Anda di halaman 1dari 12

Tugas Makalah Biokimia

ENZIM

ALFA GLUKOSIDASE

OLEH: JUNDULLAH H (H41114319)

NURJANNAH AMIR (H41113 )

MATA KULIAH BIOKIMIA JURUSAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Enzim adalah biomolekul berupa protein berbentuk bulat (globular), yang terdiri dari

satu rantai polipeptida atau lebih dari satu rantai polipeptida. Enzim berfungsi sebagai katalis

atau senyawa yang dapat mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi. Dengan adanya

enzim, molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain

yang disebut produk. Keunggulan enzim sebagai biokatalisator antara lain memiliki spesifitas

tinggi, mempercepat reaksi kimia tanpa pembentukkan produk samping, produktivitas tinggi

dan dapat menghasilkan produk akhir yang tidak terkontaminasi sehingga mengurangi biaya

purifikasi dan efek kerusakan lingkungan.

Enzim alfa glukosidase adalah enzim yang berperan dalam konversi karbohidrat

menjadi glukosa. Karbohidrat akan dicerna oleh enzim didalam mulut dan usus menjadi gula

yang lebih sederhana kemudian diserap ke dalam tubuh dan meningkatkan kadar gula darah.

Proses pencernaan karbohidrat tersebut menyebabkan pankreas melepaskan enzim alfa

glukosidase ke dalam usus yang akan mencerna karbohidrat menjadi menjadi oligosakarida

yang kemudian akan diubah lagi menjadi glukosa oleh enzim alfa glukosidase yang

dikeluarkan oleh sel-sel usus halus yang kemudian diserap ke dalam tubuh. Dengan

dihambatnya kerja enzim alfa glukosidase, kadar glukosa dalam darah dapat dikembalikan

dalam batas normal.

Senyawa penghambat alfa glukosidase bekerja menghambat enzim alfa glukosidase

yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim alfa glukosidase (maltase, isomaltase, dan

sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida pada dinding usus halus. Penghambatan

kerja enzim ini secara efektif mengurangi pencernaan karbohidrat kompleks dan absorbsinya,

sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar glukosa post-pradial pada penderita diabetes.
Efek samping penghambatan alfa glukosidase yaitu kembung, buang angin dan diare. Supaya

lebih efektif harus dikonsumsi bersama makanan. Obat yang termasuk penghambat enzim alfa

glukosidase adalah akarbose, Miglitol dan Voglibose

Tujuan

Mengetahui jenis dan struktur enzim alfa glukosidase

Mengetahui inhibitor enzim alfa glukosidase

Rumusan masalah

Jenis-jenis alfa glukosidase?

Struktur jenis-jenis enzim Alfa glukosidase?

Inhibitor alfa glukosidase?


PEMBAHASAN

Jenis-jenis dan Struktur enzim alfa glukosidase

Enzim alpha-glukosidase adalah enzim yang berperan dalam konversi karbohidrat

menjadi glukosa. Karbohidrat akan dicerna oleh enzim didalam mulut dan usus menjadi gula

yang lebih sederhana kemudian diserap ke dalam tubuh dan meningkatkan kadar gula darah.

Proses pencernaan karbohidrat tersebut menyebabkan pankreas melepaskan enzim alpha-

glukosidase ke dalam usus yang akan mencerna karbohidrat menjadi menjadi oligosakarida

yang kemudian akan diubah lagi menjadi glukosa oleh enzim alpha-glukosidase yang

dikeluarkan oleh sel-sel usus halus yang kemudian diserap ke dalam tubuh. Dengan

dihambatnya kerja enzim alpha-glukosidase, kadar glukosa dalam darah dapat dikembalikan

dalam batas normal. Adapun jenis-jenis dari alfa glukosidase adalah

- Enzim maltase, terdapat pada usus halus yang berfungsi mengubah maltose menjadi

glukosa. Enzim Maltase merupakan salah satu enzim pada getah pankreas yang

disekresikan ke dalam usus halus saat proses pencernaan yang mempunyai stuktur

kimia Maltosa merupakan salah satu jenis disakarida yang didapatkan melalui proses

pemecahan pati atau amilum oleh enzim amilase. Maltosa terbentuk dari proses

hidrolisis oleh enzim amilase pada pati yang dapat ditemui di biji berkecambah. Selain

itu juga, maltosa juga bisa dibentuk melalui pemecahan glikogen dan pati selama

pencernaan. Beberapa fungsi maltosa yaitu dapat digunakan dalam pembuatan


minuman ringan, bir, dan makanan. Maltosa memiliki titik lebur antara 102o sampai

