Anda di halaman 1dari 14

TUGAS SEJARAH INDONESIA

“PERAN TOKOH PEREDAM


PEMBERONTAKAN DI INDONESIA”

21092016

NAMA : AKBAR BR
KELAS : XII IPS3
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat ridho-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah “TENTANG PERAN TOKOH PEREDAM PEMBERONTAKAN
DI INDONESIA”.

Keberhasilan dalam penyusunan makalah ini mengalami beberapa masalah,namun


berkat bimbingan,arahan,dan dorongan yang di berikan oleh berbagai pihak kepada penulis.

Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,oleh sebab itu kritik
dan saran yang membangun demi kebaikan makalah ini sangat penulis harapkan. Meskipun
demikian,penulis tetap berharap agar makalah ini dapat bermanfaat dan bisa memberikan
sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

PANGKALAN KERINCI, 21 SEPTEMBER 2016,

PENULIS
A.PERAN TOKOH NASIONAL DALAM MENGATASI PEMBERONTAKAN

JENDRAL SUDIRMAN

Jenderal Sudirman. Dikenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia, jasa-jasanya


sangat dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Besar Soedirman
menurut Ejaan Soewandi dibaca Sudirman, Ia merupakan salah satu orang yang memperoleh
pangkat bintang lima selain Soeharto dan A.H Nasution. Jenderal besar Indonesia ini lahir di
Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ayahnya bernama Karsid
Kartawiuraji dan ibunya bernama Siyem. Namun ia lebih banyak tinggal bersama pamannya
yang bernama Raden Cokrosunaryo setelah diadopsi. Ketika Sudirman pindah ke Cilacap di
tahun 1916, ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah dan menjadi siswa yang
rajin serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatan dalam Islam
menjadikan ia dihormati oleh masyarakat. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh
besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya
masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal.Meski menderita sakit paru-paru yang
parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatar belakang seorang guru HIS
Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.Profil dan Biografi Jendral
Besar SudirmanKetika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di
Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya.
Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi
Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).
Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan
dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat
sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.
Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh
pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan
bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela
kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.
Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah
karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan
sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan
terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar
yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati,
Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa,
sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK
(sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat.
Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan
ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa
pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin
tertinggi Angkatan Perang.Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti
pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia
diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.
JENDRAL AHMAD YANI

Jenderal Ahmad Yani. Tokoh satu ini terkenal sebagai salah satu pahlawan Revolusi
Indonesia. Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani lahir di Purworejo, 19 Juni 1922 dan wafat
di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965. Pendidikan formal diawalinya di HIS (setingkat
Sekolah Dasar) Bogor, yang diselesaikannya pada tahun 1935. Kemudian ia melanjutkan
sekolahnya ke MULO (setingkat Sekolah Menegah Pertama) kelas B Afd. Bogor. Dari sana
ia tamat pada tahun 1938, selanjutnya ia masuk ke AMS (setingkat Sekolah Menengah
Umum) bagian B Afd. Jakarta. Sekolah ini dijalaninya hanya sampai kelas dua, sehubungan
dengan adanya milisi yang diumumkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.Achmad Yani
kemudian mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang dan secara
lebih intensif di Bogor.

Dari sana ia mengawali karir militernya dengan pangkat Sersan. Kemudian setelah
tahun 1942 yakni setelah pendudukan Jepang di Indonesia, ia juga mengikuti pendidikan
Heiho di Magelang dan selanjutnya masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di
Bogor.Berbagai prestasi pernah diraihnya pada masa perang kemerdekaan. Achmad Yani
berhasil menyita senjata Jepang di Magelang. Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
terbentuk, ia diangkat menjadi Komandan TKR Purwokerto. ketika Agresi Militer Pertama
Belanda terjadi, pasukan Achmad Yani yang beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan
serangan Belanda di daerah tersebut.

