Anda di halaman 1dari 33

PENCEMARAN AIR

MAKALAH
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pencemaran Lingkungan
yang diampu oleh Tutik Sri Wahyuni, S.Pd, M.Pd.

Oleh
Kelompok 1

Lutfi Mufarida (17208153039)


Triawati (17208153066)
Rizal Miftakhul K (17208153062)
Beta Larasati (17208153070)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
Maret 2018
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang pantas pertama kali diucapan selain ucapan syukur kepada
ALLAH SWT dengan ucapan Alhamdulillahirrabil’aalamin yang mana kita telah
diberi nikmat yang luar biasa dan dengan petunjuknya sehingga kita dapat
menyelesaikan makalah tepat dengan waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa
kami ucapkan kepada baginda nabi Muhammad SAW. serta para keluarga,
sahabat, tabi’in dan para pengikutnya dan dengan itu kita selalu menantikan
syafa’atnya kelak di hari pembalasan.
Pada kesempatan yang sangat baik ini kami menyusun sebuah makalah
yang berjudul “Pencemaran Air”. Sebelumnya kami mengucapkan terimakasih
kepada.
1. Rektor IAIN Tulungagung Dr. Maftukhin, M.Pd yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk belajar di kampus tercinta ini.
2. Dosen matakuliah Pencemaran Lingkungan, Tutik Sri Wahyuni S.Pd.,
M.Pd yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyusun
makalah ini.
3. Teman-teman yang ikut membantu dalam pembuatan makalah ini. Dengan
amanat itu kami akan memberikan hasil yang terbaik untuk makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak untuk mengevaluasi makalah ini. Penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semuanya.

Tulungagung, Maret 2018

Tim penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2
BAB II : PEMBAHASAN 3
A. Pengertian Dasar Pencemaran Air ................................................ 3
B. Indikator Pencemaran Air.............................................................. 4
C. Komponen Pencemaran Air .......................................................... 5
D. Pengertian COD dan BOD ............................................................ 9
E. Dampak pencemaran Air 13
F. Upaya pencegahan pencemaran Air
F. Kajian Al-qur’an mengenai Pencemaran Air 24
BAB III : PENUTUP 27
A. Kesimpulan 27
B. Saran 28
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pencemaran air merupakan salah satu pencemaran berat yang ada di
Indonesia dan limbah sektor perindustrian merupakan sumber pencemaran air
yang dominan. Disamping sektor perindustrian, pencemaran air ini juga
ditimbulkan di sektor-sektor yang lain seperti pertambangan, pertanian dan
rumah tangga. Akibat dari pencemaran air tersebut adalah menurunnya kadar
kualitas air yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Pencemaran air terjadi karena ada sebagian pabrik yang tidak
memperdulikan bahan sisa proses produksi yang berupa limbah untuk diolah
secara sempurna pada Unit Pengelolaan Limbah (UPL), sehingga bahan
buangan masih mengandung senyawa yang bersifat toksik (senyawa beracun)
dan penyebab kematian. Dengan adanya industrialisasi yang pesat maka
permasalahan pencemaran air telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.1
Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
Secara langsung yaitu bahan yang menimbulkan pencemaran tersebut langsung
berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan
tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun
tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air
maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran. Pencemaran memiliki
dampak secara langsung bagi kesehatan misalnya keracunan (diare, muntah),
dan lain-lain dan memiliki efek tidak langsung (efek jangka panjang) bagi
kesehatan misalnya kanker.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dasar pencemaran air?
2. Apa saja indikator pencemaran air?
3. Apa saja komponen pencemaran air?
4. Apa pengertian COD dan BOD?

1
Arya Wardhana, Dampak Pencemaran Lingkungan, (Andi Offset, Yogyakarta, 2004), hlm. 142.

1
5. Bagaimana dampak pencemaran air?
6. Bagaimana upaya penanggulangan pencemaran air?
7. Bagaimana kajian Al-qur’an mengenai pencemaran air?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dasar pencemaran air
2. Untuk mengetahui indikator pencemaran air
3. Untuk mengetahui komponen pencemaran air
4. Untuk mengetahui pengertian COD dan BOD
5. Untuk mengetahui dampak pencemaran air
6. Untuk mengetahui upaya penanggulangan pencemaran air?
7. Untuk mengetahui kajian Al-qur’an mengenai pencemaran air

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Dasar Pencemaran Air


Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi ini. Tidak
ada kehidupan seandainya di bumi ini tidak ada air. Air yang relatif bersih
sangat didambakan oleh manusia,baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk
keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi kota, maupun untuk keperluan
pertanian dan lain sebagainya. Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu
mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Untuk mendapatkan air yang
baik, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena
air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan
manusia,baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri
dan kegiatan-kegiatan yang lainnya.
Untuk menetapkan standart air yang bersih tidaklah mudah, karena
tergantung banyak faktor penentu. Faktor penentu tersebut antara lain:
1. Kegunaan air yaitu untuk minum, untuk keperluan rumah tangga, untuk
industri, untuk mengairi sawah,untuk kolam perikanan, dan lain-lain.
2. Asal sumber air yaitu dari mata air di pegunungan, danau, sungai, sumur,
hujan, dan lain-lain
Walaupun penetapan standar air bersih tidak mudah, namun ada
kesepakatan bahwa air yang bersih tidak ditetapkan pada kemurnian air, akan
tetapi didasarkan pada keadaan normalnya. Apabila terjadi penyimpangan dari
keadaan normal maka hal itu berarti air tersebut telah mengalami pencemaran.
Air yang terdapat di bumi ini tidak pernah terdapat dalam keadaan murni
bersih, tetapi selalu ada senyawa atau mineral (unsur) lain yang terlarut di
dalamnya. Hal ini tidak berarti bahwa semua air di bumi ini telah tercemar.
Sebagai contoh, air yang diambil dari mata air di pegunungan dan air hujan.
Keduanya dapat dianggap sebagai air yang bersih, namun senyawa atau
mineral (unsur) yang terdapat di dalamnya berlainan seperti tampak pada
keterangan di bawah ini:
Air hujan mengandung: SO3, Cl, NH3, CO2, N2, C, O2, debu
Air dari mata air mengandung: Na, Mg, Ca, Fe, O2

3
Selain itu air seringkali juga mengandung bakteri atau mikroorganisme
lainnya. Air yang mengandung bakteri atau mikroorganisme tidak dapat
langsung digunakan sebagai air minum tetapi harus direbus dulu agar bakteri
dan mikroorganismenya mati.2 Dalam UU No 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP RI No 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang dimaksud
dengan Pencemaran Air adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup,
zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia,
sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air
tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya.3
B. Indikator Pencemaran Air
Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia di bumi ini.
Sesuai dengan kegunaanya, air dipakai sebagai air minum, air untuk mandi dan
mencuci, air untuk pengairan pertanian, air untuk kolam perikanan, air untuk
sanitasi dan air untuk transportasi, baik di sungai maupun di laut. Kegunaan air
seperti tersebut di muka termasuk sebagai kegunaan air secara konvensional.
Selain penggunaan air secara konveksional, air juga diperlukan untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia, yaitu untuk menunjang kegiatan industri
dan teknologi. Dalam kegiatan industri dan teknologi, air digunakan antara lain
air sebagai proses, air sebagai pendingin, air sebagai ketel uap penggerak
turbin, dan air sebagai utilitas dan sanitasi
Apabila air yang diperlukan dalam kegiatan industri dan teknologi itu dalam
jumlah yang cukup besar, maka perlu dipikirkan darimana air tersebut
diperoleh. Pengambilan air dari sumber air tidak boleh mengganggu
keseimbangan air lingkungan. Faktor keseimbangan air lingkungan ini tidak
hanya berkaitan dengan jumlah volume (debit) air yang digunakan saja, tapi

