Anda di halaman 1dari 5

Sisilia Puni Suwandi, Analisa Dampak Bekerja di Bawah Iklim Panas….

ANALISA DAMPAK FAKTOR FISIK (PANAS) TERHADAP


KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)
Sisilia Puni Suwandi
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Email: sisiliapuni25@gmail.com

ABSTRAK
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kecelakaan kerja yang terbilang
masih cukup tinggi. Pemicu tingginya kasus kecelakaan kerja yang terjadi diantaranya
disebabkan oleh perilaku pekerja yang tidak aman dan kondisi lingkungan yang tidak ideal.
Kondisi tidak ideal dalam lingkungan kerja juga beragam salah satunya adalah bekerja di
bawah iklim kerja yang panas. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui apa
saja dampak yang diakibatkan dari bekerja di bawah iklim panas secara berkepanjangan
serta langkah-langkah pencegahannya. Untuk penelitian ini sendiri dilakukan menggunakan
metode wawancara dan observasi, dengan narasumbernya adalah pekerja yang terlibat
langsung dalam lingkungan kerja yang panas. Dari hasil penelitian menunjukkan banyak
pekerja yang mengeluhkan gangguan kesehatan, kelelahan dan produktivitas yang menurun
akibat tekanan panas yang dialaminya. Sebagai langkah pencegahan terdapat beberapa
langkah yang dapat dilakukan perusahaan untuk menjamin Keselamatan dan Kesehatan
kerja setiap pekerjanya. Diantaranya dengan pengadaan pelatihan, penyediaan pasokan air
minum, pengaturan waktu bekerja dan waktu istirahat sesuai dengan beban kerja yang
dilakukan, sifat dan jenis pekerjaan yang dilakukan.

Kata Kunci : dampak, faktor fisik, panas, pekerja, kesehatan dan keselamatan kerja (K3)

PENDAHULUAN kelembapan serta kecepatan udara dan


Badan Penyelenggara Jaminan panas radiasi merupakan pengertian dari
Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat, iklim itu sendiri. Panas dari tubuh
telah terjadi 123 ribu kasus kecelakaan pekerja jika digabung dengan empat
kerja sepanjang tahun 2017 di Indonesia. kombinasi tersebut akan mengakibatkan
Ini yang menyebabkan Indonesia masuk tekanan panas atau biasa disebut dengan
ke dalam daftar negara dengan tingkat heat stress (Suma’mur, 2009).1 Suhu
kecelakaan kerja yang masih cukup tubuh yang terlalu panas atau melebihi
tinggi. Sedangkan ILO menyebutkan batas normal akan mempengaruhi
hampir setiap tahun 2 juta pekerja kesehatan dan keselamatan para pekerja.
meninggal dunia karena faktor kelelahan Sebagai contoh, menurut Randell dan
(Putri, 2008).3 Perilaku pekerja yang Wexler di Amerika Serikat, telah terjadi
tidak aman, kondisi lingkungan yang kasus dimana 6 juta pekerja terkena stres
tidak sesuai atau kedua kondisi ini diakibatkan oleh panas dengan kasus
terjadi secara bersamaan menjadi kematian terbanyak terjadi di bidang
pemicu tingginya kasus kecelakaan kerja konstruksi, pertanian, kehutanan,
di Indonesia. perikanan dan manufaktur.5
Kondisi tidak ideal dalam Iklim panas masih menjadi pemicu
lingkungan kerja pun juga beragam, kecelakaan kerja di abad ini. Hal ini
salah satu contohnya adalah bekerja di terjadi karena peningkatan temperatur
bawah iklim panas. Salah satu sumber suhu dapat mempengaruhi respon
panas di lingkungan kerja adalah fisiologis serta berdampak pada
penggunaan peralatan permesinan dan penurunan kinerja akibat perubahan
material dalam proses produksi (Ramli, kondisi psikologis tenaga kerja.4 Hal ini
2013).2 Kombinasi dari suhu, dapat terjadi karena tekanan panas yang
Sisilia Puni Suwandi, Analisa Dampak Bekerja di Bawah Iklim Panas….

