Anda di halaman 1dari 21

Tugas Makalah

Kimia Organik Bahan Alam Laut

Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Bioaktif dari Spons


(Callyspongia sp.)

Kelompok 3

1. Elva Sihaya (H311 14 002)

2. Fenti Sampe Sialla’ (H311 14 012)

3. Salmiyah (H311 14 032)

4. Fachri Amirulla (H311 14 514)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai negara kepulauan yang besar di dunia yang memiliki wilayah laut
sangat luas, Indonesia memiliki sumber daya alam laut yang besar khususnya di
provinsi Sulawesi Selatan. Pemanfaatan sumber daya alam laut tidak hanya
dilakukan melalui penangkapan, tetapi juga perlu dikembangkan dengan usaha
budidaya. Saat ini pengembangan budidaya laut lebih banyak mengarah pada ikan-
ikan yang bernilai tinggi dan tiram mutiara, sementara di perairan Indonesia masih
banyak sumber daya alam laut yang masih bisa dikembangkan dan mempunyai nilai
ekonomis tinggi, salah satu sumber daya alam laut tersebut adalah ekosistem terumbu
karang.
Spons merupakan biota laut yang hidup menetap di dasar perairan, yang
memiliki peran yang cukup penting di dalam ekosistem terumbu karang. Selain itu
spons merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu karang yang
mempunyai potensi bioaktif yang belum banyak dimanfaatkan. Hewan laut ini
mengandung senyawa aktif yang persentase keaktifannya lebih besar dibandingkan
dengan senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan darat.
Spons merupakan biota yang tidak memiliki alat gerak sebagai
perlindungan diri, sebagai bentuk perlindungannya spons melakukan metabolit
sekunder. Metabolit sekunder merupakan senyawa-senyawa hasil biosintetik turunan
dari metabolit primer yang umumnya diproduksi oleh organisme yang berguna untuk
pertahanan diri dari lingkungan maupun dari serangan organisme lai. Hingga saat ini,
spons dikenal sebagai biota yang paling banyak menghasilkan senyawa bioaktif,
seringkali dengan aktivitas bioaktif yang tinggi jika dibandingkan dengan biota laut
lainnya, salah satu famili spons yang memiliki senyawa dengan bioaktivitas tinggi
berasal dari famili Callyspongiidae.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan spons?

2. Apa yang dimaksud dengan spons Callyspongia sp?

3. Bagaimana cara mengisolasi senyawa bioaktif spons Callyspongia sp?

4. Bagaimana uji aktitas senyawa bioaktif dari spons Callyspongia sp?

1.3 Manfaat dan Tujuan Penulisan Makalah


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Spons

Spons merupakan kelompok porifera yaitu hewan yang mempunyai tubuh

berpori-pori atau saluran. Spons sebagai invertebrata laut multi sel yang fungsi

jaringan dan organnya sangat sederhana. Biota laut ini dikenal dengan filter feeders,

yaitu mencari makanan dengan mengisap dan menyaring air melalui sel cambuk dan

memompakan air keluar melalui oskulum. Makanan spons berupa zooplankton atau

hewan kecil dan bakteri yang terbawa oleh arus serta masuk ke dalam tubuhnya.

Morfologi luar spons sangat dipengaruhi oleh faktor fisik, kimiawi dan biologis

lingkungannya. Spesimen yang berada di lingkungan yang terbuka dan berombak

besar cenderung mengalami pertumbuhan yang pendek atau juga merambat.

Sebaliknya spesimen dan jenis yang sama pada lingkungan yang terlindung atau pada

perairan yang lebih dalam dan berarus tenang, pertumbuhannya cenderung tegak dan

tinggi. Pada perairan yang lebih dalam, spons cenderung memiliki bentuk tubuh yang

lebih simetris dan lebih besar sebagai akibat dari lingkungan yang lebih stabil apabila

dibandingkan dengan jenis yang sama yang hidup pada perairan yang dangkal. Spons

pada jenis yang sama pertumbuhannya cenderung semakin besar dan semakin tinggi

dengan bertambahnya kedalaman laut. Spons secara morfologi berbentuk sederhana

seperti tabung dengan dinding tipis tidak teratur serta tubuhnya berpori (ostium).

