Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULULAN PROFESI NERS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AKI DI


RUANG HD
RSUD Dr.M.YUNUS BENGKULU

Nama : Anninah
NIM : P05120419 006

Pembimbinng Pendidikan Pembimbinng Lapangan

( ) ( )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS


TAHUN AKADEMIK 2019/2020
A. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas
a. Usia/ tanggal lahir: semua usia dapat terkena gagal ginjal, namun usia
penting kita ketahui karena semakin lansia umur seseorang, semakin beresiko.
b. Jenis kelamin: pria mungkin disebabkan oleh hipertrofi prostat, pada
wanita disebabkan infeksi saluran kemih yang berulang yang dapat
menyebabkan AKI, serta pada wanita yang mengalami perdarahan pasca
melahirkan
c. Alamat suku / bangsa: alamat juga mendukung untuk dijadikan data,
karena masih banyak daerah yang kekurang air.
d. Status pernikahan: apakah pasangan memiliki riwayat penyakit ISK, yang
mampu menjadi akibat gagal ginjal.
e. Agama/keyakinan: Disini perlu juga kita ketahui, karena masih banyak
masyarakat yang menganut kepercayaan-kepercayaan.
f. Pekerjaan/sumber penghasilan: penting juga kita ketahui, untuk
mengetahui sumber penghasilannya dari mana dan seberapa banyak, karena
berpengaruh juga terhadap pola hidup.
g. Diagnosa medik: setelah mendapatkan pemeriksaan maka diagnosa
mediknya: Acut kidney injury
h. No. RM/tanggal masuk: penting juga kita kethui, supaya perawat tidak
salah pasien, dan tanggal masuk masuk juga berperan untuk menadapatakan data
apakah sudah ada perubahan atau semakin parah.
2. Keluhan utama
Keluhan utama yang biasanya didapat yaitu penurunan produksi miksi, urine output
sedikit sampai tidak ada BAK, dan terjadi perubahan pola napas.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan utama tidak bisa kencing, kencing sedikit, sering BAK pada malam
hari, kelemahan otot atau tanpa keluhan lainnya.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya penyakit infeksi, kronis atau penyakit predisposisi terjadinya AKI serta
kondisi pasca akut. Riwayat terpapar toksin, obat nefrotik dengan penggunaan
berulang, riwayat tes diagnostik dengan kontras radiografik. Kondisi yang terjadi
bersamaan, tumor saluran kemih, sepsis gram negatif, trauma/cidera, perdarahan,
DM, gagal jantung/hati.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat penyakit polikistik keluarga, nefritis herediter, batu urinarius atau yang
lainnya.

4. Pola Kebutuhan
a. Aktivitas dan istirahat
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise
Tanda : Kelemahan otot, kehilanggan tonus otot
b. Sirkulasi
Tanda : Hipotensi/hipertensi, disritmia jantung, nadi lemah/halus, hipotensi
orthostatik (hipovolemia), hipervolemia (nadi kuat), oedema jaringan umum,
pucat, kecenderungan perdarahan
c. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola kemih : peningkatan frekuensi, poliuria (kegagalan
dini) atau penurunan frekuensi/oliguria (fase akhir), disuria, ragu-ragu berkemih,
dorongan kurang, kemih tidak lampias, retensi (inflamasi/obstruksi, infeksi),
abdomen kembung, diare atau konstipasi, Riwayat Hipertropi prostat,
batu/kalkuli
Tanda : Perubahan warna urine menjadi lebih pekat/gelap, merah, coklat,
berawan, Oliguria (bisanya 12-21 hari); poliuria (2-6 l/hari)
d. Makanan/cairan
Gejala : Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan (dehidrasi),
mual, muntah, anoreksia, nyeri ulu hati, riwayat penggunaan diuretik
Tanda : Perubahan turgor kulit/kelembaban, edema
e. Neurosensorik
Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, sindrom ‘kaki
gelisah’
Tanda : Gangguan status mental, penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan
berkonsentrasi, kehilanggan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran
(azotemia, ketidakseimbanggan elektrolit/asam/basa); kejang, aktivitas kejang
f. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : nyeri tubuh, sakit kepala
Tanda : Prilaku berhati-hati, distraksi, gelisah
g. Pernafasan
Gejala : Nafas pendek
Tanda : Tachipnea, dispnea, peninggkatan frekuensi dan kedalaman pernafasan
(kussmaul), nafas amonia, batuk produktif dengan sputum kental merah muda
(edema paru)
h. Keamanan
Gejala : ada reaksi tranfusi
Tanda : Demam (sepsis, dehidrasi), ptechie, echimosis kulit, pruritus, kulit
kering.

