Anda di halaman 1dari 26

ANTENATAL CARE

DEFINISI

Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik


untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan
rutin selama kehamilan.

Asuhan pranatal adalah asuhan yang diberikan kepada ibu hamil dengan tujuan
menyelaraskan ibu dan janin agar terhidar dari komplikasi dan menurunkan insiden
morbiditas/mortalitas perinatal dan maternal.

ASUHAN ANTENATAL

Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan 2006, kunjungan pelayanan antenatal


sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 (empat ) kali selama kehamilan dengan ketentuan waktu
sebagai berikut: minimal 1 (satu) kali pada trimester pertama, minimal 1 (satu) kali pada
trimester kedua, minimal 2 (dua) kali pada trimester ketiga. Apabila terdapat kelainan atau
penyulit kehamilan seperti mual, muntah, keracunan kehamilan, perdarahan, kelainan letak
dan lain-lain frekuensi pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan.

Sedangkan, menurut pedoman pelayanan antenatal terpadu dengan indicator kunjungan


pertama (K1) adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan, kontak pertama
harus dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8.
Kunjungan ke-4 (k4), adalah hamil dengan kontak 4 kali dilakukan sebagai berikut: sekali
pada trimester I (kehamilan hingga 12 minggu), dan trimester ke-2 (>12-24 minggu), minimal
2 kali kontak pada trimester ke-3 dilakukan setelah minggu ke-24 sampai dengan minggu
ke36.

Jadwal asuhan antenatal menurut HKFM berbeda pada tiap daerah/Negara. Rata-rata
kunjungan 7-12 kali per kehamilan. Namun, pada multipara tanpa komplikasi jumlah
kunjungan dapat lebih sedikit daripada nulipara tanpa komplikasi. Jadwal kunjungan
antenatal ditentukan oleh tujuan dari kunjungan tersebut. Kunjungan minimal yang harus
dilakukan adalah 4 kali, yaitu kunjungan pertama pada usia kehamilan 2 minggu, kunjungan
kedua pada usia kehamilan 20 minggu, kunjungan ketiga pada usia kehamilan 37 minggu,
dan kunjungan keempat pada usia kehamilan 41 minggu

Menurut who 2016, tujuan akhir dari pedoman dan rekomendasi adalah untuk
memperbaiki kualitas dari ANC terhadap ibu, fetal dan saat persalinan nantinya. Model
asuhan antenatal yang disarankan oleh WHO adalah minimal 8 kali kontak untuk
mengurangi mortalitas perinatal dan memperbaiki pengalaman perawatan para wanita. Atas
dasar ini Guildeline Development Group (GDG) meninjau bagaimana asuhan antenatal
disampaikan baik dari segi waktu maupun konten dari masing-msing kontak asuhan
antenatal, hingga pada model ANC 2016 dariWHO mengantikan model 4 kujungan focused
ANC (FANC). Rekomendasi ANC 2016 dari WHO yaitu minimal 8 kali kontak dengan satu
kali kontak pada trimester pertama (hingga usia kehamilan 12 minggu), dua kali kontak pada
trimester 2 (pada usia kehamilan 20 dan 26 minggu), dan lima kali kontak pada trimester
ketiga (pada usia kehamilan 30 minggu, 34 minggu, 36 minggu, 38 minggu dan 40 minggu)
induksi pada kehamilan 41 minggu. dengan model ini kata “kunjugan” diganti dengan kata
“kontak” dengan maksud adanya hubungan yang aktif antara wanita hamil dengan tenaga
kesehatan.

PROSEDUR ASUHAN

1. Menurut HKFM

KUNJUNGAN PERTAMA

ANC s/d 12 minggu :skrining awal (deteksi dini kelainan ibu dan bayi))

Kunjungan pertama yang optimal dilakukan sebelum hamil 12 minggu. Pada


kunjungan pertama ibu hamil sebaiknnya mendapat informasi tentang bagaimana asuhan
kehamilan akan diberikan, tujuan pemberian asuhan, tes skrining yang ditawarkan, anjuran
untuk pola hidup sehat, termasuk nutrisi dan olahraga. Riwayat penyakit, Harus dilakukan
evaluasi riwayat penyakit dengan seksama, khususnya untuk mengevaluasi resiko kehamilan.
Pada bagian ini harus dapat diidentifikasi ibu haml yang beresiko tinggi yang perlu mendapat
perhatian khusus. Harus dilakukan pemeriksaan USG untuk menentukan tafsiran persalinan
jika hari pertama haid terakhir tidak dapat dipercaya.

Pemeriksaan fisik , Pada kunjungan pertama ini tinggi badan dan berat badan wajib
diukur untuk indeks massa tubuh (IMT). Penentuan IMT harus dilakukan pada berat badan
saat konsepsi atau awal kehamilan. Penentuan IMT ini berhubungan dengan resiko kehamilan
seperti diabetes dan persalinan preterm, serta resiko persalinan seperti distosia bahu, seksio
sesaria, BBLR. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada setiap kunjungan asuhan antenatal.
Tujuan pengukuran tekanan darah untuk mengidentifikasi ibu hamil dengan hipertensi
kronik. Tekanan darah diastolic > 80 berhubungan dengan resiko preeklamsia. Tekanan darah
diukur dengan posisi lengan ibu hamil setinggi jantung, dalam keadaan cuff yang sesuai
(Panjangnya 1,5 x lingkar lengan atas dan lebarnnya menutupi ≥ 80% lengan atas).

