Anda di halaman 1dari 12

RINGKASAN

BUDIDAYA TANAMAN TANPA TANAH


“Aeroponik, Vertikultur, Media Tanam”

Oleh:

Nama : Sitti Nurkholifah


Nim : D1B116086
Kelas : A
Minat : Agronomi

JURUSAN/PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
AEROPONIK

A. Pengertian Aeroponik

Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponus yang berarti
daya. Jadi dapat di simpulkan aeroponik adalah memberdayakan dengan udara.
Aeroponik merupakan salah satu media tanam tanpa menggunakan tanah, tetapi
hanya unsur air atau larutan air yang disemburkan dalam bentuk kabut hingga
mengenai akar tanaman.

Pada dasarnya dari budidaya aeroponik adalah untuk tumbuh tanaman


disuspensikan dalam lingkungan tertutup dengan menyemprotkan akar tanaman
menjuntai dan batang bawah dengan solusi, dikabutkan atau disemprot air yang
kaya nutrisi
Idealnya, lingkungan disimpan bebas dari hama dan penyakit sehingga
tanaman dapat tumbuh sehat dan lebih cepat dari pada tanaman yang ditanam di
medium. Namun, karena lingkungan Aeroponik kebanyakan tidak sempurna
tertutup ke luar, hama dan penyakit masih menyebaban ancaman. Terkendali
memajukan pembangunan lingkungan tanaman, kesehatan, pertumbuhan,
berbunga dan berbuah untuk setiap spesies tanaman tertentu dan kultivar.
B. Teknik Aeroponik Sederhana
Pada dasarnya, budi daya secara aeroponik dapat dilakukan sebagai
berikut:
1. Styrofoam yang berbentuk lembaran diberi lubang pada bagian tengahnya
dengan jarak 15 cm.
2. Dengan menggunakan ganjal busa atau rockwool, semaian sayuran
ditancapkan pada lubang tanam. Akar tanaman akan menjuntai bebas ke
bawah.
3. Di bawah helaian styrofoam, terdapat sprinkler yang meyemprotkan kabut
sehingga mengenai akar. Sprinkler ini dijalankan oleh pompa air
bertekanan tinggi secara terus-menerus tanpa henti. Jika pompa berhenti
terlalu lama, lebih dari 15 menit, maka tanaman akan menjadi layu
sehingga diperlukan generator untuk cadangan listrik.
4. Bagian terpenting dalam aeroponik adalah pengikatan oksigen oleh kabut
air sehingga kandungan oksigen untuk respirasi akar akan meningkat.
5. Persyaratan tumbuh untuk aeroponik sama dengan hidroponik.
Sayuran hasil budi daya aeroponik terbukti memunyai kualitas yang baik,
higienis, sehat, segar, beraroma, dan memunyai cita rasa tinggi. Sayuran yang
ditanam secara aeroponik di antaranya caisim, pakcoy, selada, kailan, dan
kangkung. Biasanya sayuran yang ditanam berumur beberapa minggu atau bulan.
Sayuran aeroponik biasanya dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas karena
kualitas dan mutunya yang bagus.
Sejarah ditemukannya cara ini berawal dari penemuan cara hidroponik.
Selanjutnya dikembangkanlah system aeroponik pertama kali oleh Dr. Franco
Massantini di University of Pia, Italia. Di Indonesia, perintis aeroponik secara
komersial adalah Amazing Farm pada tahun 1998 di Lembang (Bandung).
C. Kelebihan dan Kekurangan Sistem Aeroponik
Kelebihan Sistem Aeroponik
 Sistem aeroponik membantu lingkungan dengan menghemat air,
 mengurangi jumlah tenaga kerja manusia yang terlibat.
 Karena akar di udara, tanaman menerima lebih banyak oksigen.
 Oksigen tambahan yang tanaman terima dapat meringankan pertumbuhan
patogen berbahaya.
 Teknik aeroponik membantu lingkungan dengan menghemat air,
mengurangi jumlah tenaga kerja manusia yang terlibat, dan biasanya 100%
aman.
 Tanaman dapat memanfaatkan karbon-dioksida yang kaya oksigen di
udara untuk melakukan fotosintesis.
 Menggunakan, tertutup tanah-kurang lingkungan sangat mengurangi (atau
menghilangkan dengan total tertutup sistem) ancaman terhadap tanaman
seperti penyakit dan hama.
Kekurangan Sitem Aeroponik
1. Membutuhkan biaya yang cukup mahal.
2. Alat ini sangat bergantung pada listrik, jika tidak ada aliran listrik maka
alat ini tidak bisa bekerja.
Contoh Jenis Tanaman Aeroponik
Jenis tanaman yang umumnya ditanam secara aeroponik diantaranya
adalah selada, kangkung dan bayam. Jenis tanaman yang sering dibudidayakan
secara Aeroponik pada umumnya berupa sayuran daun yang waktu panennya
sekitar satu bulan setelah pindah tanam.
VERTIKULTUR