Maka saat Agresi Militer Kedua Belanda terjadi, ia dipercayakan memegang jabatan
sebagai Komandan Wehrkreise II yang meliputi daerah pertahanan Kedu. Setelah Indonesia
mendapat pengakuan kedaulatan, ia diserahi tugas untuk melawan DI/TII (Darul
Islam/Tentara Islam Indonesia) yang membuat kekacauan di daerah Jawa Tengah. Ketika itu
dibentuk pasukan Banteng Raiders yang diberi latihan khusus hingga pasukan DI/TII pun
berhasil dikalahkan. Seusai penumpasan DI/TII tersebut, ia kembali ke Staf Angkatan Darat.
Pada tahun 1955, Achmad Yani disekolahkan pada Command and General Staff
College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA selama sembilan bulan. Pada tahun 1956, ia
juga mengikuti pendidikan selama dua bulan pada Spesial Warfare Course di Inggris. Tahun
1958 saat pemberontakan PRRI terjadi di Sumatera Barat, Achmad Yani yang masih
berpangkat Kolonel diangkat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus untuk
memimpin penumpasan pemberontakan PRRI dan berhasil menumpasnya. Hingga pada
tahun 1962, ia diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat.
Gatot subroto

Setamat pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Gatot Subroto


tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, namun memilih menjadi pegawai. Namun tak
lama kemudian pada tahun 1923 memasuki sekolah militer het Koninklijke Nederlands(ch)-
Indische Leger (KNIL) di Magelang. Sempat menjadi sersan kelas II saat dikirim di Padang
Panjang selama lima tahun, Gatot Subroto kemudian dikirim ke Sukabumi untuk mengikuti
pendidikan lanjutan, pendidikan masose. Gatot Subroto dikenal sebagai tentara yang solider
terhadap rakyat kecil meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda dan
Jepang. Ia dianggap contoh seorang pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya.
Bergabung dengan KNIL membuat Gatot Subroto paham dan mengerti bagaimana seorang
tentara harus bertindak.

Setelah Jepang menduduki Indonesia, serta merta Gatot Subroto pun mengikuti
pendidikan Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer milik Jepang yang merekrut
tentara pribumi untuk berperang, di Bogor. Di sanalah karier Gatot Subroto mulai merangkak
naik. Selepas lulus dari pendidikan Peta, ia diangkat menjadi komandan kompi di Banyumas
sebelum akhirnya ditunjuk menjadi komandan batalyon. Setelah kemerdekaan, Gatot Subroto
memilih masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan kariernya berlanjut hingga dipercaya
menjadi Panglima Divisi II, Panglima Corps Polisi Militer, dan Gubernur Militer Daerah
Surakarta dan sekitarnya.

Gatot Subroto dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meski tengah
bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda dan Jepang. Ia dianggap contoh seorang
pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya. Bergabung dengan KNIL membuat
Gatot Subroto paham dan mengerti bagaimana seorang tentara harus bertindak. Selama
menjabat sebagai komandan kompi dan komandan batalyon, Gatot Subroto dinilai sering
memihak kepada rakyat pribumi. Hal itulah yang sering kali membuat ia ditegur oleh
atasannya.
Namun, bukan berarti sering mendapat teguran dari atasan membuat Gatot Subroto
kapok dan patuh terhadap perintah. Justru hal itulah yang membuat Gatot Subroto
mendapatkan angin segar untuk sekadar 'menakuti dan mengancam' pihak Jepang. Saat itu, ia
mengancam bahwa dirinya mengundurkan diri sebagai komandan kompi dengan
melemparkan atribut senjata perangnya. Melihat tindakan berani Gatot Subroto, atasannya
kemudian meluluskan apa yang dikerjakan Gatot Subroto, yakni memihak pribumi terlebih
rakyat kecil. Ia juga menentang Jepang jika berbuat semena-mena dan kasar terhadap anak
buahnya.

Setelah kemerdekaan Indonesia berhasil didapat, Gatot Subroto kemudian membentuk


Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal nama Tentara Nasional
Indonesia yang ada kini. TKR dipimpin oleh Kol. Sudirman di mana saat itu Gatot Subroto
menjabat sebagai Kepala Siasat dan berganti menjadi Komandan Devisi dengan pangkat
Kolonel setelah prestasinya yang dianggap gemilang dalam pertempuran Ambarawa.

