Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Gips pada dasarnya merupakan alat untuk menjamin ke akuratan dan kecocokan
dalam membalut, biasanya dipergunakan untuk imobilisasi fraktur, koreksi kelainan
bawaan, pencegahan deformitas, pencegahan kontraktur dan lain sebagainya. Dalam
penggunaan gips harus diperhatikan sejumlah faktor utama, antara lain teknik
pemasangan, personil, perlengkapan yang dibutuhkan dan perawatan. Pemasangan Gips
dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan sirkulasi syaraf, pressure / cast sore,
kekakuan sendi, reaksi alergi yang harus di tangani segera.
Gips adalah alat imobilisasi eksternal yang kaku yang dicetak sesuai kontur dimana
gips ini dipasang. Tujuan pemakaian gips adalah untuk mengimobilisasi bagian tubuh
dalam posisi tertentu dan memberikan tekanan yang merata pada jaringan lunak yang
terletak didalamnya. Dapat digunakan untuk mengimobilisasi fraktur yang telah
direduksi, mengoreksi deformitas, memberikan tekanan merata pada jaringan lunak
dibawahnya, atau memberikan dukungan dan stabilitas bagi sendi yang mengalami
kelemahan. Secara umum, gips memungkinkan pasien sementara membatasi gerakan
pada bagian tubuh tertentu.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan gips?
2. Apa saja tujuan pemasangan gips?
3. Sebutkan jenis – jenis pemasangan gips?
4. Apa saja indikasi pemasangan gips?
5. Apa saja hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips?
6. Apa saja bahan – bahan gips?
7. Apa komplikasi yang berhubungan dengan imobilisasi pada penggunaan gips?
8. Sebutkan teknik pemasangan gips?
9. Sebutkan teknik pelepasan gips?
10. Sebutkan kelebihan pemasangan gips?
11. Sebutkan kekurangan pemasangan gips?
12. Bagaimana perawatan gips?
13. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan pemasangan gips?
1
1.3 TUJUAN
1. Dapat mengetahui definisi gips
2. Dapat mengetahui tujuan pemasangan gips
3. Dapat menyebutkan jenis – jenis pemasangan gips
4. Dapat mengetahui indikasi pemasangan gips
5. Dapat memahami hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips
6. Dapat mengetahui bahan – bahan gips
7. Dapat memahami komplikasi yang berhubungan dengan imobilisasi pada penggunaan
gips
8. Dapat memahami teknik pemasangan gips
9. Dapat memahami teknik pelepasan gips
10. Dapat mengetahui kelebihan pemasangan gips
11. Dapat mengetahui kekurangan pemasangan gips
12. Dapat memahami perawatan gips
13. Dapat memahami asuhan keperawatan klien dengan pemasangan gips

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI
Gips dalam bahasaa latin disebut kalkulus, dalam bahasa ingris disebut plaster of
paris, dan dalam belanda disebut gips powder. Gips merupakan mineral yang terdapat di
alam berupa batu putih tang mengandung unsur kalsium sulfat dan air. Gips adalah alat
imobilisasi eksternal yang kaku yang di cetak sesuai dengan kontur tubuh tempat gips di
pasang (brunner & sunder, 2000).
Gips adalah balutan ketat yang digunakan untuk imobilisasi bagian tubuh dengan
mengunakan bahan gips tipe plester atau fiberglass (Barbara Engram, 1999). Jadi gips
adalah alat imobilisasi eksternal yang terbuat dari bahan mineral yang terdapat di alam
dengan formula khusus dengan tipe plester atau fiberglass. Indikasi pemasangaan gips
adalah pasien dislokasi sendi , fraktur, penyakit tulang spondilitis TBC, pasca operasi,
skliosis, spondilitis TBC, dll
Gips merupakan alat fiksasi untuk penyembuhan patah tulang. Gips memiliki sifat
menyerap air dan bila itu terjadi akan timbul reaksi eksoterm dan gips akan menjadi
keras. Sebelum menjadi keras, gips yang lembek dapat dibalutkan melingkari sepanjang
ekstremitasdan dibentuk sesuai dengan bentuk ekstremitas. Gips yang dipasang
melingkari ekstremitas disebut gipas sirkuler sedangkan jika gips dipasang pada salah
satu sisi ekstremitas disebut gips bidai.

