Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan teknologi alat angkut yang semakin cepat membuat jarak antar negara
seolah semakin dekat karena waktu tempuh yang semakin singkat, sehingga mobilitas orang
dan barang semakin cepat melebihi masa inkubasi penyakit menular. Kondisi tersebut
berpengaruh terhadap risiko penularan penyakit secara gobal.

Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan


binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara.
Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan Negara
maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemic global (pandemi) khususnya
menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para
praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit
menular merebak pada skala global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-
emerging diseases), maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (newemerging diseases),
seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif
melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan
ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008)

Pelabuhan merupakan titik simpul pertemuan atau aktifitas keluar masuk kapal,
barang dan orang, sekaligus sebagai pintu gerbang transformasi penyebaran penyakit,dan
merupakan ancaman global terhadap kesehatan masyarakat karena adanya penyakit karantina,
penyakit menular baru (new emerging diseases), maupun penyakit menular lama yang timbul
kembali (re-emerging diseases). Ancaman penyakit tersebut merupakan dampak negatif dari
diberlakukannya pasar bebas atau era globalisasi, dan dapat menimbulkan kerugian besar
baik pada sektor ekonomi, perdagangan, sosial budaya, maupun politik yang berdampak
besar kepada suatu negara atau daerah.
2

Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk jenis apapun, yang digerakkan dengan
tenaga mekanik, tenaga angin, termasuk kendaraan yang berdaya apung dinamis, kendaraan
di permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah
(Dep.Hub. 2008). Semakin meningkatnya aktivitas di pelabuhan berkaitan dengan transmisi
penyakit potensial wabah serta penyakit lainnya yang berpotensi menimbulkan kedaruratan
kesehatan yang meresahkan dunia. Sesuai dengan tugas Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II
Mataram yaitu berusaha melaksanakan tugas dan fungsinya secara optimal untuk
mewujudkan “Pelabuhan Sehat”, dengan harapan pelabuhan yang berada dalam wilayah
kerja KKP Kelas II mataram bebas dari Public Health Emergency of International Concern
(PHEIC).

Untuk mewujudkan pelabuhan yang sehat Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II


Mataram melakukan berbagai upaya kesehatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor : 2348/MENKES/PER/XI/2011 tahun 2011 tugas pokok Kantor
Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II mataram adalah melaksanakan pencegahan masuk dan
keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan,
pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA
serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme,
unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas
batas darat negara.
Adapun institusi yang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan adalah
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Menurut Permenkes No.356/Menkes/IV/2008, bahwa
KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit karantina
dan penyakit menular potensial wabah, kekarantinaan, pelayanan kesehatan terbatas di
wilayah kerja Pelabuhan dan Lintas Batas, serta pengendalian dampak kesehatan lingkungan.
A. Rumusan Masalah
Bagaimana pelaksanaan pengawasan kegiatan surveilans epidemiologi kesehatan di
wilayah kerja Pelabuhan Lembar?
B. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi
2. Mewujudkan pelabuhan sehat melalui upaya pencegahan masuk dan keluarnya
penyakit potensial wabah yang disebabkan oleh alat angkut atau kapal
3