2
Wisnu Wardana, Dampak Pencemaran Lingkungan (edisi revisi), (Yogyakarta: CV ANDI
OFFSET, 2004), hal.71-73
3
Arie Herlambang, Pencemaran Air Dan Strategi Penggulangannya, JAI .Vol. 2, No.1.2006, hal.
20

4
yang lebih penting lagi adalah bagaimana menjaga agar air lingkungan tidak
menyimpang dari keadaan normalnya.
Di dalam kegiatan industri dan teknologi, air yang telah digunakan (air
limbah industri) tidak boleh langsung dibuang ke lingkungan karena dapat
menyebabkan pencemaran. Air tersebut harus diolah terlebih dahulu agar
mempunyai kualitas yang sama dengan kualitas air lingkungan. Proses daur
ulang air limbah industri atau Water Treatment Recycle Procces adalah salah
satu syarat yang harus dimiliki oleh industri yang berwawasan lingkungan.
Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya
perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui:
a. Adanya perubahan suhu air
b. Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen
c. Adanya perubahan warna, bau, dan rasa air
d. Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut
e. Adanya mikroorganisme
f. Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan
C. Komponen Pencemaran Air
Berbagai macam kegiatan industri dan teknologi yang ada pada saat ini
apabila tidak disertai dengan progam pengelolaan limbah yang baik akan
memungkinkan terjadinya pencemaran air. Komponen pencemar air dapat di
kelompokan menjadi 7 kelompok yaitu sebagai berikut.
1. Bahan buangan padat
Bahan buangan padat adalah bahan buangan yang berbentuk padat, baik
yang kasar maupun yang halus. Kedua macam bahan buangan padat tersebut
apabila dibuang ke perairan (sungai) maka kemungkianan yang dapat terjadi
antara lain:
a. Pelarutan bahan buangan padat oleh air
b. Pengendapan bahan bangunan padat di dasar air
c. Pembentukan koloidal yang melayang di air
2. Bahan buangan organik
Bahan buangan organik biasanya berupa limbah yang bisa membusuk
atau terdegradasi oleh mikroorganisme. Oleh karena itu untuk lebih baiknya

5
bahan buangan yang termasuk kelompok ini tidak dibuang ke dalam
perairan, karena bisa meningkatkan populasi mikroorganisme dalam air.
Dengan berkembangnya bakteri di dalam air tidak menutup kemungkinan
bahwa akan berkembang juga bakteri patogen yang berbahaya bagi
manusia. Limbah organik lebih baik dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk
kompos.
3. Bahan buangan anorganik
Bahan buangan limbah anorganik pada umumnya berupa limbah yang
tidak dapat membusuk dan sulit terdegradasi oleh bakteri, dan apabila bahan
buangan ini di buang ke daerah perairan maka akan meningkatkan jumlah
ion logam dalam air.
Contohnya kandungan ion kalsium (Ca) dan ion magnesium (Mg) di
dalam air yang tinggi meyebabkan air bersifat sadah, kesadahan air yang
tinggi dapat merugikan karena dapat merusak peralatan yang terbuat dari
besi yaitu menyebabkan proses pengkaratan.4
4. Bahan buangan olahan bahan makanan
Bahan buangan olahan bahan makanan dapat juga di masukan ke dalam
bahan buangan organik, tetapi dalam hal ini di bedakan karena seringkali
menimbulkan bau busuk. Air lingkungan yang mengandung bahan buangan
bahan makanan ini akan mengandung mikroorganisme, termasuk
didalamnya bakteri patogen. Mengingat hal ini maka pembuangan limbah
yang berasal dari industri pengolahan makanan perlu mendapat pengawasan
yang seksama agar bakteri patogen yang berbahaya bagi manusia tidak
berkembang biak.
5. Bahan buangan cairan berminyak
Minyak tidak dapat larut di dalam air, melainkan akan mengapung di
atasnya. Bahan buangan berupa minyak yang di buang ke perairan akan
mengapung menutupi permukaan air. Kalau bahan buangan minyak
mengandung senyawa yang volatil maka akan terjadi penguapan dan luasan
permuakaan minyak yang menutupi perairan akan menyusut, penyusutan ini
bergantung pada jenis minyak dan waktu. Lapisan minyak yang menutupi

4
Ibid., hal. 80

6
permukaan air dapat juga terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu namun
memerluak waktu yang cukup lama.
Lapisan minyak di permukaan air akan mengganggu kehidupan
organisme di dalam air, hal ini disebabkan oleh lapisan minyak pada
permukaan air akan menghalangi difusi oksigen dari udara kedalam air
sehingga jumlah oksigen terlarut dalam air berkurang, selain itu lapisan
minyak yang menutupi perairan akan menghalangi masuknya sinar matahari
kedalam air sehingga tanaman air akan sulit untuk fotosintesis.
6. Bahan buangan zat kimia
Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya, dan yang dibahas disini
merupakan bahan yang bisa mencemari air antara lain;
a. Sabun (detergen, sampo, dan bahan pembersih lainya)
Adanya bahan buangan zat kimia yang berupa sabun yang berlebiahan
di dalam air ditandai dengan timbulnya buih sabun pada air. Sebenarnya
antara sabun dan detergen memiliki perbedaan. Sabun berasal dari asam
lemak (Stearat, Palmiat,atau Oleat) yang di reaksikan dengan basa
Na(OH) atau K(OH) seperti reaksi kimia berikut:

Asam stearat basa sabun


Sedangkan detergen dibuat dengan senyawa petrokimia. Detergen
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sabun karena dapat bekerja
dangan air sadah, bahan detergen umumnya di gunakan adalah
DodecyIbenzensulfonat yang mempunyai rumus

