Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai
bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari
cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan
trombosit.
Jumlah penderita penyakit kanker di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi
peningkatan dari tahun ke tahun dapat dibuktikan sebagai salah satu penyebab kematian.
Hanya beberapa penyakit kanker yang dapat diobati secara memuaskan, terutama jika
diobati saat masih stadium dini. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh jenis
kanker, stadium kanker, keadaan umum penderita, dan usaha penderita untuk sembuh.
Kanker bukanlah suatu penyakit yang ringan. Langkah awal dalam pengobatan
penyakit kanker adalah deteksi dengan benar bahwa gejala yang muncul pada tubuh
pasien adalah benar-benar sel kanker ganas. Deteksi ini bisa dilakukan dengan
pemeriksaan biopsy, sehingga langkah pengobatan bisa dilakukan secara cepat dan tepat.
Langkah berikutnya adalah terapi pengobatan dengan cara konvensional. Namun pada
kenyataannya pengobatan dengan cara ini sering kali kanker belum bisa diatasi secara
total.
Penyakit Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel
jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak
terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya
(invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ
penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah
diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan
membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi
penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas.
Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga
mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam
berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di
bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi didalam

1
tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang – kadang tidak memiliki gejala.
Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati.
Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah
putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone
marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah
putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi
membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu
proses pembekuan darah).
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa kecilnya, Sumsum
tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang
berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih me-reproduksi
ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh
manusia akan memberikan tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-
reproduksi kembali.
Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada
tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol
(abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer
atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat
mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia)
akan menunjukkan beberapa gejala seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan
perdarahan.

1.2 Rumusan Masalah


Dari penyusunan makalah ini, penulis akan membahas rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa itu Leukimia ?


2. Apa penyebab Leukimia?
3. Apa ciri-ciri penderita Leukimia ?
4. Bagaimana akibat dari penyakit leukemia bagi penderita ?
5. Bagaimana cara mengobati Leukimia?

2
1.3 Tujuan
Dari penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
1. Bisa mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan Leukimia
2. Dapat mengetahui penyebab Leukimia.
3. Dapat mengetahui akibat dari penyait leukemia dagi penderitanya.
4. Dapat memperoleh informasi mengenai cara mengobati leukemia.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
2.1.1 Darah
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk
berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah
terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit,
leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung
hemogoblin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah.
Leukosit (sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam
darah tempat cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit.
Trombosit penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang
cedera Jika darah mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh
akan terganggu pula.
2.1.2 Leukemia
Leukemia adalah suatu keganasan yang berasal dari perubahan genetik pada
satu atau banyak sel di sumsum tulang. Pertumbuhan dari sel yang normal akan
tertekan pada waktu sel leukemia bertambah banyak sehingga akan menimbulkan
gejala klinis.
Keganasan hematologik ini adalah akibat dari proses neoplastik yang disertai
gangguan diferensiasi pada berbagai tingkatan sel induk hematopoetik sehingga
terjadi ekspansi progresif kelompok sel ganas tersebut dalam sumsum tulang,
kemudian sel leukemia beredar secara sistemik.
Leukemia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai
bentuk leukosit yang lain dari pada normal dengan jumlah yang berlebihan, dapat
menyebabkan kegagalan sumsum tulang dan sel darah putih sirkulasinya meninggi.

2.2 Patofisiologi
Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap
infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat dikontrol sesuai dengan
kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang

4
yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak
berfungsi seperti biasanya. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal, merusak
kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel leukemi juga merusak produksi sel darah lain
pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk
menyuplai oksigen pada jaringan.
Analisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal
yang terdapat pada pasien dengan leukemia. Perubahan kromosom dapat meliputi
perubahan angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau
perubahan struktur termasuk translokasi (penyusunan kembali), delesi, inversi dan insersi.
Pada kondisi ini, dua kromosom atau lebih mengubah bahan genetik, dengan
perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel
abnormal.
Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih
mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan
tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik
sel yang kompleks). Translokasi kromosom mengganggu pengendalian normal dari
pembelahan sel, sehingga sel membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. Pada
akhirnya sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang
menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ
lainnya termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal, dan otak.

2.3 Klasifikasi Leukemia


Secara sederhana leukemia dapat diklasifikasikan berdasarkan maturasi sel dan tipe
sel asal yaitu :

2.3.1 Leukemia Akut


Leukemia akut adalah keganasan primer sumsum tulang yang berakibat
terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal (blastosit)
yang disertai dengan penyebaran ke organ-organ lain. Leukemia akut memiliki
perjalanan klinis yang cepat, tanpa pengobatan penderita akan meninggal rata-rata
dalam 4-6 bulan.

