Anda di halaman 1dari 2

YOSI AMURA HASIKIN

120611433904

Hubungan Filsafat, Ilmu dan Agama

Ada yang mengatakan bahwa antara ilmu, filsafat dan agama memiliki hubungan.
Namun demikian, tidak menafikan terhadap pandangan bahwa satu sama lain merupakan
‘sesuatu’ yang terpisah; di mana ilmu lebih bersifat empiris, filsafat lebih bersifat ide dan
agama lebih bersifat keyakinan. Menurut Muhammad Iqbal dalamRecontruction of Religious
Thought in Islam sebagaimana dikutip Asif Iqbal Khan (2002), “Agama bukan hanya usaha
untuk mencapai kesempurnaan, bukan pula moralitas yang tersentuh emosi”. Bagi Iqbal,
agama dalam bentuk yang lebih modern, letaknya lebih tinggi dibandingkan puisi. Agama
bergerak dari individu ke masyarakat. Dalam geraknya menuju pada realitas penting yang
berlawanan dengan keterbatasan manusia. Agama memperbesar klaimnya dan memegang
prospek yang merupakan visi langsung realitas. (Asif Iqbal Khan, Agama, Filsafat, Seni
dalam Pemikiran Iqbal, 2002: 15)

Menurut Asif (2002: 16), sekalipun diekspresikan dalam jargon filsafat kontemporer,
tetapi mempunyai tujuan yang sama dengan para ilmuwan Islam pada abad pertengahan yaitu
menyeimbangkan agama di satu pihak dengan ilmu pengetahuan modern dan filsafat utama
sebagaimana tertuang dalam pendahuluan buku rekonstruksinya, yaitu “untuk merekonstruksi
filsafat religious Islam sehubungan dengan tradisi filsafat Islam dan perkembangan lebih
lanjut berbagai bidang ilmu pengetahuan manusia”. Iqbal menegaskan dengan optimis,
“waktunya sudah dekat bagi agama dan ilmu pengetahuan untuk membentuk suatu harmoni
yang tidak saling mencurigai satu sama lain”.

Untuk lebih adilnya dalam menilai hubungan ketiganya, patut dicermati pandangan
Endang Saifuddin Anshari (Ilmu, Filsafat dan Agama, 1979) yang menyebutkan di samping
adanya titik persamaan, juga adanya titik perbedaan dan titik singgung.

Baik ilmu maupun filsafat atau agama, bertujuan (sekurang-kurangnya berurusan


dengan hal yang sama), yaitu kebenaran. Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri
mencari kebenaran tentang alam dan manusia. Filsafat dengan wataknya sendiri pula
menghampiri kebenaran, baik tentang alam, manusia dan Tuhan. Demikian pula agama,
dengan karakteristiknya pula memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang
dipertanyakan manusia tentang alam, manusia dan Tuhan. (Endang Saifuddin Anshari, Ilmu,
Filsafat dan Agama, 1979: 169) Masih menurutnya, baik ilmu maupun filsafat, keduanya
hasil dari sumber yang sama, yaitu ra’yu manusia (akal, budi, rasio, reason, nous, rede,
YOSI AMURA HASIKIN
120611433904

vertand, vernunft). Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Allah. Ilmu pengetahuan
mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empirik) dan
percobaan. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara mengembarakan atau mengelanakan
akal budi secara radikal dan integral serta universal tidak merasa terikat dengan ikatan
apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri bernama logika. Kebenaran ilmu pengetahuan
adalah kebenaran positif (berlaku sampai dengan saat ini), sedangkan kebenaran filsafat
adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris,
riset dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat bersifat nisbi
(relatif), sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena agama adalah wahyu
yang di turunkan Dzat Yang Maha Benar, Maha Mutlak dan Maha Sempurna. Baik ilmu
maupun filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan
agama dimulai dengan sikap percaya dan iman. Adapun titik singgung, adalah perkara-
perkara yang mungkin tidak dapat dijawab oleh masing-masingnya, namun bisa dijawab oleh
salah satunya. Gambarannya, ada perkara yang dengan keterbatasan ilmu pengetahuan atau
spekulatifnya akal, maka keduanya tidak bisa menjawabnya. Demikian pula dengan agama,
sekalipun agama banyak menjawab berbagai persoalan, namun ada persoalan-persoalan
manusia yang tidak dapat dijawabnya. Sementara akal budi, mungkin dapat menjawabnya.

Ketiga-tiganya memiliki hubungan dan tidak perlu dibenturkan satu sama lain selama
diyakini bahwa ilmu manusia memiliki keterbatasan. Demikian pula dengan filsafat, selama
difahami sebagai proses berfikir bukan sebagai penentu. Adapun agama dapat diyakini,
selama dapat dibuktikan dengan dalil-dalil yang dapat dipertangung jawabkan.

Daftar Rujukan
Ahmad syadali, mudzakir.2004.filsafat umum,pustaka setia. Bandung.
Endang Saifuddin Ansari. 1979. Ilmu Filsafat dan Agama. Bina Ilmu: Surabaya.
Iqbal Khan, Asif.2002. Agama, filsafat, seni : dalam pemikiran Iqbal / Asif Iqbal Khan. Fajar
Pustaka Baru: Bandung.
Poerwantana, ahmadi, rosali.1988.seluk-beluk filsafat islam.rosda,bandung.
Suhar.2009.filsafat umum.sulthan thaha press IAIN STS JAMBI,jambi