Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. PT. Pertamina (Persero) merupakan suatu perusahaan BUMN yang bergerak di
bidang eksplorasi dan pengolahan minyak serta gas bumi menjadi berbagai jenis bahan bakar
dan petrokimia. Sejarah berdirinya PT. Pertamina (Persero) dimulai pada tahun 1871, ketika
Jhon Reenik melakukan eksplorasi sumber minyak bumi pertama kali di Indonesia, tepatnya
di kaki Gunung Ceremai. Usaha eksplorasi yang dilakukan oleh Reenik ini mengalami
kegagalan. Lalu pada tanggal 15 Juni 1885, Aleko Jan Zooen Zijkler berhasil melakukan
proses pengeboran di Pangkalan Brandan dan menjadikan sumur minyak tersebut sebagai
sumur minyak komersial pertama di Indonesia.
Sejak keberhasilan Zjikler itulah usaha-usaha pengeboran minyak di berbagai daerah
di Indonesia mulai dilakukan. Beberapa usaha pengeboran minyak yang dilakukan antara lain
di Telaga Said (Sumatera Utara) pada tahun 1885, Krika (Jawa Timur) pada tahun 1887,
Ledok (Cepu) pada tahun 1901, dan Talang Akar (Pendopo) tahun 1921. Hal ini mendorong
tumbuhnya perusahan-perusahan minyak asing pada abad ke-19 antara lain:
a. AS (Andrian Stoop), pada tahun 1887
b. KNPC (Klininklijke Nederlandsche Petroleum Company), pada tahun 1890
c. STTC (Shell Transport and Trading Company), pada tahun 1890
d. TKSG (The Kloninklijke Shell Group), pada tahun 1894
e. BPM (Bataafsche Petroleum Company), pada tahun 1894
f. DPC (Dortsche Petroleum Company), pada tahun 1894
g. NKPM (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij), pada tahun 1894
h. NPPM (Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij), pada tahun 1894
i. STANVAC (Standard Vacuum Oil), pada tahun 1933
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, berbagai upaya
dilakukan untuk mengambil ahli perusahaan-perusahaan asing yang menguasai minyak dan
gas di Indonesia. Pada tahun 1951, perusahaan minyak nasional pertama di Indonesia
didirikan dengan nama Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (PTMRI).
Lalu pada tanggal 10 Desember 1957, PT EMTSU diambil ahli oleh Indonesia dan dilakukan
perubahan nama menjadi PN PERMINA, dan tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya PT.
PERTAMINA (PERSERO). Pada tahun 1961, pemerintah mengeluarkan UU No. 44 Tahun
1961 yang menyatakan pembentukan tiga perusahaan Negara di bidang minyak dan gas yaitu:

1
a. PN PERTAMIN didirikan berdasarkan PP No. 3/1961
b. PN PERMINA didirikan berdasarkan PP No. 199/1961
c. PN PERMIGAN didirikan berdasarkan PP No. 199/1961
Pada tahun 1965, PN PERMIGAN dibubarkan dan semua kekayaan, yaitu sumur
minyak dan penyulingan di Cepu, diserahkan kepada Lemigas, sedangkan fasilitas
produksinya diserahkan kepada PN PERMINA dan fasilitas pemasarannya diserahkan kepada
PN PERTAMIN. Pada 1968, berdasarkan PP No. 27/ 1968, PN PERTAMIN dan PERMINA
digabung menjadi satu perusahaan yang menjadi pengelola tunggal dibidang industry minyak
dan gas bumi di Indonesia dan diberi nama Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi Nasional (PN PERTAMINA). Pada tahun 1971, PN PERTAMINA berubah nama
menjadi Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional (PERTAMINA). Tugas
utama PT. PERTAMINA diatur dalam UU No.8 Tahun 1971, yaitu sebagai berikut:
1. Melaksanakan pengusahaan minyak dan gas dalam arti seluas-luasnya, guna memperoleh
hasil sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan Negara.
2. Menyediakan dan melayani kebutuhan bahan-bahan minyak dan gas bumi dalam negeri
yang pelaksanaannya diatur dengan aturan pemerintah.
Pada tanggal 17 September 2003, berdasarkan UU No. 20 Tahun 2001 dan PP Noo.
31 Tahun 2003 PT. PERTAMINA berubah nama menjadi PT. Pertamina (Persero). PT
Pertamina (Persero) memiliki tugas-tugas pokok yang harus dilakukan dengan sebaik-
baiknya sebagai berikut:
1. Eksplorasi dan Produksi
Kegiatan ini mencakup upaya pencarian lokasi yang memiliki potensi ketersediaan
minyak dan gas bumi, kemungkinan penambangannya, serta proses produksi menjadi bahan
baku untuk proses pengolahan
2. Pengolahan
Kegiatan ini tersusun dari proses-proses pemisahan dan pemurnian untuk mengolah
minyak dan gas mentah menjadi produk yang diinginkan seperti premium, solar, kerosin,
petrokimia, dan lain-lain
3. Pembekalan dan Pendistribusian
Kegiatan ini meliputi penampungan, penyimpanan, serta pendistribusian bahan baku
ataupun produk akhir yang siap dikirim.

2
4. Penunjang
Kegiatan penunjang mencakup segala kegiatan yang dapat menunjang terselenggaranya
kegiatan-kegiatan eksplorasi, produksi, pengolahan, pembekalan, dan pendistribusian.
Kegiatan penunjang ini diantaranya pengadaan penyukuhan keselamatan kerja, dan lain-lain.
PT. Pertamina (Persero) memiliki tujuh unit pengolahan (Refinery), namun pada tahun 2007,
Refinery Unit I di Pangkalan Brandan berhenti beroperasi karena terdapat permasalahan pada
pasokan bahan umpan. Keenam unit pengolahan lain yang masih beroperasi saat ini, yaitu:
1. Refinery Unit II di Dumai-Sei Pakning, Riau
2. Refinery Unit III di Plaju-Sei Gerong, Sumatera Selatan
3. Refinery Unit IV di Cilacap, Jawa Tengah
4. Refinery Unit V di Balikpapan, Kalimantan Timur
5. Refinery Unit VI di Balongan, Jawa Barat
6. Refinery Unit VII di Kasim, Papua

3
Pertamina Hulu

Kegiatan usaha Pertamina Hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas, dan panas
bumi. Untuk kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas dilakukan di beberapa wilayah
Indonesia maupun di luar negeri. Pengusahaan di dalam negeri dikerjakan oleh
PERTAMINA Hulu dan melalui kerjasama dengan mitra sedangkan untuk pengusahaan di
luar negeri dilakukan melalui aliansi strategis bersama dengan mitra. Berbeda dengan
kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi, kegiatan eksplorasi dan produksi panas bumi
masih dilakukan di dalam negeri. Untuk mendukung kegiatan intinya, PERTAMINA Hulu
juga memiliki usaha di bidang pemboran minyak dan gas.

