Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kematian Ibu dan Angka Kematian Perinatal di Indonesia masih sangat
tinggi, dilihat pada tahun 2007 AKI di Indonesia tercatat 228 per 100.000
kelahiran hidup. Target yang diharapkan adalah 102 per 100.000 kelahiran
hidup pada tahun 2015 (Atmawiraka, 2010). Yang menjadi sebab utama
kematian ibu di Indonesia disamping pendarahan adalah pre-eklampsia atau
eklampsia dan penyebab kematian perinatal yang tinggi.
Pre-eklampsi ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan. Pada kondisi berat pre-eklamsia
dapat menjadi eklampsia dengan penambahan gejala kejang-kejang.
Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan kesatuan penyakit, yakni yang
langsung disebabkan oleh kehamilan, walaupun belum jelas bagaimana hal ini
terjadi, istilah kesatuan penyakit diartikan bahwa kedua peristiwa dasarnya
sama karena eklampsia merupakan peningkatan dari pre-eklamsia yang lebih
berat dan berbahaya dengan tambahan gejala-gejala tertentu. Pre-eklampsia
berat dan eklampsia merupakan risiko yang membahayakan ibu di samping
membahayakan janin melalui placenta. Setiap tahun sekitar 50.000 ibu
meninggal di dunia karena eklampsia. Insidens eklampsia di negara
berkembang berkisar dari 1:100 sampai1:1700.
Beberapa kasus memperlihatkan keadaan yang tetap ringan sepanjang
kehamilan. Pada stadium akhir yang disebut eklampsia, pasien akan
mengalami kejang, Jika eklampsia tidak ditangani secara cepat akan terjadi
kehilangan kesadaran dan kematian karena kegagalan jantung, kegagalan
ginjal, kegagalan hati atau perdarahan otak. Oleh karena itu kejadian kejang
pada penderita eklampsia harus dihindari. Karena eklampsia menyebabkan
angka kematian sebesar 5% atau lebih tinggi.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1
1) Bagaimana konsep teori pre-eklampsia dan eklampsia dalam kasus
kegawatdaruratan obstetric gynecology?
2) Bagaimana konsep asuhan keperawatan pre-eklampsia dan eklampsia
dalam kasus kegawatdaruratan obstetric gynecology?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Tujuan Umum
Mampu memahami masalah kegawatdaruratan yaitu pre-eklampsia dan
eklampsia serta hipertensi dalam kehamilan.
b. Tujuan Khusus
1. Mengenali gejala dan tanda hipertensi karena kehamilan dan menentukan
diagnosa yang paling mungkin dalam hubungan dengan hipertensi yang dipicu
oleh kehamilan dan hipertensi kronik pada ibu hamil.
2. Melakukan penatalaksanaan pre-eklampsia dan eklampsia dan hipertensi
kronik pada ibu hamil.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menambah pengetahuan mengenai kegawatdaruratan yaitu pre-eklampsia dan
eklampsi dan hipertensi dalam kehamilan
2. Mengetahui penanganan kegawatdaruratan pre-eklampsia dan eklampsi
dan hipertensi dalam kehamilan

2
BAB II
PEMBAHASAN

I. KONSEP TEORI
A. PENGERTIAN

Preeklampsia merupakan tekanan darah > 140/90 mmHg yang timbul setelah 20
minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. Menurut Cunningham (2011) kriteria
minimum untuk mendiagnosis preeklampsia adalah adanya hipertensi disertai
proteinuria minimal.
Preeklampsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan proteinuria,
edema, atau kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke-20 atau
kadang-kadang timbul lebih awal bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas
pada vili dan korialis (Mitayani, 2011).
Preeklampsia adalah sindroma khusus kehamilan yang ditandai dengan derajat
ketidakseimbangan plasenta dan respons ibu yang mencakup inflamasi sistemik.
Sebagian besar mempertimbangkan hipertensi dan proteinuria sebagai ciri
preeklampsia, namun manifestasi klinis sindrom ini sangat heterogen (James et al,
2011).
Eklampsia merupakan serangan konvulsi yang mendadak atau suatu kondisi yang
dirumuskan penyakit hipertensi yang terjadi oleh kehamilan, menyebabkan kejang
dan koma (Kamus Istilah Medis: 163, 2011).

B. ETIOLOGI
Penyebab preeklampsia sampai sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak
teori yang mencoba menerangkan sebab penyakit tersebut, tetapi tidak ada yang
memberikan jawaban yang memuaskan. Teori yang dapat diterima menerangkan
sebagai berikut:
a. Sering terjadi pada primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion, dan
molahidatidos.
b. Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan.
c. Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan ibu dengan kematian janin dalam
uterus.
d. Sebab jarangnya terjadi eklampsia pada kehamilankehamilan berikutnya.
3
e. Sebab timbul hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma.

Teori-teori pada saat ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeclampsia ialah
iskemia plasenta. Faktor resiko preeclampsia antara sebagai berikut :
a. Primigravida, terutama primigravida tua dan primigravida muda.
b. Kelompok sosial ekonomi rendah.
c. Hipertensi esensial.
d. Penyakit ginjal kronis (menahun/terus menerus)
e. DM (diabetes melitus)
f. Multipara
g. Pohidramnion
h. Obesitas
i. Riwayat preeklampsia pada kehamilan yang lalu dalam keluarga (Mitayani,
2011).

Menurut Maryunani (2016), penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan
pasti penyebabnya. Frekuensi meningkat pada ibu dengan:
a. Sering terjadi pada primigravida, hidramnion, dan molahdatidosa.
b. Molahidatidosa
c. Gemeli
d. Umur > 35 tahun
e. Gizi buruk dan anemia
f. Riwayat pre-eklampsia pada kehamilan yang lalu dalam keluarga.

C. TANDA-TANDA DAN GEJALA


Dua gejala objektif yang sangat penting pada pre-eklampsia yaitu hipertensi
dan proteinuria yang biasanya seperti:
a. Kenaikan berat badan dan edema :
1) Peningkatan berat badan yang tiba-tiba mendahului serangan pre-eklampsia
dan bahkan kenaikan berat badan yang berlebihan merupakan tanda pertama
preeklampsia pada sebagian wanita.

