Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN PENDIDIKAN KESEHATAN

TENTANG ASI EKSKLUSIF DI POLI HAMIL


RSD dr. SOEBANDI JEMBER

oleh:
Joveny Meining Tyas, S.Kep NIM. 152311101107
Richo Febriyanto, S.kep NIM. 152311101109
Siti Aisyah, S.Kep NIM. 152311101112
Wilda Al Aluf, S.Kep NIM. 152311101118

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Pemberian ASI eksklusif


Sasaran : Pasien dan Keluarga
Waktu : 10.00
Hari/Tanggal : Kamis, 27 Juni 2019
Tempat : Ruang Poli Hamil RSD dr.Soebandi Jember

A. Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil, bersalin dan nifas adalah
masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25-30% kematian
wanita usia subur disebabkan oleh kehamilan persalinan dan nifas. Kematian saat
melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa
puncak produktivitasnya. Tahun 2006 WHO memperkirakan lebih dari 585.000
ibu pertahunnya meninggal saat hamil bersalin dan nifas. Di Asia Selatan wanita
kemungkinan 1 : 18 meninggal akibat kehamilan, persalinan dan nifas. Di negara
Afrika 1 : 14, sedangkan di Amerika Utara hanya 1 : 6.366. Lebih dari 50%
kematian di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan teknologi yang
ada serta biaya relatif rendah (Prawirohardjo, 2012).
Pada wanita atau ibu nifas, penjelasan mengenai tanda-tanda bahaya masa
nifas sangat penting dan perlu, oleh karena masih banyak ibu atau wanita yang
sedang hamil atau pada masa nifas belum mengetahui tentang tanda-tanda bahaya
masa nifas, baik yang diakibatkan masuknya kuman kedalam alat kandungan
seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain
dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri) (Mochtar, 2008). Hingga saat
ini penyebab infeksi nifas diantaranya adalah persalinan berlangsung lama sampai
terjadi persalinan terlantar, tindakan operasi persalinan, tertinggalnya plasenta,
selaput ketuban dan bekuan darah, ketuban pecah dini atau pada pembukaan
masih kecil melebihi 6 jam, keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum
yaitu perdarahan antepartum dan post partum, anemia pada sat kehamilan,
malnutrisi, kelelahan, dan ibu hamil dengan penyakit infeksi.
Selain tanda bahaya masa nifas, ibu juga harus dibekali pengetahuan
mengenai ASI eksklusif. ASI eksklusif merupakan pemberian ASI sedini
mungkin sampai bayi berusia 6 bulan tanpa makanan tambahan lainnya. ASI
mengandung berbagai macam zat antibodi yang berasal dari ibu, memberi
perlindungan terhadap berbagai sumber penularan penyakit bagi bayi. Bayi
yang minum ASI dibanding dengan bayi yang minum susu bubuk buatan,
lebih jarang terjangkit bermacam penyakit akut maupun kronis. ASI juga bisa
mengikuti pertumbuhan bayi dengan otomatis merubah komposisinya, untuk
menyesuaikan kebutuhan setiap tahap masa pertumbuhan bayi. ASI tidak
mengandung jenis protein dari benda lainnya, bisa mengurangi kemungkinan
yang mengakibatkan bayi terkena alergi.
ASI mengandung komposisi gizi yang sangat dibutuhkan oleh
pertumbuhan otak bayi, uji klinis telah membuktikan bahwa bayi yang
dibesarkan dengan ASI, IQ-nya (Intellegencia Quotient) lebih tinggi. Melalui
proses menyusui, pendekatan intim antara bayi dan ibu, lebih mudah
menumbuhkan EQ bayi dalam kepercayaan diri sendiri maupun orang lain.
B. Tujuan Intruksional Umum
Setelah diadakan penyuluhan pada keluarga pasien di Ruang Dahlia RSD
dr.Soebandi jember, diharapkan keluarga mendapat tambahan pengetahuan
yang lebih dan mampu memehami tanda bahaya masa nifas dan manfaat ASI
eksklusif
C. Tujuan Intruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan keluarga pasien di ruang aster

RSD dr.Soebandi dapat:

1. Menjelaskan pengertian tanda bahaya masa nifas dan ASI eksklusif

4. Menjelaskan manfaat dan berapa lama ASI eksklusif diberika

5. Menyebutkan hal yang mempengaruhi produksi Asi

6. Menjelaskancara menyusui yang benar


D. Garis Besar Materi
Materi yang akan disampaikan pada penyuluhan pendidikan kesehatan di
ruang aster RSD dr.Soebandi Jember menjelaskan mengenai pengertian dan
tanda gejala bahaya masa nifas, manfaat ASI eksklusif, dan berapa lama ASI
eksklusif diberikan.
E. Metode
1. Ceramah

