untuk mendeskripsikan cedera yang tidak mengancam nyawa dan dapat
menunggu pada periode tertentu untuk penatalaksanaan dan trasportasi
dengan kriteria sebagai berikut.
a) Respirasi < 30x/menit
b) Nadi teraba
c) Status mental normal
3) Korban terluka yang masih dapat berjalan diberi label hijau / tidak terdapat
kegawatan / penanganan dapat ditunda (prioritas 3).
Penolong pertama di tempat kejadian akan memberikan intruksi verbal untuk
pergi kelokasi yang aman dan mengkaji korban dari trauma, serta mengirim
kerumah sakit
4) Meninggal diberi label hitam / tidak memerlukan penanganan.

Tahapan metode START adalah sebagai berikut


1) Langkah pertama
Langkah pertama pada START adalah dengan aba-aba (loudspeaker )
memerintahkan pada korban yang dapat berdiri dan berjalan bergerak ke
lokasi tertentu yang lebih aman. Jika pasien dapat berdiri dan berjalan, maka
bisa disimpulkan bahwa sementara tidak terdapat ganguan yag mengancam
jiwa pada korban-korban tersebut. Jika korban mengeluh nyeri atau menolak
untuk berjalan jangan terpaksa untuk berpindah tempat.
2) Langkah kedua
Pasien yang tidak berdiri dan bergerak adalah yang menjadi prioritas
pengkajian berikutnya. Bergerak dari tempat berdiri penolong secara
sistematis dari korban satu kekorban yang lain. Lakukan pengkajian secara
singkat (kurang dari 1 menit setiap pasien) dan berikan label yang sesuai pada
korban tersebut. Ingat tugas penolong adalah untuk menemukan pasien
dengan label merah yang membutuhkan pertolongan segera, periksa setiap
korban, koreksi gangguan airway dan breathing yang mengancam nyawa dan
berikan label merah pada korban tersebut.
BAGAN ALIR "START"

Bisajalan? CederaRingan
Ya HIJAU

Tidak Pasienbern Ya
afas

Buka airway 30 lebih 30 kurang


30x/menit

Tidak
Pasiennafasse ya
telahbuka
airway

Urgen
Meninggal MERAH
HITAM
PERFUSI
PeriksaKesadaran
NadiRadialis/
Kapilari Refile
tidak ada

