Anda di halaman 1dari 20

Kelas : Trematoda

Subkelas : Digenea
Ordo : Strigeidida
Genus : Schistosoma
Spesies : Schistosoma joponicum

a. Hospes dan nama penyakit


Hospes utama pada Schistosoma joponicum ini adalah manusia dan

beberapa jenis hewan seperti tikus, babi hutan, sapi dan anjing hutan. Hospes

perantara dari cacing ini adalah keong air. Habitat keong air yang berada di danau,

ladang, dan sawah yang tidak terpakai lagi, parit diantara sawah dan didaerah hutan

perbatasan bukit serta didaerah dataran rendah.


Manusia merupakan hospes definitive dari Schistosoma joponicum

sedangkan babi, anjing, sapi, kucing dan rodensia merupakan hospes reservoir.

Hospes ini memerlukan hospes perantara seperti siput air tawar.


Parasite ini menyebabkan penyakit yaitu Oriental schistomiasis,

Schistosomiasi japonica dan penyakit Katayama atau demam keong.

b. Morfologi

Cacing dewasa menyerupai Schistosoma mansoni dan Schistosoma

haemotobium. Namun pada Schistosoma joponicum tidak memiliki integumentary

tuberculation.

Cacing jantan memiliki panjang 12-20 mm, diameter 0,5-0,55 mm,

integument ditutupi dengan duri-duri yang sangat halus dan lancip, lebih menonjol

pada daerah batil isap dan kanalis ginekoporik, memiliki 6-8 buah testis.

5
Gambar 1. Morfologi Schistosoma joponicum
Cacing betina memilik panjang ± 26mm dan dengan diameter ± 0,3mm.

letak ovarium yaitu pada pertengahan tubuh, kelenjar vitellaria terbatas didaerah

lateral ¼ bagian posterior tubuh. Uterus merupakan saluran yang panjang dan berisi

50-100 butir telur.


Telurnya memiliki lapisan hialin, subsperis atau oval jika dilihat dari lateral,

dekat salah satu kutub terdapat daerah melekuk tempat tumbuh semacam duri

rudimenter (tombol); berukuran (70-100) x (50-65) m. telur cacing ini diletakkan

dengan memusatkan pada vena kecil pada submukosa maupun mukosa organ yang

berdekatan. Tempat telur Schistosoma joponicum biasa ada percabangan vena

mesenterika superior yang mengalirkan darah dari usus halus.


Telur-telur jenis Schistosoma joponicum lebih besar dan lebih bulat

dibanding dengan jenis lainnya, berukuran 70-100 mm dan lebarnya 55-64 mm.

Kerangka di telur Shistosoma joponicum lebih kecil dan kurang mencolok jika

dibandingkan dengan spesies lainnya.

6
Gambar 2. Telur Schistosoma joponicum
c. Distribusi geografi
Cacing Schistosoma joponicum ditemukan di Asia terutama di Cina, Filipina,

Jepang. Sedangkan di Indonesia dapat ditemukan di beberapa lembah yang terisolasi

di Sulawesi Tengah.

d. Siklus hidup

7
Gambar 3. Siklus hidup Schistosoma joponicum
Schistosoma hidup terutama didalam vena mesenterika superior, dimana

tempat ini cacing betina akan menonjolkan tubuhnya dari yang jantan atau
meninggalkan yang jantan untuk bertelur didalam venula-venula mesenterika kecil

pada dinding usus. Telur berbentuk oval hingga bulat dan memerlukan waktu

beberapa hari untuk berkembang menjadi mirasidium matang didalam kerangka telur.

Massa telur menyebabkan adanya penekanan pada dinding venula yang tipis, yang

biasanya dilemahkan oleh sekresi dari kelenjar histolitik mirasidium yang masih

berada didalam kulit telur. Dinding itu kemudian sobek, dan telur menembus lumen

usus yang kemudian keluar dari tubuh. Pada infeksi berat, beribu-ribu cacing

ditemukan pada pembuluh darah.