Spons membuat kerak pada batu, cangkang, tongkat atau tumbuh-tumbuhan. Tubuh

spons asimetri (tidak beraturan), meskipun ada yang simetri radial, berbentuk seperti
tabung, vas bunga, mangkuk, atau tumbuhan, memiliki warna yang bervariasi. Dahuri

(2003) melaporkan beberapa jenis spons ada yang bercabang seperti pohon,

berbentuk seperti sarung tinju dan cawan sedangkan yang lainnya berbentuk kubah.

Spons banyak dijumpai di laut dengan bentuk dan warna yang sangat beraneka dan

sangat menarik, hal ini disebabkan oleh zooxanthellae yang hidup dalam jaringan

tubuhnya. Spons yang hidup di lingkungan yang gelap akan berbeda warnanya

dengan spons sejenis yang hidup pada lingkungan yang cerah.

2.2 Morfologi Callyspongia Sp

Pada spons callyspongia sp hidup berkoloni dan melengkat dikarang dengan

bentuk tubuh yang mirip denan tabung-tabung kecil. Spons ini memliki dinding

tubuh yang tipis dan mengelilingi sutu ruangan sentral spogocel dengan sebuah

lubang besar yang disebut oskulum.

Callyspongia memiliki stukrur permukaan yang berpori-pori sehingga spons

ini dimasukkan kedalam flium porifera. Kebayakan dari spesies spons hidup di air

laut, dan tidak mempunyai organ yang sejati. Bentuk dan ukuran sangat bervariasi.

Pola pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh keadaan subtract. Hal ini didukung oleh

Romimorhtarto (2007) yang dinyatakan bahwa spons adalah hewan multiseluler

yang mempunyai bayak pori-pori dan saluran-saluran sehingga dimasukkan dalam

filum porifera.

Berikut ini adalah taksonomi dari spons Callyspongia sp.

Kingdom : Animalia

Phylum/Division : Porifera
Class : Demospongiae

Order : Haplosclerida

Family : Callyspongiiae

Genus : Callyspongia

Spesies : Callyspongia sp.

2.3 Metabolit sekunder

Callyspongia sp. yang merupakan salah satu genus spons yang banyak diteliti

kandungan dan aktivitas senyawa bioaktifnya. Menurut Erhardt dan Moostleiner

(1995) spons Callyspongia sp. merupakan salah satu jenis bunga karang yang paling

banyak ditemukan di perairan indonesia. Di dalam spons ini mengandung beberapa

senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid 3-alkilpiridin, akartepin yang merupakan

inhibitor dari fosfatidilinositol, meroterpenoid sulfat dan masih banyak lagi jenis

senyawa bioaktif yang dapat ditemukan dalam spesies ini. Spons ini memiliki

struktur permukaan tubuh yang berpori-pori sehingga ia dimasukkan kedalam filum

porifera. Kebanyakan dari spesies spons hidup di air laut, dan tidak mempunyai

jaringan atau organ yang sejati. Bentuk dan ukurannya sangat bervariasi. Pola

pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh keadaan substrat.

Penyelidikan Kimia dari spons Callyspongia sp. dari Laut Cina Selatan

diberikan satu diketopiperazine baru, peredaran (R-Pro-6-hidroksi-S-Ile) (1), bersama

dengan enam diketopiperazines dikenal: staphyloamide A (2), peredaran (S-Pro-S-

Phe) (3), peredaran (R-Pro-R-Phe) (4), peredaran (S Pro-R-Leu) (5), peredaran (S

Pro-R-Ala) (6), peredaran (R-Tyr-R-Phe) (7), dan tiga dikenal tryptophan yang

diturunkan alkaloid: C2-α-D-mannosylpyranosyl-tryptophan (8), (1R, 3S) -1-metil-


2,3 , 4,9 tetrahidro-1H-pyrido [3,4-b] asam indole-3-karboksilat (9), dan (1R, 3R) -1-

metil-2,3,4,9-tetrahidro-1H pyrido [3,4-b] indole-3-asam karboksilat (10). Struktur

ditentukan atas dasar analisis NMR dan MS, dan konfigurasi mutlak ditentukan oleh

perbandingan rotasi optik dengan senyawa yang dikenal. Ini adalah laporan pertama

dari senyawa 1, 2, 8-10 dari spons Callyspongia. Peredaran (S-Pro-R-Leu) (5), dan

peredaran (S-Pro-R-Ala) (6) menunjukkan aktivitas antifouling terhadap larva cyprid

dari teritip dengan nilai-nilai LC50 dari 3,5 ug /cm2 dan 6,0 ug /cm2, masing-masing.