3. Mengidentifikasi masalah yang timbul dalam pelaksanaan pengawasan kegiatan


surveilans epidemiologi kesehatan
C. Manfaat
1. Bagi Kantor Kesehatan Pelabuhan
Diharapkan dapat memberikan evaluasi kepada KKP untuk meningkatkan
kinerja dalam kegiatan rutin pengawasan surveilans epidemiologi kesehatan di
wilayah kerja Pelabuhan Lembar.
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan sebagai media informasi kepada masyarakat tentang gambaran
kegiatan surveilans epidemiologi kesehatan.
4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kapal
Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk jenis apapun, yang digerakkan dengan
tenaga mekanik, tenaga angin atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya apung
dinamis, kendaraan di permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang
tidak berpindah-pindah (Dep.Hub. 2008)
Sedangkan pengertian alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-
pindah adalah alat apung dan bangunan terapung yang tidak mempunyai alat penggerak
sendiri, serta ditempatkan di suatu lokasi perairan tertentu dan tidak berpindah-pindah
untuk waktu yang lama, misalnya hotel terapung, tongkang akomudasi (accommodation
barge) untuk menunjang kegiatan lepas pantai dan tongkang menampung minyak (oil
store barge), serta unit pemboran lepas pantai berpindah ( mobile offshore drilling
unit/MODU). Jenis kapal menurut fungsinya adalah (Dishub Jabar, 2015) :
1. Kapal Pesiar
Kapal Pesiar, adalah kapal yang dipakai untuk pelayaran pesiar. Penumpang menaiki
kapal pesiar untuk menikmati waktu yang dihabiskan diatas kapal yang dilengkapi
fasilitas penginapan dan perlengkapan bagaikan hotel berbintang. Lama pelayaran
pesiar bisa berbeda-beda, mulai dari beberapa hari sampai sekitar tiga bulan tidak
kembali kepelabuhan asal keberangkatan.

Gambar kapal pesiar


5

2. Kapal Penumpang.
Kapal penumpang adalah kapal yang digunakan untuk angkutan penumpang. Untuk
meningkatkan effisiensi atau melayani keperluan yang lebih luas, kenyamanan dan
kemewahan kadang kapal diperlukan demi memuaskan para penumpang. Lain dari itu
kapal penumpang harus memiliki kemampuan bartahan hidup pada situasi darurat.

Gambar kapal penumpang


3. Kapal Ro-Ro
Kapal Ro-Ro adalah kapal yang bisa memuat orang dan kendaraan yang berjalan
masuk sendiri ke dalam kapal dengan penggeraknya sendiri dan bisa keluar dengan
sendiri juga sehingga di sebagai kapal roll on – roll off disingkat Ro-Ro, untuk itu
kapal dilengkapi dengan pintu rampa yang menghubungkan kapal dengan dermaga.

Gambar kapal Ro-Ro


6

4. Kapal Barang
Kapal barang atau kapal kapal kargo adalah segala jenis kapal yang membawa
barang-barang dan kargo dari suatu pelabuhan ke palabuhan lainnya. Ribuan kapal
jenis ini menyusuri laut dan samudera dunia setiap tahunnya memuat barang-barang
perdagangan internasional dan nasional. Kapal kargo pada umumnya di desain khusus
untuk tugasnya.

Gambar kapal barang


5. Kapal tanker
Kapal tanker ialah kapal dirancang untuk mengangkut minyak atau produk
turunannya. Jenis utama kapal tanker termasuk mengangkut minyak, LNG, LPG.
Diantara berbagi jenis kapal tenker menurut kapasitas : ULCC (Ultra large Crude
Carrier) berkapasitas 500.000 Ton. VLCC (Very Large Crude Carrier) berkapasitas
300.000 Ton.

Gambar kapal tanker


6. Kapal Tunda
Kapal Tunda adalah kapal yang dapat digunakan untuk melakukan
maneuver/pergerakan, utamanya menarik atau mendorong kapal lainnya di pelabuhan,
laut lepas atau melalui sungai atau terusan. Kapal Tunda memiliki tenaga yang besar
bila dibandingkan dengan ukurannya. Mesin induk kapal tunda biasanya berkekuatan
antara 750 sampai dengan 300 tenaga kuda ( 500 s/d 2000 kW), tetapi kapal yang
7

lebih besar (digunakan di laut lepas) dapat berkekuatan 25.000 Tenaga kuda (20.000
kW) kapal tunda memiliki kemampuan manuever yang tinggi, tergantung dari unit
penggerak. Kapal tunda dengan penggerak konvensional memiliki baling-baling di
belakang, efisien untuk menarik kapal dari pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Jenis
penggerak lain sering disebut Schottel propulsion system (azimuth thruster/Z-peller)
dimana baling-baling di bawah kapal dapat bergerak 3600 atau sistem propulsion
Vioth-Schneider yang menggunakan semacam pisau di bawah kapal yang dapat
membuat kapal berputar 3600.

Gambar kapal tunda


7. Kapal peti kemas
Kapal peti kemas (countainer ship) adalah kapal yang khusus digunakan untuk
mengangkut peti kemas. Selanjutnya PP 51 tahun 2002 tentang perkapalan, yang
dimaksud dengan peti kemas adalah bagian dari alat yang berbentuk kotak serta
terbuat dari bahan yang memenuhi syarat bersifat permanen dan dapat di pakai
berulang-ulang, yang memiliki pasangan sudut serta dirancang khusus untuk
memudahkan angkutan barang dengan satu atau lebih noda transportasi, tanpa harus
dilakukan peuatan kembali. Termasuk jenis ini adalah kapal semi peti kemas, yaitu
perpaduan antara kapal kargo dan peti kemas.

Gambar kapal peti kemas


8

8. Kapal rakyat
Angkutan pelayaran rakyat adalah usaha rakyat yang bersifat tradisional dan
mempunyai karakteristik tersendiri untuk melaksanakan angkutan di perairan dengan
menggunakan kapal layar, kapal layar bermotor, dan/atau kapal motor sederhana
berbendera Indonesia dengan ukuran tertentu.

B. Surveilans Epidemiologi

1. Definisi

Surveilans adalah upaya atau sistem atau mekanisme yang dilakukan secara terus
menerus dari suatu kegiatan pengumpulan, analisi, interpretasi, dari suatu data spesifik
yang digunakan untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program ( Manajemen
program kesehatan). Surveilans dapat diartikan sebagai pengawasan secara terus-menerus
terhadap faktor penyebab kejadian dan sebaran penyakit, dan yang berkaitan dengan
keadaan sehat atau sakit. Surveilans ini meliputi pengumpulan, analisis, penafsiran, dan
penyebaran data yang terkait, dan dianggap sangat berguna untuk penanggulangan dan
pencegahan secara efektif. Definisi yang demikian luas itu mirip dengan surveilans pada
sistem informasi kesehatan rutin, dan karena itu keduanya dapat dianggap berperan
bersama-sama. (Vaughan, 1993).

Surveilans epidemiologi adalah pengumpulan dan pengamatan secara sistematik


berkesinambungan, analisa dan interprestasi data kesehatan dalam proses menjelaskan
dan memonitoring kesehatan dengan kata lain surveilans epidemiologi merupakan
kegiatan pengamatan secara teratur dan terus menerus terhadap semua aspek kejadian
penyakit dan kematian akibat penyakit tertentu, baik keadaan maupun penyebarannya
dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan.
(Noor,1997). Surveilans epidemiologi adalah pengamatan yang terus menerus atas
distribusi, dan kecenderungan suatu penyakit melalui pengumpulan data yang sistematis
agar dapat ditentukan penanggulangannya yang secepat-cepatnya (Gunawan, 2000).

Menurut Karyadi (1994), surveilans epidemiologi adalah : “Pengumpulan data


epidemiologi yang akan digunakan sebagai dasar dari kegiatan-kegiatan dalam bidang
penanggulangan penyakit, yaitu :
9

1. Perencanaan program pemberantasan penyakit. Mengenal epidemiologi penyakit


berarti mengenal masalah yang kita hadapi. Dengan demikian suatu perencanaan
program dapat diharapkan akan berhasil dengan baik.
2. Evaluasi program pemberantasan penyakit. Bila kita tahu keadaan penyakit sebelum
ada program pemberantasannya dan kita menentukan keadaan penyakit setelah
program ini, maka kita dapat mengukur dengan angka-angka keberhasilan dari
program pemberantasan penyakit tersebut.
3. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah. Suatu sistem surveilans
yang efektif harus peka terhadap perubahan-perubahan pola penyakit di suatu daerah
tertentu. Setiap kecenderungan peningkatan insidens, perlu secepatnya dapat
diperkirakan dan setiap KLB secepatnya dapat diketahui. Dengan demikian suatu
peningkatan insidens atau perluasan wilayah suatu KLB dapat dicegah”.
2. Tujuan Surveilans

Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan


populasi, sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan
respons pelayanan kesehatan dengan lebih efektif. Surveilans dapat juga digunakan untuk
memantau efektivitas program kesehatan.

Tujuan khusus surveilans:

a. Memonitor kecenderungan (trends) penyakit;


b. Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini outbreak;
c. Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease burden)
pada populasi;
d. Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi,
monitoring, dan evaluasi program kesehatan;
e. Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan;
f. Mengidentifikasi kebutuhan riset. (Last, 2001; Giesecke, 2002; JHU, 2002)
10

3. Jenis - Jenis Surveilans

a. Surveilans Individu

Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu


yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus,
demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional
segera terhadap kontak, sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai
contoh, karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-
orang atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular
selama periode menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa
inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).

Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan
SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial. Karantina total
membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa
inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial
membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan
dan tingkat bahaya transmis penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah
penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan
tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja.

Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal,
politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-
langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan
Upshur, 2007).

b. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus


terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis,
konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan
lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu. Di banyak
negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program vertical (pusat-
daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria. Beberapa dari
11

sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara
dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program
surveilans penyakit vertical yang berlangsung parallel antara satu penyakit dengan penyakit
lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk
sumberdaya masing-masing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan
inefisiensi.

c. Surveilans Sindromik

Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-


menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit.
Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun
populasi yang bias diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik
mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau
temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi
laboratorium tentang suatu penyakit.

Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun


nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan
kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip
influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam
surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan
definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan
mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis
kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor
aneka penyakit yang menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat
memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrument untuk memonitor krisis
yang tengah berlangsung. (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006)

Suatu system yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas
kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans
sentinel. Pelaporan sampel melalui system surveilans sentinel merupakan cara yang baik
untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.
(DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010)
12

d. Surveilans Berbasis Laboratorium

Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor


penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti
salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri
tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada
system yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik. (DCP2, 2008)

e. Surveilans Terpadu

Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan


surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah
pelayanan public bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia
yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan
pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan
perbedaan kebutuhan data khusus penyakit-penyakit tertentu. (WHO, 2001, 2002; Sloan et
al., 2006).

Karakteristik pendekatan surveilans terpadu:

a. Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services);


b. Menggunakan pendekatan solusi majemuk;
c. Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural;
d. Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan,
pelaporan, analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan
dan supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya);
e. Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun
menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang
berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda. (WHO, 2002)
13

4. Fungsi surveilans epidemiologi

a. Mendeteksi perubahan masalah kesehatan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan


tindakan kontrol atau preventif terhadap perubahan tersebut.
b. Deteksi perubahan lingkungan/vector yang dianggap dapat menimbulkan penyakit
pada populasi.
c. Mutlak digunakan pada program-program pemberantasan penyakit menular sebagai
dasar perencanaan, monitoring dan evaluasi program.
d. Menilai kejadian penyakit pada populasi seperti insidensi atau prevalensi.
e. Data surveilans dapat digunakan untuk perencanaa dan pelaksanaan program
kesehatan.
14

BAB III

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

Beberapa masalah yang ditemui dalam pelaksanaan pengawasan kegiatan surveilans


epidemiologi kesehatan di wilayah kerja pelabuhan lembar, antara lain:

1. Masalah regulasi
Belum terbitnya revisi Undang-undang No. 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut
sebagai payung hukum petugas KKP bertugas di lapangan;
2. Sumber Daya Manusia (SDM)
Masih kurangnya jumlah SDM yang memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam
mengerjakan tugas-tugas rutin maupun khusus sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Diklat teknis yang diadakan unit utama di pusat belum cukup dan
memadainya jumlah petugas yang telah memiliki sertifikat dan mengikuti pelatihan
untuk meningkatkan kapasitas SDM petugas KKP;
15

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN DAN SARAN.


