71% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
4K tayangan3 halaman

Kondisi Pendidikan di Indonesia

Dokumen tersebut membahas kondisi pendidikan di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pendidikan di zaman purba bersifat informal di dalam keluarga, sementara zaman kerajaan sudah ada perguruan. Zaman kolonial, pendidikan dilakukan untuk kepentingan Belanda dan agama mereka. Setelah kemerdekaan, pendidikan mulai disempurnakan sesuai kebutuhan bangsa Indonesia dengan berdasarkan UUD 1945. Pendidikan terus berkembang p
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
71% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
4K tayangan3 halaman

Kondisi Pendidikan di Indonesia

Dokumen tersebut membahas kondisi pendidikan di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Pendidikan di zaman purba bersifat informal di dalam keluarga, sementara zaman kerajaan sudah ada perguruan. Zaman kolonial, pendidikan dilakukan untuk kepentingan Belanda dan agama mereka. Setelah kemerdekaan, pendidikan mulai disempurnakan sesuai kebutuhan bangsa Indonesia dengan berdasarkan UUD 1945. Pendidikan terus berkembang p
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUME

MODUL 5
KONDISI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Kegiatan Belajar 1: Kondisi Pendidikan di Indonesia

A. Kondisi Pendidikan sebelum Kemerdekaan

1. Zaman Purba
Latar Belakang Sosial Budaya. Kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia
pada kurang lebih 1500 SM disebut kebudayaan neolitis. Kepercayaan yang dianut,
antara lain animisme dan dinamisme. Tata masyarakatnya bersifat egaliter, mereka
hidup bergotong royong.
Kondisi Pendidikan. Tujuan pendidikan pada zaman ini adalah agar generasi
muda dapat mencari nafkah, membela diri dan hidup bermasyarakat. Oleh karena
kebudayaan masyarakat masih bersahaja, pendidikan cukup dilaksanakan di dalam
lingkungan keluarga dan dalam kehidupan keseharian masyarakat yang alamiah.

2. Zaman Kerajaan Hindu-Buddha


Latar Belakang Sosial Budaya. Nenek moyang bangsa Indonesia yang umumnya
tinggal di daerah dekat pesisir pantai melakukan hubungan perdagangan dengan
orang-orang dari India yang singgah dalam perjalanannya. Dengan meningkatnya
hubungan di antara mereka, orang India memperkenalkan kebudayaan mereka,
bahasa, tulisan, dan agama mereka, termasuk juga system pemerintahan yang
berlaku di india seperti terdapatnya stratifikasi sosial (kasta Brahmana dan kasta
Ksatria).
Kondisi Pendidikan. Pada zaman ini, selain telah dilangsungkannya pendidikan
informal di dalam keluarga masing-masin, juga sudah berkembang pendidikan yang
lembaganya berbentuk Perguruan atau Pesantren.

3. Zaman Kerajaan Islam


Latar Belakang Sosial Budaya. Dengan berlangsungnya perdagangan bertaraf
internasional, berdatanganlah para saudara beragama Islam. Melalui mereka para
raja dan masyarakat pesisir memeluk agama Islam. Melalui para saudagar dari Jawa
yang memeluk agama Islam dan Wali Sanga maka tersebarlah Islam ke Pulau Jawa.
Kondisi Pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk menghasilkan manusia yang
takwa kepada Allah SWT selamat di dunia dan akhirat melalui pelaksanaan iman,
ilmu, dan amal. Selain berlangsung di dalam keluarga, pendidikan berlangsung di
lembaga-lembaga pendidikan lainnya, yaitu di langgar-langgar, mesjid, dan
pesantren.

4. Zaman pengaruh Portugis dan Spanyol


Latar Belakang Sosial Budaya. Pada awal abad ke-16 berdatanganlah bangsa
Portugis dan Spanyol. Selain untuk berdagang kedatangan mereka bertujuan untuk
menyebarkan agama katolik di Indonesia.
Kondisi Pendidikan. Pengaruh bangsa Portugis dalam bidang pendidikan
utamanya berkenaan dengan penyebaran agama Katolik. Demi kepentingan tersebut,
tahun 1536 mereka mendirikan sekolah di Ternate, dimana kurikulum
pendidikannya berisi pendidikan agama Katolik.

