0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
471 tayangan16 halaman

Kebudayaan Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah terletak di bagian tengah Pulau Jawa dan dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Rumah adat utamanya adalah rumah joglo yang memiliki atap berbentuk dua gunung. Tarian tradisionalnya meliputi Bedhaya Ketawang yang ditarikan untuk dewa-dewa dan raja-raja.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Lagu Daerah,
  • Bahasa Daerah,
  • Tari Klasik,
  • Kesenian Barongan,
  • Suku,
  • Kesenian Sintren,
  • Agama,
  • Kesenian Patolan,
  • Tari Garapan Baru,
  • Kesenian Tradisional
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
471 tayangan16 halaman

Kebudayaan Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah terletak di bagian tengah Pulau Jawa dan dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Rumah adat utamanya adalah rumah joglo yang memiliki atap berbentuk dua gunung. Tarian tradisionalnya meliputi Bedhaya Ketawang yang ditarikan untuk dewa-dewa dan raja-raja.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Lagu Daerah,
  • Bahasa Daerah,
  • Tari Klasik,
  • Kesenian Barongan,
  • Suku,
  • Kesenian Sintren,
  • Agama,
  • Kesenian Patolan,
  • Tari Garapan Baru,
  • Kesenian Tradisional

Kebudayaan Jawa Tengah

Jawa Tengah adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa.
Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan
Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa
di sebelah utara. Luas wilayah nya 32.548 km², atau sekitar 25,04% dari luas pulau Jawa.
Provinsi Jawa Tengah juga meliputi Pulau Nusakambangan di sebelah selatan (dekat dengan
perbatasan Jawa Barat), serta Kepulauan Karimun Jawa di Laut Jawa.

Jawa Tengah secara geografis dan budaya kadang juga mencakup wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta. Jawa Tengah dikenal sebagai "jantung" budaya Jawa. Meskipun demikian di
provinsi ini ada pula suku bangsa lain yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku Jawa
seperti suku Sunda di daerah perbatasan dengan Jawa Barat. Selain ada pula warga Tionghoa-
Indonesia, Arab-Indonesia dan India-Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi ini.

1. Rumah Adat

Rumah joglo merupakan rumah adat Jawa Tengah yang dibangun berlandaskan keyakinan atau
filosofi jawa. Penyebutan rumah joglo terjadi akibat bentuk atap rumah joglo yang menyerupai
dua gunung atau taJUG LOro (JUGLO) dan berkembang penyebutannya menjadi Joglo.
Penggunaan gunung diyakini oleh masyarakat Jawa saat itu sebagai tempat suci atau rumah
para dewa.

Tidak hanya di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta pun memiliki rumah joglo dengan
cirri khas daerahnya masing-masing. Ciri khas rumah joglo secara umum yaitu memiliki
pekarangan yang luas dan lapang tanpa dibatasi oleh sekat, bangunannya berbentuk persegi
panjang, memiliki tiga pintu depan dan terdapat tiang yang disebut Soko Guru atau Saka Guru.
Denah utama rumah Joglo terdiri dari tiga bagian utama yaitu, Pendhapa atau Pendopo,
Pringgitan dan Omah Dalem atau Omah Njero dan bagian tambahan lainnya. Berikut ini skema
sederhana rumah Joglo.

Selain rumah Joglo terdapat pula rumah adat lainnya yang terdapat di Jawa Tengah yang
bentuknya tidak kalah menarik dan bersejarah. Sejarah jawa menyatakan bahwa rumah adat
dari Jawa Tengah diklasifikan menjadi lima kategori, yaitu Joglo (Tikelan), Tajug (Tarub),
Limasan, Kampung dan Panggang Pe. Perbedaan dari kelima rumah adat ini dapat dilihat pada
tabel berikut.
2. Pakaian Adat

Ada banyak ragam jenis busana adat Jawa Tengah, Pakaian resmi adat Jawa Tengah bernama
Jawi Jangkep dan Kebaya. Jawi jangkep adalah pakaian pria yang terdiri atas beberapa
kelengkapan dan umumnya digunakan untuk keperluan adat. Jawi jangkep terdiri dari atasan
berupa baju beskap dengan motif bunga, bawahan berupa kain jarik yang dililitkan di pinggang,
destar berupa blangkon, serta aksesoris lainnya berupa keris dan cemila (alas kaki). Berikut ini
adalah gambar seorang pria yang mengenakan pakaian Jawi Jangkep tersebut. Sementara
kebaya adalah pakaian adat wanita Jawa yang terdiri dari atasan berupa kebaya, kemben,
stagen, kain tapih pinjung, konde, serta beragam aksesoris seperti cincin, subang, kalung,
gelang, serta kipas. Dalam praktiknya, penggunaan pakaian ini diatur sedemikian rupa sesuai
dengan strata sosial si pemakainya.

