Anda di halaman 1dari 19

Pneumonia

Definisi Pneumonia
Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim yang terdapat konsolidasi dan
terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur dan benda-benda asing (Arif Muttaqin,2004). Penyakit ini dapat muncul secara
primer atau sebagai komplikasi dari penyakit sebelumnya serta dapt di sebabkan oleh
berbagai macam organisme. Pneumonia dapat di kelompokkan menjadi dua golongan
yaitu pneumonia yang di dapat dari komunitas yaitu community-acquired pneumonia
(CAP) atau pneumonia yang di dapat karena nosocomial infection yaitu nosocomial
(hospital-acquired) pneumonia (Carolyn,2012). Pneumonia dapat menyerang siapa saja
meskipun seseorang itu masih sangat muda atau sudah sangat tua yang mempunyai
resiko paling tinggi.
Menurut Hudak dalam Niluh Gede 2003 pneumonia merupakan suatu proses
inflamasi dimana kompartemen alveolar terisi oleh eksudat dan merupakan penyakit yang
menyebabkan kematian tertinggi pada orang-orang lanjut usia.
Pneumonia merupakan penyakit batuk pilek disertai napas sesak atau napas
cepat. Napas sesak ditandai dengan dinding dada bawah tertarik ke dalam, sedangkan
napas cepat diketahui dengan menghitung tarikan napas dalam satu menit. Untuk balita
umur 2 tahun sampai 5 tahun tarikan napasnya 40 kali atau lebih dalam satu menit, balita
umur 2 bulan sampai 2 tahun tarikan napasnya 50 kali atau lebih per menit, dan umur
kurang dari 2 bulan tarikan napasnya 60 kali atau lebih per menit (Depkes, 1991).

Klasifikasi Pnemonia:
Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :
1. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
a. Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas
lobus atau lobularis.
b. Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan
gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
2. Berdasarkan faktor lingkungan :
a. Pneumonia komunitas
b. Pneumonia nosokomial
c. Pneumonia rekurens
d. Pneumonia aspirasi
e. Pneumonia pada gangguan imun
f. Pneumonia hipostatik
3. Berdasarkan sindrom klinis :
a. Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama
mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar
serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan
dan jarang disertai konsolidasi paru.
b. Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan
Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.

Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :


1. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan
bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan
organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan
anak-anak atau kalangan orang tua.
2. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme
seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus,
merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.
3. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi.
Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya
menurut lokasi anatominya saja.
4. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen
penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme
perusak.

Etiologi Pneumonia
a. Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah
Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu
pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri segera
memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Balita yang terinfeksi pneumonia
akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah dan denyut jantungnya
meningkat cepat (Misnadiarly, 2008).
b. Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus yang
tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV).
Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas,
pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya sebagian
besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun bila
infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan kadang
menyebabkan kematian (Misnadiarly, 2008).
c. Mikoplasma
Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada
manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski
memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat
ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia, tetapi paling
sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan
juga pada yang tidak diobati (Misnadiarly, 2008).
d. Protozoa
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis.
Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia (PCP). Pneumonia
pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur. Perjalanan penyakitnya
dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat cepat
dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada
jaringan paru atau spesimen yang berasal dari paru (Djojodibroto, 2009).

