Anda di halaman 1dari 3

1. Kasus tentang apa, ceritakan dengan ringkas.

Jawab : Pencemaran di Teluk Buyat terjadi karena adanya pembuangan tailing oleh PT. NMR.
Tailing merupakan batuan dan tanah yang tersisa dari suatu proses ekstraksi bijih logam, seperti
bijih emas dan bijih tembaga. Pada Tahun 1997 PT.NMR memasang alat pengolah bijih tambang
yang mengandung merkuri yang tinggi. Akhir Juli 1998 warga Buyat Pante dikejutkan dengan
bocornya pipa limbah PT NMR. Manajemen PT NMR hanya menjelaskan bahwa pipa limbah
bawah laut yang bocor itu pada sambungan flens di kedalaman 10 meter. Penyebabnya terjadi
penyumbatan saluran pipa pada 25 Juni dan 19 Agustus 1998 akibat kuatnya tekanan air.
Penempatan limbah tailing di perairan Teluk Buyat telah mengakibatkan perubahan bentuk
bathimetri perairan Teluk Buyat. Tailing tidak membentuk tumpukan melainkan menyebar ke
tempat lain. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa beberapa jenis
logam berat terdapat dalam konsentrasi yang cukup tinggi di Teluk Buyat. Konsentrasi tertinggi,
khususnya As, Sb, Mn, dan Hg ditemukan disekitar pipa tailing.
Hal-hal yang menjadi hambatan dalam penyelesaian kasus Buyat sehingga tidak tercapai keadilan
masyarakat, diantaranya: tidak sinkronnya hasil Penelitian/ Laboratorium antara pihak pemerintah
dengan pihak PT. NMR, yang berarti ada manipulasi data, pemerintah yang kurang tanggap
terhadap gejala akan terjadinya pencemaran lingkungan, dan kurang tegasnya pemerintah dalam
menegakkan hukum lingkungan di wilayahnya sendiri.
Beberapa langkah penanganan terhadap Kasus pencemaran di Buyat yang seharusnya dilakukan
adalah :
 Kementerian Kesehatan menentukan jenis penyakit yang diderita oleh warga dan melakukan
pengobatan dan bila perlu pencegahan.
 Membentuk tim untuk melakukan penyelidikan terpadu yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim
Teknis. Tim ini beranggotakan instansi pemerintah terkait, pemerintah daerah, LSM, perguruhan
tinggi, dan pakar. Tim terpadu tingkat pusat akan bekerjasama dengan Tim Independen ditingkat
Daerah.
 Memberikan informasi kepada masyarakat secara terus menerus.
 Penegakan hukum terhadap pihak yang melanggar.
2. Apa yang menjadi latar belakang dari peristiwa tersebut?
Jawab : Nama Buyat mencuat setelah munculnya keluhan penyakit yang diduga Minamata yang
diderita sejumlah warga di Desa Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara. Penyakit minamata merupakan
sebuah penyakit yang disebabkan oleh cemaran merkuri di sebuah tempat bernama sama di Jepang.
Peristiwa di Teluk Buyat diakibatkan karena adanya cemaran merkuri yang diduga berasal dari
operasi sebuah perusahaan tambang emas asing PT Newmont Minahasa Raya (NMR).
Akibat kegiatan pertambangan skala besar oleh PT. Newmont Minahasa Raya (NMR), ekosistem
perairan laut di teluk Buyat rusak parah akibat buangan 2000 ton tailing setiap hari. Bukan itu saja,
kondisi masyarakat di sekitar Teluk Buyat yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan
bertahan hidup di wilayah tersebut karena tekanan kemiskinan harus menerima akibat dari
pencemaran dan perusakan ekosistem Perairan Teluk Buyat. Terkontaminasi logam berat arsen,
lahan tangkapan ikan berpindah jauh ketengah laut, yang semuanya itu menurunkan kualitas hidup
sebagian masyarakat Desa Buyat, tepatnya masyarakat di dusun V Desa Buyat Pante. Pencemaran
Teluk Buyat adalah bentuk bencana ekologis yang merupakan suatu bukti tidak
bertanggungjawabnya kita melindungi bumi Sulut sebagai tempat tinggal dan hidup. Perusakan
ekosistem laut akibat timbunan tailing yang mengandung logam-logam berat yang
mengkontaminasi biota dan bahkan meracuni masyarakat sekitar yang bermukim di sekitar “point
source” yang sangat menggantungkan hidupnya dari hasil laut perairan tersebut. Barangkali
kontaminasi itupun telah tersebar di sebagian masyarakat Sulawesi Utara melalui ikan-ikan yang
telah dikonsumsi karena dampak pencemaran ini secara ekologi akan melintasi wilayah administrasi
suatu wilayah. Pencemaran logam berat terutama logam arsen dan logam merkuri oleh PT. NMR
sudah jelas-jelas terbaca pada laporan-laporan RKL/RPL dan sejak tahun 2000 semua itu sudah
terlihat, namun masih saja dianggap perusahaan raksasa ini tidak melakukan pencemaran di
perairan Teluk Buyat.