Kontrol Kontrol
Perdarahan Perdarahan

Urgen Mengikutiperi
Tertunda
MERAH ntah
KUNING

b. Evaluasi penderita berdasarkan RPM


START tergantung pada 3 pemeriksaan meliputi : RPM respiration, perpusion,
and mental status. Masing masing pasien harus dievaluasi secara cepat dan
sistematis, dimulai dengan pemeriksaan respiration (breathing)
1) Airway Breathing
Jika pasien bernapas, mak diperlukan pemeriksaan respiration rate. Pasien
dengan pernapasan lebih dari 30x per menit, diberikan label merah
(immediate). Jika pasien bernafas dan laju pernafasan kurang dari 30x
permenit, pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan sirkulasi dan mental
status pasien untuk dilakukan pemeriksaan secara lengkap dalam 30 detik.
Jika pasien tidak bernafas, secara cepat bersihkan mulut pasien dari
kemungkinan benda asing gunakan tekning haed tilt chin lift untuk membuka
jalan nafas. Peralatan bantu jalan nafas atau airway sederhana seperti
orofaring airway dapat digunakan. Selama mengamankan jalan nafas harus
dilindungi servikal terutama pada pasien dengan multipel trauma. Buka jalan
nafas, jika pasien dapat bernafas, pasangkan pasien dengan label immediet.
Pasien yang membutuhkan jalan nafas dipertahankan dipasngkan dengan label
merah immediet. Jika pasien tidak bernafas dan tidak mulai bernafas ketika
dilakukan pembebasan jalan nafas dengan airway mamuper sederhana, maka
pasien diberi lebel hitam (Deat)
2) Circulation
Langkah kedua pada START yaitu dengan menilai circulation dari pasien.
Metode terbaik pada pemeriksaan circulation yaitu dengan meraba
pergelangan tangan dan merasakan pulsasi dari arteri radialis. Pengecekan
dilakukan dalam 5-10 detik. Jika tidak dijumpai, maka pasien diberikan label
merah. Jika pulsasi arteri radialis dijumpai, mkadilanjutkan pemeriksaan akhir
dengan menilai mental status pasien. Pemeriksaan data dilakukan dengan cara
lain yaitu dengan blanchtest (menilai kapilary refill time), jika didapatkan
hasil lebih dari 2 detik, maka pasien diberi label merah
3) Mental status
Akhir dari pemeriksaan adalah dengan menilai status mental pasien.
Observasi dilakukan pada pasien dengan pernafasan dan circulation yang
adekuat. Tes mental status yaitu dengan meminta pasien untuk mengikuti
perintah yang sederhana. “buka matamu, tutup matamu, gengam tangan
saya”. Pasien yang dapat mengikuti perintah sederhana diberikan label kuning
delayet, sedangkan pasien yang tidak responsif terhadap perintah sederhana
diberikan label merah immediet. Sistem START ini didisain untuk membantu
penolong menemukan pasien dengan cedera paling berat. Ketika penolong
lain telah tiba dilokasi, maka pasien akan dilakukan triage ulang untuk
pemeriksaaan lebih lanjut, stabilisasi, dan trasportasi. Harap diingat bahwa
pasien dengan cedera dapat mengalami perubahan tanda-tanda vital.
Pada saat jumlah penolong memungkinkan untuk dilakukan
pemeriksaan yang lebih akurat, maka pengkajian terhadap pasien dapat
dilakukan lebih teliti. Tindakan ini dapat dilakukan dengan mengunakan kartu
metag (medikal emergency triage tag) dimana selain pasien diberi label
berdasarkan skala prioritas penanganan, tanggal dan jam, identitas baik
korban maupun penolong juga tercantum. Pemeriksaan lebih lengkap dengan
tanda vital dan pengobatan yang telah diberikan.
2. Triage in Hospital
Pada Unit Gawat Darurat perawat bertanggung jawab dalam
mennentukan prioritas perawat perawatan pada pasien. Keakutan dan jumlah
pasien, skill perawat, ketersediaan peralatan dan sumber daya dapat
menentukan setting prioritas.
Thomson dan Dains (dalam Kartikawati, 2012) mengidentifikasi
bahwa ada tiga tipe yang umum dari sistem triage yaitu :
a. Tipe 1 Traffic Director/Triage non-Nurse
Petugas yang melakukan triage bukan staf berlisensi seperti
asisten kesehatan. Staf melakukan pengkajian visual secara cepat dan
bertanya apa keluhan utama. Hal ini tidak berdasarkan standard an tidak
ada sedikit dokumentasi.
b. Tipe 2 Spot Check Triage/Advanced Triage
Staf yang berlisensi seperti perawat atau dokter melakukan
pengkajian cepat termasuk latar belakang dan evaluasi subjektif dan
objektif. Biasanya 3 kategori keakutan pasien digunakan. Meskipun
penampilan dari tiap professional pada tiap triage bervariasi bergantung
dari pengalaman dan kemampuan.
c. Tipe 3 Comprehensive Triage
Tipe ini merupakan system advanced dari triage dimana staf
mendapat mendapatkan pelatihan dan pengalaman triage. Kategori
keakutan termasuk 4 atau 5 kategori. Tipe ini juga menulis standar atau
protokol untuk proses triage termasuk tes diagnostic, penatalaksanaan
spesifik, dan evaluasi ulang dari pasien. Dokumentasi juga harus
dilakukan. Adapun keuntungan dari Triage Komprehensif adalah sebagai
berikut.
1) Pasien ditangani oleh perawat professional yang berpengalaman
2) Pasien yang membutuhkan penanganan segera akan lebih cepat
diketahui
3) Proses triage dilakukan oleh perawat yang berpendidikan, telah
mengikuti pelatihan dan dinyatakan lulus uji kompetensi triage
4) Pasien dan keluarga mendapatkan penjelasan langsung dari petugas
5) Petugas memberikan keterangan mengenai proses dan alur dalam unit
gawat darurat kepada pasien, keluarga, maupun pengunjung
6) Perawat triage dipernbolehkan untuk melakukan tes laboratorium dan
radiologi berdasarkan panduan triage
7) Pasien yang menunggu dilakukannya tindakan, dolakukan observasi
setiap beebrapa jam sekali (disesuaikan dengan kebijakan trumah
sakit)
8) Adanya komunikasi antara petugas dan pasien setiap saat

