Anda di halaman 1dari 8

HADIST DHAIF DAN MAUDHU’

B. Hadist dhaif dan Permasalahannya

1. Pengertian Hadist dhaif

Kata Dhaif dari bahasa Arab (Dhaifun) yang berarti lemah. Adapun
menurut istilah yaitu beberapa ulama berpendapat, seperti:

 Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, bahwa hadist dhaif adalah hadist yang tidak
memenuhi syarat-syarat bisa diterima.1
 Fatchur Rahman berpendapat bahwa hadist dhaif adalah :
Maa faqod syirotho au aktsaru min syuruthul shohiihi aulhusna.2

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa pada


dasarnya mereka sependapat bahwa hadist dhaif adalah hadist yang didapati
padanya sesuatu yang menyebabkan ia lemah. Lemah karena ia tidak memilki
syarat-syarat hadist Sahih dan Hasan.

Sebab-sebab kedhaifan ketika diteliti kembali pada dua hal poko yaitu :

1) Ketidak Muttashilan sanad


2) Selain ketidakmuttashilan sanad seperti; cacatnya seorang
atau beberapa rawi.3 Sehingga pembagian hadist dhaif bisa
didasarkan pada hal tersebut.

1
Ajjaj Al-Khatib, 1998 hlm : 104
2
Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushtholahul Hadist. (cet.VIII; Bandung : PT.Almaarif, 1995), hlm.140
3
A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalaha al-Hadist, 1987, hlm : 91
[Type text]

2. Pembagian Hadist Dhaif

Hadist dhaif termasuk banyak ragamnya dan mempunyai

perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat
hadist sahih atau hasan yang tidak dipenuhinya. Misalnya hadist dhaif yang
karena tidak bersambung sanadnya dan tidak adil periwayatannya, adalah lebih
dhaif daripada hadist dhaif yang hanya keguguran satu syarat untuk diterima
sebagai hadist hasan, atau dengan kata lain hadist dhaif yang keguguran tiga
syarat lebih dhaif daripada hadist dhaif yang hanya keguguran dua syarat.

Fatchur Rahman mengutip pendapat al-‘Iraqi, bahwa hadist dhaif bisa


dibagi menjadi 42 bagian dan sebagian ulama mengatakan bahwa hadist adaif
terdiri atas 129 macam, bahkan bisa lebih dari itu.4

Dalam makalah ini penulis hanya akan mengemukakan sebagian hadist


daif menurut Ajjaj al-Khatib, sebagai berikut:5

1. Hadist-hadist Dhaif karena ketidakmuttashilan sanad:


a. Hadist Mursal

Hadist mursal yaitu hadist yang dimarfu’kan oleh seorang Tabi’iy kepada
Rasul SAW., baik berupa sabda, perbuatan maupun taqrir, dengan tidak
menyebutkan orang yang menceritakan kepadanya: contoh hadist berikut ini:

Abdullah bin Abi Bakr pada hadist diatas merupakan seorang Tabi’i,
sedangkan seorang tabi’i tidak semasa dan tidak bertemu dengan Nabi Saw. Akan
tetapi tidak menyebutkan orang yang mengabarkan kepadanya sehingga
dinamakan mursal.6

4
Fathur Rahman, loc.cit.,
5
Ajjaj al-Khatib, op.cit, hlm: 304-310
6
A. Qadir Hasan, op.cit, hlm: 108
[Type text]

b. Hadist Munqhathi’

Hadist Munqhothi yaitu dalam sanadnya gugur satu orang perawi dalam
satu tempat atau lebih, atau di dalamnya disebutkan seorang perawi yang
Mubham. Dari segi gugurnya seorang perawi ia sama dengan hadist mursal.
Hanya saja , kalau hadist mursal gugurnya perawi dibatasi oleh tingkatan sahabat,
sementara dalam hadist munqhathi seperti itu. Jadi setiap hadist yang sanadnya
gugur satu orang perawi baik awal di tengah ataupun di akhir disebut munqhati.
Adapun contohnya sebagai berikut;

Berkata Ahmad bin Syu’ib; telah mengabarkan kepada kami.


Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami. Abu ‘Awanah, telah
menceritakan kepada kami, Hisyam bin Urwah, dari Fatimah binti
Mundzir, dari Umi Salamah , Ummil Mu’minin , ia berkata ; telah
bersabda Rasulullah Saw.

Pada hadist tersebut di atas Fatimah tidak mendengar hadist tersebut dari
Ummu Salamah, waktu Ummu Salamah meninggal Fatimah ketika itu masih kecil
dan tidak bertemu dengannya.7

c. Hadist Mu’dhal

Yaitu hadist dari sanadnya gugur dua atau lebih perawinya secara berturut-
turut. Hadist ini sama, bahkan lebih rendah dari hadist Munqathi. Sama
dari segi keburukan kualitasnya, bila Munqhati’annya lebih dari satu
tempat.

