Anda di halaman 1dari 20

COPD ( Chronic Obstructive Pulmonary )

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Medikal Bedah

KELOMPOK 3

1. Antik Mufidatus Shofa P1337420316060


2. Muhamad Adytia Setiawan P1337420316066
3. Dwi Puspa Fitri Saputra P1337420316081
4. Sheren Evariani P1337420316093
5. Fauziyah P1337420316096
6. Salsabila Al Mukarromah P1337420316110

Kelas 2 Reguler B

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

PRODI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN

2017
1. Pengertian PPOK

Penyakit paru obstruktif kronik Merupakan suatu istilah yang seting di gunakan
dalam sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan di tandai oleh peningkatan
resisitensi tahap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya ,bronkitis kronik
dan emlisema paru dan asam bronkal membentuk kesatuan yang di sebut COPD .contoh
dari PPOK adalah bronkitis kronik, empisema dan asma .

Bronkitis kronik merupakan gangguan klinis yang di tandai oleh pembentukan


mulkus yang berlrbihan dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk kronik dan
pembentukan sputumselama sedikitnya 3 bulan dalam satu tahunberturut turut

Empisema paru merupakan suatu perubahan anatomis par yang di tandai oleh
pembesaranalveolus dan duktus alveolaris yang tidak normalserta destruksi dinding
alveolar , efisema dapat di diagnsa secara tepat dengan mengunakan CT scan resolusi
tinggi.

Asma merupakan suatu penyakit yang di tandai oleh hipersensitivitas cabang


trankeobronkial terhadap bebrbagai jenis rangsang dan keaadaan ini bermanifestasi
sebagai penyempitan jalan nafas secara periodik dan refersibel akibat bronpospasme

2. Etiologi (penyebab)
Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit Paru Obstruksi Kronik adalah :
 Kebiasaan merokok
 Polusi Udara
 Paparan Debu, asap
 Gas-gas kimiawi akibat kerja
 Riwayat infeki saluran nafas
 Bersifat genetik yakni definisi a-l anti trips
 hemophilus influenza dan strepto coccus pneumonia.
 Usia semakin bertambah faktor resiko semakin tinggi.
 Jenis kelamin pria lebih beresiko dibanding wanita
 Berkurangnya fungsi paru-paru, bahkan pada saat gejala penyakit tidak
dirasakan.
 Infeksi system pernafasan akut, seperti peunomia dan bronkitus
 Asma episodik, orang dengan kondisi ini beresiko mendapat penyakit paru
obstuksi kronik
 Kurangnya alfa anti tripsin.
3. Tanda dan Gejala
 Mempunyai gambaran klinik dominant kearah bronchitis kronis (blue bloater).
 Mempunyai gambaran klinik kearah emfisema (pink puffers).
 Kelemahan badan
 Batuk
 Sesak napas
 Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi
 Mengi atau wheeze
 Ekspirasi yang memanjang
 Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut.
 Penggunaan otot bantu pernapasan
 Suara napas melemah
 Kadang ditemukan pernapasan paradoksal
 Edema kaki, asites dan jari tabuh.
 Dispnea
 pasien terasa tercekik
 pasien mengalami hiperinflamsi
 seputum pasien berwarna keputih putihan
4. Patofisiologi
Faktor-faktor resiko seperti yang telah disebutkan di atas telah akan mendatangkan
proses inplamasi brokus dan juga menimbulkan kerusakan pada dinding bronkiolus
terminal. Akibat dari kerusakan yang timbul akan terjadi obstruksi bronkus kecil atau
bronkiolus terminal, yang mengalami penutupan/obstruksi awal fase ekspirasi. Udara
yang pada saat inspirasi mudah masuk ke dalam alveoli. Saat ekspirasi banyak yang
terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara dan air trapping. Hal inilah
yang menyebabkan adanya keluhan sesak nafas dengan gejala akibat-akibatnya.
Adanya obstruksi dini saat awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan
menimbulkan pemajangan fase ekspirasi. (brunner dan suddarth,2002 : 595)
Selain itu Patofisiologi PPOM adalah sangat komplek dan komprehensif sehingga
mempengaruhi semua sisitem tubuh yang artinya sama juga dengan mempengaruhi
gaya hidup manusia. Dalam prosesnya, penyakit ini bisa menimbulkan kerusakan
pada alveolar sehingga bisa mengubah fisiologi pernafasan, kemudian mempengaruhi
oksigenasi tubuh secara keseluruhan.
Abnormal pertukaran udara pada paru-paru terutama berhubungan dengan tiga
mekanisme berikut ini:
 Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
Hal ini menjadi penyebab utama hipoksemia atau menurunnya oksigenasi dalam
darah.Keseimbangan normal antara ventilasi alveolar dan perfusi aliran darah kapiler
pulmo menjadi terganggu.Peningkatan keduanya terjadi ketika penyakit yang semakin
berat sehingga menyebabkan kerusakan pada alveoli dan dan kehilangan bed kapiler.
Dalam kondisi seperti ini, perfusi menurun dan ventilasi sama. Ventilasi dan perfusi
yang menurun bias dilihat pada pasien PPOM, dimana saluran pernafasan nya
terhalang oleh mukus kental atau bronchospasma. Di sini penurunan ventilasi akan
terjadi, akan tetapi perfusi akan sama, atau berkurang sedikit. Banyak di diantara
pasien PPOM yang baik empisema maupun bronchitis kronis sehingga ini
menerangkan sebabnya mengapa mereka memiliki bagian-bagian,dimana terjadi
diantara keduanya yang meningkat dan ada yang menurun.
 Mengalirnya darah kapiler pulmo
Darah yang tidak mengandung oksigen dipompa dari ventrikel kanan ke paru-paru,
beberapa diantaranya melewati bed kapiler pulmo tanpa mengambil oksigen. Hal ini
juga disebabkan oleh meningkatnya sekret pulmo yang menghambat alveoli.
 Difusi gas yang terhalang
Pertukaran gas yang terhalang biasanya terjadi sebagai akibat dari satu atau dua sebab
yaitu berkurangnya permukaan alveoli bagi pertukaran udara sebagai akibat dari
penyakit empisema atau meningkatnya sekresi, sehingga menyebabkan difusi menjadi
semakin sulit.