7
Detergen dalam air akan mengalami ionisasi membentuk komponen
biopolar aktif yang mengikat ion Ca dan ion Mg pada air sadah. Bahan
buangan detegen dalam air akan mengganggu karena larutan sabun
menaikan pH air sehingga dapat mengganggu kehidupan hewan dan
tumbuhan air.5
b. Bahan pemberantas hama (insektisida)
Pemakaian insektisida pada lahan pertanian seringkali meliputi daerah
yang sangat luas sehingga sisa insektisida di lahan pertanian tersebut
cukup banyak. Bahan insektisida bersifat racun, apabila masuk ke dalam
lingkungan air. Bahan insektisida dalam air sulit untuk dipecahkan oleh
mikroorganisme, kalaupun bisa hal itu akan berlansung lama.
c. Zat warna kimia
Semua zat warna kimia merupakan racun bagi mahluk hidup. Oleh
karena itu penyamakan pencemaran zat warna ke lingkungan air perlu
untuk diperhatikan. Ada zat warna yang relatif aman bagi manusia yaitu
yang biasanya digunakan sebagai pewarna makanan. Tetapi hampir
semua zat warna kimia bersifat racun karena tersusun dari unsur
/senyawa Chromagen dan auxochrome.
Chromagen merupakan senyawa aromatik yang berisi chromopore
yaitu zat pemberi warna yang berasal dari radikal kimia, seperti
kelompok nitroso, nitro, azo, ethylene, carbonyl, dan belerang. Kalau
warna-warna tersebut di gunakan dalam larutan cat maka masih akan
ditambahkan thiners, dries dan lain-lain.
Dengan melihat zat yang ditambahkan kiranya mudah dipahami
bahwa hampir semua zat warna kimia adalah racun bagi mahluk hidup.
Dan apabila masuk ke dalam tubuh bisa mengakibatkan tumbuhanya sel
kanker. Oleh karena itu pembuangan zat warna kimia dapat mengurangi
kandungan oksigen dan mempengaruhi pH air.
d. Larutan penyamak kulit
Senyawa chroom merupakan bahan penyamak kulit yang digunakan.
Apabila sisa larutan penyamak kulit di buang ke lingkungan yang

5
Ibid., hal.85

8
mengandung ion logam yang berlebihan pada umumnya tidak dapat
dikonsumsi sebagai air minum. Enzim yang terbawa oleh bahan buangan
larutan penyamak kulit bersama lemak dan sisa kulit akan ikut
menambah populasi mikroorganisme dalam air. Lemak dan sisa kulit
begitu mudahnya di degradasi oleh mikroorganisme tetapi akan
menghasilkan bau yang sangat menyengat.
e. Zat radio aktif
Secara alamiah radioaktivitas lingkungan sudah terbentuk sejak
terbentuknya bumi ini, termasuk di dalam air lingkungan. Namun jika
terjadi kenaikan radioaktivitas di air lingkungan. Hal itu sudah berarti
berbahaya bagi lingkungan dan kehidupan manusia karena zat radioaktif
dapat menyebabkan kerusakan biologis baik melalui efek langsung
maupun melalui efek tertunda.6

D. Pengertian COD dan BOD


Air yang tidak mengandung oksigen tidak akan memberikan kehidupan bagi
mikroorganisme, ikan dan hewan air lainnya. Oksigen yang terlarut di dalam
air sangat penting artinya bagi kehidupan. Untuk memenuhi kehidupannya,
manusia tidak hanya tergantung pada makanan yang berasal dari daratan saja
(beras, gandum, sayuran, buah, daging, dan lain-lain), akan tetapi juga
tergantung pada makanan yang berasal dari air (ikan, kerang, cumi-cumi,
rumput laut, dan lain-lain.)
Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari, melakukan
fotosintesis yang ada menghasilkan oksigen. Oksigen yang dihasilkan dari
fotosintesis ini akan larut di dalam air. Selain dari itu, oksigen yang ada di
udara dapat juga masuk kedalam air melalui proses difusi yang secara lambat
menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air
tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri. Kejenuhan air dapat
disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air maupun oleh jumlah
larutan limbah yang terlarut di dalam air. Tekanan udara juga dapat

6
Ibid., hal.90

9
mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air karena tekanan udara
mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air.
Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya
sangat rendah. Hal ini karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh
mikroorganisme untuk memecah atau mendegradasi bahan buangan organik
sehingga menjadi bahan yang mudah menguap. Selain itu, bahan buangan
organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air
mengikuti reaksi oksidasi biasa. Makin banyak bahan buangan organik yang
ada di dalam air, makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut
didalamnya. Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas,
industri penyamakan kulit, industri pengolahan bahan makanan, bahan buangan
limbah rumah tangga, bahan buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan
kotoran manusia dan lain sebagainya.
Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat
ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan telah terjadi. Cara
yang ditempuh untuk maksud tersebut adalah dengan uji:
1. COD, (Chemical Oxygen Demand)
Chemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen kimia adalah
sejumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada di dalam
air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Dalam hal ini bahan buangan
oraganik akan dioksidasi oleh Kalium bikromat atau K2Cr2O7, digunakan
sebagai sumber oksigen (oxidizingagent). Oksidasi terhaadap bahan
buangan organik akan mengikuti reaksi berikut ini:
Ca HbOC + Cr2O7 2- +H+ CO2 + H2O +Cr3+
Kat

Reaksi tersebut perlu pemanasan dan juga penambahan katalisator perak


sulfat (Ag2SO4) untuk mempercepat reaksi. Apabila dalam bahan buangan
organik diperkirakan ada unsur klorida yang dapat mengganggu reaksi maka
perlu ditambahkan merkuri sulfat untuk menghilangkan gangguan tersebut.
Klorida dapat menganggu karena akan ikut teroksidasi oleh kalium bikromat
sesuai dengan reaksi berikut ini :
6 Cl + Cr2O72- + 14H+ 3Cl2 + 2 Cr3+ + 7H2O

10
Apabila dalam larutan air lingkungan terdapat klorida, maka oksigen
yang diperlukan pada reaksi tersebut tidak menggambarkan keadaan
sebenarnya. Beberapa jauh tingkat pencemaran oleh bahan buangan organik
tidak dapat diketahui secara benar. Penambahan merkuri sulfat adalah untuk
mengikat ion Chlor menjadi merkuri chloride mengikuti reaksi berikut ini:
Hg2+ + 2Cl- HgCl2
Warna larutan air lingkungan yang mengandung bahan buangan organik
sebelum reaksi oksidasi adalah kuning. Setelah reaksi oksidasi selesai maka
akan berubah menjadi hijau. Jumlah oksigen yang diperlukan untuk reaksi
oksidasi terhadap bahan buangan organic sama dengan jumlah kalium
bikromat yang dipakai pada reaksi tersebut di atas. Makin bantak kalium
bikromat yang dipakai pada reaksi oksidasi, berarti makin banyak oksigen
yang diperlukan. Ini berarti bahwa air lingkungan makin banyak tercemar
oleh bahan buangan organik. Dengan demikian maka seberapa jauh tingkat
pencemaran air lingkungan dapat ditentukan.7
2. BOD (Biologycal Oxygen Demand)
Biologycal Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen biologis adalah
jumlah oksigen yang diperlukan mikroorganisme didalam air lingkungan
untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organik yang ada di dalam
air lingkungan tersebut. Sebenarnya peristiwa penguraian bahan buangan
organik melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme di dalam air
lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air
lingkungan mengandung oksigen yang cukup.
Pada umumnya air lingkungan atau air alam mengandung
mikroorganisme yang dapat “memakan”, memecah, menguraikan
(mendegradasi) bahan buangan organik. Jumlah mikroorganisme di dalam
air lingkungan tergantung pada tingkat kebersihan air. Air yang bersih
(jernih) biasanya mengandung mikoorganisme yang realatif lebih sedikit
dibandingkan dengan air yang telah tercemar oleh bahan buangan yang
bersifat antiseptik atau bersifat racun, seperti phenol, kreolin, detergen,
asam sianida, insektisida dan sebagainya, jumlah mikroorganisme juga