Pada tahun 1948 terdapat Peristiwa Madiun atau Madiun Affairs yang melibatkan
pihak Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Tentara Nasional Indonesia. Pemberontakan
tersebut berada di wilayah Madiun, Jawa Timur, yang kemudian berakhir diatasi dengan baik
oleh TKR di bawah pimpinan Gatot Subroto. Saat melawan PKI, Gatot Subroto melancarkan
operasi militer agar dapat memulihkan keamanan. Di sebelah barat, Gatot yang diangkat
menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta
pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di
bawah pimpinan Kolonel Soengkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur,
tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobil Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di
bawah pimpinan M. Yasin.

Panglima Besar Soedirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat


menumpas pasukan-pasukan pendukung Muso dalam waktu 2 minggu. Memang benar,
kekuatan inti pasukan-pasukan pendukung Muso dapat dihancurkan dalam waktu singkat.
Tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang
datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di hotel Merdeka di
Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos
dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.

Baru pada akhir bulan November 1948 seluruh pimpinan dan pasukan pendukung
Muso tewas atau dapat ditangkap. Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Amir
Syarifuddin Harahap, mantan Perdana Menteri Republik Indonesia, dieksekusi pada 20
Desember 1948 di makam Ngalihan, atas perintah Kol. Gatot Subroto.Tak berbeda jauh
dengan pemberontakan yang ada di Jawa, di Sulawesi Selatan juga terdapat pemberontakan
Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang dipimpin oleh Kahar Muzakar pada tahun
1952. Lagi-lagi karena dinilai pandai dalam memasang strategi, Gatot Subroto diserahi untuk
menumpas pasukan pemberontak dan kembali pulang dengan membawa kemenangan. Tak
hanya sekadar kemenangan, para pemberontak pun juga berhasil dibujuknya agar kembali
dalam barisan TKR. Berkat usahanya tersebut, Gatot Subroto diangkat menjadi Panglima
Tentara & Teritorium (T & T) IV Diponegoro pada tahun yang sama.
Selama memimpin, Gatot Subroto dikenal sebagai pemimpin yang disiplin, tegas,
berani, dan membela kaum yang tertindas. Maka, pada tahun 1953, ketika terjadi kerusuhan
di istana negara akibat tuntutan rakyat atas pembubaran parlemen ditolak, Gatot Subroto yang
dituduh sebagai dalang kerusuhan tersebut langsung mengundurkan diri dari jabatannya
sekaligus dari dinas militer. Pada 1953, ia mengundurkan diri dari dinas militer, namun tiga
tahun kemudian diaktifkan kembali sekaligus diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan
Darat (Wakasad) pada tahun 1956. Melalui tangannya, ia berhasil melumpuhkan
pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia-Perdjuangan Rakjat Semesta
(PRRI/Permesta) yang ada di Sumatera dan Sulawesi Utara.

Pada tanggal 11 Juni 1962, Gatot Subroto meninggal di usia 55 tahun. Pangkat
terakhir yang disandangnya adalah Letnan Jenderal. Ia adalah penggagas akan perlunya
sebuah akademi militer gabungan (Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut) untuk
membina para perwira muda. Gagasan tersebut diwujudkan dengan pembentukan Akademi
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tahun 1965.Melengkapi pangkatnya, seminggu
setelah ia dimakamkan di desa Mulyoharjo, Ungaran, Jogjakarta, gelar Pahlawan
Kemerdekaan Nasional menurut Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.222
tanggal 18 Juni 1962 disematkan kepadanya.melawan kolonialisme Belanda. Tentang
berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal,
Strategy of Guerrilla Warfare. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing,
jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer
dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah mengelak sebagai
konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi. Soalnya, praktik Dwi Fungsi
ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar.

Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul


07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris
tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus
kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas
pemberontakan PKI di Madiun.Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang
pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu
menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar
perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan
Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi
memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan.
Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua
jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).
SARWO EDHI

Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, enam jenderal, termasuk Ahmad Yani diculik
dari rumah mereka dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Sementara proses
penculikan sedang dieksekusi, sekelompok pasukan tak dikenal menduduki Monumen
Nasional (Monas), Istana Kepresidenan, Radio Republik Indonesia (RRI), dan gedung
telekomunikasi.