2.2 TUJUAN PEMASANGAN GIPS


Untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga
dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang yang
patah tersebut dalam posisi tertentu dan memberikan tekanan yang merata pada jaringan
lunak yang terletak didalamnya.
a. Imobilisasi kasus pemasangan dislokasia sendi.
b. Fiksasi fraktur yang telah direduksi.
c. Koreksi cacat tulang (misalnya skoliosis).
d. Imobilisasi pada kasus penyakit tulang satelah dilakukan operasi (misalnya
spondilitis)
e. Mengoreksi deformitas.

3
2.3 JENIS – JENIS PEMASANGAN GIPS
Kondisi yang ditangani dengan gips menentukan jenis dan ketebalangips yang
dipasang. Jenis-jenis gips sebagai berikut:
a. Gips lengan pendek. Gips ini dipasang memanjang dari bawah siku sampai lipatan
telapak tanga, dan melingkar erat didasar ibu jari.
b. Gips lengan panjang. Gips ini dipasang memanjang. Dari setinggi lipat ketiak sampai
disebelah prosimal lipatan telapak tangan. Siku biasanya di imobilisasi dalam posisi
tegak lurus.
c. Gips tungkai pendek. Gi[s ini dipasang memanjang dibawah lutut sampai dasar jari
kaki, kaki dalam sudut tegak lurus pada posisi netral,
d. Gips tungkai panjang, gips ini memanjang dari perbatasan sepertiga atas dan tengah
paha sampai dasar jari kaki, lutut harus sedikit fleksi.
e. Gips berjalan. Gips tungkai panjang atau pendek yang dibuat lebih kuat dan dapat
disertai telapak untuk berjalan
f. Gips tubuh. Gips ini melingkar di batang tubuh
g. Gips spika.gipsini melibatkan sebagian batang tubuh dan satu atau dua ekstremitas
(gips spika tunggal atau ganda)
h. Gips spika bahu. Jaket tubuh yang melingkari batang tubuh, bahu dan siku
i. Gips spika pinggul. Gips ini melingkari batang tubuh dan satu ekstremitas bawah
(gips spika tunggal atau ganda)

2.4 INDIKASI PEMASANGAN GIPS


a. Untuk pertolongan pertama pada fraktur (berfungsi sebagai bidai).
b. Imobilisasi sementara untuk mengistirahatkan dan mengurangi nyeri misalnya gips
korset pada tuberkulosis tulang belakang atau pasca operasi seperti operasi pada
skoliosis tulang belakang.
c. Sebagai pengobatan definitif untuk imobilisasi fraktur terutama pada anak-anak dan
fraktur tertentu pada orang dewasa.
d. Mengoreksi deformitas pada kelainan bawaan misalnya pada talipes ekuinovarus
kongenital atau pada deformitas sendi lutut oleh karena berbagai sebab.
e. Imobilisasi untuk mencegah fraktur patologis.
f. Imobilisasi untuk memberikan kesempatan bagi tulang untuk menyatu setelah suatu
operasi misalnya pada artrodesis.

4
g. Imobilisas setelah operasi pada tendo-tendo tertentu misalnya setelah operasi tendo
Achilles.
h. Dapat dimanfaatkan sebagai cetakan untuk pembuatan bidai atau protesa.

2.5 HAL – HAL YANG DIPERHATIKAN


1. Gips yang pas tidak akan menyebabkan perlukaan
2. Gips patah tidak bisa digunakan
3. Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien.
4. Sebelum pemasangan perlu dicatat apabila ada luka
5. Untuk mencegah masalah pada gips :
• Jangan merusak atau menekan gips
• Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips/menggaruk.
• Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama.

2.6 BAHAN – BAHAN GIPS


a. Plester.
Gips pembalut dapat mengikuti kontur tubuh secara halus . gulungan krinolin
diimregasi dengan serbuk kalsium sulfat anhidrus ( Kristal gypsum ). Jika basah
terjadi reaksi kristalisasi dan mengeluarkan panas. Kristalisasi menghasilkan
pembalut yang kaku . kekuatan penuh baru tercapai setelah kering , memerlukan
waktu 24-72 jam untuk mongering. Gips yang kering bewarna mengkilap ,
berdenting, tidak berbau,dan kaku, sedangkan gips yang basah berwarna abu-abu dan
kusam, perkusinya pekak, terba lembab, dan berbau lembab.
b. Nonplester.
Secara umum berarti gips fiberglass, bahan poliuretan yang di aktifasi air ini
mempunyai sifat yang sama dengan gips dan mempunyai kelebihan karna lebih ringan
dan lebih kuat, tahan air dan tidak mudah pecah.di buat dari bahan rajuutan terbuka,
tidak menyerap, diimpregnasi dengan bahan pengeras yang dapat mencapai kekuatan
kaku penuhnya hanya dalam beberapa menit.
c. Nonplester berpori-pori.
Sehingga masalah kulit dapat di hindari. gips ini tidak menjadi lunak jika terkena
air,sehingga memungkinkan hidro terapi. Jika basah dapat dikeringkan dengan
pengering rambut.

