Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobakterium tuberkulosis dan bersifat menular (Christian, 2009; Storla,
2009).WHO menyatakan bahwa sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman
tuberkulosis.Setiap detik ada satu orang yang terinfeksi tuberkulosis. Di
Indonesia pemberantasan penyakit tuberkulosis telah dimulai sejak tahun 1950
dan sesuai rekomendasi WHO sejak tahun 1986 regimen pengobatan yang
semula 12 bulan diganti dengan pengobatan selama 6-9 bulan. Strategi
pengobatan ini disebut DOTS (Directly Observed Treatment Short Course
Chemotherapy). Cakupan pengobatan dengan strategi DOTS tahun 2000 dengan
perhitungan populasi 26 juta, baru mencapai 28%.
Berdasarkan Global Tuberkulosis Kontrol tahun 2011 angka prevalensi
semua tipe TB adalah sebesar 289 per 100.000 penduduk atau sekitar 690.000
kasus. Insidensi kasus baru TBC dengan BTA positip sebesar 189 per 100.000
penduduk atau sekitar 450.000 kasus. Kematian akibat TB di luar HIV sebesar 27
per 100.000 penduduk atau 182 orang per hari.Menurut laporan WHO tahun
2013, Indonesia menempati urutan ke tiga jumlah kasus tuberkulosis setelah
India dan Cina dengan jumlah sebesar 700 ribu kasus. Angka kematian masih
sama dengan tahun 2011 sebesar 27 per 100.000 penduduk, tetapi angka
insidennya turun menjadi 185 per 100.000 penduduk di tahun 2012 (WHO,
2013).
Salah satu pilar penanggulangan penyakit tuberkulosis dengan startegi
DOTS adalah dengan penemuan kasus sedini mungkin. Hal ini dimaksudkan
untuk mengefektifk an pengobatan penderita dan menghindari penularan dari
orang kontak yang termasuk subclinical infection. Kenyataannya di Kota
Semarang, data menunjukkan jumlah penemuan kasus suspect (tersangka) masih

1
jauh dari target. Sejak tahun 2007 sampai tahun 2009 kuartil ke 1, angka
pencapaian penemuan suspect hanya berkisar 53%. Angka tersebut sangat jauh
dari target sehingga diperkirakan penularan penyakit tuberkulosis akan semakin
meluas.
Menurut HL. Blum, faktor–faktor yang mempengaruhi kesehatan baik
individu, kelompok, dan masyarakat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:
lingkungan (mencakup lingkungan fi sik, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan
sebagainya), perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Keempat faktor
tersebut dalam mempengaruhi kesehatan tidak berdiri sendiri, namun masing–
masing saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor lingkungan selain langsung
mempengaruhi kesehatan juga mempengaruhi perilaku, dan perilaku sebaliknya
juga mempengaruhi lingkungan (Salim, 2010).
Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif, pada waktu
batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak).Beberapa faktor yang mengakibatkan menularnya penyakit itu
adalah kebiasaan buruk pasien TB paru yang meludah sembarangan (Anton,
2008).Selain itu, kebersihan lingkungan juga dapat mempengaruhi penyebaran
virus.Misalnya, rumah yang kurang baik dalam pengaturan ventilasi.Kondisi
lembab akibat kurang lancarnya pergantian udara dan sinar matahari dapat
membantu berkembangbiaknya virus (Talu, 2006).Oleh karena itu orang sehat
yang serumah dengan penderita TB paru merupakan kelompok sangat rentan
terhadap penularan penyakit tersebut. Lingkungan rumah, Lama kontak serumah
dan perilaku pencegahan baik oleh penderita maupun orang yang rentan sangat
mempengaruhi proses penularan penyakit TB paru. Karakteristik wilayah
pedesaan, menjadi determinan tersendiri pada kejadian penyakit TB (Randy,
2011).
Tingginya angka kejadian TB paru di wilayah kerja puskesmas X, serta
tidak tercapainya target dari dikes dan target puskesmas tahun 2009 di puskesmas
X. Maka untuk mencapai target tersebut serta mencegah penyakit TB paru yang

2
sulit diberantas dimasyarakat karena minimnya pengetahuan masyarakat
mengenai penyakit ini, UPT Puskesmas X akan mengadakan penyuluhan
penyakit TBC pada wilayah kerja puskesmas sehingga tujuan penyuluhan ini
yaitu menurunkan insidensi dan prevalensi TBC di wilayah kerja puskesmas X
dapat tercapai.

1.2 Tujuan
1.2.1 Meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap TBC.
1.2.2 Menurunkan angka kejadian TBC di wilayah kerja puskesmas X.
1.2.3 Menurunkan angka penularan TBC di masyarakat wilayah kerja
puskesma X.
1.2.4 Menurnkan angka kematian akibat TBC.