5
a. Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA merupakan jenis leukemia dengan karakteristik adanya proliferasi
dan akumulasi sel-sel patologis dari sistem limfopoetik yang mengakibatkan
organomegali (pembesaran alat-alat dalam) dan kegagalan organ.
LLA lebih sering ditemukan pada anak-anak (82%) daripada umur
dewasa (18%).21 Insiden LLA akan mencapai puncaknya pada umur 3-7
tahun. Tanpa pengobatan sebagian anak-anak akan hidup 2-3 bulan setelah
terdiagnosis terutama diakibatkan oleh kegagalan dari sumsum tulang (gambar
1.1 hapusan sumsum tulang dengan pewarnaan giemsa perbesaran 1000x).

Gambar 1. Leukimia Limfositik Akut

Manifestasi klinis :

a. MHematopoesis normal terhambat


b. Penurunan jumlah leukosit
c. Penurunan sel darah merah
d. Penurunan trombosit

b. Leukemia Mielositik Akut (LMA)


LMA merupakan leukemia yang mengenai sel stem hematopoetik yang
akan berdiferensiasi ke semua sel mieloid. LMA merupakan leukemia
nonlimfositik yang paling sering terjadi.
LMA atau Leukemia Nonlimfositik Akut (LNLA) lebih sering
ditemukan pada orang dewasa (85%) dibandingkan anak-anak (15%).20
Permulaannya mendadak dan progresif dalam masa 1 sampai 3 bulan dengan

6
durasi gejala yang singkat. Jika tidak diobati, LNLA fatal dalam 3 sampai 6
bulan.(gambar 2. hapusan sumsum tulang dengan pewarnaan giemsa
perbesaran 1000x).

Gambar 2. Leukemia Mielositik Akut

2.3.2 Leukemia Kronik


Leukemia kronik merupakan suatu penyakit yang ditandai proliferasi
neoplastik dari salah satu sel yang berlangsung atau terjadi karena keganasan
hematologi.
a. Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
LLK adalah suatu keganasan klonal limfosit B (jarang pada limfosit T).
Perjalanan penyakit ini biasanya perlahan, dengan akumulasi progresif yang
berjalan lambat dari limfosit kecil yang berumur panjang. (gambar 3. a dan b.
hapusan sumsum tulang dengan pewarnaan giemsa perbesaran 1000x).
LLK cenderung dikenal sebagai kelainan ringan yang menyerang individu
yang berusia 50 sampai 70 tahun dengan perbandingan 2:1 untuk laki-laki.

A b

Gambar 3. Leukemia Limfositik Kronis

7
Manifestasi klinis :

a. Adanya anemia
b. Pembesaran nodus limfa
c. Pembesaran organ abdomen
d. Jumlah eritrosi dan trombosit mungkin normal atau menurun

b. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik (LGK/LMK)


LGK/LMK adalah gangguan mieloproliferatif yang ditandai dengan
produksi berlebihan sel mieloid (seri granulosit) yang relatif matang.
LGK/LMK mencakup 20% leukemia dan paling sering dijumpai pada orang
dewasa usia pertengahan (40-50 tahun). Abnormalitas genetik yang
dinamakan kromosom philadelphia ditemukan pada 90-95% penderita
LGK/LMK. (gambar 4. hapusan sumsum tulang dengan pewarnaan giemsa a.
perbesaran 200x, b. perbesaran 1000x).
Sebagian besar penderita LGK/LMK akan meninggal setelah
memasuki fase akhir yang disebut fase krisis blastik yaitu produksi berlebihan
sel muda leukosit, biasanya berupa mieloblas/promielosit, disertai produksi
neutrofil, trombosit dan sel darah merah yang amat kurang.