3. Bagaimana kronologi kasus tersebut?
Jawab : PT. Newmont Minahasa Raya merupakan perusahaan pertambangan yang bekerja sama
dengan Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka Penanaman Modal Asing. Markas Induk PT.
NMR, selanjutnya dikenal dengan Newmont Gold Company (NGC) berada di Denver, Colorado,
Amerika Serikat. NGC menempati posisi lima produsen emas dunia. Selain PT. NMR, di Indonesia
perusahaan ini juga berkegiatan di Sumbawa, Nusa Tengara Barat dengan nama PT. Newmont Nusa
Tenggara. Proyek Newmont antara lain tersebar di Kazakhtan, Kyryzstan, Uzbekistan, Peru,
Brasilia, Myanmar dan Nevada.
Pencemaran dan Dampak akibat kegiatan penambangan PT. NMR terjadi mulai tahun 1996–
1997 dengan 2000-5000 kubik ton limbah setiap hari di buang oleh PT. NMR ke perairan di teluk
Buyat yang di mulai sejak Maret 1996. Menurut PT. NMR, buangan limbah tersebut, terbungkus
lapisan termoklin pada kedalaman 82 meter. Nelayan setempat sangat memprotes buangan limbah
tersebut. Apalagi diakhir Juli 1996, nelayan mendapati puluhan bangkai ikan mati mengapung dan
terdampar di pantai. Kematian misterius ikan-ikan ini berlangsung sampai Oktober 1996. Kasus ini
terulang pada bulan juli 1997. Kematian ikan-ikan yang mati misterius ini, oleh beberapa nelayan
dan aktivis LSM di bawa ke laboratorium Universitas Sam Ratulangi Manado dan Laboratorium
Balai Kesehatan Manado, tetapi kedua laboratorium tersebut menolak untuk meneliti penyebab
kematian ikan-ikan tersebut. Hal yang sama PT. NMR berjanji untuk membawa contoh ikan mati
tersebut ke Bogor dan Australia untuk diteliti tetapi dalam kenyataannya penyebab kematian dan
terapungnya ratusan ikan tersebut belum pernah di sampaikan pada masyarakat. Padahal PT. NMR
sendiri, mulai melakukan analisis dalam daging dan hati beberapa jenis ikan di Teluk Buyat sejak 1
November 1995. Ini rutin tercatat setiap bulannya.
Kemudian pada tanggal 19 juni 2004, Yayasan Suara Nurani (YSN) dengan dr. Jane Pangemanan,
Msi bersama-sama dengan 8 mahasiswa Pasca Sarjana Kedokteran jurusan Kesehatan Masyarakat
melalui Program Perempuan, melaksanakan kegiatan program pengobatan gratis untuk warga
korban tambang khususnya di Buyat pante (Lakban) Ratatotok Timur Kab. Minahasa Selatan, dan
dari hasil pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa 93 orang yang diteliti menunjukkan keluhan
atau penyakit yang diderita seperti sakit kepala, batuk, beringus, demam, gangguan daya ingat, sakit
perut, sakit maag, sesak napas, gatal-gatal dan lain-lain. Diagnosa yang disimpulkan oleh dr Jane
Pangemanan, adalah warga Buyat Pantai menderita keracunan logam berat. Keracunan yang di
derita warga desa Buyat Pantai ini, ternyata sudah dibuktikan oleh penelitian seorang Dosen
Fakultas Perikanan Ir. Markus Lasut MSc, dimana pada bulan Februari 2004, dari hasil penelitian
terhadap 25 orang (dengan mengambil rambut warga) terbukti bahwa, 25 orang tersebut sudah ada
kontaminasi merkuri dalam tubuh mereka. Polemik tentang Penyakit akibat limbah NMR ini
berkembang menjadi tajam, karena pihak Pemerintah dan Dinas Kesehatan terang-terangan
membela PT. NMR dengan mengatakan tidak ada pencemaran.