3
BAB II
DATA UMUM

2.1 Letak Geografis Desa


2.1.1 Batas – batas wilayah Puskesmas X adalah:
 Utara : Kecamatan Y, Kabupaten Baringin.
 Selatan : Kecamatan Z, Kabupaten Larasa dan Kecamatan V,
Kabupaten Jamuran
 Barat : Wilayah kerja Puskesmas U.
 Timur : Kecamatan W, Kabupaten Baringin.
2.1.2 Luas wilayah kerja
Luas wilayah kerja Puskesmas X adalah 31,89 km2
2.1.3 Pembagian Wilayah
Wilayah kerja puskesmas X terdiri dari 10 desa (A, B, C,D, E,F,G,H,
I, J) dengan 65 dusun.
2.1.4 Peta wilayah
Adapun peta wilayah kerja Puskesmas X Kecamatan X Kabupaten
Baringin seperti tersebut di bawah ini :

4
Gambar 2.1. Peta wilayah kerja Puskesmas X.

2.1.5 Transportasi
 Jarak puskesmas – RSU T : 15 km
 Jarak puskesmas – Kantor Dinas Kabupaten : 20 km
 Jarak puskesmas – RSU M : 20 km
 Jarak puskesmas – Desa terjauh : 10 km
 Semua desa atau balai desa dapat terjangkau dengan kendaraan bermotor
roda dua.
 Angkutan umum : Ojek, andong, angkutan desa, mobil pick-up, bus
umum.

5
2.2 Keadaan Demograpi
2.2.1 Jumlah keluarga sebanyak 11.618 KK
2.2.2 Jumlah penduduk sebanyak 42.020 jiwa
 Perempuan : 21.170 jiwa (50,15%)
 Laki – laki : 20.850 jiwa (49,85%)
 Kepadatan Penduduk : 1318 jiwa/Km2
 Jumlah pasangan usia subur : 7528 pasangan

Tabel 1. Komposisi Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas X Bulan Juni


Tahun 2009

Umur Jumlah Persentase

0-<1 705 1,71

1-<5 2820 6,86

5-6 1227 2,98

7-15 6858 16,68

16-21 3612 8,79

22-59 22132 53,84

>60 3753 9,14

Total 41107 100

Sumber : BPS Kabupaten Baringin Juni tahun 2009

6
Komposisi penduduk menurut produktivitas (menurut data kecamatan X
tahun 2009) :

 0-14 tahun : 11.009 jiwa


 15-59 tahun : 26.345 jiwa
 > 60 tahun : 3.753 jiwa

2.2.3 Sosial Budaya


Pemeluk Agama

Tabel 2. Data Pemeluk Agama di Wilayah Kerja Puskesmas X

Agama Jumlah %

Islam 99,19 %

Kristen protestan 41.680 0,46 %


197
Katolik 143 0,34 %

Budha 0 0,00%
0
Hindu 0,00%

Total 42.020 100 %

Sumber : Data statistik kecamatan Xtahun 2009


Sarana Peribadatan
Masjid : 102 buah
Gereja : 1 buah

Tingkat Pendidikan
Tabel 3. Data Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas X

7
Tingkat Pendidikan Jumlah %

Tidak sekolah 3.194 7,60 %

Belum sekolah 590 1,40 %

Belum tamat SD / sederajat 5.766 13,70 %

Tidak tamat SD / sederajat 6.087 14,48 %

Tamat SD / sederajat 15.425 36,70 %

Tamat SLTP / sederajat 5.999 14,27 %

Tamat SLTA / sederajat 4.345 10,34 %

Tamat akademi / PT 614 1,46 %

Total 42.020 100 %

Sumber : Data statistik kecamatan Xtahun 2009

Sarana Pendidikan ( Sumber : BPS Baringin Tahun 2008 ) :


 TK : 54
 SD / MI : 57
 SLTP / Mts : 15
 SLTA / MA : 7
 Pesantren : 17

8
2.2.4 Sosial Ekonomi
Tabel 4. Data Mata Pencaharian Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas I

Mata Pencaharian Jumlah %

Buruh tani 7.152 21,7 %

Tani 8.415 25,58 %

Buruh 2.888 8,78 %

PNS / ABRI 930 2,82 %

Sopir angkutan 940 2,86 %

Pedagang 1.565 4.76 %

Pensiunan PNS /ABRI 382 1,16 %

Pengusaha 998 3,03 %

Lain-lain 17.837 29,25 %

Total 41.107 100 %

Sumber : Data statistik kecamatan Xtahun 2008

Sarana Perekonomian
 KUD : 1 buah
 Bank : 3 buah
 Pasar umum : 3 buah
 Home Industry : 16 buah
 Warung makan : 25 buah

9
 Terminal : 1 buah
 Penggilingan padi : 13 buah
 Penggilingan tepung : 1 buah
 Pengelolaan minyak cengkeh : 1 buah

Total : 64 buah

2.3 Sarana dan Prasarana Kesehatan


2.3.1 Sarana Fisik
Puskesmas X merupakan Puskesmas Rawat Inap, pertama kali
didirikan sebagai Rumah Sakit Pembantu (RSP), dan semenjak adanya
puskesmas sekitar tahun 70-an, diberlakukan sebagai puskesmas dengan rawat
inap.
 Luas tanah :14.200 m2
 Luas gedung : 1.600 m2
Jumlah tempat tidur : 50 buah, terdiri atas:
Tabel 5. Nama Ruang Perawatan, Kelas dan Jumlah Tempat Tidur (TT).