7
Ibid., 92

11
realatif sedikit. Untuk keadaan seperti ini perlu penambahan
mikroorganisme yang telah menyesuaikan (beradaptasi) dengan bahan
buangan tersebut. Mikooraganisme yang memerlukan oksigen untuk
memecah bahan buangan organik sering disebut dengan bakteri aerobik.
Sedangkan mikroorganisme yang tidak memerlukan oksigen, disebut
dengan bakteri anaerobik.8
Proses penguaraian bahan buangan organik melalui proses oksidasi oleh
mikroorganisme atau oleh bakteri aerobic adalah sebagai berikut:
CnHaObNc + (n+a/4-b/2-3c/4) O2
Bahan organik oksigen bakteri aerobic

n CO2 + (a/2-3c/2) H2O + c NH3

Seperti tampak pada reaksi diatas bahan buangan organik dipecah dan
diuraikan menjadi gas CO2 air dan gas NH3-. Timbulnya gas NH3- inilah
yang menyebabkan bau busuk pada air lingkungan yang telah tercemar oleh
bahan buangan organik. Reaksi di atas memerlukan waktu yang cukup lama,
kira kira 10 hari. Dalam waktu 2 hari mungkin reaksi telah mencapai 50 %
dan dalam waktu 5 hari mencapai 75 %.9
Tabel 1.1 Bahan buangan yang dapat dioksidasi
dengan uji COD atau BOD
Dapat dioksidasi
Jumlah Bahan Buangan dengan uji
COD BOD
Bahan buangan organik yang termasuk
biodegradable. Contoh: protein, gula, karbohidrat , Ya Ya
dll.
Serat sintetik, selulosa, dll Ya Tidak
Bahan buangan yang termasuk non- biodegradable.
Ya Tidak
Contoh: NO2-, Fe2+, S2-, Mn3+, dll.
N bebas. Contoh: NH4 tidak Ya
Hidrokarbon rantai dan aromatik Ya Tidak

8
Ibid., 93
9
Ibid., 94

12
Masing-masing cara pengujian,baik reaksi uji COD maupun reaksi uji
BOD, mempunyai keterbatasan yang tidak dapat mengoksidasi segala
macam bahan buangan. Berikut ini beberapa jenis bahan buangan yang
dapat dioksidasi dengan cara reaksi uji COD atau reaksi uji BOD.
Apabila kandungan oksigen dalam air lingkungan menurun maka
kemampuan bakteri aerobik untuk memecah bahan buangan organik akan
menurun pula. Bahkan mungkin pula apabila oksigen yang terlarut sudah
habis maka bakteri aerobik akan mati semua. Dalam keadaan seperti ini
bakteri anaerobik akan mengambil alih tugas untuk memecah bahan
buangan oleh mikrooganisme yang memerlukan oksigen (kondisi aerobik)
dan tanpa oksigen (kondisi anaerobik) hasilnya akan berbeda seperti terlihat
berikut ini:
Kondisi aerobik: Kondisi anaerobik:
C CO2 C CH4
N NH3 + HNO3 N NH3 + amin
S H2SO4 S H2S
P H3PO4 P PH3 + komponen pospor
Hasilnya pemecahan pada kondisi anaerobik pada umumnya berbau tidak
enak. Sebagai contoh, amin berbau amis dan anyir, sedangkan H2S dan
komponen pospor akan berbau busuk. Mengingat akan hal ini air
lingkungan yang aerobic janagn sampai berubah menjadi anaerobik.10

E. Dampak Pencemaran Air


Berdasarkan cara pengamatannya, pengamatan indikator dan komponen
pencemaran air lingkungan dapat digolongkan menjadi:
a. Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan
tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu air, perubahan rasa dan
warna air.
b. Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air
berdasarkan zat kimia yang terlarut, perubahan pH.

10
Ibid., 95

13
c. Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air
berdasarkan mikroorganisme yang ada di dalam air, terutama ada tidaknya
bakteri patogen.11
Air yang telah tercemar dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi
manusia. Kerugian yang disebabkan oleh pencemaran air dapat berupa:
1. Air Menjadi Tidak Bermanfaat Lagi
Air yang tidak dapat dimanfaatkan lagi akibat pencemaran air merupakan
kerugian yang terasa secara langsung oleh manusia. Kerugian langsung ini
pada umumnya disebabkan oleh terjadinya pencemaran air oleh berbagai
macam komponen pencemar air. Bentuk kerugian langsung ini antara lain
berupa:
- Air tidak dapat digunakan lagi untuk keperluan rumah tangga.
- Air tidak dapat digunakan untuk keperluan industri
- Air tidak dapat digunakan untuk keperluan pertanian
2. Air Menjadi Penyebab Penyakit
Air lingkungan yang kotor karena tercemar oleh beragai macam komponen
pencemar menyebabkan lingkungan hidup menjadi tidak nyaman untuk dihuni.
Pencemaran air dapat menimbulkan kerugian yang lebih jauh lagi, yaitu
kematian. Kematian dapat terjadi karena pencemaran yang terlalu parah
sehingga air telah menjadi penyebab berbagai macam penyakit. Penyakit yang
ditibulkan oleh pencemaran air ini dapat berupa:
3. Penyakit Menular
Air yang telah tercemar, baik oleh senyawa organik maupun anorganik akan
mudah sekali menjadi media berkembangnya berbagai macam penyakit. Air
yang tercemar dapat berupa air yang tergenang (tidak mengalir) dan dapat pula
air yang mengalir. Penyakit menular akibat pencemaran air dapat terjadi karena
berbagai macam sebab, antara lain karena alasan berikut ini:
 Air merupakan tempat berkembang-biaknya mikroorganisme termasuk
mikroba patogen.
 Air yang telah tercemar tidak dapat digunakan sebagai air pembersih,
sedangkan air bersih sudah tidak mencukupi sehingga kebersihan manusia