5
2.6 KOMPLIKASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN IMOBILISASI PADA
PENGGUNAAN GIPS
a. Rasa sakit akibat tekanan
Rasa sakit dapat timbul akibat tekanan pada tonjolan-tonjolan tulang, berasal
dari permukaan dalam gips yang tidak rata, atau berasal darai takanan benda asing
diantara gips dan tungkai. Gajala yang sering tarjadi adalah selama beberapa hari
penderita mengeluh tidak enak akan tempat keras yang menetap, jika keluhan tersebut
tidak dihiraukan gejala akan berlanjut, kemudian jaringan yang tertekan menjadi
hilang rasa dan mulai mengelupas, dan lapisan gips benoda dan cairan akan
menumpuk dan sekret bertambah banyak.
Cara mengatasi rasa sakit akibat tekanan dengan cara membuat lubang
ventilasi pada gips pada bagian yang dimaksud dengan gergaji gips bersudut dan
kecil. Jika tidak ada ulkus, bersihkan tempat tersebut dan balut, jika terdapat lesi yang
serius, tutupi lubang ventilasi dengan bantalan katun wol yang seragam. Pada semua
kasus, guanakan sepotong gips dan pasanglah pembalut halus diatasnya untuk
menghindari edema dari jaringan lunak yang tidak tersokong didaerah ventilasi.
b. Edema pada distal garis gips
Edema akibat cidera biasanya hilang dalam waktu dua sampai tiga hari dengan
menaikkan tungkai dan melakukan latihan aktif berulang pada sendi-sendi yang tidak
bergips. Jika setelah 2-3 hari edema tidak hilang, mungkin edema tersebut disebabkan
oleh gips yang kencang. Pada kasus demikian, belah gips sepanjang gips dan potong
pembalut atau stockinet sampai ke permuakaan kulit. Usahakan gips membuka 1-2 cm
sepanjang-panjang gips tersebut. Angkat tungkai dan lanjutkan latihan aktif.
c. Kulit melepuh
Kekeringan dan bersisik tidak dapat dihindari pada kulit yang dibungkus gips
karena epitel-epitel yang lepas tidak dapat dibersihkan. Kadang-kadang kulit dapat
alergi tehadap gips dan dapat berkembang menjadi dematitis jika hal ini dibiarkan
akan menimbulkan nyeri hebat dan dermatitis purulenta. Cara mengatasi dengan
pemberian antihistamin, antibiotika sistemik dan mengangkat tungkai dapat
menghilangkan sebagian nyeri dalam waktu 48 jam.
d. Gangren
Terjadinya gangren setelah fraktur biasanya disebabkan oleh kerusakan sistem
vaskular pada tungkai yang cidera, tetapi dengan pengontrolan yang hati-hati terhadap
sirkilasi kapiler (dan denyut nadi jika memungkinkan) baik sebelum atau sesudah
6
pemasangan gips dapat menghindari terjadinya gangren atau kontraktur Volkmann
akibat lilitan yang keras dan tidak diberi bantalan.

