Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN AKHIR

Feasibility Study Pengembangan Trayek Penyeberangan di Pelabuhan Kendal

KAJIAN LITERATUR
4
4.1. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
Berdasarkan Undang – undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran, yang dimaksud dengan pelayaran adalan satu kesatuan sistem yang terdiri atas
angkutan di perairan, kepelabuhan, keselamatan, dan keamanan serta perlindungan
lingkungan maritim. Kemudian untuk mendukung terwujudnya maksud dan tujuan
pelayaran yang tertera pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun
2008, tentang Pelayaran maka dibentuk peraturan pendukung turunan yang membahas
secara lebih spesifik pada tiap – tiap subjek yang menjadi faktor utama.

Undang - Undang
Nomor 17 Tahun
2008, tentang
Pelayaran

Keselamatan dan Perlindungan


Angkutan Diperairan Kepelabuhan
Keamanan Pelayaran Lingkungan maritim
(PP Nomor 20 tahun (PP Nomor 61 Tahun
(PP Nomor 5 Tahun ( PP Nomor 21 Tahun
2010) 2009)
2010 2010)

Gambar 4.1. Skema peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan


pelayaran
Pada pasal 3 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008
disebutkan bahwa, kegiatan pelayaran diselenggarakan dengan tujuan untuk :
a. Memperlancar arus perpindahan orang dan/atau barang melalui perairan dengan
mengutamakan dan melindungi angkutan di perairan dalam rangka memperlancar
kegiatan perekonomian nasional;
b. Membina jiwa kebaharian;
c. Menjunjung kedaulatan Negara;
4. Kajian Literatur

d. Mencipatakan daya saing dengan mengembangkan industry angkutan perairan


nasional;
e. Menunjang, menggerakan, dan mendorong pencapaian tujuan pembangunan
nasional;
f. Memperkukuh kesatuan dan persatuan bangsa dalam rangka perwujudan Wawasan
Nusantara; dan
g. Meningkatkan ketahanan nasional

Sebagaimana dimaksud pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 17


Tahun 2008, pelayaran dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh
Pemerintah. Pembinaan pelayaran meliputi pengaturan, pengendalian, dan pengawasan.
Kegiatan pengaturan pelayaran meliputi penetapan kebijakan baik umum maupun
kebijakan yang bersifat teknis. Kegiatan pengendalian oleh pemerintah dilakukan antara
lain dengan pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, perizinanm sertifikasi, serta bantuan
teknis. Kegiatan pengawasan yang dimaksud meliputi pengawasan pembangunan dan
pengoperasian agar sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pembinaan pelayaran
oleh pemerintah dilakukan dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Sejalan dengan itu, dari aspek kelembagaan, Undang – undang Nomor 17 Tahun
2008 tentang Pelayaran memperkenalkan kebijakan baru dalam penyelenggaraan
pelabuhan yaitu:
1. Dipisahkannya fungsi regulator dan operator dalam penyelenggaraan pelabuhan
dai pelabuhan yang diusahakan secara komersial
2. Pembentukan unit penyelenggara pelabuhan (UPP) sebagai penyelenggara
pelabuhan di pelabuhan yang belum diusahakan secara komersial yang memiliki
fungsi rangkap yaitu sebagai regulator dan operator pelabuhan
3. Diciptakannya hubungan kontraktual antara otoritas pelabuhan dan badan usaha
pelabuhan dalam rangka penyediaan dan pelayanan jasa kepelabuhan dalam
bentuk pemberian konsesi atau instrument hokum dalam bentuk lainnya.
4. Pembentukan syahbandar sebagai lembaga yang berdiri sendiri di pelabuhan
komersil.
Berdasarkan Undang – undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang
pelayaran dapat dilihat bahwa tujuan reformasi pelabuhan di Indonesia yaitu :

4- 2
4. Kajian Literatur

1. Menghapus monopoli
2. Menciptakan kesempatan yang lebih luas untuk investasi di sector pelabuhan (pihak
swasta, pemerintah daerah)
3. Menciptakan kompetisi yang sehat dalam pelabuhan dan antar pelabuhan
4. Pemisahan yang jelas antara regulator dan operator dengan pembentukan otoritas
pelabuhan
5. Mengakomodasi otonomi daerah.
4.1.1. Angkutan di Perairan
Angkutan di perairan yang dimaksud pada Undang – Undang Republik Indonesia
Nomor 17 Tahun 2008 adalah kegiatan mengangkut dan/atau memindahkan penumpang
dan/atau barang dengan mnggunakan kapal. Jenis Angkutan di perairan dibagi menjadi
angkutan laut, angkutan sungai dan danau, dan angkutan penyeberangan.
Penyelenggaraan angkutan laut ang tertera pada pasal 7 dibagi menjadi angkutan laut
dalam negeri, angkutan laut luar negeri, angkutan laut khusus, dan angkutan laut
pelayaran-rakyat.
Kegiatan angkutan laut khususnya dalam negeri, dilaksanakan dengan trayek tetap
dan teratur serta dapat dilengkapi dengan trayek tidak tetap dan tidak teratur.kegiatan
angkutan laut dalam negeri yang melayani trayek tetap dan teratur dilakukan dalam
jaringan trayek. Kegiatan angkutan laut dalam negeri yang melayani trayek tetap dan
teratur harus menyinggahi beberapa pelabuhan secara tetap dan teratur dengan berjadwal.
Selain itu, kapal yang dioperasikan merupakan kapal penumpang, kapal peti kemas, kapal
barang umum, atau kapal Ro-Ro dengan pola trayek untuk masing – masing jenis kapal.
Jaringan trayek tetap dan teratur angkutan laut dalam negeri disusun dengan
memperhatikan:
a. Pengembangan pusat industri, perdagangan, dan pariwisata;
b. Pengembangan wilayah dan/atau daerah;
c. Rencana umum tata ruang;
d. Keterpaduan intra dan antarmoda transportasi; dan
e. Perwujudan Wawasan Nusantara.
Penyusunan jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud di atas
dilakukan bersama oleh pemerintah, pemerintah daerag, dan asosiasi perusahaan
angkutan laut nasional dengan memperhatikan masukan asosiasi pengguna jasa angkutan

4- 3
4. Kajian Literatur

laut. Selanjutnya, penyusunan jaringan trayek tetap dan teratur harus dikoordinasikan
oleh Menteri. Penambahan trayek tetap dan teratur baru dilakukan dengan
memperhatikan :
a. Adanya potensi kebutuhan jasa angkutan laut dengan perkiraan faktor muatan yang
layak dan berkesinambungan; dan
b. Tersedianya fasilitas pelabuhan yang memadai atau lokasi lain yang ditunjuk untuk
kegiatan bongkar muat barang dan naik/turun penumpang yang dapat menjamin
keselamatan pelayaran.
Tarif Angkutan di perairan terdiri atas tarif angkutan penumpang dan tarif angkutan
barang. Tarif angkutan penumpang sebagaimana dimaksud di atas terdiri dari tarif untuk
kelas ekonomi dan kelas non-ekonomi. Tarif angkutan kelas ekonomi ditetap kan oleh
menteri, sedangkan tarif angkutan penumpang untuk kelas non-ekonomi ditetapkan oleh
penyelenggara angkutan berdasarkan tingkat pelayanan yang diberikan. Tarif angkutan
barang ditetapkan oleh penyedia jasa angkutan berdasarkan kesepakatan antara pengguna
jasa angkutan berdasarkan kesepakatan antara pengguna dan penyedia jasa angkutan
sesuai dengan jenis, struktur, dan golongan yang ditetapkan oleh menteri.
4.1.2. Kepelabuhan
Berdasarkan Undang – undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran, yang dimaksud dengan kepelabuhan adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan pelaksanaan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan, dan
ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan dan keamanan
berlayar, tempat perpindahan intra-dan/atau antarmoda serta mendorong perekonomian
nasional dan daerah dengan tetap memperhatikan tata ruang wilayah. Selanjutnya,
pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau peraian dengan batas-batas
tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang
dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar
muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi fasilitas
keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai
tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.
4.2. Tatanan Kepelabuhan Nasional
Guna mewujudkan pelabuhan yang andal dan berkemampuan tinggi, menjamin
efisiensi, dan mempunyai daya saing global untuk menunjang pembangunan nasional dan

4- 4
4. Kajian Literatur

daerah yang ber-Wawasan Nusantara diperlukan Tatanan Kepelabuhan Nasional.