Tabel 1. Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT)

Kategori berat IMT


Kurus <18,5
Normal 18,5 – 24.9
Gemuk 25 – 29.9
Obesitas (kelas I) 30 – 34.9
Obesitas (kelas II) 35 – 39.9
Obesitas ektrim (kelas III) ≥ 40
Pemeriksaan dalam, Pemeriksaan dalam tidak akurat untuk menentukan usia
kehamilan dan bukan cara memeprediksi persalinan preterm atau kemungkinan disprediksi
persalinan preterm atau kemungkinan disporporsi sefalopelvik di kehamilan lanjut yang dapat
dipercaya. Tidak dianjurkan untuk melakukan permeriksaan ini. Tetapi pemerikaan ini dapat
dilakukan untuk menilai patologi ginekologi.

Pemeriksaan laboratorium, untuk tes skrining dengan level A yaitu pemeriksaan HIV,
hepatitis C, sifilis, HbaAg, skrining gonore, tes toleransi glukosa dan gula darah puasa. Level
B yaitu Hb, MCV, titer antibody rubella, pemeriksaan lain seperti serologi B19, mumps,
CMV hanya untuk wanita yang terpapar atau dengan gejala, skrining klamidia, tyroid
stimulating hormone, papsmear.

Tabel 2. Rekomendasi skrining laboratorium asuhan antenatal

KUNJUNGAN BERIKUT

Kunjungan berikutnya harus memberikan pemeriksaan fisik, pemeriksaan


laboratorium lanjut dan pemeriksaan atas indikasi, pemeriksaan tentang faktor resiko dan
rencaana intervensi bila ada, edukasi dan promosi kesehatan khusus untuk ibu hamil tersebut,
kesempatan untuk bediskusi dan tanya jawab. Pemeriksaan fisik lanjutan, berat badan yang
optimal berhubungan dengan luaran kehamilan yang lebih baik.
Table 3. Total penambahan berat badan ibu hamil yang dianjurkan (kg)

IMT Kehamilan Tunggal Gemeli


< 18,5 12,5 – 18 Tidak ada data
18,5 – 24,9 11,5 – 16 17 – 25
25,0 – 29,9 7 – 11,5 14 – 23
≥ 30 5–9 11 – 19

Tekanan darah ibu dan denyut jantung janin, harus diperiksa dan dicatat pada setiap
kunjungan, pengukurn tinggi fundus uteri (simfisis – fundus), dapat dilakukan bila usia
kehamilan lebih dari 24 minggu sampai 41 minggu. dapat mendeteksi pertumbuhan janin
terhambat atau makrosomia, tetapi ada faktor kesalahan intra-dan inter-pemeriksa. Gerakan
janin, tidak ada bukti bahwa perhitungan gerakan janin menurunkan resiko kematian janin
pada kehamilan tunggal sehat. Tetapi ibu hamil dianjurkan untuk memperhatikan gerak janin
sejak usia kehamilan atau sekitar 28 minggu. Pemeriksaan Leopold, dilakukan sejak usia
kehamilan 34 minggu untuk menilai taksiran berat janin dan presentasi, bisa juga dengan
pemeriksaan USG.Berikut tabel pemeriksaan rutin asuhan antenatal.

Tabel 4. Pemeriksaan rutin asuhan antenatal rutin


Pemeriksaan lanjutan laboratorium (lihat tabel 2), pada kehamian 24-28 minggu: ibu
hamil dengan faktor resiko DM gestasional harus diskrining dengan menialai gula darah
puasa dan tes toleransi glukosa oral (TTGO) 75g.

Ultrasonografi, pada trimester pertama (sebelum usia kehamilan 14 minggu) dapat


menentukan tafsiran persalinan dan usia kehamilan lebih akurat daripada hari pertma haid
terakhir (HPHT). Untuk deteksi dini kehamilan ganda, skrining aneuploidi dengan nuchal
translucency dan diagnosis nonviable-pregnancies. Pemeriksaan USG anatomi janin
trimester II: ibu usia kehamilan 18 – 22 minggu sebaikannya ditawarkan untuk skrining dan
dapat menurunkan insiden kehamilan lewat waktu dan induksi persalinan, meningkatkan
deteksi dini kelainan mayor. Pemeriksaan USG trimester III: bermanfaat untuk keadaan
tertentu seperti kecurigaan pertumbuhan janin terhambat, penilaian indeks cairan amnion
untuk dugaaan oligo atau polihidroamnion, dan penialaian malpresentasi.

Gizi dan makananan, untuk ibu hamil dianjurkan makanan gizi seimbang. Kebutuhan
kalori meningkat 340-450 kkal per hari pada trimester kedua dan ketiga. Penambahan berat
badan yang dianjurkan selama kehamilan adalah 11,5 – 16 kg pada ibu hamil dengan IMT
normal. Pada studi observasional penambahan berat badan dibawah angka yang
direkomendasikan berhubungan dengan berat badan bayi lahir rendah dan persalinan preterm
sedangkan penambahan berat badan di atasa yang direkomendasikan berhubungan dengan
resiko makrosomia seksio sesar dan retensi berat pasca melahirkan. Suplementasi asam folat
sejak 4 minggu sebelum konsespsi sampai 12 minggu kehamilan mencegah defek tuba
neuralis. Dosis yang direkomendasikan untuk pencegahan primer 0,4 mg per hari. Dosis
untuk pencegahan sekunder pada wanita dengan riwayat defek tuba neuralis pada anak
sebelumnnya adalah 4 mg per hari.

Tabel 5. Rekomendasi suplemen makanan

Gaya hidup, olahraga,ringan 20 menit, 5 kali sehari tidak memberikan dampak buruk.
Olahraga dalam kehamilan meningkat denyut jatung (masih aman sampai 140 pada fungsi
jantung yang normal, dapat bervariasi tergantung usia dan toleransi). Direkomendasikan jalan
kaki, berenang dan olahraga lain yang tidak berat. Hindari hipoglikemia, dan dehidarasi.
Tabel 6. Masalah – masalah dalam kehamilan.

