Anda di halaman 1dari 11

Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.

1 April 2013 ISSN : 1907-9931


 
 
 
PENGARUH FORMULASI PAKAN BERBAHAN BAKU
TEPUNG IKAN, TEPUNG JAGUNG, DEDAK HALUS DAN
AMPAS TAHU TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA
(Oreochromis sp)

Suhesti Fuji Lestari1), Salnida Yuniarti1), Zaenal Abidin1)


 
1)
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram,
Jl. Majapahit 62 Mataram, NTB Telp. 0370 621435/Fax. 0370 640189
email : alyachali@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan formulasi pakan buatan berbahan
baku tepung ikan, tepung jagung, dedak halus dan ampas tahu yang dapat memberikan
pertumbuhan yang baik pada ikan nila (Oreochromis sp.). Metode yang digunakan
adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari
enam perlakuan formulasi pakan berbahan baku tepung ikan, tepung jagung, dedak
halus, ampas tahu dan vitamin mix yaitu berturut-turut pakan A (20%, 10%, 39%, 30%,
1%), pakan B (25%, 25%, 24%, 25%, 1%), pakan C (30%, 24%, 20%, 25%,1%), D
(35%, 25%, 15%, 24%, 1%), E (40%, 24%, 10%, 25%, 1%) dan pakan komersial sebagai
pembanding, setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Ikan nila yang digunakan
berukuran ±6,6 g dan dipelihara selama 30 hari dengan menggunakan sistim resirkulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komposisi pakan mempengaruhi
pertumbuhan ikan nila tetapi tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, kualitas
air, konversi dan efisiensi pakan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penggunaan
bahan baku lokal yaitu tepung ikan 40%, tepung jagung 24%, dedak halus 10% dan
ampas tahu 25% serta penambahan vitamin 1% pada pakan ikan nila memberikan
pertumbuhan yang cenderung lebih baik dibandingkan formulasi pakan A, B, C dan D,
tetapi secara keseluruhan pakan komersial memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi.
Kata Kunci : Ikan Nila, Bahan Baku Pakan, Formulasi Pakan, Pertumbuhan.

PENDAHULUAN produksi ikan nila hanya 97.116 ton


Ikan nila (Oreochromis sp.) dan tahun 2008 sudah mencapai
merupakan komoditas ikan air tawar 220.900 ton (DKP 2008). Berdasarkan
yang memiliki nilai ekonomis tinggi di catatan Direktorat Jenderal Perikanan,
Indonesia dan memiliki prospek usaha nilai produksi ikan nila diprogramkan
yang menjanjikan. Usaha budidaya mengalami kenaikan yang cukup tinggi
ikan nila sangat berkembang pesat di diantara tahun 2010-2014, rata-rata
Indonesia karena pertumbuhan ikan nilai produksi ikan meningkat 26,36%
nila relatif cepat, mudah dikembangkan yaitu dari 491.800 ton pada tahun 2010
dan efisien terhadap pemberian pakan menjadi 1.242.000 ton pada tahun 2014
tambahan. Produksi ikan nila (Ismunadji & Novary 2010).
meningkat secara signifikan dari tahun Disamping prospeknya yang baik,
ke tahun. Pada tahun 2004 jumlah salah satu kendala penting dalam