4
2) Peningkatan berat badan terutama disebabkan karena retensi cairan dan selalu
dapat ditemukan sebelum timbul gejala edema yang terlihat jelas, seperti
kelopak mata yang bengkak atau jaringan tangan yang membesar.
b. Hipertensi
1) Peningkatan tekanan darah merupakan tanda awal yang penting pada pre-
eklampsia.
2) Tekanan diastolic merupakan tanda prognostic yang lebih andal dibandingkan
dengan tekanan sistolik.
3) Tekanan diastolik sebesar 90 mmHg atau lebih yang terjadi terus-menerus
menunjukan keadaan abnormal.
c. Proteinuria
1) Pada preeklampsia ringan, proteinuria hanya minimal dan positif satu, positif
dua tidak sama sekali.
2) Pada kasus berat, protenuria dapat ditemukan dan mencapai 10 g/dl.
3) Proteinuria hampir selalu timbul kemudian dibandingkan hipertensi dan
kenaikan berat badan.

Gejala-gejala subyektif yang dapat ditemukan pada pasien dengan pre-


eklampsi:
a. Nyeri kepala.
b. Nyeri epigastrium:
1) Merupakan keluhan yang paling sering ditemukan pada preeklampsian berat.
2) Keluhan ini disebabkan karena tekanan pada kapsula hepar akibat edema atau
perdarahan.
c. Gangguan penglihatan.

Sedangkan menurut Marmi, dkk. (2011) menyatakan tanda-tanda Pre-


Eklampsi biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan, di
ikuti oedema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada Pre-Eklampsi ringan tidak
ditemukan gejala-gejala subyektif, pada Pre-Eklampsi ditemukan sakit kepala di
daerah frontal, skotoma, diploma, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium,
mual dan muntah-muntah.

5
Berdasarkan klasifikasinya, adapun tanda dan gejala pre-eklampsi adalah
sebagai berikut:
1. Preeklampsi
a. Preeklampsia Ringan
Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan
edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah kehamilan.
Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit
trofoblas. Preeklampsia dikatakan ringan apabila ditemukan tanda-tanda
dibawah ini:
a) Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, yaitu kenaikan diastolik 15
mmHg atau lebih, dan kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih.
b) Edema umum, kaki, jari, tangan, dan wajah atau kenaikan BB 1 kg atau
lebih per minggu.
c) Proteinuria kuantitatif 0,3 gram atau lebih per liter, kualitatif 1+ atau 2+
pada urine kateter / midstream

b. Preeklampsia Berat
Pre-eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai
dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria
dan edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Preeklampsia dikatakan
berat apabila ditemukan satu atau lebih tanda-tanda di bawah ini:
a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
b) Proteinuria 5 gram atau lebih per liter.
c) Oliguria jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.
d) Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di
epigastrium.
e) Ada edema paru dan sianosis (Maryunani, 2016).
Dapat disertai keterlibatan organ lain:
1) Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati
2) Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas
3) Sakit kepala , skotoma penglihatan
4) Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion

6
c. Superimposed preeklampsia pada hipertensi kronik
1) Ibu dengan riwayat hipertensi kronik (sudah ada sebelum usia kehamilan
20 minggu)
2) Tes celup urin menunjukkan proteinuria >+1 atau trombosit <100.000
sel/uL pada usia kehamilan > 20 minggu (Kementerian kesehatan RI,
2013)

7
Resiko cedera
pada ibu

8
D. PATOFISIOLOGI

Pada preeklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan


retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme yang hebat pada
arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus lumen arteriola sedemikian
sempitnya sehingga hanya dapat dilalui satu sel darah merah. Jadi, jika semua
arteriola dalam tubuh mengalami spesme, maka tekanan darah dengan
sendirinya akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer
agar oksigenasi jaringan dapat tercukupi.
Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan
penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstisial belum diketahui
sebabnya, ada yang mengatakan di sebabkan oleh retensi air dan garam.
Proteinuria mungkin disebabkan oleh spasme arteriola, sehingga terjadi
perubahan pada glomerulus belum diketahui sebabnya, ada yang mengatakan
di sebabkan oleh retensi air dan garam. Proteinuria mungkin disebabkan oleh
spasme arteriola, sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Mitayani,
2011).
Berdasarkan perjalanan penyakit teori 2 tahap, preeklampsia dibagi
menjadi 2 tahap penyakit tergantung gejala yang timbul. Tahap pertama
bersifat asimtomatik (tanpa gejala), dengan karakteristik perkembangan
abnormal plasenta pada trimester pertama. Perkembangan abnormal plasenta
terutama proses angiogenesis mengakibatkan insufisiensi plasenta dan
terlepasnya material plasenta memasuki sirkulasi ibu.

9
Terlepasnya material plasenta memicu gambaran klinis tahap 2, yaitu
tahap simtomatik (timbul gejala). Pada tahap ini berkembang gejala hipertensi,
gangguan renal, dan proteinuria, serta potensi terjadinya sindrom HELLP,
eklamsia dan kerusakan end organ lainnya.
Sindroma HELLP adalah pre eklampsia dan eklampsia yang disertai
dengan adanya hemolisis, peningkatan enzim hepar, disfungsi hepar dan
trombositopenia. (H = Hemolisis; EL = Elevated Liver Enzim; LP = Low
Platelets Count).
Klasifikasi sindroma HELLLP :
1. Klasifikasi missisippi
Kelas I : Trombosit 50.000/ml atau kurang; serum LDH 600.000 IU/l
atau lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih.
Kelas II : Trombosit lebih 50.000 sampai 100.000/ml; serum LDH
600.000 IU/l atau lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih.
Kelas III : Trombosit lebih 100.000 sampai 150.000/ml; serum LDH
600.000 atau lebih; AST dan/atau ALT 40 IU/l atau lebih.
2. Klasifikasi Tennese
Kelas lengkap: Trombosit kurang 100.000/ml; LDH 600.000 IU/l
atau lebih; AST 70 IU/l atau lebih.
Kelas tidak lengkap : Bila ditemukan 1 atau 2 dari tanda-tanda diatas.