Gambar.1.1 Peta refinery unit PT.PERTAMINA di Indonesia

1.1.1 Visi dan Misi

a. Visi
Visi dari PT. Pertamina (Persero) RU III adalah:
“Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia”
b. Misi
Misi dari PT. Pertamina (Persero) RU III adalah :
“Menjalankan usaha minyak, gas, serta energy baru dan terbarukan secara terintegrasi,
berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat”

4
1.1.2 Logo dan Slogan

Logo lama Pertamina selama 35 tahun sebelum digantikan logo baru pada:

10 Desember 2005.

Arti makna logo :


1. Elemen logo yg membentuk huruf P yang secara keseluruhan merupakan
representasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai pertamina bergerak maju dan
progresif.
2. Warna-warna yang berani mennjukan langkah besar yang diambil pertamina dam
aspirasi akan masa depan yang lebih positif dan dinamis, dimana :
a. Biru : Mencerminkan andal, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab.
b. Hijau : Mencerminkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan
c. Merah : Mencerminkan keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam
menghadapi berbagai macam kesulitan.

5
1.2. Sejarah PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju, Palembang
Salah satu Refinery Unit yang dimiliki oleh PT. Pertamina (Persero) adalah Refinery
Unit III Plaju yang terletak di Palembang. Sejarah dari RU III ini dimulai ketika
ditemukannya sumur minyak bumi di Telaga Tunggal pada tahun 1885. PT. Pertamina
(Persero) RU III memiliki luas area sebesar 384 hektar yang terbagi menjadi dua, yaitu
daerah Plaju sebesar 230 hektar dan daerah sungai gerong sebesar 154 hektar, pada awalnya
terdapat dua kilang yang terpisah dari Refinery Unit ini, yaitu kilang Plaju dan kilang Sungai
Gerong.
Kilang Plaju didirikan pada tahun 1903 oleh perusahaan minyak dari Belanda, yaitu
Shell. Kemudian pada tahun 1926, perusahaan minyak dari Amerika Serikat, yaitu Stanvac,
mendirikan kilang Sungai Gerong.
Sejarah perkembangan Refinery Unit III Plaju-Sungai Gerong dapat dirangkum dalam
Tabel 1 di bawah ini:
Tahun Kegiatan
1903 Kilang Plaju didirikan oleh Shell
1926 Kilang Sungai Gerong didirikan oleh Stanvac
1965 Kilang Plaju dibeli dari Shell oleh Negara (PERTAMINA)
1970 Kilang Sungai Gerong dibeli dari Stanvac oleh Negara
(PERTAMINA)
1971 Unit polypropylene mulai dibangun dengan kapasitas 20.000
ton per tahun
1972 Proyek integrasi kilang Plaju dan Sungai Gerong mulai
dilakukan
1982 Pendirian Plaju Aromatic Center (PAC) dan Proyek Kilang
Musi (PKM I) yang berkapasotas 98 MBCD dan
pembangunan High Vacum Unit (HVU) Sungai Gerong serta
revamping CDU untuk konservasi energy
1984 Proyek pembangunan Kilang TA/PTA (Terephthalic
Acid/Purified Terephthalic Acid) dengan kapasitas produksi
150.000 ton per tahun
1986 Kilang TA/PTA mulai berproduksi
1987 Proyek pengembangan konservasi energy atau Energy

6
Conservation Improvement (ECI)
1988 Proyek Usaha Peningkatan Efisiensi dan Produksi Kilang
(UPEK)
1990 Debottlenecking kapasitas unit TA/PTA menjadi 225.000 ton
per tahun
1993 Total Plant Test dengan kapasitas 131,1 MBSD dan
pelaksanaa proyek RTL hasil Plant Test
1994 Pelaksanaa Proyek Kilang Musi (PKM) II yang meliputi
revamping RFCCU, pembangunan New Ploypropylene,
perubahan listrik dari 60 Hz menjadi 50 Hz di Sungai Gerong,
modifikasi unit Redistilling I/II Plaju menjadi CDU, dan
mendesain ulang Cyclone FCCU Sungai Gerong
1996 Unit Redistilling I/II dimodifikasi menjadi CDU
2002 Pembangunan jembatan integrasi yang menghubungkan
Kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong
2007 Kilang TA/PTA berhenti beroperasi

Tugas utama dari PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju tercantum dalam UU No. 8
tahun 1971, yaitu menyediakan bahan baku bagi perkembangan dan pertumbuhan industri
dalam negri. Peraturan ini diterjemahkan dalam kegiatan produksi yang dilakukan PT.
Pertamina (Persero) RU III Plaju-Sungai Gerong yaitu secara khusus mengolah bahan bakar
(BBM) dan non-BBM.
Produk-produk BBM yang dihasilkan oleh PT. Pertamina (Persero) RU III adalah
Avtur, Premium, Kerosene, Pertamax Racing Fuel, ADO (Automotive Diesel Oil), IDO
(Industrial Diesel Oil), serta Feul Oil. Sedangkan produk non-BBM yang dihasilkan adalah
LPG, Musi Cool (refrigerant), LSWR (Low Sulphur Waxy Residu), serta biji plastic Polytam
( polypropylene).
Facility Engineering
Facility Engineering merupakan bagian dari Pertamina RU III Plaju – Sungai Gerong
yang bertugas melakukan kajian berupa solusi keengineeringan terhadap berbagai hal yang
berkenaan dengan kejadian di lapangan. Kajian ini dapat berupa evaluasi, inovasi dan
rekomendasi perubahan terhadap konstruksi unit kilang, penggunaan alat-alat baru, deteksi

7
kerusakan perangkat dilapangan dan kajian-kajian lainnya yang dilakukan untuk memastikan
unit berjalan dengan baik.
Ada beberapa divisi terkait dengan Facility Engineering di Pertamina RU III Plaju-
Sungai Gerong, yaitu :
1. Instrument Technology Expert
Instrument Technology Expert mengurus hal-hal yang berkaitan dengan
instrumentasi di lapangan, baik itu sensor, sistem kontrol, ruang kendali, transmiter dan
instrumen-instrumen lain di lapangan
2. Electrical Technology Expert
Electrical Technology Expert mengurus hal-hal berkenaan dengan kelistrikan
arus kuat, distribusi listrik ke seluruh wilayah Pertamina, menaikkan dan menurunkan
tegangan dan hubungan listrik arus kuat lainnya.
3. Rotating Technology Expert
Rotating Technology Expert mengurus hal-hal yang berkaitan dengan
peralatan yang berputar dalam operasinya, antara lain pompa, motor, kompresor, turbin.
4. Mechanical Technology Expert
Mechanical Technology Expert mengurus hal-hal yang berkenaan dengan
perpipaan (sesuatu yang tidak “bergerak”).
5. Management Of Change Leader
Seksi Management of Change Leader mengurus semua hal yang berkaitan
dengan perubahan yang terjadi di plant RU III.
6. Civil Technology Expert
Civil Technology Expert mengurus hal-hal yang berkenaan dengan konstruksi
bahan bangunan.

