Anda di halaman 1dari 16

 Home

 PROFILKU
 KONTAK
 RENUNGAN
 BISNIS ONLINE
 INFOMASI PENTING▼
 BERITA TERKINI

Home » MAKALAH PENDIDIKAN » METODE PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN


KHUSUS

METODE PENDIDIKAN ANAK


BERKEBUTUHAN KHUSUS
Posted by Ansar Zainuddin
» MAKALAH PENDIDIKAN
» 2 Nov 2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tidak setiap anak yang dilahirkan di dunia ini selalu mengalami perkembangan
normal.Banyak di antara mereka yang dalam perkembangannya mengalami hambatan,
gangguan, kelambatan, atau memiliki faktor-faktor resiko sehingga untuk mencapai
perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah
yang kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa.

Dalam memahami anak berkebutuhan khusus atau anak luara biasa, sangat diperlukan
adanya pemahaman mengenai jenis-jenis kecacatan (anak berkebutuhan khusus) dan
akibat-akibat yang terjadi pada penderita. Anak berkebutuhan khusus disebut sebagai
anak yang cacat dikarenakan mereka termasuk anak yang pertumbuhan dan
perkembangannya mengalami penyimpangan atau kelainan, baik dari segi fisik, mental,
emosi, serta sosialnya bila dibandingkan dengan nak yang normal.

Karakteristik spesifik anak berkebutuhan khusus pada umumnya berkaitan dengan tingkat
perkembangan fungsional. Karakteristik spesifik tersebut meliputi tingkat perkembangan
sensorik motor, kognitif, kemampuan berbahasa, keterampilan diri, konsep diri, kemampuan
berinteraksi social, serta kreatifitasnya.Adanya perbedaan karakteristik setiap peserta didik
berkebutuhan khusus, akan memerlukan kemampuan khusus guru. Guru dituntut memiliki
kemampuan beraitan dengan cara mengombinasikan kemampuan dan bakat setiap anak dalam
beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kemampuan berpikir, melihat, mendengar,
berbicara, dan cara besosialisasikan. Hal-hal tersebut diarahkan pada keberhasilan dari tujuan
akhir pembelajaran, yaitu perubahan perilaku kearah pendewasaan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus?
2. Apa saja jenis-jenis anak berkebutuhan khusus?
3. Apa saja yang menyebabkan anak menjadi berkebutuhan khusus?
4. Bagaimana cara menangani anak berkebutuhan khusus?
5. Bagaimana metode pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus?
C. Tujuan Penulisan
Dari beberapa rumusan masalah yang telah disebutkan, maka akan tercapai beberapa tujuan
dalam penulisan ini. Diantaranya yaitu:
1. Mengetahui pengertian dari anak berkebutuhan khusus;
2. Mengetahui jenis-jenis anak berkebutuhan khusus;
3. Mengetahui sebab-sebab terjadinya anak berkebutuhan khusus;
4. Mengetahui cara menangani anak berkebutuhan khusus;
5. Mengetahui metode pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus


1. Menurut Hallahan dan Kauffman, 1986
Anak berkebutuhan khusus (dulu di sebut sebagai anak luar biasa) di definisikan sebagai
anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi
kemanusiaan mereka secara sempurna. Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus,
dikarenakn dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan
pendidikan, layanan sosial, layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya
yang bersifat khusus.[1]
Dalam percakapan sehari hari, anak berkebutuhan khusus dijuluki sebagai“orang luar
biasa“, dikarenakan mereka memiliki kelebihan yang luar biasa, misalnya orang yang terkenal
memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa, memiliki kreatifitas yang tinggi dalam
melahirkan suatu temuan-temuan yang luar biasa dibidang iptek,religius, dan di bidang-bidang
kehidupan lainnya.
Dalam dunia pendidikan, kata luar biasa juga merupakan julukan atau sebutan bagi mereka yang
memiliki kekurangan atau mengalami berbagai kelainan dan penyimpangan yang tidak di alami
oleh orang normal pada umumnya. Kelainan atau kekurangan itu dapat berupa kelainan dalam
segi fisik, psikis, sosisal, dan moral.
Pengertian “luar biasa“ dalam dunia pendidikan mempunyai ruang lingkup pengertian yang lebih
luas daripada pengertian “berkelainan atau cacat“ dalam percakapan sehari hari. dalam dunia
pendidikan istilah luar biasa mengandung arti ganda, yaitu mereka yang menyimpang ke atas
karena mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dibanding dengan orang normal pada
mereka yang mnyimpangumumnya dan mereka yang mnyimpang ke bawah, yaitu mereka yang
menderita kelainan atau ketunaan dan kekurangan yang tidak di derita oleh orang normal pada
umumnya. Contoh orang yang menyimpang ke atas dari segi kemampuan intelektual ( otak ),
misalnya professor B.J Habibie, karena dia memiliki inteligensi di atas orang normal dan
kemampuan intelektual dibidang “aerodinamika“ yang berkelas dunia sehingga beliau di juluki
sebagai orang yang jenius di bidangnya, sedangkan contoh orang yang menyimpang ke bawah
ialah orang yang lambat dan sulit dalam belajar.
B. Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Dalam dunia pendidikan, anak berkebutuhan khusus di klasifikasikan atas beberapa kelompok
sesuai dengan jenis kelainan anak. Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis-jenis anak
berkebutuhan khusus, sebagai berikut:
1. Anak Tuna Netra
Adalah anak yang mempunyai kekurangan secara indrawi, yakni indra penglihatan. Meskipun
indra penglihatannya bermasalah, intelegensi yang mereka miliki masih dalam taraf normal. Hal-
hal yang berhubungan dengan mata diganti dengan indra lain sebagai kompensasinya.
2. Anak Tuna Rungu
Adalah anak yang mempunyai kelainan pada pendengarannya. Mereka mengalami kesulitan
dalam berinteraksi dan bersosialisasi terhadap orang lain terhadap lingkungan termasuk
pendidikan dan pengajaran. Anak tuna rungu dibagi menjadi 2 yaitu, tuli (the deaf), dan kurang
dengar (hard of hearing).
3. Anak Tuna Daksa
Adalah anak yang mempunyai kelainan pada tubuhnya yakni kelumpuhan. Anak yang
mengalami kelumpuhan ini disebabkan karena polio dan gangguan pada syaraf motoriknya.[2]
4. Anak Tuna Wicara
Adalah anak yang mengalami kelainan pada proses berbicara atau berbahasa. Anak yang seperti
ini mengalami kesulitan dalam berbahasa atau berbicara sehingga tidak dapat dimengerti oleh
orang lain.
5. Kelainan Emosi
Adalah anak yang mengalami gangguan pada tingkat emosinya. Hal ini berhubungan dengan
masalah psikologisnya. Anak yang mengalami kelainan emosi ini dibagi menjadi 2 macam yaitu:
a. Gangguan Prilaku, ciri-cirinya yaitu:
1) Suka mengganggu di kelas
2) Tidak sabaran, terlalu cepat beraksi
3) Tidak menghargai orang lain
4) Suka menentang
5) Suka menyalahkan orang lain
6) Sering melamun.
b. Gangguan Konsentrasi (ADD/Attention Deficit Disorder), gejala-gejalanya terjadi paling
sedikit selama 6 bulan. Gejala-gejala tersebut diantaranya yaitu:
1) Tidak mendengarkan orang lain berbicara
2) Sering gagal dalam memperhatikan objek tertentu
3) Sering tidak melaksanakan perintah dar orang lain.
c. Anak Hiperaktif (ADHD/Attention Deficit with Hiperactivity Disorder), gejala-gejalanya
yaitu:
1) Tidak bisa diam
2) Ketidakmampuan untuk member perhatian yang cukup lama
3) Hiperaktivitas
4) Canggung
6. Keterbelakangan Mental
Adalah anak yang memiliki mental yang sangat rendah, selalu membutuhkan bantuan orang lain
karena tidak mampu mengurus dirinya sendiri, kecerdasannya terbatas, apatis, serta perhatiannya
labil. Berdasarkan intelegensinya, anak yang terbelakang mentalnya terbagi menjadi beberapa
bagian yaitu:
a. Idiot, yaitu anak yang paling rendah taraf intelegensinya (IQ > 20), perkembangan jiwanya
tidak akan bertambah melebihi usia 3 tahun, meskipun pada dasarnya usianya sudah remaja atau
dewasa.
b. Imbesil, yaitu anak yang mempunyai (IQ 20-50), perkembangan jiwanya dapat mencapai
usia 7 tahun, bisa diajari untuk memelihara diri sendirivdalam kebutuhan yang paling sederhana.
c. Debil atau moron, yaitu anak yang mempunyai (IQ 50-70), keterbelakangan Debil tidak
separah dua jenis diatas. Perkembangan jiwanya dapat mencapai hingga 10 ½ tahun. Orang Debil
ini dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
7. Psikoneurosis
Anak yang mengalami psikoneurosis pada dasarnya adalah anak yang normal. Mereka hanya
mengalami ketegangan pribadi yang terus menerus, selain itu mereka tidak bisa mengatasi
masalahnya sendiri sehingga ketegangan tersebut tidak kunjung reda. [3]Psikoneurosis ini dibagi
menjadi 3 yaitu:
a. Psikoneurosis kekhawatiran, Adalah anak yang mempunyai rasa khawatir yang berlebihan
dan tidak beralasan.
b. Histeris, adalah anak yang secara tidak sadar melumpuhkan salah satu anggota tubuhnya,
sesunguhnya secara organis tidak mengalami kelainan.
c. Psikoneurosis obsesif, adalah anak yang memiliki pikiran-pikiran dan dorongan-dorongan
tertentu yang terus menerus.
8. Psikosis
Psikosis disebut juga dengan kelainan kepribadian yang besar karena seluruh kepribadian orang
yang bersangkutan terkena dan orang tersebut tidak dapat hidup dengan normal.[4]
9. Psikopathi
Adalah kelainan tingkah laku, maksudnya penderita psikopathi ini tidak dapat memperdulikan
norma-norma sosial. Mereka selalu berbuat semaunya sendiri tanpa mempertimbangkan
kepentingan orang lain, hingga sering sekali merugikan orang lain. Dan penderita psikopathi ini
tidak menyadari adanya kelainan pada dirinya.