Dua fakta klinis tersebut menuntun pada hipotesis kuat bahwa plasenta
memegang peranan penting dalam patogenesis preeklampsia. Terapi paling
efektif dari preeklampsia adalah dengan melahirkan plasenta. Selain itu bila
plasenta berkembang berlebihan (hiperplasentosis), misalnya pada mola
hidatidosa atau gemeli, seringkali berkembang menjadi preeklampsia berat.
Hal tersebut didukung oleh pemeriksaan patologi bahwa pada plasenta dengan
preeklampsia terdapat infark luas, sklerosis yang menyebabkan penyempitan
arteri dan arteriol serta terdapat remodeling yang in adekuat pada arteri
spiralis.

Pada tahap asimtomatik meskipun gejala klinik belum terlihat, tetapi


pemeriksaan tertentu dapat mengidentifikasi perubahan yang terjadi.

10
Pemeriksaan USG doppler arteri uterina dapat menilai adanya perubahan pada
aliran darah yang disebabkan karena peningkatan resistensi vaskular sebelum
gejala klinis timbul. Selanjutnya peningkatan vasokontriksi ateri uterina akan
menimbulkan hipertensi, proteinuria, dan endoteliosis glomerular. Gejala-
gejala tersebut yang mendukung untuk ditegakkannya diagnosis preeklampsia,
dan merupakan suatu tahap kedua atau preeklampsia dengan manifestasi gejala
klinik. Sehingga adanya ganguan histologi, fungsi, dan metabolisme plasenta
diduga sangat besar peranannya pada patofisologi preeklampsia (Pribadi,
DKK. 2015).
Gangguan berat fungsi kardiovaskular yang normal umum terjadi pada
preeklamsia atau eklamsia. Ini terkait dengan:
1. Afterload jantung meningkat yang disebabkan oleh hipertensi
2. Preload jantung, yang secara substansial dipengaruhi oleh
hipervolemiapada kehamilan
3. Aktivasi endotel dengan ekstravasasi cairan intravaskular ke
ruangekstraseluler, dan yang terpenting, ke dalam paruparu.Selama
kehamilan normal, terjadi peningkatan masa ventrikel, tetapi tidak
ada bukti yang meyakinkan bahwa terjadi perubahan struktural
tambahan yang disebabkan oleh preeklamsia (Hibbard, DKK. 2009).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Maternal
a) Asam urat
Hipertensi yang disertai peningkatan asam urat berhubungan dengan
PJT. Hiperurikemia merupakan tanda dini penyakit karena terjadi
penurunan klirens asam urat sebelum penurunan filtrasi glomerular
filtration rate (GFR) ginjal terjadi. Peningkatan asam urat dalam darah
tidak hanya gangguan fungsi ginjal tetapi dapat pula disebabkan
peningkatan stres oksidatif.
b) Kreatinin
Terjadi peningkatan kreatinin pada preeklampsia berat tetapi biasanya
belum terjadi perubahan pada preeklampsia ringan.
c) Tes fungsi hepar

11
Peningkatan aspartat aminotranferase (AST/SGOT) dan alanine
aminotransferase (ALT/SGPT) merupakan tanda prognosis buruk pada
ibu dan janin. Konsentrasi dari protein ini berhubungan dengan
beratnya penyakit preeklampsia dengan komplikasi berat pada hepar.
d) Faktor pembekuan
Terjadi penurunan dari faktor III, faktor VIII selain trombositopenia.
Gangguan ini menimbulkan risiko terjadi perdarahan pasca persalinan.
e) Analisis urine (proteinuria).
f) Pencocokan ulang: cross matching.
g) Pemeriksaan urine untuk ekskresi protein 24 jam
2) Fetal
a) Klik chart (rekaman gerakan janin)
b) CTG (kardiografi)

F. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan kasus preeklampsia berat / eklampsia ialah:
1. Mencegah timbulnya kejang / kejang ulangan pada eklampsia.
2. Mencegah timbulnya komplikasi pada ibu dan atau anaknya.
3. Terminasi kehamilan secara aman.

a) Preeklampsia Ringan
Pada preeklapmsia ringan pengobatan bersifat simtomatis dan istirahat yang
cukup. Pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari dapat dilakukan bila tidak bisa tidur.
Bila tekanan darah tidak turun dan ada tanda-tanda ke arah preeklamsi berat
maka dapat diberikan obat antihipertensi serta dianjurkan untuk rawat inap.

b) Preeklampsia Berat/Eklampsia
1. Pengobatan medikamentosa
Pasien eklamsia harus ditangani di Rumah Sakit diberi pengobatan awal untuk
mengatasi kejang dan pemberian obat Antihiperentensi. Berikan O 2 4-6
liter/menit. Pasang infus D5 % 500 ml/ 6 jam dengan kecepatan 20 tetes
permenit. pasang kateter urin, pasang guedel atau spatel. Bahu diganjal kain

12
setebal 5 cm agar lebih defleksi sedikit. Posisi tempat tidur dibuat sedikit
fowler agar kepala tetap tinggi. Fiksasi pasien agar tidak jatuh.
Kriteria minimum untuk mendiagnosis preeklampsia adalah adanya hipertensi
dan proteinuria. Kriteria lebih lengkap digambarkan oleh Working Group of
the NHBPEP (2000) seperti digambarkan dibawah ini:
Disebut preeklamsi ringan bila terdapat:
1) Tekanan darah >140 / 90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu.
2) Proteinuria kuantitatif (Esbach)  300 mg / 24 jam, atau dipstick +1.
Disebut preeklampsia berat bila terdapat:
1) Tekanan darah >160 / 110 mmHg.
2) Proteinuria kuantitatif (Esbach)  3 gr / 24 jam, atau dipstick  +2.