8
1.3. Pelaksanaan Kerja Praktek
Kerja praktek di PT.PERTAMINA (Persero) RU-III Plaju-Sungai Gerong berlangsung
mulai 1Juni-30Agustus 2013, dengan rincian dua minggu pertama mrerupakan masa orientasi
kilang. Orientasi kilang meliputi orientasi unit poengolahan, unit utilitas dan laboratorium.
Selanjutnya disisa waktu yang ada digunakan untuk melakukan tugas khusus.

1.4. Tujuan Kerja Praktek


Pelaksanaan kerja praktek bagi mahasiswa dalam lingkup program pendidikan
Diploma-III Jurusan teknik elektro Politeknik Negeri Jakarta bertujuan agar mahasiswa :
1. Mendapat gambaran nyata tentang wujud dan pengoperasian sistem pemroses dan
fasilitas yang berfungsi sebagai sarana produksi
2. Memahami dan dapat menggambarkan diagram alir proses dan sistem kendali di
kilang
3. Memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari bangku
kuliah untuk menganalisis jalannya proses atau memecahkan masalah nyata yang ada
dalam kegiatan pengoperasian sarana produksi.

1.5 Ruang Lingkup Kerja Praktek


Pelakasanaan kerja praktek di PT.PERTAMINA (Persero) RU-III dibagi menjadi
beberapa tahap, antara lain :
1. Mengenal perusahaan secara keseluruhan melalui orientasi umum.
2. Memahami struktur proses, sistem pemroses serta pengoperasiannya melalui orientasi
operasional
3. Menganalisa masalah dan penyelesaian melalui orientasi proses engineering dan
pelaksanaan tugas khusus.

1.6. Struktur Organisasi PT.PERTAMINA (Persero) RU-III

Sistem organisasi PT.PERTAMINA (Persero) RU-III Plaju berdasarkan surat


keputusan Direksi Pertamina No. Kpts 007/C0000/99-SO tanggal 13 Januari 1999.
PT.PERTAMINA dipimpin oleh seorang General Manager (GM) yang bertanggung jawab
langsung kepada direktur pengolahana pertamina di jakarta. General manager pertamina
membawahi beberapa manager.

9
Struktur organisasi PT.PERTAMINA (Persero) RU-III Plaju dapat dilihat pada
gambar 2.1 berikut :

Gambar 2.1 Organisasi PT.PERTAMINA (Persero) RU-III Plaju

1.7. Organization Structure Production – Operation & Manufacturing RU-III


GM RU-III

SMOM

Gambar 2.2 Organisasi PT.PERTAMINA (Persero) RU-III Plaju

10
1.8. Struktur Organisasi Utilitas – Produksi RU-III

Dalam hal melaksanakan Kerja praktek serta penulisan laporan dari total waktu kerja
praktek yang dilakukan di PT. PERTAMINA RU III selama lebih kurang 2 Bulan , penulis
Berada di Utilities bagian pendistribusian (listrik) dalam melaksanakan Kerja Praktek di
laporan Ini.

Gambar 2.3 Organisasi PT.PERTAMINA (Persero) RU-III Plaju

Penulis melaksanakan Kerja Praktek di Utilities, tugas pokok dari bagian ini adalah
melakukan penyuplaian ke perkilangan maupun ke perkampungan penduduk di RU-II Plaju –
Sungai Gerong. Dan juga melakukan pengeksekusian terhadap trafo yang mengalami trouble
maupun perawatan terhadap alat-alat listrik di lingkung RU-III.

11
1.9 Petunjuk Keselamatan Di Dalam Kilang Untuk Tamu
1. Tujuan
Yaitu memberikan suatu petunjuk keselamatan secara umum kepada tamu atau
rekanan PERTAMINA RU III.
2. Ruang Lingkup
Semua tamu, rekanan atau personil lainnya yang berada di dalam kilang /
pabrik yang bukan pegawai PERTAMINA, namun diizinkan berada di daerah
instalasi PERTAMINA RU III.
3. Ketentuan Umum
Adapun beberapa ketentuan-ketentuan umum yang wajib di patuhi adalah :
 Tamu atau rekanan tidak diizinkan masuk di daerah kilang tanpa persetujuan atau
izin dari manajer kilang dan security.
 Badge tanda pengenal harus dikenakan pada saku baju sebelah kiri selama jam
kerja atau saat memasuki ataupun berada di daerah pabrik / kilang dan tidak
boleh dikenakan atau dipakai oleh yang tidak berhak.
 Tidak dibenarkan membawa senjata api, senjata api, korek api atau alat pembuat
api lainnya, obat bius / minuman yang beralkohol ke dalam area kilang / pabrik.
 Dilarang menyentuh alat-alat operasi.
 Dilarang menghasut, berkelahi atau berkelakar yang dapat membahayakan.
4. Merokok & membawa Hand Phone
Di larang keras merokok di daerah pabrik atau kilang, kecuali di tempat
khusus yang telah disetujui oleh Pimpinan Perusahaan Cq LK dan KK sebagai
tempat merokok dan juga membawa Hand Phone (HP) pada jam kerja.
5. Kendaraan
 Setiap orang yang mengendarai kendaraan bermotor di dalam Hang harus
memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Izin Masuk Kendaraan.
 Batas kecepatan di daerah pabrik adalah 30 Km/jam atau seperti yang ditetapkan
dan 40 Km/Jam batas kecepatan di jalan-jalan di kompleks perumahan
PERTAMINA.
 Setiap kendaraan dilarang memuat melampaui batas muatan maksimum yang
diijinkan.

12
 Jangan lebih dari 3 (tiga) orang termasuk sopir di tempat duduk depan dalam
setiap kendaraan yang sedang berjalan dan untuk bak belakang max. 6 orang
(khusus untuk mobil Pickup).
 Dilarang membawa penumpang, alat-alat atau barang-barang besar dan berat
diatas kendaraan roda 2 (dua) di dalam area Kilang (Plant).
6. Tanda Keadaan Darurat Di Area Kilang
 Kebakaran
Sirine berbunyi 1 menit kontinyu
 Kebocoran Gas Hydrocarbon
Sirine berbunyi 3 menit bergelombang.
 Keadaan Aman
Sirine uap berbunyi 1 menit kontinyu
7. Keadaaan Darurat
Setelah mendengar tanda keadaaan darurat semua orang / personil segera
harus mematuhi instruksi sebagai berikut :
 Mematikan semua perlengkapan kemungkinan sumber nyata seperti rokok,
mesin mobil, mesin las dan sebagainya.
 Personil yang mengemudi kendaraan harus memarkirkan kendaraannya ke tepi
jalan dan mematikan mesin, berikan jalan kepada mobil pemadam kebakaran
dan mobil ambulan.
 Segera menuju ke tempat berkumpul (dengan berjalan kaki) "Assembly point"
(bendera hijau bersimbol "A").
8. Pelaporan Kejadian
Setiap orang bertanggung jawab untuk melaporkan setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan alat-alat clan lukanya personil ke LK dan KK melalui
nomor telepon darurat.
9. Keselamatan
 Semua orang yang memasuki area kilang harus memakai topi pengaman/helm
atau alat keselamatan perorangan lainnya, sebagaimana yang telah dianjurkan
oleh bagian LK dan KK.
 Patuhilah semua tanda-tanda keselamatan, seandainya anda masih ragu
silahkan bertanya ke LK dan KK.