5. Komplikasi
a. Hipoksemia
Hipoksemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 <55 mmHg, dengan
nilai saturasi oksigen <85%. Pada awalnya klien akan mengalamimperubahan
mood, penurunan konsentrasi, dan menjadi pelupa. Pada tahap lanjut akan
timbul sianosis.
b. Asidosis Respiratori
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnea). Tanda yang muncul
antara lain nyeri kepala, fatigue, latergi, dizziness, dan takipnea.
c. Infeksi respiratori
d. Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus dan
rangsangan otot polos brakial serta edema mukosa. Terbatasnya aliran udara
akan menyebabkan peningkatan kerja nafas dan timbulnya dispnea.

e. Gagal Jantung
Terutama kor pulmonal (gagal jantungkanan akibat penyakit paru ), harus
diobservasi terutama pada klien dispnea berat. Komplikasi ini sering kali
berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi klien dengan emfisema berat juga
dapat mengalami masalah ini.
f. Kardiak Disritmia
Timbul karena hipoksemi,penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis
respirator.
g. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asma bronchial.
Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan, sering kali tidak
berespon terhadap terapi yang bisa diberikan. Pengunaan aoyo bantu pernafasan
dan distensi vena leher sering kali terlihat pada klien dengan asma. (Somantri,
2009).

6. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan Laboratoium
- Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
 Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari Kristal
eosinopil.
 Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari
cabang bronkus.
 Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
 Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat
mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
- Pemeriksaan Darah
 Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
 Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
 Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.

b. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang
bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah
sebagai berikut:
 Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan
bertambah
 Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen
akan semakin bertambah.
 Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
 Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan
pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen
pada paru-paru.
- Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
- Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi
menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada
empisema paru yaitu :
 perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi
dan clock wise rotation.
 Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB
( Right bundle branch block).
 Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES,
dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.
- Scanning paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi
udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.

- Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling
cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan
dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan
sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan
adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20%
menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator
lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan
diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek
pengobatan. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan
spirometrinya menunjukkan obstruksi.
- Tes fungsi paru
Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah
fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat
disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi. Misalnya bronkodilator.
- Bronkogram
Dapat menunjukkan dilatasi silinder bronkus pada inspirasi; bronkral ada
ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada
bronkitis.
- Sinar x dada
Dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma;
peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/ gula
(enfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis): hasil normal
selama periode remisi (asma).

7. Penatalaksanaan
Pencegahan : mencegah kebiasaan merokok, infeksi dan polusi udara. Terapi
ekserbasi akut dilakukan dengan, antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya
disertai infeksi, ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia,
maka digunakan ampisilin 4 x 0,25 – 0,5 g/hari atau aritromisin 4 x 0,5 g/hari.
Augmentin (amoxilin dan asam klavualat) dapat diberikan jika kuman
penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Laktamase. Pemberian
antibiotik seperti kotrimoksosal, amoksisilin atau doksisilin pada pasien yang
mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan dan
membantu mempererat kenaikan paek flowrate. Namun hanya dalam 7 – 10
hari selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda –
tanda pneumonia, maka dianjurkan antibiotik yang lebih kuat.
a. Terapi jangka panjang dilakukan dengan : antibiotik untuk kemoterapi
preventif jangka panjang, ampisilin 4 x 0,25 – 0,5/hari dapat
menurunkan ekserbasi akut. Bronkodilator tergantung tingkat
reversibilitas obstruksi saluran nafas tiap pasien, maka sebelum
pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif fungsi foal paru.
b. Fisioterapi.
Latiahan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik.
c. Mukolitik dan ekspekteron.
Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagl nafas
Tip II dengan PaO2
d. Rehabilitasi.
Pasien cenderung menemui kesulitan berkerja, merasa sendiri dan
terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari
depresi. Rehabilitasi untuk pasien PPOK/COPD: fisioterapi,
rehabilitasi psikis, rehabilitasi pekerjaan.
ASUHAN KEPERAWATAN (TEORI)

1) Pengkajian
A. Identitas pasien.

Nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama/suku, warga negara, bahasa
yang digunakan, penanggung jawab meliputi: nama, alamat, hubungan dengan pasien.
B. Riwayat atau adanya faktor –faktor penunjang:
1. Merokok produl tembakau (faktor-faktor penyebab utama).
2. Tinggal atau berkerja di area dengan polusi udara berat.
3. Riwayat alergi pada keluarga.
4. Riwayat asma pada masa anak-anak.

C. Riwayat atau adanya faktor-faktor yang dapat mencetus eksaserbasi, seperti alergen
(serbuk, debu, kulit, serbuk sari, jamur), stres emosional, aktivitas fisik berlebihan,
polusi udara, infeksi saluran napas, kegagalan program pengobatan yang dianjurkan.

D. Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajiaan sistem pernapasan (Apendiks A) yang


