Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SECTIO CAESAREA

RSUD KRMT WONGSONEGORO

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Maternitas

Dosen Pembimbing : Ns. Yuni Astuti, M.Kep

Disusun Oleh :

HAJAR FIKRI MUJIYANI

20101440117036

AKPER KESDAM IV/DIPONEGORO

SEMARANG

2019
A. Definisi
Post Partum adalah masa 6 minggu sejak janin lahir sampai organ-organ
reproduksi kembali ke kondisi sebelum hamil ( Bobak, 2005). Post Partum (
puerpurium) adalah masa yang dimulai setetelah partus selesai dan berakhir
kira-kira setelah enam minggu, tetapi seluruh organ genitalia baru pulih
kembali seperti sebelum hamil dalam waktu tiga bulan ( Winkjosastro,2006).
Post Partum (masa nifas) adalah masa enam minggu sejak bayi lahir
sampai organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil (
Doengoes,2001).
Sectio caesarea didefinisikan sebagai suatu persalinan buatan, dimana
janin dilahirkan melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan
sayatan rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram
(Jitowiyono, 2010).
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut, section caesarea
juga dapat didefinisikan sebagai suatu histektomia untuk melahirkan janin
dari dalam rahim (Mochtar, 2011).
Sectio caesarea (SC) atau biasa disebut operasi sesar atau caesarean
section adalah salah satu tindakan persalinan untuk mengeluarkan bayi
melalui sayatan abdomen dan uterus. SC merupakan tindakan yang dapat
menyelamatkan nyawa ibu dan janin bila diperlukan (dr. Joshephine
Darmawan, 2019).

B. Etiologi
Etiologi dilakukan Sectio Caesarea :
1. Etiologi yang berasal dari ibu
a. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion ) Chepalo Pelvik Disproportion
(CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran
lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat
melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan
beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan
jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami.
Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis
juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami
sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis
tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi asimetris dan
ukuran-ukuran bidang panggul menjadi abnormal.
b. PEB (Pre-Eklamsi Berat) Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan
kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan, sebab
terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-
eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan
perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa
dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali dan mengobati agar
tidak berlanjut menjadi eklamsi.
c. KPD (Ketuban Pecah Dini) Ketuban pecah dini adalah pecahnya
ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam
belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah
hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu.
d. Faktor Hambatan Jalan Lahir Adanya gangguan pada jalan lahir,
misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan,
adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat
pendek dan ibu sulit bernafas.
2. Etiologi yang berasal dari janin
a. Kelainan Letak Janin
1) Kelainan pada letak kepala
Letak kepala tengadah Bagian terbawah adalah puncak kepala,
pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah.
Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya bundar,
anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
2) Presentasi muka Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga
bagian kepala yang terletak paling rendah ialah muka. Hal ini
jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5 %.
3) Presentasi dahi Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi
berada pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada
penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan berubah
menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
4) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan keadaan dimana
janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan
bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa
jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi
bokong kaki, sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna
dan presentasi kaki (Saifuddin, 2002).
5) Etiologi yang berasal dari kontra
a. Infeksi intrauterine.
b. Janin mati.
c. Syok / anemia berat yang belum diatasi dan kelainan berat
(Apriyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014)

C. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan atau hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan misalnya plasenta
previlia sentralis dan lateralis, panggul sempit, dispropsisi cephalo pelvic,
rupture, uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia,
distosia serviksdan malpresentasi janin, kondisi tersebul perlu adanya
tindakan tindakan pembedahan yaitu sectio caesarea (SC). Sedangkan untuk
janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan SC
ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif berupa
kurang pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu
produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar
hanya sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh
karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril.
Nyeri adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa
nyaman.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan dan penyembuhan
menimbulkan masalah ansietas pada pasien selain itu dalam proses
pembedahan juga akan dilkukan tindakan insisi pada dinding abdomen
sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah
dan saraf-saraf disekitar daerah insisi hal ini akan merangsang pengeluaran
histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri. Setelah
proses pembedahan berakhir luka insisi akan ditutup dan menimbulkan luka
post operasi yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan infeksi.
(Saifuddin, Mansjoer & Prawirohardjo, 2002)