Faktor Resiko Peneumonia


Faktor risiko pada pneumonia sangat banyak dibagi menjadi 2 bagian:
1) Faktor yang berhubungan dengan daya tahan tubuh
Penyakit kronik (misalnya penyakit jantung, PPOK, diabetes, alkoholisme, azotemia),
perawatan di rumah sakit yang lama, koma, pemakaian obat tidur, perokok, intubasi
endotrakeal, malnutrisi, umur lanjut, pengobatan steroid, pengobatan antibiotik, waktu
operasi yang lama, sepsis, syok hemoragik, infeksi berat di luar paru dan cidera paru
akut (acute lung injury) serta bronkiektasis
2) Faktor eksogen adalah :
 Pembedahan :
Besar risiko kejadian pneumonia nosokomial tergantung pada jenis pembedahan,
yaitu torakotomi (40%), operasi abdomen atas (17%) dan operasi abdomen bawah
(5%).
 Penggunaan antibiotik :
Antibiotik dapat memfasilitasi kejadian kolonisasi, terutama antibiotik yang aktif
terhadap Streptococcus di orofaring dan bakteri anaerob di saluran pencernaan.
Sebagai contoh, pemberian antibiotik golongan penisilin mempengaruhi flora
normal di orofaring dan saluran pencernaan. Sebagaimana diketahui
Streptococcus merupakan flora normal di orofaring melepaskan bacterocins yang
menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif. Pemberian penisilin dosis tinggi
akan menurunkan sejumlah bakteri gram positif dan meningkatkan kolonisasi
bakteri gram negatif di orofaring.
 Peralatan terapi pernapasan
Kontaminasi pada peralatan ini, terutama oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa
dan bakteri gram negatif lainnya sering terjadi.
 Pemasangan pipa/selang nasogastrik, pemberian antasid dan alimentasi enteral
Pada individu sehat, jarang dijumpai bakteri gram negatif di lambung karena asam
lambung dengan pH < 3 mampu dengan cepat membunuh bakteri yang tertelan.
Pemberian antasid / penyekat H yang mempertahankan pH > 4 menyebabkan
2

peningkatan kolonisasi bakteri gram negatif aerobik di lambung, sedangkan


larutan enteral mempunyai pH netral 6,4 - 7,0.
 Lingkungan rumah sakit
• Petugas rumah sakit yang mencuci tangan tidak sesuai dengan prosedur
• Penatalaksanaan dan pemakaiaan alat-alat yang tidak sesuai prosedur,
seperti alat bantu napas, selang makanan, selang infus, kateter dll
• Pasien dengan kuman MDR tidak dirawat di ruang isolasi
Faktor risiko kuman MDR penyebab HAP dan VAP (ATS/IDSA 2004)
• Pemakaian antibiotik pada 90 hari terakhir
• Dirawat di rumah sakit ≥ 5 hari
• Tingginya frekuensi resisten antibiotik di masyarakat atau di rumah sakit
tersebut
• Penyakit immunosupresi dan atau pemberian imunoterapi

Faktor risiko yang meningkatkan insidens pneumonia
- Umur < 2 bulan - Laki-laki
- Gizi kurang
- Berat badan lahir rendah
- Tidak mendapat ASI memadai
- Polusi udara
- Menempatkan kandang ternak dalam rumah
- Kepadatan tempat tinggal
- Imunisasi yang tidak memadai
- Membedung anak (menyelimuti berlebihan)
- Defisiensi Vitamin A
Faktor risiko yang meningkatkan angka kematian pneumonia
- Umur < 2 bulan
- Tingkat sosio ekonomi rendah
- Gizi kurang
- Berat badan lahir rendah
- Tingkat pendidikan ibu yang rendah
- Tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah
- Kepadatan tempat tinggal
- Imunisasi yang tidak memadai
- Menderita penyakit kronis