Kebaya
Kebaya umumnya dibuat dari bahan kain katun, beludru, sutera brokat,dan nilon yang berwarna
cerah seperti putih, merah, kuning, hijau, biru, dan sebagainya. Untuk modelnya sendiri ada
kebaya panjang dan kebaya pendek. Kebaya panjang bagian bawahnya mencapai lutut,
sementara kebaya pendek bagian bawahnya hanya mencapai pinggang. Di bagian depan sekitar
dada, terdapat kain persegi panjang yang berfungsi sebagai penyambung kedua sisinya.

Kain Tapih Pinjung


Sebagai bawahan kebaya, kain tapih pinjung atau kain sinjang jarik bermotif batik digunakan
dengan cara melilitkannya di pinggang dari kiri ke kanan. Untuk menguatkan lilitan, digunakan
stagen yang dililitkan di perut sampai beberapa kali sesuai panjang stagennya. Agar tidak
terlihat dari luar, stagen kemudian ditutupi dengan selendang pelangi berwarna cerah.

3. Tari-tarian Tradisional
Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut
mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar
menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.
Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh
yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya.
Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif,
Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat
dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tari mengalami
kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada
pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di
Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta
seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh
di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya
Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh-
tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang
berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari
Gaya Surakarta.

Berikut ini beberapa tarian tradisional dari provinsi Jawa Tengah

1. Bedhaya Ketawang

Bedhaya Ketawang adalah tarian sakral yang rutin


dibawakan dalam istana sultan Jawa (Keraton
Yogyakarta dan Keraton Solo). Disebut juga tarian
langit, bedhaya ketawang merupakan suatu upacara
yang berupa tarian dengan tujuan pemujaan dan
persembahan kepada Sang Pencipta.

Pada awal mulanya di Keraton Surakarta tarian ini


hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Namun
karena tarian ini dianggap tarian khusus yang amat
sacral, jumlah penarik kemudian ditambah menjadi
sembilan orang. Sembilan penari terdiri dari
delapan putra-putri yang masih ada hubungan
darah dan kekerabatan dari keraton serta seorang penari gaib yag dipercaya sebagai sosok Nyai
Roro Kidul.

Tarian ini diciptakan oleh Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan latar
belakang mitos percintaan raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kanjeng
Ratu Kidul (penguasa laut selatan). Sebagai tarian sakral, terdapat beberapa aturan dan upacara
ritus yang harus dijalankan oleh keraton juga para penari.

Bedhaya ketawang bisa dimainkan sekitar 5,5 jam dan berlangsung hingga pukul 01.00 pagi.
Hadirin yang terpilih untuk melihat atau menyaksikan tarian ini pun harus dalam keadaan
khusuk, semedi dan hening. Artinya hadirin tidak boleh berbicara atau makan, dan hanya boleh
diam dan menyaksikan gerakan demi gerakan sang penari. Tarian Bedhaya Ketawang besar
hanya di lakukan setiap 8 tahun sekali atau sewindu sekali. Sementara, Tarian Bedhaya
Ketawang kecil dilakukan pada saat penobatan raja atau sultan, pernikahan salah satu anggota
keraton yang ditambah simbol-simbol.

Dalam perkembangannya timbulah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari
gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans), yang termasuk seni tari bermutu
tinggi, di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacam-macam tari daerah setempat. Tari
semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional, seperti: Dadung Ngawuk, Kuda Kepang,
Incling, Dolalak, Tayuban, Jelantur, Ebeg, Ketek Ogleng, Barongan, Sintren, Lengger, dll.

Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang
tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Jadi lebih
bebas, lebih perseorangan. Dalam seni tari dapat dibedakan menjadi klasik, tradisional dan
garapan baru.
Beberapa jenis tari yang ada antara lain:

1. Tari Klasik

-Tari Bedhaya:
Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit.
Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga.
Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam,
tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-
alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. Hal ini
kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan
Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral, dengan nama peranan sebagai
berikut:

1. Endhel Pojok
2. Batak
3. Gulu
4. Dhada
5. Buncit
6. Endhel Apit Ngajeng
7. Endhel Apit Wuri
8. Endhel Weton Ngajeng
9. Endhel Weton Wuri

Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan:

 Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit


 Bedhaya Pangkur lama tarian 60 menit
 Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit
 Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit
 Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit
 Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit
 Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit
 Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit
 Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit

Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan
menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul, khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang
disajikan di luar Kraton, juga sering disajikan pada upacara keperluan jahat di lingkungan
Istana. Di samping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang mempunyai tema kepahlawanan dan
bersifat monumental.

Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu
adanya inovasi secara matang, dengan tidak mengurangi ciri dan bobotnya.
Contoh Bedhaya garapan baru:

 Bedhaya La la lama tarian 15 menit


 Bedhaya To lu lama tarian 12 menit
 Bedhaya Alok lama tarian 15 menit

- Tari Srimpi:

Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur


ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula.
Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing
mendapat sebutan : air, api, angin dan
bumi/tanah, yang selain melambangkan
terjadinya manusia juga melambangkan empat
penjuru mata angin. Sedang nama peranannya
Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya
segi empat yang melambangkan tiang Pendopo.
Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci
atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka
untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi.
Contoh Srimpi hasil garapan baru:

 Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit


 Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit

Beberapa contoh tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi:

a. Beksan Gambyong:

Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh


Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat
indah ditambah kecantikan dan modal suaranya
yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh
Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di
Istana sambil memberi pelajaran kepada para
putra/I Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi
tari Gambyong.

Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga


ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara
peringatan hari besar dan perkawinan. Adapun
ciri-ciri Tari ini:

 Jumlah penari seorang putri atau lebih


 Memakai jarit wiron
 Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
 Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
 Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.
b. Beksan Wireng:

Berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu


prajurit yang unggul, yang 'aeng', yang 'linuwih'.
Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan
Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra
beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan
menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari
ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan
perang dengan menggunakan alat perang. Ciri-
ciri tarian ini:

 Ditarikan oleh dua orang putra/i


 Bentuk tariannya sama
 Tidak mengambil suatu cerita
 Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
 Bentuk pakaiannya sama
 Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg, hanya
iramanya/temponya kendho/kenceng
 Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing
ketawang
 Tidak ada yang kalah/menang atau mati.

c. Tari Pethilan
Hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan/ bagian dari
ceritera pewayangan.

Ciri-cirinya:

 Tari boleh sama, boleh tidak


 Menggunakan ontowacono (dialog)
 Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
 Ada yang kalah/menang atau mati
 Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
 Memetik dari suatu cerita lakon.
 Bambangan Cakil
 Hanila
 Prahasta, dll.

d. Tari Golek

Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama


dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan
KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger
tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian
dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan
cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru
menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan
menarik. Macam-macamnya:
1. Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
2. Golek Montro iringan Gendhing Montro
3. Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.

e. Tari Bondan : Tari ini dibagi menjadi:

1. Bondan Cindogo
2. Bondan Mardisiwi
3. Bondan Pegunungan/Tani.

Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi


merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa
kasih sayang kepada putranya yang baru lahir.
Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang
ditimang-timang akhirnya meninggal dunia.
Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta
perlengakapan tarinya sering tanpa
menggunakan kendhi seperti pada Bondan
Cindogo. Ciri pakaiannya:

1. Memakai kain Wiron


2. Memakai Jamang
3. Memakai baju kotang
4. Menggendong boneka, memanggul payung
5. Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.

Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini
menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan
tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal
pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing
lengkap. Ciri pakaiannya:

 Mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai capingdan


membawa alat pertanian.
 Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak
memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat
bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. Bentuk tariannya ; pertama
melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis
pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari
seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

f. Tari Topeng :

Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah
mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan
disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog,
Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya
sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang
menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau
menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji
Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton,
Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul).
Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng
yang diikat pada kepala.

2. Tari Tradisional
Selain tari-tari klasik, di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan
berkembang di daerah-daerah tertentu. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya
karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Beberapa contoh kesenian tradisional:

a. Tari Dolalak, di Purworejo

Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang


penari yang berpakaian menyerupai pakaian
prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan
diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari
kentrung, rebana, kendang, kencer, dllnya.
Menurut cerita, kesenian ini timbul pada masa
berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang
kemudian meluas ke daerah lain.

b. Patolan (Prisenan), di Rembang


Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang
Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan
sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan
purnama. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Seni gulat rakyat ini
berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai antara kecamatan Pandagan, Kragan, Bulu
sampai ke Tuban, Jawa Timur.

c. Blora.

Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang,


Barongan dan Wayang Krucil(sejenis wayang kulit terbuat
dari kayu).
d. Pekalongan

Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan


Sintren. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan
dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug,
terbang, dllnya. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas
yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan
juga di Batang dan Tegal. Kesenian ini menampilkan
seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan
diri, sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan
tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup
bersama peralatan bersolek, kemudian selang beberapa
lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari.
Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan
purnama setelah panen.

e. Ebeg dan Begalan.

Kesenian ini berkembang di Cilacap. Pemain Ebeg ini


terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan
menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu
(kepang), serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu.
Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang (dukun)
yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar.
Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara
perkawinan adat Banyumas. Kesenian ini hidup di daerah
Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap,
Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten
Banyumas. Yang bersifat khas Banyumas antara lain
Calung, Begalan dan Dalang Jemblung.

f. Calung dari Banyumas

Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat


dengan menggunakan bunyi- bunyian semacam
gambang yang terbuat dari bambu, lagu-lagu
yang dibawakan merupakan gending Jawa khas
Banyumas. Juga dapat untuk mengiringi tarian
yang diperagakan oleh beberapa penari wanita.
Sedangkan untuk Begalan biasanya
diselenggarakan oleh keluarga yang baru
pertama kalinya mengawinkan anaknya. Yang
mengadakan upacara ini adalah dari pihak orang tua mempelai wanita.
g. Kuda Lumping (Jaran Kepang) dari Temanggung

Kesenian ini diperagakan secara massal,


sering dipentaskan untuk menyambut tamu -
tamu resmi atau biasanya diadakan pada
waktu upacara

h. Lengger dari Wonosobo

Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh


dua orang laki-laki yang masing-masing
berperan sebagai seorang pria dan seorang
wanita. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang
antara lain berupa Angklung bernada Jawa.
Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi
Chandrakirana yang sedang mencari suaminya
yang pergi tanpa pamit. Dalam pencariannya itu
ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan
memakai topeng. Pada puncak tarian penari
mencapai keadaan tidak sadar.

i. Jatilan dari Magelang

Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh


delapan orang yang dipimpin oleh seorang
pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian
berupa bende, kenong dll. Dan pada puncaknya
pemain dapat mencapai tak sadar.

j. Tarian Jlantur dari Boyolali

Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria


dengan memakai ikat kepala gaya turki.
Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda
kepang dengan senjata tombak dan pedang.
Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan
berangkat ke medan perang, dahulu merupakan
tarian penyalur semangat kepahlawanan dari
keturunan prajurit Diponegoro.
k. Ketek Ogleng dari Wonogiri

Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji,


mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman
kerajaan Kediri. Ceritera ini kemudian diubah
menurut selera rakyat setempat menjadi kesenian
pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan
percintaan antara Endang Roro Tompe dengan
Ketek Ogleng. Penampilannya dititik beratkan
pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek
Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan
berpakaian kera seperti wayang orang. Tarian
akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali.

3. Tari Garapan Baru (Kreasi Baru)


Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan
unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. Sebagai contoh:

a. Tari Prawiroguno
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang
sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata
berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga
tameng sebagai alat untuk melindungi diri.

b. Tari Tepak-Tepak Putri


Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria
memainkan rebana, dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam.

4. Senjata Tradisional
Keris dikalangan masyarakat di jawa
dilambangkan sebagai symbol “ Kejantanan “
dan terkadang apabila karena suatu sebab
pengantin prianya berhalangan hadir dalam
upacara temu pengantin, maka ia diwakili
sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka.
Di kalender masyarakat jawa mengirabkan
pusaka unggulan keraton merupakan
kepercayaan terbesar pada hari satu sura.

Keris pusaka atau tombak pusaka merupakan unggulan itu keampuhannya bukan saja karena
dibuat dari unsure besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang
jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa
kepada sang maha pencipta alam ( Allah SWT ) dengan duatu apaya spiritual oleh sang empu.
Sehingga kekuatan spiritual sang maha pencipta alam itu pun dipercayai orang sebagai
kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi
ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.