meliputi:
a. Manifistasi klasik dari PPOM:
- Peningkatan dispenea (paling sering ditemukan).
- Penggunaan otot-otot asesoris pernapasan (retraksi otot-otot abdominal,
mengangkat bahu saat inspirasi, napas cuping hidung).
- Penurunan bunyi napas.
- Takipnea.
- Ortopnea.
b. Gejala-gejal menetap pada proses penyakit dasar:
Asma
- Batuk (mungkin produktif atau nonproduktif), dan perasaan dasar seperti
terikat.
- Mengi saat inspirasi dan ekspirasi, yang sering terdengar tanpa stetoskop.
- Ketakutan dan diaforesis.
c. Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional Gordon.
1. Pola persepsi kesehatan-pemeliharan kesehatan.
Kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami pasien, apa upaya dan
dimana pasien mendapat pertolongan kesehatan, lalu apa saja yang membuat
status kesehatan pasien menurun.
2. Pola nitrisi metabolik.
Tanyakan kepada pasien tentang jenis, frekuensi, dan jumlah pasien makan
dan minum pasien dalam sehari, kaji selera makan berlebihan atau berkurang,
kaji adanya mula muntah ataupun adanya terapi intravena, penggunaan selang
enteric, timbang juga berat badan, lingkaran lengan atas serta hitung berat
badan ideal pasien untuk memperoleh gambaraan status nurisi.
3. Pola eliminasi.
Kaji terhadap rekuensi, karakteristik, kesuliatan/masalah dan juga pemakaian
alat bantu seperti folly kateter, ukur juga intake dan output setiap sift.
Eliminasi proses, kaji terhadap frekuensi, karakteristik, kesulitan/masalah
defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam BAB.
4. Pola aktivitas dan latihan.
Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan
juga penggunaan alat bantu seperti tongkat, kursi roda dan lain-lain. Tanyakan
kepada pasien tentang penggunaan waktu senggang. Adakah keluan pada
pernapasan, jantung seperti berdebar, nyeri dada, badan lemah.
5. Pola tidur dan istirahat.
Tanyakan pada pasien kebiasan tidur sehari-hari, jumlah tidur, tidur siang.
Apakah pasien memerlukan penghantar tidur seperti membaca, minum susu,
menulis, medengarkan musik, menonton telivisi. Bagaiman suasana tidur
pasien apakah terang atau gelap, sering bangun saat tidur dikarenakan oleh
nyeri, gatal, berkemih, sesak dan lain-lain.
6. Pola persepsi kognitif.
Tanyakan kepada pasien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan,
pendengaran. Apakah pasien kesulitan mengingat sesuatu, bagaiman pasien
mengatasi tak nayaman: nyeri, adakah gangguan persepsi sensoris seperti
pengelihatan kabur, pendengaran terganggu, kaji tingkat orientasi terhadap
tempat waktu dan orang.
7. Pola persepsi dan konsep diri.
Kaji tingkah laku mengenai dirinya, apakah pasien pernah mengalami putus
asa/frustasi/stres dan bagaiman menurut pasien mengenai dirinya.

8. Pola peran dan hubungan dengan sesama.


Apakah peran pasien dimasyarakat dan keluarga, bagaiman hubungan pasien
dimasyarakat dan keluarga dan teman, kaji apakah ada gangguan komunikasi
verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain.
9. Pola produksi seksual.
Tanyakan kepada pasien tentang penggunaan kotrasepsi dan permasalahan
yang timbul. Berapa jumlah anak pasien dan status pernikahan pasien.
10. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres.
Kaji faktor yang membuat pasien marah dan tidak dapat mengontrol diri,
tempat pasien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan
selama ini, kaji keadaan pasien saat terhadap penyesuaian diri, ungkapan,
penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri.
11. Pola kepercayaan.
Kaji apakah pasien disering beribadah, pasien menganut agama apa, kaji ada
niliai-nilai tentang agama yang pasien anut bertentangan dengan kesehatan.
2) Diagnosa dan Intervensi
1. Diagnosa keperawatan : kerusakan pertukaran gas
Berhubungan dengan faktor : PPOK
Batasan karakteristik : dispnea, penggunaan otot asesori pernafasan, ronki
kasar, hipoksemia,hiperkapnia, warna kulit sianosis atau keabu-
abuan,mengeluh ortopnea, mengi dan penurunan bunyi

Hasil pasien ( kolaboratif) : mendeminstrasikan perbaikan oksigenasi


Kriteria evaluasi : GDA dalam batas norma, warna kulit membaik, frekuensi
nafas 16-24 permenit, bunyi nafas bersih, tidak ada batuk, tidak ada
ketidaknyamanan dada, frekuensi nadi 60-100 kali/menit, dan menyangkal
dispnea

intervensi rasional

1. Pantau : Untuk mengidentifikasi indikasi


 Status pernapasan ( Apendiks kemajuan atau penyimpangan dari
A) Tiap 4 jam sasaran yang diharapkan. Karena
 Hasil GDA kerusakan permanen yang telah
 Nilai nadi oksimetri terjadi pada sebagian paru PPOK,