5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum dan TTV
Keadaan umum : klien lemah dan terlihat sakit berat
Tingkat kesadaran : dapat mengalami penurunan sesuai dengan tingkat uremia
dimana dapat mempengaruhi sistem saraf pusat
TTV : sering didapatkan adanya perubahan, yaitu pada fase oliguri sering
didapatkan suhu tubuh meningkat, frekuensi denyut nadi mengalami peningkatan
dimana frekuensi meningkat sesuai dengan peningkatan suhu tubuh dan denyut
nadi. tekanan darah terjadi perubahan dari hipertensi ringan sampai berat.
b. Sistem pernapasan
Napas pendek, takipnea, dyspnea, peningkatan frekuensi pernapasan, kusmaul,
napas ammonia, batuk produktif dengan sputum kental merah muda (edema paru)
c. Sistem hematologi
Pada kndisi uremia berat tindakan auskultasi akan menemukan adanya friction rub
yang merupakan tanda khas efusi pericardial. Didapatkan tanda dan gejala gagal
jantung kongestif. TD meningkat, akral dingin, CRT < 3 detik, palpitasi, nyeri
dada dan sesak napas, gangguan irama jantung akibat hiperkalemi, dan gangguan
kondisi electrical otot ventrikel.
Pada sistem hematologi sering didapatkan adanya anemia. Anemia sebagai akibat
dari penurunan produksi eritropoetin, lesi gastrointestinal uremik, penurunan usia
sel darah merah, dan kehilangan darah, biasanya dari saluran GI, kecenderungan
mengalami perdarahan sekkunder dari trombositopenia.
d. Sistem persyarafan
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, sindrom “kaki gelisah”,
aktivitas kejang, ketidakmampuan berkonsenrasi, kehilangan memori, penurunan
tingkat kesadaran.
e. Sistem kardiovaskuler
Hipotensi/ hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan
aktivitas system renin angiotensin aldosterone, disritmia jantung, nadi
lemah/halus, hipotensi ortostatik (hipovolemia), nadi kuat, hypervolemia, edema
jaringan umum (termasuk area periorbital mata kaki sakrum), pucat,
kecenderungan perdarahan.
f. Sistem endokrin
Gangguan metabolism glukosa, resistensi dan gangguan sekresi insulin. Pada
gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin < 15ml/menit) terjadi penurunan klirens
metabolic insulin menyebabkan waktu paruhhormon aktif memanjang. Keadaan
ini dapat menyebabkan kebutuhan obat penurun glukosa darah akan berkurang,
gangguan metaboik lemak dan gangguan dalam metabolism vitamin D

g. Sistem perkemihan
Perubahan pola kemih, peningkatan frekuensi, polyuria 2-6 L/hari (kegagalan
dini), penurunan frekuensi/oliguria 12-21 hari (fase akhir), dysuria, retensi
(inflamasi/obstruksi, infeksi), abdomen kembung, diare/konstipasi, riwayat HPB,
batu/kalkuli.
h. Sistem pencernaan
Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan (dehidrasi), mual,
muntah, anoreksia, nyeri ulu hati, perubahan turgor kulit, kelembabab, edema
(umum bagian bawah)
i. Sistem musculoskeletal
Didapatkan adanya nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki (memburuk
saat malam hari), kulit gatal, ada/berulangnya infeksi, pruritus, demam (sepsis,
dehidrasi) ptekie, area akimosis pada kulit, didapatkan adanya kelemahan fisik
secara umum dari anemia dan penurunan perfusi perifer dari hipertensi