Diperoleh sebagai serbuk berwarna putih dengan titik leleh 176 – 177 oC. UV

(MeOH) lmax: 237 nm dan 366 nm; penambahan pereaksi NaOH menunjukkan lmax

: 237 nm dan 366 nm; spektrum IR (Kbr) Vmax cm :>3000 cm-1 (OH), 2918, 2962,

2850 cm-1 (C-H alifatik) 1705 cm-1 (C=O), 1261, cm-1 (O-CH3), 1097 cm-1 (C-O),

1465 cm-1 dan 1407 cm-1 (CH2 dan CH3) serta tekukan keluar bidang C-H pada

serapan 865, 801 dan 720 cm-1 Senyawa (2) dperoleh sebagai kristal berwarna putih

dengan titik leleh 187 – 189 oC. UV (MeOH) lmax : 229 nm dan 274 nm;

penambahan pereaksi geser NaOH menunjukkan lmax : 229 nm dan 274 nm;

spektrum IR (Kbr) Vmax cm-1 : 3433 cm-1 (OH), 2924 dan 2851 cm-1 (C-H alifatik)

1107 (C-O), 1710 cm-1 (C=O), 1464 dan 1374 cm-1 (CH2 dan CH3) serta serapan

tekukan keluar bidang C-H pada serapan 959, 879 dan 793 cm-1.

Senyawa 1
Diperoleh berbentuk serbuk berwarna putih dengan titik leleh 176–177 oC.

Hasil uji kualitatif dengan pereaksi Liebermann Burchard menunjukkan positif warna

merah ungu yang mengindikasikan golongan senyawa triterpenoid. Dari spektrum

UV tampak bahwa senyawa 1 memberikan pita serapan maksimum pada daerah

panjang gelombang maks 237 nm (9230) dan serapan pada panjang gelombang maks

366 nm (727), setelah penambahan pereaksi geser NaOH tidak menyebabkan

pergeseran panjang gelombang yang mengindikasikan bahwa tidak ada pergeseran

gugus hidroksil. Dari data spektrum IR tersebut di atas, nampak adanya serapan pada

nmaks >3000 cm-1 menunjukkan adanya gugus OH, serapan pada 2918, 2962, 2850

cm-1 yang sangat kuat dan tajam menunjukkan adanya gugus C-H alifatik diikuti

dengan serapan pada nmaks 1463 cm-1 yang merupakan tekukan C-H alifatik dari

CH2 dan serapan pada nmaks 1385 cm-1 yang merupakan tekukan C-H alifatik dari

CH3 yang khas untuk golongan triterpenoid. Serapan pada 1705 cm-1 yang

menunjukkan regangan ulur ikatan C=O sebagai keton siklik, serapan terlihat pada

1261 cm-1 menunjukkan adanya gugus metoksi dan serapan pada 1097 cm-1

merupakan regangan ulur dari C-O alkohol sekunder serta tekukan keluar bidang

gugus CH pada serapan 865, 801 dan 720 cm-1. Berdasarkan data-data di atas dan

hasil studi literatur senyawa-senyawa triterpenoid maka dapat disimpulkan bahwa

senyawa 1 adalah senyawa golongan triterpen.

Senyawa 2
Senyawa 2 diperoleh berbentuk kristal berwarna putih dengan titik leleh 187–
o
189 C. Karakter senyawa ini tidak berpendar dibawah UV, namun dengan