Jumlah Tempat Tidur (TT)

Bangsal / Tahun Tahun


No Status Perolehan Status Perolehan
Ruang TT TT
Kelas Tempat Kelas Tempat
Tidur Tidur

1 Teratai – Putra II 4 2007 III 8 Bed Lama

Flamboyan –
2 II 3 2006 III 7 Bed Lama
Putri

10
3 Dahlia – Putri II 4 Bed Lama

4 Melati – Anak III 7 Bed Lama

5 Anggrek II 2 2004

6 Mawar I 7 2006

7 Bersalin II 4 2007 III 2 Bed Lama

Boks Bayi 2

33 17

Total TT 50 TT

Ruangan pelayanan yang tersedia :


 Ruang UGD : 1 ruang
 Ruang Pendaftaran : 2 ruang
 Ruang radiologi : 1 ruang
 Kamar operasi minor : 1 ruang
 BP umum : 2 ruang
 BP Gigi : 2 ruang
 BP spesialis mata : 1 ruang
 Ruang poli Kebidanan dan Kandungan : 2 ruang
 Ruang KIA/KB : 4 ruang
 Ruang Laboratorium : 1 ruang
 Ruang Pelayanan Obat : 1 ruang
 Gudang Obat : 2 ruang
 Ruang Dapur : 1 ruang
 Ruang Gizi : 1 ruang

11
2.3.2 Sarana Medis
a. Penunjang medis
2.3.2.1 Dental unit dan dental chair
: Dalam keadaan lengkap
2.3.2.2 Perlengkapan medik umum
:
 KIA set dan KB
 Poliklinik set
 IUD set
 Peralatan surgical
 Perlengkapan laboratorium
 Alat UGD obstetric dan neonatal
 Radiologi
 EKG
b. Sarana Obat
1. Obat yang tersedia dalam jumlah cukup, jenis terbatas dan dalam
keadaan baik.
2. Obat-obatan berasal dari obat DAU Kabupaten, DAU Propinsi, Askes.
3. Disamping itu ada dana obat dari APBD Kabupaten untuk suplemen.
c. Sarana Penunjang Lain :
 Mobil ambulance : 1 buah
 Mobil Pusling : 2 buah
 Sepeda motor : 5 buah
 Lemari es dan frezer : 5 buah
 Alat komunikasi radio medik, telepon, komputer dan alat-alat
penyuluhan.

12
2.4 Dana
Sumber pendanaan puskesmas berasal dari
a. Pendapatan puskesmas
 Retribusi dan biaya pelayanan / tindakan medis
 Lain-lain: parkir
b. Penerimaan
Dana puskesmas diperoleh dari:
 Dana dari APBD kabupaten untuk operasional meliputi gaji, sarana
dan prasarana aperatur serta sarana dan prasarana publik.
 Dana dari APBD kabupaten melalui Dinas Kesehatan untuk
pemeliharaan roda dua dan roda empat.
 Tahun 2006 terdapat dana dari (dana alokasi khusus) melalui Dinas.
 Kesehatan untuk rehab/ perbaikan kamar mandi, ruang jaga bangsal
putri, ruang jaga bangsal putra, ruang jaga bangsal bersalin sebesar
Rp 90.000.000,-
 Tahun 2006 terdapat dana dari APBD kabupaten dan INGUB (Instrusi
Gubernur) sebesar Rp 909.000.000,00 (APBD Rp 300.000.000,00 dan
INGUB Rp 618.250.000,00) untuk rehab dan perbaikan beberapa
ruangan dan penambahan ruangan baru.
 Dari dana JAMKESMAS dan dana dari pihak ketiga PT. Askes
2.5 Sarana Pelayanan Puskesmas
2.5.1 Terdapat enam program Kesehatan Dasar Puskesmas (upaya
kesehatan wajib) X, yaitu :
1. KIA dan KB
2. Gizi
3. Kesehatan lingkungan
4. P2M
5. Promosi kesehatan

13
6. Pengobatan
Terdapat tiga Program Kesehatan Pengembangan Puskesmas X, yaitu
1. Perawatan Kesehatan Masyarakat
2. Usaha Kesehatan Sekolah
3. Kesehatan Jiwa
2.5.2 Jaringan Pelayanan Puskesmas X
Dalam memenuhi tugas pokok tersebut, Puskesmas induk memiliki
jaringan sarana pelayanan yaitu :
1. Pustu (puskesmas pembantu), berjumlah 4, yaitu :
 Desa F : Rabu
 Desa B : Senin, kamis
 Desa G : Selasa, kamis, sabtu
 Desa D : Senin, kamis
2. Dukun bayi 27 orang (di semua desa kecuali desa H), dukun terlatih
24 orang
3. Polindes (pondok bersalin desa), berjumlah 2, yaitu :
 Desa G
 Desa J
4. PKD (poliklinik kesehatan desa), berjumlah 4, yaitu :
 Desa D
 Desa H
 Desa E
 Desa I
5. Posyandu 67 tempat, yaitu :
 Purnama : 23
 Mandiri : 44
6. UKS dan UKGS
7. Kader TB terlatih 20 orang, setiap desa memiliki 2 kader

14
2.5.3 Jenis Pelayanan Dalam Gedung
Jenis pelayanan di dalam gedung yang ada di Puskesmas X adalah :
1. BP (balai pengobatan)
2. KIA (kesehatan ibu dan anak)
3. Pengobatan gigi
4. Klinik gizi
5. UGD
6. Klinik sanitasi
7. Laboratorium

2.6 Data Sepuluh Besar Penyakit yang Terjadi di Puskesmas X


Tabel 6. Pola 10 Besar Penyakit Pasien Rawat Jalan Puskesmas X Bulan
Januari 2010 (Diagnose berdasar ICD-X).
No. Nama Penyakit Jumlah Penderita %
1. Infeksi Akut lain pada sal napas 376 15,89
bagian atas
2. Penyakit Pulpa & Jaringan Periapikal 239 10,10
3. Hipertensi Primer 183 7,73
4. Pusing 153 6,46
5. Gastritis 144 6,08
6. Arthritis tidak spesifik 144 6,08
7. Demam 116 4,90
8. Peny Kulit Infeksi Lain 91 3,84
9. Dermatitis Lain 86 3,63
10. Diare dan gastroenteritis non spesifik 77 3,25
11. Penyakit Lain 758 32,02
Total 2367 100
Sumber: SIMPUS Puskesmas X, 2010