5. Suku
Mayoritas penduduk Jawa Tengah adalah
Suku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai
pusat budaya Jawa, di mana di kota
Surakarta dan Yogyakarta terdapat pusat
istana kerajaan Jawa yang masih berdiri
hingga kini. Suku minoritas yang cukup
signifikan adalah Tionghoa, terutama di
kawasan perkotaan meskipun di daerah
pedesaan juga ditemukan. Pada umumnya
mereka bergerak di bidang perdagangan dan
jasa. Komunitas Tionghoa sudah berbaur
dengan Suku Jawa, dan banyak di antara
mereka yang menggunakan Bahasa Jawa dengan logat yang kental sehari-harinya. Selain itu di
beberapa kota-kota besar di Jawa Tengah ditemukan pula komunitas Arab-Indonesia. Mirip
dengan komunitas Tionghoa, mereka biasanya bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Di
daerah perbatasan dengan Jawa Barat terdapat pula orang Sunda yang sarat akan budaya Sunda,
terutama di wilayah Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di pedalaman Blora (perbatasan dengan
provinsi Jawa Timur) terdapat komunitas Samin yang terisolir, yang kasusnya hampir sama
dengan orang Kanekes di Banten.

6. Bahasa Daerah
Meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi, umumnya sebagian besar menggunakan
Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Jawa Dialek Solo-Jogja dianggap sebagai
Bahasa Jawa Standar. Di samping itu terdapat sejumlah dialek Bahasa Jawa; namun secara
umum terdiri dari dua, yakni kulonan dan timuran. Kulonan dituturkan di bagian barat Jawa
Tengah, terdiri atas Dialek Banyumasan dan Dialek Tegal; dialek ini memiliki pengucapan
yang cukup berbeda dengan Bahasa Jawa Standar. Sedang Timuran dituturkan di bagian timur
Jawa Tengah, di antaranya terdiri atas Dialek Solo, Dialek Semarang. Di antara perbatasan
kedua dialek tersebut, dituturkan Bahasa Jawa dengan campuran kedua dialek; daerah tersebut
di antaranya adalah Pekalongan dan Kedu. Di wilayah-wilayah berpopulasi Sunda, yaitu di
Kabupaten Brebes bagian selatan, dan kabupaten Cilacap utara sekitar kecamatan
Dayeuhluhur, orang Sunda masih menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-
harinya.
Berbagai macam dialek yang terdapat di Jawa Tengah:

1. dialek Pekalongan
2. dialek Kedu
3. dialek Bagelen
4. dialek Semarang
5. dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
6. dialek Blora
7. dialek Surakarta
8. dialek Yogyakarta
9. dialek Madiun
10. dialek Banyumasan (Ngapak)
11. dialek Tegal-Brebes

7. Lagu Daerah
Suwe ora Jamu, Gek Kepriye, Lir-ilir, Gundul Pacul, Gambang Suling, dan lain lain.

8.Agama
Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dan mayoritas tetap mempertahankan
tradisi Kejawen yang dikenal dengan istilah abangan. Agama lain yang dianut adalah Protestan,
Katolik, Hindu , Budha, Kong Hu Cu, dan puluhan aliran kepercayaan. Penduduk Jawa Tengah
dikenal dengan sikap tolerannya. Sebagai contoh di daerah Muntilan, kabupaten Magelang
banyak dijumpai penganut agama Katolik, dan dulunya daerah ini merupakan salah satu pusat
pengembangan agama Katolik di Jawa. Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi dengan
populasi Kristen terbesar di Indonesia.

9. Alat Musik Tradisional


Gamelan Jawa merupakan Budaya Hindu yang
digubah oleh Sunan Bonang, guna mendorong
kecintaan pada kehidupan Transedental (Alam
Malakut)”Tombo Ati” adalah salah satu karya
Sunan Bonang. Sampai saat ini tembang tersebut
masih dinyanyikan dengan nilai ajaran Islam,
juga pada pentas-pentas seperti: Pewayangan,
hajat Pernikahan dan acara ritual budaya Keraton.

10. Kesenian Tradisional


A. Wayamg Kulit

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli


timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di
Indonesia dan mulai berkembang pada jaman
Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang
adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan
orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan
animisme dan dynamisme. Menurut Kitab
Centini, tentang asal-usul wayang Purwa
disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula
sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari
Kerajaan Mamenang / Kediri. Sekitar abad ke-10
Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran
dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun
lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada
Candi Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya
termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai
penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali
adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

B. Seni Ukir Jepara

Para pengukir jepara pandai menyesuaikan diri


dengan gaya ukiran baru. Mereka tidak hanya
membuat gaya ukiran khas Jepara saja tapi
ukiran lainnya yang tak kalah menarik.
Meskipun ukiran Jepara beragam, sebaiknya kita
tidak melupakan gaya ukiran khas Jepara.
Biasanya disebut ornamen Jepara. Meskipun tak
ada sebutan khusus, tapi ia dapat dikenali dari
ciri khasnya. Ukiran Jepara mengambil bentuk
dedaunan.

