Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

H DENGAN DIAGNOSA MEDIS


PTERIGYUM SINISTRA DI IBS-OK BLUD
RSUD dr. DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA

OLEH:

ISNA WIRANTI
NIM 2012.C.03b.0035

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN EKA HARAP


PALANGKA RAYA
2015
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS
PTERIGYUM SINISTRA DI IBS-OK BLUD
RSUD dr. DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Pada Pendidikan Profesi Ners


Stase Keperawatan Medikal Bedah

OLEH:

ISNA WIRANTI
NIM 2012.C.03b.0035

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN EKA HARAP


PALANGKA RAYA
2015

ii
PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Isna Wiranti
NIM : 2012.C.03B.0035
Program Studi : S1 Keperawatan Ners
Judul asuhan : Asuhan Keperawatan Pada Tn. H dengan Diagnosa Medis
keperawatan Pterigyum Sinistra di OK BLUD RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa asuhan keperawatan ini merupakan


hasil karya saya sendiri dan bukan plagiat. Begitu pula hal yang terkait di
dalamnya baik mengenai isinya, sumber yang dikutip atau dirujuk, maupun teknik
di dalam pembuatan dan penyusunan laporan ini.

Pernyataan ini akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya, apabila di kemudian


hari terbukti bahwa asuhan keperawatan ini bukan hasil kara saya atau plagiat,
maka saya bersedia menerima sanksi atau perbuatan tersebut berdasarkan
peraturan yang berlaku.

Dibuat di : Palangka Raya,


Pada tanggal : 22 Agustus 2015

Yang menyatakan

Isna Wiranti

iii
PERSETUJUAN

Asuhan Keperawatan ini disusun oleh:


Nama : Isna Wiranti
NIM : 2012.C.03B.0035
Program Studi : S1 Keperawatan Ners
Judul asuhan : Asuhan Keperawatan Pada Tn. H dengan Diagnosa Medis
keperawatan Pterigyum Sinistra di OK BLUD RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya

Telah Melaksanakan Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Sebagai Persyaratan


Untuk Menyelesaikan Program Profesi Ners Stase Keperawatan Medikal Bedah
Pada Program Studi S1 Keperawatan Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Eka
Harap Palangka Raya

Palangka Raya, 22 Agustus 2015

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Yuliantie, S.Kep.,Ns Brension Rely, S.Kep.

Ketua Program Studi

Ns. Putria Carolina, M.Kep.

vi
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
karunia-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Studi Kasus ini
yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. H Dengan Diagnosa Medis
Pterigyum Sinistra Di IBS-OK BLUD RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya”
tepat pada waktunya. Penulisan Laporan Studi Kasus ini disusun untuk memenuhi
syarat untuk melanjutkan ke stase berikutnya.
Penulis menyadari dalam penulisan banyak menemukan kesulitan tetapi
berkat bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak akhirnya Laporan Studi
Kasus ini dapat diselesaikan. Penulis mengakui masih banyak terdapat
kekurangan dari Laporan Studi Kasus ini. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
Laporan Studi Kasus ini.
Akhir kata, semoga Laporan Studi Kasus ini dapat berguna bagi
pengembangan ilmu keperawatan khususnya dalam asuhan keperawatan dan
semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya
kepada kita semua, Amin.

Palangka Raya, Agustus 2015

Penulis

v
DAFTAR ISI
Halaman

Halaman Sampul Depan


Halaman Sampul Dalam................................................................................ i
Lembar Pernyataan Orisinalitas .................................................................. ii
Lembar Persetujuan ...................................................................................... iii
Halaman Kata Pengantar .............................................................................. iv
Halaman Daftar Isi ........................................................................................ v

