Anda di halaman 1dari 5

Ultra Jaya (ULTJ) menargetkan pertumbuhan laba hingga 10%

Kamis, 27 September 2018 / 09:35 WIB

Ultra Jaya (ULTJ) menargetkan pertumbuhan laba hingga 10%

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) berupaya


untuk mengembangkan lini bisnisnya di masa mendatang. ULTJ sudah
meluncurkan tiga produk baru di semester I 2018 yaitu Ultra Milk Taro, Ultra Milk
Karamel dan Teh Kotak Lemon.

Muhammad Muthassawar, General Manager Public Relations ULTJ menyatakan


bahwa pada semester II tahun ini, pihaknya belum ada rencana menambah produk
baru lagi. "Tiga produk baru tersebut juga masih dalam periode launch dan hingga
saat ini distribusinya terus ditingkatkan. Memang memberi kontribusi, namun
belum signifikam pengaruhnya terhadap kinerja total ULTJ pada semester 1 dan
akhir tahun nanti," kata dia, Selasa (25/9).

Azwar juga mengungkapkan bahwa pihaknya juga belum ada rencana untuk
menambah pabrik baru di tahun ini. Dia mengatakan, tingkat keterisian pabrik
ULTJ masih cukup untuk menopang kinerja. Namun, Azwar mengatakan bahwa
pihaknya tetap berencana untuk membangun pabrik baru ke depannya. "Ya, masih
rencana dulu, lokasinya nanti di area Jakarta," tambahnya.

Lebih lanjut, Azwar bilang saat ini pabrik ULTJ hanya satu di Padalarang.
"Kapasitas produksinya sekitar 500 juta liter per tahun. Saat ini kapasitas keterisian
pabrik sudah 80%," kata dia.

Hingga tutup tahun ini, ULTJ berniat memperbaiki kinerja. Pasalnya, laba
perusahaan susu ini turun meski pendapatan naik. "Diharapkan pertumbuhan
pendapatan sekitar 13% hingga 15%, di mana laba bersih meningkat sebesar 5%
sampai 10% di akhir tahun nanti," kata Azwar.

Sepanjang semester I 2018, pendapatan bersih ULTJ naik 13% secara year on year
menjadi Rp 2,62 triliun. Tapi, laba bersih Ultra Jaya turun 6,6% dari Rp 391 miliar
menjadi Rp 365 miliar.
Penjualan lokal masih mendominasi pendapatan Ultra Jaya, yakni hingga lebih dari
90%. Meski pendapatan naik, beban pokok penjualan tumbuh lebih tinggi, 15%
menjadi Rp 1,68 triliun secara yoy dibanding periode yang sama di tahun 2017.

Azwar memprediksi kinerja ULTJ akan kembali berbalik arah menjadi cuan
lantaran pasar susu tahun ini akan meningkat. "Bila tidak ada kenaikan harga pada
semester II ini, maka pasarnya akan tetap baik," kata dia.

Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi

Editor: Wahyu Rahmawati


Industri Makanan dan Minuman Melambat, Tumbuh 7,19%

- detikFinance

Jakarta - Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor
penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, pertumbuhan industri makanan
dan minuman di akhir Juni 2017 melambat dibandingkan hasil triwulan I-2017.

Hal ini dikatakan oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat membuka
Pameran Makanan dan Minuman di Plasa Pameran Industri, Gedung Kementerian
Perindustrian, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (10/10/2017).

"Pertumbuhan industri makanan dan minuman pada triwulan kedua sebesar 7,19%.
Walaupun mengalami sedikit perlambatan bila dibandingkan dengan triwulan I-
2017 sebesar 8,15%," kata Airlangga.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa industri makanan dan minuman memiliki


peranan penting dalam pembangunan sektor industri terutama kontribusi terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini terbukti lewat industri makanan dan
minuman yang menjadi subsektor terbesar yakni 34,42 persen dari subsektor
lainnya.

"Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri makanan dan minuman mempunyai
peran yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia," sambung
Airlangga.

Selain itu, peran penting industri makanan dan minuman juga dapat dilihat dari
jumlah ekspor periode Januari - Juni 2017 yang mencapai US$ 15,4 miliar. Hal ini
dibandingkan dengan impor produk makanan dan minuman yang memiliki nilai
sebesar US$ 4,7 miliar.

"Dapat dilihat perkembangan realisasi investasi sektor industri makanan sampai


triwulan II-2016 sebesar Rp 21,6 triliun untuk PMDN dan US$ 1,2 miliar untuk
PMA," pungkasnya. (ang/ang).
11 Emiten Cetak Pertumbuhan Laba 1.000% dalam 5 Tahun

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 26 Januari 2018 11:42 WIB

JAKARTA - Pasar modal Indonesia memiliki 11 emiten dengan pertumbuhan laba


di atas 1.000% selama lima tahun terakhir.

Biro Riset Infobank mengumumkan terdapat 128 perusahaan go public non-


keuangan dan non-BUMN yang berhasil tumbuh positif dalam lima tahun terakhir,
dari tahun 2012 hingga 2016 dengan raihan laba double digit.

Direktur Biro Riset Infobank Eko B Supriyanto menerangkan, 128 emiten dengan
pertumbuhan spektakuler tersebut merupakan hasil kajian Biro Riset Infobank
(birI) terhadap 355 emiten dari total 537 emiten yang listing di Bursa Efek
Indonesia (BEI).

Dari 355 perusahaan yang dikaji, ada 105 perusahaan yang rapor labanya memerah
per Desember 2016, sehingga gugur di kajian awal.

Sedangkan dari 250 perusahaan yang melewati kajian lanjut, tersaring 128
perusahaan dengan catatan pertumbuhan tercepat sesuai metodologi yang
digunakan Infobank.

“Ke-128 emiten ini berhasil mencatatkan pertumbuhan tercepat dalam lima tahun
terakhir dengan pertumbuhan laba double digit,” ujar Eko di Bursa Efek Indonesia,
Jakarta, Kamis 25 Januari 2018.

Infobank memberikan awards kepada 100 emiten dengan pertumbuhan tercepat.


Ke-100 emiten ini dibagi dalam delapan kategori berdasarkan sektor, yakni (1)
sektor pertanian, (2) sektor pertambangan, (3) sektor industri dasar dan kimia, (4)
sektor aneka industri, (5) sektor industri barang konsumsi, (6) sektor properti, real
estate, dan konstruksi bangunan, (7) sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi,
serta (8) sektor perdagangan, jasa-jasa, dan investasi.

“Mereka berhasil tumbuh dengan mencetak laba positif di tengah tekanan kelesuan
ekonomi, pesimisme mikro, dan gempuran disruption adalah prestasi yang layak
diapresiasi,” terangnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, hasil kajian tersebut menunjukkan pertumbuhan
selama lima tahun itu bukti keberhasilan manajemen dalam melakukan
transformasi. Mereka terus melakukan inovasi dengan mengubah cara berjualan
dan meninggalkan cara-cara lama, menghadirkan produk-produk baru, serta
menyasar klien-klien baru.

“Perusahaan juga harus melakukan efisiensi untuk bisa mengikuti persaingan.


Perusahaan yang tidak efisien akan hancur dari dalam, selain karena persaingan,”
terang Eko.

Hasil riset juga merekomendasikan, ada empat pendekatan yang bisa dilakukan
emiten agar bisa survive, sustain, dan growth. Pertama, perusahaan harus
melakukan sharing, bekerja sama atau berdamai dengan teknologi.

“Fintech (financial technology) bukan musuh. Mereka harus digandeng,” sarannya.