Tabel 2.1. Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan Etiologinya


Grup Penyebab Tipe Pneumonia

Bakteri Streptokokus pneumonia Pneumoni bakterial


Streptokokus piogenesis Legionnaires disease
Stafilokokus aureus
Klebsiela pneumonia
Eserikia koli
Yersinia pestis
Legionnaires bacillus
Aktinomisetes Aktinomisetes Israeli Aktinomisetes pulmonal
Nokardia asteroides Nokardia pulmonal
Fungi Kokidioides imitis Kokidioidomikosis
Histoplasma kapsulatum Histoplasmosis
Blastomises dermatitidis Blastomikosis
Aspergilus Aspergilosis
Fikomisetes Mukormikosis
Riketsia Koksiela burneti Q fever
Klamidia Chlamydia trachomatis Chlamydial Pneumonia
Mikoplasma Mikoplasma pneumonia Pneumonia mikoplasmal
Virus Influenza virus, adeno Pneumonia virus
Virus respiratory
Syncytial
Protozoa Pneumositis karini Pneumonia pneumosistis
(pneumonia plasma sel)
Epidemiologi Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit umum di semua bagian dunia. Ini adalah penyebab utama
kematian di antara semua kelompok umur. Pada anak-anak, banyak dari kematian ini
terjadi pada masa neonatus. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa satu
dari tiga kematian bayi baru lahir disebabkan pneumonia. Lebih dari dua juta anak balita
meninggal setiap tahun di seluruh dunia. WHO juga memperkirakan bahwa sampai
dengan 1 juta ini (vaksin dicegah) kematian yang disebabkan oleh bakteri
Streptococcus''''pneumoniae, dan lebih dari 90% dari kematian ini terjadi di negara-
negara berkembang. Kematian akibat pneumonia umumnya menurun dengan usia
sampai dewasa akhir. Lansia individu, bagaimanapun, berada pada risiko tertentu untuk
pneumonia dan kematian terkait. Karena beban yang sangat tinggi penyakit di negara
berkembang dan karena kesadaran yang relatif rendah dari penyakit di negara-negara
industri, komunitas kesehatan dunia telah menyatakan untuk November 2 Hari
Pneumonia Dunia, sehari untuk warga yang prihatin dan pembuat kebijakan untuk
mengambil tindakan terhadap penyakit.
Di Inggris, kejadian tahunan dari pneumonia adalah sekitar 6 kasus untuk setiap 1000
orang untuk kelompok usia 18-39. Bagi mereka 75 tahun lebih dari usia, ini meningkat
menjadi 75 kasus untuk setiap 1000 orang. Sekitar 20-40% individu yang membutuhkan
pneumonia kontrak yang masuk rumah sakit antara 5-10% diterima ke unit perawatan
kritis. Demikian pula, angka kematian di Inggris adalah sekitar 5-10%. Individu-individu ini
juga lebih cenderung memiliki episode berulang dari pneumonia. Orang-orang yang
dirawat di rumah sakit untuk alasan apapun juga berisiko tinggi untuk pneumonia.
Penyakit infeksi paru merupakan penyakit infeksi yang paling sering ditemukan
dimasyarakat maupun yang dirawat di rumah sakit, dan masih merupakan masalah
kesehatan utama di seluruh dunia. Penyakit infeksi paru berkisar 60-80 % dari seluruh
penyakit paru, sedangkan sisanya 20-40 % adalah penyakit noninfeksi ( Agung Waluyo,
2000 )
Pola Penyakit 50 Peringkat Utama menurut Departemen Kesehatan RI untuk pasien
rawat jalan di rumah sakit di Indonesia mencatat bahwa bronchitis kronis, emfisema,
PPOK menempati urutan 14 dengan persentase kunjungan (1,2%), bronkitis akut dan
bronkiolitis akut urutan 35 (0,5%), dan pneumonia urutan 39 (0,4%) ( Agung Waluyo,
2005).
Pneumonia merupakan bagian dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bawah
yang banyak menimbulkan kematian, hingga berperan besar dalam tingginya angka
kematian. Pneumonia di negara berkembang disebabkan terutama oleh bakteri. Tanda –
tanda fisis pada pneumonia adalah demam, sesak nafas, nyeridada dan tanda- tanda
konsolidasi paru ( perkusi paru yang pekak, ronkhi nyaring, suara pernafasan bronchial.
Untuk memberi rasa nyaman dan mengurangi nyeri pada pasien pneumonia adalah
dengan cara pijatan punggung, perubahan posisi, mendengarakan musik tenang, latihan
nafas dalam dan anjurkan teknik menekan dada selama episode batuk. ( Doengus, 2000)
Pneumonia nosokomial atau hospital acquired pneumonia (HAP) adalah pneumonia
yang didapat di rumah sakit menduduki peringkat ke-2 sebagai infeksi nosokomial di
Amerika Serikat, hal ini berhubungan dengan peningkatan angka kesakitan, kematian dan
biaya perawatan di rumah sakit. Pneumonia nosokomial terjadi 5-10 kasus per 1000
pasien yang masuk ke rumah sakit dan menjadi lebih tinggi 6-20x pada pasien yang
memakai alat bantu napas mekanis. Angka kematian pada pneumonia nosokomial 20-
50%. Angka kematian ini meningkat pada pneumonia yang disebabkan P.aeruginosa atau
yang mengalami bakteremia sekunder. Angka kematian pasien pada pneumonia yang
dirawat di istalansi perawatan intensif (IPI) meningkat 3-10x dibandingkan dengan pasien
tanpa pneumonia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa lama perawatan meningkat
2-3x dibandingkan pasien tanpa pneumonia, hal ini tentu akan meningkatkan biaya
perawatan di rumah sakit. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa lama perawatan
bertambah rata-rata 7-9 hari.
Angka kejadian pneumonia nosokomial di Jepang adalah 5 – 10 per 1000
kasus yang dirawat. Lebih kurang 10% pasien yang dirawat di IPI akan
berkembang menjadi pneumonia dan angka kejadian pneumonia nosokomial
pada pasien yang menggunakan alat bantu napas meningkat sebesar 20 – 30%.
Angka kejadian dan angka kematian pada umumnya lebih tinggi di rumah sakit
yang besar dibandingkan dengan rumah sakit yang kecil.