Tatanan Kepelabuhan Nasional yang dimaksud di atas merupakan sistem kepelabuhan
secara nasional yang menggambarkan perencanaan kepelabuhan berdasarkan kewasan
ekonomi, geografi, dan keunggulan komparatif wilayanh, serta kondisi alam.

Gambar 4.2. Skema Tatanan Kepelabuhan Nasional

Berdasarkan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008, tatanan


Kepelabuhan Nasional memuat tentang:
a. Peran, fungsi, jenis, dan hierarki pelabuhan;
b. Rencana Induk Pelabuhan Nasional, dan
c. Lokasi pelabuhan.
Pelabuhan berfungsi sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan pengusahaan
dengan peran sebagai :
a. Simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hierarkinya;
b. Pintu gerbang kegiatan perekonomian;
c. Tempat alih moda transportasi;
d. Penunjang kegiatan industry dan/atau perdagangan;

4- 5
4. Kajian Literatur

e. Tempat distribusi, produksi, dan konsolodasi muatan atau barang; dan


f. Mewujudkan Wawasan Nusantara dan kedaulatan Negara.

Pelabuhan Utama

Pelabuhan pengumpul
Pelabuhan Angkutan Laut
Pelabuhan Pengumpan Regional
Pelabuhan

Pelabuhan Pengumpan Lokal

Pelabuhan Kelas I

Pelabuhan Angkutan
Pelabuhan Kelas II
Penyeberangan

Pelabuhan Sungai dan Danau Pelabuhan kelas III

Gambar 4.3. Hierarki jenis pelabuhan

Jenis pelabuhan dibagi menjadi dua yaitu, pelabuhan laut dan pelabuhan sungai dan
danau. Berdasarkan hierarkinya, pelabuhan laut dibagi menjadi:
a. Pelabuhan utama, adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan
angkutan laut dalam negeri dan internasional, alih muatan laut dalam negeri dan
internasional dalam jumlah besar, dan sebagai tempat asal tujuan penumpang
dan/atau barang serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antar
provinsi
b. Pelabuhan pengumpul, adalah pelabuhan yang fungsi pokoknua melayani kegiatan
angkutan aut dalam negeri dalam jumlah menengah sebagai tempat asal tujuan
penumpang dan/atau barang serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan
pelayanan antar provinsi.
c. Pelabuhan pengumpan, adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya melayani kegiatan
angkutan laut dalam negeri, alih muatan angkutan laut dalam negeri dalam jumlah
terbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul,
dan sebagai tempat asal dan tujuan penumpang dan/atau barang serta angkutan
penyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalam provinsi

4- 6
4. Kajian Literatur

Wilayah kerja pelabuhan adalah satuan tugas yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau
Kepala kantor unit Penyelenggara Pelabuhan yang membawahinya. Wilayah kerja
pelabuhan mempunyai tugas melakukan kegiatan pemberian pelayanan lalu lintas dan
angkutan laut, keamanan, dan keselamatan pelayaran dan/atau penyediaan pelayanan jasa
kepelabuhan di perairah pelabuhan untuk memperlancar angkutan laut.
Dalam penetapan rencana lokasi pelabuhan baik itu pelabuhan utama yang
digunakan untuk melayani angkutan laut harus berpedoman pada :
a. kedekatan secara geografis dengan tujuan pasar internasional;
b. kedekatan dengan jalur pelayaran internasional;
c. jarak tertentu dengan pelabuhan utama lainnya;
d. memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang;
e. mampu melayani kapal dengan kapasitas tertentu;
f. berperan sebagai tempat alih muat penumpang dan barang internasional; dan
g. volume kegiatan bongkar muat dengan jumlah tertentu.
Dalam penetapan rencana lokasi pelabuhan untuk pelabuhan pengumpul yang
digunakan untuk melayani angkutan laut harus berpedoman pada :
a. kebijakan Pemerintah yang meliputi pemerataan pembangunan nasional dan
meningkatkan pertumbuhan wilayah;
b. mempunyai jarak tertentu dengan pelabuhan pengumpul lainnya;
c. mempunyai jarak tertentu terhadap jalur/rute angkutan laut dalam negeri;
d. memiliki luas daratan dan perairan tertentu serta terlindung dari gelombang;
e. berdekatan dengan pusat pertumbuhan wilayah ibukota provinsi dan kawasan
pertumbuhan nasional;
f. mampu melayani kapal dengan kapasitas tertentu; dan
g. volume kegiatan bongkar muat dengan jumlah tertentu.
Dalam penetapan rencana lokasi pelabuhan untk pelabuhan pengumpan regional
maupun pelabuhan pengumpan lokal yang digunakan untk melayani angkutan laut harus
berpedoman pada:
a. tata ruang wilayah provinsi dan pemerataan pembangunan antarprovinsi;
b. tata ruang wilayah kabupaten/kota serta pemerataan dan peningkatan pembangunan
kabupaten/kota;

4- 7
4. Kajian Literatur

c. pusat pertumbuhan ekonomi daerah;


d. jarak dengan pelabuhan pengumpan lainnya;
e. luas daratan dan perairan;
f. pelayanan penumpang dan barang antarkabupaten/kota dan/atau antarkecamatan
dalam 1 (satu) kabupaten/kota; dan
g. kemampuan pelabuhan dalam melayani kapal.
Dalam penetapan rencana lokasi pelabuhan untuk pelabuhan utama yang digunakan
untuk melayani angkutan penyeberangan selain harus sesuai dengan ketentuan di atas
juga harus berpedoman pada jaringan jalan nasional; dan/atau jaringan jalur kereta api
nasional.
Rencana peruntukan wilayah daratan untuk Rencana Induk Pelabuhan laut disusun
berdasarkan kriteria kebutuhan fasilitas pokok dan fasilitas penunjang. Fasilitas pokok
pada wilayah daratan pelabuhan laut melibuti dermaga, gudang lini 1, lapangan
penumpukan lini 1, terminal penumpang, terminal peti kemas, terminal ro-ro, fasilitas
penambungan dan pengolahan imbah, fasilitas bunker, fasilitas pemadam kebakaran,
fasilitas gudang untuk bahan/barang berbahaya dan beracun, dan fasilitas pemeliharaan
dan perbaikan peralatan dan sarana bantu navigasi pelayaran. Fasilitas penunjang pada
wilayah daratan pelabuhan laut antara lain: kawasan perkantoran, fasilitas pos dan
telekomunikasi, fasilitas air bersih, listrik dan telekomunikasi, jaringan jalan dan rel
kereta api, jaringan air limbah, drainase, dan sampah, areal pengembangan pelabuhan,
tempat tunggu kendaraan bermotor, kawasan perdagangan, kawasan industri, dan fasilitas
umum lainnya.
4.3. Rencana Induk Pelabuhan Nasional
Rencana Induk Pelabuhan Nasional sebagaimana dimaksud di atas merupakan
pedoman dalam penetapan lokasi, pembangunan, pengoperasian, pengembangan
pelabuhan, dan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan. Rencana Induk Pelabuhan
disusun dengan memperhatikan:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi,
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/kota;
b. Potensi dan perkembangan sosial ekonomi wilayah;
c. Potensi sumber daya alam;
d. Perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun internasional.