C. Sebab-Sebab Anak Berkebutuhan Khusus


Ada tiga faktor yang menyebabkan anak berkebutuhan khusus yaitu:
1. Peristiwa Pra Natal (dalam kandungan)
Berbagai macam penyakit yang dapat menyebabkan kelainan pada janin saat ibu hamil
diantaranya adalah:
a. Keracunan darah (Toxaenia) pada ibu-ibu yang sedang hamil dapat menyebabkan janin tidak
memperoleh oksigen secara maksimal, sehingga mempengaruhi syaraf-syaraf otak yang dapat
menyebabkan gangguan pada sistem syaraf dan ketunaan pada bayi.
b. Infeksi karena penyakit kotor (penyakit kelamin / spilis yang diderita ayah atau ibu),
toxoplasmosis (dari virus binatang seperti bulu kucing), trachma dan tumor. Tumor dapat terjadi
pada otak yang berhubungan pada indera penglihatan akibatnya kerusakan pada bola mata dan
pendengaran akibatnya kerusakan dalam selaput gendang telinga.
c. Kekurangan vitamin atau kelebihan zat besi sehingga ibu keracunan yang mengakibatkan
kelainan pada janin yang menyebabkan gangguan pada mata. Juga kerusakan pada otak sehingga
menyebabkan terganggu fungsi berfikirnya atau verbal komunikasi, kerusakan pada organ telinga
sehingga hilangnya fungsi pendengaran.