A. Pengertian Vertikultur

Vertikultur berasal dari bahasa Inggris , yaitu vertical dan culture. Arti
vertikultur adalah suatu teknik bercocok tanam diruang sempit dengan
memanfaatkan bidang vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang dilakuan
secara bertingkat.
Vertikultur bisa diartikan sebagai budi daya tanaman secara vertikal
sehingga penanamannya dilakukan dengan menggunakan sistem bertingkat.
Tujuan vertikultur adalah untuk memanfaatkan lahan yang sempit secara optimal .
Sistem bertanam secara vertikultur sekilas memang terlihat rumit, tetapi
sebenarnya sangat mudah dilakukan. Tingkat kesulitan bertanam secara
vertikultur. tergantung kepada model dan sistem tambahan yang dipergunakan.
Dalam model sederhana, struktur dasar yang digunakan mudah diikuti dan bahan
pembuatannya mudah ditemukan, sehingga dapat diterapkan di rumah-rumah.
Sistem tambahan yang memerlukan keterampilan dan pengetahuan khusus,
contohnya penggunaan sistem hidroponik atau drive irrigation (irigasi tetes)
(Temmy, 2003).
Marsema Kaka Mone (2006), menjelaskan bahwa vertikultur merupakan
cara bertanam yang dilakukan dengan menempatkan media tanam dalam wadah-
wadah yang disusun secara vertikal, atau dapat dikatakan bahwa vertikultur
merupakan upaya pemanfaatan ruang ke arah vertikal. Teknik ini berawal dari ide
vertical garden yang dilontarkan oleh sebuah perusahaan benih di Swiss pada
tahun 1944. Popularitas bertanam dengan dimensi vertikal ini selanjutnya
berkembang pesat dinegara Eropa yang beriklim subtropis. Awalnya, sistem
vertikultur digunakan untuk memamerkan tanaman ditanam umum, kebun, atau
didalam rumah kaca (green house).
Setelah ide vertical garden dilontarkan, pemilik rumah kaca komersial di
Guernsey ( The Cannel Islands) dan di inggris mengadaptasi teknik ini untuk
memproduksi strowberi. Bahwa taman vertikal tersebut dapat dibuat dan ditanami
jenis tanaman sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pemiliknya. Lebih lanjut
Temmy (2003), menjelaskan jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan biasanya
adalah tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, berumur pendek atau
tanaman semusim khususnya sayuran, dan memiliki sistem perakaran yang tidak
terlalu luas.

B. Manfaat Bertanam secara Vertikultur

vertikultur sebagai salah satu teknik bertanam memiliki beberapa manfaat


baik dilihat dari unsure seni, unsure kesehatan, maupun unsure perdagangan.
1. Unsur seni
a. Dapat memenuhi kebutuhan rohani
b. Untuk ketentraman jiwa si pemilik
c. Untuk memuaskan bathin bagi orang yang melihatnya.
d. Lebih bersifat psikologis
2. Unsur kesehatan
a. Penting untuk kebutuhan jasmani
b. Sebagai sumber vitamin dan mineral
c. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga
d. Sebagai sumber ptotein nabati
e. Berdampak pada fungsi fisiologis tubuh
3. Unsur perdagangan
a. Hasilnya dapat diperjualbelikan
b. Bermanfaat sebagai mata pencaharian penduduk
C. Kelebihan dan Kekurangan Bertanam secara Vertikultur