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA


1.1 Konsep Teori Pterigyum ............................................................... 1
1.1.1 Defenisi ......................................................................................... 1
1.1.2 Etiologi ........................................................................................ 2
1.1.3 Patofisiologi ................................................................................. 2
1.1.4 Tanda dan Gejala ......................................................................... 7
1.1.5 Komplikasi ................................................................................... 7
1.1.6 Pemeriksaan diagnostik ............................................................... 8
1.1.7 Penatalaksanaan ........................................................................... 9
1.1.8 Penatalaksanaan Keperawatan ...................................................... 10
1.2 Konsep Asuhan Keperawatan ...................................................... 12
1.2.1 Pengkajian ................................................................................... 12
1.2.2 Diagnosa Keperawatan ................................................................ 12
1.2.3 Rencana Keperawatan ................................................................. 14
1.2.4 Implementasi ............................................................................... 20
1.2.5 Evaluasi ....................................................................................... 20

BAB 2 ASUHAN KEPERAWATAN


2.1 Pengkajian ................................................................................... 21
2.2 Analisa data ................................................................................. 28
2.3 Diagnosa Keperawatan ................................................................. 29
2.4 Intervensi Keperawatan ............................................................... 30
2.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan .................................... 33

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vi
BAB 1
TINJAUAN TEORI
1.1 KONSEP DASAR
1.1.1 PENGERTIAN
Pterigium adalah suatu timbunan atau benjolan pada selaput lendir atau
konjungtiva yang bentuknya seperti segitiga dengan puncak berada di arah kornea.
Timbunan atau benjolan ini membuat penderitanya agak kurang nyaman karena
biasanya akan berkembang dan semakin membesar dan mengarah ke daerah
kornea, sehingga bisa menjadi menutup kornea dari arah nasal dan sampai ke
pupil, jika sampai menutup pupil maka penglihatan kita akan terganggu. Suatu
pterygium merupakan massa ocular eksternal superficial yang mengalami elevasi
yang sering kali terbentuk diatas konjungtiva perilimbal dan akan meluas ke
permukaan kornea. Pterygia ini bisa sangat bervariasi, mulai dari yang kecil, jejas
atrofik yang tidak begitu jelas sampai yang besar sekali, dan juga jejas
fibrofaskular yang tumbuhnya sangat cepat yang bisa merusakkan topografi
kornea dan dalam kasus yang sudah lanjut, jejas ini kadangkala bisa menutupi
pusat optik dari kornea.
Pteregium merupakan pertumbuhan jaringan ikat pada fibrovaskuler
konjungtiva bulbar intrapalpebra dengan ektensi ke kornea yang bersifat
degeneratif.
Pterigium adalah pertumbuhan jaringan konjungtiva ke dalam kornea.
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan infasiv, berbentuk segitiga dan puncaknya disentral atau didaerah
kornea.
Kondisi pterygium akan terlihat dengan pembesaran bagian putih mata,
menjadi merah dan meradang. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan bisa
mengganggu proses cairan mata atau yang disebut dry eye syndrome. Sekalipun
jarang terjadi, namun pada kondisi lanjut atau apabila kelainan ini didiamkan lama
akan menyebabkan hilangnya penglihatan si penderita. Evakuasi medis dari
dokter mata akan menentukan tindakan medis yang maksimal dari setiap kasus,

1
2

tergantung dari banyaknya pembesaran pterygium. Dokter juga akan memastikan


bahwa tidak ada efek samping dari pengobatan dan perawatan yang diberikan.

1.1.2 Etiologi
Penyebab pterigium belum dapat dipahami secara jelas, diduga merupakan
suatu neoplasma radang dan degenerasi. Namun, pterigium banyak terjadi pada
mereka yang banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan banyak terkena
panas terik matahari. Faktor resiko terjadinya pterigium adalah tinggal di daerah
yang banyak terkena sinar matahari, daerah yang berdebu, berpasir atau anginnya
besar. Penyebab paling umum adalah exposure atau sorotan berlebihan dari sinar
matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet, baik UVA ataupun UVB, dan
angin (udara panas) yang mengenai konjungtiva bulbi berperan penting dalam hal
ini. Selain itu dapat pula dipengaruhi oleh faktor2 lain seperti zat allegen, kimia
dan zat pengiritasi lainnya. Pterigium Sering ditemukan pada petani, nelayan dan
orang-orang yang tinggal di dekat daerah khatulistiwa. Jarang menyerang anak-
anak.