2. Natal (saat kelahiran)


Pada saat terjadinya kelahiran yang mungkin hanya memakan waktu yang cukup singkat akan
tetapi jika penanganan yang tidak tepat akan mengancam perkembangan bayinya. Diantara nya
adalah:
1) Lahir prematur
2) Kelahiran yang dipaksa dengan menggunakan vacum
3) Proses kelahiran bayi sungsang.
3. Post Natal (setelah kelahiran)
Berbagai peristiwa yang dialami dalamkehidupannya seringkali dapat mengakibatkan seseorang
kehilangan salah satu fungsi organ tubuh atau fungsi otot dan syaraf. Bahkan dapat pula
kehilangan organ itu sendiri. Penyebab ketunaan yang terjadi setelah kelahiran diantaranya:
1) Terjadi insident
2) Kekurangan vitamin atau gizi
3) Penyakit panas tinggi dan kejang-kejang.
D. Cara MenanganiAnakBerkebutuhanKhusus
Tidak dapat dipungkiri, pengasuhan anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan tambahan
energi, pemikiran, serta biaya yang lebih tinggi dibanding mengasuh anak-anak pada umumnya.
berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah dalam menangani anak berkebutuhan khusus di
antaranya adalah sebagai berikut:
1. Penguatankondisi mental orang tua
Strategiinimembutuhkanperanaktif orang tuadalammelakukanpengasuhananak berkebutuhan
khusus.Beberapastrategi yang dibutuhkanoleh orang tuaanak berkebutuhan
khususdiantaranyaperlumenyediakanwaktuuntukdirinyasendiri,
bekerjasamadalampengasuhandenganpasangan, danaktifdalammencariinformasimengenaianak
berkebutuhan khusus.Orang
tuaperlumenyediakanwaktuuntukdirinyasendiri,sebagaibentukapresiasiterhadapdirisendiri yang
sudahmenyediakanwaktuekstradantenagasehari-hariuntukmengasuhanak berkebutuhan khusus.
2. Dukungansoaial yang memadai
Dukungan social memegangperananluarbiasabagikeberlangsunganpengasuhananak berkebutuhan
khusus.Dukungan social dapatberupadorongan moral, yang
menguatkandarimasyarakatsekitarmaupunkeluargaterdekat.Melaluidukungansosial, diharapkan
orang tuaanak berkebutuhan khususdapatberbagipengalamantentangpolaasuhanak berkebutuhan
khusus.Hal inibelumbanyakterlihat di
lingkunganmasyarakatkita,mengingatmasihkuatnyakepercayaanbahwamemilikianak
berkebutuhan khusus merupakan “karma” dariTuhan.Sehingga,kecenderungan yang
adakeluargadengananak berkebutuhan khususcenderung “dikucilkan”
masyarakat.Untukmenghapuskecenderunganini,
perluperanpemerintahuntukmemberikanedukasikepadamasyarakatumumtentanganak
berkebutuhan khusus.Edukasiinidapatdisampaikanmelaluijalur media ataupos-
pospelayananmasyarakatuntukmenyentuhmasyarakat di area pinggiranataupedesaan.

3. Peranaktif pemerintah
Peranaktifpemerintahdalammenyediakanpelayanankesehatandankonsultasi yang
dapatdijangkaumasyarakat.Hal inimerupakanfaktor yang sangat vital
bagimasyarakatumum,terutamabagimereka yang beradapadakelas social menengahkebawah.
Tidakdapatdipungkiri,pelayanankonsultasidankesehatanmasihmerupakansesuatuhal yang mahal.
Denganmenyediakankonsultasi anak berkebutuhan khusus yang mudahdijangkaumasyarakat,
diharapkananak berkebutuhan khususmendapatpelayanankonsultasi yang
mudahdanmurah.Pemerintah pun, harus menyediakanfasilitaspenanganananak berkrbutuhan
khusussecaraterpadu. Saatini,pemerintahsudahmemberikanperhatiankepadaanak
berkebutuhankhususmelaluipembentukanDirektoratPembinaanSekolahLuarBiasa (PSLB) di
bawahkoordinasiDepartemenPendidikandanKebudayaan.[5]