ada di sekitar lingkungan kerja menjadi Kerja dibagi menjadi 2 macam. NAB
beban tambahan bagi pekerja itu sendiri, terendah dengan suhu 25°C untuk jenis
belum lagi jika beban kerja fisik yang beban kerja berat dan NAB tertinggi
diberikan berat (Vanani, 2010). dengan suhu 32,2°C untuk jenis beban
Menurunnya stamina dan kondisi kerja ringan, penentuan ini diambil
kesehatan pekerja adalah akibat dari berdasar pada beban kerja dan
pemberian beban kerja berat serta pengaturan waktu kerja (Depnakertrans,
kondisi iklim yang melebihi batas 2011).4
normal. Ini yang menyebabkan tenaga Pengawasan semacam itu memang
kerja membutuhkan energi ekstra untuk masih jarang dilakukan di Indonesia,
menyelesaikan pekerjaannya.2 Akibat inilah yang menjadi pemicu lingkungan
dari pekerjaan berat ini pula, dapat kerja panas menjadi faktor penting
meningkatkan frekuensi denyut nadi. penyebab gangguan kesehatan pekerja.4
Dengan peningkatkan denyut nadi ini Gangguan kesehatan seperti haet rash,
dapat memicu keluhan subjektif pada heat syncope, haet cramp, heat stroke,
pekerja.4 heat exhausted, dehidrasi, malaria, dan
Bekerja di suhu panas juga dapat hypertemia adalah jenis gangguan
menurunkan prestasi kerja berfikir. Hal kesehatan yang mungkin terjadi pada
ini mungkin dapat terjadi ketika suhu pekerja yang melakukan pekerjaannya di
lingkungan mencapai di atas 32°C. Suhu bawah paparan panas terus-menerus
panas ini dapat menurunkan kelincahan (Soedirman dan Suma’mur, 2014).2
pekerja, memperpanjang waktu reaksi Kumpulan dari faktor lingkungan
serta waktu pengambilan keputusan, dan aktivitas fisik yang dapat
menggangu kecermatan otak, berpengaruh pada peningkatan kadar
mengganggu koordinasi saraf perasa dan panas di dalam tubuh adalah maksud
motorik. Serta mengakibatkan rasa letih, dari tekanan panas itu sendiri (Edwin L.
kantuk, menurunkan kestabilan dan Alpaugh, 1979 & 1988).4 Hal inilah
meningkatkan angka kesalahan kerja yang kemudian mengakibatkan tekanan
(Suma’mur 1996).1 panas dapat menurunkan stamina,
Pemerintah telah menetapkan menimbulkan gangguan kesehatan dan
peraturan yang berhubungan dengan yang paling fatal berakibat pada
temperatur tempat kerja yang ideal, kematian. Terdapat tiga kategori jenis
yaitu mengenai Peraturan Menteri aktivitas fisik atau beban kerja yang
Tenaga Kerja dan Transmigrasi diperbolehkan oleh PermenakerTrans.
PermenakerTrans PER.13/MEN/X/2011 Beban kerja ringan adalah beban kerja
perihal Nilai Ambang Batas untuk Iklim yang membutuhkan 200 Kilo kalori/jam.
Kerja dan Nilai Ambang Batas untuk Beban kerja sedang membutuhkan kalori
Temperatur Tempat Kerja. Dalam 200 - kurang dari 350 Kilo kalori/jam.
peraturan ini ditetapkan bahwa : NAB Beban kerja berat membutuhkan kalori
Iklim Kerja merupakan situasi kerja lebih dari 350 - kurang dari 500 Kilo
yang dimana masih dalam batas kalori/jam. Setiap beban kerja yang
kemampuan pekerja untuk diterima harus sesuai dan seimbang baik
menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dan itu secara fisik, kognitif, atau
tidak menimbulkan penyakit atau keterbatasan manusia yang menerima
gangguan kesehatan dalam kurun waktu beban tersebut (Tarwaka, 2004).4
kerja secara terus menerus serta tidak Penentuan beban kerja yang ideal selain
melebihi batas waktu 8 (delapan) jam melihat tingkat beban kerjanya juga
dalam satu hari atau setara dengan 40 harus melihat dari waktu istirahat nya
(empat puluh) jam setiap minggunya. work rest regimen.4
Sedangkan NAB Temperatur Tempat
Sisilia Puni Suwandi, Analisa Dampak Bekerja di Bawah Iklim Panas….