1.1.3 Patofisiologi
Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan
ploriferasi fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium,
Histopatologi kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan
basofilia bila dicat dengan hematoksin dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat
dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan elastic yang
sebenarnya, oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase.
Secara histopalogis ditemukan epitel konjungtiva irrekuler kadang-kadang
berubah menjadi gepeng. Pada puncak pteregium, epitel kornea menarik dan pada
daerah ini membran bauman menghilang. Terdapat degenerasi stauma yang
berfoliferasi sebagai jaringan granulasi yang penuh pembulih darah. Degenerasi
ini menekan kedalam kornea serta merusak membran bauman dan stoma kornea
bagian atas.
3

PATWAYS

Sinar Ultra Violet Angin Asap Debu

Semua alergi menuju ke bagian nasal orbita

Meatus nasi inferior

Terjadi iritasi

Penebalan dan pertumbuhan


Konjungtiva bulbi

Menjalar ke kornea

Perubahan rasa
Perubahan rasa nyaman
nyaman Menutupi kornea
(Rasa kemeng di mata,
(sensasi benda asing di
Sensasi benda asing)
mata) Perubahan
Pandangan kabur
persepsi sensori

Risiko cidera Dilakukan tindakan operatif Ansietas

Terjadi trauma jaringan (luka)

Perubahan persepsi Risiko Infeksi


sensori
Nyeri

Risiko Cidera
4

1.1.4 Manifestasi Klinis


1) Mata iritatatif, merah, gatal, dan mungkin menimbulkan astigmatisme.
2) Kemunduran tajam penglihatan akibat pteregium yang meluas ke kornea
(Zone Optic).
3) Dapat diserati keratitis Pungtata, delen (Penipisan kornea akibat kering) dan
garis besi yang terletak di ujung pteregium.

1.1.5 Klasifikasi Dan Grade


1) Klasifikasi Pterygium:
a) Pterygium Simpleks; jika terjadi hanya di nasal/ temporal saja.
b) Pterygium Dupleks; jika terjadi di nasal dan temporal.

2) Grade pada Pterygium :


a) Grade 1:
Tipis (pembuluh darah konjungtiva yang menebal dan konjungtiva sklera
masih dapat dibedakan), pembuluh darah sklera masih dapat dilihat.
b) Grade 2:
Pembuluh darah sklera masih dapat dilihat.
c) Grade 3:
Resiko kambuh, hiperemis, pada orang muda (20-30 tahun), mudah
kambuh.
d) Grade 4:
Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu
penglihatan.

1.1.6 Pemeriksaan Dan Penegakan Diagnostik


1) Anamnesis
Menanyakan pasien tentang keluhan yang diderita, durasi keluhan, faktor
risiko seperti pekerjaan, paparan sinar matahari dan lain-lain.
5

2) Pemeriksaan Fisik
Melihat kedua mata pasien untuk morfologi pterygium, serta memeriksa
visus pasien. Diagnosa dapat didirikan tanpa pemeriksaan lanjut. Anamnesa
positif terhadap faktor risiko dan paparan serta pemeriksaan fisik yang menunjang
anamneses cukup untuk membuat suatu diagnosa pterygium.
3) Pemeriksaan Slit Lamp
Jika perlu, dokter akan melakukan Pemeriksaan Slit Lamp untuk
memastikan bahwa lesi adalah pterygium dan untuk menyingkirkannya dari
diagnosa banding lain. Pemeriksaan slit lamp dilakukan dengan menggunakan alat
yang terdiri dari lensa pembesar dan lampu sehingga pemeriksa dapat melihat
bagian luar bola mata dengan magnifikasi dan pantulan cahaya memungkinkan
seluruh bagian luar untuk terlihat dengan jelas.