E. Tipe Triage
Ada beberapa tipe triage, yaitu :
a. Daily triage
Daily triage adalah triage yang selalu dilakukan sebagai dasar pada system kegawat
daruratan. Triage yang terdapat pada setiap rumah sakit berbeda-beda, tapi secara umum
ditujukan untuk mengenal, mengelompokan pasien menurut yang memiliki tingkat
keakutan dengan tujuan untuk memberikan evaluasi dini dan perawatan yang tepat.
Perawatan yang paling intensif dberikan pada pasien dengan sakit yang serius meskipun
bila pasien itu berprognosis buruk.
b. Mass Casualty incident
Merupakan triage yang terdapat ketika sestem kegawatdaruratan di suatu tempat
bencana menangani banyak pasien tapi belum mencapai tingat ke kelebihan kapasitas.
Perawatan yang lebih intensif diberikan pada korban bencana yang kritis. Kasus minimal
bisa di tunda terlebih dahulu.
c. Disaster Triage
Ada ketika system emergensi local tidak dapat memberikan perawatan intensif
sesegera mungkin ketika korban bencana sangat membutuhkan. Filosofi perawatan
berubah dari memberikan perawatan intensif pada korban yang sakit menjadi memberikan
perawatan terbaik untuk jumlah yang terbesar. Fokusnya pada identifikasi korban yang
terluka yang memiliki kesempatan untuk bertahan hidup lebih besar dengan intervensi
medis yang cepat. Pada disaster triage dilakukan identifikasi korban yang mengalami luka
ringan dan ditunda terlebih dahulun tanpa muncul resko dan yang mengalami luka berat
dan tidak dapat bertahan. Prioritasnya ditekankan pada transportasi korban dan perawatan
berdasarkan level luka.
d. Military Triage
Sama dengan tiage lainnya tapi berorientasi pada tujuan misi disbanding dengan
aturan medis biasanya. Prinsip triage ini tetap mengutamakan pendekatan yang paling
baik karena jika gagal untuk mencapai tujuan misi akan mengakibatkan efek buruk pada
kesehatan dan kesejahteraan populasi yang lebih besar.
e. Special Condition triage
Digunakan ketika terdapat faktor lain pada populasi atau korban. Contohnya kejadian
yang berhubungan dengan senjara pemusnah masal dengan radiasi, kontaminasi biologis
dan kimia. Dekontaminasi dan perlengkapan pelindung sangat dibutuhkan oleh tenaga
medis.