Sistem bertanam secara vertikultur memiliki beberapa kelebihan dan


kekurangan. Kelebihannya dapat ditinjau dari segi teknis maupun ekonomis,
sedangkan kekurangannya adalah struktur awalnya membutuhkan investasi yang
cukup besar dan sistem ini rawan dari serangan penyakit. Kekurangan yang
disebabkan rawannya serangan penyakit dapat di atasi dengan teknik budidaya
yang tepat. Sementara itu, kebutuhan investasi yang cukup besar terletak dalam
pembangunan struktur rumah plastik. Namun, sistem ini dapat dimodifikasi untuk
keperluan skala rumah tangga, sehingga biayanya pun dapat disesuaikan.
Contohnya, dengan menempatkannya di teras atau pekarangan yang kondisinya
sesuai dengan pertumbuhan tanaman, sehingga tidak memerlukan struktur rumah
plastik. Karena sebagian besar sistem vertikultur dimanfaatkan dirumah-rumah,
pengendalian hama penyakit tanaman harus dilakukan dengan cara yang tidak
membahayakan penghuninya. Pengendalian hama penyakit secara terpadu dapat
dimanfaatkan sebagai alternatif, yakni menggunakan pestisida alami, sterilisasi
media tanam, pengelolaan air dan sistem drainase yang tepat, serta menjaga
kelembapan disekitar tanaman.

D. Jenis Tanaman Vertikulture

Sebenarnya dengan vertikultur ini bisa menanam berbagai jenis tanaman


misalnya cabai, terong, mentimun, bawang merah, tomat, kemangi, sawi, bayam ,
kangkung dan berbagai jenis sayuran lainnya yang penting tanaman jenis kecil
dengan perakaran pendek. Namun ada pula jenis tanaman yang banyak ditanam
menggunakan teknik vertikulture adalah tanaman sayuran semusim seperti
kangkung, sawi, bayam, seledri, selada dan sayuran lain yang karakteristiknya
hampir sama. Biasanya tanaman sayuran seperti itu akan lebih mudah untuk
dipanen karena system perakarannya tidak terlalu kuat.
MEDIA TANAM

1. Pengertian

Media tanam adalah media / bahan yang digunakan sebagai tempat


tumbuh dan berkembangnya tanaman, baik berupa tanah maupun non tanah.
2. Fungsi
Fungsi media tanam, meliputi :
 Tempat tumbuh dan berkembangnya akar tanaman
 Penopang tanaman dan bonggol agar tumbuh secara baik
 Penyedia unsur hara bagi tanaman
 Penyedia air bagi tanaman
3. Jenis
Berdasarkan jenis bahan penyusunnya,media tanam dibedakan menjadi
bahan organik dan anorganik.
A. Bahan Organik

Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik umumnya


berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti
daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Beberapa jenis bahan organik yang
dapat dijadikan sebagai media tanam, yaitu :
1. Arang
Arang bisa berasal dari kayu atau batok kelapa. Karakteristik : arang
kurang mampu mengikat air dalam jumlah banyak, tidak mudah lapuk, dan miskin
akan unsur hara. Keunikan dari media jenis arang adalah sifatnya yang bufer
(penyangga). Dengan demikian, jika terjadi kekeliruan dalam pemberian unsur
hara yang terkandung di dalam pupuk bisa segera dinetralisir dan diadaptasikan.
2. Batang Pakis
Berdasarkan warnanya, batang pakis dibedakan menjadi 2, yaitu batang
pakis hitam dan batang pakis coklat. Dari kedua jenis tersebut, batang pakis hitam
lebih umum digunakan sebagai media tanam. Batang pakis hitam berasal dari
tanaman pakis yang sudah tua sehingga lebih kering. Karakteristik : media batang
pakis mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta
bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman.
3. Kompos
Kompos merupakan media tanam organik yang bahan dasarnya berasal
dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun,
rumput, dan sampah kota. Karakteristik : kompos mampu mengembalikan
kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik,kimiawi, maupun
biologis. Dikenal 2 peranan kompos yaitu soil conditioner dan soil ameliorator.
Soil condotioner yaitu peranan kompos dalam memperbaiki struktur tanah,
terutama tanah kering, sedangkan soil ameliorator berfungsi dalam memperbaiki
kemampuan tukar kation pada tanah. Kompos yang baik untuk digunakan sebagai
media tanam yaitu yang telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai
dengan perubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak
berbau, memiliki kadar air yang rendah, danmemiliki suhu ruang.
4. Moss
Moss adalah media tanam yang berasal dari akar paku-pakuan.
Karakteristik : moss memiliki banyak rongga sehingga memungkinkan akar
tanaman tumbuh dan berkembang dengan leluasa, mampu mengikat air dengan
baik serta memiliki sistem drainase dan aerasi yang lancar.
5. Pupuk kandang
Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang berasal dari kotoran
hewan. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P),
dan kalium (K)membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media
tanam. Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang
sudah matang dan steril. Hal itu ditandai dengan warna pupuk yang hitam pekat.
Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah
munculnya bakteri atau cendawan yangdapat merusak tanaman.
6. Cocopeat
Cocopeat merupakan media tanam alternatif dari bahan organik sabut
kelapa. Cocopeat diambil dari buah kelapa yang sudah tua dan memiliki serat
yang kuat. Karakteristik : cocopeat mampu mengikat dan menyimpan air dengan
kuat, dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca),
magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P).
7. Sekam
Sekam adalah media tanam yang berasal dari adalah kulit biji padi yang
sudah digiling. Sekam padi yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau
sekam mentah (tidak dibakar). Karakteristik : sekam memiliki sistem drainase
yang buruk dan cenderung miskin akan unsur hara.
8. Humus
Humus adalah segala macam hasil pelapukan bahan organik oleh jasad
mikro. Karakteristik : humus memiliki kemampuan daya tukar ion yang tinggi
sehingga bisa menyimpan unsur hara.
B. Bahan Anorganik
Bahan anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi
yang berasal dari proses pelapukan batuan induk di dalam bumiBerdasarkan
bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan batuan induk dapat
digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu kerikil atau batu-batuan (berukuran lebih
dari2 mm), pasir (berukuran 50 /-1- 2 mm), debu (berukuran 2-50u), dan tanah
liat. Selain itu, bahan anorganik juga bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau
kimia yang dibuat di pabrik. Beberapa media anorganik yang sering dijadikan
sebagai media tanam yaitu :
1. Gel
Gel atau hidrogel adalah media tanam yang berasal dari kristal-kristal
polimer yang sering digunakan untuk tanaman hidroponik. Penggunaan media
jenis ini sangat praktis dan efisien karena tidak perlu repot-repot untuk mengganti
dengan yang baru, menyiram, atau memupuk.
2. Pasir
Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan
fungsi tanah. Karakteristik : pasir memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori
makro) sehingga mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan.
3. Kerikil
Pada dasarnya, penggunaaan kerikil sebagai media tanam tidak jauh
berbeda dengan pasir. Hanya saja, kerikil memiliki pori-pori makro lebih banyak
daripada pasir.
4. Pecahan batu bata
Pecahan batu bata juga dapat dijadikan sebagai media tanam alternatif.
Karakteristik : pecahan batu bata miskin hara dan tidak mudah lapuk.
5. Spons (floralfoam)
Spons dimanfaatkan sebagai media tanam anorganik. Dilihat dari sifatnya,
spons sangat ringan sehingga mudah dipindah-pindahkan dan ditempatkan di
mana saja. Namun, penggunaannya tidak tahan lama karena bahannya mudah
hancur.
6. Tanah liat
Tanah liat merupakan jenis tanah yang bertekstur paling halus dan lengket
atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki poripori berukuran
kecil (pori- pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran
besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang cukup
kuat dan miskin unsur hara.
7. Vermikulit dan perlit
Vermikulit adalah media anorganik steril yang dihasilkan
dari pemananasan kepingan-kepingan mika serta mengandung potasium dan
hilum. Karakteristik : vermikulit memiliki kemampuan kapasitas tukar kation
yang tinggi, terutama dalam keadaan padat dan pada saat basah.Vermikulit dapat
menurunkan berat jenis, dan meningkatkan daya serap air jika digunakan sebagai
campuran media tanaman.
Perlit merupakan produk mineral berbobot ringan serta memiliki kapasitas tukar
kation dan daya serap air yang rendah. Sebagai campuran media tanam, fungsi
perlit sama dengan vermikulit, yaitu menurunkan berat jenis dan meningkatkan
daya serap air.
8. Gabus (styrofoam)
Styrofoam merupakan bahan anorganik yang terbuat dari kopolimer styren
yang dapat dijadikan sebagai alternatif media tanam.