menggunakan pereaksi penampak noda seriumsulfat menunjukkan noda mula-mula

berwarna biru kemudian memudar dan larut dalam kloroform. Hasil uji kualitatif

dengan pereaksi Liebermann Burchard menghasilkan warna hijau biru yang

mengindikasikan senyawa golongan steroid hal ini juga didukung dengan adanya

analisis spektrum UV dan IR. Dari spektrum UV senyawa 2 diperoleh serapan

maksimum pada lmax 229 nm (6543) dan 274 nm (2592). Penambahan pereaksi

geser NaOH tidak mengakibatkan pergeseran panjang gelombang ditunjukkan pada

serapan lmax 229 dan 274 nm yang mengindikasikan tidak ada pergeseran gugus

hidroksil. Selanjutnya informasi mengenai senyawa 2 sebagai senyawa steroid

diperoleh dari spektrum infra merah nampak adanya bilangan gelombang maksimum

pada daerah nmaks 3433 cm-1 yang merupakan serapan untuk gugus OH (hidroksil),

indikasi terhadap adanya gugus hidroksil didukung oleh serapan pada daerah nmaks

1107 cm-1 merupakan regangan ulur dari C-O alkohol sekunder yang khas untuk

golongan steroid. Pada bilangan gelombang nmaks 2924, 2851 cm-1 terdapat serapan

yang sangat kuat dan tajam menunjukkan adanya gugus C-H alifatik diikuti dengan

serapan pada nmaks 1464 cm-1 yang merupakan tekukan C-H alifatik dari CH2 dan

serapan pada nmaks 1374 cm-1 yang merupakan tekukan C-H alifatik dari CH3.

Bilangan gelombang pada nmaks 1710 cm-1 menunjukkan adanya serapan gugus

karbonil (C=O) sebagai keton siklik dan bilangan gelombang pada gelombang nmaks

1259 cm-1 yang kuat menunjukkan adanya gugus metoksi serta tekukan keluar bidang

C-H pada serapan 959,879 dan 793 cm-1. Berdasarkan data-data di atas dan hasil studi
literatur senyawa-senyawa steroid maka dapat disimpulkan bahwa senyawa 2 adalah

senyawa golongan steroid.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari, dkk., Spons Callyspongia sp.

merupakan salah satu biota laut yang banyak tersebar diperairan Indonesia. Spons ini

menarik untuk diteliti bioaktivitas dari fraksi proteinnya. Protein tersebut diisolasi

dengan menggunakan buffer Tris (hidroksimetil) amino metana. Ekstrak kasar

difraksinasi dengan penambahan amonium sulfat pada tingkat kejenuhan 0-20%, 20-

40%, 40-60%, dan 60-80%. Pemurnian protein dilakukan dengan cara dialisis

menggunakan kantong selofan. Kadar protein ditentukan berdasarkan metode Lowry.

Jumlah protein tertinggi terdapat pada fraksi 60-80% sebesar 290,4 mg. Pengujian

aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH dengan spektrofotometri UV-

Vis diamati absorbansinya pada λ = 500 nm. Aktivitas antioksidan yang kuat terdapat

pada fraksi protein 0-20% kejenuhan dengan nilai IC50 sebesar 61,62µg/mL.

Sedangkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat ditunjukkan oleh fraksi protein 20-

40%, 40-60%, dan 60-80% kejenuhan dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 28,76

µg/mL, 13,90 µg/mL, dan 35,66 µg/mL. Hasil dari penelitian menunjukkan masing-

masing fraksi protein tersebut terdapat perbedaan aktivitas antioksidan yang mampu

mencegah terjadinya proses oksidasi.


Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa konsentrasi protein berbeda-beda pada tiap

fraksi. Perbedaan konsentrasi protein pada tiap fraksi mengindikasikan adanya

perbedaan kelarutan protein dalam air. Protein yang kelarutannya kurang dalam air

maka terlebih dahulu mengendap dibandingkan protein yang kelarutannya lebih

tinggi dalam air. Konsentrasi protein tertinggi pada spons Callyspongia sp. ditemukan

pada fraksi 60-80% (F4) dengan total protein 290,4 mg. Dari data tersebut dapat

diduga bahwa protein pada spons Callyspongia sp.merupakan jenis protein yang

kelarutannya cukup tinggi.

Pada penelitian ini, pengujian aktivitas antioksidan dilakukan terhadap

masing-masing fraksi protein dibuat dengan berbagai variasi konsentrasi, kemudian

diukur absorbansi pada panjang gelombang 500 nm dan absorbansi kontrol sebesar

0,504. Absorbansi yang diperoleh dihitung aktivitas antioksidannya. Hasil

perhitungan aktivitasnya dapat dilihat pada Tabel 2.


Persen inhibisi adalah kemampuan suatu bahan untuk menghambat aktivitas

radikal bebas, yang berhubungan dengan konsentrasi suatu bahan uji. Persen inhibisi

ini didapatkan dari perbedaan serapan antara absorban DPPH dengan absorban

sampel yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis. Parameter yang dipakai untuk

menunjukkan aktivitas antioksidan adalah Inhibition Concentration (IC50) yaitu

konsentrasi suatu zat antioksidan yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan

karakter radikal atau konsentrasi suatu zat antioksidan yang memberikan persen

penghambatan 50%. Semakin kecil nilai IC50 berarti aktivitas antioksidannya semakin

tinggi.