Gambar 4. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik

2.4 Epidemiologi
2.4.1 Distribusi Frekuensi Leukemia
a. Berdasarkan Orang
1. Umur
Berdasarkan data The Leukemia and Lymphoma Society (2009) di
Amerika Serikat, leukemia menyerang semua umur. Pada tahun 2008,

8
penderita leukemia 44.270 orang dewasa dan 4.220 pada anak-anak.
Biasanya jenis leukemia yang menyerang orang dewasa yaitu LMA dan
LLK sedangkan LLA paling sering dijumpai pada anak-anak.
Menurut penelitian Kartiningsih L.dkk (2001), melaporkan bahwa di
RSUD Dr. Soetomo LLA menduduki peringkat pertama kanker pada anak
selama tahun 1991-2000. Ada 524 kasus atau 50% dari seluruh keganasan
pada anak yang tercatat di RSUD Dr. Soetomo, 430 anak (82%) adalah
LLA, 50 anak (10%) menderita nonlimfoblastik leukemia, dan 42 kasus
merupakan leukemia mielositik kronik.
Penelitian Simamora di RSUP H. Adam Malik Medan tahun2004-2007
menunjukkan bahwa leukemia lebih banyak diderita oleh anak-anak usia
<15 tahun khususnya LLA yaitu 87%. Pada usia 15-20 tahun 7,4%, usia 20-
60 tahun 20,4%, dan pada usia >60 tahun 1,8%.

2. Jenis Kelamin
Insiden rate untuk seluruh jenis leukemia lebih tinggi pada laki-laki
dibanding perempuan. Pada tahun 2009, diperkirakan lebih dari 57% kasus
baru leukemia pada laki-laki. Berdasarkan laporan dari Surveillance
Epidemiology And End Result (SEER) di Amerika tahun 2009, kejadian
leukemia lebih besar pada laki-laki daripada perempuan dengan
perbandingan 57,22%:42,77%.
Menurut penelitian Simamora (2009) di RSUP H. Adam Malik Medan,
proporsi penderita leukemia berdasarkan jenis kelamin lebih tinggi pada
laki-laki dibandingkan dengan perempuan (58%:42%).

3. Ras
IR di negara barat adalah 4 per 100.000 anak-anak di bawah usia 15
tahun. Angka kejadian terendah terdapat di Afrika (1,18-1,61/100.000) dan
tertinggi di antara anak-anak Hispanik (Costa Rica 5,94/100.000 dan Los
Angeles 5,02/100.000). IR ini lebih umum pada ras kulit putih (42,1 per
100.000 per tahun) daripada ras kulit berwarna (24,3 per 100.000 per tahun).
Berdasarkan data The Leukemia and Lymphoma Society (2009),
leukemia merupakan salah satu dari 15 penyakit kanker yang sering terjadi
dalam semua ras atau etnis. Insiden leukemia paling tinggi terjadi pada ras

9
kulit putih (12,8 per 100.000) dan paling rendah pada suku Indian
Amerika/penduduk asli Alaska (7,0 per 100.000).

4. Berdasarkan Tempat dan Waktu


Menurut U.S. Cancer Statistics (2005) terdapat 32.616 kasus leukemia
di Amerika Serikat, 18.059 kasus diantaranya pada laki-laki (55,37%) dan
14.557 kasus lainnya pada perempuan (44,63%). Pada tahun yang sama
21.716 orang meninggal karena leukemia (CFR 66,58%).
Berdasarkan laporan kasus dari F. Tumiwa dan AMC. Kaparang
(2008) menyebutkan bahwa IR tertinggi LMK terdapat di Swiss dan
Amerika (2 per 100.000) sedangkan IR terendah berada di Swedia dan Cina
(0,7 per 100.000).
LMK merupakan leukemia kronis yang paling sering dijumpai di
Indonesia yaitu 25-20% dari leukemia. IR LMK di negara barat adalah 1-1,4
per 100.000 per tahun. Berdasarkan data dari International Pharmaceutical
Manufacturers Group (IPMG) penderita leukemia pada anak-anak di RSK
Dharmais terus bertambah setiap tahunnya. Pada tahun 2007 terdapat 6
kasus leukemia pada anak dan pada tahun 2008 bertambah menjadi 16
kasus.

2.4.2 Determinan Penyakit Leukemia


Penyebab leukemia masih belum diketahui secara pasti hingga kini. Menurut
hasil penelitian, orang dengan faktor risiko tertentu lebih meningkatkan risiko
timbulnya penyakit leukemia.
1. Host
a. Umur, jenis kelamin, ras
Insiden leukemia secara keseluruhan bervariasi menurut umur. LLA
merupakan leukemia paling sering ditemukan pada anak-anak, dengan
puncak insiden antara usia 2-4 tahun, LMA terdapat pada umur 15-39 tahun,
sedangkan LMK banyak ditemukan antara umur 30-50 tahun. LLK
merupakan kelainan pada orang tua (umur rata-rata 60 tahun).36 Insiden
leukemia lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita. Tingkat insiden
yang lebih tinggi terlihat di antara Kaukasia (kulit putih) dibandingkan
dengan kelompok kulit hitam.