Vaksinasi, imunitas terhadap rubella, varisela, hepatitis B, influenza, tetanus dan


pertusis harus dievaluasi saat kunjungan pertama. Pemeberian vaksinasi idealnnya diberikan sebelum
konsepsi. Vaksin rekombinan, inaktivasi dan subunit, serta toksoid dan immunoglobulin tidak
membahayakan perkembangan janin. vaksin yang dilemahkan tidakboleh diberikan selama
kehamilnan. Vaksin hepatitis B aman diberikan saat kehamilan.
Klasifikasi rekomendasi pada ANC menurut HKFM

A = ada bukti yang baik untuk mendukung rekomendasi bahwa kondisi tersebut secara
khusus dipertimbangkan dalam pemeriksaan kesehatan berkala.

B = ada cukup bukti untuk mendukung rekomendasi bahwa kondisi tersebut seacra khusus
dipertimbangkan dalam pemeriksaan kesehatan berkala.

C = kurang bukti yang mendukung sehubung dengan kriteria inklusi atau ekslusi dari kondisi
pemeriksaan kesehatan berkala, tapi rekomen-pertanyaan dapat dibuat berdasarkan alasan
lain.

D = ada cukup bukti untuk mendukung rekomendasi bahwa kondisi tersebut tidak
dipertimbangkan dalam pemerikasaan kesehatan berkala.

E = ada bukti yang baik untuk mendukung rekomendasi bahwa kondisi dikecualikan dari
pertimbangan dalam pemeriksaan kesehatan berkala.

2. Menurut DEPARTEMEN KESEHATAN

KUNJUNGAN PELAYANAN ANTENATAL PERTAMA

Pada kunjungan pertama dimulai dengan anamnesa meliputi : identifikasi ibu,(nama,


nama suami, usia, pekerjaan, agama dan alamat ibu) untuk mengenal ibu hamil dan
menentukan status sosial ekonominya, serta menentukan anjuran dan pengobatan yang
diperlukan. Keluhan utama atau apa yang diderita ibu, apakah ibu datang untuk
memeriksakan kehamilan atau ada masalah lain.riwayat haid, untuk mengetahui faal alat
kandungan. Riwayat kehamilan. Riwayat kehamilan sekarang,meliputi HPHT (hari pertama
haid terakhir), gerak janin (kapan mulai dirasakan ada perubahan), masalah atau tanda-tanda
bahaya (termasuk penglihatan kabur), keluhan-keluhan lazim pada kehamilan, penggunaan
obat-obatan (termasuk jamu-jamuan), kekhawatiran-khawatiran lain yang dirasakan. Dari
informasi riwayat kehamilan yang sekarang ini dapat dipakai untuk membantu dalam
mennetukan usia kehamilan dengan tepat. Setelah mengetahui usia kehamilan yang
diperlukan barulah dapat diberikan konseling tentang kehmailan yang diperlukan dan dapat
juga membantu mendeteksi adanya komplikasi dengan lebih baik.

Riwayat kebidanan yang lalu,meliputi: (1) berapa kali hamil, anak yang lahir hidup,
persalinan tepat waktu, persalinan premature, keguguran atau kegagalan kehamilan,
persalinan dengan tindakan (dengan forcep, vakum ekstraksi atau operasi ceasar). (2)
Perdarahan pada kehamilan, persalinan, kelahiran atau paska persalinan. (3) Persalinan yang
lalu (spontan atau buatan, aterm atau premature, perdarahan, siapa yang menolong. (4)
Riwayat hipertensi. (5) Melahirkan dengan janin dengan BB < 2,5 atau > 4 kg. (6) Nifas dan
laktasi. (7) Bayi yang dilahirkan: jenis kelamin, berat dan panjang badan, hdup atau mati, bila
ati umur berapa dan penyebabnya. (8) Masalah-masalah lain yang dialami. Riwayat
kesehatan (penyakit yang pernah diderita) meliputi : Penyakit kardiovaskuler, TB paru,
Hepatitis B, Diabetes, Hipertensi, PMS atau HIV/AIDS, Malaria, Status imunisasi TT, lain-
lain. Riwayat keluarga meliputi penyakit keturunan, anak kembar, penyakit menular,dll.
Riwayat sosial ekonomi, dan budaya meliputi : Status perkawinan, Riwayat KB, Reaksi
orang tua dan keluarga terhadap kehamilan ini, dukugan keluarga, pengambilan keputusan
dalam keluarga, kebiasaan makan dan gizii yang dikonsumsi (gizi seimbang) dengan
perhatian pada vitamin A dan zat besi, kebiasaan hidup sehat (kebiasaan merokok, minum
obat/alcohol/obat tradisional, olahraga), Beban kerja dan kegiatan sehari-hari, tempat
melahirkan dan penolong yang diinginkan.

Pemeriksaan fisik pada kunjungan antenatal pertama meliputi komponen:


Pemeriksaan luar dan Pemeriksaan dalam. Pemeriksaan luar terdiri dari pemeriksaan umum
dan pemeriksaan kebidanan. Pemeriksaan umum, keadaan umum ibu, keadaan gizi, kelainan
bentuk dada, kesadaran, adakah anemia, sianosis, ikterus, atau dispnu, keadaan jantung dan
paru, periksa suhu, tekanan darah, denyut nadi dan pernapasan, odema, tinggi badan, berat
badan, reflek, pemeriksaan laboratorium sederhana bila ada, untuk kadar Hb, golongan darah,
urine rutin. Pemeriksaan kebidanan, inspeksi, palpasi, auskultasi. Pemeriksaan dalam,
dilakukan pada saat kunjungan pertama pemeriksaan antenatal pada hamil muda dan sekali
lagi pada kehamilan trimester III untuk menentukan keadaan panggul.

