Anda di halaman 1dari 7

Percobaan IV

Rangkaian AC
Agadi Samridho (13115004)
Asisten : Bernardus Galih Dwi W (13112005)
Tanggal Percobaan : 29/10/2016
EL2101R Rangkaian Elektrik
Laboratorium Teknik Elektro
Institut Teknologi Sumatera

Abstrak— Rangkaian AC adalah rangkaian dengan arus Dalam arus bolak-balik berbentuk gelombang sinus,
bolak-balik. Arus bolak-balik atau AC memiliki keunggulan impedansi adalah perbandingan antara fasor tegangan dan
pada sumber daya listrik yang dapat disalurkan pada fasor arus.
tegangan yang tinggi di tempat yang jauh. Pada praktikum
kali ini akan dilakukan beberapa percobaan pada rangkaian Dari hubungan tegangan dan arus seperti V = Ri;
dasar AC seperti rangkaian RC, diferensiator, integrator, low-
𝑑𝑖 𝑑𝑣
pass filter, dan rangkaian RL guna memahami sifat-sifat V= L ; V = C t.
rangkaian seri RC dan RL. 𝑑𝑡 𝑑𝑡

Kata Kunci— rangkaian, AC, RC, RL Maka akan terlihat bahwa untuk sinyal tegangan sinusoidal
(sinus atau kosinus) :
I. PENDAHULUAN Pada R : tegangan sefasa dengan arusnya
Pada L : tegangan mendahului 90° terhadap arusnya
Rangkaian AC atau biasa disebut rangkaian arus bolak-balik Pada C : tegangan ketinggalan 90° terhadap arusnya
memiliki perbedaan-perbedaan jika dibandingkan dengan
rangkaian arus searah. Perbedaan tersebut bukan hanya pada Bila perbandingan tegangan dan arus pada R disebut
komponen besaran-besarannya yang ditinjau secara vektor, resistansi, dan perbandingan tegangan dan arus pada L dan
tetapi juga pada adanya perbedaan fase antara arus dan C disebut reaktansi, maka akan terlihat bahwa resistansi
tegangannya. Pada praktikum kali ini praktikan diminta tidak
untuk menganalisis rangkaian-rangkaian dasar dari
rangkaian AC seperti rangkaian RC, rangkaian RL,  Rangkaian RC
rangkaian diferensiator, rangkaian diferensiator, dan
rangkaian integrator sehingga praktikan dapat memahami
tujuan yang ingin dicapai, antara lain :
1. Memahami konsep impedansi dalam arti fisik
2. Memahami hubungan antara impedansi resistansi dan
reaktansi pada rangkaian seri RC dan RL
3. Memahami hubungan tegangan dan arus pada
rangkaian seri RC dan RL Gambar 1. Rangkaian RC sederhana
4. Mengukur pada fasa tegangan dan arus pada rangkaian
seri RC dan RL Menurut hukum tegangan kirchoff (KVL), dapat ditulis :
5. Memahami response terhadap frekuensi pada rangkaian
seri RC dan RL

II. LANDASAN TEORITIS

Arus bolak-balik (AC) merupakan arus dengan gelombang Tegangan resistor 𝑉𝑅 sefasa dengan arus I sedangkan
berbentuk fungsi sinusoidal. Pada rangkaian AC akan tegangan kapasitor 𝑉𝐶 tertinggal 90° dari arus.
timbul response yang bergantung dari besarnya kapasitansi
dan/atau induktansi dalam rangkaian tersebut.
 Diferensiator
 Rangkaian RL
Masih dari persamaan diatas, bila output diambil pada
resistor 𝑉𝑂 = 𝑉𝑅 , untuk 𝑉𝐶 >>𝑉𝑅 akan diperoleh 𝑉𝐼 VC,
sehingga :

Dengan demikian diperoleh hubungan output (𝑉𝑂 = 𝑉𝑅 )


Gambar 2. Rangkaian RL sederhana
dengan input (𝑉𝑖 ) sebagai berikut :
Menurut hukum Kirchoff II (KVL) 𝑉𝑖 = 𝑉𝑅 + 𝑉𝐿 sehingga :

Rangkaian dengan persyaratan ini dikenal sebagai


rangkaian differensiator.