8
Selanjutnya jika kontak dengan siput sesuai, larva menembus jaringan lunak

dalam 5-7 minggu, membentuk generasi pertama dan kedua dari sporokista. Pada

perkembangan selanjutnya dibetuk serkaria yang bercabang. Serkaria ini dikeluarkan

jika siput berada pada atau dibawah permukaan air. Dalam waktu 24 jam, serkaria

menembus kulit. Tertembusnya kulit ini sebagai hasil kerja dari kelenjar penetrasi

yang menghasilkan enzim proteolitik, menuju aliran kapiler, ke dalam sirkulasi vena

menuju jantung kanan dan paru-paru, terbawa sampai ke jantung kiri menuju sirkulasi

sistemik. Tidak sepenuhnya rute perjalanan ini diambil oleh Schistosoma muda pada

migrasi mereka dari paru-paru ke hati. Schistosoma merayap melawan aliran darah

sepanjang arteri pulmonalis, jantung kanan dan vena cava menuju kehati melalui vena

hepatica. Infeksi dapat berlangsung dalam jangka waktu yang tidak terbatas.
Menetasnya telur berlangsung didalam air walaupun dipengaruhi kadar

garam, pH, suhu dan aspek penting lainnya. Migrasi Schistosoma joponicum dimulai

dari masuknya cacing tersebut kedalam pembuluh darah kecil, kemudian ke jantung

dan sistem peredaran darah. Cacing yang sedang bermigrasi jarang menimbulkan

kerusakan atau gejala, tetapi kadang menimbulkan reaksi hebat pada tubuh penderita.

e. Epidemologi
Schistosoma joponicum merupakan salah satu dari trematoda darah pada

manusia yang ditemukan di daerah Cina yang mana merupakan penyebab

Schistomiasis japonica yang merupakan salah satu penyakit yang terutama terjadi

didaerah danau dan rawa. Schistomiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh

cacing Schistosoma sp. Schistosoma joponium memiliki sifat yang paling menular

9
diantara spesies Schistosoma lainnya. Infeksi oleh cacing Schistosoma diikuti demam

Katayama akut. Penyakit ini sangat endemik didaerah Katayama, Jepang.

Gambar 4. Epidemologi Schistosoma joponicum


Apabila tidak diobati, maka penyakit ini akan berkembang menjadi penyakit

kronis yang ditandai dengan penyakit hepatosclemic dan perkembangan fisik yang

terganggu. Tingkat keparahan dari Schistosoma joponicum muncul dalam 60% dari

semua peyakit syaraf karena migrasi telur ke otak.


Strain bersifat geographical. Di Indonesia, khususnya di pulau Sulawesi,

dengan keadaan endemik tinggi terdapat didaerah danau Lundu. Pada tahun 1971, dari

pemeriksaan tinja didapatkan infeksi schistosoma joponicum sebanyak 53% dari 126

penduduk pada usia antara 7-70 tahun.

f. Patologi dan gejala klinis


Setelah parasit memasuki tubuh inang dan memproduksi telur, parasit

menggunakan system kekebalan inang (granuloma) untuk transportasi telur ke dalam

usus. Telur merangsang pembentukan granuloma disekitar mereka. Granuloma yang

terdiri dari sel motil membawa telur kedalam lumen usus. Ketika didalam lumen, sel

10
granuloma meninggalkan telur untuk dibuang dalam feses. Sayangnya sekitar 2/3 dari

telur tidak dikeluarkan, sebaliknya mereka berkembang diusus. Hal ini dapat

menyebabkan terjadinya fibrosis. Pada kasus yang kronis, Schistosoma joponicum

merupakan pathogen dari sebagian besar spesies schistosoma yang menghasilkan

3000 telur per hari diamana jumlah telur yang dikeluarkan ini sepuluh kali lebih besar

dari schistosoma mansoni.