15
BAB III
MASALAH KESEHATAN

3.1 Profil Kesehatan Masyarakat


3.1.1 Visi dan Misi Strategi Puskesmas
a. Visi
Visi merupakan gambaran yang ingin dicapai dimasa depan oleh
segenap komponen masyarakat melalui pembangunan kesehatan. Visi
puskesmas X adalah ”menjadi pusat pelayanan kesehatan yang bermutu,
terjangkau dan dipercaya sehingga terwujud masyarakat Xsehat tahun
2010”. Melalui visi ini pada tahun 2010 diharapkan masyarakat
kecamatan Xtelah mencapai tingkat kesehatan tertentu yang ditandai oleh
penduduknya yang hidup dalam lingkungan yang sehat, mempraktekan
perilaku hidup bersih dan sehat baik jasmani, rohani, maupun sosial,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata, serta mempunyai derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya.
b. Misi Strategi Puskesmas
1. Meningkatkan mutu pelayanan
2. Menjalin kemitraan dengan pelanggan dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan
3. Meningkatkan mutu dan profesionalisme SDM
4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan
5. Meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan puskesmas
6. Memelihara agar orang tetap sehat dengan membentuk lingkungan
yang sehat, dengan mengikutkan peran serta masyarakat dan
mendorong kemandirian untuk hidup sehat
7. Memberikan pelayanan rawat inap yang berkualitas pada masyarkat
setaraf dengan Rumah Sakit Tipe D

16
3.1.2 Batas wilayah
Utara : Kecamatan Y, Kabupaten Baringin.
Selatan : Kecamatan Z, Kabupaten Larasa dan Kecamatan V,
Kabupaten Jamuran
Barat : Wilayah kerja Puskesmas U.
Timur : Kecamatan W, Kabupaten Baringin.
3.1.3 Luas wilayah
Luas wilayah kerja Puskesmas X adalah 31,89 km2
3.1.4 Peta wilayah
Adapun peta wilayah kerja Puskesmas X Kecamatan X Kabupaten Baringin
seperti tersebut di bawah ini :

Gambar 3.1. Peta wilayah kerja Puskesmas X

17
3.1.5 Tenaga kerja
Tabel 3.1. Tenaga Kesehatan di Puskesmas X

No Kategori Tenaga Jumlah

1. Dokter umum 5

2. Dokter gigi 2

3. Bidan desa PNS / PTT 7/4

4. Bidan Puskesmas / bersalin 2/3

5. Perawat Kesehatan (AKPER/SPK) 16

6. Pembantu Perawat / SPPU 5/1

7. Perawat Gigi 2

8. Petugas Gizi Rawat Inap 2

9. Petugas Gizi Lap. THL 1

10. Sanitarian 1

11. Perawat THL 8

12. Pelaksana Laborat 3

13. Tenaga Farmasi (Apoteker/ Ass.Apt) 1/1

14. Pembantu Loket Obat 1

15. Pelaksana Loket Pendaftaran 3

16. Pelaksana Tata Usaha 4

18
17. Petugas Radiologi 1

18. Tenaga Dapur / THL/Kontrak 2 / 2/1

19. Pengemudi / THL 2/ 1

20. Tukang Kebun PNS / kontrak / wiyata bakti 1/2/1

21. Satpam PNS/Kontrak 4/2

22. Petugas Cuci THL 1

23. Cleaning Service 4

TOTAL 99

Sumber: Kepegawaian Puskesmas X, 2009

3.2 Identifikasi Masalah


Tabel 3.2 Data Standar Pelayanan Minimal Puskemas X Tahun 2009
Kegiatan pokok Indikator kerja Target Cakupan Pencapain
Dinkes (%) (%)
Kabupaten
Baringin
2010 (%)
1. KIA A. Pelayanan 1. cakupan kunjungan 98 113,6 115
kesehatan ibu bumil K1*
dan anak 2. cakupan kunjungan 95 80 84
bumil K4
3. Deteksi Kasus risiko ibu 100 204,3 204,3
hamil*
4. ibu hamil resti yang 100 100 100
ditangani (PONED)
5. Ibu hamil dengan 100 100 100
komplikasiyang ditangani
(PONED)
6. cakupan pertolongan 90 89 98,8
persalinan oleh tenaga kes
7. cakupan Kn1* 96 90 93,7
8.cakupan kunjungan 90 98,5 109,4
neonatus Kn2*