Hasil dari penelitian ini, terdapat satu fraksi yang memiliki aktivitas

antioksidan yang kuat karena nilai IC50-nya lebih dari 50 ìg/mL yaitu fraks 0-20%

(F1), sedangkan tiga fraksi yaitu Fraksi 20-40% (F2), fraksi 40-60% (F3) dan fraksi

60-80% (F4) memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat karena nilai IC50-nya

kurang dari 50 ìg/mL. Hal ini jauh berbeda dengan aktivitas antioksidan asam

askorbat, yang aktivitas antioksidannya lebih kuat dari senyawa bioaktif antioksidan

yang terdapat pada keempat fraksi spons callyspongia sp. ini ditunjukkan dengan nilai

IC50 asam askorbat yang jauh lebih kecil dari IC50 fraksi protein spons Callyspongia

sp.

Hal tersebut dapat terjadi karena fraksi protein spons Callyspongia sp. yang

digunakan dalam penelitian ini masih tergolong sebagai fraksi protein kasar. Fraksi

protein ini masih mengandung senyawa lain yang bukan merupakan senyawa

antioksidan. Senyawa lain tersebut ikut terekstrak dalam pelarut selama proses

ekstraksi. Senyawa-senyawa ini dapat meningkatkan nilai rendemen fraksi protein,


tetapi tidak dapat meningkatkan aktivitas antioksidan fraksi protein tersebut

sedangkan untuk asam askorbat merupakan senyawa murni. Pada penelitian ini,

terlihat ada sedikit perbedaan yang signifikan antara fraksi 0-20% (F1), Fraksi 20-

40% (F2), fraksi 40-60% (F3) dan fraksi 60-80% (F4), masing-masing fraksi protein

memiliki kekuatan penghambat yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya,

yang mampu mencegah terjadinya proses oksidasi.

A. Ekstraksi dan Isolasi

1). Metode Karakterisasi

Spons basah (10 kg) diekstraksi tiga kali dengan EtOH / H2O (90:10, 20 L).

Berair Ekstrak EtOH terkonsentrasi di bawah vakum. Ekstrak gabungan dipartisi

antara EtOAc dan H2O. The EtOAc bagian yang dapat larut (28 g) dipartisi antara

petroleum eter dan EtOH / H2O (7: 3, 500 mL). The EtOH / H2O sebagian larut (8,0

g) dikromatografi pada kolom silika gel (80 g) dielusi dengan petroleum eter (500

mL, fraksi A), petroleum eter / EtOAc (8: 2, 500 mL, fraksi B), petroleum eter /

EtOAc (1: 1, 500 mL, fraksi C), petroleum eter / EtOAc (3: 7, 500 mL, fraksi D),

petroleum eter / EtOAc (1: 9, 500 mL, fraksi E), EtOAc (500 mL, fraksi F), EtOAc /

aseton (1: 1, 500 mL, fraksi G), dan MeOH (500 mL, fraksi H), untuk memberikan

delapan fraksi. Fraksi D (1,06 g) dengan kromatografi kolom (CC) dengan gradien

EtOAc / aseton (10: 0, 250 mL; 8: 2, 250 mL; 7: 3, 250 mL; 5: 5, 250 mL) untuk

memberikan empat subfraksi (D1-D4). Fraksi D1 (45,2 mg) dimurnikan dengan

Sephadex LH-20 (CHCl3 / MeOH, 2: 8, 250 mL) untuk membeli 3 (13,3 mg). Fraksi

D4 (90,1 mg) adalah dimurnikan dengan Sephadex LH-20 (CHCl3 / MeOH, 2: 8, 250
mL) untuk menghasilkan 2 (23,4 mg). fraksi G3-2 (112,3 mg) dimurnikan dengan

Sephadex LH-20 (CHCl3 / MeOH, 2: 8, 250 mL) untuk menghasilkan fraksi G3-2-1

(80,2 mg). Fraksi G3-2-1 selanjutnya mengalami CC dengan CHCl3 / MeOH (98: 2,

150 mL) untuk memberikan 4 (4.3 mg). Fraksi G6 (300,1 mg) menjadi sasaran CC

dengan CHCl3 / MeOH (9: 1, 250 mL) untuk memberikan dua subfraksi (G6-1, G6-

2). Fraksi G6-1 (122,6 mg) selanjutnya dimurnikan dengan Sephadex LH-20

(CHCl3 /MeOH, 2: 8, 150 mL) untuk mengambil sebagian kecil G6-2-1 (68,1 mg).