Sebagai penyakit kronis, parasit ini dapat menyebabkan demam katayama,

fibrosis hati, sirosis hati, hipertensi hati portal, spinomegali dan ascites. Beberapa telur

mungkin masuk ke dalam paru-paru, system syaraf dan organ lain dimana mereka

dapat mempengaruhi kesehatan individu yang terinfeksi.

g. Diagnosis
Identifikasi telur dalam feses atau urin merupakan metode yang paling

praktis untuk diagnosis. Pemeriksaan feses harus dilakukan ketika orang tersebut

dicurigai terinfeksi Schistosoma mansoni ataupun Shistosoma joponicum dan

pemeriksaan urin dilakukan bila ada kecurigaan terinfeki Schistosoma haemotobium.

Feses dapat mengandung telur dari semua spesies Schistosoma.


Pemeriksaan dapat dilakukan pada pap sederhana (pap untuk 1 sampai 2 mg

feses). Telur dapat ditularkan dalam jumlah yag sangat kecil. Dimana pendeteksian

akan ditingkatkan dengan pemeriksaan ulang atau melakukan prosedur konsentrasi

(seperti formalin – teknik etil asetat). Selain itu, untuk melakukan survei dilapangan,

volume pengeluaran telur dapat diukur dengan metode Kato-Katz yang mana

memerlukan 20-50 mg feses. Telur dapat ditemukan dalam urin yang terinfeksi

Schistosoma haemotobium (waktu yang disarankan untuk pengumpulan urin yaitu

11
pada waktu siang hari maupun sore hari). Selain itu, diperlukan adanya tindakan

setrifugasi untuk melakukan pemeriksaan sedimen.


Ukuran telur Schistosoma yang kecil, memerlukan adanya diagnosa teknik.

Dimana sebagian besar diperlukan untuk menguji Schistomiasis kronis tanpa telur.
Tes dengan metode ELISA dapat juga dilakukan untuk menguji antibodi

spesifik untuk Schistosoma. Hasil positif menunjukkan infeksi saat ini atau terakhir

(dalam dua tahun terakhir). Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dapat dilakukan untuk

menilai sejauh mana morbiditas hati dan limfa terkait.

h. Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan prazikuantel. Selain itu

dapat juga digunakan natrium antimony tartrat. Obat lainnya tidak memberikan hasil

yang memuaskan karena sebenarnya tidak ada obat khusus untuk parasit ini. Obat-

obat tersebut akan menyebabkan cacing dewasa terlepas dari pembuluh darah,

sehingga akan tersapu kedalam hati oleh sirkulasi portal.

i. Pencegahan
Kontrol infeksi Schistosoma joponicum memerlukan beberapa upaya

pencegahan penting yang terdiri dari pendidikan, menghilangkan penyakit dari orang

yang terinfeksi, pengendalian vektor dan memberikan vaksin pelindung.


Pendidikan dapat menjadi cara yang sangat efektif, tetapi sulit dengan

kurangnya sumber daya. Dilakukan juga untuk meminta orang untuk mengubah

kebiasaan, tradisi dan prilaku dapat menjadi tugas yang sulit.


Kotoran manusia harus dibuang secara hieginis. Kotoran manusia didalam

air bila dibertemu dengan hospes intermediet berupa siput Oncomelania merupakan

penyebab utama untuk kelangsungan hidup cacing Schistosoma. Maka sisa kotoran

manusia tidak boleh digunakan untuk nightsoiling (pemupukan tanaman dengan


12
kotoran manusia). Untuk menghindari infeksi, individu harus menghindari kontak

dengan air yang terkontaminasi oleh kotoran manusia maupun hewan.


Sesaat sebelum masuk kedaerah air yang berpotensi terinfeksi, salep

Cercaricial dapat dioleskan pada kulit. Barrier krim dengan basis dimenthicone

disarankan untuk perlindungan tinggi selama minimal 48 jam.