19
9. cakupan kunjungan 90 76 84
bayi
10. BBLR yg ditangani 100 100 100
11. neonatal resti yg 100 100 100
ada/ditemukan*
12. neonatal resti/ 80 100 125
komplikasi yg ditangani
(PONED)
13. PEMBINAAN
DUKUN BAYI
a. Jumlah dukun bayi yang 100 100 100
terlatih
b. Frekuensi 10x/th
pembinaandukun
B. Pelayanan 1. deteksi dini tumbuh 95 300 315
kesehatan anak kembang anak balita dan
pra sekolah dan pra sekolah
usia sekolah 2. cakupan pemeriksaan 100 300 300
kesehatan siswa SD &
setingkat oleh tenkes
atauterlatih/guru UKS /
dokter kecil*
3. cakupan pemeriksaan 80 300 375
kesehatan siwa TK, kelas
1 SLTP, SLTA dan
setingkat
4. cakupan pelayanan 80 300 375
kesehatan remaja
5. pembinaan TK Jumlah 100 300 300
TK yg dibina
C. Pelayanan jumlah seluruh peserta 80 71 88,8
keluarga aktiv
berencana
D. Pelayanan a. Jml posyandu pra usila 100 480 480
Usila dan usila yg ada *
b. Cakupan pelayanan pra 70 30 42,8
usila dan usila
2. GIZI a. Pemantauan dan
pertumbuhan balita
1. balita yg datang dan 89 82,9 103,6
ditimbang (D/S)
2. balita yg naik Bbnya 80 82,7 103,6
(N/D)
b. Cakupan bayi (6 bulan- 95 100 105,2
11 bulan) yg diberi kapsul

20
Vit A dosis tgi 1x/thn
c. Cakupan anak balita 95 100 105,2
(12-59 bulan) yg diberi
kapsul Vit A 2x/thn
d. Cakupan bumil yg 90 90,8 100,8
diberi 90 tab Fe
e. Balita BGM 1,5 1,5 100
f. Cakupan pemberian pmt 98 98 100
MPASI pd bayi BGM dan
gakin
g. Balita gizi buruk 100 100 100
mendapat perawatan
h. Desa dgn cakupan 90 90 100
keluarga bergaram
yodium baik*
i. Cakupan kapsul yodium 90 90 100
untuk WUS didaerah
endemis GAKI**
j. Kecamatan bebas rawn 80 100 112
gizi**
3. a. Institusi yg dibina 70 93,2 133,1
PELAYANAN b. Jml TTU yg diperiksa* 100 101,1 101,1
KESETAN c. TTU yg memenuhi 80 73,3 91,6
LINGKUNGAN syarat*
d. TP2PM yg diperiksa* 90 226,7 251,9
e. TP2PM yg memenuhi 74 41 54
sanitasi*
f. Rumah sehat 70 38,9 55,5
g. Penduduk yg 75 71 94,6
memanfaatkan jamban
h. Rumah yg mempunyai 65 59 90,7
SPAL
I. Rumah/bangunan bebas 100 89 89
jentik Aedes
4. P2M a. P2 Malaria a. Pengamatan penderita 5 6,2 124,8
(case detection): - jumlah
penderita yg diperiksa
sedian darahnya: -slide
ACD*
slide PCD* 2 2,92 146,7
Jumlah slide ACD & PCD <1 0
+ (dlm wilayah)
Strata: HCL >=5% MCI
1-5% LCI <1%

21
b. Penderita malaria 100
diobati
b. P2 TB Paru a. Cakupan suspek TB 80 54 67,5
paru
b. Penemuan kasus TB 70 30 42,8
BTA (+)(case detection
rate)
c. Angka konversi * 80 100 125
d. Angka kesembuhan 85 100 117
c. P2 ISPA cakupan balita dg 100 100 100
pneumonia yg
ditemukan/ditangani
(sesuai standar)
d. P2 Diare balita dgn diare yg 100 100 100
ditangani sesuai standar
e. P2 Kusta penderita kusta yg selesai 100 60 60
berobat (RFT rate)
f. Imunisasi jumlah bumil yg mendapat 98 104 106
TTI*
jumlah bumil yg mendapat 95 100,8 106
TT2*
jumlah bayi yg mendapat 100
imunisasi
a. BCGT* 95 104,6 110
b. DPT 1* 95 91 95,8
c. DPT 2* 95 98,9 104
d. POLIO 1* 95 74,5 78
e. POLIO 4* 95 76 80
f. Campak* 95 95,4 100
g. Hepatitis B1 (0-7 bln) 95 66 69
h. Hepatitis B1 total* 95 91 95
j. Hepatitis B28 95 99,8 105
k. Hepatitis B3* 95 98,9 104
g. PD DBD*** penderita DBD yg 100
ditangani sesuai standar
5. PROMKES A. Penyuluhan a. Rumah sehat tangga 65 52 80
kelompok dan b. Bayi yg dapat ASI 80 31 40
umum didalam eksklusif
dan luar gedung c. Desa dgn garam 90
peskesmas beriodium
d. Keluarga sadar gizi 80 70 87,5
(Kadarzi)
e. Pusyandu purnama 40 36 90

22
(indikator 2008)
f. Posyandu mandiri 60 55 91,6
(indikator 2008)
g. Jml kunjungan 100 100 100
posyandu ke seluruhnya
(y)*
frekuensi pembinaan 100 120 120
kadar terlatih (y/x)*
jumlah kader terlatih* 100 88 88
jumlah kader aktif* 80 85 106
B. Penyuluhan Penyuluhan P3 NAPZA* 100 105 105
dan pencegahan di sekolah
dan Penyuluhan HIV/ AIDS* 100 105 105
penanggulangan di sekolah
penyalahgunaan Penyuluhan NAPZA & 24 34,3 143
NAPZA HIV AIDS di sekolah
Klien yg mendapatkan
penanganan HIV-AIDS
Kasus IMS yg diobati 100 80 80
C. pembentukan dokter kecil 98 103,7 105
Perkembangan pembinaan dokter kecil* 100 51,7 51
sekolah sehat PSN di sekolah* 90 95,2 105
A. Jangkauan a. Jumlah kasus baru (x) 60 147,7 246
pengobatan b. Frekuensi 1,21 108 108
rawat jalan kunjungan:jml kasus
B+L+KK/B
c. BOR 60 68 114
d. LOS 4 4,07 100
e. Deteksi kasus baru dan 18 6,3 35
lama P2PTM
Hipertensi SKRT
1995:
83/1000
pddk
Jantung iskemik 3/1000
pddk
Stroke 2/1000
pddk
Gg Mental 5-14 thn 104/1000
pddk
Gg Mental >15 thn 140/1000
pddk
Kebutaan 1,47%