13
10. Kebersihan
Adalah tanggung jawab setiap orang untuk memelihara daerahnya selalu
bersih bersih dan rapi setiap saat dan membuang sampah di tempat pembuangan
sampah.

Equipment Rusak

Maintenance Perbaikan Ya Finish


Area

Tidak

MPS Workshop

QC Tidak

Plannig &
Sched
Procurement Ok

Maintenance
Area

Gambar 2.4 Prosedur Perbaikan Equipment

Penjelasan Dari Flowchart di Atas


Prosedur perbaikan suatu alat/equipment yang rusak seperti terlihat pada flow chart di
bawah, misalnya suatu peralatan kilang (Heat Exchanger) rusak maka pihak MA akan
memperbaikinya di lapangan dan apabila peralatan yang rusak tersebut tidak dapat diperbaiki
di lapangan atau akan lebih efektif jika dikerjakan di Workshop maka pihak MA akan
membawanya ke Workshop dengan catatan tidak dapat lagi ditanggulangi langsung di

14
lapangan oleh bagian MA. Lalu di Workshop, peralatan tersebut didaftarkan terlebih dahulu
ke Front Desk untuk mendapatkan registration card lalu dibawa ke area kerja Heat
Exchanger. Di area kerja Konstruksi, Heat Exchanger tersebut dibongkar dan kemudian
diperiksa kerusakannya bersama dengan bagian stationary equipment engineering MPS.
Fungsi dari non rotating equipment engineering MPS dalam kegiatan pemeriksaan kerusakan
Heat Exchanger adalah untuk membuat rekomendasi perbaikan yang harus dilakukan dan
mencatat komponen Heat Exchanger yang rusak yang perlu diganti. Kemudian Stationary
equipment engineering MPS memberikan penggantian dan pengadaan komponen –
komponen yang harus diganti dengan yang baru kepada bagian Planning schedulling agar
dapat dibuatkan job plant nya. Lalu job plant tersebut diproses oleh bagian Procurement
untuk melakukan pembelian terhadap komponen tersebut. Sambil menunggu barang datang,
di bengkel, Heat Exchanger tersebut dibersihkan . Setelah barang yang dibeli tiba di bagian
Purchasing/Procurement maka bagian stationary equipment engineering MPS melakukan
pemeriksaan terhadap barang tersebut apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang dipesan.
Setelah disetujui maka barang tersebut dikirim ke bengkel untuk kemudian dipasang di Heat
Exchanger hingga selesai dan setelah selesai diperbaiki maka akan diperiksa hasilnya oleh
stationary engineering MPS dan dilakukan test. Kemudian setelah selesai di inspeksi dan
hasilnya bagus maka peralatan tersebut dilaporkan ke Front Desk untuk dibuat rekaman
mutunya yang kemudian akan diserahkan kembali kepada bagian MA yang mengirimkan
peralatan tersebut untuk kemudian dipasang kembali disite.

15
BAB II
DISTRIBUSI/SALURAN

Sistem kelistrikan Pertamina Unit Pengolahan III Plaju mempunyai 3 unit Gas
turbin dengan kapasitas 31 MW, steam turbine generator 3,2 MW sebagai secure power dan
Emergency Diesel dengan kapasitas 750 KW. Untuk pola H normal digunakan 2 unit Gas
turbin di tambah dengan 1 Steam turbin sebagai secure power.
Tenaga listrik yang dihasilkan dari pembangkit yang berada di Power Station II Plaju
didistribusikan/disalurkan keseluruh beban (Load) yang berada di Kilang Plaju, kilang S.
Gerong dan seluruh Perumahan pekerja di Bagus kuning, Plaju dan S. Gerong.
Sistem distribusi listrik yang ada di UP-III mempunyai area yang cukup luas mulai
dari Bagus kuning sampai dengan daerah Kampung Bali di Sungai Gerong. Dan
menggunakan tegangan yang bermacam macam dari 12.000 V, 6600 V, 500V, 440 V, 415
V, 380V, 220V dan 110V. Sistem tegangan yang bermacam macam ini dikarenakan
dahulunya kilang Plaju dan S. Gerong merupakan kilang yang terpisah operasionalnya
sehingga mempunyai acuan standard yang berbeda. Namun untuk saat ini standard
tegangan yang di pergunakan adalah 12000V, 6600V, 380V/400V untuk 3 fasa dan 220V
untuk 1 Fasa. Pada suatu sistem distribusi tenaga listrik pada umumnya akan terdiri dari
Penghantar/kabel dengan berbagai ukuran, Transformator atau Trafo, Peralatan
Proteksi/pengaman dan metering. Dan untuk beberapa beban tertentu dipergunakan DC
Supplai dan UPS (Uninteruptable Power Supply).

2.1. Sistem Distribusi

Tenaga listrik dari sumbernya/pembangkit supaya dapat sampai dibeban atau pemakai
memerlukan suatu saluran/Sistem distribusi.
Jadi Sistem Distribusi/saluran adalah alat untuk menyalurkan tenaga listrik, dapat juga
dikatakan sebagai alat transport energi.
Sampai sekarang saluran tersebut berbentuk kawat yang pada umumnya dari bahan
tembaga atau alumunium.
Kawat saluran tersebut dapat dipasang diudara/di atas tanah (Over head), di bawah
tanah (underground) atau di bawah air.

16
2.1.1 Sistem distribusi berdasarkan rangkaian penghantar.
Pada penggunaan secara umum, dikenal empat macam cara sistem distribusi/penyaluran
berdasarkan rangkaian penghantarnya, yaitu :
1. Saluran Arus searah.
2. Saluran Arus Bolak-balik “satu” fasa.
3. Saluran Arus Bolak-balik “tiga” fasa-bintang ( star ).
4. Saluran Arus Bola-balik “ tiga “ fasa-segitiga ( delta ).

Tiga macam saluran.


R
S Misalnya datang
T dari generator 3 ø -
N bintang atau gardu
1ø 1ø 1ø 3ø 3ø trafo
bin- segi
tang tiga

Gedung Motor listrik


Lp. 1 diambil dari 1 fasa R – N,
Lp. 2 diambil dari 1 fasa S – N & Lp. 3 diambil dari 1 fasa T – N

2.1.2. Sistem Distribusi berdasarkan jaringan supplai.


Didalam Sistem Distribusi tenaga listrik terdapat dua tipe dasar yang biasanya
digunakan yaitu :
1. Sistem Radial/Jari jari
A

Untuk tiap-tiap daerah beban ada saluran sendiri-sendiri. Antara daerah beban A
dan B tidak ada hubungan. Jadi praktis dan murah. Tetapi bila misalnya ada

17
gangguan saluran yang menuju beban A, maka daerah ini padam total sampai
gangguan tersebut diatasi.
Untuk memperbaiki kehandalan system ini maka dikembangkan system radial
dengan double feeder dimana untuk setiap daerah beban disupplai oleh dua buah
saluran.