1.1.7 Penatalaksanaan
Pterygium sering bersifat rekuren, terutama pada pasien yang masih muda.
Bila pterygium meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata
dekongestan. Pengobatan pterygium adalah dengan sikap konservatif atau
dilakukan pembedahan bila terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya
astigmatisme ireguler atau pterygium yang telah menutupi media penglihatan.
Lindungi mata dengan pterygium dari sinar matahari, debu dan udara kering
dengan kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang berikan air mata buatan
dan bila perlu dapat diberi steroid. Bila terdapat delen (lekukan kornea) beri air
mata buatan dalam bentuk salep. Bila diberi vasokontriktor (prednisone asetat)
maka perlu kontrol 2 minggu dan bila terdapat perbaikkan maka pengobatan
dihentikan.
Tindakan Operatif :
Tindakan pembedahan adalah suatu tindak bedah plastik yang dilakukan
bila pterygium telah mengganggu penglihatan. Pterygium dapat tumbuh menutupi
seluruh permukaan kornea atau bola mata.
Tindakan operasi, biasanya bedah kosmetik, akan dilakukan untuk
mengangkat pterygium yang membesar ini apabila mengganggu fungsi
6

penglihatan atau secara tetap meradang dan teriritasi. Paska operasi biasanya akan
diberikan terapi lanjut seperti penggunaan sinar radiasi B atau terapi lainnya.

1.1.8 Komplikasi
Komplikasi dari pterygium meliputi sebagai berikut:
1) Penyimpangan atau pengurangan pusat penglihatan
2) Kemerahan
3) Iritasi
4) Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea

Keterlibatan yang luas otot extraocular dapat membatasi penglihatan dan


memberi kontribusi terjadinya diplopia. Bekas luka yang berada ditengah otot
rektus umumnya menyebabkan diplopia pada pasien dengan pterygium yang
belum dilakukan pembedahan. Pada pasien dengan pterygia yang sudah diangkat,
terjadi pengeringan focal kornea mata akan tetapi sangat jarang terjadi.
Komplikasi post operasi pterygium meliputi:
1) Infeksi
2) Reaksi material jahitan
3) Diplopia
4) Conjungtival graft dehiscence
5) Corneal scarring
6) Komplikasi yang jarang terjadi meliputi perforasi bola mata perdarahan
vitreous, atau retinal detachment.

Komplikasi akibat terlambat dilakukan operasi dengan radiasi beta pada


pterygium adalah terjadinya pengenceran sclera dan kornea. Sebagian dari kasus
ini dapat memiliki tingkat kesulitan untuk mengatur.
7

1.2 ASUHAN KEPERAWATAN


1.2.1 Pengkajian
Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan pterygium adalah :
1) Identitas
Nama, Umur, Jenis kelamin, Agama, Pekerjaan, Status perkawinan,
Alamat, Pendidikan.
2) Keluhan utama
Biasanya penderita mengeluhkan adanya benda asing pada matanya,
penglihatan kabur.
3) Riwayat penyakit sekarang
Merupakan penjelasan dari keluhan utama. Misalnya yang sering terjadi
pada pasien dengan pterygium adalah penurunan ketajaman penglihatan.
Sejak kapan dirasakan, sudah berapa lama, gambaran gejala apa yang
dialami, apa yang memperburuk atau memperingan, apa yang dilakukan
untuk menyembuhkan gejala.
4) Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM,
hipertensi, pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolik
lainnya memicu resiko pterygium.
5) Riwayat penyakit keluarga
Ada atau tidak keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama
seperti pasien.
6) Data Bio – Psiko – Sosial – Spiritual
a) Aktifitas istirahat
Gejala yang terjadi pada aktifitas istirahat yakni perubahan aktifitas
biasanya atau hobi yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.
b) Neurosensori
Gejala yang terjadi pada neurosensori adalah gangguan penglihatan
kabur / tidak jelas.
8