 Kadar teofilim serum untuk mengharapkan nilai normal

 Laporan sinar x dada GDA adalah takrealistik

 Hasil tes fungsi sputum dan


pulmonal

2. Berikan obat-obatan yang diresepkan, Bronkodilator dapat membukan


yang meliputi kombinasi dan bronkus; steroid menurunkan
bronkodilator, steroid dan antibiotik. inflamasi bronkial; dan antibiotik
Evaluasi keefektifanya. Jadwalkan menghilangkan infeksi. Efek
obat-obatan untuk mempertahankan teurapetik yang diinginkan dari
konsistensi kadar dalam darah obat ini adalah resolusi dari
manifestasi distres pernapasan.
Mempertahankan kadar konsisten
dalam darah dari obat yang
diresepkan paling baik untuk
menjamin efektivitas terapeutik
maksimum. Kadar teofilin serum
dapat menentukan efek terapautik
agen dasar teofilin

3. Tinjau kembali resep obat-obatan Kombinasi farmakoterapi


untuk menghindari interaksi meningkatkan risiko interaksi dari
merugikan obat dengan obat. Rujuk obat denagn obat. Interaksi yang
referensi farmakologis dan farmalisis merugikan dapat juga berpotensi
bila dibutuhkan mempengaruhi atau menghambat
kerja suatu agen

4. Konsultasi kepada dokter jika gejala Gagal pernapasan akut merupakan


gejala tersebut menetap atau komplikasi utama yang sering
memburuk. Siapkan pasien untuk menyertai PPOK. Ventilasi
dipindahka ke UPI dan untuk mekanis sangat diperlukan untuk
pemasangan ventilasi mekanis, jika membantu pernapasan samapi
terjadi gagal nafas (kemunduran dengan pasien dapat bernaps
status mental, hipksemia berat dan sendiri
hiperkapnia)

5. Berikan oksigen yang dilembabkan Pelembab membantu mengeluarkan


pada kecepatan aliran yang sputum yang menempel di
dianjurkan, biasanya 2L/menit. bronkus dan mencegah
kekeringan pada membran
mukosa.

6. Pertahankan posisi fowlers dengan Posisi tegak dengan lengan abduksi


tangan abduksi dan disokong oleh dan disokong akan memugkinkan
bantal atau duduk condong ke depan ekspansi paru yang lebih baik,
dengan ditahan oleh meja ang dengan mengurangi tekanan
ditempatkan diatas tempat tidur abdomen pada diafragma melalui
gravitasi

7. Dorong pasien untuk mrningkatkan Untuk membantu melepaskan sekresi


masukan cairan sekurang-kurangnya bronkial dan koreksi dehidrasi
3L/hari

8. Hindari penggunaan depresan saraf Obat-obatan tersebut dapat menakn


pusat berlebihan (narkotik dan fungsi sistem pernafasan
sedatif)

9. Anjurkan untuk berhenti merokok Nikotin yang terkandung dalam


tembakau dapat mengakibatkan
vasokontraksi dan kontraksi
bronkus. Disamping itu asap
rokok merupakan alergen yang
dapat menekan fungsi silia
meningkatkan batuk dan dapat
mengakibatkan menurunya persen
SaO2

10. Usahakan suhu ruangan sejuk/ Udara yang sejuk memungkinkan


nyaman bernapas lebih mudsh

2. Diagnosa keperawatan : intoleransi aktivitas

Behubungan dengan faktor : kerusakan pertukaran gas

Batasan karakteristik : nafas pendek, lemah, kelelahan dengan aktivitas fisik


minimal takpnea dengan aktifitas fisik minimal

Kriteria evaluasi : menurunya keluhan tentang napas pendek dan lemah dalam
melaksanakan aktivitas

intervensi Rasional

1. Pantau : Untuk mengidentifikasi kemajuan


 Nadi dan frekuensi nafas atau penyimpangan dari sasaran
sebelum dan sesudah aktivitas yang diharapkan
 Hasil gas darah arteri