Dari gambar diatas terlihat bahwa kehandalan supplai daerah beban A dan B menjadi
lebih baik. Pada system distribusi listrik di Kilang Pertamina Plaju dan S. Gerong
System radial dengan double feeder inilah yang banyak dipergunakan.

2.Sistem Ring/Cincin

A
G
G1

B G2

18
Tiap-tiap daerah beban ada saluran sendiri-sendiri. Disamping itu, antara daerah
beban A dan B ada hubungan. Bila misalnya ada gangguan pada saluran yang menuju
ke daerah beban A, setelah saluran ini diputuskan, segera tenaga listrik dapat
disalurkan ke daerah beban A dari B melalui saluran penghubung yang disebut sistem
ring. Jadi pemadaman daerah beban A hanya sebentar (sambill menunggu
perbaikannya). Cara ini lebih baik dalam sistem penyaluran tenaga listrik, hanya
kurang praktis dan lebih mahal. Untuk di area Pertamina UP-III Plaju dan S. Gerong
yang mempergunakan sistem ini adalah Perumahan Pertamina di Plaju.

2.2 INSTALASI
Pada system distribusi listrik dikenal secara umum ada dua macam instalasi yang
dipergunakan.
2.2.1. Instalasi Penerangan
Yang dimaksud disini termasuk :
- Instalasi perumahan
- Instalasi gedung : kantor, toko, hotel, rumah sakit, asrama.
- Instalasi penerangan jalan/kompleks.
Dalam hal ini digunakan 3 fasa-bintang 380 V, atau satu fasa 220V.
Yang penting diperhatikan pada instalasi penerangan 1 fasa 220 V adalah :
- Semua kerangka alat-alat dari bahan metal (konduktor) yang memerlukan
listrik harus ditanahkan (grounded ).
- Semua stop kontak harus ditanahkan.
- Pipa-pipa kabel sebaiknya dari bahan non konduktif
- Stop kontak dan steker harus ada terminalnya untuk pertanahan.
- Kekuatan atau daya isolasi dari instalasi memenuhi kebutuhan minimum 1
KV ~ 1 M Ω
1000 V ~1000.000 Ω
1 V ~ 1000 Ω
220 V ~ 220.000 Ω 0,22 M Ω, dibulatkan menjadi :
0,3 M Ω ( minimum ).

19
2.2.2. Instalasi Tenaga
Secara umum yang dimaksudkan adalah instalasi motor-motor listrik.
Biasanya tegangan motor listrik di bawah 1 KV, misalnya : 3 ø – 380 V, 3 ø 440 V
dan sebagainya. Tetapi sesuai dengan kebutuhan sekarang sering digunakan motor
listrik tegangan tinggi, misalnya 3 ø – 6,6 kV.
Yang penting perlu diperhatikan pada istalasi motor listrik adalah :
- Pada motor listrik (motor induksi) 3 fasa, harus ada pengaman otomatis 3
fasa. Maksudnya : bila dalam keadaan operasi, salah satu sikring pada
sumbernya putus, pengaman otomat 3 fasa harus segera membuka sehingga
motor berhenti. Sebab bila motor operasi dengan 2 fasa, kemudian akan
terbakar. Perlu diperhatikan bahwa, pengaman otomat 3 fasa pada suatu saat
bisa macet.
- Semua motor listrik pada waktu start, memerlukan daya lebih besar, dua atau
tiga kali, bahkan arus startingnya umumnya mencapai 6X dari arus
nominalnya meskipun hanya beberapa detik. Untuk mengurangi daya start
yang besar ini bisa digunakan alat yang termasuk pada sistim startingnya
seperti misalnya Star-delta starter , soft starter dan lain lain.
- Kerangka/body motor listrik harus ditanahkan (grounded).
2.3. Pentanahan (grounding )
Sistem pentahanan adalah suatu rangkaian listrik yang sengaja dihubungkan
kebumi/tanah dengan menggunakan kawat dan elektroda pentanahan.
Tujuan pemasangan pentanahan :
1. Menjamin personel (pekerja ) bila menyentuh peralatan yang ditanahkan tidak
mendapat sengatan listrik melebihi kadar yang membahayakan.
2. Memberi jalan arus listrik mengalir ketanah dalam keadaan normal dan gangguan
tanpa melebihi batas operasi peralatan dan mengganggu kelangsungan pelayanan.
Komponen – komponen dari pentanahan terdiri dari :
- Saluran pentanahan (S.P)
- Elektroda pentanahan ( E.P )
Pada standar yang dipergunakan Pertamina suatu system pentanahan mempunyai
nilai tahanan maksimum : 5 Ohm.

20
2.4. Tranformator/ Trafo
Didalam penyaluran tenaga listrik (sistim arus bolak-balik) trafo tidak pernah
ketinggalan untuk digunakan.
Disini trafo mempunyai dua kegunaan yaitu kegunaan teknis dan kegunaan ekonomis.
2.4.1. Kegunaan Teknis
1. Sebagai alat untuk merubah tegangan, baik turun maupun naik, sesuai dengan
keperluan, yaitu kebutuhan tegangan untuk alat-alat. Seperti telah diketahui,
tegangan yang diperlukan alat-alat adalah bermacam-macam, misalnya motor
listrik, ada yang 380 V, 440 V dan sebagainya.
2. Untuk mendistribusikan listrik
Dalam hal system distribusi, pada umumnya trafo selalu sebagai penurun
tegangan (step down). Jadi, menerima tegangan tinggi dan menurunkannya.
Selanjutnya dengan rel pembagi pada sistim tegangan rendah, mendistribusikan
listrik ke daerah-daerah pemakai.

Trafo yang umumnya digunakan adalah :


- Trafo 1 fasa
- Trafo 3 fasa
Dapat mempunyai hubungan “ segi tiga “ dan “bintang “ oleh karena itu,
sekaligus trafo dapat juga berfungsi sebagai alat untuk mengurangi biaya saluran,
karena :
Trafo 3 fasa dapat mempunyai hubungan segi tiga ( ) dan bintang ( Y ).
Pemakaian yang menghendaki saluran 3 fasa bintang ( 4 kawat ), untuk supply-
nya bisa dengan system 3 fasa – segi tiga ( 3 kawat ), jadi mengurangi jumlah
konduktor.
2. 4.2. Ekonomis
Bisa untuk menghemat biaya saluran.
Misalnya, untuk distribusi listrik suatu komplek perumahan. Disini diperlukan
sistem saluran 3 fasa-bintang, terdiri dari empat kawat : R, S. T & N . Tetapi
saluran dari sumbernya cukup dengan sistem saluran 3 fasa-segitiga, terdiri dari
tiga kawat R, S & T. Jadi menghemat kawat. Dengan menggunakan trafo 3 fasa,

21
yang inputnya ( dari sumber ) segitiga dan outputnya (menuju ke beban/pemakai)
adalah bintang.
Maka kawat netral yang diperlukan pada distribusi kompleks perumahan tersebut
diperoleh dari trafo.

