Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian
Pada bab ini akan di bahas mengenai pelaksanaan manajemen asuhan keperawatan pada
Ny. A umur 26 tahun mengalami plasenta previa letak rendah di Klinik Pratama Klarisa
Medan.
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah rahim,
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang ditandai dengan
perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri pada
kehamilan trimester terakhir, khususnya pada bulan kedelapan (Chalik, 2008).
Mustafa et al dalam Oppenheimer pada penelitian longitudinalnya menyebutkan bahwa
angka kejadian plasenta previa (tepi plasenta mencapai atau menutupi ostium uteri) pada
usia kehamilan 11-14 minggu sebesar 42%, saat usia kehamilan 20-24 minggu angka
kejadiannya turun menjadi 3,9% dan hanya 1,9% saat aterm.
Pada keadaan normal plasenta berada pada bagian atas uterus, pada pasien Ny. A setelah
dilakukan USG terlihat tepi bawahnya berbeda pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium
uteri inernum, sehingga kepala janin tidak dapat turun ke dasar pinggul karena tertahan
plasenta yang menutupi jalan lahir. Penyebab plasenta previa secara pasti sulit
ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya plasenta
previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas sesar atau operasi mioma), sering
mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah plasenta previa,
atau kelainan bawaan rahim, frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur
lebih 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang
berumur kurang dari 25 tahun, sesuai dengan toeri yang ada kejadian plasenta previa pada
pasien Ny. A di sebabkan karena pasien hamil pertama dan berumur 26 tahun. Kejadian
yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri biasanya baru
terlihat setelah trimester kedua atau sesudahnya dapat terlihat pada pasien Ny. A yang
mengalami perdarahan tanpa nyeri. Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan
pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif, tetapi letak
plasenta previa masih bisa kembali ketempat nya karena usia kehamilan masih 22 minggu
dengan cara bedrest total.

B. Diagnose Keperawatan
Kelompok mengangkat diagnosa utama Gangguan Pemenuhan cairan berhubungan
dengan perdarahan karena saat dilakukan pengkajian didapatkan data subjektif :Klien
mengatakan mengeluarkan darah warna merah segar namun tidak disertai nyeri dan Klien
mengatakan sedikit lemas, panikakankeluarnyadarahdarikemaluannya.
Pada plasenta previa oleh karena pembentukan segmen bawah rahim secara ritmik terjadi
pelepasan plasenta berulang. Hal ini menyebabkan perdarahan berulang dan semakin
banyak yang tidak dapat dicegah sehingga ibu mengalami anemia bahkan syok(Nugroho,
2012).

Diagnosa kedua yang diangkat adalah Ansietas berhubungan dengan ancaman perubahan
status Kesehatan. Diagnosa ini diangkat sesuai dengan keluhan yang dialami ibu yaitu
Klien mengatakan cemas dengan keadaan janinnya
Dan ibu sangat gelisah jika nanti terjadi apa-apa dengan janin dan kesehatannya selama
keluarnya darah dan keadaan janin.

Suliswati (2005) mengatakan bahwa kecemasan sebagai respon emosi tanpa objek yang
spesifik yang secara subjectif dialami dan dikomunikasikan secara interperso nal.
Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan
penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak
berdaya dan kecemasan tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Diagnosa ketiga yang kelompok angkat adalah defisit pengetahuan berhubungan dengan
kurangnya informasi tentang plasenta previa. Diangnosa ini diangkat berdasarkan data
yang didapatkan yaitu Klien mengatakan tidak tahu tentang plasenta previa, sedangkan
data ojbektif yang diangkat klien sering bertanya-tanya tentang plasenta previa.