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan menurut Nanda-I 2018-2020 :
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi.
Batasan karakteristik: Bunyi napas tambahan, gangguan tekanan darah, perubahan
status mental, gangguan pola napas, ansietas, penurunan hematocrit, penurunan
hemoglobin, dyspnea, edema, ketidakseimbangan elektrolit, asupan melebihi
haluaran, oliguria, ortopnea, dyspnea nocturnal paroksismal, gelisah, penambahan
berat badan dalam waktu sangat singkat

2. Ketidakefektifan pola napas berhubugan dengan edema paru, posisi tubuh yang
menghambat ekspansi paru, hiperventilasi, obesitas, nyeri, keletihan otot pernapasan.
Batasan karakteristik: Pola napas abnormal, bradipnea, penurunana tekanan
ekspirasi, penurunan tekanan inspirasi, penurunan ventilasi semenit, penurunan
kapasitas vital, dispnea, peningkatakan diameter anterior-posterior, pernapasan cuping
hidung, othopnea, fase ekspirasi memanjang, pernapasan bibir, takipnea, penggunaan
otot bantu pernapasan.

3. Ketidakseimbangan nutirisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


asupan diet kurang
Batasan karakteristik: Kram abdomen, nyeri abdomen, berat badan 20% atau lebih
di bawah rentang berat badan ideal, kerapuhan kapiler, enggan makan, asuhan
makanan kurang dari RDA, bising usus hiperaktif, kurang informasi, kurang minnat
pada makanan, tonus otot menurun, kesalahan informasi, kesalahan persepsi,
membrane mukosa pucat, ketidakmampuan memakan makanan, cepat kennyang
setelah makan, kelemahan otot pengunyah.

4. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan kelebihan cairan,


ketidakseimbangan elektrolit, efek uremik pada otot jantung
5. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, keletihan.
Batasan karakteristik: Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen,
fisik tidak bugar, gaya hidup kurang gerak.
C. Intervensi dan pengembangan aktivitas keperawatan