5. Zaman Kolonial Belanda


Latar Belakang Sosial Budaya. Bangsa Belanda datang ke Indonesia pada tahun
1596. Mereka datang dengan tujuan untuk berdagang, mereka mendirikan VOC pada
tahun 1602. Selain berusaha menguasai daerah untuk berdagang, juga untuk
menyebarkan agama Protestan. Karakteristik kondisi sosial budaya pada zaman ini,
antara lain (a) berlangsungnya penjajahan, kolonialisme; (b) dalam bidang ekonomi
berlangsung monopoli perdagangan; (c) terdapat stratifikasi sosial
Kondisi Pendidikan. Implikasi dari kondsi politik, ekonomi, dan sosial-budaya
terdapat dua garis pelaksanaan pendidikan, yaitu:
a. Pendidikan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pelaksanaan
pendidikan dilakukan oleh VOC, dengan tujuan untuk misi keagamaan
(Protestan), dan menghasilkan administrasi rendahan di pemerintahan dan
gereja. Muridnya berasal dari anak-anak pegawai, sedangkan anak-anak rakyat
jelata tidak diberi kesempatan untuk sekolah.
b. Pendidikan yang dilaksanakan oleh kaum pergerakan sebagai sarana perjuangan
demi mencapai kemerdekaan. Sejak Kebangkitan Nasional (1908) sifat
perjuangan rakyat Indonesia dilakukan melalui berbagai partai dan organisasi,
baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan khususnya dalam bidang
pendidikan. Dalam periode ini berbagai pergerakan nasional mencantumkan
program pendidikan bagi semua kalangan rakyat Indonesia. Selain itu, pada
masa ini lahir pula konsepsi dan perintisan system pendidikan nasional
Indonesia. Terdapat 3 ciri pendidikan nasional (pendidikan kaum pergerakan),
yaitu (a) bersifat nasionalistik dan sangat anti kolonialis, (b) berdiri sendiri atau
percaya kepada kemampuan sendiri, dan (c) pengakuan kepada eksistensi
perguruan swasta sebagai perwujudan harga diri yang tinggi dan kebhinekaan
masyarakat Indonesia serta pentingnya pengembangan rasa persatuan dan
kesatuan masyarakat dan bangsa Indonesia.

6. Zaman Pendudukan Jepang


Kondisi Sosial Budaya. Kekuasaan pemerintah colonial Belanda berakhir tanggal
8 Maret 1942, dan bangsa Indonesia berada di bawah kekuasaan pendudukan
militerisme Jepang selama hamper 3,5 tahun. Jepang mempropagandakan
semboyan Hakko Ichiu atau “kemakmuran bersama” Asia Timur Raya. Namun
demikian, tujuan pendudukan militer Jepang lama kelamaan menjadi penindasan.
Keadaan Pendidikan. Implikasi kekuasaan pemerintahan pendudukan militer
Jepang dalam bidang pendidikan di Indonesia yaitu sebagai berikut (a) Tujuan dan
isi pendidikan diarahkan demi kepentingan Perang Asia Timur Raya. (b) Hilangnya
system Dualisme dalam pendidikan. Sekolah bersifat terbuka untuk seluruh lapisan
anak Indonesia. (c) Sistem Pendidikan menjadi lebih merakyat (populis).

B. Kondisi Pendidikan Periode 1945 – 1969

1. Zaman Revolusi Fisik Kemerdekaan


Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, pada tanggal 18 Agustus
1945 PPKI menetapkan UUD 1945 yang mana di dalamnya memuat Pancasila
sebagai dasar negara. Sejak saat ini jenjang dan jenis pendidikan mulai
disempurnakan dan disesuaikan dengan kebutuhan bangsa Indonesia.

2. Petelakan Dasar Pendidikan Nasional


Indonesia telah mengalami pergantian bentuk dan konstitusi negara, akan tetapi
pendidikan nasional Indonesia tetap dilaksanakan sesuai jiwa UUD 1945, dan bahwa
UU RI No. 4 Tahun 1950 de facto digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan untuk seluruh Negara Kesatuan RI.
3. Demokrasi Pendidikan
Sesuai dengan amanat UUD 1945 dan UURI No. 4 Tahun 1950, meskipun
menghadapi berbagai kesulitan, pemerintah mengusahakan terselenggaranya
pendidikan yang bersifat demokratis, yaitu kewajiban belajar sekolah dasar bagi
anak-anak yang berumur 8 tahun.

4. Lahirnya LPTK pada Tingkat Universiter


Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan pada tahun 1954 didirikanlah
Perguruan Tinggi Pendidikan. Atas dasar konferensi antarFakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan (FKIP) maka berbagai lembaga pendidikan tenaga guru (PGSLP,
Kursus BI, BII, dan PTPG) diintegrasikan ke dalam FKIP pada Universitas.

5. Lahirnya Perguruan Tinggi


Pada tanggal 4 Desember 1961 lahir UU No. 22 tahun 1961 tentang Perguruan
Tinggi. Pokok-pokok yang menonjol dalam UU ini adalah prinsip Tridharma
Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada
masyarakat.