10
Leukemia menyumbang sekitar 2% dari semua jenis kanker.
Menyerang 9 dari setiap 100.000 orang di Amerika Serikat setiap tahun.
Orang dewasa 10 kali kemungkinan terserang leukemia daripada anak-anak.
Leukemia terjadi paling sering pada orang tua. Ketika leukemia terjadi pada
anak-anak, hal itu terjadi paling sering sebelum usia 4 tahun.
Penelitian Lee at all (2009) dengan desain kohort di The Los Angeles
County-University of Southern California (LAC+USC) Medical Centre
melaporkan bahwa penderita leukemia menurut etnis terbanyak yaitu
hispanik (60,9%) yang mencerminkan keseluruhan populasi yang dilayani
oleh LCA + USA Medical Center. Dari pasien non-hispanik yang umum
berikutnya yaitu Asia (23,0%), Amerika Afrika (11,5%), dan Kaukasia
(4,6%).
b. Faktor Genetik
Insiden leukemia pada anak-anak penderita sindrom down adalah 20
kali lebih banyak daripada normal. Kelainan pada kromosom 21 dapat
menyebabkan leukemia akut. Insiden leukemia akut juga meningkat pada
penderita dengan kelainan kongenital misalnya agranulositosis kongenital,
sindrom Ellis Van Creveld, penyakit seliak, sindrom Bloom, anemia
Fanconi, sindrom Wiskott Aldrich, sindrom Kleinefelter dan sindrom trisomi
D.
Pada sebagian penderita dengan leukemia, insiden leukemia meningkat
dalam keluarga. Kemungkinan untuk mendapat leukemia pada saudara
kandung penderita naik 2-4 kali. Selain itu, leukemia juga dapat terjadi pada
kembar identik.
Berdasarkan penelitian Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case
control menunjukkan bahwa orang yang memiliki riwayat keluarga positif
leukemia berisiko untuk menderita LLA (OR=3,75 ; CI=1,32-10,99) artinya
orang yang menderita leukemia kemungkinan 3,75 kali memiliki riwayat
keluarga positif leukemia dibandingkan dengan orang yang tidak menderita
leukemia.

11
2. Agent
a. Virus
Beberapa virus tertentu sudah dibuktikan menyebabkan leukemia pada
binatang. Ada beberapa hasil penelitian yang mendukung teori virus sebagai
salah satu penyebab leukemia yaitu enzyme reserve transcriptase ditemukan
dalam darah penderita leukemia. Seperti diketahui enzim ini ditemukan di
dalam virus onkogenik seperti retrovirus tipe C yaitu jenis RNA yang
menyebabkan leukemia pada binatang.
Pada manusia, terdapat bukti kuat bahwa virus merupakan etiologi
terjadinya leukemia. HTLV (virus leukemia T manusia) dan retrovirus jenis
cRNA, telah ditunjukkan oleh mikroskop elektron dan kultur pada sel pasien
dengan jenis khusus leukemia/limfoma sel T yang umum pada propinsi
tertentu di Jepang dan sporadis di tempat lain, khususnya di antara Negro
Karibia dan Amerika Serikat.
b. Sinar Radioaktif
Sinar radioaktif merupakan faktor eksternal yang paling jelas dapat
menyebabkan leukemia. Angka kejadian LMA dan LGK jelas sekali
meningkat setelah sinar radioaktif digunakan. Sebelum proteksi terhadap
sinar radioaktif rutin dilakukan, ahli radiologi mempunyai risiko menderita
leukemia 10 kali lebih besar dibandingkan yang tidak bekerja di bagian
tersebut. Penduduk Hirosima dan Nagasaki yang hidup setelah ledakan bom
atom tahun 1945 mempunyai insidensi LMA dan LGK sampai 20 kali lebih
banyak. Leukemia timbul terbanyak 5 sampai 7 tahun setelah ledakan
tersebut terjadi. Begitu juga dengan penderita ankylosing spondylitis yang
diobati dengan sinar lebih dari 2000 rads mempunyai insidens 14 kali lebih
banyak.
c. Zat Kimia
Zat-zat kimia (misal benzene, arsen, pestisida, kloramfenikol,
fenilbutazon) diduga dapat meningkatkan risiko terkena leukemia.18
Sebagian besar obat-obatan dapat menjadi penyebab leukemia (misalnya
Benzene), pada orang dewasa menjadi leukemia nonlimfoblastik akut.
Penelitian Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case control
menunjukkan bahwa orang yang terpapar benzene dapat meningkatkan
risiko terkena leukemia terutama LMA (OR=2,26 dan CI=1,17-4,37) artinya