III. HASIL DAN ANALISIS


 High-Pass Filter
 Rangkaian RC
High pass filter adalah jenis filter yang melewatkan
frekuensi tinggi, tetapi mengurangi amplitudo frekuensi
yang lebih rendah daripada frekuensi cutoff. Nilai-nilai
pengurangan untuk frekuensi berbeda-beda untuk tiap-tiap
filter ini. Filter ini sangat berguna sebagai filter yang dapat
memblokir component frekuensi rendah yang tidak
diinginkan dari sebuah sinyal komplek saat melewati
frekuensi tertinggi.
Dari persamaan 𝑉𝑖 = 𝑉𝑅 + 𝑉𝐶 , bila diambil 𝑉𝑂 = 𝑉𝑅 maka
dapat dituliskan :
Gambar 3. Rangkaian RC untuk Pengukuran Fasor

Tabel 1. Data Nilai Tegangan dan Grafik


Pengukuran Menggunakan
Multime Multisim Grafik
 Integrator
ter
1
Dari persamaan 𝑉𝑖 = 𝑉𝑅 + 𝑉𝐶 atau 𝑉𝑖 = i R +
𝐶
ʃ i dt bila
tegangan output diambil pada kapasitor (𝑉0 = 𝑉𝐶 ) dan 𝑉𝑅
𝑉𝑖 𝑉𝑖 2 𝑉𝑟𝑚𝑠 2 𝑉𝑟𝑚𝑠
>> 𝑉𝐶 , maka 𝑉𝑖 ≈ 𝑉𝑅 sehingga 𝑉𝑖 ≈ i R atau I ≈ . Pada
𝑅
1 𝑉𝑖 1
output diperoleh 𝑉𝑜 = 𝑉𝑐 = ʃ i dt = ʃ i dt = ʃ 𝑉𝑖 dt.
𝐶 𝑅 𝑅𝐶
Fungsi rangkaian ini dikenal sebagai rangkaian integrator.

 Low-Pass Filter
𝑉𝑅 1,758 𝑉𝑚 1,498 𝑉𝑚
Low Pass Filter adalah jenis filter yang melewatkan
frekuensi rendah serta meredam frekuensi tinggi.
Dari persamaan 𝑉𝑖 = 𝑉𝑅 + 𝑉𝐶 , bila diambil 𝑉𝑂 = 𝑉𝐶 maka
dapat dituliskan :

𝑉𝐶 0,9 𝑉𝑚 1,325 𝑉𝑚
𝑉𝑖 - 𝑉𝐶 60°

𝑉𝑚
𝑉𝑟𝑚𝑠 =
√2
maka, 4 6
𝑉𝑖 - 𝑉𝑅 = (2Π) 𝑉𝑖 - 𝑉𝐶 = (2Π)
36 36
 Perhitungan dengan data Multimeter = 40° = 60°
1,758
𝑉𝑟(𝑟𝑚𝑠) = Pada percobaan dengan menggunakan multimeter didapat
√2
= 1,243 𝑉𝑟𝑚𝑠 beda fasa antar tegangan 𝑉𝑖 - 𝑉𝑅 sebesar 40° dan beda fasa
antar tegangan 𝑉𝑖 - 𝑉𝐶 sebesar 60°. Perhitungan beda fasa
0,9 ini menggunakan selisih ketinggian kedua grafik dengan
𝑉𝐶(𝑟𝑚𝑠) =
√2 menghitung selisih kotak-kotak yang dilalui oleh masing-
= 0,64 𝑉𝑟𝑚𝑠 masing grafik serta dibandingkan oleh banyaknya kotak
yang dilalui oleh grafik referensi (𝑉𝑖 )
𝑉𝑖 = 𝑉𝑅 + 𝑉𝐶
= 1,243 + 0,64
= 1,883 𝑉𝑟𝑚𝑠  Rangkaian RL