36
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
memproduksi ikan nila adalah bagi ikan, karena mengandung
tingginya harga pakan. Penyebab karbohidrat yang cukup tinggi yaitu
utama tingginya harga pakan ikan 34,73% untuk dedak padi dan 73,7%
adalah terjadinya peningkatan harga untuk jagung (Kordi 2007).
bahan baku pakan. Bahan baku seperti Penggunaan dedak dalam pakan untuk
tepung ikan, tepung daging dan tepung ikan karnivora dapat mencapai 15%
kedelai merupakan sumber protein sedangkan untuk ikan omnívora atau
utama pakan ikan komersial dan masih herbivora dapat mencapai 35%.
mengandalkan pasokan dari import. Penggunaan tepung biji jagung pada
Konstribusi sumber protein tepung ikan pakan ikan karnivora dapat mencapai
dan tepung kedelai dalam pakan ikan 20% sedangkan pada pakan ikan
menentukan harga pakan, diperkirakan omnívora atau herbivora dapat
sekitar 60% dari biaya produksi adalah mencapai 35% (Nur & Zainal 2004).
pakan (Basry 2009). Ampas tahu merupakan hasil
Salah satu cara untuk mengurangi sampingan dari proses pembuatan tahu
ketergantungan terhadap tepung ikan yang banyak terdapat di Indonesia,
impor yang relatif mahal dan tepung khususnya di Pulau Lombok Nusa
kedelai adalah dengan memanfaatkan Tenggara Barat. Menurut Wirianto
bahan baku alternatif yang mudah (1985) dalam Lestari (2001), ampas
diperoleh, harganya terjangkau, dan tahu mengandung gizi yang baik dan
ketersediaannya berkesinambungan dapat digunakan sebagai pakan ternak
seperti penggunaan tepung ikan lokal, besar dan kecil. Menurut Handajani &
tepung jagung, dedak, dan ampas tahu. Widodo (2010), ampas tahu memiliki
Bahan baku tersebut ketersediaannya kandungan protein sebesar 43%.
cukup melimpah di Pulau Lombok, Penggunaan ampas tahu pada pakan
Nusa Tenggara Barat. Selain itu, ikan berkisar 27% (Prabowo 1983
masing-masing bahan baku tersebut dalam Haetami 2006).
mengandung nutrisi yang berbeda, Formulasi pakan adalah
apabila digunakan secara terpisah akan perhitungan jumlah bahan baku yang
menghasilkan pakan yang tidak efektif akan digunakan untuk membuat pakan
sehingga perlu dikombinasikan dengan ikan. Dalam penyusunan formulasi
bahan baku yang sesuai dengan pakan ikan, perlu diketahui beberapa
kebutuhan ikan. kandungan zat gizi yang dibutuhkan
Tepung ikan merupakan bahan ikan yaitu protein berkisar 20-60%,
baku paling umum dalam pembuatan lemak 4-18%, karbohidrat terdiri dari
pakan ikan dan merupakan sumber serat kasar kurang dari 8% dan BETN
protein utama yang belum tergantikan 20-30%, vitamin dan mineral berkisar
(Kordi 2007). Umumnya tepung ikan antara 2-5%. Jumlah keseluruhan
mengandung protein berkisar 60% bahan baku dalam menyusun formulasi
(Handajani & Widodo 2010). pakan ikan adalah 100% (Maynard
Penggunaan tepung ikan mencapai 1979).
28%-50% (Webster & Lim 2002). Berdasarkan uraian diatas, maka
Menurut Handajani & Widodo (2010), telah dilakukan penelitian pembuatan
jagung dan dedak dapat digunakan pakan dengan menggunakan formulasi
sebagai bahan baku alternatif karena yang memanfaatkan bahan baku tepung
tingkat ketersediaannya tinggi dan ikan, tepung jagung, dedak halus dan
harganya relatif murah. Jagung dan ampas tahu dengan harapan pakan yang
dedak padi merupakan sumber energi terbentuk dapat mengoptimalkan

37
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
pertumbuhan ikan nila (Oreochromis sp.).
METODOLOGI PENELITIAN pakan dengan enam aras pada Tabel 1.
Penelitian ini menggunakan Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga
metode eksperimental dengan kali sehingga terdapat 18 unit
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang percobaan.
terdiri dari satu faktor yaitu formulasi

Tabel 1. Komposisi Pakan Uji (g/100 g pakan)


Perlakuan (% bahan)
Bahan Penyusun
A B C D E Komersial
Tepung Ikan 20 25 30 35 40 -
Tepung Jagung 10 25 24 25 24 -
Dedak Halus 39 24 20 15 10 -
Ampas Tahu 30 25 25 24 25 -
Vitamin mix*** 1 1 1 1 1 -
Jumlah 100 100 100 100 100
Komposisi pakan ditentukan Peralatan yang digunakan untuk
berdasarkan harga pakan komersial di pemeliharaan yaitu akuarium sebagai
pasaran yaitu tidak lebih dari Rp 6.000 wadah percobaan, pompa air, pipa
per kg dan berdasarkan penggunaan PVC, kapas filter, botol plastik, heater,
bahan baku. sterofoam, selang, serok, ember dan
Penelitian ini dilaksanakan kamera digital. Peralatan yang
selama 60 hari. Kegiatan pembuatan digunakan untuk mengukur kulitas air
pakan dan pemeliharaan dilakukan di yaitu DO meter dan pH meter.
Laboratorium Budidaya Perairan Parameter yang diamati dalam
Fakultas Pertanian Universitas penelitian ini adalah parameter utama
Mataram, sedangkan uji proksimat dan parameter pendukung. Parameter
dilakukan di Laboratotium Kimia utama meliputi tingkat kelangsungan
Analitik Fakultas MIPA Universitas hidup (Survival rate), pertumbuhan,
Mataram. konversi pakan dan efisiensi pakan,
Biota yang diuji dalam sedangkan parameter pendukung
penelitian ini adalah ikan nila yang adalah kualitas air yang meliputi suhu,
diperoleh dari Balai Benih Ikan (BBI) derajat keasaman (pH) dan DO.
Batu Kumbung, Lombok Nusa Parameter mengenai derajat
Tenggara Barat. Bahan baku untuk kelangsungan hidup benih dapat
membuat pakan meliputi ikan kering, diketahui dengan menggunakan rumus
jagung, dedak padi, dan ampas tahu, (Effendie, 1979):
pakan komersial merk Turbo T88-2 % SR = .........................(3.1)
dan merk Bintang serta vitamin mix.
Alat yang digunakan dalam uji Keterangan :
proksimat yaitu oven, timbangan SR = Derajat kelangsungan hidup
analitik (0,0001 g) dan desikator. benih (%)
Sedangkan alat yang digunakan dalam Nt = Jumlah akhir benih (ekor)
pembuatan pakan yaitu kain kasar, No = Jumlah awal benih (ekor)
timbangan (0,01 g), penggiling daging, Menurut Effendie (1997),
mesin penepung, kertas koran. pertumbuhan diartikan sebagai
perubahan ukuran panjang atau berat