No Diagnosa Rencana Tidakan Keperawatan


Keperawatan Tujuan/Kriteria Intervensi Keperawatan (NIC) Rasional
Hasil (NOC)
1 Kelebihan volume Setelah di berikan NIC: Manajemen Hipervolemia
cairan intervensi kperawatan Aktivitas keperawatan:
b.d gangguan diharapkan kelebihan 1. Timbang berat badan setiap 1. Berat badan yang turun
mekanisme volume cairan hari pada waktu yang tetap dan naik secara ceat
regulasi teratasi,dengan : menandakan cairan
yang ditandai NOC: didalam tubuh
dengan: Tidak ada 2. Monitor status hemodinamik 2. Keadaan hemodinamik
 Edema keparahan cairan dan tanda- tanda vital mengetahui kandungan
 Penurunan berlebih cairan alam darah
hematokrit  Ditingkatkan pada 3. Monitor edema perifer 3. Edema dalah tanda
 Gangguan 5 penumpukan cairan di
tekanan darah 1= Berat daerah peifer
 Dispnea 2= Cukup berat 4. Monitor data laboratorium 4. Penurunan hematokrit dan
 Asupan 3= Sedang yang menandakan adanya peningkatan natrium tanda
melebihi 4= Ringan hemokonsenterasi (misalnya penumpukan cairan dalam
haluaran 5= Tidak ada natrium dan hematroktit) tubuh
 Peningkatan 5. Monitor intake dan output 5. Mengetahui balance cairan
6. Berikan obat yang diresepkan 6. Beberapa obat dapat
BB dalam Dengan kriteria hasil:
untuk mengurangi preload membentu pengeluaran
waktu singkat  Keparahan cairan cairan yang menumpuk
berlebih 1/2/3/4/5
dalam jaringan.
- Edema tangan
7. Monitor tanda berkurangnya 7. Tingkat keperahan
(5)
preload (misalnya penumpukan cairan dapat
- Edema kaki (5) penungkatan urine output, dilihat dari berkurangnya
- Edema sakral perbaikan paru abnormal) preload
(5) 8. Berikan infus IV scara 8. IV berlebih dapat
- Asites (5) perlahan untuk mencegah menambha penumpukan
- Peningkatan peningkatan preload yang cairan
serum natrium tepat
(5) 9. Hindari penggunaan cairan IV 9. Cairan Hipotonik dapat
- Letargy (5) hipotonik memberparah edema
- Peningkatan 10. Batasi asupan natrium sesuai 10. Natrium dapat
berat badan (5) indikasi. memperparah
penumpukan cairan dan
Eviden based : edema.
11. Pengaruh contrast bath 11. Rendam air hangat /
(rendam air hangat dan air dingin membantu
dungin) terhadap edema kaki merangsang peredaran
pada pasien gagal ginjal drah dan pengeluaran
cairan
12. Penerapan pijat kaki dan 12. Konsentrasi pada air
rendam air hangat campuran hangat dan pemijatan
kencur terhadap edema kaki membantu perpidahan
cairan pada kaki
13. Efektivitas cuka apel bawang 13. Cuka apel meiliki efek
dayak terhadap perubahan diuresis membantu
volume edema kaki pengeluaran cairan
14. Pengaruh jus buah semangka 14. Jus semangka
terhadap diuresis mengandung diuretik yang
mengikat cairan
15. Studi peggunaan obat 15. Obat diuretik mampu
diuretika dan antiboitika pada mengelurkan penumpukan
pasien dengan asites cairan melalui urine
2 Ketidakefektifan Setelah diberikan NIC: Manajemen jalan napas
Pola Napas b.d intervensi Aktivitas Keperawatan
edema paru, keperawatan selama 3 1. Monitor status pernapasan 1. Mempertahan kan
posisi tubuh yang x 24 jam, sebagaimana mestinya ventilasi
menghambat, Pola napas teratasi 2. Monitor status
hiperventilasi, dengan: hemodinamik 2. Memantau kondisi
obesitas, nyeri, NOC: Status 3. Monitor pola nafas : pasien
Pernapasan tidak bradipena, takipenia, kussmaul, 3. Mencegah pola napas
keletihan otot
ada deviasi dari hiperventilasi, cheyne stokes, pasien memburuk
pernapasan, yang
ditandai dengan: kisaran normal biot
 Pola
 Ditingkatkan 4. Posisikan untuk 4. Posisi semi fowler
pada 5 meringankan sesak napas menggunakan gaya
nafas abnormal
 Bradipnea 1 = deviasi berat gravitasi untuk membantu
 Penuruna dari kisaran pengembangan paru dan
n tekanan normal mengurangi tekanan dari
ekspirasi 2 = deviasi yang abdomen pada
 Penuruna cukup berat diagfragma.
n tekanan dari kisaran 5. Motivasi pasien untuk 5. Memaksimlakan
inspirasi normal bernapas pelan, dan dalam ventilasi dan mencegah
 Dyspnea 3 = deviasi sedang terjadinya kelelahan
 Pernapasa dari kisaran 6. Auskultasi suara napas, 6. Suara nafas menurun
n cuping normal catat area ventilasi menurun, atau tidak ada
hidung 4 = deviasi ringan atau tidak ada dan suara menunjukkan tidak
 Ortopnea dari kisaran tambahan masuknya O2 ke paru
 Pernapasa normal paru
7. Atur intake cairan 7. Bronkodilator dapat
n bibir 5 = tidak ada
 Takipnea diberikan untuk
deviasi dari
 Pengguna membantu ventilasi
kisaran normal
an otot bantu dengan efek vasodilatasi
pernapasan 8. Terapi puersed lips saluran napas
Dengan kriteria hasil:
breathing 8. Menurunkan sesak
 Status
napas
9. Kelola pemberian
Pernapasan 9. Aliran yang terlalu
1/2/3/4/5 bronkodilator rendah atau terlalu tinggi
dapat menurunkan kondisi
Dengan kriteria pasien
mayor: 10. Cairan untuk
- Frekuensi 10. Berikan terapi oksigen mengoptimalkan
pernapasan (5) sesuai indikasi keseimbangan
- Irama 11. Teknik yang tepat
pernapasan (5) 11. Ajarkan teknik yang dapat meningkatkan
- Kedalaman tepat untuk menggunakan efektivitas dari
inspirasi (5) pengobatan dan alat (inhaler, pengobatan
- Suara
nebulizer)
auskultasi nafas
(5) Evidance Base
- Kepatenan 12. Membantu
12. Terapi penggunaan kipas pemehuhan oksigenasi
jalan nafas (5)
angin untuk mengurangi didalam tubuh
- Volume tidal
dyspnea (Indra, 2015) 13. Mengendalikan
(5)
13. Pernapasan yoga pernapasan dan pikiran
- Pencapaian
(pranatama) untuk mengurangi
tingkat insertif
spirometri (5) dyspnea
- Kapasitis
vital (5)