E. Cara mengajar anak berkebutuhan khusus


Cara Praktis dalam pengajaran Anak Berkebutuhan Khusus memuat informasi yang menunjang
metode pengajaran guru.Untukituguru harus mengikuti pelatihan pendidikan inklusif yang
praktis dan komprehensif agar dapat memahami dan menerapkan lebih baik strategi-strategi yang
digunakan dalam pendidikan inklusif.
Adapuncaramengajaranakberkebutuhankhususadalahsebagaiberikut:
1. Bersikap baik dan positif,
2. Gunakan seting kelas yang sesuai,
3. Bicaralah dengan jelas dengan posisi wajah menghadap siswa,
4. Menfaatkan semua metode komunikasi,
5. Gunakan strategi pengajaran yang efisien
6. Utamakan dukungan teman sebaya
7. Manfaatkan materi pengajaran yang ada sebaik mungkin
8. Beri penjelasan pada semua anak mengenai diabilitas
9. Buatlah kelas anda seaksesibel mungkin dan
10. Berbagilah pengalaman. Kesemua prinsip pengajaran tersebut juga dapat diterapkan pada
kelas regular.
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Anak berkebutuhan khusus (dulu di sebut sebagai anak luar biasa) di definisikan sebagai anak
yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan
mereka secara sempurna. Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus, dikarenakan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan, layanan
sosial, layanan bimbingan dan konseling, dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat
khusus.
Dalam penanganan anak berkebutuhan khusus, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan,
diantaranya yaitu penguatan kondisi mental orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus,
dukungan sosial yang kuat dari tetangga dan lingkungan sekitar anak berkebutuhan khusus
tersebut, dan yang terakhir adalah peran aktif pemerintah dalam menjadikan pelayanan kesehatan
dan konsultasi bagi anak berkebutuhan khusus.

B. Saran
Setelah mengetahui dan memahami segala sesuatu hal yang berhubungan dengan anak
berkebutuhan khusus, sangat diharapkan bagi masyarakat indonesia terutama bagi para pendidik
dalam menyikapi dan mendidik anak yang menyandang berkebutuhan khusus dengan baik dan
sesuai dengan yang diharapkan. Karena pada dasarnya anak seperti itu bukan malah dijauhi akan
tetapi didekati dan diperlakukan sama dengan manusia normal lainnya akan tetapi caranya yang
berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Sarlito, Wirawan Sarwono, 2010, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Rajawali Pers.
Dariyo, Agoes, 2007, Psikologi Perkembangan anak 3 tahun pertama, bandung: Revika
Aditama.
An, Mahfud, TT, Petunjuk Mengatasi Stres, Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Ahmadi, Abu, 2008, Psikologi Belajar, jakarta: Rineka Cipta.
http://httpnurjannah.blogspot.co.id/2015/02/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Defenisi Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang

berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental,

emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami

kelainan/ penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses

pertumbuh kembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga

memerlukan pelayanan pendidikan khusus.


Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata

“Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan

khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena

karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus

yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka

memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi

menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar

Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB

bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa,

SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.

B. Jenis dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru antara lain :
a. Tunagrahita (Mental retardation)
Ada beberapa definisi dari tunagrahita, antara lain:
1. American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam B3PTKSM, (p. 20) mendefinisikan

retardasi mental/tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah

rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes individual; yang muncul sebelum

usia 16 tahun; dan menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.


2. Definisi tunagrahita yang dipublikasikan oleh American Association on Mental Retardation

(AAMR). Di awal tahun 60-an, tunagrahita merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum

dan keterbatasan pada keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif mencakup area : komunikasi,

merawat diri, home living, keterampilan sosial, bermasyarakat, mengontrol diri, functional

academics, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia

18 tahun.
3. Menurut WHO seorang tunagrahita memiliki dua hal yang esensial yaitu fungsi intelektual

secara nyata di bawah rata-rata dan adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan

norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat.

b. Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)


Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan

kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai

dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor

internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.