4- 8
4. Kajian Literatur

Gambar 4.3. Skema Rencana Induk Pelabuhan Nasional


Amanat yang tercantum dalam Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran pasal 71 ayat 4 dimaksud yang diulang/dipertegas pula dalam pasal 8 ayat 2
Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan, telah dilaksanakan
Menteri Perhubungan dengan dikeluarkannya Keputusan menteri Perhubungan Nomor
KP 414 Tahun 2013 tentang Penetapan Rencana Induk Pelabuhan nasional yang pada
intinya menguraikan hal hal sebagai berikut:
1. Kebijakan pelabuhan nasional dan strategi implementasinya disertai uraian
mengenai rencana aksi dibidang pengaturan dan pelaksanaan kebijakan.
2. Proyeksi lalu lintas muatan melalui pelabuhan dan implikasinya terhadap
pembangunan kepelabuhanan di Indonesia
3. Hierarki, lokasi dan rencana pembangunan pelabuhan disertai uraian mengenai
pelabuhan strategis dalam koridor ekonomi, parameter perencanaan dan strategi
pengembangan pelabuhan berdasarkan koridor ekonomi dan rencana
pengembangan pelabuhan

4- 9
4. Kajian Literatur

Meskipun baru berusia 3 (tiga) tahun, namu dengan terjadinya lingkungan strategis
yang berkembang khususnya perkembangan di daerah serta perubahan wilayah
administratif dalam penyebutan lokasi pelabuhan, maka dilakukan perbaikan dengan
mempertimbangkan
1. Pemekaran wilayah Provinsi maupun Kota/kabupaten serta pengembangannya;
2. Perlu memadukan simpul-simpul moda transportasi perairan;
3. Ditetapkannya 9 agenda pembangunan pemerintahan yang dikenal NAWACITA
yang diantaranya akan diwujudkan dengan program Tol Laut
4. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada awal tahun 2016
5. 10 destinasi wisata prioritas Nasional
Kebijakan Kepelabuhan Nasional Khususnya pada pelabuhan utama akan
merefleksikan perkembangan sektor kepelabuhan menjadi industri jasa kepelabuhan
kelas dunia yang kompetitif dengan sistem operasi pelabuhan sesuai standar internasional
baik dalam bidang keselamatan pelayaran maupun perlindungan maritim. Kebijakan
Pelabuhan Nasional diarahkan dalam upaya mendorong investasi swasta, mendorong
persaingan, pemberdayaan peran penyelenggaraan pelabuhan, terwujudnya integrasi
perencanaan, menciptakan kerangka kerja hukum dan peraturan yang tepat dan fleksibel,
mewujudkan sistem operasi pelabuhan yang aman dan terjamin, meningkatkan
perlindungan maritim, mengembangkan sumber daya manusia.
Agenda pembangunan pemeringan dalam pembangunan jangka menengah 2015 –
2019 yang dikenal dengan nawacita menyebutkan bahwa akan membangun Indonesia
dari pinggiran dengan memperkuat daerah – daerah da desa dalam kerangka Negara
kesatuan. Hal ini aka diwujudkan dengan program Tol Laut yang dapat diartikan sebagai
upaya untuk memperkuat penyelenggaran angkutan laut yang menghubungkan wilayah
Indonesia yang sudah mahu dan wilayah Indonesia yang belum maju atau tertinggal
termasuk daerah perbatasan secara tetap dan teratur (berjadwal). Untuk menunjang
kelancaran penyelenggaraan transportasi laut dalam trayek, maka pelabuhan yang akan
dikunjungi kapal harus dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai serta ditingkatkan
kinerja operasionalnya.

4- 10
4. Kajian Literatur

4.4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kendal

Secara legal, rencana tata ruang wilayah Kabupaten Kendal tertuang di dalam Peraturan
Daerah (Perda) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Kendal Tahun 2011 – 2031, yang merupakan penyempurnaan dari
Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 23 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Kendal Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2026.

Di dalam Perda ini disebutkan bahwa penyelenggaraan penataan ruang wilayah bertujuan
mewujudkan ruang wilayah sebagai kota industri yang didukung oleh pertanian,
produktif, prospektif, dan berkelanjutan menuju penguatan ekonomi masyarakat yang
adil dan sejahtera, dengan kebijakan-kebijakan :

1. pengembangan dan pemantapan kawasan industri pesisir timur; yang dilakukan


dengan strategi : a. mengarahkan seluruh kegiatan industri baru pada kawasan
peruntukan industri; b. mengembangkan kegiatan industri yang berbahan baku lokal;
c. membangun sarana dan prasarana dasar kawasan; dan d. membangun fasilitas
penunjang.

2. pengembangan sarana prasarana wilayah untuk mendukung kegiatan industri; yang


dilakukan dengan strategi : a. meningkatkan akses dari kawasan industri ke
pelabuhan dan pasar; b. meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana penunjang
kawasan industri; dan c. mengembangkan trayek angkutan penumpang ke kawasan
industri.

3. pengembangan kegiatan pertanian produktif dan prospektif di bagian utara; yang


dilakukan dengan strategi : a. mempertahankan secara ketat dan meningkatkan
produktivitas lahan pertanian produktif; b. menekan pengurangan luasan lahan sawah
beririgasi bagian utara; c. meningkatkan produksi dan produktifitas tanaman pangan;
d. menetapkan kawasan lahan pertanian berkelanjutan; dan e. meningkatkan fungsi
prasarana irigasi yang sudah ada.

4- 11
4. Kajian Literatur

4. pengembangan agropolitan di bagian selatan; yang dilakukan dengan strategi-strategi


: a. mengembangan kawasan agropolitan; dan b. mengembangkan komoditi unggulan
pertanian sesuai dengan potensi kawasan.

5. pengembangan minapolitan di bagian utara; yang dilakukan dengan strategi-strategi


: a. mengembangkan kawasan minapolitan dan dilengkapi dengan sistem minabisnis;
dan b. mengembangkan komoditi unggulan perikanan sesuai dengan potensi
kawasan.

6. pengembangan kawasan budidaya tanaman tahunan hasil nonkayu; yang dilakukan


dengan strategi-strategi : a. mengganti tanaman semusim dengan tanaman tahunan;
b. mengembangkan tanaman tahunan dengan hasil nonkayu yang memiliki nilai
ekonomi tinggi; dan c. mengembangkan sistem tumpang sari.

7. pengembangan kegiatan peternakan di bagian selatan; yang dilakukan dengan


strategi-strategi : a. mengembangkan hijauan pakan ternak; b. mengembangkan
fasilitas pemasaran hasil ternak; dan c. mengembangkan peternakan modern.

8. pengembangan pusat-pusat pelayanan secara berhierarki; yang dilakukan dengan


strategi-strategi : a. menetapkan hierarki pelayanan kota sesuai peran dan fungsi; b.
memantapkan pusat pelayanan lingkungan; dan c. memacu pertumbuhan
permukiman baru di sekitar PPK.

9. pengembangan dan pemantapan sistem prasarana wilayah; yang dilakukan dengan


strategi-strategi : a. mengintegrasikan perencanaan pembangunan prasarana antar
perkotaan dan antar sektor dalam wilayah Daerah yang efektif, efisien, dan terpadu;
b. mengembangkan keterpaduan jaringan drainase dan air minum dalam wilayah
Daerah; dan c. meningkatkan kerjasama dan integrasi pengelolaan dan penanganan
limbah baik domestik maupun nondomestik, lintas wilayah, dan lintas sektoral.