Patofisiologi Pneumonia
Terlampir

Manifestasi Klinis Pneumonia


Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului dengan infeksi saluran napas atas
akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat
dapat mencapai 40 derajat celcius, sesak napas, nyeri dada dan batuk dengan dahak
kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga
ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala (Misnadiarly,
2008).
a. Batuk nonproduktif
b. Ingus (nasal discharge)
c. Suara napas lemah
d. Retraksi intercosta
e. Penggunaan otot bantu nafas
f. Demam
g. Krekels
h. Cyanosis
i. Leukositosis
j. Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar
k. Batuk
l. Sakit kepala
m. Kekakuan dan nyeri otot
n. Sesak nafas
o. Menggigil
p. Berkeringat
q. Lelah.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan :
1. kulit yang lembab
2. mual dan muntah
3. kekakuan sendi.

Komplikasi Pneumonia
a. Otitis media akut (OMA) à terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan
masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga
tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke
dalam dan timbul efusi.
b. Efusi pleura.
c. Emfisema.
d. Meningitis.
e. Abses otak.
f. Endokarditis.
g. Osteomielitis.
h. Pneumotoraks.
i. Gagal Nafas
j. Hipotensi
k. Dehidrasi
l. Penyakit multi lobular

Pemeriksaan Diagnostik Pneumonia


a. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial);
atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x
dada mungkin bersih.
Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air
bronchogram (airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumoniae;
bronkopneumonia (segmental disease) oleh antara lain staphylococcus, virus atau
mikoplasma; dan pneumonia interstisial (interstitial disease) oleh virus dan
mikoplasma. Distribusi infiltrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus
atas sugestif untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini
bisa dimana saja. Infiltrat di lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella, tuberkulosis atau
amiloidosis. Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau
bakteriemia.
b. Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi, tergantung
pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
c. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi
transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi
organisme penyebab.
Pewarnaan Gram dan kultur dahak yang dibatukkan, induksi sputum atau
aspirasi sekret dari selang endotrakeal atau trakeostomi. Jika fasiliti memungkinkan
dapat dilakukan pemeriksaan biakan kuman secara semikuantitatif atau kuantitatif dan
6 5
dianggap bermakna jika ditemukan ≥ 10 colony-forming units/ml dari sputum, ≥ 10 –
6 4 5
10 colony-forming units/ml dari aspirasi endotrracheal tube, ≥ 10 – 10 colony-forming
3
units/ml dari bronchoalveolar lavage (BAL) , ≥ 10 colony-forming units/ml dari sikatan
2
bronkus dan paling sedikit 10 colony-forming units/ml dari vena kateter sentral . Dua
set kultur darah aerobik dan anaerobik dari tempat yang berbeda (lengan kiri dan
kanan) sebanyak 7 ml. Kultur darah dapat mengisolasi bakteri patogen pada > 20%
pasien. Jika hasil kultur darah (+) maka sangat penting untuk menyingkirkan infeksi di
tempat lain. Pada semua pasien pneumonia nosokomial harus dilakukan pemeriksaan
kultur darah.
Kriteria dahak yang memenuhi syarat untuk pemeriksaan apusan langsung
dan biakan yaitu bila ditemukan sel PMN > 25 / lapangan pandang kecil (lpk) dan sel
epitel < 10 / lpk.
d. JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah
dapat disebabkan oleh infeksi virus/mikoplasma atau pada infeksi yang berat
sehingga tidak terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia
menunjukkan depresi imunitas, misalnya neutropenia pada infeksi kuman Gram
negatif atau S. aureus pada pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal
hati mungkin terganggu
e. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
f. LED : meningkat
g. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar);
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
h. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
i. Bilirubin : mungkin meningkat
j. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan
keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 1999)
k. Pemeriksaan Khusus
Titer antibodi terhadap virus, legionela, dan mikoplasma. Nilai diagnostik bila titer
tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai tingkat
hipoksia dan kebutuhan oksigen.

