Anda di halaman 1dari 4

PEMERINTAH KOTA PEMATANGSIANTAR

DINAS KESEHATAN
UPTD. PUSKESMAS PARDAMEAN
Jl. Mangga Ujung, Kel. Parhorasan Nauli Kec. Siantar Marihat
Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara 21128,
Email : pardameanpuskesmas71@gmail.com

PROGRAM KERJA TB DOTS

I. Pendahuluan
Kasus tuberkulosis (TB) di dunia terus meningkat. Laporan WHO pada tahun 2009
memperkirakan ada 9,4 juta pasien TB. Saat ini merupakan indonesia merupakan
negara dengan kasus TB terbanyak di dunia. Petugas kesehatan yang menangani
pasien TB merupakan kelompok resiko tinggi untuk terinfeksi TB. Pencegahan dan
pengendalian infeksi TB bertujuan untuk mengurangi penularan TB dalam suatu
Populasi. Dasar pencegahan infeksi adalah diagnosis dini cepat tatalaksana TB yang
adekuat. Tujuan pencegahan dan pengendalian infeksi untuk mengurangi penularan
TB dan melindungi petugas kesehatan , pengunjung dan pasien dari penularan TB.
Di tingkat global, Stop TB partnership sebagai bentuk kemitraan global dan
mendukung negara-negara untuk meningkatkan upaya pemberantasan TB,
memepercepat penurunan angka kematian dan kesakitan akibat TB, serta penyebab
TB di seluruh dunia.
Penanggulanganya Penyakit TB dan HIV merupakan komitmen global dan nasional
saat ini dalam upaya mencapai target pembangunan Melenium untuk TB.

II. Latar Belakang


Tuberkulosis ( TB) adalah suatu kan penyakit yang menular , disebabkan oleh kuman
mycobactorium tubereulosis . Sumber penularan adalah dahak yang mengandung
sumber TB. Gejala umum TB pada orang dewasa adalah batuk yang terus menerus
selama 2 minggu atau lebih bila tidak di obati maka selama 5 tahun sebagian besar
(90 %) pasien akan meninggal.
Obat Anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah mula –mula adalah paduan obat
jangka panjang dengan Streptomisin , INH, Pan Amino salistic Acid (PAS) selama
satu sampai dua tahun , selanjutnya sejak 1987 hanya digunakan obat jangka pendek
kombipak yang terdiri dari INR, Rifampisin dana ethambutol dan perzinamide selama
6 bulan.

Kemudian pada tahun 1999 - 2001 mulai dilakukan uji coba penggunaan obat dalam
kombinasi dosis tetap (KDT) di awasi setelah tahun 2002 DAT KDT mulai digunakan
di beberapa propinsi di indonesia ( jawa barat, jawa tengah , jawa timur dan sulawesi
selatan ) dan mulai tahun 2007 , DAT KDT digunakan secara rasional .

Mulai tahun 1995, program pengendali TB mengadopsi strategi DOTS atau Directly
observed treatment shortcourse, yang dikombinasikan oleh WHO.
Strategi dots telah dibuktikan dan berbagai uji coba lapangan dapat memberikan
angka kesembuhan yang tinggi . Bank dunia menyatakan strategi DOTS merupakan
strategi kesehatan yang paling cost effective seorang petugas di fasilitas pelayanan
kesehatan dalam melaksanakan tugasnya seharusnya mempunyai pengetahuan tentang
tuberkolusis , program pengendalian TB, serta hal-hal lain yang mendukung
terselengaranya pelayanan pengendalian TB.

III. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Menurunkan angka keskitan dan kematian akibat TB dalam rangka pencapaian


tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.

2. Tujuan Khusus

- Meningkatkan dan memperluas pemanfaatan strategi/menghentikan akses


terhadap diknosis yang akurat dan pengobatan yang efektif dengan akselerasi
pelaksanaan DOT mencapai target global dalam pengalian TB dan
meningkatkan kotersedial, keterjangkanan dan kualitas obat anti TB.