Fraksi G6-2-1 itu selanjutnya dimurnikan dengan fase-balik HPLC (ODS, MeOH /

H2O, 5: 5, 180 mL;) untuk menghasilkan 5 (7,2 mg). N-butanol (80 g) dikromatografi

pada kolom ODS dielusi dengan MeOH /H2O (0:100, 2000 mL; 10:90, 2.000 mL;

20:80, 2.000 mL; 40:60, 2.000 mL; 60:40, 2.000 mL; 100: 0, 2000 mL) untuk

memberikan enam fraksi I, J, K, L, M, N. Fraksi J (20 g) menjadi sasaran CC dengan

gradien CHCl3/MeOH (100: 0,500 mL; 90:10, 500 mL; 80:20, 500 mL; 60:40, 500

mL; 40:60, 500 mL; 0: 100, 500 mL) untuk memberikan enam fraksi (J1-J6). Fraksi

J1 selanjutnya dimurnikan dengan fase-balik HPLC (ODS, MeOH / H2O, 5:95, 150

mL) untuk menghasilkan 1 (6,9 mg, 2,8 × 10-3 % Dari total Extractum 250,0 g.

Peredaran (S-Pro-R-Leu) (2). kristal putih; [Α] 20 D = -78,3 (c = 0,03, MeOH).

Peredaran (S-Pro-R-Val) (3). kristal putih; [Α] 20 D = -102,6 (c = 1,36, MeOH).

Peredaran (S-Pro-R-Ala) (4). Padatan putih; [Α] 20 D = -40,4 (c = 0,45, MeOH).

Peredaran (S-Pro-R-Tyr) (5). minyak kental; [Α] 20D = -9,3 (c = 0,91, MeOH).

2). Elusidasi Struktur


Callysponine (1). bubuk amorf putih; [Α] 20 D = -52,6 (c = 0,41, MeOH),

data NMR (CD3OD), lihat Tabel 1; ESI-MS (m / z): 237 [M + Na] + , 213 [M-H] - ;

HREIMS (m / z): 214,0774 [M] + (kalk untuk. C9H14N2O2S, 214,0776).

Senyawa 1 diperoleh sebagai minyak berwarna kuning dan memiliki

C9H14N2O2S rumus molekul, seperti disimpulkan dari spektrum massa HREI (m/z

214,0774 [M]+ untuk

C9H14N2O2S, 214,0776) dan data NMR (Tabel 1), yang terakhir yang jelas ditugaskan

oleh bantuan NYAMAN, HMQC, dan percobaan HMBC. 1 H-NMR (Tabel 1)

pergeseran kimia dari dua proton α-methine di δH 4,36 dan 4,11, dan 13C-NMR

(Tabel 1) pergeseran kimia dari dua karbon karbonil pada δC 170,2 dan 165,4,
didukung kehadiran peptida pecahan. Fakta bahwa senyawa 1 adalah negatif untuk

tes ninhidrin, menyarankan siklik atau N-terminus-diblokir peptida [15]. spektrum 1,

H-NMR dari 1 menunjukkan adanya satu metil sinyal pada δH 1,34 (d, J = 6,5 Hz,

3H), salah satu thiol proton pada δH 1,89 (m, 1H), tiga metilen berturut-turut sinyal

(δH = 2,0-3,7), dan tiga sinyal methine di δH 3,97 (br d, J = 3,0 Hz, 1H), 4.11 (t, J =

7,5 Hz, 1H), dan 4,36 (dt, J = 6,5, 3,0 Hz, 1H), dan satu asam amida proton pada δH

6,73 (s, 1H). 13C-NMR spektrum 1 menunjukkan adanya dua karbon karbonil (δC

170,2 dan 165,4), dua N methine karbon (δC 65,6 dan 59,0), satu karbon N-metilen

(δC 45,3), satu karbon S-methine (δC 59,4), dan satu metil karbon (δC 18,9). Karbon

yang tersisa ditugaskan untuk dua karbon metilen (δC 28.1 dan 22,6). The NYAMAN

spektrum (Gambar 2) menunjukkan tiga methylenes berturut-turut (δH 2,0-3,7)

karakteristik residu prolin [16] dan menunjukkan korelasi dari H-9 dengan H-10 dan