Penatalaksanaan Pneumonia
• PENGOBATAN
Beberapa pedoman dalam pengobatan pneumonia nosokomial ialah :
a. Semua terapi awal antibiotik adalah empirik dengan pilihan antibiotik yang harus
mampu mencakup sekurang-kurangnya 90% dari patogen yang mungkin sebagai
penyebab, perhitungkan pola resistensi setempat
b. Terapi awal antibiotik secara empiris pada kasus yang berat dibutuhkan dosis dan
cara pemberian yang adekuat untuk menjamin efektiviti yang maksimal.
Pemberian terapi emperis harus intravena dengan sulih terapi pada pasien yang
terseleksi, dengan respons klinis dan fungsi saluran cerna yang baik.
c. Pemberian antibiotik secara de-eskalasi harus dipertimbangkan setelah ada hasil
kultur yang berasal dari saluran napas bawah dan ada perbaikan respons klinis.
d. Kombinasi antibiotik diberikan pada pasien dengan kemungkinan terinfeksi kuman
MDR
e. Jangan mengganti antibiotik sebelum 72 jam, kecuali jika keadaan klinis
memburuk
f. Data mikroba dan sensitiviti dapat digunakan untuk mengubah pilihan empirik
apabila respons klinis awal tidak memuaskan. Modifikasi pemberian antibiotik
berdasarkan data mikrobial dan uji kepekaan tidak akan mengubah mortaliti
apabila terapi empirik telah memberikan hasil yang memuaskan

Tabel 1. Terapi antibiotik awal secara empirik untuk HAP atau VAP pada pasien tanpa
faktor risiko patogen MDR, onset dini dan semua derajat penyakit (mengacu ATS / IDSA
2004)
Patogen potensial Antibiotik yang
direkomendasikan
Betalaktam +
• Streptocoocus pneumoniae antibetalaktamase
• Haemophilus influenzae (Amoksisilin klavulanat)
• Metisilin-sensitif atau
Staphylocoocus aureus Sefalosporin G3
• Antibiotik sensitif basil Gram nonpseudomonal
negatif enterik (Seftriakson, sefotaksim)
- Escherichia coli atau
- Klebsiella pneumoniae Kuinolon respirasi
- Enterobacter spp (Levofloksasin,
- Proteus spp Moksifloksasin)
- Serratia marcescens

Tabel 2. Terapi antibiotik awal secara empirik untuk HAP atau VAP untuk semua derajat
penyakit pada pasien dengan onset lanjut atau terdapat faktor risiko patogen MDR
(mengacu ATS /
IDSA 2004) Patogen potensial Terapi Antibiotik kombinasi
Sefalosporin antipseudomonal
• Patogen MDR tanpa atau (Sefepim, seftasidim, sefpirom)
dengan patogen pada Tabel 1 atau
Karbapenem antipseudomonal
Pseudomonas aeruginosa (Meropenem, imipenem)
Klebsiella pneumoniae atau
(ESBL) β-laktam / penghambat β
Acinetobacter sp laktamase
Methicillin resisten (Piperasilin – tasobaktam)
Staphylococcus aureus ditambah
(MRSA) Fluorokuinolon
antipseudomonal
(Siprofloksasin atau
levofloksasin)
atau
Aminoglikosida
(Amikasin, gentamisin atau
tobramisin)
ditambah
Linesolid atau vankomisin atau