Pengendalian mengenai beban kerja, dalam tubuh sebagai sumber energi. Ini
kondisi lingkungan kerja yang sesuai yang dapat memicu kontraksi otot yang
serta waktu pekerjaan yang ideal masih menimbulkan rasa lelah (Guyton, 1991
menjadi hal sulit bagi perusahaan. dalam Ramdan 2007).3 Lingkungan
Namun, dengan masih maraknya kasus panas juga dapat meningkatkan kerja
kecelakaan kerja yang terjadi di pembuluh nadi, menyebabkan tekanan
Indonesia membuat perusahaan atau darah meningkat dan penyempitan
industri mulai menyadari betapa penting pembuluh darah.3 Jika hal ini terjadi
nya usaha Keselamatan dan Kesehatan supply O2 (Oksigen) dalam tubuh juga
Kerja (K3) ini. Untuk meyakinkan akan terganggu, sehingga
perusahaan bahwa lingkungan kerja mengakibatkan distribusi sel darah
yang nyaman menjadi salah satu pemicu merah terganggu, inilah yang menjadi
produkstivitas pekerjanya, maka pemicu rasa pusing,mata
dibuatlah suatu penelitian. Penelitian ini berkunang-kunang dan bisa
bertujuan untuk mengethaui dampak apa menyebabkan anemia.
saja yang disebabkan dari bekerja di Selain berpengaruh pada tingkat
bawah ligkungan kerja dengan iklim kelelahan dan keletihan, bekerja di
yang panas. bawah suhu panas dapat mempengaruhi
tingkah laku pekerja itu sendiri. Dengan
METODE PENELITIAN suhu tubuh yang meningkat, setiap
Penelitian ini dibuat dengan jenis pekerja akan mencoba mencari cara
kualitatif. Dimana perolehan data untuk kembali menormalkan suhu
diambil dengan melakukan wawancara tubuhnya, hal yang biasa dilakukan
dan observasi.1 Dengan narasumber nya adalah dengan membuka baju (bagi
adalah pekerja yang terlibat langsung pekerja laki-laki) hal ini ditujukan agar
dalam lingkungan kerja panas penguapan dari tubuh lebih cepat atau
dengan mengambil waktu istirahat untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN menyeimbangkan metabolisme tubuh
Informasi yang diperoleh dari pekerja (Moeljoseodarmo, 2008).1 Dengan
yang melakukan pekerjaan nya di bawah
melepas baju tentu akan berakibat fatal
kondisi lingkungan yang panas banyak dari
mereka yang mengalami gangguan
bagi keselamatan pekerja itu sendiri,
kesehatan. Ini diakibatkan karena istirahat yang dilakukan berulang juga
lingkungan kerja mereka tidak sesuai akan menurunkan produktivitas
dengan ketentuan (diatas NAB).5 perusahaan.
Permasalahan yang dikeluhkan antara Faktor pendingin bagi tubuh yang
lain, produksi keringat berlebih, mata penting saat berada di lingkungan panas
berkunang-kunang dan ada pula pekerja diantaranya adalah air. Air diperlukan
yang mengatakan bahwa dampak yang untuk menggantikan cairan tubuh yang
ditimbulkan membuat nya merasa mual hilang saat tubuh banyak mengeluarkan
dan ingin muntah.1 keringat. Pengaruh yang ditimbulkan
Sekresi atau produksi keringat yang dari kebiasaan minum memang tidak
berlebih dapat mengurangi cairan dalam terlalu signifikan. Dehidrasi juga dapat
tubuh secara cepat, hal ini tentu akan dipicu karena waktu pengulangan
mengakibatkan rasa haus yang luar biasa minum yang tidak teratur walaupun
dan dehidrasi. Cairan keringat yang dengan jumlah yang cukup.4 Meminum
keluar dari kulit juga ikut mengeluarkan banyak air ketika rasa haus datang juga
garam mineral yang penting bagi tubuh tidak memberi banyak manfaat, waktu
yakni natrium chlorida, berkurang nya minum yang baik adalah konstan dan
natrium chlorida dalam tubuh dapat berulang. Selain air putih, perusahaan
mempengaruhi transportasi glukosa juga dapat menyediakan air yang
Sisilia Puni Suwandi, Analisa Dampak Bekerja di Bawah Iklim Panas….