Pemeriksaan antenatal ulangan, yang dimaksud yaitu setiap kunjungan pemeriksaan


antenatal yang dilakukan setelah kunjungan pemeriksaan antenatal pertama. Kunjungan ulang
lebih diarahkan untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi, mempersiapkan kelahiran, dan
mendeteksi kegawatdaruratan, pemeriksaan fisik yang terarah serta penyuluhan bagi ibu
hamil. Pemeriksaan antenatal ulangan meliputi : riwayat kehamilan sekarang (gerak janin,
setiap masalah atau tanda-tanda bahaya, keluhan – keluhan lazim dalam kehamilan,
kekhawatiran-kekhawatiran lain), pemeriksaan fisik (berat badan, tekanan darah, pengukuran
tinggi fundus uteri, palpasi abdomen untuk mendeteksi kehamilan ganda, maneuver Leopold
untuk deteksi kedudukan abnormal, bunyi jantung janin, menghitung taksiran berat badan
janin), pemeriksaan laboratorium (khususnya terhadap protein dalam urin, pemeriksan
laboratorium lainnya, dilakukan bilamana ada indikasi).

Pada pemeriksaan harus dilakukan Standar Minimal Pelayanan Antenatal “7T”, yang
terdiri dari: Timbang berat badan, ukur Tekanan darah, ukur Tinggi fudus uteri, pemberian
imunisasi TT (tetanus toxoid) lengkap, pemberian Tablet zat besi, minimal 90 hari selama
kehamilan, Test terhadap penyakit menular seksual,HIV/AIDS dan Malaria, Temu
bicara/(konseling) dalam rangkaian persiapan rujukan. Pemeriksaan selanjutnya, lakukan
pemeriksaan kehamilan mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, diagnosa, terapi, rujuk bila
diperlukan.

Hal-hal yang perlu di perhatikan selama hamil seperti (1) pola makan, yang harus
dipenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, zat lemak, vitamin (vitamin A, B kompleks, C, D,
E), kalsium, zat besi, fosfor, dan air (6-8 gelas perhari), (2) hygiene umum, berupa kebersihan
badan, pakaian, buang air besar, (3) hubungan seks selama kehamilan.
Tabel 7. Ringakasan dan Penilaian pada Ibu Hamil

Tindakan pencegahan yang dapat diberikan pada ibu hamil (1) Tetanus toxoid, setiap
ibu hamil yang belum pernah diberikan imunisasi tetanus harus mendapatkan paling sedikit 2
kali suntikan selama kehamilannya, yaitu pertama pada saat kunjungan pertama dan kedua
kali pada 4 mingu kemudian. Apabila ada waktu, suntikan ketiga dapat diberikan juga. Untuk
mencegah tetanus terhadap bayi baru lahir, dosis terakhir harus diberikan paling lambat 2
minggu sebelum melahirkan.

Tabel 8. Pemberian imunisasi tetanus toxoid lengkap


Selanjutnya, (2) zat besi/iron folate, dapat terpenuhi dengan minum zat besi, dan
makanan dengan gizi seimbang. Makanan yang mengadung zat besi adalah daging, hati dan
jeroan, telur, polong kering, kacang tanah, kacang-kacangan dan sayur berdaun hijau. Tablet
darah yang diberikan kepada setiap ibu hamil aling sedikit 90 tablet, dengan dosis 1 tablet
setiap hari selama kehamilannya (pada saat minum Fe dianjurkan uuntuk tidak minum air
the/kopi dan sangat di anjurkan untuk minum vit C). tablet zat besi mengadung 60 mg zat
besi dan 0,25 mg asam folat.

3. MENURUT PEDOMAN ANTENATAL TERPADU

Pelayanan antenatal terpadu dan berkualitas tahun 2010 secara keseluruhan meliputi: (1)
memberikan pelayanan dan konseling kesehatan termasuk gizi agar kehamilan berlangsung
sehat, (2) melakukan deteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi kehamilan, (3)
menyiapkan persalinan yang bersih dan aman, (4) merencanakan antisipasi dan persiapan dini
untuk melakukan rujukan jika terjadi penyulit/komplikasi, (5) melakukan penatalaksanaan
kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila diperlukan, (6) melibatkan ibu dan keluarganya
terutama suami dalam menjaga kesehatan dan gizi ibu hamil, menyiapkan persalinan dan
kesiagaan bila terjadi penyulit atau komplikasi. Dibawah ini merupakan kerangka konsep
antenatal komprehensif dan terpadu:
Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan
yang berkualitas sesuai standar terdiri dari: 1) Timbang berat badan, Penimbangan berat
badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan
pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama kehamilan
atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan
janin. 2) Ukur lingkar lengan atas (LiLA), Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak
pertama untuk skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energy kronis
disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama
(beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat
melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR). 3) Ukur tekanan darah. Pengukuran tekanan
darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi
(tekanan darah >140/90 mmHg) pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai edema
wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria)
4) Ukur tinggi fundus uteri, Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan
antenatal dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur
kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada
gangguan pertumbuhan janin. Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah
kehamilan 24 minggu. 5) Hitung denyut jantung janin (DJJ), Penilaian DJJ dilakukan pada
akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari
120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin. 6)
Tentukan presentasi janin, Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II
dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk
mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala
janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah
lain. 7) Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT) Untuk mencegah terjadinya tetanus
neonatorum, ibu hamil harus mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil
diskrining status imunisasi TT-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, disesuai dengan
status imunisasi ibu saat ini.
8) Beri tablet tambah darah (tablet besi), Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap
ibu hamil harus mendapat tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak
kontak pertama. 9) Periksa laboratorium (rutin dan khusus) Pemeriksaan laboratorium
dilakukan pada saat antenatal meliputi: Pemeriksaan golongan darah, Hb, protein dalam urin,
pemeriksaan gula darah, pemeriksaan darah malaria, pemeriksaan tes sifilis, HIV, BTA.
Tabel 9. Jenis Pemeriksaan Pelayanan Antenatal Terapadu