Dengan kriteria minor:


- Penggunaan
otot bantu
pernapasan (5)
- Suara napas
tambahan (5)
- Retraksi
dinding dada (5)
- Pernapasan
pursed lips (5)
- Dispnea saat
istirahat (5)
- Dispnea saat
latihan (5)
- Orthopnea
(5)
- Pengembang
an dinding dada
tidak simetris (5)
- Akumulasi
sputum (5)
3 Ketidak Setelah diberikan NIC: Manajemen Nutrisi
seimbangan intervensi Aktivitas keperawatan:
nutirisi: kurang keperawatan selama 1. Tentukan status gizi 1. Pengkajian penting
dari kebutuhan 3x24 jam, diharapkan pasien dan kemampuan pasien dilakukan untuk mengetahui
tubuh b.d asupan nutirisi terpenuhi untuk memenuhi kebutuhan status nutrisi pasien
diet kuranng dengan: gizi. sehingga dapat menentukan
yang ditandai NOC: Status nutrisi intervensi yang diberikan.
dengan: tidak menyimpang 2. Mulut yang bersih
 BB dari rentang normal 2. Lakukan atau bantu dapat meningkatkan nafsu
menurun 20%  Ditingkatkan pasien terkait dengan perawatan makan
atau lebih dari pada 5 mulut sebelum makan
1= Sangat 3. Anjurkan pasien untuk 3. Pada posisi duduk
BB ideal
 Cepat menyimpang duduk pada posisi tegak, jika tegak memudahkan
kenyang setelah dari rentang memungkinkan makanan masuk ke lambung
makan normal karena saluran pencernaan
 Kram/nye 2= Banyak pada posisi lurus
menyimpng 4. Informasi yang
ri abdomen 4. Berikan informasi yang
 Nafsu dari rentang diberikan dapat memotivasi
tepat terhadap pasien tentang
makan menurun normal pasien untuk meningkatkan
kebutuhan nutrisi yang tepat
 Enggan 3= Cukup dan sesuai. intake nutrisi.
makan menyimpang 5. Ciptakan lingkungan 5. Lingkungan yang
 Bising dari rentang yang optimal pada saat nyaman dapat menimbulkan
usus hiperaktif normal mengkonsumsi makanan efek relaksasi dan membuat
 Otot 4= Sedikit (misalnya bersih, berventilasi, pasien nyaman saat
pengunyah menyimpang santai, dan bebas dari bau yang mengonsumsi makanan.
lemah dari rentang menyengat)
 Otot normal 6. Meningkatkan nafsu
6. Pastikan makanan
menelan lemah 5= Tidak makan
disajikan dengan cara yang
 Tonus menyimpang menarik dan pada suhu paling
otot menurun dari rentang cocok untuk dikonsumsi secara
 Asupan normal optimal
makanan kurang 7. Anjurkan pasien untuk 7. Zat besi dapat
dari RDA Dengan kriteria hasil: membantu tubuh sebagai zat
mengkonsumsi makanan tinggi
 Status nutrisi zat besi seperti sayuran hijau penambah darah sehingga
1/2/3/4/5
mencegah terjadinya anemia
- Asupan gizi
atau kekurangan darah
(5)
8. Pada pasien gagal
- Asupan
8. Anjurkan pasien terkait ginjal sangat diperlukan diet
makanan (5)
- Asupan dengan kebutuhan diet untuk cairan, karena apabila cairan
cairan (5) kondisi sakit (yaitu pasien yangdikonsumsi berlebih
- Energi(5) ddengan panyakit ginjal akan menyebabkan edema
- Resiko berat diperlukan pembatasan natrium, tungkai, asitess, bahkan
badan/tinggi kalium, protein dan cairan edema paru.
badan (5) 9. Pastikan diet mencakup 9. Konstipasi harus
- Hidrasi (5) makanan tinggi serat untuk dicegah jangan sampai
mencegah konstipasi terjadi, karena saat terjadi