2.4.3. Sistem Pendinginan pada Trafo


Trafo-trafo 3 fasa yang digunakan pada system distribusi, karena relatif
kapasitasnya besar, maka perlu system pendinginan yang baik. Disamping
menggunakan udara sekeliling, pada umumnya belitan-belitan trafo tersebut
terendam minyak (minyak trafo).
Gunanya minyak adalah :
- Sebagai pendingin
- Memperkuat daya isolasi
- Mencegah karat.
Karena menggunakan pendingin udara dan minyak maka pada spesifikasi trafo
selalu di cantumkan jenis pendingin yang dipergunakan seperti tertulis ONAN (Oil
Natural Air Natural) atau ONAF (Oil Natural Air Forced) yang berarti untuk yang
pertama trafo tersebut berpendingin minyak dan udara luar biasa tanpa adanya
tekanan sedangkan untuk type yang kedua berpendingin minyak dan berpendingin
udara luar yang dihembuskan dengan kipas/fan.

2.5 Saluran Udara (S.U) dan kabel tanah (K.T)


Untuk penyaluran dapat digunakan Saluran udara S.U atau Kabel tanah K.T
sedangkan untuk di laut bisa digunakan Kabel Bawah Air ( submarine cable).
2.5.1. Keuntungan Saluran udara (Over head) terhadap Kabel tanah
(Under ground) adalah :
- Mudah mencari dan mengatasi gangguan
- Praktis dan lebih murah
- Bila perlu perluasan, mudah dilaksanakan
2.5.2. Kerugian Saluran Udara terhadap Kabel tanah
- Segi safety kurang
- Untuk di kota, mengganggu keindahan

22
Untuk system distribusi tenaga listrik yang ada di kilang Plaju dan S. Gerong yang
umum dipergunakan adalah Kabel tanah hal ini dengan tujuan memperoleh
kehandalan supplai listrik yang terus menerus.
2.5.3 Masalah Utama pada saluran/kabel .
Pada penyaluran akan terjadi :
1. Tegangan jatuh (T.J) satuan volt
Misal : Sumber 220 V, pada beban 200V
T.J = 220 – 200 = 20 V, atau 20 V terhadap sumber 10%.
2. Rugi-rugi atau Losses

2.5.4. Bahan untuk saluran/kabel .


Secara teoris banyak sekali macam bahan yang dapat digunakan sebagai
konduktor listrik.
Misalnya : Platina, Emas, Perak, Tembaga, Alumunium, Besi,Seng, Nikel, Timah
dan sebagainya.
Tetapi yang paling banyak digunakan, setelah pertimbangan “ teknis “ dan “
ekonomis “ adalah sebagai berikut :
1. Tembaga ( Cu )
Bahan ini yang paling banyak digunakan sebagai kawat / konduktor listrik.
Dari segi teknis listrik, bahan yang tepat satu tingkat lebih baik dari tembaga
adalah “ Perak “ tetapi harganya mahal.
Sifat-sifat tembaga :
- Daya hambat jenis kecil.
= 1,72 x 10-8 ohm – meter
- Daya tahan terhadap korosi termasuk baik, juga terhadap beberapa asam
lemah.
- Tidak rapuh (brittle )
- Sifat-sifat finis (misalnya melengkung), termal/panas dan listrik adalah tetap
untuk daerah temperatur yang luas.
- Di Indonesia cukup banyak
- Harganya tidak perlu mahal.

23
2. Alumunium ( Al )
Dari segi teknis listrik, bahan ini satu tingkat di bawah tembaga. Dalam
penggunaan saluran udara (terutama tegangan tinggi), sering diperkuat dengan
kawat baja ditengahnya ( A.C.S.R ) Bentuknya.
- Round Cable
Penampang kabel berbentuk bulat
- Flat Cable.
Penampang kabel berbentuk pipih. Biasanya digunakan pada motor listrik Reda
Pump. Karena ruangannya terbatas, dengan round cable mungkin tidak bisa masuk,
maka digunakan flat cable.

- Pejal ( Solid )
Kawat/konduktor merupakan batangan.
- Berpilin ( stranded )
Kawat/konduktor terdiri dari kawat-kawat kecil.
- Berlubang ( Hollow )
Kawat/konduktor berbentuk seperti pipa, tengah berlubang.
Supaya fleksibel, ukuran mulai 25 mm2, biasanya berpilin
- Coaxial
As kabel menjadi satu. Antara konduktor luar dan dalam dipisahkan oleh
isolasi. Kabel ini jarang dipakai sekarang. Sering digunakan pada saluran
pertahanan pengaman petir.

2.5.5. Distribusi Primer dan sekunder


1. Istilah
a.Transmisi
Artinya adalah penyaluran tenaga listrik, yang dimaksud : dari suatu sumber,
misalnya pusat pembangkit listrik (power station )ke suatu pusat beban yang
jaraknya jauh (relatif )
b.Distribusi
Artinya juga penyaluran tenaga listrik, yang dimaksud : dari suatu sumber, ke
pemakaian-pemakaian. Disini kadang-kadang, suatu daerah beban masih terbagi
menjadi sub daerah beban.Sehingga ada distribusi primer dan sekunder.

24
2. Pengaruh Cos φ
Sesuai dengan rumus : W = V 3. V.I. Cos φ.
Untuk daya dan tegangan tertentu, bila cos φ kecil ( jelek ), maka arus makin besar.
Kalau kawat tidak lebih besar, akan lekas panas, merupakan rugi-rugi.
3. Pengaruh Tegangan Tinggi
Sesuai rumus Daya S= VA = V 3 . V . I .
Untuk daya yang sama, bila tegangan semakin tinggi, arus makin kecil, jadi kawat
lebih kecil.
Yang membatasi tingginya tegangan :
- Masalah “ safety “.
- Teknologi, khususnya peralatan tegangan tinggi.
- Gangguan terhadap telekomunikasi.
- Harga peralatan, semakin tinggi tegangan, semakin mahal.

Dalam hal khusus, misalnya bila pemakai hanya disekitar pembangkit listrik dan
jumlahnya tidak banyak, maka penyaluran listrik langsung dari pembangkit listrik ke
pemakai. Untuk hal ini digunakan generator yang mempunyai tegangan sesuai dengan
tegangan pemakai, misalkan : 3 fasa – Y – 380 V.
Jadi, disini tidak dikenal adanya istilah distribusi primer ( primary distribution ) dan
distribusi sekunder ( secondary – distribution ).