Klinis Pre- Pre-Eklamsia


Eklamsia Berat/Eklampsi
Ringan a
Tekanan >140/90 >160/110
Darah
Proteinuria 1+ (300 2+ (3000 mg/24
mg/24 hours)
hours)
Edema +/- +/-
Peningkatan +/- +
Reflex
Nyeri Perut - +
Atas
Nyeri Kepala - +
Gangguan - +
Penglihatan
Penurunan - +
Urine Output
Peningkatan - +
Enzim Hati

13
Penurunan - +
Platelet
Peningakatan - +
Bilirubin
Peningkatan - +
Kreatinin

Penatalaksanaan preeklampsia berat/eklampsia :


a. Berikan dosis awal 4 g MgSO4 40% (10cc) dijadikan 20 cc diberikan IV bolus
pelan ± 5 menit
b. Sambil menunggu rujukan, mulai dosis rumatan 6 g MgSO4 MgSO4 40% (
15cc) masukkan dalam cairan RL/NaCl 0,9% 250cc drip dengan tetesan
15tetes / menit, diulang hingga 24 jam setelah persalinan atau kejang berakhir
(bila eklampsia). Bila kejang berlanjut berikan 2g MgSO4 40% (5 cc)
dijadikan 10 cc diberikan IV pelan ± 5 menit. Syarat pemberian MgSO4:
frekuensi nafas > 16x/menit, tidak ada tanda-tanda gawat nafas, diuresis >100
ml dalam 4 jam sebelumnya dan refleks patella positif.
c. Lakukan pemeriksaan fisik tiap jam, meliputi tekanan darah, frekuensi nadi,
frekuensi pernapasan, refleks patella, dan jumlah urin.
d. Bila frekuensi pernapasan < 16 x/menit, dan/atau tidak didapatkan refleks
tendon patella, dan/atau terdapat oliguria (produksi urin kurang dari 500cc/24
jam), segera hentikan pemberian MgSO4.
e. Jika terjadi depresi napas, berikan Ca-glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc
NACL 0,9% IV, dalam 3 menit)

Bila syarat pemberian MgSO4 tidak terpenuhi di berikan:


a. Diazepam: dosis awal 20 mg IM atau 10 mg IV perlahan dalam 1 menit atau
lebih. Dosis pemeliharaan D5% 500 ml + 40 mg diazepam tpm dan dosis
maksimum 2000 ml/ 24 jam. Pemberian diazepam lebih disukai pada eklamsia
puerpuralis karena pada dosis tinggi menyebabkan hipotonik neonatus.
b. Fenobarbital: 120-140 mg IV perlahan dengan kecepatan tidak melebihi 60
mg/ menit. Dosis maksimal 1000 mg.

14
Perawatan kalau kejang
a. Kamar isolasi yang cukup tenang
b. Pasang sudep lidah ke dalam mulut
c. Kepala direndahkan dan orofaring dihisap
d. Oksigenasi yang cukup
e. Fiksasi badan di tempat tidur harus cukup longgar agar tidak terjadi fraktur.
Perawatan kalau koma
a. Monitoring kesadaran dan dalamnya koma dan tentukan skor tanda vital
b. Perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita.
c. Pada koma yang lama bila nutrisi parenteral tidak mungkin maka berikan
dalam bentuk per NGT.

Antihipertensi
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah secara
bertahap sampai pada angka normal dan mencegah pendarahan pada janin.
Penatalaksanaan hipertensi pada ibu hamil dibagi menjadi:
a. Ringan – Sedang
Jika tekanan darah sistolik 140-160 mmHg dan diastolik 90-100 mmHg dapat
menggunakan terapi:
Tabel : Penatalaksanaan hipertensi pada ibu hamil (ringan-sedang)
menurut QueenslandHealth (Hypertensive Disorders of Pregnancy) tahun
2013
Nama Obat Dosis Frekuensi Rute
Lini Metildopa 250 mg 2x PO
Pertama Labetolol 100 mg, max 2,4 2x PO
g/hari
Oxeprenolol 80-160 mg, max 2x PO
320 mg/hari
Lini Kedua Hydralazine 25 mg, max 100 2x PO
mg/hari
Nifedipine 5-20 mg 2-3x PO
Prazosin 1 mg, max 20 2-3x PO
mg/hari

15
b. Berat / Akut
Jika tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 100
mmHg dapat menggunakan terapi:
Tabel : Penatalaksanaan hipertensi pada ibu hamil (berat/akut) menurut
QueenslandHealth (Hypertensive Disorders of Pregnancy) tahun 2013

Nama Obat Dosis Rute


Nifedipine 5-20 mg Po

Hydralazine 5-10 mg iv bolus

Diazoxide 15-45 mg, max 300 mg iv rapid bolus

Labetolol 20-50 mg iv bolus

Penatalakasanaan medis menurut Sujiyantini, (2009) ditinjau dari umur


kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre-eklampsia berat selama perawatan maka
perawatan dibagi menjadi:

a. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah


pengobatan medisinal.
b. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah
pengobatan medisinal.
1) Perawatan Aktif
Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita
dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG). Indikasi:
a) Ibu
- Usia kehamilan 37 minggu atau lebih
- Adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan
terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi
kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal,
ada gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan).

b) Janin
- Hasil fetal assesment jelek (NST & USG)

16
- Adanya tanda IUGR
c) Laboratorium
Adanya “HELLP syndrome” (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar,
trombositopenia).
c. Pengobatan medikamentosa
1) Segera masuk rumah sakit.
2) Tidur baring, miring ke satu sisi (sebaiknya kiri), tanda vital diperiksa
setiap 30 menit, refleks patella setiap jam.
3) Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125
cc/jam) 500 cc.
4) Antasida.
5) Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.
6) Pemberian obat anti kejang: diazepam 20 mg IV dilanjutkan dengan 40
mg dalam Dekstrose 10% selang 4-6 jam atau MgSO4 40% 5 gram IV
pelanpelan dilanjutkan 5 gram dalam RL 500 cc untuk 6 jam.
7) Diuretik tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah
jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40
mg/IV.
8) Antihipertensi diberikan bila: tekanan darah sistolik ”180 mmHg,
diastolik ” 110 mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Dapat diberikan
catapres ½-1 ampul IM dapat diulang tiap 4 jam, atau alfametildopa 3 x
250 mg, dan nifidipine sublingual 5-10 mg.
9) Kardiotonika, indikasinya, bila ada tanda-tanda payah jantung, diberikan
digitalisasi cepat dengan cedilanid.
10) Lain-lain:
a) Konsul bagian penyakit dalam/jantung, mata.
b) Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rektal lebih dari 38,5 derajat
celcius dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol
atau xylamidon 2 cc IM.
c) Antibiotik diberikan atas indikasi, diberikan ampicilin 1 gr/6
jam/IV/hari.