Ada yang mengatakan itu adalah daun tanaman


wuni. Wuni adalah jenis rerumputan liat yang
banyak tumbuh di Jepara. Tanaman itu memiliki buah kecil-kecil yang digemari burung.
Bentuk tanaman wuni itu diolah seniman ukir menjadi bentuk desain ukiran yang indah. Ciri
khas ukiran itu, daunnya digambarkan melengkung-lengkung luwes. Seolah ada iramanya.
Ujung daunnya runcing. Buah-buah kecil diukir menggerombol. Kadang, ditambahkan
ukiranburung yang hendak mematuk buah itu. Ukiran gaya Jepara ini dulu banyak diukirkan
pada peti-peti kayu. Meja kursi juga ada. Tapi, sekarang jarang diukirkan pada meubel lagi.

C. Batik

Kesenian batik adalah kesenian gambar


di atas kain untuk pakaian yang menjadi
salah satu kebudayaan keluarga
kerajaan di masa lampau, khususnya di
Kerajaan Mataram kemudian Kerajaan
Keraton Solo dan Yogyakarta.

Awalnya batik dikerjaan terbatas dalam


keraton saja dan hasilnya untuk pakaian
raja, keluarganya, serta para
pengikutnya. Oleh karena banyaknya
pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar
keraton untuk dikerjakan di tempat masing-masing. Seiring berjalannya waktu, kesenian batik
ini ditiru oleh rakyat setempat dan kemudian menjadi pekerjaan kaum wanita di dalam
rumahnya untuk mengisi waktu senggang. Selain itu, batik yang awalnya hanya untuk keluarga
keraton, akhirnya menjadi pakaian rakyat yang digemari pria dan wanita.

Dahulu, bahan kain putih yang dipergunakan untuk membatik adalah hasil tenunan sendiri.
Sementara bahan pewarnanya diambil dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia. Beberapa bahan
pewarna tersebut antara lain pohon mengkudu, soga, dan nila. Bahan sodanya dibuat dari soda
abu dan garamnya dari tanah lumpur. Sentra kerajinan batik tersebar di daerah Pekalongan,
Kota Surakarta, dan Kab. Sragen.
11. Makanan Tradisional
Nasi Bogana Asli Tegal

Di Jawa, Nasi Bogana biasanya disajikan pada


saat acara-acara tertentu, seperti pesta perkawinan
atau peringatan-peringatan lainnya. Tapi,
umumnya makanan ini sering juga disajikan saat
acara kumpul keluarga atau acara-acara arisan.
Dalam acara pesta perkawinan, Nasi Bogana
disajikan secara terpisah.

12. Ritual/Upacara Adat


A. Kirab Seribu Apem

Kirab apem sewu adalah acara


ritual syukuran masyarakat
Kampung Sewu, Solo, Jawa
Tengah yang digelar setiap bulan
haji (bulan Zulhijah-kalender
penanggalan Islam).
Ritual syukuran itu diadakan
untuk mengenalkan Kampung
Sewu sebagai sentra produksi
apem kepada seluruh masyarakat
sekaligus menghargai para
pembuat apem yang ada di sana.
Selain itu, upacara ritual syukuran ini pun dibuat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan
karena desa dan tempat tinggal mereka terhindar dari bencana.

Mengapa begitu? Menurut Ketua Pelaksana Kirab Apem Sewu, Pak Hadi Sutrisno, letak
Kampung Sewu Solo ini adanya di pinggir Sungai Bengawan Solo, termasuk daerah rawan
banjir. Makanya, masyarakat mensyukurinya. Tradisi apam sewu berawal dari amanah yang
disampaikan Ki Ageng Gribig kepada seluruh warga untuk membuat 1.000 kue apam dan
membagikannya kepada masyarakat sebagai wujud rasa syukur. Sejalan dengan
berkembangnya zaman, maka ritual kirab apem sewu ini diawali dengan kirab budaya warga
Solo yang memakai pakaian adat Solo, seperti kebaya, tokoh punakawan, dan kostum pasukan
keraton. Anak-anak sekolah juga menjadi peserta kirab dengan menampilkan marching band
SD, atraksi Liong (naga), serta aneka pertunjukan tarian tradisional dan teater. 1.000 kue apem
yang sudah disusun menjadi gunungan itu diarak dari lapangan Kampung Sewu menuju area
sekitar kampung sepanjang dua kilometer. Acara kirab berlangsung selama satu hari, yang
dimulai dengan prosesi penyerahan bahan makanan (uba rampe) pembuat kue apam dari tokoh
masyarakat Solo kepada sesepuh Kampung Sewu di Lapangan Kampung Sewu, Solo.
B.Tedhak Siten