c) Nyeri / kenyamanan
Gejalanya yaitu ketidaknyamanan ringan mata menjadi merah sekali,
pembengkakan mata, mata gatal, iritasi, dan pandangan kabur.
d) Rasa Aman
Yang harus dikaji adalah kecemasan pasien akan penyakitnya
maumun tindakan operatif yang akan dijalaninya.
e) Pembelajaran / pengajaran
Pada pengkajian klien dengan gangguan mata ( pterigium ) kaji
riwayat keluarga apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem
vaskuler, kaji riwayat stress, alergi, gangguan vasomotor seperti
peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan endokrin dan diabetes,
serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin.
7) Pemeriksaan fisik
a) Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda vital, kesadaran.
b) Pemeriksaan fisik data fokus pada mata : adanya jaringan yang
tumbuh abnormal pada mata biasanya tumbuh menuju ke kornea.

1.2.2 Diagnosa Keperawatan


Pre operasi
1) Perubahan rasa nyaman (sensasi benda asing) berhubungan dengan
adanya penebalan konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea.
2) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan trauma okuler
3) Risiko terjadi cedera berhubungan dengan keterbatasan pengelihatan.
4) Ansietas berhubungan dengan tindakan operatif yang akan dijalani.

Post Operasi
1) Perubahan kenyamanan (nyeri akut) berhubungan dengan diskontinuitas
jaringan akibat pembedahan.
2) Risiko infeksi berhubungan dengan port de entry sebagai akibat
diskontinuitas jaringan.
9

3) Perubahan dalam presepsi sensori (perseptual) sehubungan dengan luka


post operasi.
4) Risiko terjadi cedera berhubungan dengan keterbatasan pengelihatan.
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
mengenai perawatan diri dan penatalaksanaan di rumah.

1.2.3 Perencanaan
Pre Operasi
1) Perubahan rasa nyaman (rasa kemeng, sensasi benda asing) berhubungan
dengan adanya penebalan konjungtifa bulbi yang menjalar ke kornea.
a) Tujuan :
setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien merasa
nyaman, dan dapat memahami penjelasan perawat.
b) Kriteria Hasil :
 Pasien merasa nyaman.
 Pasien dapat rileks
Intervensi Rasional
1) Kaji dan dokumentasikan 1) Untuk mengetahui penyebab
keluhan pasien. penyakit pasien.
2) Beri pemahaman kepada pasien 2) Agar pasien paham dan
tentang penyakitnya. mengerti dengan penyakitnya
sehingga mampu menjalani
pengobatan sesuai saran dokter.
3) Beri penjelasan kepada pasien
3) Untuk mengurangi pemaparan
mengenai tindakan yang dapat
sunar ultraviolet maupun debu
membantu pasien agar merasa
pada mata.
lebih nyaman seperti: memakai
kaca mata gelap pada siang
hari, beerusaha memperkecil
kemunginan kontak dengan
angin, asap, debu, dan sinar
4) Untuk mengetahui
10

matahari. perkembangan penyakit mata


4) Sarankan kepada pasien agar yang pasien alami.
segera berkonsultasi dengan
dokter bila terjadi perubahan
5) Untuk mempercepat proses
yang signifikan pada matanya.
penyembuhan.
5) Sarankan kepada pasien untuk
memakai obat yang telah
diresepkan oleh dokter.
6) Kolaborasi dalam pelaksanaan
eksterpasi pterygium.

2) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan trauma okuler


a) Tujuan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi
individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap
perubahan.
b) Kriteria Hasil :
 Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap
perubahan.
 Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan
Intervensi Rasional
1) Tentukan ketajaman 1) Penemuan dan penanganan
penglihatan, kemudian catat awal komplikasi dapat
apakah satu atau dua mata mengurangi resiko kerusakan
terlibat dan observasi tanda- lebih lanjut.
tanda disorientasi.
2) Orientasikan klien tehadap 2) Meningkatkan keamanan
lingkungan. mobilitas dalam lingkungan.
3) Perhatikan tentang suram 3) Cahaya yang kuat
atau penglihatan kabur dan menyebabkan rasa tak nyaman
11

iritasi mata, dimana dapat setelah penggunaan tetes mata


terjadi bila menggunakan dilator.
tetes mata.
4) Ingatkan klien menggunakan 4) Membantu penglihatan pasien.
kacamata.

3) Resiko terjadi cedera berhubungan dengan keterbatasan pengelihatan.


a) Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien
tidak mengalami cedera.
b) Kriteria Hasil: Pasien melaporkan tidak mengalami cedera (jatuh,
tergores, tertusuk, dsb).
Intervensi Rasional
1) Orientasikan pasien dengan 1) Agar pasien terbiasa dan hafal
lingkungannya. dengan situasi disekelilingnya.
2) Awasi pasien selama proses 2) Mencegah terjadinya risiko
pemeriksaan berlangsung. cidera pada pasien.
3) Bimbing pasien berjalan 3) Agar pasien merasa aman dan
selama pemeriksaan bila mencegah terjadinya cidera
pengelihatannya sangat kabur. pada pasien.
4) Bersihkan jalan yang dilewati 4) Untuk menghindari risiko
pasien dan yakinkan ruangan cidera, dan lebih memperjelas
dalam keadaan terang. penglihatan pasien.
5) Libatkan keluarga dalam 5) Mencegah terjadinya cidera
pengawasan pasien sehari- pada pasien.
hari. 6) Mencegah terjadinya cidera
6) Anjurkan untuk menjauhkan pada pasien.
benda-benda yang berbahaya
7) Mencegah terjadinya
di sekitar lingkungan pasien.
cidera/jatuh pada pasien.
7) Anjurkan untuk menghindari
12

pasien melintasi lantai licin.

4) Ansietas berhubungan dengan tindakan operatif yang akan dijalani.


a) Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan kecemasan pasien
berkurang.
b) Kriteria Evaluasi
 Pasien tidak cemas
 Pasien tampak rileks
Intervensi Rasional
1) Kaji tingkat ansietas, derajat 1) FaKtor ini mempengaruhi
pengalaman nyeri/ timbulnya persepsi pasien terhadap
gejala tiba-tiba dan ancaman diri, potensial siklus
pengetahuan kondisi saat ini. ansietas, dan dapat
mempengaruhi upaya medic
2) Berikan informasi yang
untuk mengontrol TIO.
akurat dan jujur. Diskusikan
2) Menurunkan ansietas
kemungkinan bahwa
sehubungan dengan
pengawasan dan pengobatan
ketidaktahuan/harapan yang
dapat mencegah kehilangan
akan datang dan memberikan
penglihatan tambahan.
dasar fakta untuk membuat
3) Dorong pasien untuk
pilihan informasi tentang
mengakui masalah dan
pengobatan.
mengekspresikan perasaan.
3) Memberikan kesempatan untuk
pasien menerima situasi nyata,
4) Jelaskan dengan jujur
mengklarifikasi salah konsepsi
mengenai prosedur tindakan
dan pemecahan masalah.
operatif yang akan
4) Pasien mengerti tentang
dijalaninya.
prosedur operasi sehingga
5) Identifikasi sumber/ orang
kecemasan pasien akan
yang menolong.
berkurang.
13

5) Memberikan keyakinan bahwa


pasien tidak sendiri dalam
menghadapi masalah.