4. Menurut WHO tentang ANC Tahun 2016


Pedoman ANC ini mencakup 39 rekomendasi di adopsi dari Guideline Development
Group (GDG), dan 10 rekomendasi yang sudah di setujui oleh Guidelines review committee
(GRC). Rekomendasinnya terdiri dari : intervensi nutrisi, penilaian maternal dan fetal,
tindakan pencegahan, intervensi terhadap gejala fisiologi, intervensi sistem kesehatan untuk
memperbaiki pemanfaatan dan kualitas ANC.

Intervensi nutrisi

Kehamilan membutuhkan diet sehat mencakup asupan yang adekuat dari energy,
protein, vitamin, dan mineral untuk memenuhi kebutuhan maternal dan fetal. Namun, banyak
bagi wanita hamil asupan makan dari sayuran, daging, olahan susu dan buah, sering tidak
mencukupi kebutuhan. Namun, obesitas dan kelebihan berat badan juga berhubungan dengan
hasil kehamilan yang buruk dan banyak wanita yang mengalami peningkatan berat badan saat
hamil. Anemia di kaitkan dengan defisiensi besi, asam folat dan vitamin. Faktor pendukung
utama untuk anemia termasuk infeksi parasit seperti malaria, cacing tambang dan
sistosomiasis, di daerah endemic. Infeksi yang kronik seperti tuberkulosis dan HIV,
hemoglobinopati seperti sickle-cell disease, dapat mendukung terjadinnya severe anemia
(didefinisikan sebagai penurunan Hb < 70g/L). Dalam kehamilan, severe anaemia di
hubungkan dengan peningkatan resiko dari mortalitas maternal dan bayi. Selain
menyebabkan anemia, kekurangan zat besi mempengaruhi penggunaan sumber energi secara
negatif otot dan, dengan demikian, kapasitas fisik dan kerja kinerja, dan juga mempengaruhi
kekebalan tubuh dan morbiditas dari infeksi. Folat (vitamin B9), selain anemia itu
juga terkait dengan cacat tabung saraf janin. defisiensi kalsium berhubungan dengan
peningkatan resiko pre-eklamsia dan defisiensi dari vitamin dan mineral, seperti vitamin
E,C,B6 dan zinc juga berperan dalam terjadinya pre eklamsia.

Konseling tentang makan sehat dan aktivitas fisik Konseling tentang makan sehat dan
menjaga fisik tetap aktif selama masa kehamilan dianjurkan untuk ibu hamil agar tetap sehat
dan mencegah kenaikan berat badan yang berlebihan pada saat kehamilan. Variasi bahan
makanan yang dapat dikonsumsi berupa sayuran hijau, daging, ikan, kacang-kacangan, buah.
Pada kehamilan normal kenaikan berat badan dapat ditemukan pada usia kehamilan lebih dari
20 minggu, tetapi perlu di imbangi dengan Indeks massa tubuh (IMT) menjelang hamil.
Untuk intusisi kedokteran klasifikasi sebagai berikut :

Tabel 10. Pembagian kenaikan berat badan selama kehamilan berdasarkan IMT
Indeks massa tubuh Kenaikan berat badan
Keterangan
(IMT) normal selama kehamilan
< 18,5 kg/m2 Berat badan rendah 12,5 – 18 kg
18,5 – 14,9 kg/m2 Berat badan normal 11,5 – 16 kg
25 – 29,9 kg/m2 Berat badan lebih 7 – 11,5 kg
> 30 kg/m2 Wanita obesitas 5 – 9 kg

Edukasi nutrisi pada asupan energi dan protein, Pada populasi yang kurang gizi,
edukasi nutrisi untuk meningkatkan energi dan protein harian dianjurkan bagi wanita hamil
untuk mengurangi risiko berat badan lahir rendah pada neonatus.Suplemen makanan energi
dan protein, Pada populasi yang kurang gizi, menyeimbangkan suplemen makanan energi
dan protein dianjurkan bagi wanita hamil untuk mengurangi resiko lahir mati pada neonatus
dan usia kehamilan yang kecil. Suplemen berprotein tinggi, Pada populasi yang kurang gizi,
suplemen berprotein tinggi tidak dianjurkan bagi wanita hamil untuk memperbaiki kondisi
maternal dan kondisi perinatal. Supplement besi dan asam folat, Suplemen harian besi dan
asam folat 30 mg sampai 60 mg dan 400 µg (0,4 mg). asam folat di rekomendasikan untuk
wanita hamil dalam mencegah anemia, sepsis nifas, berat badan lahir rendah, dan persalinan
premature. Dikatakan anemia jika hb < 110 g/L. pada trimester pertama dan ketiga batas
ambang Hb untuk diagnosis anemia adalah 110, sedangkan pada trimester kedua batas
ambang Hb adalah 105 g/L. Jika selama kehamilan terdiagnosis anemia maka dosis besi
harian perlu di naikan hingga 120 mg sampai mencapai Hb normal.