7
A. Qadir Hasan, hlm: 95
[Type text]

Ibnu Juraij pada hadist tersebut tidak sesama dengan Nabi, bahkan
masanya itu di bawah tabi’in, jadi antara dia dengan Rasul Saw diantarai dengan
dua perantara yaitu tabi’in dengan sahabat.8

d. Hadist Mudallas

Kata “Tadlis” secara etimologis berasal dari akar kata “ad-Dalas” yang
berarti “adz-Dzulman” (kedzaliman). Tadlis dalam jual beli berarti
menyembunyikan aib barang dari pembelinya. Dari sinilah diambil pengertian
dalam sanad. Karena keduanya memiliki kesamaan alasan, yakni
menyembunyikan sesuatu dengan cara dan tanpa menyebutkannya.

Tadlis terdiri dari dua jenis, yaitu Tadlis al-Isnad dan tadlis asy-syuyukh.

(1). Tadlis al-Isnad yaitu seseorang perawi (mengatakan) meriwayatkan sesuatu


dari sesamanya yang tidak pernah ia bertemu dengan orang itu, atau pernah
bertemu tetapi diriwayatkannya itu tidak didengar dari orang tersebut, dengan cara
menimbulkan dugaan mendengar langsung.

Imam abu Khatim berkata bahwa: Zuhri tidsak pernah mendengar hadist ini dari
Urwah, ini berarti ada seseorang yang tidak disebutkan oleh Zuhri. Sehingga
menjadi samar.

(2). Tadlis asy-syuyukh jenis ini lebih ringan daripada tadlis al-isnad. Karena
perawi tidak sengaja menggugurkan salah seorang dari sanad dan tidak sengaja
pula menyamarkan dan tidak mendengar langsung dengan ungkapan yang
menunjukan mendengar langsung. Perawi hanya menyebut gurunya , memberikan
nisbat ataupun memberikan sifat yang tidak lazim dikenal.

8
Ibid, hlm: 94
[Type text]

2. Hadist-hadist dhaif karena sebab ketidakmuttashilan sanad


a. Hadist Mudha’af
Yaitu hadist yang tidak disepakati kedaifannya. Sebagian ahli hadist
menilainya mengandung kedaifan, baik di dalam sanad maupun matan,
dan sebagian lainnya menilainya kuat. Akan tetapi penilaian daif itu
lebih kuat.
b. Hadsit Mudhtharib
Yaitu hadist yang diriwayatkan dengan beberapa bentuk yang saling
berbeda, yang tidak mugkin mengtarjihkan sebagiannya atas bagian
yang lainnya. Kemudhthariban mengakibatkan kedhaifan suatu hadist,
karena menunjukan ketidakdhabitan.
c. Hadist Maqlub
Yaitu hadist yang mengalami pemutar balikan dari diri perawi,
kadang-kadang keterbalikan itu terjadi pada sanad, yaitu terbaliknya
nama seorang perawi. Misalnya Murrah ibn Ka’b dan Ka’b bin
Murrah.
d. Hadist Syadz
Imam syafi’i lah yang mula-mula memperkenalkan hadist syadz ini
menurutnya bila diantara perawi tziqat ada diantara mereka yang
menyimpang dari lainnya. Selanjutnya generasi setelahnya sepakat
bahwa hadist syadz ialah hadist yang diriwayatkan oleh perawi maqbul
dalam keadaan menyimpang dari perawi lain yang lebih kuat darinya.
e. Hadist Munkar
Hadist Munkar ialah hadist yang diriwayatkan oleh perawi dhaif yang
banyak kesalahannya, banyak kelengahannya, atau jelas kefasikannya.
Oleh karena itu kriteria hadist munkar adalah penyendirian perawinya
dhaif dan mukhalafah.9
f. hadist Matruk dan Mathruh

9
Ajjaj al-Khatib, op.cit, hlm: 311-315
[Type text]

3. Kehujjahan Hadist Dhaif

Terkait dengan pengalaman hadist daif , terdapat beberapa


pendapat pertama, Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib mengemukakan bahwa
ada tiga pendapat mengenai pengalaman hadist daif,10 yaitu :

a. Hadist daif tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadail al-
‘amal maupun dalam menetapkan hukum.
b. Hadist daif bisa diamalkan secara mutlak, karena hadist daif lebih kuat
daripada ra’y (pendapat) perseorangan.
c. Hadist daif bisa diamalkan dalam masalah fadail al-‘amal bila memenuhi
syarat.
Ibn Hajar mengemukakan syarat-syarat tersebut, yaitu:
1) Kedaifannya tidak terlalu lemah;
2) Hadist daif itu masuk dalam cakupan hadist pokok yang bisa
diamalkan;
3) Ketika mengamalkannya tidak diyakini bahwa ia berstatus kuat
tetapi sekadar berhati-hati.