- Menyusun strategi menghadapi berbagai tantangan dengan cara mengadaptasi


dots mencegah/menangani TB dengan risestensi OAT (MDR-TB) dan
menurunkan dampak TB/HIV

- Mempercepat upaya eleminasi TB dengan cara , meningkatkan penelitian dan


pengembangan berbagai alat diagonostik. Obat dan vaksin baru serta
meningkatkan penerapan metode baru dalam menjamin pemanfaatan dan
keterjangkauanya

IV. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan

1. Kegiat Pokok

Strategi ragional pengendali TB 2011 S/D 2014 mengusung tema, “Terobosan


menuju akses universal” dokumen tersebut disusun dengan mengacu pada
kebijakan pembangunan /nasional 2010 s/d 2014, sistem kesehatan 2009, rencana
strategis rencana global dan regional serta evaluasi perkembangan programen
menuju TB di indonesia.

Dengan tujuan mencapai” menuju , masyarakat bebas masalah TB, sehat, mandiri, dan
berkeadilan “ dikembangkan strategi yang merupakan trobosan akses universal.

- Memperluas dan meningkatkan pelayanan dots yang bermutu.

- Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB,TB-anak dan kebutuhan masyarakat miskin.


- Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, LSM, dan swasta melalui
pendekatan public-private mix (PPM) dan menjamin penerapan internasional
standat POR TB care (ISTC)

- Memberdayakan masyarakat dan pasien TB

- Penyluhan / pendidikan kesehatan terhadap penderita TB.

2. Rincian Kegiatan

Kegiatan program pengendalian TB terdiri dari.

- Tata laksana pasien TB

- Penemuan tersangka

- Diaknosis

- Pengobatan

- Mengukur jadwal kunjungan Pasien TB-DOTS

- Pencatatan dan pelaporan

- Melakukan kerjasama dengan puskesmas setempat,Dinkes TK-II dan dinas kesehatan


propinsi tentang penyuluhan TB-DOTS.

V. Cara Melaksanakan kegiatan.

Tata laksana pasien TB.

a. Pasien mendaftar ke bagian pendaftaran

b. Pasien di Anamnese Dr SP,P

c. Pasien tersangka TB melakukan pemeriksaan BTA di laboratorium dengan cara:

1. Analis melakukan penampungan sputum pasien TB dengan metode SPS.

2. Analisis melakukan pewarnaan metode dan nellsen yaitu:

- Hidupkan bunsen

- Bakar ose cincin kemudian ambil sputum lakukan di atas objek gelas dengan
bentuk lonjong dengan ditetes 3 cm tepi.

- Teteskan fulan pada sediaan

- fiksasi di atas bunsen sampai menguap.

- kemudian cuci dengan air mengalir.

- Lunturkan dengan asam alkohol sampai warna merah hilang.


- teteskan rengen methilea blue diamkan selama 5-10 menit.

- cuci sampai bersih.

- keringkan , di baca dengan miscroscope perbesar 100x.

d. Bila hasil sputum (+) pasien TB di obati dengan OATI .

e. membut jadwal pasien TB dengan memberikan kartu TB O2 berisi jadwal


kunjungan pasien.

f. Seminggu setelah akhir bulan ke 2 di periksa sputum ulang bila negatif diberi OAT
tahap lanjutan selama 4 bulan BTA masih (+) pasien TB di kasih sisipan OAT selama
1 bulan , pada bulan ke tiga sputum kembali di periksa bila BTA positif pasien
dugaan MDR rujuk ke RSU adam malik / Pencatatan dan penerapan pasien TB
dengan mengisi formulir pencataan yaitu.

- Tb. 01 : Jumlah pasien pasien TB yang akan di obati .

- TB. 02 : kartu pasien yang di bawa waktu kunjungan.

- TB. 03 : data pasien untuk 2 bulan 1 tahun.

- TB. 04 : pencatatan labolatorium.

- TB. 05 : Jumlah pasien TB yang di obati.

- TB. 06 : pasilitas ruangan pasien.

- TB. 09 : Rujukan.

- Membuat laporan 3 bulan ke dinas kesehatan.

- Pasien dianjurkan berobat ke tempat yang lebih dekat dari tempat tinggalnya
mis: Puskesmas.

- Sasaran

- Masyarakat kurang mampu / miskin.

- lingkungan kurang sehat.

- Pekerjaan berat.

- Gizi buruk.