H-11. tugas dari C3H6S fragmen yang tersisa, dan salah satu situs ketidakjenuhan

dilakukan oleh 2D NMR HMBC korelasi H-9 / C-7, H-3a / C-1, H-3a / C-6, H-3b /

C-1, H-3b / C-6, H-11 / C-9 dan H-11 / C-10, serta konektivitas NYAMAN (Gambar

2), adalah indikasi dari pyrrolidine menyatu tujuh beranggota diazepine cincin.

Penempatan kelompok metil pada C-9, dan kelompok tiol pada C-10, yang

disimpulkan dari korelasi NYAMAN H-11 / H-9, dan SH-12 / H-10, masing-masing

Tabel 1. Data NMR H- (500 MHz) dan 13C-NMR (125 MHz) data senyawa 1 (d

CDCl3, δ di ppm, J dalam Hz).


Konfigurasi mutlak senyawa 1 ditentukan oleh rotasi optik, NOESY spektrum

dan analisis konstanta kopling (J), bersama dengan pemeriksaan model molekul. Di

spektrum NOESY (Gambar 3), korelasi kunci NOE dari H-9 / H-10 dan H-6 / H-11

menunjukkan bahwa H-9 dan H-10, H-6 dan H-11 berada di wajah yang sama,

sehingga stereokimia relatif ditentukan. Pola kopling dari H-9 (dt, J = 3,0 dan 6,5 Hz)

dan H-10 (d, J = 3,0 Hz) menyebabkan konfirmasi dari cis-orientasi H-9 / H-10 dan

memiliki β-orientasi [17], dan dengan demikian konfigurasi C-9 dan C-10 ditentukan

sebagai R* dan S* masing-masing. Tanda [α] D untuk DKPs prolin yang

mengandung adalah baik negatif atau positif, tergantung hanya pada konfigurasi

mutlak Pro [12]. Atas dasar tanda [α] 20 D (-52,6) dan oleh perbandingan data NMR

dari residu prolin dengan orang-orang dari prolin yang mengandung DKPs [12-14],

yang menyarankan C-6 memiliki (S)-Konfigurasi, karena Pro di 1 memiliki (S) -

Konfigurasi, dan data di atas disetujui konfigurasi mutlak senyawa 1 sebagai baru

(6S, 9R, 10S) -1,4-diazepine. Struktur senyawa yang dikenal 2-5 dikonfirmasi oleh
rinci dibandingkan data yang NMR dengan mereka dalam literatur [12-14].

Konfigurasi mutlak 2-5 ditentukan oleh perbandingan dengan melaporkan nilai

putaran optik [12-14]..

Senyawa 1 dievaluasi untuk sitotoksisitas dengan 3- (4,5-dimethylthiazol-2-

yl) -2,5- diphenyltetrazolium bromide (MTT) metode [18], dan menunjukkan

aktivitas marjinal terhadap panel kecil tiga tumor manusia HepG2 (sel karsinoma

hepatoma), A549 (paru-paru karsinoma sel), (Sel kanker serviks) baris sel, rasio

penghambatan mereka lebih rendah dari 10% pada konsentrasi 100 mg/mL dengan

nilai-nilai IC50 senyawa kontrol positif 5-Fu 13,70, 2,13, dan 3,83 mg/mL, masing-

masing.

Gambar 2. HMBC kunci dan korelasi COZY dari 1.

Gambar 3. NOE korelasi kunci dari senyawa 1.


BAB III

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh berdasarkan uraian pembahasan di atas

adalah sebagai berikut:


DAFTAR PUSTAKA

Romimohtarto. K dan Juwana. S., 2007, Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang
Biota Laut, Djambatan, Jakarta.

Sari N. I., Ahmad A, dan Dali S, Isolasi Dan Karakterisasi Protein Bioaktifi Dari
Spons Callyspongia Sp. Sebgai Zat Antioksidan, Universitas Hasanuddin,
Makassar.

Suriani, Usman H., dan Ahmad A., 2012, Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Bioaktifitas
Metabolit Sekunder dari Spons Callyspongia sp, Marina Chimica Acta,
1(12); 2-7