17
d) Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi
uterus, dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-
lambatnya 2 jam sebelum jalan lahir.
d. Pengobatan obstetrik
1) Cara terminasi kehamilan yang belum inpartu
a) Induksi persalinan: tetesan oksitosin dengan syarat nilai bishop 5 atau
lebih dan dengan fetal heart monitoring.
b) Sectio caesarea
Sectio Caesar adalah proses persalinan melalui pembedahan dimana
irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histeretomi)
untuk mengeluarkan bayi (Maryunani A, 2014). Dilakukannya SC bila
ada tanda dan gejala :
- Plasenta Previa sentralis dan lateralis (posterior)
- Panggul sempit
- Disporsi sefalopelvik: yaitu ketidakseimbangan antara ukuran
kepala dan ukuran panggul
- Rupture uteri mengancam
- Partus lama (prolonged labor)
- Partus tak maju (obstructed labor)
- Distosia serviks
- Pre-eklamsia dan hipertensi
- Malpresentasi janin (Nanda Nic Noc. 2015).
2) Cara terminasi kehamilan yang sudah inpartu
Kala I
a) Fase laten : 6 jam belum masuk fase aktif maka dilakukan sectio
caesarea.
b) Fase aktif : amniotomi saja, bila 6 jam setelah amniotomi belum
terjadi pembukaan lengkap maka dilakukan sectio caesarea (bila perlu
dilakukan tetesan oksitosin)

Kala II

Pada persalinan per vaginam, maka kala II diselesaikan dengan partus


buatan. Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3
menit setelah pemberian terapi medikamentosa. Pada kehamilan 32
18
minggu atau kurang; bila keadaan memungkinkan, terminasi ditunda 2
kali 24 jam untuk memberikan kortikosteroid.

e. Perawatan konservatif
1) Indikasi: bila kehamilan preterm kurang 37 minggu tanpa disertai tanda-
tanda inpending eklampsia dengan keadaan janin baik.
2) Terapi medikamentosa: sama dengan terapi medikamentosa pada
pengelolaan aktif, hanya laoding dose MgSO4 tidak diberikan
intravenous, cukup intramuskular saja dimana 4 gram pada bokong kiri
dan 4 gram pada bokong kanan.
3) Pengobatan obstetri:
a) Selama perawatan konservatif: observasi dan evaluasi sama seperti
perawatan aktif hanya disini tidak dilakukan terminasi.
b) MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mempunyai tandatanda
preeklampsia ringan, selambat-lambatnya dalam 24 jam.
c) Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka dianggap terapi
medikamentosa gagal dan harus diterminasi.
d) Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan maka diberi lebih
dahulu MgSO4 20% 2 gram intravenous.
4) Penderita dipulangkan bila:
a) Penderita kembali ke gejala-gejala/tanda-tanda preeklampsia ringan
dan telah dirawat selama 3 hari.
b) Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan preeklampsia ringan:
penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan
(diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu).

c) Eklampsia
Perawatan dasar eklampsia yang utama ialah terapi suportif untuk stabilisasi
fungsi vital, yang harus selalu diingat Airway, Breathing, Circulation (ABC),
mengatasi dan mencegah kejang, mengatasi hipoksemia dan asidemia mencegah
trauma pada pasien pada waktu kejang, mengendalikan tekanan darah, khususnya
pada waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada waktu yang tepat dan dengan
cara yang tepat.

19
Perawatan medikamentosa dan perawatan suportif eklampsia, merupakan
perawatan yang sangat penting. Tujuan utama pengobatan medikamentosa
eklampsia adalah mencegah dan menghentikan kejang, mencegah dan mengatasi
penyulit, khususnya hipertensi kritis, mencapai stabilisasi ibu seoptimal mungkin
sehingga dapat melahirkan janin pada saat dan dengan cara yang tepat.
Perawatan yang penting pada preeklampsia berat ialah pengelolaan cairan
karena penderita preeklampsia dan eklampsia mempunyai risiko tinggi untuk
terjadinya edema paru dan oliguria. Sebab terjadinya kedua keadaan tersebut
belum jelas, terapi faktor yang sangat menentukan terjadinya edema paru dan
oliguria ialah hipovolemia, vasospasme, kerusakan sel endotel, penurunan gradien
tekanan onkotik koloid/pulmonary capillary wedge pressure.
Oleh karena itu, monitoring input cairan (melalui oral ataupun infus) dan
output cairan (melalui urin) menjadi sangat penting artinya harus dilakukan
pengukuran secara tepat berapa jumlah cairan yang dimasukkan dan dikeluarkan
melalui urin.
Bila terjadi tanda-tanda edema paru, segera dilakukan tindakan koreksi.
Cairan yang diberikan dapat berupa (a) 5 % Ringer-dekstrose atau cairan garam
faali jumlah tetesan: < 125 cc/jam atau (b) Infus Dekstrose 5 % yang tiap 1
liternya diselingi dengan infus Ringer laktat (60-125 cc/jam) 500cc.
Dipasang Foley catheter untuk mengukur pengeluaran urin. Oliguria terjadi
bila produksi urin < 30 cc/jam dalam 2-3 jam atau < 500 cc/24 jam. Diberikan
antasida untuk menetralisir asam lambung sehingga bila mendadak kejang, dapat
menghindari risiko aspirasi asam lambung yang sangat asam. Diet yang cukup
protein, rendah karbohidrat, lemak, dan garam.