Supplement intermiten besi dan asam folat, Supplement intermiten oral besi dan asam
folat 120 mg dan 2800 µg (2,8 mg) dari asam folat perminggu direkomendasikan untuk
memperbaiki kondisi maternal dan neonatal jika besi harian menimbulkan efek samping, dan
di populasi dengan prevalensi antara anemia dan wanita hamil kurang dari 20%. Jika
terdiagnosis anemia maka pemberian dosis besi 120 mg dan pemberian asam folat 0,4 mg,
hingga Hb mencapai normal. Suplemen kalsium, Pada populasi dnegan asupan makanan
rendah kalsium, suplemen harian kalsium (1,5 – 0,2 g kalsium oral) di rekomendasikan untuk
wanita hamil dalam mengurangi resiko pre-eklamsia. Suplemen vitamin A, Suplemen Vitamin
A hanya di rekomendasikan pada wanita hamil di daerah dimana terjadi defisiensi vitamin A
yang merupakan masalah kesehatan yang umum, maka vitamin A dapat diberikan perhari
atau perminggu. WHO menyarankandosis di tingkatkan smpai 10.000 IU per hari atau
ditingkatkan sampai 25.000 IU perminggu. Dosis melebihi 25.000 IU bersifat teratogenik jika
dikonsumsi pada hari 15 sampai 60 dari konsepsi. Pemberiaan vitamin A di berikan untuk
mencegah rabun senja.

Suplemen zinc, Suplemen zinc pada wanita hamil di rekomendasikan pada konteks
penelitian ketat. Suplemen multiple mikronutrisi, Suplemen multiple mikronutrisi tidak di
rekomendasikan untuk wanita hamil dalam perbaikan kondisi maternal dan perinatal
nantinya, Suplemen vitamin B6, Vitamin B6 (piridoksin) tidak direkomendasikan untuk
wanita hamil dan perintal. Suplemen vitamin E dan C, Vitamin E dan C tidak
direkomendasikan untuk wanita hamil dan perintal. Suplemen vitamin D, Suplemen Vitamin
D tidak direkomendasikan untuk wanita hamil dan perintal. Pembatasan asupan caffeine,
Untuk wanita hamil dengan asupan harian kafeein yang tinggi (> 300 mg per hari), asupan
rendah cafein harian selama kehamilan di rekomendasikan untuk mengurangi resiko
pregnancy loss dan berat badan lahir rendah pada neonatus.

Penilaian maternal dan fetal

Penyakit hipertensi dari kehamilan penyebab terpenting dari morbiditas dan mortalitas
maternal dan perinatal, skrining antenatal untuk pre eklamsia merupakan bagian terpenting
dari ANC. Sebagai bagian dari pengembangan pedoman ANC, khususnya yang berkaitan
dengan penilaian ibu, GDG mempertimbangkan bukti dan informasi relevan lainnya
mengenai intervensi untuk mendeteksi kondisi berikut dalam kehamilan. Beberapa
pemeriksaaan yang di rekomendasikan: Diabetes Melitus Gestasional, Hiperglikemia
pertama kali terdeteksi selama kehamilan harus diklasifikasikan sebagai diabetes mellitus
gestasional (GDM) atau diabetes melitus pada kehamilan, sesuai kriteria WHO. Diabetes
mellitus gestasional biasanya terdiagnosis pada kehamilan 24 dan 28 minggu. Penggunaan
Tembakau, Tenaga, Penggunaan Zat, Tenaga kesehatan harus menanyakan pada semua
wanita hamil tentang penggunaan alcohol atau zat lain (riwayat penyakit dahulu maupun
sekarang) yang mungkin terjadi selama kehamilan dan setiap kunjungan antenatal. HIV dan
Sifilis, Tes dan konseling yang dilakukan oleh penyedia layanan (PITC) untuk HIV harus
dianggap sebagai komponen rutin paket perawatan untuk wanita hamil dalam antenatal care.
PITC dapat mempertimbangkan untuk wanita hamil di tempat antenatal care sebagai
komponen kunci dari upaya menghilangkan penularan HIV dari ibu ke bayi dan memperkuat
sistem kesehatan ibu dan anak.

Pemeriksaan pada maternal yang hanya direkomendasikan pada konteks yang spesifik
: Anemia, Tes hitung darah lengkap adalah metode yang disarankan untuk mendiagnosa
anemia pada kehamilan. Jika tes hitung darah lengkap tidak tersedia, pengujian hemoglobin
dengan haemoglobinometer ini direkomendasikan untuk penggunaan skala warna
hemoglobin sebagai metode untuk mendiagnosa anemia pada kehamilan. Bakteriuria
Asimtomatik (ASB), Kultur urin midstream disarankan untuk mendiagnosis bacteriuria
asimtomatik pada kehamilan. Jika Kultur urin midstream tidak tersedia, pemeriksaan gram
pada urin midstream direkomendasikan selama penggunaan tes dipstick sebagai metode untuk
mendiagnosis ASB pada kehamilan. Intimate Partner Violence (IPV), Penyelidikan klinis
tentang kemungkinan Intimate Partner Violence (IPV) harus dipertimbangkan secara serius
pada kunjungan perawatan antenatal saat menilai kondisi yang mungkin disebabkan atau
dipersulit oleh IPV secara berurutan untuk memperbaiki diagnosis klinis dan perawatan
selanjutnya, dimana ada kapasitas untuk memberikan respon yang mendukung (termasuk
rujukan yang tepat) dan dimana persyaratan minimum WHO terpenuhi. Tuberkolosis (TB),
Prevalensi tuberkulosis (TB) pada umumnya populasinya adalah 100/100.000 populasi atau
lebih tinggi, screening sistematis untuk TB aktif harus dipertimbangkan untuk ibu hamil
sebagai bagian dari perawatan antenatal
Penilaian Fetal