Post operasi
1) Perubahan kenyamanan (nyeri akut) berhubungan dengan diskontinuitas
jaringan akibat pembedahan.
1) Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan nyeri pasien berkurang
atau terkontrol.
2) Kriteria hasil :
 Pasien mengeluh tidak nyeri
 Skala nyeri 0 dari skala 0-10 yang diberikan.
Intervensi Rasional
1) Monitor TTV pasien 1) Mengetahui keadaan
umum pasien.
2) Kaji tingkat nyeri yang
2) Untuk mengetahui
dialami oleh klien.
tingkat nyeri pasien.
3) Berikan posisi yang nyaman.
3) Membantu pasien untuk
4) Ajarkan kepada klien tekhnik
rileks.
distraksi / relaksasi.
4) Untuk mengurangi rasa
5) Anjurkan pasien untuk tidak
nyeri.
melakukan aktifitas yang
dapat meningkatkan 5) Vasokontraksi dapat
vasokontraksi, seperti meningkatkan tekanan
mengedan dan batuk bola mata sehinggan
beruntun. dapat meningkatkan
6) Ciptakan tempat tidur yang nyeri yang dirasakan.
nyaman.
6) Memberikan
7) Kolaborasi dengan tim medis
kenyamanan pada pasien
untuk pemberian analgetik
7) Mengurangi nyeri secara
farmakokinetik.
14

2) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur (invasif) bedah.


a) Tujuan: setelah diberikan askep diharapkan tidak terjadi infeksi pada
pasien.

b) Kriteria hasil:
Tidak ada tanda-tanda infeksi pada pasien: kalor, dolor, rubor, tumor,
fungsiolaesa.
Intervensi Rasional
1) Kaji karakteristik luka, pantau 1) Mengetahui keadaan
adanya tanda infeksi (rubor, umum luka dan
kalor, dolor, tumor, dan mengidentifikasi adanya
fungsiolaesa). tanda-tanda infeksi.
2) Gunakan tehnik aseptik
2) Untuk mencegah
dalam perawatan post
terjadinya kontaminasi
operatif.
terhadap mikroba
3) Beri tahu klien tentang
3) Mencegah terjadinya
pentingnya kebersihan dan
infeksi. Bila tangan yang
cara mencuci tangan yang
menyentuh daerah mata
baik. Yaitu cuci tangan
kotor maka akan
dibawah air mengalir dan
mempermudah jalan
gunakan 6 langkah cuci
masuknya
tangan yang baik dan benar.
mikrooorganisme
Informasikan untuk
pathogen ke dalam luka.
melakukan cuci tangan yg
benar sebalum dan sesudah
menyentuh daera mata.
4) Ajarkan untuk membersihkan 4) Air hangat-hangat kuku
mata dengan kapas yang dapat membunuh
dibasahi dengan air hangat- beberapa jenis
hangat kuku bila mata tersa mikroorganisme
15

gatal. pathogen
5) Membantu membunuh
5) Kolaborasi dalam pemberian mikroorganisme
antibiotika. patogen.

3) Perubahan dalam pesepsi sensori (perseptual) sehubungan dengan luka


post operasi.
a. Tujuan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi
individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap
perubahan.
b. Kriteria Hasil :
 Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap
perubahan.
 Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan
Intervensi Rasional
1) Tentukan ketajaman 1) Mengetahui tingkat
penglihatan. ketajaman pengeliatan
pasien.
2) Orientasikan klien pada 2) Memudahkan pasien
lingkungan, staf, orang lain di berkomunikasi dengan
sekitar. orang disekitar.
3) Letakkan barang yang sering 3) Memudahkan pasien
diperlukan dalam jangkauan . mengambil barang-
barang yang sering
4) Anjurkan klien untuk digunakan.
mengkonsumsi nutrisi yang 4) Buah-buahan yang
bergizi, misalnya buah-buahan berwarna kuning
yang berwarna kuning, seperti memiliki kandungan
pepaya, wortel dan lain-lain. vit. A yang tinggi dan
baik untuk mata. Dan
16

asupan nutrisi yang baik


dapat mempercepat
proses penyembuhan
luka.
5) Berikan obat-obatan sesuai 5) Mempercepat
terapi. penyembuhan secara
farmakokinetik.