Pengelolaan kejang:

1. Beri obat anti kejang (anti konvulsan)


2. Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir,
masker oksigen, oksigen)
3. Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
4. Aspirasi mulut dan tenggorokan
5. Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk mengurangi
risiko aspirasi

20
6. Berikan O2 4-6 liter/menit
7. Pengelolaan umum
8. Jika tekanan diastolik ≥ 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan
diastolik antara 90-100 mmHg
9. Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar no.16 atau lebih
10. Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload

MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

Alternatif MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama 5


I Dosis awal menit
Segera dilanjutkan dengan 15 ml MgSO4 (40%) 6
g dalam larutan Ringer Asetat / Ringer Laktat
selama 6 jam
Jika kejang berulang setelah 15 menit, berikan
MgSO4 (40%) 2 g IV selama 5 menit
Dosis MgSO4 1 g / jam melalui infus Ringer Asetat /
Pemeliharaan Ringer Laktat yang diberikan sampai 24 jam
postpartum

Alternatif MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama 5


II Dosis awal menit

Dosis Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5 g IM dengan 1 ml


pemeliharaan Lignokain (dalam semprit yang sama)
Pasien akan merasa agak panas pada saat
pemberian MgSO4

Sebelum Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit


pemberian Refleks patella (+)
MgSO4 Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
ulangan,
lakukan
pemeriksaan:

Hentikan Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit


pemberian Refleks patella (-), bradipnea (<16 kali/menit)

21
MgSO4, jika:

Siapkan Jika terjadi henti nafas:


antidotum Bantu pernafasan dengan ventilator
Berikan Kalsium glukonas 1 g (20 ml dalam
larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai
pernafasan mulai lagi

11. Kateterisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan proteinuria


12. Infus cairan dipertahankan 1.5 - 2 liter/24 jam
13. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat
mengakibatkan kematian ibu dan janin
14. Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam
15. Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi
merupakan tanda adanya edema paru. Jika ada edema paru, hentikan
pemberian cairan dan berikan diuretik (mis. Furosemide 40 mg IV)
16. Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi
setelah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati

ANTI KONVULSAN

Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi


kejang pada preeklampsia dan eklampsia. Alternatif lain adalah Diasepam,
dengan risiko terjadinya depresi neonatal.

DIASEPAM UNTUK PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

Dosis awal Diasepam 10 mg IV pelan-pelan selama 2 menit


Jika kejang berulang, ulangi pemberian sesuai
Dosis dosis awal
pemeliharaan Diasepam 40 mg dalam 500 ml larutan Ringer
laktat melalui infus
Depresi pernafasan ibu baru mungkin akan terjadi
bila dosis > 30 mg/jam
Jangan berikan melebihi 100 mg/jam

22
G. KOMPLIKASI

Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin, usaha utama ialah
melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita eklampsia.
Berikut adalah beberapa komplikasi yang ditimbulkan pada preeklampsia berat
dan eklampsia:
a. Solutio Plasenta
Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering
terjadi pada pre eklampsia.
b. Hipofibrinogemia
Kadar fibrin dalam darah yang menurun.
c. Hemolisis
Penghancuran dinding sel darah merah sehingga menyebabkan plasma darah
yang tidak berwarna menjadi merah.
d. Perdarahan Otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita
eklampsia.
e. Kelainan Mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung selama seminggu,
dapat terjadi.
f. Edema Paru
Pada kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena penyakit jantung.
g. Nekrosis Hati
Nekrosis periportan pada preeklampsia, eklampsia merupakan akibat
vasopasmus anterior umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia,tetapi
ternyata juga ditemukan pada penyakit lain.Kerusakan sel-sel hati dapat
diketahui dengan pemeriksaan pada hati,terutama penentuan enzim-enzimnya.
h. Sindrome Hellp
Haemolisis, elevatea liver anymes dan low platelet
i. Kelainan Ginjal
Kelainan berupa endoklrosis glomerulus, yaitu pembengkakkan sitoplasma sel
endotial tubulus. Ginjal tanpa kelainan struktur lain, kelainan lain yang dapat
timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
23
j. Komplikasi lain
• Lidah tergigit, trauma dan faktur karena jatuh akibat kejang-kejang
preumania
• aspirasi, dan DIC (Disseminated Intravascular Coogulation)
• Prematuritas
• Dismaturitas dan kematian janin intro uteri.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1) Identitas
a) Pasien, meliputi : Nama, Umur, Jenis Kelamin, Alamat, Pendidikan, Agama,
Bangsa
b) Penanggung Jawab : Nama, Umur, Jenis Kelamin, Alamat, Pendidikan,
Agama, Bangsa dan hubungan dengan pasien.
2) Pengkajian Primer
a) Airway
Kaji :
- Bersihan jalan nafas
- Adanya/ tidaknya jalan nafas
- Distres pernafasan
- Tanda-tanda perdarahan di jalan nafas, muntahan, edema laring
b) Breathing
Kaji :
- Frekuensi nafas, usaha dan pergerakan dinding dada
- Suara nafas melalui hidung atau mulut
- Udara yang dikeluarkan dari jalan nafas
c) Circulation
Kaji :
- Denyut nadi karotis
- Tekanan darah
- Warna kulit, kelembapan kulit
- Tanda-tanda perdarahan eksternal dan internal

