Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN

PEMANTAUAN TERAPI OBAT

(PENYAKIT …………………………………..)
DI

(……………………………………………………………)

LOGO LOGO
UNG RS

Disusun oleh :

(…………………………………..)
NIM :

PEMBIMBING

(………………………………………………)

JURUSAN ………………..
FAKULTAS ………………………………………
UNIVERSITAS ……………………………..
………………………….
………
BAB I
PEMANTAUAN TERAPI OBAT
METODE SUBJEKTIF, OBJEKTIF, ASSESSMENT, PLAN (SOAP)

A. Identitas Pasien
Nama pasien : Tn. A.S
Tanggal lahir : 04 Juni 1972
Usia : 44 Tahun
TB : 153 cm
BB : 54 kg
Pekerjaan : Petani
No. Rekam Medis : 06.65.41
Tanggal Masuk RS : 28 April 2017
Tanggal keluar RS : 13 Mei 2017
Status Pasien : Pulang dengan perbaikan

B. Diagnosa
Ables Peritonsiler susp. Tetanus

C. Riwayat Penyakit Terdahulu


Pasien pernah dirawat di rumah sakit pada tahun 2015 dengan diagnosa hipertensi

D. Riwayat penyakit sekarang :


Ables Peritonsiler susp. Tetanus
Catatan : ± 7 hari sebelum masuk RS, pasien mengeluh nyeri menelan dan ketika di tekan
bagian leher terasa nyeri, dan susah makan

E. Riwayat Penggunaan Obat / Riwayat Alergi Obat


Sejak setelah dirawat di rumah sakit Tn. S rutin mengkonsumsi captopril 2 x25 mg,
ranitidine 3 x 30 mg. Pasien alergi terhadap parasetamol.
F. Keluhan
Tanggal
Keluhan (April – Mei 2017)
28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Sakit tenggorokan (Sulit menelan)                
Kaku kuduk (leher kaku)                
Trismus (Sulit membuka mulut)                
Sakit pada kaki bagian kiri                -
Mual dan muntah - - - -            
Lemas - - - - - - -         

1. OBJEKTIF
a. Pengukuran Tanda Vital

No Objektif Nilai 28/4/2017 29/4/2017 30/4/2017 01/5/2017


Normal
TD 120/70 140/90 120/90 110/70
HR 84 87 84 72
RR 20 24 22 26
Suhu 36 37 37 36,5
Nyeri - - - -
b. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 28 April 2017

Pemeriksaan Normal Hasil

Hematologi
Hemoglobin 15.3
Lekosit 14.500
Hematokrit 45
Trombosit 308.000
Masa 2’
pendarahan/BT

Masa 4’
Pembekuan/CT
Kimia Klinik
Glukosa darah 93
sewaktu
Ureum 44

Kreatinin 1,1
2. ASSESSMENT
a. Terapi Obat

Tanggal
Nama Obat Rute Aturan (April – Mei 2017)
Pakai 28 29 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Diazepam iv 1x1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - - - - -
3 x 1 mg
Erytromicin 500 mg p.o √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - - - -

b. Kesesuai Indikasi dan Dosis

Indikasi dan Dosis Keterangan


Obat
Literatur Pada Pasien
 Kejang otot berhubungan dengan Sebagai penenang dan  Indikasi : Sesuai
tetanus, Mengelola gangguan mencegah terjadinya kejang  Dosis :
kecemasan, Penenang, Relaksan otot yang berhubungan dengan Kesesuaian dosis tidak
otot tetanus dapat dikaji karena
Diazepam  Dosis : Kejang otot : iv, im : awal  Dosis : Tidak ditulisakan dosis yang diberikan
5-10 mg kemudian 5-10 mg dalam dalam rekam medik berapa kepada pasien tidak
3-4 jam. Jika perlu, dosis yang dosis yang diberikan pada dicantumkan
lebih besar mungkin dibutuhkan pasien
jika dikaitkan dengan tetanus
Antibiotik alternative dalam Penanganan infeksi yang  Indikasi : Sesuai
penanganan tetanus efektif terhadap disebabkan oleh tetanus Catatan : meskipun
bakteri S. aureus, S. pneumonia  Dosis : 3 x 500 mg (p.o) indikasi sesuai namun
 Dosis : Dosis awal yang disarankan : penggunaan awal untuk
Erytromicin 250-500 mg tiap 6-12 jam terapi tetanus sudah
diberikan terapi
metronidazole dan
golongan sefalosporin,
sehingga pemberian
gol. Makrolida kurang
tepat (penggunaan
makrolida disarankan
apabila telah diketahui
jenis bakteri
berdasarkan hasil
kultur)
 Dosis : Sesuai

c. Efek Samping

Obat Efek samping yang sering terjadi Efek amping yang Monitoring pada
(Literatur) muncul pada pasien
pasien
Depresi pernafasan Hipotensi, vertigo, ruam, Depresi pernafasan  Kontrol fungsi
konstipasi, diare, mual, mulut kering, hipersalivasi dan pernafasan karena
Mual dan muntah penggunaan obat ini
Diazepam akan menyebabkan
perburukan keadaan
pasien.
 Frekuensi muntah
Kejang, nyeri perut, mual, muntah, reaksi alergi Nyeri perut, mual Skala nyeri dan
Erytromicin
dan muntah frekuensi muntah
d. Interaksi Obat

Obat A Obat B Signifikansi Jenis interaksi Interaksi

Erytromicin Diazepam Serius Farmakodinamik Erytromicin akan meningkatkan efek


diazepam dengan cara mempengaruhi
enzim hati CYP3A4 dan enzim
pencernaan. Gunakan alternative obat lain
3. PLAN

Rekomendasi yang diberikan kepada pasien :


1. Erytromicin bukan merupakan pilihan yang direkomendasikan untuk pasien dengan indikasi
tetanus ataupun ables peritonsiler. meskipun indikasi sesuai namun penggunaan awal untuk
terapi tetanus sudah diberikan terapi metronidazole dan golongan sefalosporin, sehingga
pemberian golongan Makrolida kurang tepat (penggunaan makrolida disarankan apabila
telah diketahui jenis bakteri berdasarkan hasil kultur).
2. Lansoprazole pada pasien ini sebaiknya tidak diberikan lagi karena sebelumnya pasien telah
mendapatkan injeksi PPI (Pantoprazole) sehingga penggunaan lansoprazole hanya akan
menyebabkan duplikasi terapi. (3) penggunaan ciprofloxacin, pasien memang mengalami
infeksi yang disebabkan oleh luka tetanus sehingga menyebabkan Ables Peritonsiler namun,
sesuai literature antibiotik yang disarankan yaitu metronidazol, golongan penisilin ataupun
golongan sefalosporin
BAB II

PEMBAHASAN
BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

World Health Organization. 2010. Current recommendations for Treatment of Tetanus During
Humanitarian Emergencies. Switzeland; 1-6