 Perhitungan dengan data Multisim


1,498 1,325
𝑉𝑟(𝑟𝑚𝑠) = 𝑉𝐶(𝑟𝑚𝑠) =
√2 √2
= 1,06 𝑉𝑟𝑚𝑠 = 0,94 𝑉𝑟𝑚𝑠

𝑉𝑖 = 𝑉𝑅 + 𝑉𝐶
= 1,06 + 0,94
= 2 𝑉𝑟𝑚𝑠

Terbukti bahwa 𝑉𝑖 = 𝑉𝑅 + 𝑉𝐶 melalui perhitungan dengan Gambar 4. Rangkaian RL untuk Pengukuran Fasor
data yang diambil dengan menggunakan data tegangan pada
multisim. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan ini sesuai Tabel 3. Data Nilai Tegangan pada Rangkaian RL
dengan hukum tegangan kirchoff, dimana tegangan pada Tegangan Grafik
loop tertutup = 0. Namun hal ini berbeda saat melakukan (𝑉𝑚 )
perhitungan dengan menggunakan data pada saat praktikum
(multimeter), 𝑉𝑖 ≠ 𝑉𝑅 + 𝑉𝐶 . Hal ini diduga oleh beberapa
faktor seperti ketidaktelitian praktikan dalam merangkai,
tidak tersambungnya kabel terhadap komponen ataupun 𝑉𝑖 2
turunnya kualitas komponen dikarenakan sering dipakai.

Tabel 2. Data Beda Fasa antar Tegangan


Beda
V Grafik Fasa
(°) 𝑉𝐿 1,381

𝑉𝑖 - 𝑉𝑅 40°

𝑉𝑅 1,447
Tabel 4. Data Beda Fasa antar Tegangan 0,1 10 1
Beda
V Grafik Fasa
(°)

𝑉𝑖 - 𝑉𝑅 0°

0,1 100 10

𝑉𝑖 - 𝑉𝐿 90°

Terlihat jelas pada data bahwa beda fase pada rangkaian


RL antar 𝑉𝑖 - 𝑉𝑅 sebesar 0° (sefase) dan beda fase antar 0,008
𝑉𝑖 - 𝑉𝐿 sebesar 90°. Dikarenakan beda fase antar dua 0,008 1 2
tegangan sudah terlihat jelas, oleh karena itu tidak perlu 2
dilakukan perhitungan lagi.

 Rangkaian Diferensiator

0,008 10 0,082
2

Gambar 5. Rangkaian Percobaan Fungsi Diferensial


dengan RC

Besaran tiap komponen : 0,82


V = 4 Vpp 0,008 100
R = (1, 10, 100) kΩ; 2
C = 8.2 nF, 0,1 uF
f = 500 Hz

Tabel 5. Data Grafik pada Rangkaian Diferensiator


Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa keefektivan
C R τ Grafik
rangkaian diferensiator dipengaruhi oleh nilai kapasitansi
(μF) (kΩ) (ms) dan resistansi pada rangkaian. Dari 6 percobaan pada
rangkaian diferensial kali ini, rangkaian diferensial bekerja
lebih efisien jika pada rangkaian diberikan nilai C = 0,0082
μF dan R = 100 kΩ.