2. Tanya jawab

3. Demonstrasi

F. Media
1. Leaflet
2. Power Point dan LCD
G. Pengorganisasian
1. Penanggungjawab : Siti Aisyah, S.Kep
2. Penyaji : 1. Wilda Al Aluf, S.Kep
2. Joveny Meining Tyas
3. Richo Febriyanto

H. Proses Kegiatan
Tindakan
Proses Waktu
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta

Pendahuluan 1. Salam pembuka menjawab 2 menit

2. Memperkenalkan diri

3. Menjelaskan tujuan
umum dan tujuan
khusus

Penyajian 1. Menjelaskan materi Memperhatikan, 20 menit


tentang : menanggapi dengan
a. Pengertian ASI pertanyaan
eksklusif
b. Manfaat ASI
eksklusif
c. Berapa Lama
ASI eksklusif
diberikan
d. Perwatan
Payudara
2. Memberikan
kesempatan pada
audience untuk
bertanya

3. Menjawab
pertanyaan audience

4. Memberikan
kesempatan kepada
perwakilan audience
untuk menjelaskan
kembali materi yang
sudah disampaikan

Penutup 1. Menyimpulkan materi Memperhatikan dan 3 menit


yang telah diberikan menanggapi
2. Mengevaluasi hasil
pendidikan kesehatan

3. Memberikan Leaflet
tentang tanda bahaya
masa nifas dan ASI
eksklusif

4. Salam penutup

I. Evaluasi :
1. Evaluasi struktur
a. Persiapan media yang akan digunakan (leaflet dan power point)
b. Persiapan tempat yang digunakan
c. Kontrak waktu
d. Persiapan SAP
2. Evaluasi proses
a. Selama pedidikan peserta memperhatikan penjelasan yang
disampaikan
b. Selama pendidikan peserta aktif bertanya tentang penjelasan yang
disampaikan
c. Selama pendidikan peserta aktif menjawab pertanyaan yang
diajukan
3. Evaluasi Hasil Akhir
Diharapkan peserta pendidikan kesehatan dapat :
a. Mengetahui pengertian ASI eksklusif
b. Mengetahui berapa lama ASI eksklusif harus diberikan
c. Mengetahui apa yang mempengaruhi produksi ASI
d. Mengetahui cara perawatan payudara

DAFTAR PUSTAKA

Prawiroharjo. 2012. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogjakarta: Mitra Cendikia


Press
Mochtar, R. 2008.Tanda Bahaya Masa Nifas. Jakarta: EGC
Lampiran 1. Materi
ASI EKSLUSIF
A. Definisi
ASI eksklusif merupakan pemberian ASI sedini mungkin sampai bayi
berusia 6 bulan tanpa makanan tambahan lainnya.

B. Kandungan ASI
1. Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah
satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir
2 kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu
formula. Namun demikian angka kejadian diare yang disebabkan karena tidak
dapat mencerna laktosa (intoleransi laktosa) jarang ditemukan pada bayi yang
mendapat ASI. Hal ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih baik
dibanding laktosa susu sapi atau susu formula. Kadar karbohidrat dalam
kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa
pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Sesudah melewati masa ini
maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil.

2. Protein

Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan


protein yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri
dari protein whey dan Casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari
protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi
lebih banyak mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus
bayi. Jumlah protein Casein yang terdapat dalam ASI hanya 30% dibanding
susu sapi yang mengandung protein ini dalam jumlah tinggi (80%). Disamping
itu, beta laktoglobulin yaitu fraksi dari protein whey yang banyak terdapat di
protein susu sapi tidak terdapat dalam ASI. Beta laktoglobulin ini merupakan
jenis protein yang potensial menyebabkan alergi.
Kualitas protein ASI juga lebih baik dibanding susu sapi yang terlihat dari
profil asam amino (unit yang membentuk protein). ASI mempunyai jenis asam
amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah
asam amino taurin; asam amino ini hanya ditemukan dalam jumlah sedikit di
dalam susu sapi. Taurin diperkirakan mempunyai peran pada perkembangan
otak karena asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada
jaringan otak yang sedang berkembang. Taurin ini sangat dibutuhkan oleh bayi
prematur, karena kemampuan bayi prematur untuk membentuk protein ini
sangat rendah.

ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik
yang tersusun dari 3 jenis yaitu basa nitrogen, karbohidrat, dan fosfat)
dibanding dengan susu sapi yang mempunyai zat gizi ini dalam jumlah sedikit.
Disamping itu kualitas nukleotida ASI juga lebih baik dibanding susu sapi.
Nukleotida ini mempunyai peran dalam meningkatkan pertumbuhan dan
kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan
meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh.

3. Lemak

Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu
formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung
pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan
antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau susu
formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak
bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung
banyak asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA)
dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan
saraf dan retina mata.

Susu sapi tidak mengadung kedua komponen ini, oleh karena itu hampir
terhadap semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA ini. Tetapi perlu
diingat bahwa sumber DHA & ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula
tentunya tidak sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah lemak total di dalam
kolostrum lebih sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi mempunyai persentasi
asam lemak rantai panjang yang tinggi.

ASI mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang
dibanding susu sapi yang lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Seperti
kita ketahui konsumsi asam lemah jenuh dalam jumlah banyak dan lama tidak
baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

4. Karnitin

Karnitin ini mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang


diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh. ASI mengandung kadar
karnitin yang tinggi terutama pada 3 minggu pertama menyusui, bahkan di
dalam kolostrum kadar karnitin ini lebih tinggi lagi. Konsentrasi karnitin bayi
yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu
formula.

5. Vitamin
a) Vitamin K

Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang berfungsi sebagai
faktor pembekuan. Kadar vitamin K ASI hanya seperempatnya kadar
dalam susu formula. Bayi yang hanya mendapat ASI berisiko untuk terjadi
perdarahan, walapun angka kejadian perdarahan ini kecil. Oleh karena itu
pada bayi baru lahir perlu diberikan vitamin K yang umumnya dalam
bentuk suntikan.

b) Vitamin D

Seperti halnya vitamin K, ASI hanya mengandung sedikit vitamin D. Hal


ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan menjemur bayi pada pagi hari
maka bayi akan mendapat tambahan vitamin D yang berasal dari sinar
matahari. Sehingga pemberian ASI eksklusif ditambah dengan
membiarkan bayi terpapar pada sinar matahari pagi akan mencegah bayi
menderita penyakit tulang karena kekurangan vitamin D.

c) Vitamin E

Salah satu fungsi penting vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel
darah merah. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya
kekurangan darah (anemia hemolitik). Keuntungan ASI adalah kandungan
vitamin E nya tinggi terutama pada kolostrum dan ASI transisi awal.

d) Vitamin A

Selain berfungsi untuk kesehatan mata, vitamin A juga berfungsi untuk


mendukung pembelahan sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan. ASI
mengandung dalam jumlah tinggi tidak saja vitamin A dan tetapi juga
bahan bakunya yaitu beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan
mengapa bayi yang mendapat ASI mempunyai tumbuh kembang dan daya
tahan tubuh yang baik.

e) Vitamin yang larut dalam air

Hampir semua vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, asam folat,
vitamin C terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh
terhadap kadar vitamin ini dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup
tinggi dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12 dan asam folat mungkin
rendah pada ibu dengan gizi kurang. Karena vitamin B6 dibutuhkan pada
tahap awal perkembangan sistim syaraf maka pada ibu yang menyusui
perlu ditambahkan vitamin ini. Sedangkan untuk vitamin B12 cukup di
dapat dari makanan sehari-hari, kecuali ibu menyusui yang vegetarian.
6. Mineral

Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih
mudah diserap dibandingkan dengan mineral yang terdapat di dalam susu
sapi. Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah kalsium yang
mempunyai fungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan rangka, transmisi
jaringan saraf dan pembekuan darah. Walaupun kadar kalsium ASI lebih
rendah dari susu sapi, tapi tingkat penyerapannya lebih besar. Penyerapan
kalsium ini dipengaruhi oleh kadar fosfor, magnesium, vitamin D dan lemak.
Perbedaan kadar mineral dan jenis lemak diatas yang menyebabkan
perbedaan tingkat penyerapan. Kekurangan kadar kalsium darah dan kejang
otot lebih banyak ditemukan pada bayi yang mendapat susu formula
dibandingkan bayi yang mendapat ASI. Kandungan zat besi baik di dalam
ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi. Namun bayi
yang mendapat ASI mempunyai risiko yang lebih kecil utnuk mengalami
kekurangan zat besi dibanding dengan bayi yang mendapat susu formula. Hal
ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI lebih mudah diserap,
yaitu 20-50% dibandingkan hanya 4 -7% pada susu formula. Keadaan ini
tidak perlu dikuatirkan karena dengan pemberian makanan padat yang
mengandung zat besi mulai usia 6 bulan masalah kekurangan zat besi ini
dapat diatasi.