24
d) Disability
Kaji :
- Tingkat kesadaran
- Gerakan ekstremitas
- GCS ( Glasgow Coma Scale )
- Ukuran pupil dan respon pupil terhadap cahaya
e) Exposure
Kaji :
- Tanda-tanda trauma yang ada (Muslicha : 45-46 )
3) Pemeriksaan Sekunder
Pengkajian sekunder meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
fisik dimulai dari kepala hingga kaki dan dapat pula ditambahkan pemeriksaan
diagnostik.
Anamnesis
a) Aktivitas/istirahat
Gejala: kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton
Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, Takipnea
b) Sirkulasi
Gejala: Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, penyakit
serebrovaskuler
Tanda: Kenaikan TD, hipotensi postural, takhikardi, perubahan warna kulit,
suhu dingin
c) Integritas Ego
Gejala: Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, Factor
stress multipel
Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian,
tangisan yang meledak, otot muka tegang, pernapasan menghela, peningkatan
pola bicara
d) Eliminasi
Gejala: gangguan ginjal saat ini atau yang lalu

e) Makanan/Cairan

25
Gejala: makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam,
lemak dan kolesterol
Tanda: BB normal atau obesitas, adanya edema
f) Neurosensori
Gejala: keluhan pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit kepala,
berdenyut, gangguan penglihatan, episode epistaksis
Tanda: perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman, perubahan
retinal optic
g) Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat,
nyeri abdomen
h) Pernapasan
Gejala: dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea
nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok
Tanda: distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas
tambahan, sianosis
i) Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi, cara jalan
Tanda: episode parestesia unilateral transien, hipotensi postura
j) Pembelajaran/Penyuluhan
Gejala: factor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung,
DM , penyakit ginjal Faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormone.
(Dongoes Marilynn E, 2000)
Pemeriksaan penunjang:
a) Pemeriksaan hemoglobin
b) Proteinuria  3 gram
c) Produksi urine (oliguria produksi urine kurang dari 500cc/24 jam)
d) Pemeriksaan kadar asam urat darah (meningkat)
e) Pemeriksaan kadar BUN dan Kreatinin serum(meningkat)
f) Pemeriksaan berat badan (Peningkatan berat badan sekitar 0,5 kg
perminggu adalah normal tetapi bila melebihi dari 1 kilo dalam seminggu
atau 3 kilo dalam sebulan maka kemungkinan terjadinya preeklampsia
harus dicurigai Berat badan: peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu)

26
g) USG: untuk mengetahui keadaan janin
h) NST: untuk mengetahui kesejahteraan janin

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan interstitial yang berhubungan dengan penurunan tekanan
osmotik, perubahan permeabilitas pembuluh darah
2. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan hipovolemia/penurunan
aliran balik vena
3. Resiko cidera pada janin b.d tidak adekuatnya perfusi darah ke placenta
4. Risiko cedera pada ibu b.d edema/ hipoksia jaringan, kejang tonik klonik
5. Nyeri epigastrik b.d peregangan kapsula hepar

C. RENCANA KEPERAWATAN

DIAGNOSA
NO NOC NIC Commented [AM1]:
KEPERAWATAN

1 Kelebihan volume Keseimbangan Cairan Manajemen Elektrolit


cairan interstitial yang Indikator : 1. Monitor manifestasi klinis dari
berhubungan dengan 1. Tekanan darah normal elektrolit yang tidak seimbang
penurunan tekanan 2. Tekanan Arteri 2. Menjaga kepatenan jalan IV
osmotik, perubahan 3. Tekanan vena sentral 3. Berikan cairan, seperti resep, jika
permeabilitas pembuluh 4. Kesimbangan intake & sesuai
darah output (24jam) 4. Menjaga keakuratan intake dan
5. Edema Perifer (-) output
5. Berikan supplemen elektrolit (ex,
oral, NG, dan IV) seperti yang
ditentukan, jika sesuai
6. Ajarkan pasien dan keluarga
tentang tipe, penyebab dan cara
untuk menyeimbangkan elektrolit
Manajemen cairan
1. Monitor tanda-tanda vital
2. Monitor status hidrasi

27
3. Monitor tanda kelebihan cairan
atau retensi
4. Kaji apakah ada edema
5. Monitor status nutrisi
6. Berikan cairan bila diperlukan
7. Monitor intake dan output
Monitor cairan
1. Menentukan jumlah dan tipe
intake cairan dan eliminasi
2. Menentukan faktor risiko yang
mungkin muncul dari
ketidakseimbangan cairan
3. Monitor berat badan
4. Monitor intake dan output
5. Monitor TD, RR, nadi, dan suhu
6. Jaga keakuratan intake dan
output
2 Penurunan curah Status sirkulasi Perawatan Jantung
jantung yang Indikator : 1. Melakukan penilaian
berhubungan dengan 1. Tekanan darah sistolik komprehensif sirkulasi perifer
hipovolemia/penurunan normal (misalnya, memeriksa denyut
aliran balik vena 2. Tekanan darah diastolic perifer, edema, pengisian kapiler,
normal warna, dan suhu ekstremitas)
3. Tekanan paru normal 2. Perhatikan tanda-tanda dan gejala
4. Tekanan darah rata-rata penurunan curah jantung
dalam rentang normal 3. Memonitor tanda-tanda vital yang
5. Tekanan vena sentral normal sering
6. Saturasi oksigen normal 4. Memonitor keseimbangan cairan
(misalnya, asupan / output dan
harian delapan)
5. Menginstruksikan pasien dan
keluarga tentang pembatasan
aktivitas dan perkembangan

28
6. Memonitor toleransi aktivitas
pasien
7. Memantau dyspnea, kelelahan,
takipnea, ortopnea dan
8. Mempromosikan pengurangan
stress
9. Membangun hubungan yang
mendukung dengan pasien dan
keluarga
3 Resiko cidera pada janin Status fetal : Antepartum Antenatal care
b.d tidak adekuatnya Indikator : 1. Monitor tekanan darah
perfusi darah ke 1. HR janin (120-160 bpm) 2. Monitor glukosa urin dan level
placenta normal protein
2. Frekuensi pergerakan janin 3. Monitor level hemoglobin
normal 4. Monitor mata kaki, tangan, dan
3. Tes kontraksi stress wajah dari edema
4. Temuan sampel cairan 5. Monitor HR janin
amnion normal 6. Instruksikan pasien untuk
5. Aliran darah arteri tali pusat monitor aktivitas janin
normal 7. Instruksikan pasien tentang efek
alcohol dan obat terlarang
8. Instruksikan pasien tentang
pertumbuhan dan perkembangan
janin
9. Monitor status nutrisi
4 Risiko cedera pada ibu Kontrol resiko Management Lingkungan
b.d edema/ hipoksia Indikator : 1. Ciptakan lingkungan yang
jaringan, kejang tonik 1. Menyatakan resiko nyaman bagi klien
klonik 2. Memantau faktor resiko 2. Identifikasi kebutuhan keamanan
lingkungan klien
3. Memantau faktor resiko 3. Sediakan tempat tidur yang
perilaku pribadi nyaman dan bersih
4. Mengembangkan strategi 4. Posisikan tempat tidur agar