Tedhak Siten merupakan bagian dari adat dan


tradisi masyarakat Jawa Tengah. Upacara ini
dilakukan untuk adik kita yang baru pertama kali
belajar berjalan.
Upacara Tedhak Siten selalu ditunggu-tunggu
oleh orangtua dan kerabat keluarga Jawa karena
dari upacara ini mereka dapat memperkirakan
minat dan bakat adik kita yang baru bisa berjalan.
Tedak Siten berasal dari dua kata dalam bahasa
Jawa, yaitu “tedhak” berarti ‘menapakkan kaki’
dan “siten” (berasal dari kata ‘siti’) yang berarti
‘bumi’.

Upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia tujuh bulan dan mulai belajar duduk dan
berjalan di tanah. Secara keseluruhan, upacara ini dimaksudkan agar ia menjadi mandiri di
masa depan. Dalam pelaksanaannya, upacara ini dihadiri oleh keluarga inti (ayah, ibu, kakek,
dan nenek), serta kerabat keluarga lainnya. Mereka hadir untuk turut mendoakan agar adik kita
terlindung dari gangguan setan.
Tak hanya ritualnya saja yang penting, persyaratannya pun penting dan harus disiapkan oleh
orangtua yang menyelenggarakan Tedhak Siten ini, seperti kurungan ayam, uang, buku,
mainan, alat musik, dll. Selain itu ada pula ada tangga yang terbuat dari tebu, makanan-
makanan (sajen), yang terdiri dari bubur merah, putih, jadah 7 warna, (makanan yang terbuat
dari beras ketan), bubur boro-boro (bubur yg terbuat dari bekatul-serbuk halus atau tepung yang
diperoleh setelah padi dipisahkan dari bulirnya), dan jajan pasar.

Ritual Upacara Tedhak Siten:

 Tahap 1: Adik kita dipandu oleh ayah dan ibu berjalan melalui 7 wadah berisi 7 jadah
berwarna. Jadah adalah simbol dari proses kehidupan yang akan dilalui adik kita.
 Tahap 2: Lalu, adik akan diberi tangga yang terbuat dari tebu. Tangga ini
menyimbolkan urutan tingkatan kehidupan di masa depan yang harus dilalui dengan
perjuangan dan hati yang kuat.
 Tahap 3: Setelah anak turun dari tangga, ia dituntun berjalan di atas tanah dan bermain
dengan kedua kakinya. Maksudnya agar nantinya adik kita mampu bekerja keras untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri di masa depan.
 Tahap 4: Kemudian, adik dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang sudah dihias. Ia
disuruh untuk mengambil benda-benda yang ada di dalam kurungan itu, seperti uang, buku,
mainan, dll. Barang yang dipilih adik kita adalah gambaran dari minatnya di masa depan.
 Tahap 5: Setelah itu, adik diberi uang koin dan bunga oleh ayah dan kakek, harapannya
agar ia memiliki rejeki berlimpah dan berjiwa sosial. Setelah itu, adik dimandikan dengan air
kembang 7 rupa, harapannya agar bisa mengharumkan nama keluarga.
 Tahap 6: Setelah mandi, adik dipakaikan baju yang bagus sebagai harapan kelak ia
mendapat kehidupan yang baik dan layak.

Common questions

Didukung oleh AI

The Bedhaya Ketawang is a sacred Javanese dance that holds deep cultural significance as a ritualistic performance aimed at expressing devotion and veneration to the Creator. Originating from the Keraton Surakarta, it is performed every eight years or during significant royal events such as the inauguration of a king or significant royal ceremonies . The dance lasts for approximately 5.5 hours and is traditionally performed by nine dancers, consisting of eight human dancers and one spiritual dancer, believed to represent Nyai Roro Kidul . The audience is expected to maintain silence and focus, reflecting the dance's spiritual and ritualistic attributes .