38
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
dalam waktu tertentu, untuk Data hasil Penelitian dianalisis
menghitung pertumbuhan diperlukan dengan menggunakan analisis sidik
data panjang atau berat dan umur atau ragam atau Analysis of Variance
waktu. (ANOVA) pada taraf nyata 5%.
LPM = Wt - Wo ………(3.2) Kemudian dilanjutkan dengan uji Beda
Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf nyata
Keterangan: 5%.
LPM = Laju Pertumbuhan Mutlak (g)
Wo = Bobot awal benih (g)
Wt = Bobot akhir benih (g) HASIL DAN PEMBAHASAN
Rata-rata Pertambahan Bobot,
Untuk mengetahui efisiensi Tingkat Kelangsungan Hidup,
pemanfaatan pakan pada percobaan, Konversi dan Efisiensi Pakan
maka dilakukan perhitungan konversi
pakan, menurut NRC (1977) : Hasil analisis ragam tentang
K= ……………(3.3) pertambahan bobot, tingkat
kelangsungan hidup, konversi dan
Keterangan : efisiensi pakan ikan Nila selama
K = Konversi pakan pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel
Wt = Bobot ikan pada akhir 2.
penelitian (g)
D = Bobot ikan yang mati selama Hasil analisis varian menunjukan
penelitian (g) bahwa perbedaan komposisi pakan
Wo = Bobot ikan pada awal penelitian hanya berpengaruh (p<0,05) terhadap
(g) pertambahan bobot ikan nila.
F = Jumlah pakan yang diberikan Pemberian pakan komersial
selama pemeliharaan (g) menghasilkan pertumbuhan yang lebih
Efisiensi pakan dihitung berdasarkan tinggi (P<0,05) dengan rata-rata
rumus (NRC, 1983): pertambahan bobot 7,69 g
% EP = x 100..........(3.4) dibandingkan dengan pakan A, B, C
dan D dengan rata-rata pertambahan
Keterangan :
bobot berturut-turut 2,41 g, 2,85 g, 2,82
Wt = Bobot ikan rata-rata pada akhir
g dan 3,02 g. Pemberian pakan
penelitian (g)
komersial cenderung lebih tinggi dari
Wo = Bobot ikan rata-rata pada awal
pakan E (5,49 g) meskipun hasilnya
penelitian (g)
tidak berbeda nyata (P>0,05),
D = Bobot ikan mati selama
sedangkan pakan E cenderung lebih
pemeliharaan (g)
tinggi dari pakan A, B, C dan D
F = Jumlah pakanyang diberikan (g)
meskipun hasilnya tidak berbeda nyata
(P>0,05).
Parameter pendukung yang
Berdasarkan hasil analisis,
diukur adalah oksigen terlarut (DO),
perbedaan komposisi pakan tidak
derajat keasaman (pH) dan suhu.
berpengaruh (p>0,05) terhadap tingkat
Pengukuran kualitas air tersebut
kelangsungan hidup ikan nila.
dilakukan setiap tujuh hari sekali pada
Kelangsungan hidup ikan nila selama
jam 09.00 yang diamati pada masing-
pemeliharaan berkisar 60-73,33%.
masing unit percobaan.
Perbedaan komposisi pakan juga tidak
berpengaruh (p>0,05) terhadap nilai