10. pengembangan kelengkapan sarana prasarana permukiman di bagian tengah; yang


dilakukan dengan strategi-strategi : a. mengarahkan pertumbuhan baru permukiman
ke bagian tengah; b. meningkatkan dan memberbaiki prasarana jalan yang menuju
bagian tengah Daerah; dan c. menyediakan prasarana dan sarana pendukung
permukiman.

4- 12
4. Kajian Literatur

11. pengendalian secara ketat terhadap kawasan lindung di bagian selatan; yang
dilakukan dengan strategi-strategi : a. mempertahankan dan memulihkan fungsi
hutan lindung; b. memulihkan kawasan lindung resapan air; c. meningkatkan
memulihkan kawasan lindung setempat; d. meningkatkan nilai ekonomi kawasan
lindung cagar budaya dan cagar alam; e. mempertahankan luasan kawasan lindung;
f. mengembangkan program pengelolaan hutan bersama masyarakat; g.
meningkatkan kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan kawasan hutan lindung;
dan h. meningkatkan kawasan ruang terbuka hijau perkotaan.

12. peningkatan fungsi kawasan pertahanan untuk kepentingan pertahanan dan


keamanan Negara; yang dilakukan dengan strategi-strategi : a. mengembangkan
kawasan lindung dan/atau budidaya di luar kawasan pertahanan dan keamanan; b.
mengembangkan peruntukan budidaya di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan
secara selektif; dan c. turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan
keamanan.

Rencana struktur ruang wilayah terdiri atas :

1. Sistem pusat kegiatan; terdiri atas

a. Pusat kegiatan, yang di Kabupaten Kendal ini terdiri atas :

i. Daerah bersama Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan


Purwodadi), berfungsi sebagai PKN.

ii. PKL meliputi : 1. Kecamatan Kendal; 2. Kecamatan Weleri; 3. Kecamatan


Kaliwungu; 4. Kecamatan Boja; dan 5. Kecamatan Sukorejo.

iii. PPK di Kecamatan Pegandon.

iv. PPL meliputi : 1. Kecamatan Cepiring; 2. Kecamatan Patebon; 3.


Kecamatan Gemuh; 4. Kecamatan Rowosari; 5. Kecamatan Kangkung; 6.
Kecamatan Pageruyung; 7. Kecamatan Patean; 8. Kecamatan Singorojo; 9.
Kecamatan Limbangan; 10. Kecamatan Kaliwungu Selatan; 11. Kecamatan
Ringinarum; 12. Kecamatan Ngampel; 13. Kecamatan Brangsong; dan 14.
Kecamatan Plantungan.

4- 13
4. Kajian Literatur

b. Fungsi pelayanan, meliputi :

i. PKN perkotaan Kedungsepur dengan fungsi pelayanan pusat kawasan


ekonomi strategis dan industri;

ii. PKL terletak di perkotaan meliputi: 1. Perkotaan Kendal dengan fungsi


sebagai pusat pelayanan pemerintahan tingkat Daerah, pusat perdagangan
regional, dan pendidikan; 2. Perkotaan Weleri dengan fungsi pusat
pelayanan sebagai pusat perdagangan dan jasa; 3. Perkotaan Kaliwungu
dengan fungsi pusat pelayanan sebagai pusat industri, kawasan ekonomi
strategis, perdagangan, dan jasa; 4. Perkotaan Boja dengan fungsi pusat
pelayanan sebagai pusat kegiatan pertanian penyangga agropolitan,
perdagangan, dan jasa serta konservasi; dan 5. Perkotaan Sukorejo dengan
fungsi pusat agropolitan, pertanian, peternakan, dan konservasi.

iii. PPK perkotaan Pegandon dengan fungsi untuk melayani kegiatan skala
kecamatan atau beberapa desa;

iv. PPL di perkotaaan ibu kota kecamatan dengan fungsi pusat pelayanan
tingkat kecamatan.

c. Pengembangan fasilitas perkotaan, meliputi :

i. PKL perkotaan Kendal, pengembangan pusat pemerintahan, perdagangan,


dan jasa serta pendidikan;

ii. PKL perkotaan Kaliwungu, pengembangan fasilitas dasar kawasan industri,


pusat perdagangan, jasa skala regional, dan fasilitas pelayanan transportasi
laut skala nasional;

iii. PKL perkotaan Weleri, pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa;

iv. PKL perkotaan Boja, pemantapan fasilitas perdagangan Boja sebagai outlet
kawasan agropolitan Boja; dan

4- 14
4. Kajian Literatur

v. PKL perkotaan Sukorejo, pemantapan fasilitas perdagangan Sukorejo


sebagai outlet kawasan agropolitan Sukorejo;

vi. PPK perkotaan Pegandon, pengembangan fasilitas perkotaan berupa


perdagangan dan jasa, perumahan, pendidikan, kesehatan, olah raga, dan
peribadatan; dan

vii. PPL, pengembangan fasilitas perkotaan berupa perdagangan dan jasa,


pendidikan, kesehatan, olah raga, dan peribadatan.

2. Sistem jaringan prasarana, yang terdiri atas :

a. Sistem prasarana utama; terdiri atas :

i. rencana jaringan transportasi darat, meliputi :

1. jaringan jalan; meliputi :

a. jaringan jalan bebas hambatan, di ruas jalan bebas hambatan (jalan


tol) Semarang – Kendal – Batang;

b. jaringan jalan arteri; meliputi : a. ruas jalan Lingkar Utara Weleri-


batas perkotaan Kendal; b. ruas jalan Lingkar Utara Kaliwungu; c.
ruas jalan Lingkar Bodri; d. jalan raya Barat; e. jalan raya Kendal; f.
jalan raya Timur; g. ruas jalan batas Kota Semarang – batas Kota
Kendal; dan h. jalan Ketapang – Kebonharjo.

c. jaringan jalan kolektor; meliputi a. ruas jalan Kaliwungu –


Kaliwungu Selatan - Boja – Mijen; b. ruas jalan Weleri – Gemuh -
Pegandon - Ngampel - Kaliwungu Selatan; c. ruas jalan Weleri –
Parakan; d. ruas jalan Bawang – Sukorejo – Patean – Singorojo –
Boja – Semarang; dan e. Kaliwungu – Boja – Sumowono.

d. jaringan jalan lokal.

2. jaringan prasarana lalu lintas angkutan jalan; berupa pengembangan


terminal penumpang, meliputi : a. terminal penumpang tipe B berada di

4- 15
4. Kajian Literatur

Kecamatan Gemuh; b. mengembangkan terminal penumpang tipe C


berada di Kecamatan Sukorejo dan Kecamatan Boja; dan c. peningkatan
infrastruktur pendukung dan pelayanan terminal yang memadai.

3. jaringan pelayanan lalu lintas angkutan jalan, berupa pengembangan


pelayanan angkutan umum.

ii. rencana jaringan perkeretaapian; terdiri atas :

1. jalur perkeretaapian regional, meliputi : a. pengembangan jalur Semarang


– Jakarta; dan b. perkeretaapian jalur ganda Semarang – Pekalongan –
Tegal – Cirebon;

2. jalur perkeretaapian komuter, meliputi : a. penyelenggaraan kereta api


komuter jurusan Brumbung – Semarang – Tegal – Slawi dengan stasiun
kedatangan dan keberangkatan (di Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan
Pegandon, dan Kecamatan Weleri); b. meningkatkan sistem keamanan
dan keselamatan perlintasan kereta api; dan c. pengembangan stasiun
Kaliwungu.