mengandung elektrolit seperti air jeruk pelatihan pengendalian heat stress bagi
atau minuman lainnya. Air dengan seluruh pekerja.1
kandungan elektrolit dapat mempercepat
proses pemulihan stamina dan energi Kesimpulan
dalam tubuh. Dari pembahasan di atas dapat kita
Lama bekerja yang ideal adalah tarik kesimpulan, lingkungan kerja yang
sekitar 6 - 8 jam perhari. Pekerjaan nyaman serta aman adalah lingkungan
menjadi kurang efisien, tidak efektif kerja yang baik dan ideal. Karena hal ini
serta kurang optimal jika dilkukan dapat berpengaruh pada kesehatan dan
dengan memperpanjang waktu bekerja. keselamatan tenaga kerja itu sendiri.
Bahkan bisa diliat dari kualitas Banyak hal yang dapat dilakukan oleh
pekerjaan yang dihasilkan, hasil perusahaan guna memberikan rasa aman
pekerjaan pun menurun dan waktu dan nyaman bagi pekerja nya saat
bekerja yang terlalu panjang dapat bekerja di bawah kondisi yang panas.
menimbulkan kelelahan, rasa bosan, Diantaranya, dengan memberi pelatihan,
gangguan kesehatan, kecelakaan, menyediakan kebutuhan pasokan air
ketidakpuasan hasil kerja,dan minum, memberikan waktu kerja dan
menurunkan tingkat efisiensi kerja.5 waktu istirahat yang sesuai dengan
Waktu istirahat juga merupakan kondisi tubuh. Dengan pengawasan yang
kebutuhan fisiologis dalam tubuh untuk baik selama waktu bekerja tentunya
mempertahankan kapasitas kerja. produktivitas perusahaan dapat
Pengaturan waktu istirahat juga harus meningkat, pekerja tidak merasa
disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang terbebani dengan kondisi lingkungan
dilakukan, sifat pekerjaan yang pekerjaan nya dan yang terpenting angka
dilakukan dan yang paling penting kasus kecelakaan kerja di Indonesia
lingkungan tempat pekerjaan itu dapat di minimalisir.
dilakukan. Mengambil waktu istirahat
30 menit setelah melakukan pekerjaan DAFTAR PUSTAKA
selama 4 jam berturut-turut dapat Analisis Pengaruh Temperatur Lingkungan,
membantu memulihkan kondisi tubuh. Berat Badan dan Tingkat Beban
Pada saat istirahat itulah tubuh memiliki Kerja Terhadap Denyut Nadi Pekerja
kesempatan untuk membangun kembali Ground Handling Bandara. 2016.
tenaga yang telah habis digunakan Jurnal. Semarang: Universitas
(katabolisme).5 Istirahat yang baik Diponegoro. [diakses 29 Septgember
adalah bukan seberapa lama waktu 2018]
istirahat itu diberikan, tetapi bagaimana https://ejournal.undip.ac.id/index.php
kualitas waktu istirahat tersebut. /jgti/article/view/10149/8084
Pelatihan juga menjadi salah satu Efek Iklim Kerja Panas Pada Respon
Fisiologis Tenaga Kerja di Ruang
tindakan yang memungkinkan dapat
Terbatas. 2017. Jurnal. Surabaya:
dilakukan perusahaan untuk memberi Universitas Airlangga. [diakses 28
pendidikan mengenai cara September 2018]
penanggulangan yang dapat dilakukan https://e-journal.unair.ac.id/IJOSH/ar
saat bekerja di lingkungan panas. ticle/view/4164/pdf
Pendidikan ini dapat dikemas menjadi 3 Hubungan Antara Bahaya Fisik Lingkungan
tingkatan. Yang pertama pendidikan Kerja dan Beban Kerja Dengan
untuk pekerja baru mengenai safety Tingkat Kelelahan Pada Pekerja di
induksi, selanjutnya pendidikan tentang Divisi Stamping PT.X Indonesia.
penanggulangan kebakaran, pelatihan 2015. Jurnal. Padang: Universitas
P3K juga, mengenai K3 untuk pekerja Andalas. [diakses 29 September
2018]
lama dan yang paling penting adalah
Sisilia Puni Suwandi, Analisa Dampak Bekerja di Bawah Iklim Panas….

http://jurnaldampak.ft.unand.ac.id/in
dex.php/Dampak/article/view/42
Keluhan Akibat Tekanan Panas Pada
Pekerja Bagian Dapur Rumah Sakit
di Kota Makassar. 2014. Jurnal.
Makassar: Universitas Hasnuddin.
[diakses 29 September 2018]
http://repository.unhas.ac.id/bitstrea
m/handle/123456789/10692/INDRA
%20K11110913
Pengendalian Heat Stress Pada Tenaga
Kerja di Bagian Furnace PT.X
Pangkal Pinang Bangka Belitung.
2017. Jurnal. Semarang: Universitas
Diponegoro. [diakses 29 September
2018]
https://ejournal.undip.ac.id/index.php
/jpki/article/view/18037