39
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
konversi dan efisiensi pakan ikan nila nilai efisiensi pakan berkisar 31,81-
selama pemeliharaan. Nilai konversi 47,15 %.
pakan berkisar 2,80-3,78 dan untuk
Tabel 2. Rata-rata Pertambahan Bobot, Tingkat Kelangsungan Hidup,
Konversi dan Efisiensi Pakan
Jenis Pakan
Parameter
A B C D E Komersial
Rata-rata
pertambahan 2,41±1,06b 2,85±1,30b 2,82±0,64b 3,02±0,44b 5,49±0,91ab 7,69±1,56a
Bobot (g)
Tingkat
kelangsungan 63,33 ±9,42 63,33±4,71 73,33±4,71 60±8,16 63,33±4,71 66,67±12,47
hidup (%) ns
Konversi
3,78 ± 0,39 2,95 ± 0,35 3,45 ± 0,61 2,80 ± 0,93 3,28 ± 1,03 3,53 ± 1,36
pakan ns
Efisiensi
pakan 31,81±3,17 40,83±5,01 34,10±5,50 47,15±14,16 37,86±9,89 39,61±21,29
(%) ns
ns
Keterangan : = non signifikan (P>0,05); angka setelah adalah nilai standar error; huruf
superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh perlakuan
yang berbeda nyata (P<0,05).

Kualitas Air perbedaan (p>0,05) antara suhu, DO


Nilai parameter kualitas air dan dan pH untuk setiap unit percobaan
hasil analisis ragam selama selama penelitian. Suhu air selama
pemeliharaan ikan nila (30 hari) dapat penelitian berkisar 26,96-27,4oC, pH
dilihat pada Tabel 3. berkisar 5,26-9,56 dan DO berkisar
Hasil pengukuran kualitas air 7,8-8,26 mg/L.
menunjukkan bahwa tidak ada

Tabel 3. Rata-rata Nilai Kualitas Air pada Pemeliharaan Ikan Nila Selama
30 Hari
Jenis Pakan
Parameter Pengukuran
A B C D E Komersial
ns
1 27,2±0,85 27,1±0,80 27,2±0,92 26,96±0,77 27,2±0,92 27,3±0,95
o ns
Suhu ( C) 2 27,3±0,92 27,2±0,87 27,2±0,88 27,16±0,83 27,6±1,37 27,2±0,89
ns
3 27,27±0,90 27,3±0,94 27,4±1,03 27,26±0,89 27,2±0,87 27,2±0,87
ns
1 7,98±0,12 7,99±0,57 8,26±0,34 7,99±0,21 8,26±0,40 8,15±0,12
DO ns
2 7,97±0,82 7,96±0,24 7,95±0,60 8±0,60 7,91±0,26 7,92±0,29
(mg/L) ns
3 7,8±0,04 7,86±0,08 7,86±0,17 7,84±0,09 7,88±0,31 7,81±0,09
ns
1 5,26±0,01 5,9±0,02 5,67±0,37 5,36±0,02 5,26±0,38 5,43±0,25
ns
pH 2 9,36±0,09 9,3±0,03 9,1±0,04 9,56±0,02 8,83±0,01 9,03±0,01
3ns 7,43±0,04 7,6±0,03 7,6±0,04 7,4±0,03 7,56±0,11 7,46±0,02
Keterangan : ns = non signifikan (P>0,05); angka setelah adalah nilai standar error.

Pertumbuhan Mutlak hidupnya. Pemeliharaan ikan nila


Pakan merupakan kebutuhan selama 30 hari menghasilkan adanya
utama bagi ikan sebagai sumber energi peningkatan berat rata-rata individu
untuk menunjang kelangsungan pada setiap perlakuan. Pertumbuhan