103o C. Senyawa ini memiliki gugus aldehida bebas sehingga mampu mereduksi

larutan Fehling. Adanya gugus aldehid dioksida membuat hasil positif yang

menunjukkan bahwa maltosa adalah gula pereduksi. Karena merupakan gula

sederhana, maka senyawa ini memiliki rasa manis. Pada tahun 2006, Sharkey dan Lu

menjelaskan bahwa maltosa merupakan bentuk utama dari karbon yang diekspor pada

malam hari dari kloroplas yang ada. Maltosa yaitu biomolekul yang mempunyai gugus

karbohidrat dimana di dalamnya terbagi menjadi tiga kelompok menjadi unsur penting,

yaitu lemak, protein, dan karbohidrat. Karbohidrat tersusun oleh C, H, O yang

didefinisikan sebagai atau polihidroksi atau aldehida polihidroksi keton. Pada

umumnya, hal ini dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni oligosakarida,

polisakarida, dan monosakarida. Sedangkan maltosa adalah disakarida yang terbentuk

dari bersatunya dua unit dari monosakarida. Keduanya memiliki masing-masing enam

karbon sehingga dapat disebut dengan heksosa. Meskipun maltosa tidak mempunyai

fungsi khusus di dalam tubuh, tapi senyawa ini dapat digunakan untuk pemanis buatan

secara massal dalam bentuk sirup ataupun bubuk. Selain itu juga dapat ditambahkan ke

berbagai sukrosa bebas dan makanan manis seperti permen karet, permen, selai,

cokelat, roti, dan es krim. Fungsi ini bisa di dapatkan apabila produsen telah mengubah

maltosa menjadi alkohol gula disakarida atau yang sering disebut maltilol. Maltosa

memiliki rasa manis yang relatif rendah daripada fruktosa dan glukosa. Tingkat rasa

manis ini sekitar 1/6 dari manisnya fruktosa dan 1/2 dari manis glukosa. Tubuh dapat

menyerap maltosa secara perlahan sekitar 50 hingga 60 persen dari maltilol, sedangkan

sisanya akan di fermentasi atau diekskresi di dalam usus. Pada tubuh mahkluk hidup,

maltosa terbentuk dari proses pemecahan amilum oleh amilase dan amilase merupakan

hasil dari pankreas dan kelenjar ludah. Sedangkan pada tumbuhan, maltosa didapatkan
pada fase perkecambahan. Senyawa ini akan diuraikan lagi dalam reaksi hidrolisis

hingga menjadi 2 senyawa glukosa. Proses pemecahan glukosa dari maltosa dapat

dikatalis menggunakan enzim maltase. Sudah diketahui bahwa maltosa merupakan

disakarida hasil dari dua molekul glukosa. Terdapat beberapa cara yang digunakan

untuk mengidentifikasi adanya maltosa di berbagai makanan. Cara pertama dapat

dilakukan dengan uji benedict. Dalam uji coba ini maltosa akan menghasilkan suatu

endapan berwarna kuning karena maltosa memiliki sifat sebagai pereduksi. Selain itu,

ada uji barfoed yang juga bisa digunakan untuk identifikasi maltosa. Pada pengujian ini

pun maltosa juga menghasilkan endapan. Hal ini berarti bahwa maltosa merupakan

disakarida. Cara yang terakhir adalah uji seliwanoff. Pada uji coba ini, maltosa akan

membentuk warna merah. Berdasarkan beberapa uji coba ini dapat membantu kita

dalam menentukan biji-bijian, buah-buahan, makanan atau minuman apa saja yang

mengandung maltosa. Sehingga kita dapat menentukan menakar kebutuhan nutrisi

dalam tubuh.

- Isomaltase, merupakan Enzim yang dihasilkan oleh getah usus agar dapat

menggabungkan zat maltase menjadi kameltosa yang lebih efesien. Adapun struktur

kimianya adalah
- sukrase adalah enzim saluran pencernaan yang berfungsi untuk mengubah / memecah

sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa. Sukrosa merupakan molekul disakarida, agar

lebih mudah direaksikan oleh tubuh, maka enzim sukrase mengubahnya

menjadi monosakarida. Enzim Sukrase merupakan salah satu enzim pada getah

pankreas yang disekresikan ke dalam usus halus saat proses pencernaan. Adapun

stuktur kimianya adalah :

b. Inhibitor enzim alfa glukosidase

Senyawa-senyawa inhibitor -glukosidase bekerja menghambat enzim alfa glukosidase

yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim -glukosidase (maltase, isomaltase,

glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida, pada dinding usus

halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi pencernaan karbohidrat

kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar glukosa post

prandial pada penderita diabetes. Senyawa inhibitor -glukosidase juga menghambat enzim -

amilase pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam lumen usus halus.