12
orang yang menderita leukemia kemungkinan 2,26 kali terpapar benzene
dibandingkan dengan yang tidak menderita leukemia.
d. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor risiko untuk berkembangnya
leukemia. Rokok mengandung leukemogen yang potensial untuk menderita
leukemia terutama LMA.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa merokok meningkatkan
risiko LMA. Penelitian Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case control
memperlihatkan bahwa merokok lebih dari 10 tahun meningkatkan risiko
kejadian LMA (OR=3,81; CI=1,37-10,48) artinya orang yang menderita
LMA kemungkinan 3,81 kali merokok lebih dari 10 tahun dibanding dengan
orang yang tidak menderita LMA. Penelitian di Los Angles (2002),
menunjukkan adanya hubungan antara LMA dengan kebiasaan merokok.
Penelitian lain di Canada oleh Kasim menyebutkan bahwa perokok berat
dapat meningkatkan risiko LMA. Faktor risiko terjadinya leukemia pada
orang yang merokok tergantung pada frekuensi, banyaknya, dan lamanya
merokok.
e. Lingkungan (pekerjaan)
Banyak penelitian menyatakan adanya hubungan antara pajanan
pekerjaan dengan kejadian leukemia. Dalam sebuah penelitian yang
dilakukan di Jepang, sebagian besar kasus berasal dari rumah tangga dan
kelompok petani. Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case control
meneliti hubungan ini, pasien termasuk mahasiswa, pegawai, ibu rumah
tangga, petani dan pekerja di bidang lain. Di antara pasien tersebut, 26%
adalah mahasiswa, 19% adalah ibu rumah tangga, dan 17% adalah petani.
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang bekerja di
pertanian atau peternakan mempunyai risiko tinggi leukemia (OR = 2,35, CI
= 1,0-5,19), artinya orang yang menderita leukemia kemungkinan 2,35 kali
bekerja di pertanian atau peternakan dibanding orang yang tidak menderita
leukemia.

13
2.5 Gejala Klinis
2.5.1 Leukemia Limfositik Akut
Gejala klinis LLA sangat bervariasi. Umumnya menggambarkan kegagalan
sumsum tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia (mudah lelah, letargi,
pusing, sesak, nyeri dada), infeksi dan perdarahan. Selain itu juga ditemukan
anoreksi, nyeri tulang dan sendi, hipermetabolisme.

2.5.2 Leukemia Mielositik Akut


Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang disebabkan
oleh sindrom kegagalan sumsum tulang. perdarahan biasanya terjadi dalam bentuk
purpura atau petekia. Penderita LMA dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih dari
100 ribu/mm3) biasanya mengalami gangguan kesadaran, sesak napas, nyeri dada
dan priapismus. Selain itu juga menimbulkan gangguan metabolisme yaitu
hiperurisemia dan hipoglikemia.

2.5.3 Leukemia Limfositik Kronik


Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita LLK yang
mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenopati generalisata, penurunan berat
badan dan kelelahan. Gejala lain yaitu hilangnya nafsu makan dan penurunan
kemampuan latihan atau olahraga. Demam, keringat malam dan infeksi semakin
parah sejalan dengan perjalanan penyakitnya.

2.5.4 Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik


LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik, fase akselerasi dan fase krisis blas.
Pada fase kronik ditemukan hipermetabolisme, merasa cepat kenyang akibat
desakan limpa dan lambung. Penurunan berat badan terjadi setelah penyakit
berlangsung lama. Pada fase akselerasi ditemukan keluhan anemia yang bertambah
berat, petekie, ekimosis dan demam yang disertai infeksi.

2.6 Pemeriksaan Darah


1. Diagnosis dini
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik untuk jenis LLA yaitu ditemukan splenomegali (86%),
hepatomegali, limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimosis, dan perdarahan

14
retina. Pada penderita LMA ditemukan hipertrofi gusi yang mudah berdarah.
Kadang-kadang ada gangguan penglihatan yang disebabkan adanya perdarahan
fundus oculi. Pada penderita leukemia jenis LLK ditemukan hepatosplenomegali
dan limfadenopati. Anemia, gejala-gejala hipermetabolisme (penurunan berat
badan, berkeringat) menunjukkan penyakitnya sudah berlanjut. Pada LGK/LMK
hampir selalu ditemukan splenomegali, yaitu pada 90% kasus. Selain itu Juga
didapatkan nyeri tekan pada tulang dada dan hepatomegali. Kadang-kadang
terdapat purpura, perdarahan retina, panas, pembesaran kelenjar getah bening dan
kadang-kadang priapismus.