4) Risiko terjadi cedera berhubungan dengan keterbatasan pengelihatan.


a) Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien
tidak mengalami cedera.
b) Kriteria Hasil:
Pasien melaporkan tidak mengalami cedera (jatuh, tergores, tertusuk,
dsb).
Intervensi Rasional
1) Orientasikan pasien dengan 1) Agar pasien terbiasa dan hafal
lingkungannya. dengan situasi disekelilingnya.
2) Bimbing pasien berjalan 2) Agar pasien merasa aman dan
selama pemeriksaan bila mencegah terjadinya cidera
pengelihatannya sangat kabur. pada pasien.
3) Bersihkan jalan yang dilewati 3) Untuk menghindari risiko
pasien dan yakinkan ruangan cidera, dan lebih memperjelas
dalam keadaan terang. penglihatan pasien.
4) Anjurkan pasien tidak 4) Peningkatan tekanan pada bola
melakukan aktifitas yang dapat mata yang terdapat luka
meningkatkan tekanan pada berisiko memperparah cidera
bola mata seperti menunduk, pada mata yang luka.
mengedan, dan batuk beruntun.
5) Tidur kearah mata yang sakit
5) Anjurkan pasien agar tidak
dapat menyebabkan
17

miring kearah mata yang sakit/ meningkatnya tekanan pada


luka pada saat tidur. bola mata yang sakit, sehingga
berisiko menyebabkan cidera/
pendarahan pada luka.
6) Pencernaan yang lancar
6) Anjurkan pasien untuk makan
mengurangi kemungkinan
makanan tinggi serat (sayur-
pasien mengedan saat BAB,
sayuran dan buah-buahan) agar
sehingga mengurangi risiko
pencernaan menjadi lancar.
cidera.
7) Mencegah terjadinya cidera
7) Libatkan keluarga dalam
pada pasien.
pengawasan pasien dan
membantu pasien memenuhi
kebutuhan sehari-hari.

8) Mencegah terjadinya cidera


8) Anjurkan keluarga untuk
pada pasien.
menciptakan lingkungan yang
aman bagi pasien misalnya
menjauhkan benda-benda yang
berbahaya di sekitar
lingkungan pasien dan gunakan
tempat tidur yang rendah
dengan pagar pengaman di tepi
tempat tidur untuk pasien.
9) Mencegah terjadinya
9) Anjurkan untuk menghindari
cidera/jatuh pada pasien
pasien melintasi lantai licin

5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


mengenai perawatan diri dan penatalaksanaan di rumah.
a) Tujuan: setelah diberikan askep diharapkan pasien mengetahui tentang
penyakitnya.
18

b) Kriteria hasil: pasien dan keluarga mengerti tentang penyakitnya dan


cara perawatannya.
Intervensi Rasional
1) Berikan penjelasan mengenai 1) Menambah pengetahuan pasien
kondisi penyakit, proses tentang penyakitnya.
sebelumnya dan sesudah
dilakukan pembedahan.
2) Menambah pengetahuan pasien
2) Jelaskan dan ajarkan
tentang cara perawatannya.
perawatan secara teratur di
pelayanan kesehatan terdekat. 3) Memudahkan dalam membantu
3) Libatkan orang terdekat klien pasien dalam melakukan ADL.
dalam melaksanakan aktivitas
kehidupan sehari-hari.

1.2.4 IMPLEMENTASI
Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah
dibuat sebelumnya berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan dalam
kasus, dengan menuliskan waktu pelaksanaan dan respon klien.

1.2.5 EVALUASI
1) Pasien merasa nyaman, dan dapat memahami penjelasan perawat.
2) Tidak terjadi infeksi pada mata pasien.
3) Pasien tidak mengalami cedera.
19

DAFTAR PUSTAKA

Salim S Anissa (2005), Asuhan Keperawatan pada Pasien Pterigium,


www.google.com
Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada
Praktek Klinik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.