F. Kategori Triage
1. Triage dua tingkat
Dalam triage dua tingkat pasien dikategorikan sakit atau tidak sakit. Pasien
yang sakit membutuhkan perawatan darurat dengan kondisi yang
mebahayakan nyawa, tubuh, atau organ. Sementara itu, pasien yang tidak sakit
ialah pasien yang tidak menunjukkan tanda-tanda serius, bisa menunggu jika
perawatan sedikit tertunda.
2. Triage tiga tingkat
System triage tiga tingkat ini banyak digunakan d Amerika Serikat.
Pengategorian dapat ditentukan berdasarkan warna (merah, kuning,hijau) atau
pemberian nomor (kategori 1,2,3) tetapi pada dasarnya kategori tersebut
merujuk pada kondisi di bawah ini.
a. Gawat darurat
Pasien membutuhkan tindakan yang cepat. Keluahan utama adalah
berdasarkan pada ancaman serius terhadap nyawa, tubuh, atau organ,
misalnya : serangan jantung, trauma berat, gagal nafas. Respon pasien
harus diperhatikan dan perlu dilakukan observasi secara terus menerus.
b. Darurat
Pasien membutuhkan tindakan segera tetapi pasien masih
memungkinkan menunggu bebrapa jam jika mampu, misalnya : nyeri
abdomen, fraktur, dan batu ginjal. Disarankan untuk melakukan
observasi setiap 30 menit.
c. Biasa
Setelah pasien dilakukan pengkajian, karena kondisi pasien tidak kritis
maka pasien dapat menunggu. Biasnya pasien berada diruang
Ambulatory Care misalnya : konjungtivitis, gangguan dtenggirokan,
kulit. Dilakukan observasi setiap 1-2 jam.
3. Triage empat tingkat
Penggunakan triage empat tingkat ini dilakukan dengan menanmbahkan status
Life Treatening (ancaman nyawa) sesain status gawat darurat, darurat, dan
biasa.
4. Triage lima tingkat
Saat ini skala triage lima tingkat banyak digunakan diseluruh UGD rumah
sakit di Amerika Serikat. Pada skala ini ada penambahan level yaitu tingkat 1
yang berarti gawat darurat tertinggi dan tingkat lima untuk pasien dengan
kondisi yang paling ringan.
5. Skala Triage Australia
Skala tiage Australia ini banyak digunakan di UGd Australia. Penghitungan
waktu dilakukan sejak pasien pertama kali tiba ke UGD, pemeriksan tanda-
tanda vital dilakukan jika perawat akan mengambil keputusan tingkat
kedaruratan triage. Selain itu, proses triage meliputi pemeriksaan kondisi
kegawatdaruratan pasien secara menyeluruh.
Tingkat Waktu Perawatan Persentase Tindakan
Sangat mengancam Langsung 100
hidup
Sedikit mengancam 10 menit 80
hidup
Berisiko mengancam 30 menit 75
hidup
Darurat 60 menit 70
Biasa 120 menit 70

6. Skala Triage Kanada


Sekelompok dokter dan perawat di Kanada mengembangkan skala akuitas dan
triage lima tingkat. Setiap tingkat triage mewakili setiap keluahan dari pasien.
Triage yang dilakukan oleh perawat harus berdasarkan ilmu dan pengalaman
tentang proses pemilahan pasien berdasarkan tingkat kedaruratannya. Dalam
melakukan proses triage perawat mengambil keputusan tentang seberapa lama
pasien dapat menunggu tindakan sebelum perawat melakukan pengkajian
secara komprehensif dan seberapa lama pasien dapat menunggu untuk
selanjutnya akan diperiksa dokter yang akan merawatnya.
Tingkat Waktu Untuk Waktu Untuk Respon
Perawat Dokter Langsung
Resusitasi Langsung Langsung 98 %
Gawat Darurat Langsung < 15 menit 95 %
Darurat < 30 menit < 30 menit 90 %
Biasa < 60 menit < 60 menit 85 %
Tidak Gawat < 120 menit < 120 menit 80 %

7. Skala Triage Manchester


Skala ini dikembangkan di Inggris oleh kelompok perawat dan dokter gawat
darurat. Setiap tingkatan pada triage isi diberi nama, nomor, dan warna sebagai
pedoman perawat dalam memberiakn perawatan kepada pasien. Perawat
menanyakan tanda dan gejala kepada pasien jawaban iya menunjukkan tingkat
kedarurat pasien.
No Nama Warna Waktu
1 Langsung Merah 0 menit
2 Gawat Darurat Orange 10 menit
3 Darurat Kuning 60 menit
4 Standar Hijau 120 menit
5 Biasa Biru 240 menit