Tabel 3. Dosis antibiotik intravena awal secara empirik untuk HAP dan VAP pada pasien
dengan onset lanjut atau terdapat faktor risiko patogen MDR (mengacu pada
ATS/IDSA 2004) Antibiotik Dosis
Sefalosporin 1-2 gr setiap 8 – 12 jam
antipseudomonal 2 gr setiap 8 jam
Sefepim 1 gr setiap 8 jam
Seftasidim
Sefpirom
Karbapenem 1 gr setiap 8 jam
Meropenem 500 mg setiap 6 jam / 1 gr
Imipenem setiap 8 jam
βlaktam / penghambat β 4,5 gr setiap 6 jam
laktamase
Piperasilin-tasobaktam
Aminoglikosida 7 mg/kg BB/hr
Gentamisin 7 mg/kg BB/hr
Tobramisin 20 mg/kg BB/hr
Amikasin
Kuinolon antipseudomonal 750 mg setiap hari
Levofloksasin 400 mg setiap 8 jam
Siprofloksasin
Vankomisin 15 mg/kg BB/12 jam

Linesolid 600 mg setiap 12 jam


Teikoplanin 400 mg / hari
• TERAPI NONMEDIKAMENTOSA
a. Pemberian oksigen harus diberikan sebelum penderita menjadi sianotik
b. Pemberian cairan secara intravena : dekstrose 10% dan NaCl 0,9% dengan
perbandingan 3 : 1, ditambah KCl 10 mEq/500 ml cairan. Pemberian cairan sesuai
dengan berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.
c. Jika sesak napas terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui
selang nasogastrik dengan feeding drip
d. Untuk pneumonia yang telah mengalami komplikasi, dilakukan drainase dengan
torakosintesis jarum ataupun dengan memasukkan kateter ke dalam ruang pleura
e. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa untuk mencegah terjadinya sianosis,
karena paru merupakan salah satu bagian terpenting dalam mekanisme buffer
dalam darah.

Asuhan Keperawatan Pneumonia


Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan Bersihan jalan nafas berhubungan dengan peradangan,
penumpukan secret.
Tujuan: Dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi jalan nafas kembali
efekttif
Kriteria Hasil:
- mengidentifikasi / menunjukkan prilaku mencapai bersihan jalan nafas.
- menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea,
sianosis
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji frekuensi/ kedalaman • Penurunan aliran udara terjadi
pernafasan dan gerakan dada. pada area konsolidasi dengan
cairan. Bunyi nafas bronchial
(normal bronkus) dapat juga
terjadi pada area konsolidasi.
2. Auskultasi area paru, catat area • Krekles, ronki, dan mengi
penurunan atau tak ada aliran terdengar pada inspirasi dan/atau
udara dan bunyi nafas ekspirasi pada respons terhadap
adventisius. Mis, krekles, mengi pengumpulan cairan, secret
kental, dan spasme jalan nafas/
obstruksi.
3. Bantu pasien latihan nafas • Nafas dalam memudahkan
sering. Tunjukkan atau bantu ekspansi maksimum paru- paru /
pasien mempelajari melakukan jalan nafas lebih kecil. Batuk
batuk mis, menekan dada dan adalah mekanisme pembersihan
batuk efektif sementara posisi jalan nafas alami, membantu silia
duduk tinggi. untuk mempertahankan jalan
nafas paten. Penekanan
menurunkan ketidak nyamanan
dada dan posisi duduk
memungkinkan upaya nafas lebih
dalam dan lebih kuat.
4. Penghisapan sesuai indikasi • Merangsang batuk atau
pembersihan jalan nafas secara
mekanik pada pasien yang tak
mampu melkukan karena batuk
tak efetif atau menurun tingkan
kesadaran.
5. Berikan cairan sedikitnya 2500 • Cairan (khususnya yang hangat)
ml/hr (kecuali kontra indikasi). memobilisasi dan mengeluarkan
Tawarkan air hangat, dari pada secret , memudahkan
dingin pengencaran dan pembangunan
secret. Drainase postural tidak
efektif pada pneumonia intertisial
atau menyebabkan eksudat
alveolar/kerusakan.
Kolaborasi
1. Bantu mengawasi efek • Koordinasi pengobatan/ jadwal
pengobatan nebulizer dan dan memasukkan oral
fisiotrafi lain, mis. Spirometer menurunkan muntah karena
insentif, IPPB, tiupan botol, batuk, pengeluaran sputum.
perkusi, drainase postural.
Lakukan tindakan diantara waktu
makan dan batasan cairan bila
mungkin.
2. Berikan obat sesuai indikasi: • Alat untuk menurunkan spasme
mukolitik, ekspektoran, bronkus dengen mobilisasi
bronkodilator, analgesic. secret. Analgesic diberikan untuk
memperbaiki batuk dengan
neburunkan ketidak nyamanan
tetapi harus digunakan secara
hati- hati, karena da[pat
menurunkan upya batuk/
menekan pernafasan
3. Berikan cairan tambahan, mis, • Cairan diperlukan untuk
IV, oksigen humudifikasi, dan menggatikan kehilangan
ruangan humidifikasi. (termasuk yang tak nampak) dan
mobilisasikan secret.
4. Awasi seri sinar x dada, GDA, • Mengevaluasi kemajuan dan efek
nadi, oksimetri. ( Rujuk ke DK: proses penyakit dan
pertukaran gas, dangguan, 167) memudahkan pilihan terapi yang
di perlukan.
5. Bantu bronkoskopi/ torasentesis • Kadang- kadang diperlukan untuk
bila diindikasikan membuang perlengketan
mukosa, mengeluarkan sekresi
parulen, dan / atau mencegah
atelektasis.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler


alveolus.
Tujuan:
Kriteria Hasil:
- menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam
rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan.
- berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi .

Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji frekuensi, kedalaman, dan • Manifestasi distress pernafasan
kemudahan bernafas. tergantung pada / indikasi derajat
keterlibatan paru dan status
kesehatan umum.
2. Observasi warna kulit, membrane • Sianosis kuku menunjukkan
mukosa, dan kuku, catat adanya vasokontriksi atau respons
sianosis perifeir (kuku) atau tubuhterhadapo demam/
sianosis sentral (sirkumoral). menggigil. Namun seanosis daun
telinga, membrane mukosa, dan
kulit sekitar mulut (membrane
hangat) menunjukkan hipoksemia
sistemik.
3. Kaji status mental. • Gelisah, mudah terangsang, dan
somnolen dapat menunjukkan
hiposemia/ penurunan oksigenasi
terserebral.
• Takikardia biasanya ada sebagai
4. Awasi frekuensi jantung/ irama. akibat demam/ dehidrasi tetapi
dapat sebagai respon terhadap
hipoksemia.
• Demam tinggi (Umum pada
5. Awasi suhu tubuh, sesuai indikasi. pneumonia bacterial dan
Bantu tindakan kenyamanan untuk influenza) sangat meningkatkan
menurunkan demam dan kebutuhan metabolic dan
menggigil, mis, selimut kebutuhan oksigendan
tanmbahan/ menghilangkannya, mengganggu oksigenasi seluler.
suhu ruangan nyaman, kompres
hangat atau dingin. • Mencegah terlalu lelah dan
menurunkan kebutuhan /
6. Pertahankan istirahat tidur. Dorong konsumsi oksigen untuk
menggunakan teknik relaksasi dan memudahkan perbaikan infeksi.
aktifitas senggang. • Tindakan ini meningkatkan
inspirasi maksimal, meningkatkan
pengeluaran secret untuk
7. Tinggikan kepala dan dorong memperbaiki ventilasi (rujuk pada
sering mengubah posisi, napas DK: bersihkan jalan nafas, tak
dalam, dan batuk efektif. efektif. Hal 166)
• Ansietas adalah manifestasi
,masalah psikologi sesuai dengan
renpon fisilogi terhadap hiposia.
Pemberian keyakinan dan
8. Kaji tingkat ansietas. Dorong meningkatkan rasa aman dapat
menyatakan masalah/ perasaan. menurunkan komponen psikologis,
Jawab pertayaan dengan jujur. sehingga menurunkan
Kunjungi dengan sering, atau kebutuhanoksigen dan efek
pertemuan/ kunjungan oleh orang merugikan dari respon psikologis.
terdekat/ pengunjung sesuai • Syok dan edema paru adalah
indikasi. penyebab umum kematian pada
pneumonia dan membutuhkan
interfensi medis segera.