“Jangan jadikan kami musuh, jangan jadikan kami kelinci percobaan. Seperti batu kami adalah
penonton atas perubahan yang tidak kami kehendaki.”
Kemudian pihak pemerintah didalamnya Menteri Negara Lingkungan Hidup menyelesaikan
permasalahan ini memalui jalur non – litigasi terhadap PT. NMR dengan meminta ganti kerugian
sebesar 124 juta dolar AS sebagai ganti rugi akibat turunnya mutu lingkungan dan kehidupan
warga Buyat yang menjadi korban akibat kegiatan tambang newmont. Pihak PT. NMR hanya
sanggup membayar 30 juta dolar AS, dan penyelesaian melalui jalur non litigasi tersebut pun
dianggap sebagai jalan keluar yang tepat. Namun pada tahun 2005 kasus ini masuk ke jalur pidana,
dimana surat pelimpahan perkara dari Kejaksaan Negeri Tondano atas perkara No. Reg.
B1436R112. TP207/2005 yang diterima oleh Panitera Pengadilan Negeri Manado pada tanggal 11
Juli 2005 dan hal ini telah sesuai berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI No.
KMA033/SK04/2005 yang menyatakan bahwa kewenangan mengadili dilimpahkan ke Pengadilan
Negeri Manado.
Selanjutnya persidangan kasus ini dimulai pada tanggal 5 Agustus 2005 dengan agenda pembacaan
Surat Dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum dan berakhir pada tanggal 24 April 2007 dengan agenda
pembacaan Putusan oleh Majelis Hakim. Kasus ini menarik perhatian publik karena merupakan
kasus dengan masa sidang terlama untuk kasus pencemaran lingkungan di Indonesia serta
menghadirkan sekitar 61 orang saksi serta ahli, dengan perincian 34 saksi/ahli dihadirkan JPU dan
27 saksi/ahli dihadirkan oleh terdakwa. Selain saksi dihadirkan juga alat bukti berupa surat, ada 42
alat bukti surat dari JPU dan 107 alat bukti surat yang dihadirkan oleh kedua terdakwa. Dalam UU
No. 23 Tahun 1997 dikenal dengan adanya pembuktian terbalik dimana terdakwalah yang dikenai
beban untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah sebagaimana yang disangkakan oleh Jaksa
Penuntut Umum. Walaupun demikian, di Indonesia pembuktian terbalik itu tidak murni
sebagaimana terlihat dalam kasus ini, dimana Jaksa Penuntut Umum juga memberikan pembuktian
dengan menghadirkan saksi ahli dan beberapa alat bukti surat berupa hasil penelitian yang
dilakukan. Kemudian dalam Tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menuntut PT. NMR telah
melanggar Pasal 41 Ayat 1 Junto Pasal 45, Pasal 46 Ayat 1, dan Pasal 47 UU No. 23 tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam hukum pidana yang dianut oleh Indonesia, bukan
hanya orang yang bisa didakwa tetapi juga badan, sehingga ini juga merupakan kasus kejahatan
lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan. Sementara pada Richard Bruce Ness, selaku Presiden
Direktur yang bertanggung jawab terhadap setiap langkah yang dilakukan oleh PT. NMR, di tuntut
dengan Pasal 41 Ayat 1 dan Pasal 42 Ayat 2 UU No. 23 Tahun 1997.
Namun pada tanggal 24 April 2007 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Manado memvonis bebas
murni Terdakwa I PT. Newmont Minahasa Raya dan Terdakwa II Richard B. Ness dari tuntutan
pencemaran lingkungan. Dalam Amar Putusannya Majelis Hakim menyatakan bahwa Terdakwa I
PT Newmont Minahasa Raya dan Terdakwa II, Richard Bruce Ness, tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam dawaan primair, dakwaan subsidair, dakwaan
lebih subsidair, dakwaan lebih subsidair lagi, dan tuntutan jaksa penuntut umum, menyatakan
membebaskan terdakwa I PT. Newmont Minahasa Raya dan Terdakwa II Richard Bruce Ness dari
seluruh dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum, menyatakan memulihkan hak terdakwa I PT.
Newmont Minahasa Raya dan terdakwa II Richard Bruce Ness dalam kemampuan, kedudukan, dan
harkat serta martabatnya, dan membebankan biaya perkara kepada negara.