Hari dimulai seperti biasanya bagi Sarwo Edhie dan pasukan RPKAD yang sedang
menghabiskan pagi mereka di markas RPKAD di Cijantung, Jakarta. Kemudian Kolonel
Herman Sarens Sudiro tiba. Sudiro mengumumkan bahwa ia membawa pesan dari markas
Kostrad dan menginformasikan kepada Sarwo Edhie tentang situasi di Jakarta. Sarwo Edhie
juga diberitahu oleh Sudiro bahwa Mayor Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Panglima
Kostrad diasumsikan akan menjadi pimpinan Angkatan Darat. Setelah memberikan banyak
pemikirannya, Sarwo Edhie mengirim Sudiro kembali dengan pesan bahwa ia akan berpihak
dengan Soeharto. Setelah Sudiro pergi, Sarwo Edhie dikunjungi oleh Brigjen Sabur,
Komandan Cakrabirawa. Sabur meminta Sarwo Edhie untuk bergabung dengan Gerakan
G30S. Sarwo Edhie mengatakan kepada Sabur dengan datar bahwa ia akan memihak
Soeharto.

Pada pukul 11:00 siang hari itu, Sarwo Edhie tiba di markas Kostrad dan menerima
perintah untuk merebut kembali gedung RRI dan telekomunikasi pada pukul 06:00 petang
(batas waktu dimana pasukan tak dikenal diharapkan untuk menyerah). Ketika pukul 06:00
petang tiba, Sarwo Edhie memerintahkan pasukannya untuk merebut kembali bangunan yang
ditunjuk. Hal ini dicapai tanpa banyak perlawanan, karena pasukan itu mundur ke Halim dan
bangunan diambil alih pada pukul 06:30 petang.

Dengan situasi di Jakarta yang aman, mata Soeharto ternyata tertuju ke Pangkalan
Udara Halim. Pangkalan Udara adalah tempat para Jenderal yang diculik dan dibawa ke basis
Angkatan Udara yang telah mendapat dukungan dari gerakan G30S. Soeharto kemudian
memerintahkan Sarwo Edhie untuk merebut kembali Pangkalan Udara. Memulai serangan
mereka pada pukul 2 dinihari pada 2 Oktober, Sarwo Edhie dan RPKAD mengambil alih
Pangkalan Udara pada pukul 06:00 pagi.
PENUTUP
KESIMPULAN

Biografi adalah suatu kisah atau keterangan tentang kehidupan seseorang yang bersumber
pada subjek rekaan (non-fiction / kisah nyata). Sebuah biografi lebih kompleks daripada
sekadar daftar tangga lahir atau mati dan data-data pekerjaan seseorang,tetapi juga
menceritakan tentang perasaan yang terlibat dalam mengalami kejadian-kejadian tersebut
yang menonjolkan perbedaan perwatakan termasuk pengalaman pribadi.

Orang sering memasukkan informasi ke dalam otobiografi yang belum pernah diterbitkan di
tempat lain, atau merupakan hasil dari pengetahuan dari tangan pertama. Informasi semacam
ini mengharuskan pembaca untuk melakukan riset primer untuk dapat memastikannya
sehingga biografi yang disusun benar-benar akurat.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................


DAFTAR ISI............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................
A.PERAN TOKOH NASIONAL DALAM MENGATASI PEMBERONTAKAN..............
1.JENDRAL SUDIRMAN......................................................................................................
2.JENDRAL AHMAD YANI.................................................................................................
3.GATOT SUBROTO..............................................................................................................
4.SARWO EDHI.....................................................................................................................
BAB III PENUTUP.............................................................................................................
KESIMPULAN ...................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

 http://perpustakaancyber.blogspot.com/2014/03/peristiwa-pemberontakan-andi-azis-
di-makassar.html
 http://perpustakaancyber.blogspot.com/2014/03/peristiwa-pemberontakan-republik-
maluku-selatan-rms.html
 http://www.sejarah-negara.com/2013/04/pemberontakan-apra-andi-azis-dan-rms.html
 http://brainly.co.id/tugas/1115000
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................
DAFTAR ISI.........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................
1.LATAR BELAKANG.......................................................................................................
2.RUMUSAN MASALAH..................................................................................................
3.TUJUAN...........................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................
1.PERAN TOKOH DALAM MENGATASI PEMBERONTAKAN..................................
BAB III PENUTUP...............................................................................................................
KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................