11
Ibid., 134

14
dan lingkunan tidak terjamin yang pada akhirnya menyebabkan manusia
mudah terserang penyakit.12
Air yang tercemar oleh limbah organik, terutama limbah yang berasal dari
industri olahan bahan makanan, merupakan tempat yang subur untuk
berkembang-biakanya mikoorganisme, termasuk mikroba patogen. Mikroba
patogen berkembang biak dalam air tercemar yang menyebabkan timbulnya
berbagai penyakit sangat banyak dan semuanya merupakan penyakit yang
dapat menular dengan mudah. Beberapa penyakit akibat pencemaran air antara
lain:
1) Hepatitis A
Virus hepatitis A sering dijumpai pada makanan, seperti pada susu,
masakan daging, dan buah-buahan mentah yang dikonsumsi langsung tanpa
dicuci bersih terlebih dahulu. Air sungai yang telah tercemar virus bisa
mengakibatkan wabah apabila penduduk mengunakan air tersebut untuk
keperluan hidupnya.13 Virus hepatitis A ternyata tidak mati oleh Chlor,
meskipun bakteri mati oleh desinfektan tersebut.
Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 1-2 bulan setelah terkena
infeksi virus Hepatitis A. Penyakit ini ditandai oleh demam yang disertai
rasa mual dan muntah. Hati penderita menjadi bengkak, bola mata pun
menjadi kuning. Warna kuning ini bisa menjalar ke permukaan kulit. Orang
awam sering menyebutnya sebagai penyakit kuning. Hepatitis A yang telah
parah akan merusak hati. Kerusakan hati ini memang tidak nampak dari
luar. Namun akibatnya bisa dilihat dari melemahnya tubuh penderita. Tubuh
menjadi kurus dan perut membesar (bengkak). Dengan rusaknya hati maka
aliran dari venaporta tersumbat dan cairan tubuh terkumpul di rongga perut
sehingga menimbulkan oedema atau pembengkakan.
Pada daerah berpenduduk padat, lingkungan kumuh, kebersihan
lingkungan tidak diperhatikan, air bersih tidak memadai, pembuangan
limbah dan kotoran (termasuk tinja) secara sembarangan yang kesemuanya
itu menyebabkan pencemaran air lingkungan, akan memudahkan penularan

12
Ibid., 138
13
Ibid., 139

15
penyakit ini. Oleh karena itu tindakan preventif berupa kebersihan
lingkungan perly disadari oleh segenap lapisan masyarakat.
2) Polliomyelitis
Penyakit yang sering disebut sebagai penyakit polio ini sering menyerang
anak-anak dan menyebabkan kelumpuhan. Masa inkubasinya sekitar 1-3
minggu sestelah terkena infeksi virus polio. Gejala polio sangat bervariasi;
dapat berupa demam ringan seperti pada influenza sampai pada kelumpuhan
ringan dan berat yang menyebabkan cacat pada tungkai bawah.
Kelumpuhan karena polio seringkali tidak sama pada anggota badan atau
asimetris.14 Kebersihan lingkungan dan keadaan gizi yang baik akan sangat
membantu dalam menangkal penyakit polio, terutama pada anak-anak.
Vaksinasi polio sudah barang tentu sangat berguna untuk membentuk
ketahanan tubuh terhadap penyakit polio ini.
3) Cholera
Penyakit Cholera (kolera) adalah penyakit menular yang menyerang usus
halus yang kemudian dapat mengakibatkan kematian dalam waktu singkat.
Penyakit ini akan menjadi wabah apabila tidak ditangani secara sungguh-
sungguh. Masa inkubasi penyakit kolera sangat cepat, dan hanya beberapa
jam sampai beberapa hari setelah penderita terinfeksi oleh bakteri kolera.
Penyakit kolera ditandai dengan mntah-muntah dan berak terus-menerus
(muntaber) yang menyebabkan dehidrasi parah sehingga penderita menjadi
kolaps dan akhirnya meninggal.15
Walaupun saat ini sudah ditemukan vaksinasi atau pencegahan penyakit
kolera dan juga sudah ditemukan antibiotika untuk penyembuhannya, akan
tetapi penyakit ini masih sering dijumpai sebagai wabah, terutama di Afrika
dan Asia. Hal ini disebabkan masih rendahnya kesadaran akan arti
pentingnya kebersihan lingkungan, masalah vaksinasi, masalah gizi, dan
pangan, dan lain sebagainya. Penularan bisa secara langsung melalui oran
keorang, dapat pula melalui lalat, air, makan, dan minuman.

14
Ibid., 140
15
Ibid., 141

16
4) Typhus Abdominalis
Thyphus adalah penyakit menular yang menyerang usus halus seperti
halnya kolera. Penyakit ini masih sering menjadi wabah. Angka kematian
akibat penyakit ini masih lebih rendah dari angka kematian akibat kolera.
Sebelum ditemukannya antibiotika, angka kematian akibat thypus sekitar
10%. Saat ini angka kematian itu sudah jauh menurun, menjadi sekitar 3%.
Masalah pemberantasan penyakit thypus seringkali dihadapkan pada
persoalan adanya pembawa (carrier) bakteri thypus. Bakteri ini untuk
sementara waktu bersembunyi atau tinggal pada batu ginjal, batu kandung
kemih atau pada batu kantung empedu. Pada waktu buang air besar atau
buang air kecil, bakteri tersebut mungkin akan ikut keluar dan menyebar ke
lingkungan. Bakteri typhus dapat bertahan lama di luar tubuh manusia
karena daya tahan bakteri ini sangat kuat. Pencegahan penyakit typhus dapat
dilakukan dengan melalui vaksinasi manakala sedang terjadi wabah,
walaupun vaksinasi typhus hanya dapat memberikan kekebalan sementara
saja, yaitu tidak lebih dari 6 hulan.16
5) Dysenteri Amoeba
Penyakit dysenteri amoeba adalah penyakit menular menyerang perut.
Penyakit ini terseber ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh
protozoa yang dapat membentuk kista, mikroba patogen jenis protozoa ini
disebut entamoeba histolitica. Gejala penyakit dysenteri amoeba adalah
buang air besar yang disertai dengan lendir dan darah. Adakalanya penyakit
dysenteri amoeba tidak disertai dengan gejala yang nyata sehingga
seringkali menjadi kronis. Kalau tidak segera diobati penyakit ini akan
menyebabkan komplikasi, antara lain abses pada hati, radang otak, dan lain
sebagainya. Penularan penyakit dysenteri sangat mudah, dapat melalui jalur
air lingkungan, makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh
kotoran yang mengandung kista amoeba yang dibawa oleh lalat. Amoeba ini
dapat bertahan lama di luar tubuh manusia, karena terbentuknya kista yang
dapat melindungi diri sehingga daya tahannya kuat sekali.17

16
Ibid.,142
17
Ibid., 143

17
6) Ascariasis
Ascariasis atau penyakit cacingan (cacing gelang) dapat terjadi karena
lingkungan yang kotor dan tercemar. Penyakit ini menyerang orang di
segala usia, terutama pada anak-anak. Cacing gelang hidup pada usus
manusia dan mampu bertelur dalam jumlah banyak. Telur ini akan ikut
keluar dari usus pengidap penyakit cacingan bersama tinja. Manusia terkena
infeksi cacing ini karena menelan telur cacing yang terdapat pada makanan
atau minuman, atau melalui sayur dan buah-buahan yang terkontaminasi
telur cacing ascaris.18
Gejala penyakit cacingan ini ditandai batuk ringan karena masuknya
larva ke dalam sistem pernafasan, dan berak yang disebabkan cacing
dewasa. Penderita penyakit cacingan pada umumnya menurun kondisi
tubuhnya karena cacing gelang yang ada di dalam usus ikut menyerap
makanan.
7) Trachoma
Penyakit trachoma adalah penyakit yang tidak termasuk dalam kelompok
penyakit yang telah disebutkan di atas. Penyakit ini timbul terutama karena
kurangnya persediaan air bersih. Trachoma adalah penyakit yang
menyerang selaput lendir dan selaput bening mata. Penyebab penyakit
trachoma adalah virus trachoma. Penyakit ini pada keadaan awal hampir
tidak menimbulkan keluhan pada penderitanya, namun pada keadaan yang
agak lanjut akan mengakibatkan peradangan pada mata. Cacat ini dapat
mengakibatkan kornea mata menjadi keruh sehingga sangat mengganggu
penglihatan. Kalau terjadi infeksi berulang kali dan penyembuhannya tidak
berhasil total maka akan mengakibatkan kebutaan.19
Penyakit trachoma akan mudah menyerang anak-anak yang kekurangan
gizi, terutama anak-anak yang kekurangan vitamin A dan kebersihan dirinya
tidak terjamin. Penularan penyakit dapat terjadi secara langsung dari
penderita ke orang lain melalui tangan, pakaian atau sapu tangan.