40
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
ikan nila akan terlihat baik apabila akhir penelitian. Semakin tinggi nilai
diberi pakan dengan formulasi yang pertumbuhan mutlak, maka ikan
seimbang, dimana didalamnya tersebut dikatakan dapat tumbuh
terkandung bahan-bahan seperti dengan baik pula. Berdasarkan hasil
protein, karbohidrat, lemak, vitamin, analisis pertumbuhan mutlak selama
mineral dan serat (Prihartono & pemeliharan (30 hari) menunjukkan
Sucipto 2007). Pakan yang tidak layak bahwa pakan komersial menghasilkan
atau kurang baik kualitasnya jika pertumbuhan yang cenderung lebih
dikonsumsi oleh ikan, maka ikan tidak tinggi dibandingkan dengan pakan A,
tumbuh dan dapat menyebabkan B, C dan D. Hal ini disebabkan karena
kematian (Cho et al. 1985). Adanya kualitas nutrisi yang ada dalam pakan
peningkatan bobot rata-rata individu komersial lebih bagus untuk
menunjukan bahwa semua pakan yang pertumbuhan ikan nila.
diujikan dapat dimanfaatkan oleh ikan Kandungan protein pakan
untuk pertumbuhan. Hal ini komersial (Tabel 4) mencapai 25%,
diakibatkan karena adanya alokasi sedangkan pakan A, B, C dan D
energi yang berasal dari pakan untuk memiliki kandungan protein dibawah
pertumbuhan setelah kebutuhan energi 25%. Suyanto (2003), pembesaran ikan
untuk pemeliharaan terpenuhi. nila dengan ukuran benih gelondongan
Pertumbuhan mutlak besar membutuhkan kandungan protein
menunjukkan selisih antara bobot pada sebesar 25-26%.
awal pemeliharaan dan bobot pada

Tabel 4. Nilai Kandungan Nutrisi Pakan yang Disusun dalam Berat Kering
(%)
Pakan Protein Lemak Serat Abu Air BETN Energi Ep
A 18.8099 6.3254 23.2913 18.4729 11.0034 33.1002 300.5061 15.9759
B 20.3579 5.7721 18.4664 17.5280 10.4406 37.8754 323.5516 15.8931
C 22.2582 5.7383 17.5449 18.2697 10.3035 36.1886 326.9605 14.6894
D 24.0837 5.6321 16.0848 18.8673 10.122 35.3318 332.6723 13.8131
E 26.0656 5.6186 15.2983 19.4313 9.9617 33.5860 336.4857 12.9091
Komersial 25-27 Min 5 Max 7 Max 13 Max 12 - - -

optimal dalam menunjang


Selain protein, tingginya pertumbuhan ikan nila adalah 4-8%.
pertumbuhan ikan nila yang diberi Sedangkan pakan A, B, C, D dan E
pakan komersial dipengaruhi oleh mengandung serat yang lebih tinggi
kandungan serat dan abu. Serat (>13%). Menurut Watanabe (1996),
merupakan bagian dari karbohidrat pakan yang mengandung serat yang
yang tidak dapat dicerna dan akan tinggi (>10%) akan mengakibatkan
menimbulkan pengotoran dalam wadah daya cerna menurun, penyerapan
kultur, akan tetapi tetap diperlukan menurun, meningkatnya sisa
untuk memudahkan pengeluaran feses. metabolisme dan penurunan kualitas
Pakan komersial mengandung serat air.
yang lebih rendah dibandingkan pakan Tabel 4 menunjukkan bahwa
A, B, C, D dan E yaitu maksimal kadar abu pakan komersial lebih
mencapai 7% (Tabel 4). Rukmana rendah dibandingkan pakan A, B, C, D
(1997) menambahkan kadar serat yang dan E. Apriani (2012) menyebutkan

41
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
pakan yang mengandung kadar abu yang hampir sama dengan pakan
9,45-13,36% melebihi dari kadar abu komersial. Meskipun demikian pakan
optimal yang dibutuhkan ikan. komersial cenderung lebih tinggi dari
Winarno (1997), kadar abu pada pakan pakan E.
mewakili kadar mineral pakan, kadar Tingginya kandungan abu dan
yang sesuai untuk ikan adalah 3-7%. serat yang terdapat dalam pakan uji
Pakan E menghasilkan karena bahan baku lokal (di pulau
pertumbuhan yang tidak berbeda Lombok) yang digunakan pada pakan
dengan pakan komersial. Hal ini diduga uji mengandung serat maupun abu
karena pakan E mengandung protein yang tinggi.