3. peningkatan stasiun yang ada di Daerah, meliputi : a. stasiun kelas III


berada di Kecamatan Pegandon; dan b. stasiun kelas I berada di
Kecamatan Weleri.

iii. rencana transportasi laut, meliputi :

1. pengembangan pelabuhan penumpang berada di Kecamatan Kaliwungu,


yang akan digunakan untuk melayani angkutan laut dan angkutan
penyeberangan

2. rencana jalur kapal penyeberangan melayani jalur Kendal – Kumai


Kalimantan Tengah;

3. rencana pengembangan pelabuhan Kendal berada di Kecamatan


Kaliwungu.

4- 16
4. Kajian Literatur

b. Sistem prasarana lainnya, meliputi :

1. rencana sistem jaringan prasarana energi; terdiri atas :

a. jaringan pipa minyak dan gas bumi dan panas bumi; meliputi : a.
pembangunan jaringan pipa gas bumi Semarang – Cirebon berada
di sepanjang pantai Daerah; b. pengembangan Stasiun Pengisian
dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE); c. pengembangan sumur
tua/marjinal; dan d. pengembangan panas bumi gunung Ungaran.

b. jaringan transmisi tenaga listrik; meliputi : a. pembangunan


jaringan transmisi listrik, meliputi Saluran Udara Tegangan Ekstra
Tinggi dengan kapasitas 500 (lima ratus) Kilo Volt Amper (KVA)
dengan jalur membentang dari perbatasan Provinsi Jawa Barat –
Kabupaten Brebes – Kabupaten Pemalang – Kota Semarang –
Kabupaten Grobogan – Kabupaten Blora – Perbatasan Provinsi
Jawa Timur; b. penambahan dan perbaikan sistem jaringan listrik
pada wilayah Daerah yang belum terlayani; dan c. meningkatkan
dan mengoptimalkan pelayanan listrik di seluruh wilayah Daerah.

c. jaringan tenaga listrik, meliputi a. pembangunan Pembangkit


Listrik Tenaga Air (PLTA) meliputi: 1. Kecamatan Singorojo; dan
2. Kecamatan Plantungan. b. pembangunan Pembangkit Listrik
Tenaga Panas Bumi (PLTPB) berada di Kecamatan Limbangan; c.
pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berada di
Desa Pidodo Wetan, Desa Kartika Jaya, dan Desa Wonosari
Kecamatan Patebon; dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga
Mikro Hidro (PLTMH) meliputi di Kecamatan Plantungan,
Kecamatan Pageruyung, dan Kecamatan Limbangan.

2. rencana sistem jaringan telekomunikasi; terdiri atas :

a. kabel; yang meliputi : a. pengembangan jaringan terestrial berupa


penggelaran serat optik dari Kota Tegal - Kabupaten Tegal -
Kabupaten Pemalang – Kota Pekalongan – Kabupaten Pekalongan

4- 17
4. Kajian Literatur

– Kabupaten Batang – Kabupaten Kendal – Kota Semarang –


Kabupaten Demak – Kabupaten Kudus – Kabupaten Pati –
Kabupaten Rembang; dan b. peningkatan kapasitas sambungan
telepon pada kawasan perdagangan dan jasa, industri, fasilitas
umum, dan sosial, terminal, permukiman, dan kawasan yang baru
dikembangkan.

b. Nirkabel, yang meliputi : a. pembangunan jaringan layanan internet


pada fasilitas umum di ibu kota Kabupaten; dan b. pengembangan
menara telekomunikasi bersama.

3. rencana sistem jaringan sumber daya air; meliputi :

a. sistem jaringan air baku untuk air minum; yang meliputi :

i. pengembangan perpipaan;

ii. pemanfaatan potensi sumber mata air.

b. sistem jaringan irigasi, yang meliputi :

i. peningkatan jaringan irigasi sederhana dan irigasi setengah


teknis dengan luas kurang lebih 21.000 (dua puluh satu ribu)
hektar;

ii. perlindungan daerah irigasi kewenangan pusat meliputi


daerah irigasi Kedung Asem dengan luas kurang lebih 3.178
(tiga ribu seratus tujuh puluh delapan) hektar; dan daerah
irigasi Bodri-Trompo dengan luas kurang lebih 8.939
(delapan ribu sembilan ratus tiga puluh sembilan) hektar.

iii. perlindungan daerah irigasi kewenangan Pemerintah Daerah


meliputi daerah irigasi Plumbon dengan luas kurang lebih
290 (dua ratus sembilan puluh) hektar, daerah irigasi
Sejomerto dengan luas kurang lebih 1.264 (seribu dua ratus
enam puluh empat) hektar; dan daerah irigasi Kedung

4- 18
4. Kajian Literatur

Pengilon dengan luas kurang lebih 2.359 (dua ribu tiga ratus
lima puluh sembilan) hektar.

iv. peningkatan sarana dan prasarana pendukung;

v. perlindungan terhadap sumber-sumber mata air dan kawasan


resapan air;

vi. pembatasan terhadap pengambilan air tanah;

vii. pembangunan bendung dan cek dam pada kawasan potensial;

viii. mencegah terjadinya pendangkalan terhadap saluran irigasi;

ix. pelibatan masyarakat pengguna Perkumpulan Petani


Pemakai Air (P3A) dalam pengelolaan jaringan irigasi;

x. rehabilitasi dan pemeliharaan kerusakan jaringan irigasi; dan

xi. pembangunan dan perbaikan pintu-pintu air

c. sistem pengendali banjir, berupa a. pembangunan embung atau


waduk Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri berada di Kecamatan
Singorojo, Kecamatan Gemuh, Kecamatan Patean, Kecamatan
Plantungan, dan Kecamatan Sukorejo; dan b. pembangunan
pemecah ombak berada di Kecamatan Kaliwungu dan Kecamatan
Rowosari;

4. rencana sistem jaringan prasarana wilayah lainnya, meliputi :

a. sistem jaringan persampahan; meliputi :

i. optimalisasi pemanfaatan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)


sampah meliputi: 1. TPA desa Darupono; 2. TPA desa
Pageruyung; dan 3. TPA desa Jatirejo.

ii. penataan sanitary landfill beserta sarana dan prasarana


penunjang TPA;

4- 19
4. Kajian Literatur

iii. pembangunan pengolah sampah 3 R (reuse, reduce, recycle)


mengurangi masukan sampah ke TPA;

iv. peningkatan peran serta masyarakat dan swasta/dunia usaha


dalam penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan
persampahan; dan

v. pengembangan alternatif pembiayaan.

b. sistem jaringan sanitasi; meliputi a. pembangunan fasilitas instalasi


pengelolaan air limbah rumah tangga secara setempat atau terpusat
di lingkungan padat penduduk dan kawasan industri; b.
pembangunan instalasi pengolahan limbah Bahan Berbahaya
Beracun (B3); c. penguatan kelembagaan dan peningkatan
kapasitas aparat pengelola air limbah; dan d. pengembangan
alternatif pembiayaan.

c. sistem jaringan drainase, yang meliputi a. pengembangan sistem


pematusan pada jalan arteri dan kolektor primer; b. peningkatan
pemeliharaan saluran drainase; c. peningkatan pelibatan
stakeholder; dan d. pengembangan alternatif pembiayaan.

d. jalur dan ruang evakuasi bencana, meliputi :

i. jalur evakuasi di : 1. Kendal – Kaliwungu - Darupono; 2.


Kendal - Magangan; 3. Cepiring - Gemuh; dan 4. Weleri -
Pagergunung.

ii. alokasi ruang untuk evakuasi diarahkan berada di Kantor


Kecamatan yang berada di wilayah lebih tinggi dan aman di
pusat pemerintahan kecamatan.

