Anda di halaman 1dari 37

KONSERVASI DAN

REHABILITASI RAWA
Nopi Stiyati Prihatini
• Pada umumnya lahan pertanian di Indonesia, baik
lahan sawah, lahan kering maupun lahan rawa selalu
mengalami proses degradasi dengan intensitas yang
berlainan, yang disebabkan oleh perlakuan manusia
dan faktor alam.

• Apabila dibiarkan terus berlanjut, produktivitasnya


akan menurun terus, sehingga mencapai tingkat yang
sangat rendah atau tidak produktif sama sekali.

• Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan melalui


penerapan tindakan konservasi tanah dan air, serta
rehabilitasi lahan, yang seharusnya merupakan bagian
dari usaha budidaya pertanian
• Lahan rawa lebih memerlukan upaya konservasi, dan
kehati-hatian dalam mengelolanya.

• Pengelolaan lahan pertanian rawa yang salah di


berbagai lokasi di Kalimantan dan Sumatera, telah
mengakibatkan perubahan karakteristik tanah, dan
menurunkan produktivitasnya, bahkan sebagian
menjadi tidak produktif sama sekali.
DEGRADASI LAHAN
• Berdasarkan kondisi hidrologinya, lahan rawa dapat dibedakan
menjadi lahan rawa pasang surut dan non pasang surut yang
disebut juga lahan rawa lebak.

• Lahan rawa pasang surut lebih sensitif terhadap proses


degradasi dibandingkan dengan lahan rawa lebak, karena pada
lahan tersebut dijumpai tanah-tanah bermasalah, yaitu tanah
sulfat masam dan tanah gambut.

• Kemasaman, keracunan (toxicity), penurunan permukaan tanah


(subsidence), gambut kering tak balik (irreversible drying
effect), kualitas air yang buruk merupakan masalah-masalah
utama yang akan muncul jika salah dalam mengelola lahan
rawa pasang surut.
• Ada 2 prinsip dasar yang harus dipertimbangkan di dalam
pengelolaan lahan rawa:
1. apakah lahan rawa akan direklamasi secara total (total reclaimed)
2. hanya direklamasi sebagian (minimum disturbance).

• Kedua prinsip tersebut perlu ditetapkan sebelum memutuskan


untuk mengelola lahanrawa, baik untuk pertanian, pemukiman
transmigran maupun untuk penggunaan yang lainnya.

• Strategi yang akan dikembangkan di dalam mengelola lahan rawa


berbeda antara kedua prinsip tersebut
• Widjaja-Adhi (1997) mengemukakan beberapa faktor penyebab
degradasi pada lahan rawa, antara lain:
1. Reklamasi lahan dengan membangun saluran drainase dalam
dimensi besar, yang memungkinkan drainase berlebihan (over
drain) yang mengakibatkan pirit teroksidasi dan gambut
mengering tak balik (irreversible drying effect)
2. Penerapan sistem pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan
tipologi lahan dan tipe luapan
3. Pembakaran gambut yang berakibat pada munculnya tanah
sulfat masam yang umumnya berada di bawahnya
• Di Indonesia, seluas 20,1 juta ha lahan rawa pasang surut telah
direklamasi untuk pertanian yang dimulai sejak Repelita I tahun
1969.

• Kondisi lahan setelah reklamasi menjadi rusak karena proses


pemasaman tanah.

• Pembukaan lahan untuk menunjang program transmigrasi


dilaksanakan dengan membangun jaringan irigasi/drainase dalam
dimensi besar.

• Penggalian saluran dalam ukuran besar tersebut mengakibatkan


tereksposnya lapisan pirit (FeS2) hingga teroksidasi, dan tanah
menjadi masam.
DEGRADASI LAHAN
SULFAT MASAM
• Tanah sulfat masam berkembang dari bahan induk besi sulfida
yang kaya kandungan besi dan sulfur (FeS).

• Pirit terakumulasi pada tanah tergenang yang kaya kandungan


bahan organik dan mendapat tambahan sulfur yang umumnya dari
air laut (Dent, 1986).