Tabel 5. Kandungan Nutrisi Bahan Baku Pakan dalam Berat Kering (%)
Kandungan Nutrisi
Bahan Baku
Protein Lemak Serat Abu BETN
Tepung ikan 46.87261 5.087466 3.546703 33.92955 10.56367
Tepung jagung 9.148406 3.667009 5.835318 6.218732 75.13054
Dedak halus 8.797641 6.285163 26.01293 22.31397 36.59029
Ampas tahu 16.96508 8.300177 39.51149 4.54244 30.68081
pertumbuhan yang mendekati sama
Tabel 5 menunjukan kandungan dengan pakan komersial.
nutrisi bahan baku lokal yang Selain sama dengan pakan
digunakan masih sangat rendah. Salah komersial, pertumbuhan pakan E juga
satu bahan baku berkualitas rendah tidak berbeda dengan pakan A, B, C
yang digunakan dalam komposisi dan D, meskipun demikian dari
pakan adalah tepung ikan. Tepung ikan keempat pakan tersebut masih
merupakan bahan baku yang dianggap cenderung lebih tinggi pakan E. Hal ini
penghasil protein paling tinggi, dikarenakan pakan E memiliki
kandungan protein yang diperoleh dari kandungan protein yang lebih tinggi
tepung ikan (Tabel 5) hanya mampu dari pakan A, B, C dan D.
berada pada tingkat paling rendah yaitu Penggunaan dedak halus dan
dengan kandungan protein kurang dari ampas tahu pada pakan A melebihi
55%. Menurut Murtidjo (2001) standar maksimal penggunaan yaitu
berdasarkan kualitasnya, tepung ikan 35% untuk dedak halus dan 27% untuk
dibagi menjadi 4 kelas yaitu tepung ampas tahu. Namun penggunaan dedak
ikan yang mengandung kadar protein halus sebesar 39% dan ampas tahu 30%
60%, 58%, 55%, dan kurang dari 55%. pada pakan A tidak memberikan
Selain kandungan protein yang rendah, pengaruh pada pakan karena
tepung ikan juga mengandung kadar pertumbuhan yang dihasilkan tidak
abu yang cukup tinggi. Kandungan abu jauh berbeda dengan penggunaan
yang tinggi dalam bahan merupakan bahan baku pada pakan B, C, D dan E.
indikator yang sangat kuat bahwa
bahan tersebut potensi bahayanya Kelangsungan Hidup
sangat tinggi (Winarno, 1997). Perbedaan komposisi pakan tidak
Meskipun demikian, pakan yang mempengaruhi kelangsungan hidup
disusun dengan menggunakan bahan ikan. Hal ini disebabkan karena bahan
baku lokal mampu menghasilkan baku lokal baik tepung ikan, tepung
jagung, dedak halus dan ampas tahu

42
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
yang digunakan dalam semua diperoleh dari hasil penelitian ini lebih
komposisi pakan sesuai dengan standar tinggi dari nilai optimal. Menurut Card
minimal penggunaan bahan baku. & Neisheim (1972) nilai konversi
Webster & Lim (2002), penggunaan pakan yang tinggi menunjukkan jumlah
tepung ikan maksimal 50%, pakan yang dibutuhkan untuk
penggunaan tepung jagung dan dedak menaikkan bobot badan semakin
halus menurut Nur & Zaenal (2004) meningkat dan efisiensi pakan semakin
maksimal 35%, sedangkan penggunaan rendah.
ampas tahu menurut Prabowo (1983) Hasil pertumbuhan yang berbeda
dalam Haetami (2006) mencapai 27%. dan nilai rasio konversi pakan yang
Tingkat kelangsungan hidup ikan nila sama diduga disebabkan karena jumlah
(Oreochromis sp.) selama 30 hari konsumsi pakan pada masing-masing
pemeliharaan berkisar antara 60- perlakuan berbeda. Hal ini diduga
73,33%. Hasil tersebut tidak jauh karena tingkat ketertarikan ikan
berbeda dengan hasil penelitian terhadap pakan yang diberikan berbeda
Febriany (2011) pada ikan nila dengan pada setiap pakan.
pemanfaatan tepung azolla sebagai Hasil analisis ragam efisiensi
bahan pakan alternative selama 28 hari pakan rata-rata menunjukan bahwa
yang menghasilkan tingkat pakan yang dicobakan berbeda tidak
kelangsungan hidup 69-75%. Menurut nyata. Artinya komposisi pakan yang
Chumaidi (2005), kelangsungan hidup berbeda belum mampu memberikan
ikan di bawah 50% tergolong rendah. perbedaan pada rasio efisiensi
pakannya. Rata-rata tingkat efisiensi
Konversi dan Efisiensi Pakan pakan berkisar 31,81%-47,15%. Nilai
Nilai konversi dan efisiensi tersebut relatif tinggi dan dapat
pakan ikan nila selama 30 hari adalah menggambarkan kualitas pakan cukup
sama pada setiap pakan. Hal ini baik. Hal ini sejalan dengan pernyataan
menunjukan bahwa penggunaan pakan umum dibidang perikanan, bahwa nilai
dengan bahan baku lokal mampu efisiensi pakan yang baik yaitu lebih
memberikan hasil konversi maupun dari 25% (Zulkifli, 2004). Tingkat
efisiensi pakan yang sama dengan efisiensi penggunaan pakan ikan nila
pakan komersial. Nilai konversi pakan ditentukan oleh pertumbuhan dan
berkisar 2,80-3,78. Konversi pakan jumlah pakan yang diberikan. Menurut
menunjukkan tingkat efisiensi Uktolseja (2008), keefisienan
penggunaan pakan oleh ikan serta penggunaan pakan menunjukan nilai
menentukan nilai ekonomis setiap pakan yang dapat merubah menjadi
penggunaan pakan. Amrullah (2003) pertambahan berat badan ikan.
menyatakan bahwa konversi pakan Efisiensi pakan dapat dilihat dari
yang baik berkisar antara 1,75-2,00. beberapa faktor dimana salah satunya
Semakin rendah angka konversi pakan adalah rasio konversi pakan. Menurut
berarti kualitas pakan semakin baik. Hariati (1989) dalam Handajani
Lebih lanjut dikatakan bahwa selain (2011), tingkat efisiensi penggunaan
kualitas pakan, konversi pakan juga pakan yang terbaik akan dicapai pada
dipengaruhi oleh teknik pemberian nilai konversi pakan terendah, dimana
pakan. Teknik pemberian pakan yang hal ini didapat apabila kondisi kualitas
baik dapat menekan angka konversi pakan baik. Kondisi kualitas pakan
pakan sehingga keuntungan banyak yang baik akan mengakibatkan energi
bertambah. Nilai konversi pakan yang yang diperoleh ikan nila lebih banyak