2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi dan
pemeriksaan sumsum tulang.
a. Pemeriksaan darah tepi
Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis (60%) dan kadang-
kadang leukopenia (25%).48 Pada penderita LMA ditemukan penurunan eritrosit
dan trombosit.31 Pada penderita LLK ditemukan limfositosis lebih dari
50.000/mm3,48 sedangkan pada penderita LGK/LMK ditemukan leukositosis
lebih dari 50.000/mm3.
b. Pemeriksaan sumsum tulang
Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan
keadaan hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia
(blast), terdapat perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa
sel antara (leukemic gap). Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam
sumsum tulang.20 Pada penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata oleh
limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95%
pasien LLK disebabkan oleh peningkatan limfosit B.47 Sedangkan pada penderita
LGK/LMK ditemukan keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah
megakariosit dan aktivitas granulopoeisis. Jumlah granulosit lebih dari
30.000/mm3.

15
BAB III.
TATALAKSANA TERAPI

3.1 Penatalaksanaan Medis


3.1.1 Kemoterapi
1. Kemoterapi pada penderita LLA
Pengobatan umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua fase
yang digunakan untuk semua orang.
a. Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh
sebagian besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi
induksi kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang
panjang karena obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses
membunuh sel leukemia.9 Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi
kombinasi yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase.
b. Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi intensifikasi
yang bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah
relaps dan juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini
dilakukan setelah 6 bulan kemudian.
c. Tahap 3 ( profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP.
Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang
lebih rendah. Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda,
kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah
leukemia memasuki otak ndan sistem saraf pusat.
d. Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi.
Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun.

Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak
hanya 95% anak dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh.
Sekitar 80% orang dewasa mencapai remisi lengkap dan sepertiganya

16
mengalami harapan hidup jangka panjang, yang dicapai dengan kemoterapi
agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.

2. Kemoterapi pada penderita LMA


a. Fase induksi
Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif, bertujuan untuk
mengeradikasi sel-sel leukemia secara maksimal sehingga tercapai remisi
komplit. Walaupun remisi komplit telah tercapai, masih tersisa sel-sel
leukemia di dalam tubuh penderita tetapi tidak dapat dideteksi. Bila
dibiarkan, sel-sel ini berpotensi menyebabkan kekambuhan di masa yang
akan datang.
b. Fase konsolidasi
Fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari fase induksi.
Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus kemoterapi dan
menggunakan obat dengan jenis dan dosis yang sama atau lebih besar dari
dosis yang digunakan pada fase induksi. Dengan pengobatan modern, angka
remisi 50-75%, tetapi angka rata-rata hidup masih 2 tahun dan yang dapat
hidup lebih dari 5 tahun hanya 10%.
3. Kemoterapi pada penderita LLK
Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan strategi terapi
dan prognosis. Salah satu sistem penderajatan yang dipakai ialah klasifikasi Rai:
a. Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan sumsum tulang
b. Stadium I : limfositosis dan limfadenopati.
c. Stadium II : limfositosis dan splenomegali/ hepatomegali.
d. Stadium III : limfositosis dan anemia (Hb < 11 gr/dl).
e. Stadium IV : limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3

Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan terapi


bersifat konvensional, terutama untuk mengendalikan gejala.20 Pengobatan
tidak diberikan kepada penderita tanpa gejala karena tidak memperpanjang
hidup. Pada stadium I atau II, pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan
biasa. Pada stadium III atau IV diberikan kemoterapi intensif.

Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan 25% pasien
dapat hidup lebih dari 10 tahun. Pasien dengan sradium 0 atau 1 dapat bertahan

17
hidup rata-rata 10 tahun. Sedangkan pada pasien dengan stadium III atau IV
rata-rata dapat bertahan hidup kurang dari 2 tahun.