• Tanah sulfat masam terbentuk oleh oksidasi bahan sulfidik dimana


konsentrasi asam sulfat yang dihasilkan dari oksidasi senyawa
sulfur tersebut melebihi konsentrasi basa-basa yang mempunyai
kemampuan menetralisir kemasaman dan pH menurun di bawah 4
(Pons dan van Breemen, 1982).
• Degradasi pada lahan sulfat masam umumnya didominasi
oleh (a) proses pemasaman tanah dan air sebagai akibat
dari oksidasi pirit, dan (b) pencucian basa-basa sebagai
dampak dari pencucian asam

• Pemasaman yang terjadi dapat dibedakan menjadi dua


yaitu, (a) pemasaman in-situ, dan (b) pemasaman akibat
aliran air.
PEMASAMAN IN-SITU
• Pada kondisi tereduksi (saat tergenang air), pirit dapat
dipertahankan stabil.

• Pada saat permukaan air bawah permukaan (groundwater)


menurun hingga melebihi kedalaman lapisan pirit, pirit akan
teroksidasi dan tanah menjadi masam.

• Kondisi ini bisa terjadi pada saat reklamasi dijalankan dengan


menggali saluran-saluran irigasi/drainase berdimensi besar, seperti
saluran primer, sekunder, dan tersier.
• Pemasaman akibat oksidasi pirit merupakan proses
degradasi yang berakibat pada penurunan produktivitas
lahan.
PEMASAMAN
AKIBAT ALIRAN AIR
• Proses pemasaman di suatu tempat di kawasan lahan rawa
pasang surut bertanah sulfat masam atau gambut dapat
disebabkan oleh aliran air masam yang berasal dari tempat-
tempat yang telah mengalami pemasaman

• Pengaruh buruk dari aliran air masam tersebut dapat


ditanggulangi dengan membangun saluran drainase intersepsi
(interceptor drained) antara hutan sekunder dengan lahan yang
dikelola

• Pencucian (flushing) sebagai salah satu strategi pengelolaan air


tidak hanya mengurangi kemasaman, tetapi berdampak pada
tercucinya basa-basa yang diperlukan untuk pertumbuhan dan
produksi tanaman.
DEGRADASI LAHAN
GAMBUT
• Proses dominan yang menyebabkan degradasi pada lahan gambut
adalah penurunan muka tanah (subsidence)

• Gambut akan mengalami penyusutan volume bila didrainase

• Akibatnya lahan ini mengalami penurunan permukaan


(subsidence), yang tidak dapat dikembalikan seperti permukaan
semula. Sifat ini lebih dikenal dengan irreversible drying effect.

• Akibat lain yang timbul apabila lahan gambut dikeringkan adalah


terjadinya oksidasi, yang mengakibatkan CO2 dan H2O berkurang
atau hilang.
• Penurunan muka tanah (subsidence) disebabkan oleh 3 proses
utama, yaitu
1. hilangnya vegetasi pada lahan gambut,
2. drainase,
3. pengurangan bahan-bahan penyusun gambut secara fisik, kimia
dan biologi.
• Drainase pada lahan gambut mempunyai empat pengaruh utama,
dan tiga yang pertama berhubungan dengan penurunan
permukaan :
1. Pengerutan (shrinkage) di lapisan tanah atas. Tingkat
pengerutan tergantung pada ketebalan gambut, iklim dan kondisi
drainase. Pengerutan ini mengakibatkan terbentuknya retakan
yang akan mempercepat permeabilitas tanah.
2. Oksidasi bahan organik. Kecepatan oksidasi tergantung pada
iklim, penggunaan lahan, kedalaman muka air tanah, dan
kandungan bahan organik.
3. Tekanan pada lapisan di bawah air tanah. Besarnya tekanan
tergantung pada ketebalan lapisan tersebut, kompresibilitas, dan
kedalaman muka air tanah setelah didrainase.
4. Pengeringan tak balik (irreversible drying). Penyusutan volume
gambut akibat hilangnya volume besar air bisa mencapai kurang
lebih 80%. Bila diairi atau digenangi gambut yang telah menyusut
ini tidak dapat kembali pada volume semula.
TEKNOLOGI
KONSERVASI RAWA
• Konservasi lahan rawa mencakup kegiatan perlindungan,
pengawetan dan peningkatan fungsi dan manfaat.