43
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
untuk pertumbuhan, sehingga dengan menggunakan bahan baku lokal dapat
pemberian pakan yang sedikit meminimalisir sekitar 24,19% dari
diharapkan dapat memberikan harga pakan komersial atau sebesar Rp
pertumbuhan yang tinggi. 5.124,4 dari biaya yang dkeluarkan
Apabila dilihat dari segi harga pakan komersial. Selisih harga antara
dan biaya yang dikeluarkan untuk pakan komersia dengan pakan
mendapatkan 1 kg daging ikan (Tabel berbahan baku lokal adalah sebesar Rp
6), pakan yang dibuat dengan 1.105,-.

Tabel 6. Estimasi Biaya Pakan untuk Memperoleh Pertambahan Berat 1 Kg


Ikan
Pakan
A B C D E Komersial
Harga pakan (kg) 4525 4600 4695 4780 4895 6000
FCR 3.78 2.95 3.45 2.8 3.28 3.53
Biaya total (Rp) 17104.5 13570 16197.75 13384 16055.6 21180
efisiensi pakan dan kelangsungan
Kualitas Air hidup yang sama dengan pakan
komersial.
Hasil pengukuran kualitas air Disarankan untuk penelitian lanjutan
selama penelitian masih berada pada mengenai formulasi pakan
kisaran optimum untuk kehidupan ikan menggunakan bahan baku tepung
nila (Oreochromis sp.). Kisaran suhu ikan yang kualitasnya lebih baik.
air pada media pemeliharaan yaitu
berkisar 26,96-27,60C, derajat
keasaman (pH) berkisar 5,26-9,56 dan DAFTAR PUSTAKA
oksigen terlarut (DO) berkisar 7,8-8,26
mg/L. Kualitas air pada semua media Amrullah, I. K. 2003. Manajemen
pemeliharaan memiliki nilai yang sama Ternak Ayam Broiler. IPB-
karena menggunakan sistem Press, Bogor.
resirkulasi. Apriani, I. 2012. Analisa Proksimat
Berbagai Pelet Ikan. Departemen
Budidaya Perairan. Fakultas
KESIMPULAN DAN SARAN Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Berdasarkan hasil dan IPB. Bogor.
pembahasan dalam penelitian ini, dapat Basry, A. 2009. Sintuasi Dunia
ditarik kesimpulan sebagai berikut : Terhadap Pengadaan Bahan
1. Dari kelima formulasi pakan Baku Pakan Udang dan Ikan.
bebahan baku lokal, perlakuan Disajikan dalam temu pakan
pakan E (tepung ikan 40%, tepung nasional. Bandung, 19-20 Maret
jagung 24%, dedak halus 10% dan 2009.
ampas tahu 25% serta penambahan
vitamin 1%) memberikan Card, L. E. and M. C. Nesheim. 1972.
pertumbuhan yang cenderung lebih Poultry Production. 11th Ed. Lea
baik, tatapi masih lebih rendah and Febiger. Philadelphia.
dibandingkan pakan komersial. California.
2. Perbedaan komposisi pakan
memberikan nilai konversi pakan,