Deficit pengetahuan adalah suatu keadaan dimana individu atau kelompok mengalami
kekurangan pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor mengenai status keadaan
dan rencana tindakan pengobatan (Wilkinson, 2012).
C. Intervensi Keperawatan
Dari beberapa masalah tersebut disusun intervensi keperawatan untuk
masing-masing diagnosa yang timbul. Intervensi yang dilakukan untuk
diagnosa Gangguan Perfusi Jaringanyaitu intervensi mengenai status
fisiologi ibu. Aktivitasyangdilakukan dalam Gangguan Perfusi
Jaringandiantaranyapengkajian status fisiologisecarakomprehensif,
mengajarkan teknik non farmakologis, monitor tanda vital, beriposisi
nyaman dan pemberian analgetik. Analgetik yang diberikan yaitu
pemberian cairan infus isotonik.

Intervensi yang diberikan untuk diagnosa ansietas yaitu prosedur


termasuk perasaan yang mungkin dialami. Aktivitas yang dilakukan
diantaranyaTidur nyenyak Tidak ada manifestasi perilaku ,Mencari
informasi untuk mengurangi cemas ,Menggunakan teknik relaksasi untuk
mengurangi cemas, Berinteraksi sosial.

Pada diagnosa kurang pengetahuanyaitu dengan memberi informasi kepada


ibu setelah 1x24 jam dilakukan implementasi didapatkan kurang
pengetahuan ibu sudah cukup mengetahui tentang plasenta previa.tindakan
yang dilakukan diantaranya yaitu,menggunakan pendekatan memberikan
informasi mengenai plasenta previa.Berdasarkan hal tersebut dapat dianalisa
masalah belum teratasi dan kurangnya pengetahuan dilanjutkan.

D. Implementasi Keperawatan
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan keperawatan seperti
yang diuraikan dalam intervensi, pemecahan ini bias dilakukan oleh tim
kesehatan yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan asuhan keperawatan
(varney, 2004). Pada kehamilan trimester II pelaksanaannya adalah
memantau tekanan darah dan nadi ibu dalam 1x24 jam. Menganjurkan klien
untuk tirah baring total mengahadap kekiri.

Pada kasus Ny. A dengan plasenta previa pelaksanaan dilakukan sesuai


dengan rencana asuhan yang telah dibuat yaitu memantau tekanan darah,
menganjurkan klien untuk tirah baring, memantau DJJ dan perdarahan dan
memberikan cairan infus isotonic.

Mengurangi rasa cemas ibu dengan Membina hubungan saling percaya, mendorong
klien untuk memahami keluhannya,Mendengarkan dengan penuh perhatian, Menciptakan
suasana saling percaya ,Memberikan aktivitas yang mengurangi ketegangan, Memberikan
lingkungan yang tenang. Sedangkan pelaksanaan untuk deficit pengetahuan dilakukan
dengan cara memberikan informasi yang posiif dalam keluhan yang dirasakan klien saat
ini.

E. Evaluasi
Evaluasi ditujukan terhadap efektivitas intervensi tentang kemungkinan pemecahan
masalah. Mengacu pada perbaikan kondisi/ kesehatan ibu dan janin. Evaluasi mencakup
jangka pendek, yaitun sesaat setelah intervensi dilaksanakan, dan jangka panjang, yaitu
menunggu proses sampai kunjungan berikutnya/kunjungan ulang (Mandriwati, 2006).

Hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan plasenta previa
menurut Taufan(2012) :
a. Keadaan umum klien baik
b. Klien mau tirah baring total dengan miring kiri
c. Pasien mau untuk tidak berhubungan seks
d. Perdarahan berhenti kehamilannya berlanjut dan janin dalam keadaan baik.
Pada kasus ibu hamil Ny. A dengan plasenta previa evaluasi yang didapatkan setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari adalah keadaan umum : Baik, kesadaran
: composmentis, vital sign : TD :110/80 mmHg, HR : 76x/i, RR: 22x/I, T : 36,5c,
darah yang keluar dari jalan lahir sudah berhent, ibu mengerti dan sudah bersedia
untuyk bnayak istirahat dan tidak melakukan pekerjaan berat, ibu bersedia
melanjutkan terapi minum obat oral sesuai advis dokter.