konstipasi perut akan terasa
penuh dan menurunkan
nafsu makan.
10. Makan sedikit tapi
10. Anjurkan pasien makan
sering dianjurkan karena
sedikit tapi sering.
dapat memenuhui
kebutuhan nutrisi pasien
tanpa membuat pasien
kembung
4 Intoleran aktivitas Setelah diberikan NIC: Terapi aktivitas
b.d intervensi Aktivitas Keperawatan:
ketidakseimbangan keperawatan selama 3 1. Pertimbangkan 1. Mengetahui
antara suplai dan x 24 jam, intoleran kemampuan klien dalam keterbatasan aktivitas klien
kebutuhan aktivitas teratasi berpartisipasi melalui
aktivitas spesifik 2. Pasien dapat memilih
oksigen, dengan:
2. Bantu klien untuk dan merencanakannya
imobilitas, tidak NOC: Toleransi
mengeksplorasi tujuan sendiri berdasarkan
pengalaman terhadap aktivitas
personal dari aktivitas yang aktifitas yang biasa
dengan suatu tidak terganggu
 Ditingkatkan biasa dilakukan dilakukan
aktivitas, fisik 3. Aktivitas yang tepat
pada 5 3. Dorong aktivitas kreatif
tidak bugar, gaya dapat melatih kekuatan
1= Sangat yang tepat
hidup kurang dan irama jantung
gerak, yang terganggu
4. Ciptakan lingkungan 4. Mencegah terjadi nya
ditandai dengan: 2= Banyak
aman untuk dapat melakukan cedera
 Respon terganggu
pergerakan otot secara berkala
TD abnormal 3= Cukup
sesuai dengan indikasi
terhadap terganggu 5. Bantu untuk
aktivitas 4= Sedikit 5. Mempermudah klien
mendapatkan alat bantuan
 Respon terganggu dalam aktivitas
aktivitas seperti kursi roda
frekuensi 5= Tidak terganggu 6. Berikan kesempatan
Dengan kriteria hasil: 6. Keluarga dapat
jantung keluarga untuk terlibat dalam
 Toleransi memantau klien secara
abnormal aktivitas dengan cara yang
terhadap aktivitas penuh
terhadap tepat
aktivitas 1/2/3/4/5 7. Berikan reinforcement 7. Meningkatkan
 Perubaha - SaO2 ketika positif bagi partisipasi klien motivasi dan harga diri
n EKG beraktivitas dalam aktivitas klien
 Ketidakn - Frekuensi 8. Monitor respon fisik,
yamanan setelah nadi ketika emosi, sosial dan spiritual 8. Mengetahui setiap
aktivitas beraktivitas terhadap aktivitas perkembangan yang
 Dispnea - Frekuensi muncul segera setelah
setelah aktivitas pernapasan 9. Bantu klien dan keluarga terapi aktivitas.
 Keletihan ketika memantau perkembangan 9. Mengkaji sejauh
 Kelemaha beraktivitas klien terhadap pencapaian mana perbedaan
n umum - TD ketika tujuan peningkatan selama
beraktivitas aktivitas
- Kekuatan NIC: Perawatan jantung:
tubuh Rehabilitatif
- Kemudahan Aktivitas Keperawatan:
dalam 10. Monitor toleransi pasien
melakukan terhadap aktivitas
10. Aktifitas
aktivitas hidup
mempengaruhi kerja
harian
jantung sehingga pasien
- Kemampuan
dengan gangguan jantung
berbicara ketika
dapat menyebabkan
melakukan
peningkatan kerja jantung
aktivitas fisik
11. Pertahankan jadwal dan dapat menyebabkan
ambulasi sesuai toleransi henti jantung mendadak
11. Latihan yang
pasien
dilakukan harus
mengimbangi kerja janutng
sehingga latihan yang
dilakukan semaksimal
mungkin dengan beban
kerja janutng yang
12. Instruksikan pada pasien
terkontrol