C. Kondisi Pendidikan Pada PJP I : 1969 – 1993


Pembangunan Jangka Panjang Pertama, meliputi 5 pelita, yaitu pelita I-V yang
dimulai pada tahun 1969/1970 hingga 1993/1994. Selama kurun tersebut, pendidikan
Indonesia mengalami banyak bahan dan kemajuan, namun demikian, berakhirnya Pelita
V, pendidikan nasional masih dihadapkan pada berbagai tantangan, baik kuantitatif
maupun kualitatif.

1. UU tentang Sistem Pendidikan Nasional


Dalam membangun system pendidikan nasional, keberadaan UU No. 2 Tahun
1989 tentang System Pendidikan Nasional (UUSPN) merupakan acuan penting.

2. Taman Kanak-kanak
Sejak Pelita I hingga akhir Pelita V, pendidikan di TK mengalami perkembangan
yang cukup mengesankan yang ditandai oleh kenaikan jumlah anak didik, guru, dan
sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat khususnya orang tua semakin
menyadari akan pentingnya pendidikan prasekolah sebagai wahana untuk
menyiapkan anak dari segi sikap, pengetahuan, dan keterampilan guna memasuki
sekolah dasar.

3. Pendidikan Dasar
Prestasi yang sangat mengesankan yang dicapai selama PJP I ialah melonjaknya
jumlah peserta didik pada SD dan MI. Namun, keberhasilan yang dicapai tersebut
masih dihadapkan pada berbagai kendala, antara lain masih tingginya angka putus
sekolah dan angka tinggal kelas. Hal yang sama ditemukan pada angka mengulang
kelas yang selama 10 tahun tidak mengalami banyak perubahan. Mutu pendidikan
tingkat SD belum begitu tinggi, oleh sebab itu, tantangan utama yang dihadapi
bukan lagi menyangkut peningkatan angka partisipasi, melainkan peningkatan
mutu dan kesangkilan pendidikan.

4. Pendidikan Menengah
Pada jenjang SLTA, selama PJP I, terjadi kenaikan yang luar biasa pada jumlah
siswa. Persoalan yang menonjol pada SLTA adalah tentang mutu lulusan yang
terutama diukur dari kesiapannya untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi.
Sedangkan di SMK, tantangan utama yang dihadapi adalah peningkatan mutu dan
relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan.

5. Pendidikan Tinggi
PTN dan PTS sama-sama menghadapi tantangan mengenai masih rendahnya
proporsi mahasiswa yang mempelajari bidang teknologi dan MIPA, sementara
sebagian besar berada pada jurusan/program studi ilmu-ilmu sosial dan pendidikan.
Selain itu masih tingginya jumlah mahasiswa yang lambat dalam menyelesaikan
studi merupakan tantangan lain yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi
internal pendidikan tinggi kita belum begitu tinggi. Itulah sebabnya, peningkatan
relevansi merupakan prioritas program pendidikan tinggi dewasa ini.

6. Pendidikan Luar Sekolah


Pembangunan pendidikan luar sekolah diprioritaskan pada pemberantasan buta
aksara melalui perluasan jangkauan Kejar Paket A.

7. Tantangan, Kendala, dan Peluang


Tantangan yang dihadapi oleh pembangunan pendidikan Indonesia pada masa-
masa selanjutnya, yaitu (a) belum mampunya pendidikan mengimbangi perubahan
struktur ekonomi; (b) masih rendahnya relevansi pendidikan; (c) masih rendah dan
belum meratanya mutu pendidikan; (d) masih tingginya angka putus sekolah dan
tinggal kelas; (e) masih banyak kelompok umur 10 tahun ke atas yang buta huruf;
dan (f) masih kurangnya peran serta dunia usaha dalam pendidikan.
Kendala yang dihadapi, yaitu (a) dari pihak masyarakat adalah kemiskinan dan
keterbelakangan; (b) terbatasnya jumlah guru yang bermutu; (c) terbatasnya sarana
dan prasarana; (d) manajemen system pendidikan yang belum secara terarah menuju
peningkatan mutu, relevansi, dan evisiensi pendidikan.
Adapun peluang yang dimiliki ialah (a) keberhasilan wajib belajar 6 tahun; (b)
semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan; (c)
semakin luasnya sarana komunikasi; (d) semakin tersebarluasnya lembaga
pendidikan; dan (e) adanya UU No. 2/1989 tentang System Pendidikan Nasional yang
memberikan landasan yang kokoh bagi pendidikan nasional.

Anda mungkin juga menyukai