Menurut Eli M. Bower (1981), anak dengan hambatan emosional atau kaelainan perilaku,

apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut:
1. Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan.
2. Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
3. Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
4. Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.
5. Bertendensi kea rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau

permasalahan di sekolah.
c. Tunarungu Wicara (Communication disorder and deafness)
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen

maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran

adalah:
1. Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
2. Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
3. Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
4. Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
5. Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan

dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu

menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan

untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang

dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal,
bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami

konsep dari sesuatu yang abstrak.


d. Tunanetra (Partially seing and legally blind)
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat

diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi

Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan

atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan.

Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran

menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu

prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah

media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan

braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah

tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar

biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya

mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan

tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).

e. Tunadaksa (physical disability)


Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan

neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk

celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan

yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan

melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi

sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu

mengontrol gerakan fisik.

f. Tunaganda (Multiple handicapped)


Menurut Johnston & Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan

perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan

neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti

intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat


g. Kesulitan Belajar (Learning disabilities)
Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih

kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan

menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang

disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia

perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami

gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan

ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.


Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis

dan berhitung:
1. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
2. Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
3. Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
4. Kalau membaca sering banyak kesalahan
h. Anak Berbakat (Giftedness and special talents)
Menurut Milgram, R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ

140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas

tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan

seni rupa (Marlan, 1972).


Anak berbakat mempunyai empat kategori, sebagai berikut:
1. Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada

kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan

masuk akal.
2. Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika,

bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam.


3. Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk

menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi.


4. Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain.
Dari keempat kategori di atas, maka anak berbakat adalah mereka yang mempunyai

kemampuan-kemampuan yang unggul dalam segi intelektual, teknik, estetika, social, fisik

(Freemen, J. 1975:120), akademik, psikomotor dan psikososial (Sisk,1987 dalam Amin, M.

1996:3).
C. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berkbutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer

(sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi:

anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan

(anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil,

serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK

permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis,

ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak

berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.


Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia, tentu

memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam.

Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa: sekolah inklusi adalah sekolah yang

menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan

yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun

bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih

dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari

kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota

masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Selanjutnya, Staub dan Peck

(1995) menyatakan bahwa: pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat
ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas

reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis

kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995)

menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang

mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas

reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan

sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap

anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak,

yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.


Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya

(normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995). Hal ini dilandasi

oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang

tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.


Dalam hal ini, ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu: peraturan

perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia (termasuk

ABK temporer dan permanen) untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek

fleksibilitas dan aksesibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan

informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK)

dan mengoptimalkan peranan guru.


Di bawah ini beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus:
1. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra
Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari

semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi

pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi sehingga proses

pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai

bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran , antara lain:


a. Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan

induktf.
b. Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic.
c. Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu.
d. Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
e. Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.
Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi

individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.


2. Strategi pembelajaran bagi anak berbakat
Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong

anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi

pembelajaran adalah :
a. Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
b. Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan

kecerdasan emosional.
c. Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk.
Model-model layanan yang biasa diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan

perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.


3. Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita
Strtegi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda

dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat

digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain;


a. Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan
b. Strategi kooperatif
c. Strategi modifikasi tingkah laku
4. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa
Strategi yang biasa diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian

tempat pendidikan, sebagai berikut:


a. Pendidikan integrasi (terpadu)
b. Pendidikan segresi (terpisah)
c. Penataan lingkungan belajar
5. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras
Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan

model-model pendekatan sebagai berikut;


a. Model biogenetic
b. Model behavioral/tingkah laku
c. Model psikodinamika
d. Model ekologis
6. Strategi pembelajaran bagi anak dengan kesulitan belajar
a. Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial teaching

b. Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat

kesalahan.

c. Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis

sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak.

7. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu


Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif,

induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi

perilaku.
yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam

semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan. Tetapi secara mikro

(khusus) yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:


a. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of Education).
b. Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan (The Nature Of Man).
c. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan.
d. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan.
e. Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik

pendidikan (sistem pendidikan).


f. Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan