Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah
merah berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal.
Prevalensi gen sel sabit yang tinggi terdapat di bagian tropik yang
dapat mencapai hingga 40 % di daerah tertentu. Dikenal 3 jenis mutasi gen
yaitu bantu, benin dan senegal yang diberi nama sesuai daerah asalnya.
Prevalensi Hb S lebih rendah di dapat juga di daerah Mediteranian, Saudi
Arabia dan beberapa bagian di India. Hemoglobin S adalah hemoglobin
abnormal yang paling banyak didapat. Pembawa sifat diturunkan secara
dominan. Insiden diantara orang Amerika berkulit hitam adalah sekitar 8 %
sedangkan status homozigot yang diturunkan secara resesif berkisar antara 0,3
– 1,5 %.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian anemia sel sabit?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologinya?
3. Bagaimana etiologi anemia sel sabit?
4. Bagaimana patofisiologi anemia sel sabit?
5. Bagaimana manifestasi klinik anemia sel sabit?
6. Apa saja tes diagnostic pada anemia sel sabit?
7. Bagaimana penatalaksanaan anemia sel sabit?
8. Bagaimana pengobatan anemia sel sabit?
9. Apa saja komplikasi yang terjadi pada anemia sel sabit?
10. Bagaimana asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi) pada pasien dengan anemia sel sabit?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui:
1. Pengertian anemia sel sabit
2. Anatomi dan fisiologinya
3. Etiologi anemia sel sabit
4. Patofisiologi anemia sel sabit
5. Manifestasi klinik anemia sel sabit
6. Tes diagnostic pada anemia sel sabit

1
7. Penatalaksanaan anemia sel sabit
8. Pengobatan anemia sel sabit
9. Komplikasi yang terjadi pada anemia sel sabit
10. Asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi) pada pasien dengan anemia sel sabit?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitung sel darah
merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal.
Anemia Sel Sabit adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek
pada molekul hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri.
Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah
merah berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal.

B. Anatomi fisiologi
Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cairan bikonkaf yang
tidak berinti yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2 m pada bagian
tengah tebalnya 1 m atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam
perjalanannya melalui mikrosirkulasi konfigurasinya berubah. Stroma bagian
luar yang mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta
faktor Rh yang menentukan golongan darah seseorang. Komponen utama sel
darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2
dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intrasellular.
Molekul-molekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4
gugus heme, masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini
memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna.

C. Etiologi
Hal-hal yang dapat menjadi penyebab anemia sel sabit adalah :
1. Infeksi
2. Disfungsi jantung
3. Disfungsi paru
4. Anastesi umum
5. Dataran tinggi
6. Menyelam

D. Patofisiologi

3
Defeknya adalah satu subtitusi asam amino pada rantai β hemoglobin.
Karena hemoglobin A normal mengandung dua rantai α dan dua rantai β,
maka terdapat dua gen untuk sintesa tiap rantai.
Trait Sel Sabit. Orang dengan triat sel sabit hanya mendapat satu gen
abnormal, sehingga sel darah mereka masih mampu mensintesa kedua
rantai β dan βs, jadi mereka mempunyai hemoglobin A dan S. Mereka tidak
menderita anemia dan tampak sehat.
Apabila dua orang dengan dengan trait sel sabit menikah, beberapa
anaknya akan membawa dua gen abnormal dan dan hanya mempunyai
rantai βs dan hanya hemoglobin S, anak ini menderita anemia sel sabit.

E. Manifestasi Klinis
Hemoglobin sabit mempunyai sifat buruk karena mempunyai bentuk
seperti Kristal bila terpajan tekanan oksigen rendah. Oksigen dalam darah
vena cukup rendah sehingga terjadilah perubahan ini; konsekuensinya sel yang
mengandung hemoglobin S akan rusak, kaku dan berbentuk sabit ketika
berada di sirkulasi vena. Sel yang panjang dan kaku dapat terperangkap dalam
pembuluh kecil, dan ketika mereka saling menempel satu sama lain, aliran
darah ke daerah atau organ mengalami perlambatan. Apabila terjadi iskemia
atau infark, pasien dapat mengalami nyeri, pembengkakan, dan demam.
Urutan kejadian tersebut menerangkan terjadinya krisis nyeri penyakit ini,
namun apa yang mencetuskan urutan kejadian tersebut atau yang
mencegahnya tidak diketahui.
Gejala disebabkan oleh hemolisis dan thrombosis. Sel darah merah
sabit memiliki usia hidup yang pendek 15-25 hari; sel normal 120 hari. Pasien
selalu anemis, dengan nilai hemoglobin antara 7-10 g/dl. Biasanya terdapat
ikterik dan jelas terlihat pada sklera. Sumsum tulang membesar saat kanak-
kanak sebagai usaha kompensasi, kadang menyebabkan pembesaran tulang
wajah dan kepala. Anemia kronis sering disertai dengan takikardi, murmur
jantung, dan pembesaran jantung (kardiomegali). Disritmia dan gagal jantung
dapat tejadi pada pasien dewasa..

4
Setiap jaringan dan organ rentan terhadap gangguan mikrosirkulasi
akibat proses penyabitan, sehingga peka terhadap kerusakan hipoksik atau
nekrosis iskemik yang sebenarnya. Terdapat kenaikan kekentalan darah.

F. Tes diagnostic
1. Pemeriksaan darah lengkap : retikulosit (jumlah darah bervariasi dari 30%
– 50%), leukositos (khususnya pada krisis vaso-oklusit) penurunan Hb/Ht
dan total SDM.
2. Pemeriksaan pewarnaan SDM : menunjukkan sabit sebagian atau lengkap,
sel bentuk bulan sabit.
3. Tes tabung turbiditas sabit : pemeriksaan rutin yang menentukan adanya
hemoglobin S, tetapi tidak membedakan antara anemia sel sabit dan sifat
yang diwariskan (trait)
4. Elektroforesis hemoglobin : mengidentifikasi adanya tipe hemoglobin
abnormal dan membedakan antara anemia sel sabit dan anemia sel trait.
5. LED : meningkat
6. GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2
7. Bilirubin serum : meningkat
8. LDH : meningkat
9. IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal
10. Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang
11. Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang

G. Penatalaksanaan
Sekitar 60 % pasien anemia sel sabit mendapat serangan nyeri yang
berat hampir terus-menerus dan terjadinya anemia sel sabit selain dapat
disebabkan karena infeksi dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor
misalnya perubahan suhu yang ekstrim, stress fisis atau emosional lebih sering
serangan ini terjadi secara mendadak.
Orang dewasa dengan anemia sel sabit sebaiknya diimunisasi terhadap
pneumonia yang disebabkan pneumokokus. Tiap infeksi harus diobati dengan
antibiotik yang sesuai. Transfusi sel darah merah hanya diberikan bila terjadi
anemia berat atau krisis aplastic. Pada kehamilan usahakan agar Hb berkisar
sekitar 10 – 12 g/dl pada trimester ketiga. Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12
– 14 g/dl sebelum operasi. Penyuluhan sebelum memilih teman hidup adalah

5
penting untuk mencegah keturunan yang homozigot dan mengurangi
kemungkinan heterozigot.

H. Pengobatan
Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat
memperbaiki pembentukan sabit, karena itu pengobatan secara primer
ditujukan untuk pencegahan dan penunjang. Karena infeksi tampaknya
mencetuskan krisis sel sabit, pengobatan ditekankan pada pencegahan infeksi,
deteksi dini dan pengobatan segera setiap ada infeksi pengobatan akan
mencakup pemberian antibiotik dan hidrasi dengan cepat dan dengan dosis
yang besar. Pemberian oksigen hanya dilakukan bila penderita mengalami
hipoksia. Nyeri hebat yang terjadi secara sendiri maupun sekunder terhadap
adanya infeksi dapat mengenai setiap bagian tubuh. Tranfusi hanya diperlukan
selama terjadi krisis aplastik atau hemolitis. Transfusi juga diperlukan selama
kehamilan.
Penderita seringkali cacat karena adanya nyeri berulang yang kronik
karena adanya kejadian-kejadian oklusi pada pembuluh darah. Pada kelompok
penderita terdapat insiden yang tinggi terhadap ketergantungan obat, terdapat
juga insiden yang tinggi atas sulitnya mengikuti sekolah dan melakukan
pekerjaan.
Hindari faktor-faktor yang diketahui mencetuskan krisis:
1. Profilaktik.
2. Asam folat, misalnya 5 mg perhari, jika diit buruk.
3. Gizi umum baik dan hygiene.
4. Krisis – istirahat, dehidrasi, berikan antibiotik jika terdapat infeksi,
bikarbonat jika pasien asidosis. Analgetik kuat biasanya diperlukan,
transfusi diberikan hanya jika anemia sangat berat dengan gejala transfusi.
Sukar mungkin dibutuhkan pada kasus berat.
5. Perawatan khusus diperlukan pada kehamilan dan anestesi sebelum
persalinan atau operasi, pasien dapat ditransfusi berulang dengan darah
normal untuk mengurangi proporsi haemoglobin S yang beredar.

6
6. Transfusi ini juga kadang-kadang diberikan pada pasien yang sering
mengalami krisis untuk menekan produksi Hb S secara lengkap selama
jangka waktu beberapa bulan.

I. Komplikasi
Komplikasi anemia sel sabit meliputi infeksi, hipoksia dan iskemia,
episode thrombosis, stroke, gagal ginjal, dan priapiosmus (nyeri abnormal dan
ereksi penis terus menerus).
Pasien dengan anemia sel sabit biasanya rentan terhadap infeksi,
terutama pneumonia dan osteomielitis. Mereka dapat mengalami krisis
aplastika dengan infeksi dan dapat menderita batu kandung empedu (akibat
peningkatan hemolisis yang menyebabkan batubilirubun) dan ulkus tungkai.
Ulkus dapat bersifat kronis dan nyeri serta memerlukan tandur kulit. Infeksi
merupakan penyebab kematian utama.
Episode thrombosis dapat mengakibatkan infark paru atau terjadinya
stroke mendadak dengan paralisis pada satu sisi. Episode ini sama sekali tidak
dapat diramalkan; dapat terjadi tiap bulan atau sangat jarang dan dapat
berlangsung selama beberapa jam, hari, atau minggu. Kejadian yang
nampaknya mencetuskan kris adlah dehidrasi, kelemahan, asupan alcohol,
stress emosi, dan asidosis. Beberapa akibat infark bersifat permanen, seperti
hemiplegia, nekrosis aseptic kaput femur, dan defek konsentrasi ginjal. Gagal
ginjal merupakan penyebab kematian utama pada orang dewasa dengan
penyakit ini.

J. Pengkajian
Karena proses penyabitan dapat mengakibatkan berhentinya sirkulasi
disetiap jaringan atau organ, disertai hipoksia dan iskemia, maka pengkajian
yang cermat mengenai seluruh system tubuh harus dilakukan. Pengkajian
lebih ditekankan pada nyeri, pembengkakan, dan demam. Semua sendi harus
diperiksa dengan teliti akan adanya nyeri dan pembengkakan, begitu juga
abdomen.pemeriksaan neurologis yang cermat perlu dilakukan untuk

7
mengetahui adanya hipoksia serebral. Pasien juga di tanya mengenai gejala
yang mengarah ke batu kandung empedu, seperti ptidak toleran terhadap
makanan, nyeri epigastrik, dan nyeri andomen kuadran kanan atas.
Karena pasien dengan anemia sel sabit rentan terhadap infeksi, harus
dilakukan pengkajian terhadap setiap proses infeksi. Perhatian khusus
diberikan pada pemeriksaan dada dan tulang panjang serta kaput femur, begitu
pula pneumonia dan osteomielitis. Sering terjadi ulkus tungkai, yang mungkin
terinfeksi dan lama sembuh. Masalah lain yang sering terjadi sehubungan
dengan anemia sel sabit yaitu anemia kronis, juga harus diperhatikan selama
pemeriksaan fisik.
Pasien yang sedang mengalami krisis ditanya mengenai factor yang
dapat mencetuskan krisis. Mereka diminta untuk mengingat kembali apakah
sebelumnya mereka mengalami gejala infeksi atau dehidrasi atau mengalami
situasi yang menyebabkan kelemahan atau stress emosi. Riwayat asupan
alcohol juga dikaji. Selain itu, pasien diminta untuk mengingat kembali factor
yang tampaknya mencetuskan krisis dimasa lalu dan upaya apa yang mereka
lakukan untuk mencegah krisis tersebut. Informasi yang di peroleh dapat
digunakan sebagai panduan untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan
belajar mereka.
Pengumpulan data
1. Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku / bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
2. Identitas penanggung
3. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu
Keluhan utama : pada keluhan utama akan nampak semua apa yang
dirasakan klien pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan
pucat.
Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat kesehatan masa lalu akan
memberikan informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah
diderita,
Pemeriksaan fisik
1. Aktivitas / istirahat

8
Gejala : Keletihan / kelemahan terus-menerus sepanjang hari. Kebutuhan
tidur lebih besar dan istirahat.
Tanda : Gangguan gaya berjalan
2. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi atau nyeri.
Tanda : Tekanan darah menurun, nadi lemah, pernafasan lambat, warna
kulit pucat atau sianosis, konjungtiva pucat.
3. Eliminasi
Gejala : Sering berkemih, nokturia (berkemih malam hari).
4. Integritas ego
Gejala : Kuatir, takut.
Tanda : Ansietas, gelisah.
5. Makanan / cairan
Gejala : Nafsu makan menurun.
Tanda : Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas gigitan,
tampak kulit dan membran mukosa kering.
6. Hygiene
Gejala : Keletihan / kelemahan
Tanda : Penampilan tidak rapi.
7. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala / pusing, gangguan penglihatan.
Tanda : Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot.
8. Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri pada punggung, sakit kepala.
Tanda : Penurunan rentang gerak, gelisah.
9. Pernafasan
Gejala : Dispnea saat bekerja.
Tanda : Mengi
10. Keamanan
Gejala : Riwayat transfusi.
Tanda : Demam ringan, gangguan penglihatan.
11. Seksualitas
Gejala : Kehilangan libido.
Pemeriksaan Penunjang
1. Jumlah darah lengkap (JDL) : leukosit dan trombosit menurun.
2. Retikulosit : jumlah dapat bervariasi dari 30 % – 50 %.
3. Pewarnaan SDM : menunjukkan sebagian sabit atau lengkap.
4. LED : meningkat
5. Eritrosit : menurun
6. GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2
7. Billirubin serum : meningkat
8. LDH : meningkat
9. TIBC : normal sampai menurun
10. IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal

9
11. Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang
12. Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang.

Klasifikasi data
Data subjektif
1. Keletihan / kelemahan.
2. Nokturia.
3. Nafsu makan menurun.
4. Nyeri pada punggung.
5. Sakit kepala.
6. Berat badan menurun.
7. Gangguan penglihatan
Data objektif
1. Konjungtiva pucat.
2. Gelisah.
3. Warna kulit pucat.
4. Gangguan gaya berjalan.
5. Tekanan darah menurun.
6. Demam ringan.
7. Eritrosit menurun.
8. Bilirubin serumen : meningkat.
9. JDL : leukosit dan trombosit menurun.
10. LDH meningkat.

K. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnosis keperawatan utama mencakup
yang berikut:
1. Nyeri akut berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh
darah.
2. Kurang pengetahuan mengenai pencegahan krisis.
3. Gangguan harga diri berhubungan dengan gangguan gambaran diri.

10
4. Ketidakberdayaan berhubungan dengan ketidakmampuan akibat –
penyakit.
5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi /
gangguan pada sum-sum tulang.
6. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot.
7. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan porsi makan tidak
dihabiskan.
8. Integritas kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah ke jaringan.
9. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.

L. Rencana Asuhan Keperawatan dengan Pasian Anemia Sel Sabit.


1. Nyeri akut berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah
kecil.
Tujuan:
Mengurangi nyeri
Intervensi keperawatan dan Rasional
a. Kaji berat dan lokasi nyeri. Tempat nyeri yang sering adalah sendi dan
ekstremitas, dada, dan abdomen.
Rasional : Jaringan dan organ sangat peka terhadap thrombosis
mikrosirkulasi dengan akibat kerusakan hipoksik; hipoksia
menyebabkan nyeri.
b. Berikan analgetik sesuai resep. Perhitungan pemakaian analgesic yang
dikontrol pasien (PCA= Patient Controllet Analgesia).
Rasional : analgetik oploid penting untuk mengurangi nyeri yang berat;
hindari penggunaan oploid untuk nyeri krinis karena kemungkinan
terjadi ketrgantungan. PCA dapat memberikan pengontrolan nyeri
yanag lebih baik.
c. Dukung asupan cairan peroral dan berikan cairan IV sesuai resep;
memantau asupan dan haluaran cairan.

11
Rasional : cairan akan memperbaiki hemodilusi dan menguraikan
aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah kecil.
d. Posisikan pasien dengan hati-hati dan sangga daerah nyeri; dukung
penggunaan teknik relaksasi dan latihan pernapan; berikan panas
lembab didaerah nyeri; cegah penyilangan kaki saat duduk.
Rasional : nyeri sendi dapat dikurangi selama krisis dengan gerakan
yang hati-hati dan penggunaan kompres panas; teknik relaksasi dan
latihan pernapasan dapat berfungsi ebagai pelemas. Penyumbatan
pembuluh darah oleh sel sabit akan menurunkan sirkulasi.

Hasil yang diharapkan:


a. Mengatakan bahwa nyeri telah berkurang setelah pemberian analgetik.
b. Menggerakan bagian tubuh dengan perlahan dan hati-hati untuk
mengurangi nyeri.
c. Meningkatkan asupan cairan.
d. Secara bertahan mengalami periode bebas nyeri yang lebih lama.
e. Menunjukan ketertarikan aktivitas difersional.

2. Kurang pengetahuan mengenai pencegahan krisis sel sabit


Tujuan:
Menghindari situasi yang dapat mencetuskan krisis sel sabit.
Intervensi Keperawatan dan Rasional
a. Mendiskusikan factor yang biasanya mencetuskan krisis:
 Infeksi
 Dehidrasi
 Trauma
 Latihan fisik berat
 Kahamilan
 Pajanan terhadap dingin
 Hipoksia (mis.ketinggian)

12
 Stress emosi.
Rasional : menghindari situasi yang mencetuskan krisis dapat
memperpanjang interval di antara serangan krisis.
b. Mendiskusikan sifat kronis penyakit dengan pasien dan keluarganaya,
menekankan pentingnya hidrasi yang memadai dan pencegahan
infeksi.
Rasional : memahami kronisitas penyakit dan kemampuan
meminimalkan krisis akan meningkatkan kepatuhan terhadapa aturan
terapi.
Hasil yang diharapkan:
a. Pasien mampu mengidentifikasi factor yang dapat mencetuskan krisis.
b. Mengidentifikasi perubahan gaya hidup yang dapat diterima yang perlu
untuk mencegah krisis.
c. Memperoleh dukungan keluarga dalam melakukan perubahan gaya
hidup.
d. Memelihara asupan cairan yang adekuat.
e. Menghindari alcohol dan kafein.
f. Mengidentifikasi sumber infeksi yang dapat dihindari.
g. Mengidentifikasi perlunya mencari bantuan medis dengan segera
begitu terjadi infeksi.
h. Mencari penyuluhan prenatal bila perlu.

3. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan gambaran diri.


Tujuan:
Adanya peningkatan harga diri yang diungkapkan secara verbal
Intervensi Keperawatan dan Rasional;
a. Luangkan waktu bersama pasien untuk menerima keadannya.
Rasional : rasa diterima oleh orang lain akan meningkatkan harga diri.
b. Bantu dalam mengidentifikasi kekuatan.
Rasional : harga diri yang rendah menghambat pencarian kekuatan.

13
c. Dukung pemecahan masalah yang telah diidentifikasi dan ingin
dirubah oleh pasien.
Rasional : pemecahan masalah akan terhambat oleh harga diri rendah.
d. Berikan pemahaman mengenai penyelesaian.
Rasional : harga diri dapat ditingkatkan dengan dorongan positif.
e. Hindari peran sebagai pemberi asuhan dalam situasi dimana pasien
diharapkan mampu mandiri.
Rasional : peningkatan kemandirian akan meningkatkan harga diri.
f. Kaji adanya tanda depresi;
Perubahan pola tidur
Penurunan selera, kehilangan berat badan
Suasana murung
Kehilangan perhatian terhadap kegiatan sehari-hari
Rasional : pasien dengan penyakit sel sabit mempunyai insidens tinggi
mengalami depresi.
g. Kaji keterlambatan perkembangan, khususnya pada remaja.
Rasional : peningkatan ketergantungan kepada orang tua dan
pelayanan kesehatan dapat memperlambat keberhasilan penyelesaian
tugas perkembangan.
h. Anjurkan untuk berpartisipasi dalam kelompok pendukung bagi pasien
dengan penyakit sel sabit.
Rasional : penerimaan dan perasaan berharga dapat timbul bila pasien
merasa aman dalam kelompok pendukung, sehingga meningkatkan
harga diri.
Hasil yang diharapkan:
a. Mengembangkan tujuan yang akan meningkatkan rasa control dan
disesuaikan dengan usia.
b. Mengucapkan persepsi-diri yang positif.
c. Menunjukan keterampilan-pemecahan masalah yang efektif.
d. Menghubungi anggota kelompok pendukung sebelum pulang dari
rumah sakit.

14
4. Ketidakmampuan berhubungan dengan ketidakberdayaan akibat penyakit.
Tujuan:
Pemecahan masalah yang efektif untuk meningkatkan pengontrolan
penyakit kronis.
Intervensi Keperawatan dan Rasional:
a. Kaji pengetahuan mengenai penyakit dan berikan informasi sebagai
tambahan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Rasional : pengetahuan akan memberikan kekuatan.
b. Libatkan pasien dalam menyusun tujuan asuhan yang realistic;
Berikan tanggung jawab pada pasien untuk menentukan jadwal
aktivitas sehari-hari.
Berikan pilihan-pilihan kepada pasien.
Anjurkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat dicapai oleh
pasien.
Rasional : partisipasi aktif dalam asuhan kesehatan akan menyumbang
terhadap adaptasi positif terhadap penyakit kronis; perasaan mampu
mengontrol akan meningkat bila pasien mempunyai lebih banyak
pilihan; keberhasilan akan meningkatkan harga diri.
c. Berikan umpan balik positif terhadap suatu pencapaian.
Rasional : meningkatkan harga diri dan mendorong usaha dalam
kegiatan lainnya.
d. Ajarkan keterampilan bergaul untuk memperbaiki kativitas komunikasi
dengan orang lain.
Rasional : perbaikan kemampuan berkomunikasi memerlukan rasa
mampu mengontrol yang tinggi.
e. Libatkan pasien dalam setiap kesempatan untuk meningkatkan
kesiagaan pelayanan kesehatan mengenai penyakitnya (mis.dalam
pameran kesehatan, berbincang dengan siswa kedokteran atau
keperawatan).

15
Rasional : partisipasi aktif dalam asuhan kesehatan akan meningkatkan
adaptasi positif terhadap penyakit kronis.
f. Mendorong pengucapan perasaan mengenai potensial ketergantungan
obat untuk mengontrol krisis nyeri.
Rasional : krisis nyeri memerlukan penanganan dengan analgetik
oploid, namun penggunaas jangka panjang akan meningkatkan resiko
ketergantungan. Penggunaan analgetik oploid sering menjadi sumber
konflik antara pelayanan kesehatan den pasien.
g. Mendorong pengucapan keprihatinan mengenai kematian.
Rasional : SCD mempunyai komplikasi yang membahayakan jiwa
yang biasanya ditakutkan pasien; pengucapan keprihatinan mengenai
hal ini dapat mengurangi kecemasan.

Hasil yang diharapkan:


a. Mengucapkan pengetahuan mengenai penyakitnya secara akurat.
b. Mengembangkan tujuan yang dapat meningkatkan rasa control.
c. Pilihan yang sesuai dibuat secara mandiri.
d. Melakukan latihan teknik pergaulan.
e. Berpartisipasi dalam pembuatan keputusan mengenai perawatan diri.
f. Menunjukan keterampilan pemecahan masalah yang efektif.
g. Mengucapkan perasaan mengenai aspek penyakit yang tidak mungkin
diubah.

5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi /


gangguan sumsum tulang.
Tujuan : Perfusi jaringan adekuat
Tindakan keperawatan :
a. Ukur tanda-tanda vital :
Rasional : Untuk mengetahui derajat / adekuatnya perfusi jaringan dan
menentukan intevensi selanjutnya.
b. Tinggikan kepala tempat tidur klien

16
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan
oksigenasi untuk kebutuhan seluler
c. Pertahankan suatu lingkungan yang nyaman.
Rasional : Vasekonstriksi menurunkan sirkulasi perifer dan
menghindari panas berlebihan penyebab vasodilatasi.
d. Anjurkan klien untuk menghentikan aktivitas bila terjadi kelemahan.
Rasional : Stres kardiopulmonal dapat menyebabkan kompensasi.

6. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot


Tujuan : aktifitas toleransi, dengan kriteria : klien bisa melakukan aktivitas
sendiri.
Tindakan keperawatan
a. Kaji tingkat aktifitas klien
Rasional : Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan klien dan untuk
menetukan intervensi selanjutnya.
b. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien
Rasional : Untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
c. Bantu pasien dalam melakukan latihan aktif dan pasif
Rasional : Untuk meningkatkan sirkulasi jaringan
d. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan ADLnya
Rasional : Dengan bantuan perawat dan keluarga klien dapat
memenuhi kebutuhannya.
e. Berikan lingkungan tenang
Rasional : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan regangan jantung
dan paru..

7. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan porsi makan tidak


dihabiskan.
Tujuan : Nutrisi terpenuhi dengan kriteria : nafsu makan meningkat, porsi
makan dihabiskan.
Tindakan keperawatan :

17
a. Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi efisiensi, menduga kemungkinan
intervensi.
b. Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering dan bervariasi
Rasional : Pemasukan makanan atau menambah kekuatan dan
diberikan sedikit-sedikit agar pasien tidak merasa bosan.
c. Beri HE tentang pentingnya makanan atau gizi
Rasional : Makanan yang bergizi dapat mempercepat penyembuhan
penyakitnya..
d. Timbang berat badan setiap hari.
Rasional : Mengawasi penurunan BB atau efektivitas intervensi nutrisi.
e. Penatalaksanaan pemberian vitamin B1.
Rasional : Vitamin bisa menambah nafsu makan.
f. Konsul pada ahli gizi
Rasional : Membantu dalam membuat rencana diit untuk memenuhi
kebutuhan individu.

8. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah


ke jaringan
Tujuan : Mempertahankan integritas kulit dengan kriteria : kulit segar,
sirkulasi darah lancar
Tindakan keperawatan .
a. Kaji integritas kulit, catat pada perubahan turgor, gangguan warna
Rasional : Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan
imobilitas
b. Anjurkan permukaan kulit kering dan bersih
Rasional : Area lembab, terkontamiansi memberikan media yang
sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik
c. Ubah posisi secara periodic
Rasional : Meningkatkan sirkulasi ke semua area kulit membatasi
iskemia jaringan / mempengaruhi hipoksia selular.

18
d. Tinggikan ekstremitas bawah bila duduk
Rasional : Meningkatkan aliran balik vena menurunkan statis vena /
pembentukan edema.

9. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit


Tujuan : Mencegah / menurunkan resiko infeksi
Tindakan keperawatan
a. Berikan perawatan kulit
Rasional : Menurunkan resiko kerusakan kulit / jaringan dan infeksi
b. Dorong perubahan posisi / ambulasi yang sering
Rasional : Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu
mobilisasi sekresi
c. Tingkatkan masukan cairan adekuat
Rasional : Membantu dalam mengencerkan sekret pernafasan untuk
mempermudah pengeluaran dan mencegah statis cairan tubuh
d. Pantau suhu, catat adanya menggigil dan takikardia.
Rasional : Adanya proses inflamasi / infeksi membutuhkan evaluasi /
pengobatan.

M. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah pengobatan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang meliputi tindakan yang direncanakan oleh perawat,
melaksanakan anjuran dokter dan menjalankan ketentuan dari rumah sakit.
Sebelum pelaksanaan terlebih dahulu harus mengecek kembali data yang ada,
karena kemungkinan ada perubahan data bila terjadi demikian kemungkinan
rencana harus direvisi sesuai kebutuhan pasien.

N. Evaluasi
Evaluasi adalah pengukuran dari keberhasilan rencana perawatan
dalam memenuhi kebutuhan pasien. Tahap evaluasi merupakan kunci
keberhasilan dalam menggunakan proses perawatan. Hasil evaluasi yang

19
diharapkan / kriteria : evaluasi pada klien dengan anemia sel sabit adalah
sebagai berikut : Mengatakan pemahaman situasi / faktor resiko dan program
pengobatan individu dengan kriteria :
a. Menunjukkan teknik / perilaku yang memampukan kembali melakukan
aktivitas.
b. Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
c. Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan dengan
kriteria :
Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala peyebab.
Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.
d. Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi
dengan kriteria :
Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan.
Menyukai diri sebagai orang yang berguna.
e. Mempertahankan hidrasi adekuat dengan kriteria :
Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran
seimbang.
f. Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan /
mempertahankan berat badan yang sesuai dengan kriteria :
Menunjukkan peningkatan berat badan, mencapai tujuan dengan nilai
laboratorium normal.

20
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah
merah berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal.
Transfusi sel darah merah hanya diberikan bila terjadi anemia berat
atau krisis aplastic. Pada kehamilan usahakan agar Hb berkisar sekitar 10 – 12
g/dl pada trimester ketiga. Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12 – 14 g/dl
sebelum operasi. Penyuluhan sebelum memilih teman hidup adalah penting
untuk mencegah keturunan yang homozigot dan mengurangi kemungkinan
heterozigot.
Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat
memperbaiki pembentukan sabit, karena itu pengobatan secara primer
ditujukan untuk pencegahan dan penunjang.
Komplikasi anemia sel sabit meliputi infeksi, hipoksia dan iskemia,
episode thrombosis, stroke, gagal ginjal, dan priapiosmus (nyeri abnormal dan
ereksi penis terus menerus).

21
22