4. Kemoterapi pada penderita LGK/LMK


1. Fase Kronik
Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan yag mampu
menahan pasien bebas dari gejala untuk jangka waktu yang lama. Regimen
dengan bermacam obat yang intensif merupakan terapi pilihan fase kronis
LMK yang tidak diarahkan pada tindakan transplantasi sumsum tulang.
2. Fase Akselerasi
Sama dengan terapi leukemia akut, tetapi respons sangat rendah.
a. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk
membunuh sel-sel leukemia. Sinar berenergi tinggi ini ditujukan
terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel
leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel seperti
proton, elektron, x-ray dan sinar gamma. Pengobatan dengan cara ini
dapat diberikan jika terdapat keluhan pendesakan karena pembengkakan
kelenjar getah bening setempat.
b. Transplantasi Sumsum Tulang
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti
sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat. Sumsum
tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis tinggi kemoterapi atau
terapi radiasi. Selain itu, transplantasi sumsum tulang juga berguna untuk
mengganti sel-sel darah yang rusak karena kanker.49 Pada penderita
LMK, hasil terbaik (70-80% angka keberhasilan) dicapai jika menjalani
transplantasi dalam waktu 1 tahun setelah terdiagnosis dengan donor
Human Lymphocytic Antigen (HLA) yang sesuai. Pada penderita LMA
transplantasi bisa dilakukan pada penderita yang tidak memberikan
respon terhadap pengobatan dan pada penderita usia muda yang pada
awalnya memberikan respon terhadap pengobatan.
c. Terapi Suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yag
ditimbulkan penyakit leukemia dan mengatasi efek samping obat.

18
Misalnya transfusi darah untuk penderita leukemia dengan keluhan
anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan dan antibiotik
untuk mengatasi infeksi.

19
BAB IV
KASUS

4.1 Contoh Kasus


Seorang laki-laki 36 tahun, telah didiagnosis ALL oleh seorang hematolog di rumah
sakit Singapura, dan telah menjalani kemoterapi induksi. Penderita dirujuk ke
Laboratorium Patologi Klinik RSSA/FK Unibraw Malang untuk dilakukan BMP ulang
sebagai follow up terapi. Penderita pernah dirawat sebelumnya di suatu rumah sakit
dengan efusi pleura, asites, edema kedua kaki, dan limfadenopati multipel. Pada penderita
telah dilakukan pleural tap beberapa kali dan fine needle aspiration (FNA) pada kelenjar
limfe leher, tetapi hasil sitologi tidak dapat disimpulkan. Penderita diberi pengobatan
anti-tuberkulosis (anti-TB) selama 2 bulan tanpa respons yang memuaskan. Selanjutnya,
penderita berobat ke rumah sakit di Singapura.

Hasil pemeriksaan :

Hasil pemeriksaan laboratorisnya sebagai berikut: Hb 11,4 g/dl, trombosit 59 × 109/L,


dan lekosit 12,99 × 109/L dengan limfoblas 26%. Pada pemeriksaan aspirasi dan trephine
biopsy sumsum tulang hasilnya menunjukkan gambaran yang sesuai dengan simptom
ALL-L1.

Pada pemeriksaan flow cytometry darah penderita menunjukkan leukemia akut


bilineage, yaitu terdapat limfoblas populasi tunggal yang mengeluarkan (ekspresikan)
cCD3+ (96,9%), CD4-, CD8-, CD7+ (99,6%), CD5-, CD19+ (75,8%), CD34+ (98,0%),
TdT+ (71,4%), IgM sitoplasmik (97,8%), CD79a+ (62,%) dan 30% adalah CD10+
(63,9%), serta terdapat keluaran (ekspresi) abberant CD33+ (95,3%) tanpa bukti keluaran
(ekspresi) MPO atau CD117. Sitogenetik bone marrow trephine menunjukkan kelainan
numerik dan struktur pada 9 dari 17 sel yang dianalisis, yaitu 43–47, XY, add(1)(p34,2),
add(2)(p13), i(17)(q10), +21[cp9].

Pemeriksaan CT scan leher, thorax, dan abdomen menunjukkan limfadenopati di


leher, ketiak, mediastinum, abdomen, dan menyebar di kedua pangkal paha. Tidak
terdapat massa di paru tetapi terdapat efusi pleura bilateral. Juga terdapat cairan bebas di
dalam abdomen.

20
Hasil pemeriksaan bakteri tahan asam (BTA) cairan pleura negatif dan kultur TB
belum tumbuh. Hasil pemeriksaan BTA sputum juga negatif dan kultur TB sputum belum
tumbuh. Hasil pemeriksaan pengecatan Gram cairan pleura dan kultur bakteri negatif.
Pada pemeriksaan sitologi cairan pleura menunjukkan sel limfoid dalam jumlah sedikit,
dan pada pemeriksaan flow cytometri cairan pleural menunjukkan limfoblas populasi
tunggal (kurang lebih 79%), serupa dengan imunofenotiping darah.

Setelah penderita mendapat kemoterapi induksi hasil pemeriksaan darah lengkapnya


sebagai berikut: Hb 9,7 g/dl, lekosit 3,91 × 109/L (netrofil 93,3%, tidak ada limfoblas)
dan trombosit 51 × 109/L.