G. Proses Triage Dalam Keperawatan


Menurut Rutenberg (dalam Ciptaning Tyas, 2016) mengatakan bahwa proses
triage mengikuti langkah-langkah proses keperawatan yaitu tahap pengkajian,
penetapan diagnosa, perencanaan, intervensi, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Ketika komunikasi dilakukan, perawat melihat keadaan pasien secara
umum. Perawat mendengarkan apa yang dikatakan pasien, dan mewaspadai
isyarat oral. Riwayat penyakit yang diberikan oleh pasien sebagai informasi
subjektif. Tujuan informasi dapat dikumpulkan dengan mendengarkan nafas
pasien, kejelasan berbicara, dan kesesuaian wacana. Temuan seperti mengi,
takipnea, batuk produktif (kering), bicara cadel, kebingungan, dan disorientasi
adalah contoh data objektif yang dapat langsung dinilai. Informasi tambahan
lain dapat diperoleh dengan pengamatan langsung oleh pasien. Lakukan
pengukuran objektif seperti suhu, tekanan darah, berat badan, gula darah, dan
sirkulasi darah. Aturan praktis yang baik untuk diingat adalah bahwa
perawatan apapun dapat dilakukan dengan mata, tangan, atau hidung dengan
arahan yang cukup dari perawat.
2. Diagnosa
Dalam triage diagnosa dinyatakan sebagai ukuran yang mendesak.
Apakah masalah termasuk ke dalam kondisi Emergency (mengancam
kehidupan, anggota badan, atau kecacatan). Urgen (mengancam kehidupan,
anggota badan, atau kecacatan) atau non-urgen. Diagnosa juga meliputi
penentuan kebutuhan pasien untuk perawatan seperti dukungan, bimbingan,
jaminan, pendidikan, pelatihan, dan perawatan lainnya yang memfasilitasi
kemampuan pasien untuk mencari perawatan
3. Perencanaan
Dalam triage rencana harus bersifat kolaboratif. Perawat harus dengan
seksama menyelidiki keadaan yang berlaku dengan pasien, mengidentifikasi
faktor-faktor kunci yang penting, dan mengembangkan rencana perawatan
yang diterima pasien. Hal ini sering membutuhkan proses negosiasi, didukung
dengan pendidikan pasien. Adalah tugas perawat untuk bertindak berdasarkan
kepentingan terbaik pasien dan kemungkinan pasien dapat mengikuti.
Kolaborasi juga mungkin perlu dengan anggota tim kesehatan lain juga.
4. Intervensi
Dalam analisis akhir, bisa memungkinkan bahwa perawat tidak dapat
melakukan apa-apa untuk pasien. Oleh karena itu harus ada pendukung lain
yang tersedia, misalnya dokter untuk menentukan tindakan yang diinginkan.
Untuk itu, perawat triage harus mengidentifikasi sumber daya untuk
mengangkut pasien dengan tepat. Oleh karena itu perawat triage juga memiliki
peran penting dalam kesinambungan perawatan pasien. Protokol triage atau
protap tindakan juga dapat dipilih dalam pelaksanaan triage.
5. Evaluasi
Langkah terakhir dalam proses keperawatan adalah evaluasi. Dalam
konteks organisasi keperawatan, evaluasi adalah ukuran dari apakah tindakan
yang diambil tersebut efektif atau tidak. Jika pasien tidak membaik, perawat
memiliki tanggung jawab untuk menilai kembali pasien, mengkonfirmasikan
diagnosa urgen, merevisi rencana perawatan jika diperlukan, merencanakan,
dan kemudian mengevaluasi kembali. Pertemuan ini bukan yang terakhir,
sampai perawat memiliki keyakinan bahwa pasien akan kembali atau mencari
perawatan yang tepat jika kondisi mereka memburuk atau gagal untuk
meningkatkan seperti yang diharapkan. Sebagai catatan akhir, adalah penting
bahwa perawat triage harus bertindak hati-hati, Jika ada keraguan tentang
penilaian yang sudah dibuat, kolaborasi dengan medis, perlu diingat perawat
triage harus selalu bersandar pada arah keselamatan pasien.