i. Manfaat dan kelebihan ASI


1. Nutrisi terbaik bagi bayi
2. Interaksi menimbulkan rasa aman bagi bayi
3. Mengurangi kemungkinan obesitas.
4. Mengurangi insiden karies gigi
5. Mencegah perdarahan pasca persalinan
6. Menjarangkan kehamilan
7. Murah dan praktis
ii. Faktor yang mempengaruhi produksi ASI
1. Kondisi ibu yang sehat dan tanpa stress.
2. Isapan bayi yang benar pada saat bayi menyusui tanpa jadwal.
3. Kecukupan gizi dan cairan ibu.

iii. Cara menyusui yang benar


1. Oleskan ASI pada putting dan areola sebelum menyusui bayi
2. Letakkan bayi pada perut/payudara ibu
3. Payudara dipegang, ibu jari diatas, dan jari lain menopang bawah payudara
4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut
5. Bayi didekatkan ke payudara ibu dengan putting serta aerola dimasukkan ke
mulut bayi
6. Setelah bayi mulai menghisap, payudara tak perlu dipegang atau disangga
lagi
7. Menyusui pada satu payudara dikosongkan terlebih dahulu baru beralih ke
payudara yang lain karena lkarena kandungan lemak yang banyak pada ASI
terakhir. Selain itu, saat bayi akan menyusu lagi maka harus dimulai dari
payudara yang terakhir diberikan. Misalnya pertama menyusui dari
payudara sebelah kanan hingga kosong, lalu pindah ke payudara sebelah kiri
sampai bayi kenyang. Menyusui berikutnya mulai dari payudara sebelah
kira hingga kosong lalu pindak ke kanan.

iv. Posisi menyusui yang benar


Bayi tampak tenang, Badan bayi menempel pada perut ibu, Mulut bayi
terbuka lebar, Dagu bayi menempel pada payudara ibu, Sebagaian besar aerola
masuk kedalam mulut bayi,aerola bawah lebih banyak yang masuk, Bayi nampak
mengisap dengan kuat dengan irama perlahan,, Puting susu ibu tidak terasa nyeri,
Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus, kepala agak menengadah.
Cara melepas isapan bayi
1. Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau,
2. Dagu bayi ditekan ke bawah.
3. Setelah selesai menyusui, bersihkan dengan air bersih dan keringkan.

v. Waktu dan durasi menyusui


Sebaiknya bayi disusui sesuai keinginan bayi (on demand), karena bayi akan
menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu
payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam.
Bila bayi puas menyusu,bayi akan tertidur pulas.

vi. Penyimpanan Asi


1. Suhu dan waktu penyimpanan Pada dasarnya dengan cara menyimpan ASI
yang tepat, ASI dapat tahan selama 6-8 jam bila suhu ruangan kurang dari
25°C. Bila kurang dari suhu tersebut, ASI harus disimpan di dalam kulkas
ataufreezer.
2. Untuk ibu yang bekerja di kantor, ASI dapat dipompa pada pagi hari lalu di
simpan di dalam kulkas untuk kebutuhan selama bayi ditinggal bekerja. Bila
di simpan pada kulkas bersuhu 4°C, ASI dapat disimpan maksimum 5 hari.
3. ASI juga dapat dipompa ketika ibu berada di kantor lalu kemudian disimpan
di dalam kulkas kantor hingga waktunya pulang ke rumah. Gunakan
termometer kulkas untuk selalu memantau suhu kulkas atau freezer selama
menyimpan ASI.
4. Walaupun sangat jarang terjadi, kadang kita butuh menyimpan ASI dalam
jangka waktu yang lebih lama. Bila dibekukan pada freezer bersuhu -15°C,
ASI dapat disimpan selama maksimum 2 minggu.
5. Selalu letakkan ASI pada bagian belakang kulkas atau freezer, karena bagian
ini memiliki suhu yang paling dingin. Bila waktu penyimpanan sudah
lewat, jangan gunakan lagi ASI tersebut.
6. Tempat yang baik untuk menyimpan ASI adalah tempat berbahan beling
atau plastik dengan tutup yang kedap udara, misalnya botol susu ditutup
rapat, atau kantong khusus untuk ASI.
7. Jangan gunakan kantong yang bukan khusus untuk ASI, karena dapat pecah
ketika dibekukan di dalam freezer.
8. Bersihkan botol atau wadah dengan air hangat dan sabun, kemudian bilas
sampai bersih dengan air hangat atau disterilisasi dengan merebusnya
seperti halnya mempersiapkan botol susu biasa, lalu biarkan kering secara
alami. Berhati-hatilah untuk merebus tempat berbahan plastik, karena hanya
plastik berlabel BPA-free yang aman bila terkena panas.