dan keluarga mengenai
12. Menjaga pola makan
modifikasi faktor resiko
dan laithan akan menjaga
jantung
kestabilan kerja jantung.
13. Instruksikan pasien dan
13. Latihan pada pasien
keluarga mengenai aturan
fengan ganggguan janutng
berolahraga sebagaimana
memiliki aturan latihan
mestinya
untuk menjaga kerja jantug
tetap stabil
NIC: Manajemen energi
Aktivitas Keperawatan:
14. Tentukan pembatasan 14. Mencegah
aktivitas fisik pada klien penggunaan energi yang
berlebihan karena dapat
15. Tentukan persepsi klien menimbulkan kelelahan.
15. Memudahkan klien
dan perawat mengenai
untuk mengenali kelelahan
kelelahan.
dan waktu untuk istirahat
16. Anjurkan klien untuk 16. Menyamakan
membatasi aktivitas yang persepsi perawat-klien
cukup berat seperti berjalan mengenai tanda-tanda
jauh, berlari, mengangkat kelelahan dan menentukan
beban berat, dll kapan aktivitas klien
dihentikan
Evidance base:
17. Terapi mobilisasi 17. Mengoptimalkan
(Susanto, 2016) kapasitas fisik tubuh
18. Terapi latihan 18. Memulihkan dan
pembebanan (Harsanti, 2014) meningkatkan kondisi otot,
tulang, jantung dan paru-
paru menjadi lebih baik
D. Evaluasi Keperawatan
1. DX 1: Tidak ada keparahan cairan berlebih
- Tidak ada edema pada tangan
- Tidak ada edema pada kaki
- Tidak ada edema sakral
- Tidak ada asites
- Tidak ada peningkatan serum natrium
- Tidak ada letargy
- Tidak ada peningkatan berat badan
2. DX 2: Status pernapasan tidak ada deviasi dari kisaran normal
- Frekuensi pernapasan tidak ada deviasi dari kisaran normal
- Irama pernapasan teratur
- Kedalaman inspirasi tidak ada deviasi dari kisaran normal
- Suara auskultasi nafas vesikuler
- Jalan napas paten
- Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan
- Tidak ada suara napas tambahan
- Tidak ada retraksi dinding dada
- Tidak ada pernapasan pursed lips
- Pernapasan eupnea
- Tidak ada orthopnea
- Pengembangan dinding dada simetris
3. DX 3: Status nutrisi tidak menyimpang dari rentang normal
- Asupan gizi baik
- Asupan makanan baik
- Asupan cairan baik
- Energi
- Berat badan ideal
- Hidrasi baik
4. DX 4: Toleransi terhadap aktivitas tidak terganggu
- SaO2 ketika beraktivitas tidak terganggu
- Frekuensi nadi ketika beraktivitas tidak terganggu
- Frekuensi pernapasan ketika beraktivitas tidak terganggu
- TD ketika beraktivitas tidak terganggu
- Kekuatan tubuh tidak terganggu
- Kemudahan dalam melakukan aktivitas hidup harian
- Kemampuan berbicara ketika melakukan aktivitas fisik

Daftar Pustaka

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, Joanne M., Wagner, Cheryl M. 2016.
Nursing Interventions Classification (NIC), 6th edition. Yogyakarta: Mocomedia
Herlman, T. Heather.2018. NANDA-I Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-2020.
Jakarta: EGC
Moorhead, sue., Johnson, Marion., Maas, Meridean L., Swanson, Elizabeth. 2016. Nursing
Outcomes Classification (NOC), 5th edition. Yogyakarta: Mocomedia

Potter, Perry. 2010. Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice. Edisi 7. Vol.3.
Jakarta : EGC