29
kontrol risiko yg efektif mudah terjangkau
Kontrol gejala 5. Kurangi stimulus lingkungan
Indikator : Identifikasi Resiko
1. Mengenal permulaan gejala 1. Identifikasi resiko yang mungkin
2. Mengenal gejala menetap muncul
3. Mengenal kepelikan gejala 2. Berikan status pengajaran
4. Mengenal frekuensi gejala 3. Rencanakan untuk mengurangi
5. Mengenal variasi gejala aktivitas yang beresiko
6. Gunakan tindakan 4. Identifikasi sumber yang
pencegahan dapat membantu klien
7. Gunakan tindakan
mengurangi gejala
8. Laporakan pengontrolan
gejala
5 Nyeri epigastrik b.d Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri
peregangan kapsula Indikator : 1. Lakukan penilaian nyeri secara
hepar 1. Menilai faktor penyebab komprehensif dimulai dari lokasi,
2. Menghitung lamanya nyeri karakteristik, durasi, frekuensi,
3. Gunakan ukuran kualitas, intensitas dan penyebab
pencegahan 2. Pastikan pasien mendapatkan
4. Pengurangan nyeri dengan perawatan dengan analgesic
non analgesic 3. Gunakan komunikasi yang
5. Gunakan TTV untuk terapeutik agar pasien dapat
memantau perawatan menyatakan pengalamannya
6. Penggunaan analgesic terhadap nyeri serta dukungan
7. Laporkan tanda dan gejala dalam merespon nyeri
nyeri pada petugas 4. Tentukan dampak nyeri terhadap
kesehatan kehidupan sehari-hari (tidur,
Tingkatan Nyeri nafsu makan, aktivitas,
Indikator : kesadaran, mood, hubungan
1. Melaporkan nyeri sosial, performance kerja dan
2. Respon tubuh melakukan tanggung jawab
3. Panjangnya episode nyeri sehari-hari

30
4. Eksperesi wajah saat nyeri 5. Menyediakan informasi tentang
5. Melindungi bagian yang nyeri, contohnya penyebab nyeri,
nyeri bagaimana kejadiannya,
6. Gelisah mengantisipasi ketidaknyamanan
terhadap prosedur
6. Kontrol faktor lingkungan yang
dapat menimbulkan
ketidaknyamanan pada pasien
(suhu ruangan, pencahayaan,
keributan)
7. Pertimbangkan tipe dan sumber
nyeri ketika memilih metoda
mengurangi nyeri
8. Mendorong pasien dalam
memonitor nyerinya sendiri
Pemberian Analgesik
1. Menentukan lokasi, karakteristik,
mutu, dan intensitas nyeri
sebelum mengobati pasien
2. Cek riwayat alergi obat
3. Tentukan jenis analgesik yang
digunakan (narkotik, non narkotik
atau NSAID) berdasarkan tipe dan
tingkat nyeri
4. Monitor TTV sebelum dan
sesudah pemberian obat narkotik
dengan dosis pertama atau jika
ada catatan luar biasa
5. Tentukan analgesik yang cocok,
rute pemberian dan dosis optimal

31
BAB III
PENUTUP

1.1 Simpulan
Tekanan darah diastolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi
dalam kehamilan, oleh karena tekanan diastolik mengukur tahanan perifer dan
tidak tergantung pada keadaan emosional pasien.
Diagnosis hipertensi dibuat jika tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada 2
pengukuran berjarak 1 jam atau lebih
Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi dalam:
1. Hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan
20 minggu, selama persalinan dan/atau dalam 48 jam post partum
2. Hipertensi kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan 20 minggu.
Pembatasan kalori, cairan dan diet rendah garam tidak dapat mencegah
hipertensi karena kehamilan, bahkan dapat membahayakan janin. Manfaat aspirin,
kalsium dan lain-lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan belum
sepenuhnya terbukti, yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan cepat-
tepat.
Kasus harus ditindak lanjuti secara berkala dan diberi penerangan yang jelas
bilamana harus kembali ke pelayanan kesehatan. Dalam rencana pendidikan,
keluarga (suami, orang tua, mertua dll.) harus dilibatkan sejak awal. Pemasukan
cairan terlalu banyak dapat mengakibatkan edema paru.
Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi
kejang pada preeklampsia dan eklampsia. Alternatif lain adalah Diasepam, dengan risiko
terjadinya depresinafas pada neonatus.

1.2 Saran
Sebagai penyusun makalah ini, kami menyarankan kepada para pembaca
khususnya kepada para perawat agar lebih mendalami materi yang telah
terpaparkan dalam makalah ini agar dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

32
DAFTAR PUSTAKA

Achadiat, Chrisdiono M. 2004. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC

Anik & Yulianingsih 2009, Asuhan kegawatdaruratan dalam Kebidanan, Trans Info
Media, Jakarta.

Astuti, Sri Lestari Dwi, Sunaryo , Tri. Haryati, Susi Dwi. 2013. Analisis Faktor Resiko Yang
Terjadinya Pre Eklampsi Berat Pada Ibu Hamil Trimester Ketiga. Jurnal Nasional.
Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Keperawatan.

Leveno, Kenneth J. 2009. Williams Manual of Obstetrics. Ed, 21. Jakarta: EGC

Wiknjosastro, Hanifa. Saifuddin, Abdul Bari. Rachimhadhi, Trijatmo. 2005. Ilmu


Kebidanan.. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

33