23
kecelakaan lalin 4,1/100000
Diabetes Melitus SKRT
1993:
1,6/1000
pddk
Neoplasma SKRT
1993:
0,5/1000
pddk
B. Pembinaan pembinaan tehnis yankes 50%
Rb/Bp/Swasta batra
pembinaan tehnis yankes 4x/thn
pembinaan apotik 1x/thn
sarkes dgn kemampuan 90%
gawat darurat

3.3 Identifikasi Masalah


Untuk mengidentifikasi masalah dapat menggunakan alat bantu MCUA
(Multiple Criterial Utility Assessment) dengan kriteria:
1. Emergency: kegawatan yang menimbulkan kesakitan atau kematian
2. Greetes member: menimpa orang banyak (insiden/prevalensi)
3. Expanding score: mempunyai ruang lingkup besar
4. Feasibility: kemungkinan dapat atau tidaknya dilaksanakan
5. Policy: kebijakan pemerintah daerah atau nasional
Tabel 3.3 MCUA (Multiple Criterial Utility Assessment)
1 2 3 4 5 6
NO Kriteria Bobot
N BN N BN N BN N BN N BN N BN

1 Emergency 5 11 55 10 50 9 45 7 35 8 40 6 30

2 Greatest member 4 10 40 11 44 12 48 4 16 7 28 6 24

3 Expanding scope 3 7 21 8 24 9 27 6 18 14 42 11 33

4 Feasibility 2 16 32 15 30 14 28 12 24 13 26 17 34

5 Policy 1 15 15 14 14 13 13 12 12 19 19 20 20

24
JUMLAH 163 162 161 105 155 141

7 8 9 10 11 12
NO Kriteria Bobot
N BN N BN N BN N BN N BN N BN
1 Emergency 5 13 65 19 95 20 100 15 75 18 90 17 85

2 Greatest member 4 5 20 13 52 18 72 19 76 14 56 15 60

3 Expanding scope 3 17 51 19 57 20 60 18 54 13 39 12 36

4 Feasibility 2 19 38 6 12 7 14 8 16 11 22 10 20

5 Policy 1 18 18 6 6 7 7 5 5 9 9 8 8

JUMLAH 192 222 253 226 216 209

13 14 15 16 17
NO Kriteria Bobot
N BN N BN N BN N BN N BN
1 Emergency
5 16 80 12 60 4 20 5 25 14 70
2 Greatest member
4 16 64 9 36 8 32 20 80 17 68
3 Expanding scope
3 15 45 10 30 4 12 5 15 16 48
4 Feasibility
2 9 18 18 36 4 8 20 40 5 10
5 Policy
1 10 10 11 11 17 17 16 16 4 4

JUMLAH 217 173 89 176 200

Keterangan identifikasi masalah

1 Cakupan kunjungan bumil K4


2 Cakupan kunjungan neonatus 1
3 Cakupan kunjungan bayi

25
4 Cakupan pelayanan pra usila dan usila
5 T2PM yang memenuhi syarat sanitasi
6 Rumah sehat
7 Rumah/Bangunan bebas jentik Aedes
8 Cakupan suspek tb paru
9 Penemuan kasus TB BTA(+) (Case Detection Rate)
10 Penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate)
11 Jumlah bayi yang mendapat imunisasi polio 1
12 Jumlah bayi yang mendapat imunisasi polio 4
13 Jumlah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis B1 (0-7hari)
14 Bayi yang dapat ASI eksklusif
15 Jumlah kader terlatih
16 Pembinaan dokter kecil
17 Kasus infeksi menular seksual yang diobati

3.4 Prioritas Masalah


Dari total skor tertinggi pada tabel 3.3 maka didapatkan 5 prioritas masalah:
1. Penemuan kasus TB BTA(+) (Case Detection Rate)
2. Penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate)
3. Cakupan suspek tb paru
4. Jumlah bayi yang mendapat imunisasi polio 4
5. Kasus infeksi menular seksual yang diobati

26
3.5 Analisis Penyebab Masalah
Metode yang digunakan adalah diagram sebab akibat dari ishikawa atau
tulang fish bone.