Penilaian pertumbuhan dan kesejahteraan janin merupakan bagian penting dari ANC.
GDG mempertimbangkan bukti dan informasi relevan lainnya mengenai intervensi berikut,
untuk menilai pertumbuhan dan kesjahteraan janin pada wanita hamil sehat yang tidak
beresiko mengalami hasil perinatal yang merugikan. Berdasarkan penelitian, Perhitungan
pergerakan bayi perhari (Perhitungan pergerakan bayi perhari seperti dengan "count-to-ten"
kick chart, hanya direkomendasikan dalam konteks pemantauan yang ketat). Pengukuran
Tinggi Simfisis – Fundal (Menggantikan palpasi abdomen dengan pengukuran tinggi simfisis-
fundal (SFH) untuk penilaian janin tidak dianjurkan untuk memperbaiki hasil perinatal)
hanya direkomendasaikan pada konteks yang spesifik. Sedangkan, untuk pemeriksaan
Kardiotopografi (CTG), USG Dopler Pada Pembuluh Darah Janin , pada ANC tidak
direkomendasikan pada wanita hamil dalam hal perbaikan outcome maternal dan perinatal.
Rekomendasi WHO untuk penilaian fetal selama ANC ialah: Ultrasonografi (USG),
pemeriksaan ultrasound sebelum 24 minggu kehamilan direkomendasikan bagi wanita hamil
untuk memperkirakannya usia kehamilan, mendeteksi kelainan kongenital, kehamilan
multipel, mengurangi induksi persalinan pada kehamilan post-term, dan meningkatkan
pengalaman kehamilan wanita.

Tindakan Pencegahan

GDG mempertimbangkan bukti dan informasi relevan lainnya untuk


menginformasikan rekomendasi intervensi antenatal dalam tindakan pencegahan : Antibiotik
Pada Bakteriuria Asimtomatik, Regimen antibiotic selama 7 hari direkomendasikan untuk
semua wanita hamil dengan bacteriuria Asimtomatik untuk mencegah bacteriuria persisten,
kelahiran premature dan berat badan lahir rendah. Vaksin Anti Tetanus untuk semua wanita
hamil tergantung riwayat vaksin TT sebelumnya, untuk mencegah kematian neonatal akibat
tetanus. Jika seorang wanita hamil belum pernah divaksinasi, atau jika status imunasinya
tidak diketahui, dia harus menerima dua dosis vaksin yang mengandung toksin tetanus satu
bulan terpisah dosis kedua diberikan setidaknya dua minggu sebelum melahirkan Dua dosis
melindungi terhadap infeksi tetanus selama 1-3 tahun pada kebanyakan orang. Dosis ketiga
direkomendasikan enam bulan setelah dosis kedua, yang mana harus memperpanjang
perlindungan setidaknya lima tahun. Dua dosis lebih lanjut untuk wanita yang pertama kali
divaksinasi terhadap tetanus selama kehamilan seharusnya diberikan setelah dosis
ketiga,dalam dua tahun berikutnya atau selama dua kehamilan berikutnya.
Jika seorang wanita memiliki 1-4 dosis di masa lalu, dia harus menerima satu dosis selama
setiap kehamilan berikutnya dengan total lima dosis (lima dosis melindungi sepanjang masa
anak-anak).

Hal – hal dalam tindakan pencegahan yang hanya direkomendasikan pada kondisi
spesifik : Antibiotik Profilaksis untuk mencegah infeksi traktus urinarius berulang, Antibiotik
Profilaksis hanya direkomendasikan untuk mencegah infeksi traktus urinarius berulang dalam
konteks pematauan ketat. Profilaksis anti-D immunoglobulin, Profilaksis antenatal dengan
anti-D immunoglobulin tidak sensitive pada wanita hamil dengan rhesus negative pada usia
kehamilan 28 dan 34 minggu. RhD alloimmunization direkomendasikan hanya untuk
pemantauan ketat. Pengobatan antihelmintik, Pada mdaerah endemic pengobatan
antihelmintik direkomendasikan untuk wanita hamil setelah trimester pertama sebagai bagian
dari program pengurangan nutrisi cacing. Pengobatan pencegahan intermiten terhadap
malaria (IPTp), Pada daerah endemic malaria di Afrika, pengobatan pencegahan intermiten
dengan sulfadoksin-primetamin direkomendasikan untuk semua wanita hamil. Dosis dimulai
dari trimester kedua dan harus diberikan setidaknya 1 x perbulan dengan tujuan memastikan
setidaknya ada 3 dosis yang diterima. Pre-exposure Prophylaxis (PrEP) untuk pencegahan
HIV, Pemberian oral Pre-exposure Prophylaxis yang mengandung tenofovir disoproxil
fumarate harus ditawarkan bagi wanita hamil dengan resiko HIV yang besar.

Intervensi terhadap gejala fisiologi yang muncul

Tubuh wanita mengalami perubahan substansial selama kehamilan, yang disebabkan


oleh keduanya efek hormonal dan mekanis. Perubahan ini mengarah untuk berbagai gejala
umum - termasuk mual dan muntah, punggung bawah dan nyeri pelvis, mulas, varises,
konstipasi dan kram kaki - yang masuk. Beberapa wanita menyebabkan ketidaknyamanan
yang parah dan negatif mempengaruhi pengalaman kehamilan mereka. Secara umum, gejala
yang terkait dengan efek mekanis, mis. nyeri panggul, mulas dan varises sering terjadi
memburuk saat kehamilan berlangsung. Intervensi untuk mual muntah yang direkomendasi :
Jahe kamomile, vitamin B6 dan akupuntur direkomendasikan untuk mengurangi mual pada
awal kehamilan berdasarkan pilihan wanita- wanita dan pilihan yang tersedia. Intervensi
untuk rasa terbakar pada dada (heartburn) yang direkomendasi : sarankan diet dan gaya
hidup untuk mencegah dan mengurangi heartburn. Pemberian antasid dilakukan pada wanita
dengan gejala yang berat dan tidak dapat dikurangi dengan modifikasi gaya hidup. Intervensi
untuk kaki kram yang direkomendasi : Magnesium, kalsium dan terapi non farmakologi
dapat digunakan untuk mengurangi gejala kram kaki pada kehamilan.