• Kawasan lindung dan pengawetan disebut juga kawasan


non-reklamasi atau non-budidya, sedangkan kawasan
reklamasi disebut juga kawasan budidaya.

• Pengelolaan lahan rawa menjaga keseimbangan antara


kawasan budidaya dan non-budidaya serta kelestarian
sumberdaya alam rawa

• Untuk menghindari kerusakan lahan yang berkelanjutan,


sistem pengelolaan lahan harus didasarkan pada tipologi
lahan dan tipe luapan.
• Lahan rawa yang telah terdegradasi dan menurun
produktivitasnya perlu direhabilitasi terlebih dahulu, agar
usaha pertanian menjadi lebih efisien dan
menguntungkan.

• Peningkatan produktivitas lahan dan produksi tanaman


akan lebih tinggi jika pengelolaan air ini dikombinasikan
dengan pengelolaan tanah melalui pengapuran (liming),
pemupukan dan pemberian bahan amelioran.
PENGELOLAAN AIR
• Pengelolaan air berperan sangat penting di dalam rehabilitasi
lahan rawa pasang surut bertanah sulfat masam dan gambut

• Pada lahan rawa pasang surut bertanah gambut, konservasi


air merupakan upaya penting selain upaya drainase lahan.

• Pengelolaan air dilakukan dengan memperhatikan kedalaman


gambut, tingkat pelapukan gambut, lapisan bawah gambut
(substratum), ada tidaknya bahan pengkayaan, dan tipe
luapan pasang surut.
• Strategi pengelolaan air didasarkan pada tipologi lahan dan
tipe luapan.

• Strategi pengelolaan air secara spesifik dibedakan menjadi 2,


yaitu (a) pengelolaan air di tingkat tersier, dan (b) pengelolaan
air mikro di lahan petani.

• Keduanya harus sinergis dengan sistem irigasi/drainase di


tingkat makro (primer dan sekunder) yang telah dibangun.
• Beberapa sistem irigasi/drainase yang telah dibangun sejak Pelita I
tahun 1969, antara lain:
• sistem garpu (fork system) atau disebut juga sistem kolam (kolam
system), sistem anjir dan handil dan kombinasinya yang dijumpai di
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

• Sistem sisir tunggal (single comb system) dan ganda (couple comb
system), kombinasi sistem garpu dan sistem sisir dan sistem tangga
dijumpai di Sumatera Selatan.
• Pengelolaan air di tingkat tersier menjembatani pengelolaan air
makro dan mikro

• Penggalian saluran hendaknya disesuaikan dengan kedalaman


lapisan pirit (pada tanah sulfat masam) dan kemungkinan
subsidence pada tanah gambut.

• Untuk menerapkan sistem pengelolaan air yang sesuai dengan


masalah di masing-masing lokasi, maka di saluran-saluran tersier
dipasang pintu-pintu otomatis (flapgate) atau pintu tabat (stoplog),
tergantung strategi pengelolaan air yang diterapkan.
Lahan tipe luapan A
• Prinsip dasar pengelolaan air pada tipologi ini adalah
menanggulangi terjadinya proses pemasaman tanah.

• Untuk mencegah terjadinya pemasaman tanah, tinggi muka air


harus dipertahankan di atas lapisan pirit.

• Pada lahan ini, lapisan pirit terletak pada kedalaman kurang


dari 50 cm.

• Pembuatan saluran irigasi/drainase harus memperhatikan


kedalaman lapisan tersebut. Bila kedalaman saluran harus
digali melebihi lapisan pirit, tinggi muka air di saluran harus
dipertahankan di atas lapisan tersebut dengan pintu tabat
(stoplog).
• Pembuatan tanggul-tanggul dan penggunaan pompa air merupakan
alternatif pengelolaan air untuk mengatasi bahaya banjir dan
masalah drainase lahan.

• Tinggi tanggul harus di atas tinggi luapan maksimum yang mungkin


terjadi.