2.8 TEKNIK PEMASANGAN GIPS


a. Persiapan Alat
1. Bahan gips dengan ukuran sesuai ekstremitas tubuh yang akan di gips
2. Baskom berisi air biasa (untuk merendam gips)
3. Baskom berisi air hangat
4. Gunting perban
5. Bengkok
6. Perlak dan alasnya
7. Waslap
8. Pemotongan gips
9. Kasa dalam tempatnya
10. Alat cukur
11. Sabun dalam tempatnya
12. Handuk
13. Krim kulit
14. Spons rubs (terbuat dari bahan yang menyerap keringat)
15. Padding (pembalut terbuat dari bahan kapas sintetis)
b. Prosedur Kerja
1. Siapkan klien dan jelaskan prosedur yang akan dikerjakan.
2. Siapkan alat-alat yang akan digunakan untuk pemasangan gips.
3. Daerah yang akan dipasang gips dicukur, dibersihkan, dan dicuci dengan
sabun, kemudian dikeringkan dengan handuk dan diberi krim kulit.
4. Sokong ekstremiras atau bagian tubuh yang akan digips.
5. Posisikan dan pertahankan bagian yang akan di gips dalam posisi yang
ditentukan dokter selama prosedur.
6. Pasang spongs rubbs (bahan yang menyerap keringat) pada bagian tubuh yang
akan dipasang gips, pasang dengan cara yang halus dan tidak mengikat.
Tambahkan bantalan (padding) di daerah tonjolan tulang dan pada jalur syaraf.
7. Masukkan gips dalam baskom berisi air, rendam beberapa saat sampai
gelembung – gelembung udara dari gips harus keluar. Selanjutnya, diperas
untuk mengurangi jumlah air dalam gips.
7
8. Pasang gips secara merata pada bagian tubuh. Pembalutan gips secara
melingkar mulai dari distal ke proksimal tidak terlalu kendur atau terlalu ketat.
Pada waktu membalut, lakukan dengan gerakan bersinambungan agar terjaga
ketumpah tindihan lapisan gips. Dianjurkan dalam jarak yang tetap. Lakukan
dengan gerakan yang bersinambungan agar terjaga kontak yang constant
dengan bagain tubuh.
9. Setelah selesai pemasangan, haluskan tepinya, potong serta bentuk dengan
pemotongan gipa atau cutter.
10. Bersihkan partikel bagian gips dari kulit yang terpasang.
11. Sokong gips selama pengerasan dan pengeringan dengan telapak tangan.
Jangan diletakkan pada permukaan keras atau pada tepi yang tajam dan hindari
tekanan pada gips.

2.9 TEKNIK PELEPASAN GIPS


a. Alat yang diperlukan untuk pelepasan gips
1) Gergaji listrik/pemotongan gips
2) Gergaji kecil manual
3) Gunting besar
4) Baskom berisi air hangat
5) Gunting perban
6) Bengkok dan plastic untuk tempat gips
7) Sabun dalam tempatnya
8) Handuk
9) Perlak dan alasnya
10) Waslap
11) Krim atau minyak
b. Cara pelepasan gips
1) Jelaskan pada klien prosedur yang akan dilakukan.
2) Yakinkan klien bahwa gergaji listrik atau pemotongan gips tidak akan
mengenai kulit.
3) Gips akan dibelah dengan menggunakan gergaji listrik.
4) Gunakan pelindung mata pada klien dan petugas pemotong gips.
5) Potong bantalan gips dengan gunting.
6) Sokong bagian tubuh ketika gips dilepas.
8
7) Cuci dan keringkan bagian yang habis di gips dengan lembut, oleskan krim
atau minyak.
8) Ajarkan klien secara bertahap melakukan aktivitas tubuh sesuai program
terapi.
9) Ajarkan klien agar meninggikan ekstremitas atau menggunakan elastis perban
jika perlu untuk mengontrol pembengkakan.

2.10 KELEBIHAN PEMASANGAN GIPS


a. Mudah didapatkan.
b. Murah dan mudah dipergunakan oleh setiap dokter.
c. Dapat diganti setiap saat.
d. Dapat dipasang dan dibuat cetakan sesuai bentuk anggota gerak.
e. Dapat dibuat jendela/lubang pada gips untuk membuka jahitan atau perawatan luka
selama imobiliasi.
f. Koreksi secara bertahap jaringan lunak dapat dilakukan membuat sudut tertentu.
g. Gips bersifat rediolusen sehingga pemeriksaan foto rontgen tetap dapat dilakukan
walaupun gips terpasang.
h. Merupakan terapi konservatif pilihan untuk menghindari operasi.

2.11 KEKURANGAN PEMASANGAN GIPS


a. Pemasangan gips yang ketat akan memberikan gangguan atau tekanan pada pembuluh
darah, saraf atau tulang itu sendiri.
b. Pemasangan yang lama dapat menyebabkan kekakuan pada sendi dan mungkin dapat
terjadi.
1) Disus osteoporosis dan atrofi
2) Alergi dan gatal-gatal akibat gips
3) Berat dan tidak nyaman dipakai oleh penderita

2.12 PERAWATAN GIPS


a. Gips tidak boleh basah oleh air atau bahan lain yang mengakibatkankerusakan gips.
b. Setelah pemasangan gips harus dilakukan follow up yang teratur, tergantung dari
lokalisasi pemasangan.
c. Gips yang mengalami kerusakan atau lembek pada beberapa tempat, harus diperbaiki.