- Acarbose
Acarbose adalah suatu oligosakarida yang diperoleh dari proses fermentasi

mikroorganisme, Actinoplnes utahensis, dengan nama kimia O-4,6-dideoxdy-

4[[(1S,4R,5S,6S)-4,5,6-trihydroxy-3-(hydroxymethyl)-2-cyclohexene-1-yl]amino]--

D-gluco pyranosyl-1(1>4)-O--D glucopyranosyl-(1>4)-D-glucose. Acarbose

merupakan serbuk berwarna putih dengan berat molekul 645,6 bersifat larut dalam air

dan memiliki pKa 5,1. Rumus empiriknya adalah C25H43NO18. Adapun struktur

kimianya adalah:

Acarbose tidak merangsang sekresi insulin oleh sel-sel -Langerhans kelenjar

pankreas. Oleh sebab itu tidak menyebabkan hipoglikemia, kecuali diberikan bersama-

sama dengan OHO yang lain atau dengan insulin. Obat ini efektif bagi pasien dengan

diet tinggi karbohidrat dan kadar glukosa plasma puasa kurang dari 180 mg/dl. Pasien

yang mendapat terapi acarbose saja umumnya tidak akan meningkat berat badannya,

bahkan akan sedikit menurun.Acarbose dapat diberikan dalam terapi kombinasi

dengan sulfonilurea, metformin, atau insulin.

Acarbose mempunyai mekanisme kerja menghambat kerja enzim alfa

glukosidase yang terdapat pada brush border dipermukaan membran usus halus.

Enzim alfa glukosidase berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida pada dinding


usus halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi pencernaan

karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar

glukosa post prandial pada pasien diabetes. Senyawa inhibitor alpha-glukosidase juga

menghambat enzim a-amilase pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di

dalam lumen usus halus. Afinitas relatif acarbose untuk enzim spesifik adalah sebagai

berikut: glycoamylase> sukrase> maltase> dekstranase. Acarbose memiliki sedikit

afinitas untuk isomaltase dan tidak ada afinitas untuk -glucosidases, seperti laktase.

Dengan pemberian acarbose maka pemecahan karbohidrat menjadi glukosa di usus

akan menjadi berkurang, penyerapan monosakarida setelah makan tertunda dan

transportasi melalui permukaan mukosa ke dalam sirkulasi terganggu sehingga dengan

sendirinya kadar glukosa darah akan berkurang.

Acarbose sulit diserap dan memiliki bioavailabilitas sistemik yang

rendah. Setelah pemberian oral, <2% dari obat tidak berubah diserap dan masuk

sirkulasi, dengan sebagian besar yang tersisa dalam lumen saluran pencernaan.

Acarbose dipecah di usus besar oleh enzim bakteri menjadi beberapa metabolit

(glukosa, maltosa, acarviosine), sekitar 35% di antaranya akan diserap,


tergantung pada flora mikroba dalam usus. Materi yang diserap muncul dalam

urin sebagai metabolit, sebagian besar glukosa, dalam waktu 14 sampai 24 jam.

Ekskresi didominasi melalui ginjal. Jumlah kecil obat yang mencapai sirkulasi

sistemik dapat masuk aparatus lisosom-vacuolar oleh endositosis dan dapat

menimbulkan sedikit penekanan glukosa dan merangsang pelepasan insulin.

Setelah makan karbohidrat tinggi, acarbose menurunkan kenaikan postprandial

glukosa darah sekitar 20%, atau 2,75-3,30 mmol / L, tergantung pada dosis,

tingkat hiperglikemia dan jenis karbohidrat tertelan.


KESIMPULAN

1. Adapun jenis-jenis dari enzim alfa glukosidase adalah maltose, isomaltose

dan sukrase

2. Inhibitor alfa glukosidase adalah akarbose


DAFTAR PUSTAKA

Bsenberg LH, van Zyl DG: 2008. The mechanism of action of oral antidiabetic drugs: A

review of recent literature. Journal of Endocrinology, Metabolism and Diabetes of South

Africa (JEMDSA), 13 (3) / Dec, pp 80-88.

Gitawati R. 2008. INTERAKSI OBAT DAN BEBERAPA IMPLIKASINYA. E-journal Media

Litbang Kesehatan Volume XVIII Nomor 4.

Heiner Laube, Department of Internal Medicine, Universitt Giessen, Germany.Clin Drug

Invest. 2002;22(3). Acarbose. Artikel diakses di www.medscape.com/

viewarticle/432744_2 tanggal 16-11-2014.

Nutrient-Drug Interactions edited by Meckling K. A.. Taylor Francis Group New York. (E-

book).

Tjay, T.H., Rahardja, K. (2002). Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan. Efek-Efek

Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media. Komputindo.

www.wikipedia.org/wiki/Acarbose