H. Dokumentasi Triage
Proses pencatatan Triage hatrus jelas, singkat, dan padat. Tujuan
pendokumentasian Triage adalah mendukung keputusan triage, sebagai alat
komunikasi antar petugas tim kesehatan di Unit Gawat Darurat (dokter, perawat, ahli
radiologi) dan sebagai bukti aspek medikolegal. Pencatatan bisa dilakukan secara
computer atau manual dan mencakup bagian dasar dari pendokumentasian triage yang
meliputi waktu dan tanggal kedatangan di UGD, cara kedatangan, usia pasien, waktua
atau jam wawancara triage, riwayat alergi (obat, makanan, latek), riwayat enhgobatan
yang sedang dijalani, tingkat kedaruratan, TTV, tingkatan pertolongan peratama yang
dilakukan, pengkajian nyeri, keluhan utama, riwayat keluahan utama, pengkajian
subjektif dan objektif, riwayat kesehatan yang berhubungan, waktu terakhir
menstruasi riwayat imunisai termasuk imunisasi tetanus terakhir, tes diagnostic yang
dianjurkan, pengobatan yang diberikan saat triage, tanda tangan perawat yang
melakukan triage, disposisi dan re-evaluasi.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Triage adalah suatu cara untuk menseleksi atau memilah korban berdasarkan
tingkat kegawatan. Menseleksi dan memilah korban tersebut bertujuan untuk
mempercepat dalam memberikan pertolongan terutama pada para korban yang
dalam kondisi kritis atau emergensi sehingga nyawa korban dapat
diselamatkan.
2. Adapun tujuan dari triage adalah sebagai berikut, mengidentifikasi kondisi
yang mengancam nyawa, memprioritaskan pasien menurut kondisi
keakutannya, menempatkan pasien sesuai dengan keakutannya berdasarkan
pada pengkajian yang tepat dan akurat.
3. Klasifikasi dari triage adalah prioritas 1 atau Emergency (Emergensi), prioritas
2 atau Urgent (Gawat), dan prioritas 3 atau NonUrgent (Tidak Gawat).
4. Tipe-tipe triage adaalah sebagai berikut Daily triage, Mass Casualty incident,
Disaster Triage, Military Triage, dan Special Condition triage.
5. Kategori triage adalah sebagai berikuttriage dua tingkat, triage tiga tingkat,
triage empat tingkat, triage lima tingkat, skala Triage Australia, skala Triage
Kanada, dan skala Triage Manchester.
6. Dokumentasi Triage adaalah proses pencatatan Triage hatrus jelas, singkat,
dan padat. Tujuan pendokumentasian Triage adalah mendukung keputusan
triage, sebagai alat komunikasi antar petugas tim kesehatan di Unit Gawat
Darurat (dokter, perawat, ahli radiologi) dan sebagai bukti aspek medikolegal.
DAFTAR PUSTAKA

Ciptaning T, Maria Diah. 2016. Keperawatan Kegawatdaruratan Dan Manajemen Bencana.


Jakarta : Pusdik SDM Kesehatan.

Jakarta Medical Service 119 Training Divison.2013. Basic Trauma Life Support And Basic
Cardiac Life Support. Jakarta : JMS

Kartikawati N, Dewi. 2012. Buku Ajar Dasar-Dasar Keperawatan gawat Darurat. Jakarta :
Salemba Medika.