Tiga minggu setelah mendapat terapi induksi BMP diperiksa di Malang, dengan hasil
sebagai berikut: Hb 9,7 g/dl, MCV 81 μm3, MCH 26,6 pg, lekosit 4100/μl, trombosit
458.000/μl, retikulosit 8 promil, hitung jenis 1/3/-/47/37/12. Sumsum tulang
normoseluler, rasio ME 4: 1, aktifitas sistem eritropoietik, granulopoietik, dan
trombopoietik baik, limfoblas 11%, dengan demikian dapat disimpulkan terdapat ALL-L1
remisi parsial.

Pembahasan :

Efusi pleura, asites dan pembesaran limfonodi multipel merupakan tanda infiltrasi sel
limfoblas di pleura, hepar, dan limfonodi. Gejala klinis ini bisa terjadi pada kelainan atau
infeksi lain, apalagi pada awalnya hasil sitologi cairan pleural dan FNA kelenjar limfe
tidak dapat disimpulkan. Sehingga penderita sempat mendapatkan terapi anti-TB selama
2 bulan walaupun belum terbukti ada infeksi Mycobacterium tuberculosis.

Pemeriksaan laboratoris ALL menunjukkan berbagai derajat anemia dan


trombositopenia. Hitung lekosit dapat tinggi, normal, atau rendah, tetapi biasanya
neutropenia. Pada evaluasi hapusan darah biasanya didapatkan limfoblas walaupun
jumlahnya tidak banyak. Di sebagian besar penderita kadar lactic dehydrogenase (LDH)
dan asam urat seringkali meningkat. Pemeriksaan tes fungsi liver dan BUN dan kreatinin
harus dilakukan sebelum dimulai terapi.

Hasil pemeriksaan laboratoris darah lengkap menunjukkan kadar Hb dalam batas


normal, trombositopenia, lekositosis ringan dengan limfoblas 26%. Saat penderita datang
dirawat di RS di Singapura, kadar Hb masih dalam batas normal, ini dapat terjadi pada
lebih dari sepertiga kasus ALL dewasa. Semua hasil pemeriksaan kimia darah penderita

21
juga masih dalam batas normal. Hasil kultur yang dilakukan tidak ditemukan adanya
kuman, sedangkan hasil kultur untuk M. tbc sampai saat penderita keluar RS masih belum
ada, tetapi pengecatan BTA negatif. Karena tidak ada bukti adanya tuberkulosis, maka
pengobatan anti-TB tidak dilanjutkan.

Pemeriksaan sitologis cairan pleura tidak mendukung adanya keganasan, tetapi pada
pemeriksaan immunophenotyping flow cytometry cairan pleura menunjukkan hasil
adanya infiltrasi sel limfoblas yang berfenotip sama dengan limfoblas yang terdapat di
darah dan sumsum tulang. Dalam kepustakaan disebutkan bahwa sensitivitas
immunophenotyping flow cytometry hampir 99%.

Pemeriksaan aspirasi dan biopsi sumsum tulang merupakan uji diagnostik muktamad
(definitive diagnostic tests) untuk menentukan (konfirmasi) diagnosis leukemia,
meskipun imunofenotiping diperlukan untuk membantu penentuan subtipe.

Berdasarkan gambaran morfologi limfoblas, French - American - British (FAB)


membagi penggolongan ALL menjadi tiga jenis: L1 (25–30% kasus dewasa), L2 (70%
kasus), dan L3 (1–2% kasus dewasa).

22
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Leukemia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk
leukosit yang lain daripada normal dengan jumlah yang berlebihan, dapat menyebabkan
kegagalan sumsum tulang dan sel darah putih sirkulasinya meninggi.
Kanker darah (Leukemia) merupakan neoplasma ganas sel darah putih (Leukosit)
yang ditandai dengan bertambah banyaknya sel darah putih abnormal dalam aliran darah.
Sel-sel tersebut tersebut berinfiltrasi secara progresif ke dalam jaringan tubuh, terutama
pada sumsum tulang. Akibatnya, sumsum tulang rusak dan kehilangan fungsinya untuk
membuat sel darah merah dan sel darah putih normal serta platelets (trombosit). Sebagai
akibat kekurangan sel darah merah, maka akan terjadi anemia. Jika kekurangan sel darah
putih ini dapat mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, kurangnya
produksi platelets dapat mengakibatkan perdarahan yang parah.

23