vii. Cara Penyajian Asi Perah Yang Disimpan


1. Cek tanggal pada label wadah ASI. Gunakan ASI yang paling dulu disimpan
2. ASI tidak harus dihangatkan. Beberapa ibu memberikannya dalam keadaan
dingin
3. Setelah dikeluarkan dari kulkas, cara yang paling tepat untuk
memanaskannya adalah dengan merendam botol atau tempat penyimpanan
di dalam mangkuk berisi air panas.
4. Bila ASI tersebut tidak habis dalam sekali pakai, jangan digunakan kembali

setelah 24 jam. Jangan memanaskan ASI dengan microwave.


5. ASI yang beku dari freezer dapat dicairkan dengan cara : Menaruhnya di
dalam kulkas selama 4 jam, atau dengan cara ini : sirami tempat
penyimpanan (masih dalam kondisi tetap tertutup rapat) dengan air dingin
yang mengalir dari kran. Ketika ASI mulai mencair, gunakan air hangat dari
kran sampai seluruhnya mencair. Jangan mencairkan ASI beku dengan cara
mendiamkannya pada suhu ruangan.
6. Setelah ASI cair, rendam botol atau tempat penyimpanan di dalam mangkok
atau wadah yang diisi air panas
7. Untuk ASI beku: pindahkan wadah ke lemari es selama 1 malam atau ke

dalam bak berisi air dingin. Naikkan suhu air perlahan-lahan hingga
mencapai suhu pemberian ASI
8. Untuk ASI dalam lemari es: Hangatkan wadah ASI dalam bak berisi air
hangat atau air dalam panci yang telah dipanaskan selama beberapa menit.
Jangan menghangatkan ASI dengan api kompor secara langsung.
9. Jangan menaruh wadah dalam microwave. Microwave tidak dapat
memanaskan ASI secara merata dan justru dapat merusak komponen ASI
dan membentuk bagian panas yang melukai bayi. Botol juga dapat pecah
bila dimasukkan ke dalam microwave dalam waktu lama.
10. Goyangkan botol ASI dan teteskan pada pergelangan tangan terlebih dahulu
untuk mengecek apakah suhu sudah hangat.
11. Berikan ASI yang dihangatkan dalam waktu 24 jam. Jangan membekukan

ulang ASI yang sudah dihangatkan.


12. ASI yang telah dihangatkan kadang terasa seperti sabun karena hancurnya
komponen lemak. ASI dalam kondisi ini masih aman untuk dikonsumsi.
Apabila ASI berbau anyir karena kandungan lipase (enzim pemecah lemak)
tinggi, setelah diperah, hangatkan ASI hingga muncul gelembung pada
bagian tepi (jangan mendidih) lalu segera didinginkan dan dibekukan. Hal
ini dapat menghentikan aktivitas lipase pada ASI. Dalam kondisi inipun
kualitas ASI masih lebih baik dibandingkan dengan susu formula.

viii. Perawatan payudara selama menyusui


Payudara harus dibersihkan dengan teliti setiap hari selama mandi dan sekali
lagi ketika hendak menyusui. Membersihkan puting dan payudara dapat
menggunakan baby oil dan di washlap dengan menggunakan air hangat.

ix. Makanan yang dianjurkan dan dihindari saat menyusui


1. Makanan yang dianjurkan saat menyusui
a. Makanan pokok :nasi, kentang, ubi.
b. Laukpauk : telur, daging, ikan, tahu, tempe, kacang-kacangan
c. Sayuran : sayuran hijau seperti bayam, daun katuk, wortel, buncis,
gambas
d. Buah : dianjurkan buah yang berwarna seperti papaya, jeruk, apel, pir,
tomat
e. Sumber makanan yang dapat membantu proses menyusui : beras,
gandum, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran
f. Dianjurkan konsumsi kalsium dan zat besi
2. Makanan yang dihindari saat menyusui
a. Makanan yang pedas dan bersantan
b. Sayuran yang mengandung gas, seperti kol dan kembang kol
c. Merokok
d. Alkohol
e. Softdrink
f. MSG
g. Makanan mengandung pengawet dan pewarna
h. Minuman Isotonik