0,1 1 0,1
 Rangkaian Integrator

Tabel 6. Data Grafik Percobaan Rangkaian


Diferensiator pada Osiloskop
C (μF) R τ (ms) Grafik
(kΩ) 2 2

0,0082
0,0082 1

0,008 10 0,082
2
0,0082 10 0,082

0,008 100 0,82


2

0,0082 100 0,82

0,1 1 0,1

0,1 1 0,1

0,1 10 1

0,1 10 1

0,1 100 10

0,1 100 10
Terdapat perbedaan grafik antara grafik yang diperoleh
pada saat percobaan menggunkan osiloskop dengan grafik
yang diperoleh dengan multisim. Grafik yang didapat pada
percobaan dengan menggunakan osiloskop mempunyai
gambar yang sama walaupun setiap percobaan dilakukan
perubahan beberapa komponen pada rangkaian. Kesalahan
Tabel 7. Data Grafik Percobaan Rangkaian ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor sseperti
Diferensiator pada Multisim kesalahan rangkaian pada bread board, tidak menggunakan
C (μF) R τ (ms) Grafik fungsi sinyal kotak dari generator sinyal ataupun kurang
(kΩ tercoloknya kabel penghubung antara rangkaian pada
) bread board dengan osiloskop.
Sedangkan data grafikk yang dihasilkan dari multisim
terdapat perbedaan di setiap percobaannya. Dari data
tersebut dapat disimpulkan bahwa keefektivan rangkaian
0,008 1 0,008 integrator dipengaruhi oleh nilai kapasitansi dan resistansi
pada rangkaian. Dari 6 percobaan pada rangkaian
integrator kali ini, rangkaian integrator bekerja lebih 0,5 0,08 1,942
efisien jika pada rangkaian diberikan nilai C = 0,0082 μF 2
dan R = 100 kΩ dan C = 0,1 μF dan R = 10 kΩ

 Pengaruh Frekuensi Diamati pada Domain


Frekuensi
5 0,08 1,942
Harga R = 10 kΩ dan C = 8,2 nF 2

Tabel 8. Data Pengaruh Frekuensi pada Rangkaian


Diferensiator dengan Sinyal Kotak
f Ʈ 𝒇𝒐 Grafik
(kHz) (ms) (kH
z) 50 0,08 1,942
0,05 0,082 1,94 2
2

0,5 0,082 1,94 Dari data tersebut terlihat bahwa semakin besar nilai
2 frekuensinya maka gelombang sinyal yang dihasilkan
semakin rapat. Karena definisi dari frekuensi adalah
banyaknya gelombang yang terjadi tiap satuan waktu. Oleh
karena itu jelas bahwa apabila nilai frekuensinya besar,
maka gelombang yang terjadi tiap satuan waktu akan
semakin banyak, sehingga gelombang akan terlihat lebih
5 0,082 1,94 rapat.
2

IV. KESIMPULAN
50 0,082 1,94
2 Dari praktikum Rangkaian AC, Praktikan dapat menarik
beberapa kesimpulan,antara lain
1. Impedansi dalam arti fisik berarti ukuran sejauh mana
rangkaian menghambat aliran listrik yang
dipengaruhi oleh faktor kapasitansi dan induksi.
2. Hubungan antara reaktansi dan resistansi
mengakibatkan terjadi beda fasa antar tegangan.
3. Tegangan dan arus pada komponen RLC
Tabel 8. Data Pengaruh Frekuensi pada mempunyai beda fasa yang berbeda-beda, biasanya
Rangkaian Integrator dengan Sinyal Kotak beda fasa tersebut sebesar 90°.
f Ʈ 𝒇𝒐 Grafik 4. 𝑉𝑅 − 𝐼𝑅 sefasa, 𝑉𝐶 − 𝐼𝐶 mempunyai beda fasa
(kHz (ms) (kHz sebesar 90° dimana 𝑉𝐶 tertinggal 90° oleh arus,
) ) 𝑉𝐿 − 𝐼𝐿 mempunyai beda fasa sebesar 90° dimana
0,05 0,08 1,942 𝑉𝐿 mendahului 90° terhadap arus.
2 5. Konstanta waktu sangat mempengaruhi nilai ω
dimana, nilai ω sangat mempengaruhi sifat dari
rangkaian tersebut (bersifat Integrator,
Diferensiator, High Pass Filter, dan Low Pass
Filter).
REFERENSI
Sudirham, Sudaryatno. 2002. Analisis Rangkaian
Listrik. Penerbit ITB. Bandung.
Alexander, K. Charles and Sadiku, N.O. Matthew.
2009. Fundamental of Electric Circuit. Mc-Graw Hill.
New York.
Hutabarat, Mervin T. 2016. Praktikum Rangkaian
Elektrik. Penerbit ITB. Bandung.