Sedangkan untuk rencana pola ruang wilayah terdiri atas :

1. Kawasan lindung, dengan rencana pengembangan yang terdiri atas :

4- 20
4. Kajian Literatur

a. hutan lindung; dengan luas kurang lebih 1.704 (seribu tujuh ratus empat)
hektar meliputi: a. Kecamatan Limbangan; d. Patean b. Kecamatan
Plantungan; dan e. Singorojo,dan c. Kecamatan Sukorejo. F. Boja

b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya,


berupa kawasan resapan air, meliputi : a. sebagian Kecamatan Limbangan;
b. sebagian Kecamatan Boja; c. sebagian Kecamatan Singorojo; d.
sebagian Kecamatan Patean; e. sebagian Kecamatan Sukorejo; f. sebagian
Kecamatan Plantungan; dan g. Kecamatan Pageruyung.

c. kawasan perlindungan setempat; terdiri atas :

i. kawasan sempadan pantai, yang ditetapkan 100 (seratus) meter


dari titik pasang tertinggi pantai meliputi: a. Kecamatan Rowosari;
b. Kecamatan Kangkung; c. Kecamatan Cepiring; d. Kecamatan
Patebon; e. Kecamatan Kendal; f. Kecamatan Brangsong; dan g.
Kecamatan Kaliwungu.

ii. kawasan sempadan sungai;

1. sempadan sungai di dalam kawasan perkotaan, terdiri atas:

a. sungai bertanggul, ditetapkan paling sedikit 3 (tiga)


meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.

b. sungai tidak bertanggul, meliputi: a) sungai dengan


kedalaman kurang dari 3 (tiga) meter, ditetapkan
paling sedikit 10 (sepuluh) meter diukur dari tepi
sungai pada waktu ditetapkan; b) sungai dengan
kedalaman 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua
puluh) meter, ditetapkan paling sedikit 15 (lima
belas) meter diukur dari tepi sungai pada waktu
ditetapkan;

c. sungai dengan kedalaman lebih dari 20 (dua puluh)


meter, ditetapkan paling sedikit 30 (tiga puluh)

4- 21
4. Kajian Literatur

meter diukur dari tepi sungai pada waktu


ditetapkan.

2. sempadan sungai di luar kawasan perkotaan, terdiri atas:

a. sungai bertanggul, ditetapkan paling sedikit 5


(lima) meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.

b. sungai tidak bertanggul, meliputi: a) sungai besar,


ditetapkan paling sedikit 100 (seratus) meter diukur
dari tepi sungai pada waktu ditetapkan; dan b)
sungai kecil, ditetapkan paling sedikit 50 (lima
puluh) meter diukur dari tepi sungai pada waktu
ditetapkan.

3. sempadan sungai di luar permukiman, ditetapkan paling


sedikit 100 (seratus) meter di kiri - kanan sungai meliputi:
a. sepanjang Sungai Bodri; b. sepanjang Sungai Waridin;
c. sepanjang Sungai Kuto; d. sepanjang Sungai Damar; e.
sepanjang Sungai Bulanan; f. sepanjang Sungai Blukar;
dan g. sepanjang Sungai Blorong;

4. sempadan sungai di dalam permukiman, ditetapkan paling


sedikit cukup untuk dibangun jalan inspeksi atau 10 - 15
(sepuluh hingga lima belas) meter meliputi: a. sepanjang
Sungai Buntu; b. sepanjang Sungai Kendal; c. sungai
Glodok; dan d. sungai Aji.

iii. kawasan sekitar danau/waduk;

iv. kawasan terbuka hijau perkotaan, termasuk didalamnya hutan kota


berfungsi untuk menjaga fungsi hidrologis, memelihara
keindahan, mikrolimat, ekosistem, dan habitat fauna dengan luas
2.683 (dua ribu enam ratus delapan puluh tiga) hektar atau 30%
(tiga puluh persen) dari luas keseluruhan perkotaan.

4- 22
4. Kajian Literatur

v. kawasan dengan kemiringan 40 % (empat puluh persen) atau lebih,


meliputi : a. sebagian Kecamatan Limbangan; b. sebagian
Kecamatan Plantungan; dan c. sebagian Kecamatan Sukorejo.

vi. kawasan sempadan rel kereta api, ditetapkan 6 (enam) meter dari
batas luar pengamanan rel kereta api meliputi: a. sebagian
Kecamatan Weleri; b. sebagian Kecamatan Ringinarum; c.
sebagian Kecamatan Gemuh; d. sebagian Kecamatan Pegandon; e.
sebagian Kecamatan Ngampel; f. sebagian Kecamatan Brangsong;
g. sebagian Kecamatan Kaliwungu Selatan; dan h. sebagian
Kecamatan Kaliwungu.

d. kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya; terdiri atas :

i. kawasan suaka alam; berupa Kawasan Suaka Alam Pagerwunung


Darupono berada di Kecamatan Kaliwungu Selatan seluas kurang
lebih 33 (tiga puluh tiga) hektar.

ii. pantai berhutan bakau, meliputi a. Kecamatan Rowosari; b.


Kecamatan Kangkung; c. Kecamatan Cepiring; d. Kecamatan
Patebon; e. Kecamatan Kendal; f. Kecamatan Brangsong; dan g.
Kecamatan Kaliwungu.

iii. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, meliputi : a. situs


Seloarjuno berada di Kecamatan Limbangan; b. tugu gerbang
Kabupaten Lama berada di Kecamatan Kaliwungu; c. tugu
gerbang Pasarean berada di Kecamatan Kendal; dan d. candi
Gunung Gentong berada di Kecamatan Limbangan.

e. kawasan lindung geologi, meliputi :

i. kawasan imbuhan air, dengan luas kurang lebih 17.876 (tujuh belas
ribu delapan ratus tujuh puluh enam) hektar meliputi: a. sebagian
Kecamatan Limbangan; b. sebagian Kecamatan Boja; dan c.
sebagian Kecamatan Singorojo

4- 23
4. Kajian Literatur

ii. kawasan sempadan mata air, ditetapkan selebar 200 (dua ratus)
meter di sekeliling mata air meliputi: a. sebagian Kecamatan Boja;
b. sebagian Kecamatan Plantungan; c. sebagian Kecamatan
Limbangan; d. sebagian Kecamatan Sukorejo; e. sebagian
Kecamatan Patean; dan f. sebagian Kecamatan Singorojo.

f. kawasan rawan bencana, terdiri atas :

i. kawasan rawan bencana banjir, meliputi a. Kecamatan Kendal; b.


Kecamatan Patebon; c. Kecamatan Ngampel; d. Kecamatan
Kaliwungu; e. Kecamatan Brangsong; f. Kecamatan Cepiring; g.
Kecamatan Kangkung; h. Kecamatan Rowosari; dan i. Kecamatan
Weleri.

ii. kawasan rawan bencana kekeringan, berada di bagian tengah


Daerah

iii. kawasan rawan bencana angin topan, berada di bagian tengah


Daerah

iv. kawasan rawan bencana gelombang pasang, meliputi: a. sebagian


Kecamatan Rowosari; b. sebagian Kecamatan Kangkung; c.
sebagian Kecamatan Cepiring; d. sebagian Kecamatan Patebon; e.
sebagian Kecamatan Kendal; f. sebagian Kecamatan Brangsong;
dan g. sebagian Kecamatan Kaliwungu.

v. kawasan rawan bencana longsor, meliputi: a. sebagian Kecamatan


Pageruyung; b. sebagian Kecamatan Plantungan; c. sebagian
Kecamatan Gemuh; d. sebagian Kecamatan Kangkung; e. sebagian
Kecamatan Kaliwungu; f. sebagian Kecamatan Kaliwungu
Selatan; g. sebagian Kecamatan Cepiring; h. sebagian Kecamatan
Patebon; i. sebagian Kecamatan Singorojo; j. sebagian Kecamatan
Limbangan; k. sebagian Kecamatan Patean;dan l. sebagian
Kecamatan Sukorejo.