Javanese dance forms like the Bedhaya and Srimpi have undergone adaptations to suit contemporary audiences while preserving their traditional essence. This transformation involves shortening performance durations and incorporating modern choreography while retaining core cultural elements and symbolic gestures . For example, dance performances traditionally lasting over an hour have been modified into shorter versions, such as Srimpi Anglirmendhung, reduced to 11 minutes, enabling easier consumption and retention of cultural values . Such adaptations ensure that traditional dances remain viable and engaging in the modern cultural landscape without losing their historical and symbolic significance .

Kebaya clothing traditionally varies based on social strata, with the quality and type of fabric serving as indicators of one's social rank. Commonly made from materials such as cotton, velvet, silk, brocade, and nylon, the choice of material and its brightness can signify social status. There are also different styles such as long kebaya reaching the knees and short ones ending at the waist, which could be worn based on occasion and status . Thus, the kebaya functions not only as a cultural garment but also as an emblem of social identity within Javanese society .

During the Kirab Seribu Apem, participants wear traditional Solo dress, including kebaya for women and customary garments that may include tokoh punakawan costumes and keraton military attire. This attire serves to honor historical costumes, promote cultural pride, and reinforce community identity. Furthermore, it visually enhances the ritual's significance, symbolically inviting cultural reflection and historical appreciation, thus serving to protect and celebrate communal memory and heritage within the event .

The Bedhaya dance evolved through integration with cultural and religious influences such as the spread of Islam. Initially a Hindu ritual dance, it underwent transformation during the Islamic era, particularly through the influence of Sunan Kalijaga, who modified the dance to include nine performers, reflecting the nine Wali Sanga (saints) of Islam, as opposed to the original seven . The dance's adaptation demonstrates the syncretic nature of Javanese culture, blending religious symbols and iconography to foster social and spiritual continuity .

The historical development of batik reflects significant socioeconomic changes in Javanese society by tracing its journey from royal courts to the broader populace. Initially exclusive to the palace, where techniques and designs were closely guarded and associated with nobility, batik making eventually disseminated through the populace as the royal followers moved outside palace confines . This transition marked a democratization of the craft, turning batik into a cottage industry and transforming it into an economic enterprise. Such changes allowed for increased accessibility and adaptation of batik into everyday wear, promoting cultural preservation alongside economic growth .

Jepara woodcarving is distinguished by its intricate designs often depicting foliage with fluent, rhythm-like curves and sharp leaf tips, characteristic of the local flora such as wuni leaves. These elements contribute to its aesthetic value, showcasing artisanal skill and cultural identity . This style, although diverse, is integrally linked to Jepara's regional heritage, reinforcing its cultural significance by embodying local artistry and resonating with traditional themes, making it a symbol of identity and craftsmanship recognized both locally and beyond .

The Kirab Seribu Apem ritual is pivotal in fostering a strong community identity and preserving cultural traditions in Kampung Sewu, Solo. It serves as a cultural marker and symbol of gratitude for community protection against disasters, particularly floods, given the village's geographical vulnerability . By making and distributing 1,000 apem cakes as originally instructed by Ki Ageng Gribig, the ritual reinforces social cohesion and continuity of traditional practices. It includes elements such as cultural parades and traditional dress, which promote cultural education and awareness among younger generations, thus ensuring cultural preservation .

The adaptation of Muslim cultural elements into Javanese dances like Bedhaya and Srimpi signifies cultural syncretism where spiritual and artistic expressions reflect changing religious landscapes. With the advent of Islam, elements such as the inclusion of nine dancers in Bedhaya to symbolize the Wali Sanga highlight the malleability of cultural rituals in response to religious shifts . This transformation showcases a strategic cultural blend that ensures the survival and relevance of these art forms while reinforcing Islamic values, demonstrating the complexity and resilience of Javanese cultural practices .

The Tedhak Siten ritual illustrates Javanese society's emphasis on a child's independence and future success. Conducted when a child is learning to walk, it symbolizes the beginning of the child’s journey towards self-sufficiency. The ritual's stages, like walking on jadah as metaphorical life challenges and climbing a sugarcane ladder representing life's progression, reflect beliefs in hard work and perseverance . Putting the child in the chicken cage filled with items symbolizes the value placed on exploration to reveal future interests. Overall, Tedhak Siten rites are imbued with deep cultural values aiming to emotionally and socially prepare children for adulthood .

Anda mungkin juga menyukai