SES RENDAH MASYARAKAT


JUMLAH ANAK BANYAK
PENGOBATAN
PASIEN TIDAK DATANG
TRADISIONAL
KE PUSKESMAS SAAT
TIDAK ADA BIAYA KE TIMBUL GEJALA
PUSKESMAS
Asupan gizi
kurang KESADARAN
KURANG
PEKERJAAN BURUH TANI PeNDIDIKAN
RENDAH

Penemua
n kasus
TB BTA +

TARGET HARIAN KURANG


Rumah berdekatan
KADER
MEMUASKAN
TERLATIH
KURANG
Penyuluhan
tidak dilakukan RUMAH SEHAT
PETUGAS
TIDAK ADA DI
KURANG
Kontrol pasca LOKASI
pengobatan
Akses ke
puskesmas jauh
LINGKUNGAN
FASILITAS
PUSKESMAS

27
3.6 Alternatif Masalah
Dalam penentuan alternatif masalah dapat menggunakan alat bantu MCUA
(Multiple Criterial Utility Assessment) dengan kriteria:
1. Dapat memecahkan masalah dengan sempurna
2. Mudah dilaksanakan
3. Murah biayanya
4. Waktu penerapan sampai masalah terpecahkan tidak lama

Tabel 3.4 Alternatif Masalah


Masyarakat Lingkungan Dana Fasilitas Puskesmas
NO KRITERIA Bobot
N BN N BN N BN N BN
Dapat memecahkan masalah
1 4 4 16 3 12 2 8 5 20
dengan sempurna

2 Mudah dilaksanakan 3 5 15 4 12 2 6 3 9

3 Murah biayanya 2 4 8 5 10 2 4 3 6

4 Waktu pelakasanaannya singkat 1 5 5 4 4 2 2 3 3

JUMLAH 44 38 20 38

3.7 Rencana Pemecahan Masalah


Tabel 3.5 Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
No Rencana Volume
Keputusan Target Biaya Keterangan
kegiatan kegiatan
Penyuluha
1. Penyuluhan Masyarakat 2x dalam Rp. -
n untuk Tb paru wilayah setahun 5.800.000
informasi kerja
tentang Tb puskesmas
paru X

28
BAB IV

METODE PELAKSANAAN

4.1 Metode Pelaksanaan


Penyuluhan dilakukan dengan metode dua arah yaitu penyampaian teori dan
pembagian brosur TBC yang diikuti kegiatan tanya jawab. Penyampaian materi
akan dilakukan oleh dokter dari puskesmas dan didampingi oleh perangkat desa.
Dengan memberikan materi yang mudah di mengerti dan menggunakan bahasa
yang mudah dicerna oleh masyarakat. Kami menggunakan motode pendekatan
dengan sasaran agar lebih dapat mengetahui masalah apa yang ada pada sasaran
dan sasaran lebih nyaman pada saat kami memberikan penyuluhan. Brosur TBC
yang kami buat dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan mudah dibaca oleh
sasaran dan kami pun menyertai gambar agar sasaran lebih dapat memahami
tentang TBC tersebut.

4.2 Rencana Waktu dan Tempat Pelaksanaaan


Hari/Tanggal : Sabtu, 28 April 2018
Waktu : Jam 09.00 WITA
Tempat : Balai desa X
Peserta : Masyarakat desa x

4.3 Visi
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan TBC serta menanamkan pada
masyarakat perilaku yang dapat mencegah penularan TBC paru.

4.4 Misi
a. Menyelenggarakan penyuluhan TB dengan singkat pada dan jelas sehingga
masyarakat mudah memahami materi yang disampaikan.

29
b. Menyelenggarakan penyuluhan TB dengan memberikan brosur mengenai TB
agar masyarakat dapat membaca kembali dirumah.

4.5 Satuan Acara Penyuluhan (SAP) TBC


Tema : Promosi Kesehatan
Topik : TBC
Sub Topik : Pencegahan TBC
Sasaran : Masyarakat.
Hari/Tanggal : Sabtu, 28 April 2018
Jam : 09.00 WITA
Waktu : 60 menit
Tempat : Balai desa x

A. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan mahasiswa dapat
menjelaskan kembali :
1. Pengertian TBC
2. Proses penularan TBC
3. Gejala – gejala TBC
4. Pencegahan TBC
5. Pengobatan TBC

B. Materi Penyuluhan
Terlampir

C. Metode Pelaksanaan
Strategi yang digunakan dalam penyampaian penyuluhan ini berupa
1. Sosialisasi
2. Tanya Jawab

30
3. Doorprize

D. Rencana Proses Pelaksanaan


NO Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 10 Menit Pembukaan :
 Memberi Salam  Menjawab Salam
P Pembacaan kalam ilahi  Mendengarkan dan
 Menjelaskan tujuan Memperhatikan
penyuluhan
 Menyebutkan materi/pokok
bahasan yang akan
disampaikan
2 20 Menit Pelaksanaan :
 Menjelaskan materi  Menyimak dan
penyuluhan secara berurutan memperhatikan
dan teratur
Materi :
1. Pengertian TBC  Menyimak dan
2. Gejala – gejala TBC memperhatikan
3. Proses penularan TBC
4. Pencegahan TBC
5. Pengobatan TBC
3 15 Menit Evaluasi :
 Meminta sasaran menjelaskan  Bertanya dan
atau menyebutkan kembali : menjawab pertanyaan
1. Pengertian TBC
2. Gejala – gejala TBC
3. Cara pencegahan TBC
 Memberikan pujian atas
keberhasilan sasaran menjawab
pertanyaan
4 15 Menit Penutup :
Sesi doorprize dan pemberian  Mendapat kesempatan
hadiah untuk mendapatkan
 Mengucapkan terimakasih dan doorprize
mengucapkan salam Menjawab salam