Dari hasil pengawasan kegiatan surveilans epidemiologi kesehatan di wilayah kerja
pelabuhan lembar, masih terdapat beberapa masalah yang di temukan sehingga kinerja
dari petugas KKP tidak optimal. Maka solusi yang mungkin bisa di terapkan untuk
mengoptimalkan pelaksanaan peran dan fungsi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II
Mataram adalah sebagai berikut :
1. Harus ada UU tentang Karantina laut sebagai payung hukum petugas KKP bertugas di
lapangan.
2. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM)
Upaya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kantor Kesehatan
Pelabuhan Kelas II Mataram ditempuh dengan cara : a. Mengusulkan penambahan
tenaga yang dibutuhkan sesuai dengan standar ketenagaan dan kebutuhan di lapangan;
b. Dengan menyertakan/mengirim petugas untuk mengikuti diklat baik baik teknis
maupun diklat manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalitas
pegawai agar mampu menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi di
lapangan dengan cepat dan tepat. Di samping itu juga perlu dilakukan pembinaan
secara berkesinambungan dan berjenjang dari masing masing pejabat di lingkungan
Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Mataram.
3. Melengkapi sarana dan prasarana
Guna menjamin keberhasilan dan kelancaran dalam operasional kegiatan,
langkah yang akan dilaksanakan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Mataram
antara lain melengkapi sarana untuk keperluan rutin, keperluan teknis dan sarana
penunjang dibidang pengendalian karantina & surveilans eidemiologi
4. Meningkatkan Kekarantinaan dan Surveilans Epidemiologi
Dalam rangka mencegah masuk dan keluarnya penyakit karantina dan
penyakit menular berpotensi wabah melalui pelabuhan, maka penerapan surveilans
epidemiologi yang efektif perlu dilakukan. Penerapan system surveilans epidemiologi
yang efektif akan sangat bermanfaat dalam melaksanakan system kewaspadaan dini
dan upaya cegah tangkal terhadap penyakit karantina dan penyakit menular berpotensi
16

wabah. Hal ini dimungkinkan bila dilakukan oleh tenaga yang terampil dibidangnya
dan didukung fasilitas yang memadai. Langkah yang akan dilakukan dalam
mengefektifkan kegiatan surveilans epidemiologi adalah dengan melakukan
pengamatan dan pengawasan, mengumpulkan data secara terus menerus serta
melakukan analisis data. Hasil analisis tersebut dijadikan bahan rekomendasi dalam
mengambil suatu kebijakan dan tindak lanjutan yang akan dilakukan terhadap objek
yang berpotensi sebagai media transmisi penyakit atau masalah kesehatan di wilayah
kerja.
17

DAFTAR PUSTAKA

Dephub. 2008. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang


Pelayaran. http://hubdat.dephub.go.id/uu/962-uu-nomor-17-tahun-2008-tentang-
pelayaran/download. Diunduh pada 14 Desember 2017.

Direktoral Jenderal PP & PL. Standar Operasional Prosedur. Departemen Kesehatan RI;
2009. Hal: 93-97. Diakses pada: 14 Desember 2017.

Dishub Jabar. 2015. Jenis Kapal Laut Serta Fungsinya.


http://dishub.jabarprov.go.id/inc/data/info/582. Diunduh pada 14 Desember 2017.

Permenkes No.356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor


Kesehatan Pelabuhan, Jakarta.

WHO, 2005, Internasional Health Regulation (IHR), Geneva, Swiss