19
Ibid., 144

18
8) Scabies
Seperti halnya penyakit trachoma, penyakit scabies juga disebabkan oleh
kekurangan air bersih karena air lingkungan sudah tercemar. Penyakit
scabies dalam bahasa sehari-hari disebut kudis. Kebiasaan membersihkan
diri (mandi) yang bersih menggunakan air yang bersih merupakan cara
terbaik untuk menghindari penyakit scabies. Begitu pula dengan pakaian.
Hendaknya orang membiasakan diri untuk menggunakan pakaian yang
bersih.20
Penyakit scabies atau kudis merupakan penyakit kulit yang mudah
nmenular melalui kobtak langsung atau melalui pakaian, sapu tangan, atau
tempat tidur yang pernah digunakan oleh penderita scabies. Penyakit ini
disebabkan oleh sejenis kutu kecil atau tungu yang disebut Sarcoptes scabei.
Tungu ini masuk ke dalam kulit dan memakan jaringan kulit dan menaruh
telur-telurnya di dalam kulit. Kulit yang kemasukan kutu scabies akan terasa
sangat gatal, terutama pada malam hari. Pada kulit akan timbul bintik-bintik
kecil yang berisi cairan bening. Karena rasa gatal yang sangat maka
penderita akan terus menggaruk-grauk kulitnya dan ini bisa mengakibatkan
infeksi sekunder. Kutu scabies terutama terdapat pada daerah pemukiman
kumuh dan di mana persediaan air bersih kurang mencukupi.
4. Penyakit Tidak Menular
Walaupun dikatakan sebagai penyakit tidak menular namun penyakit ini
tetap merupakan bahaya besar karena dapat mengakibatkan kematian.
Penyakit tidak menular dapat muncul teruamaa karena air lingkungan telah
tercemar oleh senyawa anorganik yang dihasilkan oleh industri yang banyak
menggunakan unsur logam. Selain dari itu senyawa organik pun bisa
menyababkan penyakit yang tidak menular. Pembuangan limbah industri
secara sembarangan ke lingkungan sangat merugikan manusia karena dapt
menimbulkan penyakit atu keracunan yang mengakibatkan cacat dan
kematian
Zat anorganik dan organik yang mencemari lingkungan dapat
menimbulkan penyakit, mulai dari keracunan yang ringan sampai keracunan

20
Ibid., 145

19
berat yang berakhir dengan kematian. Mengenai komponen pencemaran air,
banyak sekali penyebab terjadinya pencemaran air. Dari sekian banyak zat
yang dapat menimbulkan keracunan atau penyakit tidak menular, hanya
beberapa saja yang akan dibahas antara lain keracunan kadmium, kobalt, air
raksa dan keracunan bahan insektisida.
a. Keracunan Kadmium
Keracunan kadmium dapat mempengaruhi otot polos pembuluh darah.
Akibatnya tekanan darah menjadi tinggi yang kemudian bisa meyebabkan
terjadinya gagal jantung. Ginjal pun dapat rusak dan keracunan Cd. Kasus
keracunan Cd yang pernah tercatat sebagai epidemi (wabah) pada abad ini
adalah keracunan Cd yang menimpa sebagian penduduk Toyama Jepang.
Keracunan Cd ini menjaidi wabah karena sebagian penduduk Tayoma
mengeluh sakit pinggang selama bertahun-tahun dan sakit itu semakin lama
semakin parah. Di samping itu mereka juga mengeluh sakit pada tulang
punggungnya. Ternyata tulang-tulang itu mangalami pelunakan dan
kemudian menjadi rapuh. Kematian yang terjadi diantara mereka terutama
disebabkan oleh gagal ginjal.21
5. Keracunan Kobalt
Keracunan kobalt dapat terjadi apabila makanan dan minuman
mengandung Co 150 ppm atau lebih. Kobalt masuk ke dalam tubuh dalam
jumlah banyak akan merusak kelenjar gondok. Kerucunan kobalt dapat juga
membuat sel darah merah menjadi berubah, tekanan darah menjadi tinggi,
pergelangan kaki membengkak (oedema). Gagal jantung juga dapat terjadi
akibat keracunan Co, terutama pada anak-anak yang sedang mengalami
masa pertumbuhan.
6. Keracunan Air Raksa
Gejala keracunan merkuri ditandai dengan sakit kepala, sukar menelan,
penglihatan menjadi kabur, dan daya dengar menurun. Selain itu, orang
yang keracunan merkuri merasa tebal di bagian kaki dan tangannya, mulut
terasa tersumbat oleh logam, gusi membengkak dan disertai pula dengan
diare. Kematian dapat terjadi karena kondisi tubuh yang makin melemah.

21
Ibid., 147

20
Wanita yang mengandung akan melahirkan bayi yang cacat apabila ia
keracunan merkuri.22
Sumber utama keracunan merkuri adalah pembuangan limbah pabrik
plastik ke air lingkungan (laut). Walaupun kadar merkuri yang dibuang ke
laut kecil namun karena proses biological magnification maka kadar
merkuri yang terdapat pada ikan menjadi berkali lipat, sekita 27-102 ppm.
Kadar itu tentu akan menjadi lebih besar lagi manakal ikan tersebut dimakan
oleh manusia. Proses pelipatan merkuri dan akumulasinya di dalam tubuh
manusia inilah yang menyebabkan terjadinya keracunan.23
7. Keracunan Bahan Insektisida
Bahan insektisida dapat terakumulasi dalam rantai makanan dan
kadarnya menjadi tinggi karena proses biological magnification yang pada
akhirnya dapat sampai pada manusia. Keracunan bahan insektisida
menyebabkan kepala pusing, mual, tremor, dan kerusakan organ penting
seperti hati dan ginjal.24 Akumulasi bahan insektisida sedikit demi sedikit
dalam waktu yang lama dapat menimbulkan penyakit tertunda (delayed
effect) yang justru lebih berbahaya daripada penyakit yang disebabkan
karena menerima insektisida sekali dalam kadar yang agak tinggi. Efek
tertunda tersebut muncul dalam bentuk kanker kulit, kanker paru-paru dan
kanker hati. Timbulnya penyakit kanker ini disebabkan karena bahan
insektisida bersifat cocarcinogenic atau merangsang timbulnya kanker.