4- 24
4. Kajian Literatur

vi. kawasan rawan bencana abrasi, meliputi: a. sebagian Kecamatan


Rowosari; b. sebagian Kecamatan Kangkung; c. sebagian
Kecamatan Cepiring; d. sebagian Kecamatan Patebon; e. sebagian
Kecamatan Kendal; f. sebagian Kecamatan Brangsong; dan g.
sebagian Kecamatan Kaliwungu.

g. kawasan lindung lainnya, berupa kawasan perlindungan plasma nutfah,


yang terdiri atas :

i. kawasan perlindungan plasma nutfah di daratan, dengan luas


kurang lebih 1.736 (seribu tujuh ratus tiga puluh enam) hektar
meliputi: a. Kecamatan Limbangan; b. Kecamatan Plantungan; c.
Kecamatan Sukorejo; dan d. Kecamatan Kaliwungu Selatan.

ii. kawasan perlindungan plasma nutfah di lautan, meliputi a.


Kecamatan Rowosari; b. Kecamatan Kangkung; c. Kecamatan
Cepiring; d. Kecamatan Patebon; e. Kecamatan Kendal; f.
Kecamatan Brangsong; dan g. Kecamatan Kaliwungu.

2. Kawasan budidaya, terdiri atas :

a. kawasan peruntukan hutan produksi, meliputi :

i. hutan produksi terbatas, dengan luas kurang lebih 1.182 (seribu


seratus delapan puluh dua) hektar meliputi: a. Kecamatan
Limbangan; b. Kecamatan Sukorejo; c. Kecamatan Plantungan;
dan d. Kecamatan Singorojo.

ii. hutan produksi, dengan luas kurang lebih 15.225 (lima belas ribu
dua ratus dua puluh lima) hektar meliputi: a. Kecamatan
Limbangan; b. Kecamatan Singorojo; c. Kecamatan Kaliwungu
Selatan; d. Kecamatan Ringinarum; e. Kecamatan Boja; f.
Kecamatan Pageruyung; g. Kecamatan Weleri; h. Kecamatan
Plantungan; i. Kecamatan Kaliwungu; dan j. Kecamatan Sukorejo.

4- 25
4. Kajian Literatur

b. kawasan peruntukan hutan rakyat, berupa hutan produksi di luar kawasan


hutan yang dikelola oleh masyarakat meliputi: a. sebagian Kecamatan
Limbangan; b. sebagian Kecamatan Singorojo; c. sebagian Kecamatan
Kaliwungu Selatan; d. sebagian Kecamatan Ringinarum; e. sebagian
Kecamatan Boja; f. sebagian Kecamatan Pageruyung; g. sebagian
Kecamatan Gemuh; h. sebagian Kecamatan Weleri; i. sebagian
Kecamatan Plantungan; j. sebagian Kecamatan Kaliwungu; dan k.
sebagian Kecamatan Sukorejo.

c. kawasan peruntukan pertanian; terdiri atas:

i. kawasan tanaman pangan; ditetapkan sebagai lahan pertanian


pangan berkelanjutan dengan luas kurang lebih 22.666 (dua puluh
dua ribu enam ratus enam puluh enam) hektar meliputi: a. sebagian
Kecamatan Rowosari; b. sebagian Kecamatan Kangkung; c.
sebagian Kecamatan Cepiring; d. sebagian Kecamatan Patebon; e.
sebagian Kecamatan Kendal; f. sebagian Kecamatan Brangsong;
g. sebagian Kecamatan Kaliwungu; h. sebagian Kecamatan
Ngampel; i. sebagian Kecamatan Pegandon; j. sebagian
Kecamatan Gemuh; k. sebagian Kecamatan Weleri; l. sebagian
Kecamatan Ringinarum; m. sebagian Kecamatan Sukorejo; n.
sebagian Kecamatan Limbangan; o. sebagian Kecamatan
Singorojo; p. sebagian Kecamatan Boja; q. sebagian Kecamatan
Patean; r. sebagian Kecamatan Plantungan; s. sebagian kecamatan
Kaliwungu Selatan; dan t. sebagian kecamatan Pageruyung.

ii. kawasan hortikultura; dengan luas kurang lebih 5.723 (lima ribu
tujuh ratus dua puluh tiga) hektar meliputi: a. sebagian Kecamatan
Rowosari; b. sebagian Kecamatan Kangkung; c. sebagian
Kecamatan Cepiring; d. sebagian Kecamatan Patebon; e. sebagian
Kecamatan Kendal; f. sebagian Kecamatan Brangsong; g. sebagian
Kecamatan Kaliwungu; h. sebagian Kecamatan Ngampel; i.
sebagian Kecamatan Ringinarum; j. sebagian Kecamatan

4- 26
4. Kajian Literatur

Kaliwungu Selatan; k. sebagian Kecamatan Gemuh; dan l.


sebagian Kecamatan Pegandon.

Kawasan hortikultura ini meliputi komoditas :

1. sayuran dan buah-buahan semusim antara lain; 1). sayuran


meliputi bawang daun, bawang merah, bawang putih,
bayam, buncis, cabai, kacang-kacangan, kangkung, kol,
kentang, ketimun, dan sejenisnya. 2). buah-buahan
meliputi blewah, melon, semangka, dan strawbery.

2. sayuran dan buah-buahan tahunan antara lain : 1). sayuran


meliputi jengkol, melinjo, dan petai. 2). buah-buahan
meliputi duku, rambutan, durian, dan cempedak.

3. tanaman hias meliputi anggrek, aglonema, gladiol, pakis,


dan sejenisnya.

4. tanaman biofarmaka meliputi kunyit, temulawak, jahe,


kencur, pace, sambiloto, dan sejenisnya.

iii. kawasan perkebunan, dengan luas kurang lebih 20.135 (dua puluh
ribu seratus tiga puluh lima) hektar meliputi: a. sebagian
Kecamatan Limbangan; b. sebagian Kecamatan Boja; c. sebagian
Kecamatan Singorojo; d. sebagian Kecamatan Patean; e. sebagian
Kecamatan Pageruyung; f. sebagian Kecamatan Plantungan; g.
sebagian Kecamatan Sukorejo; dan h. sebagian Kecamatan
Ngampel.

Kawasan ini memilliki komoditas tembakau rakyat, kapuk, kelapa,


kopi, cengkeh, panili, tebu rakyat, karet, the, jambu mede, kayu
manis, lada, kapulaga, kemiri, aren, kemukus, jahe, kakao, kapas,
dan nilam.

iv. kawasan peternakan, terdiri atas:

4- 27
4. Kajian Literatur

1. sapi, kerbau dan kuda meliputi: 1. Kecamatan Sukorejo; 2.


Kecamatan Pageruyung; 3. Kecamatan Plantungan; 4.
Kecamatan Patean; 5. Kecamatan Singorojo; 6. Kecamatan
Limbangan; 7. Kecamatan Boja. 8. Kecamatan Kaliwungu
Selatan; 9. Kecamatan Gemuh; 10.Kecamatan Pegandon;
dan 11.Kecamatan Patebon.

2. kambing, domba dan ayam buras tersebar di seluruh


kecamatan.

3. kelinci meliputi: 1. Kecamatan Cepiring; 2. Kecamatan


Plantungan; 3. Kecamatan Limbangan; 4. Kecamatan
Gemuh; 5. Kecamatan Boja; 6. Kecamatan Pageruyung; 7.
Kecamatan Kaliwungu Selatan; dan 8. Kecamatan Patean.

4. ayam ras meliputi: 1. Kecamatan Pageruyung; 2.


Kecamatan Plantungan; 3. Kecamatan Sukorejo; 4.
Kecamatan Patean; 5. Kecamatan Singorojo; 6. Kecamatan
Kaliwungu Selatan; 7. Kecamatan Limbangan; 8.
Kecamatan Boja; dan 9. Kecamatan Pegandon.