kedua, M.Syuhudi Ismail mengemukakan bahwa ada dua pendapat


tentang boleh tidaknya diamalkan atau dijadikan hujjah hadist daif, yaitu :

a. Imam al-Bukhari, Muslim, Ibn Hazm dan Abi Bakr ibn al-‘Arabi,
menyatakan bahwa hadist daif sama sekali tidak boleh diamalkan atau
dijadikan hujjah, baik untuk masalah yang berhubungan dengan hukum
maupun untuk keutamaan amal;
b. Imam Amad bin Hanbal menyatakan bahwa hadist daif dapat dijadikan
hujjah atau diamalkan hanya untuk dasar keutamaan amal dengan syarat:
1). Para periwayat yang meriwayatkan hadist tersebut tidak terlalu lemah;

2). Masalah yang dikemukakan oleh hadist itu mempunyai dasar pokok
yang ditetapkan oleh al-qur’an dan hadist sahih;

10
Ibid., hlm: 315-316
[Type text]

3). Tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat.11

Dengan demikian bahwa yang dimaksud dengan fadail al-‘amal dalam hal
ini adalah bukanlah dalam arti untuk penetapan suatu hukum, akan tetapi
dimaksudkan untuk menjelaskan faedah atau kegunaan dari suatu amal.12 Artinya
tidak ada hujjah bagi apapun kecuali dengan hadist Rasulullah Saw yang sahih,
minimal hasan.

Namun demikian al-Bukhari, Muslim, Ibn al-Arabiy, dan Dawud al-


Tahiriy, berpendapat bahwa hadist daif tidak dapat diamalkan meski untuk
keutamaan beramal, supayatidak membahasakan suatu perkataan atau perbuatan
yang berasal dari Nabi, padahal perkataan dan perbuatan tersebut tidak berasal
dari Nabi Saw.13

Lebih lanjut M.Syuhudi Ismail menyatakan bahwa untuk mengetahui


kedhaifan matan hadist , maka tolak ukur yang digunakan adalah berpijak pada
kaidah kesahihan matan. Atau dengan kata lain, bilamana matan tersebut tidak
mencakup dalam kategori shahih, praktis ia berkualitas dhaif. Tolak ukur yang
dimaksud adalah

a. Susunan bahasanya rancu. Rasulullah yang sangat fasih dalam


berbahasa Arab dan memiliki gaya bahasa yang khas, mustahil
menyabadakan pernyataan yang rancu tersebut.
b. Kandungan pernyataannya bertentangan dengan akal yang sehat dan
sangat sulit diinterprestasikan secara rasional.
c. Kandungan pernyataan bertentangan dengan tujuan pokok ajaran
islam; misalnya berisi ajakan untuk berbuat maksiat.
d. Kandungan pernyataan bertentangan dengan sunnatullah (hukum
alam).
e. Kandungan pernyataan bertentangan dengan fakta sejarah.

11
M.Syuhudi Ismail, pengantar Ilmu Hadist. 1991, hlm:187
12
Hasbi Ash-Shiddieqy , hlm: 232
13
Rahmatunnair, Tinjauan dalam pemakaian hadist daif. 2001, hlm: 72
[Type text]

f. Kandungan pernyataan bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an


ataupun hadist mutawatir yang telah mengandung petunjuk secara
pasti.
g. Kandungan pernyataannya berada di luar kewajaran diukur dari
petunjuk umum ajaran islam.14

Tolak ukur diatas , dijadikan sebagai pedoman dan menilai kriteria hadist,
dan para ulama hadist tak terkecuali al-Bany juga berpegang pada tolak ukur
tersebut.

Berdasarkan hasil analisis penulis, bahwa hadist-hadist dhaif dan hadis-


hadis mawdhu’ yang terdapat dalam buku al-Bany berjumlah kurang lebih 1.000
buah hadist, dengan klasifikasi, masing-masing jilid, yakni jili I dan jilid II terdiri
atas kurang lebih 500 buah hadist.

Jumlah hadist dhaif dan mawdhu’, sebanyak yang disebutkan di atas


memang sangat memungkinkan karena menurut al-Suyuti sesuai penelitiannya
bahwa hadist-hadist dhaif dan mawdhu’ yang beredar di tengah-tengah
masyarakat kurang lebih 4.000 hadist.15

14
Ibn Ahmad al-Adlabi, Mabhaj Naqd al-Matan Inda Ulama al-hadist al-Nabawi,
diterjemahkan oleh H.M. Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq dengan judul Metodologi Kritik
Matan Hadist. 2004, hlm: 210
15
Jalal al-Din al-Suyuti, al-Mansyu’ah fi al-hadist al-Mawdhu’ah (Mesir: Maktabah al-
Islamiyah, 1352 H). Hlm: 278-284