44
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
Cho, C.Y., C.B., Wanatabe. 1983. Handajani, H. 2011. Optimalisasi
Finfish Nutrition in Asia. Tepung Azolla Terfermentasi
Methodelogical Approach to pada Pakan Ikan untuk
Research and Development. 154 Meningkatkan Produktivitas Ikan
pp. Nila Gift. Jurusan Perikanan
Chumaidi. 2005. Pengaruh Perbedaan Universitas Muhammadiyah
Waktu Pemberian Berbagai Malang. Malang.
Pakan AlamiTerhadap Sintasan Handajani, H., Widodo, W. 2010.
Larva Ikan Neon Tetra Nutrisi Ikan. Universitas
(Paracheirodon innesi Myers). Muhammadiah Malang. Malang.
Prosiding Seminar Nasional Ismunadji, I.dan C. Novary. 2010.
Biologi dan Akuakultur Peraturan Perundangan dan
Berkelanjutan. Purwokerto. Pengembangan Pakan Ikan atau
DKP. 2008. Revitalisasi Perikanan Udang Dengan Penekanan pada
Budidaya. Departemen Kelautan Penggunaan Bahan Baku Local.
dan Perikanan, Jakarta. Disajikan dalam semi-loka
Nutrisi dan teknologi pakan ikan.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Kerjasama BRKP dan ISPIKANI
Perikanan. Yayasan Dewi Sri. di Bogor, 26 oktober 2010: 18
Bogor. hal.
. 1997. Biologi Perikanan. Kordi, K. 2007. Meramu Pakan untuk
Yayasan Pustaka Nusatama. Ikan Karnivor. CV Aneka Ilmu.
Yogyakarta. Semarang.
Febriany, F. (2011). Pemanfaatan Lestari, S. 2001. Pengaruh Kadar
Tepung Azolla (Azolla pinnata) Ampas Tahu yang Difermentasi
sebagai Bahan Pakan Alternatif Terhadap Efisiensi Pakan dan
pada Pertumbuhan Benih Ikan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprus
Nila Gift (Oreochromis sp.). scorpio). [Skripsi, Unpublished].
Jurusan Perikanan dan Kelautan. Fakultas Perikanan dan Kelautan.
Fakultas Sains dan Teknik Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Universitas Jenderal Sudirman. Indonesia.
Purwokerto.
Maynard, et al. 1979. Animal Nutrition.
Haetami, K., Susangka, I., Maulida, I. Sevent Edition MCGraw-Hill
2006. Suplementasi Asam Amino Book Compani, Philippine.
pada Pelet yang Mengandung Murtidjo, B.A. 2001. Pedoman
Silase Ampas Tahu dan Meramu Pakan Ikan. Kanisius.
Implikasinya Terhadap Yogyakarta.
Pertumbuhan Benih Ikan Nila
Gift (Oreochromis niloticus). NRC. 1977. Nutrient Requirements of
http://pustaka. Warmwater Fishes. Revised
unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2 Edition. National Academic
009/04/suplementasi_asam_amin Press. Washington, D.C. 248p.
o_pada_pelet_yang_mengandung . 1983. Nutrient Requirements of
_silase.pdf. [4 April 2012]. Warmwater Fishes and
Shellfishes. Revised Edition.

45
Jurnal KELAUTAN, Volume 6, No.1 April 2013 ISSN : 1907-9931
 
 
 
National Academy Press. dua taraf lisin dan lemak. Jurnal
Washington. penelitian perikanan.
Rukmana, R. 1997. Ikan Nila. Webster, C.D., Lim, C. 2002. Nutrien
Yogyakarta. Konisius. Requirement and Feeding of
Sucipto, A. Priartono, R. 2007. Finfish for Aquaculture. CABI
Pembesaran Ikan Nila Merah Publishing. New York, USA.
Bangkok. Penebar Swadaya. Winarno. 1997. Kimia Pangan dan
Jakarta. Gizi. Gramedia Pustaka.
Suyanto, R . 2003. Nila. Penebar Zulkifli. 2004. Pembenihan Ikan Mas
Swadaya. Jakarta. yang Efektif dan Efisiensi. Balai
Uktolseja, J.L.A. 2008. Deposisi nutrisi Pengkajian dan Teknologi
ikan lele dumbo (Clarias Pertanian Sulawesi Utara.
gariepinus) sebagai akibat Sulawesi Utara.
penambahan L-Karnitin pada

46