9. Observasi penyimpanan kondisi, • Intibasi dan ventilasi mekanik


catat hipotensi, banyaknya jumlah mungkin diperlukan pada kejadian
sputum merah muda/ berdarah, kegagalan pernafasan.
pucat, sianosis, perubahan tingkat
kesadaran, dispnea berat, gelisah.
10. Siapkan untuk/ pemindahan ke • Tujuan terapi oksigen adalah
unit perawatan kritis bila untuk mempertahankan PaO2
diindikasikan. diatas 60 mm hg. Oksigen
diberikan dengan metode yang
Kolaborasi memberikan pengiriman tepat
1. Berikan terapi oksigen dengan dalam toleransi pasien
benar, mis., dengan nasal porong,
masker, masker penturi.
3. Resiko tinggi Kekurangan volume cairan terhadap faktor kehilangan cairan
berlebihan (demam, diare)
Tujuan:
Kriteria Hasil:
- Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kreteria pasien menunjukkan
keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya
membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil
Intervensi Rasional
Mandiri • Peningkatan suhu atau
1. Kaji perubahan tanda vital, contoh memanjangnya demam
peningkatan suhu/ demam meningktkan laju metabolic dan
memanjang, takikardia, hipotensi kehilangan cairan melalui epvorasi,
ortostatik. TD ortostatik berubah dan
2. Kaji turgor kulit, kjelembaban peningkatan takikardia menunjukkan
membrane mukosa (bibir,lidah). kekurangan cairan sistemik.
3. Catat laporan mual/ muntah • Indicator langsung keadekuatan
4. Pantau masukan dan keluaran, volume cairan, meskipun membrane
catat warna, karakter urin. Hitung mukosa mulut mungkin kering
keseimbangan cairan. Waspadai karena nafas mulut dan oksigen
kehilangan yang tak tanpak. Ukur tambahan
berat badan sesuai indikasi • Adanya gejala ini menurunkan
5. Tekankan cairan sedikitnya 2500 masukan oral
ml/hr atau sesuai kondisi • Memberikan informasi tentang
individual. keadekuatan volume cairan dan
kebutuhan penggantian.
• Pemenuhan kebutuhan dasar
cairan, menurunkan resiko
dehidrasi.
Kolaborasi • Berguna menurunkan kehilangan
1. Beri obat sesuai indikasi mis, cairan
antipiretik, antiemetic. • Pada adanya penurunan masukan/
2. Berikan cairan tambahan IV sesuai banyak kehilangan, penggunaan
keperluan (cairan infuse) parental dapat memperbaiki/
mencegah kekurangan
Daftar Pustaka

Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofiologi. EGC: Jakarta


Doenges, Marilynn E., 2007. Nursing diagnosis manual : planning, individualizing, and
documenting client care / Marilynn E. Doenges, Mary Frances Morhouse, Alice C.
Murr.—3rd ed.
Herdman, Heather. 2009. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. EGC: Jakarta
Lubis, Helmi M. 2005. Pnemonia Mikoplasma. Sumatra Utara: FK Universitas Sumatera
Utara
Rasmaliah. 2004. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya.
Sumatera Utara: FIM Universtias sumatera utara
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Pneumonia Nosokomial Pedoman diagnosis
& Penatalaksanaan Di indonesia
Soge, Paskalis H, dkk. 2009. Tinjauan Penatalaksanaan Pnemonia dengan Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS) di Puskesmas Daerah Terpencil Kabupaten Kupang
Tahun 2009. FKM Undana
Smeltzer. Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
Edisi 8. Volume 3. Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M. 2002. Diagnosisi keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria
NOC. EGC: Jakarta
Widayanti, Titik. 2008. Asuhan Keperawatan pada tn. K dengan Gangguan Sistem
Pernafasan: Pneumonia di Ruang anggrek RSUD DR. Moewardi Surakarta.
Surakarta: FIM Universitas Muhammadiyah Surakarta
Yuwono, Tulus Aji. 2008. Faktor – Faktor Lingkungan Fisik Rumah yang Berhubungan
dengan Kejadian Pneumonia pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas
Kawunganten Kabupaten Cilacap. Semarang: Universitas Diponegoro Semarang