2. Lakukan penghematan energi dalam Istirahat memungkinkan untuk


melaksanakan prosedur prosedur sbb : mengumpulkan kembali energi.
 Sediakan interval waktu Makanan dalam porsi besar dan
diantara kegiatan untuuk susah dikunyah memerlukan
memungkinkan istirahat banyak energi
diantara kegiatan. Tingkatkan
aktivitas secara bertahap
sejalan dengan peningkatan
hasil gas darah arteri dan
dapat diantisipasinya tanda
dan gejala dari penekanan
pernapasan
 Berikan makanan dalam porsi
kecil tapi sering dengan
makanan yang mudah
dikunyah

3. Diagnosa keperawatan : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Berhubungan dengan faktor : ketidakcukupan masukan makanan sekunder


terhadap distres pernafasan

Batasan karakteristik : penurunan berat badan, masukan makanan dan cairan


menurun, mengemukakan tidak nafsu makan, kulit kering, turgor kurang baik,
warna urin pekat, ketika makan frekuensi nafas meningkat, secara menyatakan
adanya peningkatan napas pendek pada waktu makan.

Hasil yang diharapakan : mendemonstrasikan adanya kemajuan atau


peningkatan status nutrisi

Kriteria evaluasi : pasien tidak mengalami kehilangan berat badan lebih lanjut
, masukan makanan dan cairan meningkat, urine tidak pekat,haluaran urine
meningkat,membaran mukosa lembab, kulit tidak kering.

intervensi

1. Pantau : Untuk mengidentifikasi adanya


 Masukan dan haluaran setiap kemajuan atau penyimpangan dari
8 jam tujuan yang diharapkan
 Jumlah makan yang
dikonsumsi setiap makan
 Timbang berat badan tiap
minggu

2. Ciptakan suasana yang Bau bauan dan pemandangan yang


menyenangkan, lingjungan yang tidak menyenangkan selama
bebas dari bau selama waktu makan waktu makan dapan menyebabkan
anoreksia

3. Rujuk pasien ke ahli diet, untuk Ahli diet merupakan spesialis yang
memantau merencanakan makanan dapat membantu paseien dalam
yang akan dikonsumsi, jika setiap merencanakan makanan dengan
porsi makanan yang dikonsumsi nutrisi sesuai dengan kebutuhan
selalu kurang dari 30% usianya, sakitnya dan bentuk
tubuh

4. Berikan terapi intravena sesuai Untuk mengatasi masalah sehidrasi


dengan anjuran dan lakukan tindakan karena pasien sering mengurangi
perawatan serta pencegahan. Dorong masukan cairan akibat mengalami
pasien untuk minum minimal 3liter sesak napas
cairan perhari, jika pasien tidak
mendapatkan infus

4. Diagnosa keperawatan : ansietas

Berhubungan dengan faktor : takut kesulitan bernapas selama fase eksaserbasi,


kurang pengetahuan tentang pengobatan yang akan dilaksanakan dan
pemeriksaan diagnostik

Batasan karakteristik : menyatakan perasaan takut kesulitan bernapas,


ekspresi wajah tegang, frekuensi pernapasan diatas 24 kali permenit disertai
dengan takikardi dan sesak napas serta secara mengungkapkan takut sendirian

Hasil pasien : mendemonstrasikan hilangnya ansietas

Kriteria evaluasi : menyangkal rasa sulit bernapas,ekspresi wajah rileks,


frekuensi napasantara 12-24 kalo/menit, frekuensi nadi antara 60-
100kali/menit
intervensi Rasional

1. Selama periode distres pernapasan Tindakan independen tersebut


akut : membanttu pasien untuk
 Buka baju yang terlalu tebal mengontrol keadaanya denagn
dan selimut meningkatkan relaksasi dan
 Mulai pemberian oksigen meningkatkan jumlah udara yang
lewat kanula nasal sebanyak masuk paru-paru
2L/menit
 Demonstrasikan cara untuk
mengontrol pernapasan dan
dorong pasien untuk
melakukanya
 Pertahankan suhu ruangan
yang sejuk
 Pertahankan posisi fowlers

2. Gunakan obat sadatif sesuai dengan Banyak pasien yang membutuhkan


yang diresepkan obat penenang untuk mengontrol
ansietasnya.