31
E. Media Penyuluhan
Media Penyuluhan yang digunakan:
1. Materi SAP
2. Brosur

F. Metode Evaluasi
1. Metode Evaluasi : Tanya jawab
2. Jenis Evaluasi : Lisan

G. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Persiapan Media
Media yang digunakan dalam penyuluhan semua lengkap dan dapat
digunakan dalam penyuluhan yaitu :
 Materi SAP
 Brosur
b. Persiapan Materi
Materi disiapkan dalam bentuk slide show dan brosur dengan ringkas,
menarik, lengkap mudah di mengerti oleh peserta penyuluhan.
c. Persiapan Peserta
Penyuluhan mengenai TBC diberikan kepada seluruh masyarakat yang
telah diberitahukan sebelumnya.
2. Evaluasi Proses
a. Proses penyuluhan dapat berlangsung dengan lancar dan masyarakat
memahami materi penyuluhan yang diberikan.
b. Masyarakat memperhatikan materi yang diberikan.
c. Selama proses penyuluhan terjadi interaksi antara penyuluh dengan
masyarakat.

32
d. Kehadiran masyarakat diharapkan 80% dan tidak ada masyarakat yang
meninggalkan tempat penyuluhan selama kegiatan berlangsung.
3. Evaluasi Hasil
a. Masyarakat mampu menjelaskan dan memahami pengertian TBC.
b. Masyarakat memahami dan mengetahui bagaimana gejala – gejala
yang ditimbulkan dari penyakit TBC
c. Masyarakat mengetahui dan memahami bagaimana proses penularan
TBC.
d. Masyarakat mengetahui dan memahami cara pencegahan penyakit
TBC
e. Masyarakat mengetahui pengobatan yang tepat dan benar terhadap
penyakit TBC.

33
4.6 Rencana Anggaran Belanja Promosi Kesehatan TBC

No. Kebutuhan Jumlah Biaya


1. Mike & sounds 1 set Rp 150.000,00
2. Spanduk 1 buah Rp 100.000,00
3. LCD & proyektor 1 set Rp 100.000,00
4. Cok rol 2 buah Rp 50.000,00
5. Brosur materi 50 lembar Rp 250.000,00
6. Sewa Terop + kursi 1 terop + 60 kursi Rp 750.000,00
7. Makanan snack 60 kotak Rp 300.000,00
8. Kits seminar 50 set Rp 500.000,00
9. Transportasi kader 2 kali (pulang – Rp 100.000,00
puskesmas pergi)
10. Hadiah door prize
a. Sabun Lifeboy 10 buah Rp 50.000,00
b. Pasta gigi pepsodent 10 buah Rp 100.000,00
c. Shampoo 10 buah Rp 100.000,00
d. Gula 10 kg Rp 150.000,00
e. Downy 10buah Rp 100.000,00
f. Sunlight 10 buah Rp 100.000,00
Total Biaya Rp 2.900.000,00

34
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Jadi, kami dari pihak petugas puskesmas berupaya mencegah terjadinya
penularan TB dengan cara salah satunya, penyuluhan. Kami perkirakan persentase
keberhasilannya mencapai >90% jika penyuluhan yang dilakukan optimal.
Penyuluhan dikatakan optimal apabila tercapainya perubahan perilaku individu,
keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku hidup sehat
dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal, terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik,
mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian,
menurut WHO tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk merubah perilaku
perseorangan dan masyarakat dalam bidang kesehatan.

5.2 Saran
Saran yang perlu untuk disampaikan diantaranya sebagai berikut :
4.6.1 Pencegahan penularan dengan meminta warga kontak dekat dengan pasien TB
untuk segera diperiksakan kerumah sakit.
4.6.2 Edukasi mengenai pentingnya berobat teratur dapat diberikan untuk pasien
dan keluarga pasien
4.6.3 Untuk penelitian yang lebih baik diharapkan data yang ada adalah data dengan
pemeriksaan lengkap.

35
DAFTAR PUSTAKA

Anton, M., & Thomas, A. 2008.Influence of Multidrug Resistance on Tuberculosis


Treatment Outcomes with Standardized Regimens.American Journal of
Respiratoryand Critical Care Medicine, vol. 178, no.3, pp.306-312
Christian, W., Gomes, V.F. Rabna, P., Gustafson, P., Aaby, P., Lisse, I.M, Andersen,
P.L., Glerup, H. & Sodemann, M. 2009.‘Vitamin D as Supplementary
Treatment for Tuberculosis’.American Journal of Respiratory and Critical
Care Medicine.Vol.179, no.9, pp. 843-850.
Randy, A.N. 2011.‘Study Kualitatif Faktor yang Melatarbelakangi Drop Out
PengobatanTuberkolosis Paru’. Jurnal Kemas, vol. 7, no. 1, pp.83-90
Salim, S., Abdool, Karim, M.B. 2010.‘Timing of Initiation of Antiretroviral Drugs
duringTuberculosis Therapy’.N Engl J Med, 362:697-706
Storla, D.G, 2008,‘A systematic review of delay in the diagnosis and treatment of
tuberculosis’. BMC Public Health,8:15.
Talu, U.MD. 2006.’ The Role of Posterior Instrumentation and Fusion Aft er
AnteriorRadical Debridement and Fusion in the Surgical Treatment of Spinal
Tuberculosis: Experience of 127 Cases’ .Journal of SpinalDisorders &
Techniques, vol. 19, no.8, pp.554-559
WHO.2013. WHO Report 2013-Global Tuberculosis Control.diakses tanggal 19
Maret 2018<www.who.int/tb/data>

36