9
2.13 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PEMASANGAN GIPS
A. PENGKAJIAN
Pengkajian secara umum perlu di lakukan sebelum pemasangan gips terhadap
gejala dan tanda, status emosional, pemahaman tujuan pemasangan gips, dan kondisi
bagian tubuh yang akan di pasang gips. Pengkajian fisik bagian tubuh yang akan di
gips meliputi status neurovaskuler, lokasi pembengkakan, memar, dan adanya abrasi.
Data yang perlu di kaji pasien setelah gips di pasang meliputi:
1. Data subyektif: adanya rasa gatal atau nyeri, keterbatasan gerak, dan rasa panas
pada daerah yang di pasang gips
2. Data obyektif: apakah ada luka di bagian yang akan digips. Misalnya luka operasi,
luka akibat patah tulang; apakah ada sianosis;apakah ada pendarahan ;apakah ada
iritasi kulit;apakah atau bau atau cairan yang keluar dari bagian dari bagian tubuh
yang di gips.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data pengkajian , diagnosis keperawatan utama pada pasien yang
menggunakan gips meliputi:
a. Cemas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan prosedur pemasangan
gips
b. Gangguan rasa nyeri yang berhubungan dengan terpasangnya gips
c. Keterbatasan pemenuhan kebutuhan diri yang berhubungan dengan terpasangnya
gips
d. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan pemasangan gips
e. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya penekanan akibat
pemasangan gips.
f. Kurangnya pengetahuan tentang pembatasan aktifitas, pemeriksaan diagnostik dan
tujuan tindakan yang diprogramkan berhubungan dengan kurangnya informasi
yang akurat pada klien
g. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan ferifer yang berhubungan dengan
respons fisiologis terhadap cederta atau gips restriksi

10
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Cemas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan prosedur pemasangan
gips
Intervensi :
a) Berikan dorongan terhadap tiap-tiap proses kehilangan status kesehatan yang
timbul.
b) Berikan privacy dan lingkungan yang nyaman.
c) Batasi staf perawat/petugas kesehatan yang menangani pasien.
d) Observasi bahasa non verbal dan bahasa verbal dari gejala-gejala kecemasan.
e) Temani klien bila gejala-gejala kecemasan timbul.
f) Berikan kesempatan bagi klien untuk mengekspresikan perasaannya .
g) Hindari konfrontasi dengan klien.
h) Berikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang
mencemaskan klien.
i) Lakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan komunikasi
terapeutik.
j) Anjurkan klien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.
k) Berikan dorongan pada klien bila sudah dapat merawat diri sendiri untuk
meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.
l) Hargai setiap pendapat dan keputusan klien.

b. Gangguan rasa nyeri yang berhubungan dengan terpasangnya gips


Intervensi:
a) Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
b) Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
c) Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan
aktivitas hiburan
d) Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
e) Dorong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan
nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan

11
c. Keterbatasan pemenuhan kebutuhan diri yang berhubungan dengan terpasangnya
gips
Intervensi :
a) Lakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan komunikasi
terapeutik.
b) Anjurkan klien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.
c) Berikan dorongan pada klien bila sudah dapat merawat diri sendiri untuk
meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.
d) Hargai setiap pendapat dan keputusan klien.

d. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan pemasangan gips


Intervensi :
a) Tinggikan ekstrimitas yang sakit
b) Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang
sakit dan tak sakit
c) Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika
bergerak
d) Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
e) Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup
keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan?Awasi teanan daraaah, nadi
dengan melakukan aktivitas
f) Ubah psisi secara periodik
g) Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi

e. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya penekanan akibat


pemasangan gips.
Intervensi:
a) Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainage
b) Monitor suhu tubuh
c) Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol
d) Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
e) Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
f) Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alcohol
g) Gunakan tempat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
12
h) Kolaborasi pemberian antibiotik.

f. Kurangnya pengetahuan tentang pembatasan aktifitas, pemeriksaan diagnostik dan


tujuan tindakan yang diprogramkan berhubungan dengan kurangnya informasi
yang akurat pada klien
Intervensi :
a) Kaji tingkat pengetahuan Klien dan keluarga tentang pembatasan aktifitas,
pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.
b) Berikan penjelasan terhadap klien setiap prosedur yang akan dilakukan
misalnya tentang pembatasan aktifitas, pemeriksaan diagnostik dan tujuan
tindakan yang diprogramkan.
c) Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengekspresikan perasaannya
dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum dipahami.

g. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan ferifer yang berhubungan dengan


respons fisiologis terhadap cederta atau gips restriksi
Intervensi :
a) Observasi ada tidaknya kualitas nadi periver dan bandingkan dengan pulses
normal.
b) Observasi pengisian kapiler, warna kulit dan kehangatannya pada bagian distal
daerah yang fraktur.
c) Kaji adanya gangguan perubahan motorik/sensorik anjurkan klien untuk
mengatakan lokasi adanya rasa sakit/tidak nyaman.
d) Pertahankan daerah yang fraktur lebih tinggi kecuali bila ada kontra indikasi.
e) Kaji bila ada edema dan pembengkakan ekstrimitas yang fraktur.
f) Observasi adanya tanda-tanda ischemik daerah tungkai seperti : penurunan
suhu, dingin dan peningkatan rasa sakit.
g) Observasi tanda-tanda vital, catat dan laporkan bila ada gejala sianosis, dingin
pada kulit dan gejala perubahan status mental.
h) Berikan kompres es sekitar fraktur.
i) Kolaborasi untuk pemeriksaan Laboratorium, foto rontgen, pemberian cairan
parenteral atau transfusi darah bila perlu dan persiapan operasi jika perlu.

13
D. EVALUASI
1. Pasien secara aktif berpartisipasi dlm program terapi
a. Meninggikan eksterimitas yang terkena
b. Berlatih sesuai intruksi
c. Menjaga gips tetap kering
d. Melaporkan setiap masalah yg timbul
e. Tetap melakukan tindak lanjut atau mengadakan perjanjian dgn dokter
2. Melaporkan berkurangnya nyeri
a. Meninggikan ekstremitas yang digips
b. Meroposisi sendiri
c. Menggunakan analgetik oral k/p
3. Memperlihatkan peningkatan kemampuan mobilitas
a. Mempergunakan alat bantu yg aman
b. Berlatih untuk meningkatkan kekuatan
c. Mengubah posisi sesering mungkin
d. Melakukan latian sesuai kisaran gerakan sendi yg tdk tertutup gips
4. Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri
a. Melakukan aktivitas higiene dan kerapihan secara mandiri
b. Makan sendiri secara mandiri
5. Memperlihatkan penyembuhan abrasi dan laserasi
a. Tidak memperlihatkan tanda dan gejala infeksi
b. Memperlihatkan kulit yang utuh saat gips dibuka
6. Terjaganya peredaran darah yang adekuat pada ekstremitas
a. Memperlihatkan warna kulit yang normal
b. Mengalami pembengkakan minimal
c. Mampu memperlihatkan pengisian kapiler yang adekuat
d. Memperlihatkan gerakan aktif jari tangan dan kaki
e. Melaporkan sensasi normal pada bagian yang digips
f. Melaporkan bahwa nyeri dapat dikontrol
7. Tidak memperlihatkan adanya komplikasi
a. Tidak terjadi ulkus akibat tekanan
b. Memperlihatkan pengecilan otot minimal

14
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Gips adalah alat immobilisasi eksternal yag terbuat dari bahan mineral yang terdapat
di alam dengan formula khusus dengan tipe plester atau fiberglass.
2. Untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga dapat
menyatu dan fungsinya pulih kembali.
3. Jenis-jenis pemasangan Gips yaitu Gips lengan pendek, Gips lengan panjang, Gips
tungkai pendek, Gips tungkai panjang, Gips berjalan, Gips tubuh, Gips spika, Gips
spika bahu, dan Gips spika pinggul.
4. Bahan-bahan pemasnagan Gips yaitu Plester, Nonplester, dan Nonplester Berpori-
pori.
5. Komplikasi yang berhubungan dengan imobilisasi pada penggunaan gips yaitu rasa
sakit akibat tekanan, edema pada distal garis gips, kulit melepuh, dan gangren.
3.2 SARAN
Sebaiknya dalam melakukan pemasangan Gips perlu diperhatikan Gips tidak
boleh basah oleh air atau bahan lain karena dapat mengakibatkan kerusakan gips.
Dan setelah pemasangan gips harus dilakukan follow up yang teratur, tergantung dari
lokalisasi pemasangan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 3 . Jakarta :
EGC.
Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah Vol. 3: Jakarta. EGC.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth Edisi 8 Vol 2: Jakarta. EGC.
Suratun dkk (2008). Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal SAK. Jakarta:penerbit buku
kedokteran.

16