Intervensi untuk nyeri punggung dan pelvis Rekomendasi : olahraga teratur selama
kehamilan direkomendasikan. Terdapat beberapa pilhan terapi seperti fisioterapi, support belt
(korset) dan akupuntur. Intervensi untuk konstipasi Rekomendasi : Bekatul / suplemen serat
dapat digunakan untuk konstipasi jika kondisi tersebut tidak berespon pada modifikasi diet.
Intervensi untuk varises vena dan edema, Rekomendasi : Terapi non farmakologi seperti
stoking kompresi, elevasi kaki dan water immersion.

Intervensi sistem kesehatan untuk memperbaiki pemanfaatan dan kualitas ANC.

Ada banyak intervensi yang bisa dilakukan dipekerjakan untuk meningkatkan


pemanfaatan dan kualitas ANC tergantung konteks dan settingnya. Untuk Tujuan dari
panduan ini, GDG mempertimbangkan berikut intervensi:
1. Catatan kasus yang dipegang oleh wanita (catatan berbasis rumah)
2. Pola asuhan keperawatan yang dipimpin bidan
3. Kelompok ANC
4. Intervensi berbasis masyarakat untuk memperbaiki diri komunikasi dan dukungan
5. Tugas bergeser
6. Perekrutan dan retensi staf
7. Jadwal kontak ANC.

Cara mengantarkan tipe dan kualitas ANC itu Keinginan wanita adalah bidang penelitian
yang luas dan kompleks. Intervensi yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi staf,
untuk meningkatkan kesejahteraan staf, dan intervensi lainnya (misalnya insentif keuangan)
untuk meningkatkan akses dan penggunaan ANC adalah topik yang luas yang dianggap di
luar lingkup pedoman ini. Ada banyak intervensi yang bisa dilakukan dipekerjakan untuk
meningkatkan pemanfaatan dan kualitas ANC tergantung konteks dan settingnya.

Rekomendasi dari WHO adalah Kartu catatan kehamilan (women held case notes) kartu
kehamilan direkomendasikan tiap ibu hamil membawa tempat catatan sendiri selama
kehamilan untuk kontinuitas, kualitas penanganan dan pengalaman kehamilan. Komponen
Pergeseran Tugas (Task Shifting) pada persalinan ANC, Pergeseran tugas untuk promosi
kesehatan berbasis perilaku untuk bayi dan ibu kepada banyak kader-kader mencakup pekerja
kesehatan, perawat, perawat pembantu, bidan dan dokter direkomendasikan, Pergeseran tugas
untuk distribusi nutrisi yang direkomendasikan, Suplemen dan terapi pencegahan intermiten
dalam kehamilan untuk pencegahan malaria mencakup kader-kader seperti diatas. Jadwal
kontak ANC minimal 8 kali,Kunjungan ANC dimulai sebelum 12 minggu kehamilan,
kunjungan kedua dimuali sekitar 26 minggu, kunjungan ketiga dimualai 32 minggu,
kunjungan keempat antara 36 dan 38 minggu kehamilan. Seteleah itu disarankan untuk
kembali ANC pada 41 minggu kehamilan atau ketika mereka mendapati tanda bahaya.

Rekomendasi pada konteks spesifik yaitu Bidan yang mengarahkan pelayanan yang
berkesinambungan, Bidan atau beberapa grup kecil bidan yang mensupport wanita selama
ANC, intrapartum dan postnatal (terutama untuk wanita hamil dengan bidan). Intervensi
berdasarkan komunitas untuk tingkat komunikasi dan dukungan. Grup ANC, ini
direkomendasikan meurut penelitian: ANC oleh tenaga – tenaga kesehatan profesional
direkomendasikan sebagai alternatif untuk ANC individual oleh penelitian - penelitian dan
menyediakan infrastruktur dan bahan -bahan untuk persalinan. Partisipasi pembelajaran
yang difasilitasi dan siklus aksi dengan grup wanita, Untuk meningkatkan kesehatan ibu dan
bayi terutama di daerah pedesaan dengan akses yang sedikit ke tempat pelayanan kesehatan.
Grup wanita yang berpartisipasi mewakilkan suatu kesempatan bagi wanita untuk
mendiskusikan kebuthan mereka selama kehamilan termasuk menjangkau pelayanan dan
untuk meningkatkan dukungan pada ibu hamil. Mobilisasi komunitas dan kunjungan rumah
Antenatal, Untuk meningkatkan utilisasi ANC dan hasil akhir kesehatan perinatal terutama di
pedesaan yang susah mengakses pelayanan kesehatan. Perekrutan dan penyimpanan staff
pada daerah desa dan terpencil, Pembuat aturan harus mempertimbangkan pedidikan,
peraturan yang ada, keadaaan ekonomi dan intervensi dukungan personal professional untuk
merekrut tenaga kesehatan berkualitas.
Dibawah ini merupakan tabel mapping untuk kontrol ANC menurut WHO 2016.
Daftar pustaka

1. WHO. WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience.


2016
2. Karkata MK, Kristanto H. Panduan penatalaksanaan kasus obstetri. 2012. Himpunan
kedokteran fetomaternal.perkumpulan obstetric ginekologi Indonesia.
3. Departemen kesehatan RI. Pedoman pelayanan antenatal. 2007. Baktihusada.
4. Kementerian kesehatan RI. Pedoman antenatal terpadu. 2010.