2) Schistosoma mansoni
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Subkelas : Digenea
Ordo : Strigeidida
Genus : Schistosoma
Spesies : Schistosoma mansoni

b. Hospes dan nama penyakit

Hospes definitifnya adalah manusia, sedangkan hospes reservoirnya

adalah kera, Baboon dan hewan pengerat. Hospes perantaranya adalah keong air tawar

genus Biomphalaria sp. dan Australorbis sp.. Habitat cacing ini adalah vena kolon

dan rectum. Pada manusia cacing ini dapat menyebabkan Skistosomiasis usus, Disentri

mansoni dan Skistosomiasis mansoni

c. Morfologi

Bentuk cacing dewasa seperti Schistosoma haematobium, tetapi

ukurannya lebih kecil. Cacing betina panjangnya 1.7 – 7.2 mm. Kelenjar vitelaria

meluas ke pinggir pertengahan tubuh. Ovariumnya di anterior pertengahan tubuh,

13
uterus pendek berisi 1 – 4 butir telur. Cacing jantan panjangnya 6.4 – 12 mm, gemuk

dengan bagian ventral terdapat ginaekoforalis, testes 6– 9 buah dan kulit terdiri dari

duri-duri kasar. Telur berbentuk lonjong, berwarna coklat kekuning-kuningan, dinding

hyalin, berukuran 114 - 175 x 45 – 64 mikron. Pada satu sisi dekat ujung terdapat duri

agak panjang, telur berisi mirasidium.

Gambar 5. Morfologi dan telur Schistosoma mansoni

d. Distribusi geografi

14
Parasit Schistosoma mansoni ditemukan di banyak Negara di Afrika,

Amerika Selatan (Brasil, Suriname dan Venezuela), Karibia (termasuk Puerto Rico, St

Lucia, Guadeloupe, Martinique, Republik Dominika, Antigua dan Montserat) dan di

bagian Timur Tengah.

e. Siklus hidup

Gambar 6. Siklus hidup Schistosoma mansoni


Manusia terinfeksi oleh serkaria di air tawar melalui penetrasi pada kulit.

Serkaria masuk tubuh melalui sirkulasi vena ke jantung, paru-paru dan

sirkulasi portal. Setelah tiga minggu serkaria matang dan mencapai vena mesenterika

superior usus halus lalu tinggal disana serta berkembang biak. Telur yang dikeluarkan

15
oleh cacing betina di dalam usus menembus jaringan sub mukosa dan mukosa lalu

masuk kedalam lumen usus dan keluar bersama tinja. Telur yang berada di air tawar

menetas dan melepaskan mirasidium yang kemudian berenang bebas mencari hospes

perantaranya yaitu keong. Dalam tubuh keong mirasidium berkembang menjadi

sporokista 1 dan 2 kemudian menjadi larva serkaria yang ekornya bercabang. Serkaria

selanjutnya akan mencari hospes definitif dalam waktu 24 jam.

f. Epidemologi

Parasit Schistosoma mansoni ditemukan di banyak Negara di Afrika,

Amerika Selatan (Brasil, Suriname dan Venezuela), Karibia (termasuk Puerto Rico, St

Lucia, Guadeloupe, Martinique, Republik Dominika, Antigua dan Montserat) dan di

bagian Timur Tengah. Host definitifnya adalah manusia, sedangkan hospes

reservoirnya adalah kera Baboon dan hewan pengerat. Hospes perantaranya adalah

keong air tawar genus Biomphalaria sp. dan Australorbis sp. Habitat cacing ini adalah

vena kolon dan rektum.Pada manusia cacing ini dapat menyebabkan Skistosomiasis

usus, Disentri mansoni dan Skistosomiasis mansoni.

g. Patologi dan gejala klinis

Patologi yang berhubungan dengan infeksi dengan Schistosma mansoni

dapat dibagi menjadi dua bidang utama, yaitu schistosomiasis akut dan kronis.

Schistomiasis biasa disebut sebagai demam katayama.

Hal ini terkait dengan timbulnya parasite betina bertelur (sekitar 5 minggu setelah

16
infeksi), dan pembentukan granuloma sekitar telur terdapat di hati dan dinding

usus ,menyerupai hepatosplenomegali dan leukositosis dengan eosinofilia, mual, sakit

kepala, batuk, dalam kasus yang ekstrim diare disertai dengan darah, lendir dan bahan

nekrotik. Gejala kronis akan tampak beberapa tahun setelah infeksi. Gejalanya seperti

peradangan pada hati dan jarang ditemukan di organ lain (paru-paru).

h. Diagnosis

Gambar 7. Schistosoma mansoni dalam kolon


Diagnosis dapat ditentukan dengan menemukan telur didalam tinja.