F. Upaya Penanggulangan Pencemaran Air


1. Penanggulangan dengan menggunakan bioremediasi
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih
untuk ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan
kadar polutan tersebut. Pada saat proses bioremediasi berlangsung, enzim-
enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi struktur polutan
beracun menjadi tidak kompleks sehingga menjadi metabolit yang tidak
beracun dan berbahaya.

22
Ibid., 149
23
Ibid., 150
24
Ibid., 151

21
Prinsip Dasar
Pengolahan air tercemar secara biologi pada prinsipnya adalah meniru
proses alami self purification di sungai dalam mendegradasi polutan melalui
peranan mikroorganisma. Peranan mikroorganisma pada proses self
purification ini pada prinsipnya ada dua (gmabar) yaitu: pertumbuhan
mikroorganisma menempel dan tersuspensi.
Aplikasi Bioremediasi
1. Isolasi bakteri dan Penurunan Kadar Pencemar
Saat ini penelitian dan aplikasi bioremediasi untuk air tercemar dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu bakteri indigenous dan cakteri “commercial
product.
a) Bakteri Indigenous
Bakteri indigenous merupakan hasil isolasi bakteri yang dilakukan
oleh laboratorium yang bersangkutan. Isolat terbaik yang dipilih dapat
dikombinasikan dalam suatu konsorsium. Selain berpotensi dalam
penurunan logam, bakteri indigenous lain yang berasal dari Rumah
Pemotongan Hewan (RPH) juga mempunyai kemampuan untuk
menurunkan pencemar organik.
b) Bakteri “commercial product”
Produk komersial untuk bioremediasi biasa dipergunakan untuk
menjaga kualitas air danau (pond), algal bloom, penurunan nitrat-
fosfat, peningkatan kecerahan (Great Lakes Bio Systems. Inc. Co Orb-
3). Selain untuk perairan tergenang (lentic), produk komersial juga
telah diterapkan pada perairan mengalir (lotic). Produk ACF32 dan
BioAktiv digunakan di Sungai Bintangor- Malaysia (Beng , 2007a)
yang dapat menurunkan kadar BOD, COD, TSS, Total-N, Total-P
dalam air sebesar ratarata 50%. Sedangkan produk AquaClean®
(Beng , 2007b) dipakai dalam bioremediasi Sungai Xiba di China
(Yudianto and Yuebo, 2010). 25
2. Penanggulangan dengan menggunakan sistem penanaman mangrove

25
Bambang, Priadie “Teknik Bioremediasi Sebagai Alternatif Dalam Upaya Pengendalian
Pencemaran Air. Vol.10. Issue 1: 38-48.2012

22
Berbagai hasil sisa kegiatan manusia di daratan, seperti limbah domestik,
pertanian dan perindustrian berujung di daerah muara sungai dan pantai.
Kelompok masyarakat dan industri memiliki anggapan bahwa sungai dan
laut merupakan keranjang sampah yang dapat digunakan untuk membuang
sampah dengan cara yang sangat mudah dan murah. Pengelolaan
lingkungan masih dipandang sebagai beban bagi pengusaha dan pengambil
keputusan tidak begitu mudah terdorong untuk mengadopsi aspek
lingkungan dalam kebijakannya. Keseimbangan ekologi lingkungan
perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove
dipertahankan karena mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter, agen
pengikat dan perangkap polusi. Masukkan sumber pencemar sangat banyak,
mangrove memiliki toleransi yang tinggi terhadap logam berat (Mac Farlane
dan Burchett, 2001; Gunarto, 2004). Mangrove juga merupakan tempat
hidup berbagai jenis gastropoda, kepiting pemakan detritus, dan bivalvia
pemakan plankton sehingga akan memperkuat fungsi mangrove sebagai
biofilter alami. Berbagai jenis ikan baik yang bersifat herbivora, omnivora
maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar mangrove terutama pada
waktu air pasang (Gunarto, 2004).
Mangrove yang tumbuh di ujung sungai besar berperan sebagai
penampung terakhir bagi limbah dari industri di perkotaan dan
perkampungan hulu yang terbawa aliran sungai, terutama jika polutan yang
masuk ke dalam lingkungan estuari melampaui kemampuan pemurnian
alami oleh air. Mangrove alami berperan efektif dalam melindungi pantai
dari tekanan alam dan erosi (Mulyadi dkk, 2009).
Marsono (2000) dalam Kartikasari dkk, (2002) menyampaikan, bahwa
tumbuhan mangrove mempunyai kecenderungan untuk mengakumulasi
logam berat yang terdapat dalam ekosistem tempat tumbuhan hidup. Sistem
mangrove tidak dapat berdiri sendiri, melainkan mempunyai keterkaitan
dengan ekosistem lain. Keterkaitan antar ekosistem ini membentuk suatu
sistem yang lebih besar yaitu DAS. Kemampuan akumulasi logam berat
tersebut berbeda untuk tiap spesies (Tam dan Wong, 1996). Lebih lanjut
Tam dan Wong (1996) menyatakan, bahwa tumbuhan mangrove

23
mengakumulasi logam berat paling tinggi terdapat di bagian akarnya.
Namun demikian faktor lain seperti mobilitas dan kelarutan logam juga
berpengaruh terhadap akumulasi logam berat dalam tumbuhan. Berdasarkan
mobilitas dan kelarutannya, Sinha (1999) menyebutkan kemampuan
tumbuhan untuk mengakumulasi logam berat sesuai dengan urutan sebagai
berikut Mn > Cr > Cu > Cd > Pb. Berdasarkan urutan tersebut kemampuan
tumbuhan untuk mengakumulasi Mn lebih besar dari Cr, kemampuan
mengakumulasi Cr lebih besar dari Cu dan seterusnya. Selain kemampuan
untuk mengakumulasi logam berat berbeda untuk tiap spesies, konsentrasi
logam berat antar organ tumbuhan seperti akar, cabang, daun juga berbeda
dalam satu spesies. Perbedaan konsentrasi logam berat pada organ
tumbuhan tertentu berkaitan dengan proses fisiologis tumbuhan tersebut.