5. Diagnosa keperawatan : gangguan konsep diri

Batasan karakteristik : mengungkapan harga diri rendah, rasa tidak berharga ,


mudah tersinggung, depresi, dan mengisolasi diri dari pergaulan sosial

Hasil pasien : pasien dapat adanya penyesuaian diri dengan penyakit yang
dialami

Kriteria evaluasi : berpartisipasi dalam merawat dirinya, menyatakan cara cara


untuk mempertahankan gaya hidup yang memuaskan dalam kondisi sekarang

intervensi Rasional
Anjurkan pasien untuk berpartisipasi Bantuan yang terus menerus sangat
dalam program rehabilitasi paru penting untuk beradaptasi
dimasyarakat bila ada

3) Implementasi
No
Implementasi
Dx
1. Memantau status pernapasan tiap 4 jam, hasil GDA, nilai nadi oksimetri,
kadar teofilin serum.
2. Memberikan obat-obatan yang diresepkan
3. Meninjau kembali resep obat-obatan untuk menghindari interaksi merugikan
obat dengan obat.
4. Mengkonsultasi kepada dokter jika gejala-gejala tersebut menetap atau
memburuk.
1.
5. Mempertahankan posisi fowler dengan tangan abduksi dan disokong oleh
bantal.
6. Memotivasi pasien untuk meningkatkan masukan cairan sekurang-kurangnya
3L/hari.
7. Memotivasi pasien untuk melakukan napas dengan spirometer insentif tiap
2-4jam.
8. Menganjurkan pasien untuk berhenti merokok
1. Memantau nadi dan frekuensi napas sebelum dan sesudah beraktivitas.
2. Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan makanan yang
2. mudah dikunyah.
3. Memberikan bantuan dalam melaksanakan AKS sesuai dengan yang
diperlukan.
1. Memantau masukan dan haluaran tiap 8 jam.
2. Memantau berat badan tiap minggu.
3. Memantau jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.
3.
4. Menciptakan suasana yang menyenangkan, lingkungan yang bebas dari bau
selama waktu makan
5. Melakukan fisioterapi dada dan nebulaiser selambat-lambatnya satu jam
sebelum makan.
6. Memberikan terapi intravena sesuai dengan anjuran dan lakukan tindakan
perawatan serta pencegahan.
1. Mendemonstrasikan cara untuk mengontrol pernapasan dan dorong pasien
untuk melakukannya
2. Mempertahankan suhu ruangan yang sejuk.
4.
3. Mempertahankan posisi fowler dengan posisi lengan menopang dan abduksi.
4. Menggunakan obat sedatif sesuai dengan yang diresepkan tranquuilizer
secara hati-hati.
1. Menganjurkan pasien untuk berpartisipasin dalam program rehabilitasi paru
5.
dimasyarakat bila ada.

4) Evaluasi
1. Menunjukkan perbaikan pertukaran gas dengan menggunakan bronkodilator dan
terapi oksigen sesuai yang diresepkan.
2. Mencapai bersihan jalan nafas
a. Berhenti merokok
b. Meningkatkan masukan cairan hingga 6-8 gelas sehari
c. Melakukan drainase postural dengan benar

3. Memperbaiki pola pernapasan


4. Melakukan aktivitas perawatan diri dalam batasan toleransi
5. Mencapai toleransi aktivitas, dan melakukan latihan serta melakukan aktivitas dengan
sesak napas lebih sedikit.
6. Mendapatkan mekanisme koping yang efektif serta dalam program rehabilitas paru

DAFTAR PUSTAKA
Price, S.A dan Wilson. 2014. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC Buku Kedokteran
Smeltzer, S. C. and Bare, B. G. 2006.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner &Suddarth.Edisi 8 Volume 2.Alih Bahasa H. Y. Kuncara, Monica Ester,
YasminAsih, Jakarta : EGC.
Barbara Egram. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah. Volume 1. Alih
Bahasa Dra. Suharyati Samba,. S.Kp., Jakarta : EGC