Beberapa cara untuk dilakukan seperti sediaan hapus langsung dari tinja (metode

Kato) maupun dengan cara sedimentasi (0,5 % gliserin dalam air). Bila dalam tinja

tidak ditemukan telur diagnosis dapat dilakukan dengan tes serologi, sedangkan untuk

menemukan telur yang masih segar dalam hati dan usus dapat dilakukan dengan

teknik digesti jaringan.

i. Pengobatan

17
Natrium antimonium tartrat cukup efektif untuk pengobatan penyakit

yang diakibatkan oleh parasit ini. Stiboven dapat diberikan secara intramuskuler.

Nitridiasol juga efektif tetapi bukan sebagai obat pilihan. Obat lain yang cukup baik

diberikan peroral adalah oksamniquin dan nitrioquinolin.

j. Pencegahan
Pengendalian Schistosomiasis, dengan mengontrol setiap organisme yang

memungkinkan untuk menularkan cacing. Hal ini bertujuan untuk mencegah infeksi

baru, biasanya oleh gangguan siklus hidup parasit. Pencegahan dan pengendalian

dapat dicapai dengan sejumlah metode seperti berusaha untuk menghilangkan hospes

perantara, penghapusan parasit dari hospes definitif, pencegahan infeksi pada inang

definitif dan pencegahan infeksi pada hospes perantara.

3) Schistosoma haemotobium
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Subkelas : Digenea
Ordo : Strigeidida
Genus : Schistosoma
Spesies : Schistosoma haematobium

b. Hospes dan nama penyakit


Hospes definitif dari cacing ini adalah manusia, kera dan baboon.

Hospes perantaranya adalah keong air tawar bergenus Bulinus sp, Physopsis sp, dan

Biomphalaria sp. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah skistosomiasis

vesikalis, hematuriskistosoma, bilharziasis urinarius. Cacing ini tidak ditemukan di

Indonesia.

18
c. Morfologi
Cacing dewasa jantan gemuk berukuran 10-15 x 0,8-1 mm. Ditutupi

integumen tuberkulasi kecil, memiliki dua batil isap berotot, yang ventral lebih besar.

Di sebelah belakang batil isap ventral, melipat ke arah ventral sampai ekstremitas

kaudal, membentuk kanalis ginekoporik. Di belakang batil isap ventral terdapat 4-5

buah testis besar. Porus genitalis tepat di bawah batil isap ventral. Cacing betina

panjang silindris, ukuran 20x0,25 mm. Batil isap kecil, ovarium terletak posterior dari

pertengahan tubuh. Uterus panjang, sekitar 20-30 telur berkembang pada saat dalam

uterus. Kerusakan dinding pembuluh darah oleh telur mungkin disebabkan oleh

tekanan dalam venule, tertusuk oleh duri telur dan mungkin karena zat lisis yang

keluar melalui pori kulit telur sehingga telur dapat merusak dan menembus dinding

pembuluh darah.

19
Gambar 8. Morfologi Schistosoma haemotobium

d. Distribusi geografi
Distribusi Schistosoma haematobium ini sebagian besar diSub-Sahara, di

lembah Sungai Nil, Afrika, Negara utara lainnya, dandi Timur Tengah.

20
Gambar 9. Distribusi geografi Schistosoma haemotobium

e. Siklus hidup

Gambar 10. Siklus hidup Schistosoma haemotobium

Orang yang terinfeksi buang air kecil atau buang air besar di air, air

kencing atau kotoran mengandung telur cacing. Telur cacing menetas dan cacing

21
pindah ke keong, cacing muda pindah dari keong ke manusia. Dengan demikian, orang yang

mencuci atau berenang di air di mana orang yang terinfeksi pernah buang air kecil atau

buang air besar, maka ia akan terinfeksi. Cacing atau serkaria (bentuk infektif dari