G. Kajian Al-Qur’an Mengenai Pencemaran Air


Air merupakan komponen terbanyak dalam tubuh kita, bahkan saat kita
masih menjadi janin, kandungan air dalam tubuh hampir mendekati 100%,
kemudian setelah lahir kandungan air dalam tubuh mulai berkurang menjadi
80%, saat dewasa menjadi 70%, dan ketika sudah lanjut usia bisa menjadi
50%.26 Fenomena semacam ini sudah dijelaskan oleh Allah di dalam firman-
Nya:

Artinya:
“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu dia jadikan
manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha
Kuasa.” (Qs Al Furqan:54)
Pencemaran air merupakan suatu peristiwa masuknya zat, energi, unsur,
atau komponen lainnya yang menurunkan kualitas air dengan ditandai adanya
perubahan warna, rasa, dan bau. Indikator tentang adanya pencemaran air dapat
diketahui melalui beberapa pengawasan. Pengawasan tersebut antara lain:

26
Anonim. Al- Qur’an Menjelaskan Tentang Air Sebagai Sumber Kehidupan.
https://example51815.wordpress.com/2016/04/18/al-quran-menjelaskan-tentang-air-sebagai-
sumber-kehidupan/, (online). Diakses 5 Maret 2018, pukul 14.00

24
pengawasan fisis (meliputi: kejernihan air, warna air, suhu air, bau dan rasa
air), pengawasan kimiawi (berdasarkan: kelarutan zat kimia dan perubahan
pH), dan pengawasan biologis (seperti: ada atau tidak adanya mikroorganisme
dan bakteri pathogen). Akan tetapi secara umum indikator yang sering
digunakan sebagai acuan yaitu: pH, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen
biokimia (BOD), dan kebutuhan oksigen kimiawi (COD).
Secara garis besar, pencemaran air bersumber dari kontaminan langsung
(efluen dari industri, sampah rumah tangga, dan lain-lain) serta kontaminan
tidak langsung kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah atau
atmosfir berupa hujan. Komponen pencemaran air dapat digolongkan menjadi:
bahan buangan padat, bahan buangan organik dan olahan bahan makanan,
bahan buangan anorganik, bahan buangan berminyak, bahan buangan panas,
dan bahan buangan zat kimia. Pencemaran air dapat mengganggu daur hidup
biota air sperti plankton dan mikroorganisme lainnya. Kualitas tanah pun
menjadi menurun karena adanya pendangkalan dasar perairan dan
penyumbatan reservoir. Selain itu pencemaran air dapat menyebabkan kanker
dan merusak keseimbangan alam.
Penanggulangan pencemaran air dapat dilakukan secara non-teknis dan
teknis. Secara non-teknis yaitu dengan mengeluarkan suatu praturan atau
perundang-undangan (PP No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian
Pencemaran Air), atau dengan merujuk Al Quran (Q.S Al Baqarah ayat 11) dan
Al Hadist (seperti: HR. Al Baahiliy dan HR. Al Baihaqi). Sedangkan secara
teknis dapat dilakukan dengan cara 3R (Reduce, Reuse, and Recycle),
penghijauan, dan penggunaan bahan industri yang ramah lingkungan. 27

Artinya:
Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kalian membuat
kerusakan di muka bumi:" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-
orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah

27
Ibnu, Kasir. Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: https://ibnkasir.blogspot.co.id/2016/11/tafsir-
surat-al-baqarah-ayat-11-12.html, (online). Diakses: 5 Maret 2018, pukul 14.52

25
orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya.
(Q.S Al Baqarah ayat 11)

26
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dalam UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan PP RI No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air yang dimaksud dengan Pencemaran Air
adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat, energi dan atau
komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air
turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat
berfungsi sesuai dengan peruntukkannya.
2. Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya
perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui adanya perubahan suhu
air, adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen, adanya
perubahan warna, bau, dan rasa air, timbulnya endapan, koloidal, bahan
terlarut, adanya mikroorganisme, dan meningkatnya radioaktivitas air
lingkungan.
3. Adapun komponen pencemaran air dapat di kelompokkan menjadi 7
kelompok yaitu bahan buangan padat, bahan buangan organik, bahan
buangan anorganik, bahan buangan olahan bahan makanan, bahan
buangan cairan berminyak, dan bahan buangan zat kimia.
4. Pengertian dari COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen
kimia yaitu sejumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang
ada di dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Sedangkan
pengertian BOD atau kebutuhan oksigen biologis (Biologycal Oxygen
Demand) yaitu jumlah oksigen yang diperlukan mikroorganisme didalam
air lingkungan untuk memecah (mendegradasi) bahan buanagn organik
yang ada di dalam air lingkungan tersebut.
5. Air yang telah tercemar dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi
makhluk hidup. Adapun dampak dari pencemaran air yaitu antara lain air
menjadi tidak bermanfaat lagi, dan air menjadi penyebab timbulnya
penyakit. Penyakit yang timbul akibat dari pencemaran air penyakit yang

27
menular, seperti hepatitis A, cacingan, kolera dan masih banyak lagi. Ada
juga penyakit yang tidak menular seperti keracunan kobalt, keracunan
kadmium dan keracunan bahan insektisida.
6. Upaya atau penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mengatasi
pencemaran air yaitu dengan menerapkan bioremediasi. Bioremediasi
merupakan penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih untuk
ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan
kadar polutan tersebut. Selain dengan bioremediasi dapat juga dengan
menggunakan sistem penanaman mangrove.
7. Kajian Al-Qur’an mengenai pencemaran air terdapat pada Q.S Al-Furqon
ayat 54. Yang mana di dalam surah tersebut dijelaskan bahwa manusia
diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dari air. Penanggulangan
pencemaran air dapat dilakukan secara non-teknis dan teknis. Secara non-
teknis yaitu dengan mengeluarkan suatu praturan atau perundang-
undangan (PP No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air),
atau dengan merujuk Al Quran (Q.S Al Baqarah ayat 11) dan Al Hadist
(seperti: HR. Al Baahiliy dan HR. Al Baihaqi).
B. Saran
Dalam pembahasan kali ini penulis menyarankan kepada semua
mahasiswa/mahasiswi yang membaca makalah ini untuk bisa memahami apa
itu “Pencemaran Air“. Selain itu diharapkan setelah membaca makalah ini
dapat meminimalisir terjadinya pencemaran air baik itu di daerah sekitar
maupun di tempat lain. Juga diharapkan penggunaan air yang sebaik-baiknya
agar generasi yang akan datang masih bisa menikmati air bersih.

28
Lampiran

Penyakit Hepaptitis Penyakit Polliomyelitis

Penyakit Typus abdominalis

Penyakit Dysenteri amoeba

Penyakit Chlorela Penyakit Scabies

1
DAFTAR RUJUKAN

Anonim. Al- Qur’an Menjelaskan Tentang Air Sebagai Sumber Kehidupan.


https://example51815.wordpress.com/2016/04/18/al-quran-menjelaskan-
tentang-air-sebagai-sumber-kehidupan/, (online). Diakses 5 Maret 2018,
pukul 14.00

Bambang, Priadie. Teknik Bioremediasi Sebagai Alternatif Dalam Upaya


Pengendalian Pencemaran Air. Vol.10. Issue 1: 38-48.2012

Herlambang, Arie. 2006. Pencemaran Air Dan Strategi Penggulangannya, JAI


.Vol. 2, No.1.

Ibnu, Kasir. Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah:


https://ibnkasir.blogspot.co.id/2016/11/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-11-
12.html, (online). Diakses: 5 Maret 2018, pukul 14.52

Karida, Nana., Irsadi, Andin. 2014. Peranan Mangrove Sebagai Biofilter


Pencemaran Air Wilayah Tambak Bandeng Tapak. Semarang. Vol. 21,
No.2.

Wardhana, Arya. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi


Offset.

Wardana, Wisnu. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan (edisi revisi).


Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.