5. itik meliputi: 1. Kecamatan Rowosari; 2. Kecamatan


Kangkung; 3. Kecamatan Cepiring; 4. Kecamatan Patebon;
5. Kecamatan Brangsong; 6. Kecamatan Kaliwungu; 7.
Kecamatan Kendal; dan 8. Kecamatan Boja.

d. kawasan peruntukan perikanan, terdiri atas :

i. kawasan pengembangan perikanan tangkap; terdiri dari : a.


perikanan tangkap di laut yang memanfaatkan potensi perairan
pantai utara; dan b. perikanan tangkap di perairan umum yang
memanfaatkan potensi waduk, rawa, sungai, dan embung.

ii. kawasan pengembangan budidaya air payau; dengan luas kurang


lebih 3.531 (tiga ribu lima ratus tiga puluh satu) hektar meliputi: a.

4- 28
4. Kajian Literatur

Kecamatan Rowosari; b. Kecamatan Kangkung; c. Kecamatan


Cepiring; d. Kecamatan Patebon; e. Kecamatan Kendal; f.
Kecamatan Brangsong; dan g. Kecamatan Kaliwungu.

iii. kawasan pengembangan budidaya air tawar, dengan luas kurang


lebih 18 (delapan belas) hektar tersebar di seluruh kecamatan.

iv. kawasan pengembangan budidaya laut, dengan jarak sampai


dengan 4 (empat) mil laut, sepanjang pesisir utara meliputi: a.
Kecamatan Kaliwungu; b. Kecamatan Brangsong; c. Kecamatan
Kendal; d. Kecamatan Patebon; e. Kecamatan Cepiring; f.
Kecamatan Kangkung; dan g. Kecamatan Rowosari.

e. kawasan peruntukan pertambangan, terdiri atas :

i. mineral;

1. mineral logam; berada di kawasan Pantai Muara Kencan


Desa Pidodo Kulon Kecamatan Patebon dan di kawasan
Pantai Ngebom Desa Mororejo Kecamatan Kaliwungu.

2. mineral bukan logam; meliputi: a. Kecamatan Pegandon; b.


Kecamatan Weleri; c. Kecamatan Pageruyung; d.
Kecamatan Patean; e. Kecamatan Sukorejo; f. Kecamatan
Singorojo; dan g. sepanjang Sungai Bodri.

3. Batuan, meliputi: a. Kecamatan Limbangan; b. Kecamatan


Boja; c. Kecamatan Ngampel; d. Kecamatan Brangsong; e.
Kecamatan Kaliwungu Selatan; f. Kecamatan Kaliwungu;
g. Kecamatan Weleri; h. Kecamatan Pageruyung; i.
Kecamatan Sukorejo; dan j. sepanjang Sungai Bodri.

ii. minyak dan gas bumi, yang berskala kecil berada di Kecamatan
Gemuh.

4- 29
4. Kajian Literatur

iii. panas bumi, berada di Wilayah Kerja Pertambangan (WKP)


Gunung Ungaran.

f. kawasan peruntukan industri, terdiri atas :

i. industri besar dan sedang ; berada di Kecamatan Kaliwungu


dengan luas total kurang lebih 1.200 (seribu dua ratus) hektar.

ii. kawasan industri kecil atau mikro, berada di seluruh kecamatan.

g. kawasan peruntukan pariwisata, terdiri atas :

i. pariwisata budaya; meliputi: a. Makam Pangeran Juminah dan


Makam Sunan Katong berada di Kaliwungu Selatan; b. Makam
Nyai Dapu dan Makam Sunan Bromo berada di Kecamatan Boja;
c. Situs Batu Seloarjuno dan Kampung Jawa Sekatul berada di
Kecamatan Limbangan; dan d. Goa Maria berada di Kecamatan
Weleri.

ii. pariwisata alam; a. Pantai Sendangkulon, Pantai Jungsemi, dan


Pantai Tanjungmojo berada di Kecamatan Kangkung; b. Pantai
Sendangsikucing berada di Kecamatan Rowosari; c. Wana Wisata
berada di Kecamatan Ringinarum; d. Curug Semawur, Tuk Air
Hangat Tirtomoyo, dan Agrowisata Ngebruk berada di Kecamatan
Patean; e. Curug Sewu berada di Kecamatan Patean; f. Goa
Kiskendo dan Bendung Singorojo berada di Kecamatan Singorojo;
dan g. Air Panas Gonoharjo, Goa Jepang, dan Air Terjun
Panglebur gongso berada di Kecamatan Limbangan: dan h. Pantai
Muara Kencan di Kecamatan Patebon.

iii. pariwisata buatan, meliputi : a. Plantera berada di Kecamatan


Patean; b. Agrowisata Ngadiwarno berada di Kecamatan Sukorejo;
c. Wisata Kuliner Pemancingan berada di Kecamatan Weleri; d.
Pantai Cahaya/Atraksi Lumba-lumba berada di Kecamatan
Rowosari; dan e. Agrowisata Darupono, Agrowisata Kedungsuran,

4- 30
4. Kajian Literatur

dan Agrowisata Jerukgiling berada di Kecamatan Kaliwungu


Selatan.

h. kawasan peruntukan permukiman, meliputi :

i. kawasan permukiman perkotaan dengan luas rencana peruntukan


kurang lebih 8.734 (delapan ribu tujuh ratus tiga puluh empat)
hektar; meliputi :

1. permukiman berada di perkotaan Kendal;

2. permukiman yang merupakan bagian dari ibukota


kecamatan.

ii. kawasan permukiman perdesaan dengan luas rencana peruntukan


kurang lebih 10.132 (sepuluh ribu seratus tiga puluh dua) hektar,
yang berada di seluruh kecamatan.

i. kawasan peruntukan pesisir, meliputi : a. Kecamatan Rowosari; b.


Kecamatan Kangkung; c. Kecamatan Cepiring; d. Kecamatan Patebon; e.
Kecamatan Kendal; f. Kecamatan Brangsong;dan g. Kecamatan
Kaliwungu.

j. kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan, meliputi : a. Komando


Distrik Militer (KODIM) 0715 yang berada di Kelurahan Pekauman
Kecamatan Kendal; b. Komando Daerah Militer (KODAM) 408 yang
berada di Desa Penyangkringan Kecamatan Weleri; dan c. Kepolisian
Resor (POLRES) Kendal yang berada di Kelurahan Karangsari
Kecamatan Kendal;

k. kawasan peruntukan perkebunan;

l. kawasan peruntukan peternakan.

4- 31
4. Kajian Literatur

4.5. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Kendal


Penyusunan RPJMD Kabupaten Kendal ini mengacu pada arah kebijakan
pembangunan dalam RPJPD Kabupaten Kendal 2005 – 2025, Perencanaan TataRuang
Wilayah Kabupaten Kendal, serta dokumen perencanaan pembangunan daerah lainnya.
Penyusunan RPJMD disusun disesuaikan dengan tahap – tahap penyusunan RPJMD
sebagaimana tertuang dalam Permendagri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pedoman
Pelaksanaan PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan tata Cara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Tahap tersebut
mulai dari tahap persiapan, penyusunan draft rancangan awal, murenbang jangka
menengah sampai dengan proses legilasi oleh DPRD untuk ditetapkan menjadi Peraturan
Daerah (Perda).
Kabupaten Kendal merupakan wilayah yang mempunyai arus lalu lintas yang padat,
dilalui jalan Regional antara Jakarta – Surabaya yang merupakan jalur perekonomian
yang ramai baik angkutan barang maupun penumpang. Kondisi jalur lalu lintas sering
menibulkan kemacetan khususnya di kawasan – kawasan yang dilewati secara langsung
oleh jalan utama pantura.

4- 32