Pada Pemakai agak jauh biasanya digunakan generator dengan tegangan tinggi.
Contohnya, sistem yang digunakan di Kilang UP-III. Generator yang digunakan
mempunyai tegangan 12.000 KV .
Listrik yang keluar ( out going ) dari pembangkit ( Power station ) adalah : 3 fasa -
12.000KV, disalurkan ke trafo –trafo distribusi pada unit unit kilang dan perumahan.

Trafo-trafo distribusi ini berfungsi untuk :


- Merubah hubungan menjadi Y
- Menurunkan tegangan 12 KV ke 6,6 KV dan menjadi 380 V (fasa dgn fasa)
- Membagi listrik ke Unit unit operasi/pemakai-pemakai.

25
T.D T.D

G 12000/6600 V 6600/380 V Beban

P.T.L./G = Pembangkit Tenaga Listrik


T.D. = Trafo Distribusi
P = Pemakai.
- Saluran-saluran 3 ø - - 6 KV disebut : distribusi primer.
- Saluran-saluran 3 ø– Y - 380 V disebut : distribusi sekunder.
Jadi disini munculah istilah :
- Distribusi primer (primary distribution).
- Distribusi sekunder (secondary distribution).
Dalam hal sistem tenaga listrik yang cukup besar, pembangkitnya, pemakaiannya
dan jaraknya/letaknya terpencar-pencar sangat jauh, digunakan trafo-trafo untuk
penaik (step up) dan penurun tegangan (stop down) tegangan.
* Saluran-saluran 3 fasa - - 12/6,6 KV merupakan distribusi primer (primary).
* Saluran-saluran 3 fasa – Y - 380 V merupakan distribusi sekunder (secondary ).
Oleh karena itu, bisa dikatakan :
* Distribusi primer (primary distribution) adalah saluran-saluran yang masuk ke
trafo-trafo step down (penurun) sebelum pemakaian.
* Distribusi sekunder (secondary distribution) adalah saluran-saluran yang keluar
dari trafo-trafo step down (penurun) dan menuju kepemakai-pemakai.

26
BAB III

BEBAN MOTOR-MOTOR LISTRIK DAN PERHITUNGAN PRAKTIS

3.1. Motor Listrik.


Hampir sebagian besar beban listrik di Kilang merupakan Motor arus bolak-balik.
Motor arus bolak balik terbagi menjadi motor serempak (synchronous motor) dan motor
tak serempak yang sering disebut motor induksi (A synchronous motor atau induction
motor)

3.1.1 Motor Serempak


Motor ini jarang sekali digunakan karena cara operasionalnya paling sulit
dibandingkan jenis-jenis motor listrik yang lain.
Misalnya digunakan sebagai pengatur factor kerja (cos φ ), yaitu yang disebut
kondensator sinkron.

3.1.2 Motor Tak Serempak (Motor induksi ).


Secara umum motor tak serempak atau motor induksi ini yang paling banyak digunakan
di Kilang UP-III karena cara operasinya paling mudah. Asal dihubungkan dengan
sumber arus bolak balik yang sesuai, artinya : tegangan, fasa dan frekwensi sesuai,
motor tersebut akan dapat berputar normal.

3.1.3 Motor Induksi 1 fasa


Motor ini biasanya mempunyai kapasitas kecil.
Misalnya digunakan pada :
- Pompa pompa kecil untuk dikilang sampai dengan kapasitas 750 watt.
- Kipas angin
- lemari es
- AC perumahan ,dll

27
3.1.4 Motor Induksi 3 Fasa
Untuk kapasitas besar, umumnya digunakan motor induksi 3 fasa.
Misalnya digunakan untuk :
- Pompa pompa transfer minyak dari tanki tanki ke Unit operasi
- Pompa pompa air di Rumah Pompa Air.
- Kompresor.
- Turbin.

Sesuai dengan konstruksi rotornya Motor Induksi dibagi menjadi :


- Motor induksi rotor sangkar, sering disingkat motor sangkar.
- Motor induksi rotor belitan, sering disingkat motor belitan.
Perbedaannya adalah, pada motor sangkar :
- konstruksi lebih kuat.
- daya start lebih besar (untuk kapasitas sama)
dan sebaliknya pada motor belitan.

Untuk penggunaan di daerah perminyakan/ kilang, biasanya digunakan motor sangkar,


kerana konstruksinya lebih kuat. Disamping itu kerangkanya harus explosion proof ---
totally enclosed fan cooled.

3.1.5 Motor Tegangan Tinggi


Motor induksi kapasitas sangat besar, misalnya memerlukan daya sampai 150 KW atau
lebih, memerlukan tegangan tinggi 6,6 KV hal ini sesuai dengan standar Pertamina.
Karena dengan cara ini, ukuran motor menjadi tidak terlalu besar. Tentu harus
diperhatikan segi safety’nya oleh karena itu untuk motor tegangan tinggi proteksi pada
motornya lebih banyak dibandingkan motor tegangan rendah. Contoh proteksi pada
motor tegangan tinggi misalnya Proteksi temperatur Bearing, Proteksi system lube oil
,dll.

28
3.2. Perhitungan Praktis untuk Beban

3.2.1. Beban Satu fasa


Karena disini arus bolak-balik, munculah yang disebut cos φ atau factor kerja.
Tentang cos φ
Cos φ = Watt
Volt x Ampere
- Datangnya dari beban.
- Nilai tergantung jenis beban.
Contoh, nilai cos φ :
- Lampu pijar = 1
- Lampu T.L. tanpa condensator = 0,5.
- Lampu T.L. dengan condensator = 0,8.
- Motor induksi = 0,8 mungkin 0,75 atau 0,85.
Misalkan beban mempunyai tegangan 110V dan arus 8 Ampere dengan nilai Faktor
daya atau cos φ= 0,8, maka :
Daya nyata = W = V x I x cos φ = 110 x 8 x 0,8 = 704 watt
Atau
Daya Semu = S = V x I = 110 x 8 = 880 Volt Ampere.

3.2.2. Beban Tiga Fasa


Sebagai contoh sebuah motor induksi 3 fasa tegangan 380V dengan arus nominal 10
ampere dengan cos φ 0,8 maka,

W = 3 x V x I x cos φ = 1,73 x 380 x 10 x 0,8 = 5259 watt

VA = 3x V x I = 1,73 x 380 x 10 = 6574 Volt Amp

29
3.2.3. Slip Motor Induksi
Pada motor induksi, perputaran rotor selalu lebih rendah dari perputaran sinkron.
ns - nr
S=
ns

S = Slip, tanpa satuan, atau x 100%


nr = RPM motor (rotornya)
ns = Perputaran sinkron

Dimana : ns = 120 f
2p
f = Frekwensi sumber listrik, Hs atau c.p.s.
2p = jumlah kutub motor.
RPM motor induksi selalu < ns.