• Pengelolaan tanah minimum (minimum disturbance) harus dijadikan


prinsip dasar agar lahan tetap lestari dan aman.
Lahan tipe luapan B
• Kemasaman pada tanah lapisan atas dan terbatasnya air untuk
pencucian merupakan kendala di dalam penerapan teknik
pengelolaan air di lahan ini.

• Untuk mengurangi bahaya kemasaman dan unsur bersifat racun,


pencucian dengan sistem aliran satu arah bisa diterapkan
Lahan tipe luapan C
• Lahan di kawasan pasang surut tipe C didominasi tanah sulfat
masam aktual dengan tingkat kerusakan akibat kemasaman cukup
tinggi.

• Pengendalian air dilakukan pada saluran-saluran tersier, yakni


dengan mempertahankan muka air yang cukup tinggi di lahan yang
dibudidayakan.
Lahan tipe luapan D
• Lahan ini dijumpai pada bagian hulu sungai rawa dan bila
belum terganggu masih ditemukan gambut tebal yang
pada umumnya masih berupa hutan primer.

• Arus pasang surut praktis tidak banyak mempengaruhi


hidrologi di kawasan ini. Umumnya tanah sulfat masam di
lahan tipologi ini tertutup oleh gambut.

• Jika daerah-daerah tersebut sudah tidak tertutup oleh


gambut karena gambutnya telah habis, maka perlu
tindakan konservasi untuk melestarikan sumberdaya alam
gambut.
• Kawasan dengan kubah gambut ini menjadi sumber air bagi daerah
sekelilingnya, karena kawasan ini mampu menyangga air hujan dan
air akan mengalir secara gravitasi.

• Pengelolaan air dirancang dengan menggunakan sumberdaya air


dari kubah gambut tersebut. Pembuatan embung penampung air
dari daerah tangkapan akan membantu distribusi air secara
terkontrol.
PENGAPURAN
• Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk rehabilitasi lahan
sulfat masam aktual (SMA) di daerah rawa pasang surut adalah
kapur.

• Tanaman pangan dapat tumbuh di tanah SMA setelah tanahnya


diberi kapur, sehinga pH tanah disekitar akar > 4,25-4,50 untuk padi,
> pH 4,50-5,00 untuk jagung, dan > 5,00-5,50 untuk kedele.
PEMUPUKAN
• Tanaman padi yang dikembangkan di daerah pasang surut yang
didominasi oleh tanah sulfat masam setelah pirit teroksidasi (pH
tanah ≤ 3,0) setelah musim tanam kedua tidak mau tumbuh.

• Kemudian lahan dibiarkan terlantar dan ditumbuhi tanaman semak


dan menjadikannya sebagai lahan bongkor.

• Lahan bongkor tersebut bertipologi lahan SMA atau gambut tidak


produktif.

• Produktivitas lahan bongkor tersebut sangat rendah, tetapi dapat


diperbaiki dengan pemberian pupuk hara makro primer (N, P, dan
K), hara sekundair (Ca) dan hara mikro (Cu dan Zn).
Ameliorasi
• Selain kapur dan pupuk hara makro dan mikro, pemberian tanah
mineral dan abu bakaran dapat diberikan sebagai bahan ameliorasi.

• Agar produktivitas tanah pada lahan rawa bongkor dapat


ditingkatkan, maka tanaman yang digunakan adalah varietas
tanaman yang toleran terhadap kondisi tersebut, dan tata airnya
dapat dikendalikan.

• Pemberian tanah mineral pada tanah gambut kurang dari > 50 cm


berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman
• Pemberian abu bakaran dari abu sawmill dapat digunakan
sebagai bahan amelioran, terutama pada gambut miskin
dengan semakin tebalnya gambut dengan tipologi gambut
dalam 200-300 cm (G-3) dan gambut sangat dalam > 300
cm (G-4)

• Untuk menghindari petani membakar gambut kering,


maka disarankan agar abu yang digunakan adalah abu
dari hasil pembakaran serasah terkendali atau abu
sawmill gergajian.

• Jika abu yang digunakan diperoleh dengan cara


membakar gambut kering dari permukaan tanah di ladang,
maka cara ini sangat berbahaya bagi kelestarian gambut,
karena gambut mudah terbakar dan api sulit dipadamkan.