Schistosoma haematobium) menginfeksi dengan cara menembus kulit pada waktu

manusia masuk kedalam air yangmengandung serkaria. Waktu yang diperlukan untuk

infeksi adalah 5-10 menit. Setelah serkaria menembus kulit, larva ini kemudian masuk

ke dalam kapiler darah, mengalir dengan aliran darah masuk ke jantung kanan, lalu

paru dan kembali ke jantung kiri, kemudian masuk ke system peredaran darah besar,

ke cabang-cabang vena portae dan menjadi dewasa di hati. Setelah dewasa, cacing ini

kembali ke vena portae dan vena usus atau vena kandung kemih dan kemudian betina

bertelur setelah berkopulasi. Cacing betina meletakkan telur di pembuluh darah. Telur

dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaringan dan akhirnya

masuk ke lumen usus atau kendung kemih untuk kemudian ditemukan di dalam tinja

atau urine. Telur menetas di dalam air, dan larva yang keluar disebut mirasidium.

Mirasidium ini kemudian masuk ke tubuh keong air dan berkembang menjadi

serkaria.

f. Epidemologi
Schistosoma haematobium ini merupakan trematoda darah vesicalis yang

dapat menimbulkan schistomiasis vescicalis, schitosomoasis haematobia, vesical atau

urinary bilharziasis, schitosomal hematuria. Infeksi Schistosoma haematobium sering

22
terjadi dilembah hulu Sungai Nil, meliputi bagian besar Afrika termasuk kepulauan di

pantai Timur Afrika, ujung Selatan Eropa, Asia Barat dan India.

g. Patologi dan gejala klinis

Setelah kontak dengan kulit manusia, serkaria masuk kedalam

pembuluh darah kulit. Lebih kurang 5 hari setelah infeksi, cacing muda mulai

menjangkau vena portae dan hati. Kira-kira tiga minggu setelah infeksi pematangan

cacing dimulai sejak keluarnya dari vena portae. Setelah infeksi 10-12 minggu, cacing

betina mulai meletakan telur pada venule. Efek pathogen terdiri atas:

 Reaksi lokal dan umum terhadap metabolit cacing yang sedang

tumbuh dan matang

 Trauma dengan perdarahan akibat telur keluar dari venule.

 Pembentukan pseudoabses dan pseudotuberkel mengelilingi telur

terbatas pada jaringan perivaskuler

Penyakit ini seringkali tidak memperlihatkan tanda-tanda awal. Di

beberapa tempat tanda-tanda umum yang sering terliha tadalah adanya darah di dalam

air kencing atau kotoran. Pada wanita, tanda ini bisa juga disebabkan oleh adanya luka
pada alat kelaminnya. Di daerah di mana penyakit ini banyak terjadi, orangyang

memperlihatkan sekedar gejala-gejala yang tidak parah atau hanya sekedar sakit perut

saja, patut diperiksa.


h. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau

jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu

menegakkan diagnosis. Reaksi serologi dapat dipakai adalah COPT (Circumoval


23
precipitin test), IHT (Indirect Haemagglutation test), CFT (Complement fixationtest),

FAT (Fluorescent antibody test) dan ELISA (Enzyme linkedimmuno sorbent assay).

i. Pengobatan
Obat yang biasa digunakan adalah Metrifonate, organoposforus

cholinesterase inhibitor. Dosisnya 5-15 mg/ kg berat badan diberikan dengan interval

2 minggu.

j. Pencegahan
Penyakit cacing dalam darah tidak ditularkan secara langsung dari

satu ke orang lain. Sebagian hidup cacing harus dihabiskan dengan hidup di dalam

keong air jenis tertentu. Program masyarakat dapat diadakan untuk membasmi keong-

keong tersebut pada lingkungan pemukiman agar mencegah penularan penyakit

cacing pada manusia.

Cara menghindari penyebab penyakit ini antara lain:

 Menghindari kencing atau buang air besar di dalam air atau dekat sumber air.

 Hindari berenang di dalam air kotor.

 Gunakan perlindungan kaki saat memasuki air, misalnya menggunakan seoatu

boot

24