3.2.4 Efisiensi.
Output
= Tanpa satuan, atau x 100%
Input

Misalnya : trafo, motor listrik tidak akan mempunyai = 100 %. Jadi dalam
penggunaannya, misalnya trafo : daya input > yang digunakan (beban).

3.2.5 Hubungan gulungan trafo dengan tegangan.


Antara sisi pertama dan kedua terdapat hubungan dalam rumus sebagai berikut :
Vout = n out
V in n in

Vout = tegangan yang keluar / untuk pemakaian, volt.


Vin = tegangan yang masuk/dari sumber listrik, volt.
n out = jumlah belitan pada sisi out (ke beban )
n in = jumlah belitan pada sisi in ( dari sumber

30
3.2.6. Frekwensi dan RPM Generator
120 f
n = n = RPM generator. F = frekwensi listrik, Hz
2p c.p.s

2p = jumlah kutub generator

atau : n = 60 f , p = jumlah pasang kutub generator.


P

31
BAB IV

KEAMANAN DAN SISTEM PROTEKSI

4.1. Keamanan.
Tenaga listrik memang sangat berguna dan sangat dibutuhkan. Namun demikian,
jangan lupa bahwa listrik juga dapat membahayakan atau berbahaya, baik terhadap
manusia maupun alat. Oleh karena itu alat untuk ke amanan atau keselamatan
mutlak diperlukan .

4.1.1. Pengaman Perorangan


Alat pengaman perorangan yang penting misalnya :
a. Sepatu khusus
b. Topi khusus
c. Sarung tangan
d. Tali ikat pinggang
e. Juga pelindung mata dan telinga.
Disamping itu misalnya tang dan obeng yang digunakan harus khusus (
berisolasi ).

4.2. Pengaman Peralatan/Proteksi Listrik.


Alat pengaman listrik yang penting antara lain :
a. Isolasi
Untuk mengisolir satu saluran dengan yang lain agar supaya tidak terjadi kontak
listrik.
b. Pentanahan.
Misalnya lemari es pada kerangkanya ada tegangan (istilah popular “ nyetrum “ ),
bila kerangka tersebut ditanahkan, maka kalau kerangka tersentuh, orang tidak ke
strom. Hal ini disebabkan karena listrik pada kerangka lemari es disalurkan ke
tanah melalui melalui sistem pentanahan. Tetapi bila tidak ada petanahan,
kerangka lemari es tersebut kalau tersentuh orang akan kesetrom.

32
c. Sikring/Fuse.
Sikring adalah alat pengaman arus lebih sekali pakai, yang sampai sekarang
dinilai paling baik ( safe ).
Perhatian : - Ukurannya sesuai
- Kalau sudah putus diganti baru.
Jangan diganti kawatnya saja, apa lagi di hubungkan di luar, lebih-lebih didaerah
kilang sangat berbahaya.

d. Circuit Breaker (C.B).


Alat ini juga untuk pengaman arus lebih.
Bedanya dengan sikring/Fuse :
- Membuka otomatis bila ada arus lebih.
- Bisa dipakai berkali-kali.

f. Relay – relay
Pada sistem distribusi tenaga listrik fungsi dari relay relay proteksi sangat penting
karena apabila terjadi gangguan alat yang berfungsi untuk mengisolir gangguan
secara otomatis adalah relay. Pada system distribusi banyak sekali jenis relay yang
terpasang namun relay yang paling umum dipakai adalah relay proteksi gangguan
hubung singkat dan arus gangguan tanah. Untuk motor motor relay yang
dipergunakan adalah relay arus lebih atau Overload Relay.

33
BAB V
METERING DAN PEMELIHARAAN

5.1. METERING.
Metering pada system distribusi sangat diperlukan hal ini berguna untuk monitoring
kondisi yang ada. Untuk system metering yang dipergunakan di kilang Plaju dan S.
Gerong adalah :
- Amperemeter
- Volmeter
- Frekwensi meter
- KWH meter
Untuk penunjang metering yang ada maka pada peralatan perlu di pasang Potential
Transformer (PT) dan Current Transformer (CT) sebagai alat yang deteksi dari
system yang ada.

5.2. Pemeliharaan.
a. Tujuan pemeliharaan antara lain :
- Untuk kelancaran operasionil.
- Memperkecil kemungkinan terjadinya gangguan.
- Untuk lebih menjamin keselamatan.
- Supaya umur ( life time ) alat bisa panjang.
- Efisiensi alat / perusahaan bisa lebih tinggi

b. Pengaturan waktu
Waktu pemeliharaan harus dipersiapkan, masing-masing alat tidak sama,
misalnya waktu-waktu untuk :
- Membersihkan
- Test.
- Service
- Overhaul.

34
BAB VI
KESIMPULAN dan SARAN
5.1. Kesimpulan
Pada saat pemeriksaan dan pengecekan trafo yang sedang beroperasi, baik sedang
trouble atau tidak maka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan haruslah
dilakukan dengan prosedur pekerjaan yang benar dan mematuhi aturan yang berlaku
dalam melakukan pemeriksaan dan pengecekan.

5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas penulis mencoba memberikan saran – saran yang
mungkin berguna, diantaranya :
1. Penggunaan APD yang sudah baik agar tetap dipertahankan selama beraktifitas.
2. Mohon diperhatikan kelengkapan peralatan terutama pemeriksaan trafo.
3. Lakukan Pekerjaan Sesuai Standar Operation Prosedure (SOP)

35
DAFTAR PUSTAKA
Indriyanto, Wisnu, Agusta Ali Akbar. 2011. laporan kerja praktek PT.PERTAMINA
(Persero) refinery unit III Plaju – Sungai Gerong. Palembang
Ria, dan Thika Herlani. 2012 laporan kerja praktek PT.PERTAMINA (Persero) refinery unit
III Plaju – Sungai Gerong. Palembang
Prasad, Ram. 2000. Petroleum Refining Technology. Khanna Publishers : Delhi.
PT.PERTAMINA (Persero) Refinery Unit III. 2010. Deskripsi kilang Plaju – Sungai
Gerong. Palembang.
PT.PERTAMINA (Persero) Refinery Unit III. 2010. Deskripsi Proses Unit Utilitas Plaju –
Sungai Gerong. Palembang.

36
LAMPIRAN

Lampiran 1. Single line diagram perkampungan Plaju (3.1)

37
Lampira 2. Load dispatcher refinery unit III. (3.2)

38
Lampiran 3. Sistem kelistrikan Pertamina RU-III (3.3)

39
Lampiran 4. Data beban trafo perkampungan plaju – sungai gerong (1.2)

40
Lampiran 5. Data Load Shedding Plaju-Sungai Gerong (1.3)
41
Lampiran 6. Kilang Plaju Pertamina RU-III

42
Lampiran 7. Kilang Sungai Gerong Pertamina RU-III

43
Lampiran 8. Data pemakaian listrik perkampungan plaju (1.4)

44
Lampiran 9. Data pemakaian listrik perkampungan Sungai Gerong (1.5)

45