D. Manifestasi Klinik
1. Post Partum
Manifestasi klinik masa nifas adalah hal-hal yang bersifat karakteristik
dalam masa nifas :
a. Adaptasi Fisiologi
Perubahan fisiologis pada masa post partum menurut Bobak,
Lowdermik,Jensen (2004) meliputi :
1) Involusi
Yaitu suatu proses fisiologi pulihnya kembali alat kandungan ke
keadaan sebelum hamil, terjadi karena masing-masing sel menjadi
lebih kecil karena cytoplasmanya yang berlebihan dibuang.
a) Involusi uterus
Terjadi setelah placenta lahir, uterus akan mengeras karena
kontraksi dan reaksi pada otot-ototnya, dapat diamati dengan
pemeriksaan Tinggi Fundus Uteri :
1. Setelah placenta lahir hingga 12 jam pertama Tinggi
FundusUteri 1 - 2 jari dibawah pusat.
2. Pada hari ke-6 tinggi Fundus Uteri normalnya berada di
pertengahan simphisis pubis dan pusat.
3. Pada hari ke-9 / 12 tinggi Fundus Uteri sudah tidak teraba.
b) Involusi tempat melekatnya placenta
Setelah placenta dilahirkan, tempat melekatnya placenta
menjadi tidak beraturan dan ditutupi oleh vaskuler yang
kontraksi serta trombosis pada endometrium terjadi
pembentukan scar sebagai proses penyembuhan luka. Proses
penyembuhan luka pada endometrium ini memungkinkan
untuk implantasi dan pembentukan placenta pada kehamilan
yang akan datang.
c) Lochea
Yaitu kotoran yang keluar dari liang senggama dan terdiri dari
jaringan-jaringan mati dan lendir berasal dari rahim dan liang
senggama. Menurut pembagiannya sebagai berikut :
1. Lochea rubra
Berwarna merah, terdiri dari lendir dan darah, terdapat pada
hari kesatu dan kedua.
2. Lochea sanguinolenta
Berwarna coklat, terdiri dari cairan bercampur darah dan
pada hari ke-3 - 6 post partum.
3. Lochea serosa
Berwarna merah muda agak kekuningan, mengandung
serum, selaput lendir, leucocyt dan jaringan yang telah mati,
pada hari ke-7 - 10.
4. Lochea alba
Berwarna putih / jernih, berisi leucocyt, sel epitel, mukosa
serviks dan bakteri atau kuman yang telah mati, pada hari
ke-1 – 2 minggu setelah melahirkan.
b. Adaptasi psikososial
Ada 3 fase perilaku pada ibu post partum menurut Bobak,
Lowdermik, Jensen (2004) yaitu :
1) Fase “taking in” (Fase Dependen)
Selama 1 - 2 hari pertama, dependensi sangat dominan pada ibu
dan ibu lebih memfokuskan pada dirinya sendiri. Beberapa hari
setelah melahirkan akan menangguhkan keterlibatannya dalam
tanggung jawab sebagai seorang ibu dan ia lebih mempercayakan
kepada orang lain dan ibu akan lebih meningkatkan kebutuhan
akan nutrisi dan istirahat. Menunjukkan kegembiraan yang
sangat, misalnya menceritakan tentang pengalaman kehamilan,
melahirkan dan rasa ketidaknyamanan.
2) Fase “taking hold” (Fase Independen)
a) Ibu sudah mau menunjukkan perluasan fokus perhatiannya
yaitu dengan memperlihatkan bayinya.
b) Ibu mulai tertarik melakukan pemeliharaan pada bayinya.
c) Ibu mulai terbuka untukmenerima pendidikan kesehatan bagi
diri dan bayinya.
3) Fase “letting go” (Fase Interdependen)
a) Fase ini merupakan suatu kemajuan menuju peran baru.
b) Kemandirian dalam merawat diri dan bayinya lebih
meningkat.
c) Mengenal bahwa bayi terpisah dari dirinya

2. Manifestasi Klinik Post Sectio Caesaria


Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang
lebih koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan post
partum. Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001),
antara lain :
a. Nyeri akibat luka pembedahan
b. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea
tidak banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml
f. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan
ketidakmampuan menghadapi situasi baru
g. Terpasang kateter urinarius
h. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samarPengaruh anestesi
dapat menimbulkan mual dan muntah
i. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
j. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka biasanya kurang
paham prosedur
k. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan

3. Fase Nifas / post partum


Fase-fase nifas terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
a. Immediate post partum : 24 jam post partum
b. Early post partum : minggu I post partum
c. Late post partum : Minggu II – VI post partum

4. Fisiologi Proses Penyembuhan Luka


a. Fase I ( Inflamasi)
Penyembuhan luka leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak.
Fibrin bertumpuk pada gumpalan yang mengisi luka dan pembuluh
darah tumbuh pada luka dari benang fibrin sebagai kerangka.
Lapisan tipis dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan menutupi luka,
pasien akan terlihat merasa sakit pada fase I selama 3 hari setelah
bedah besar.
b. Fase II (Proliferasi)
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai
menghilang dan ceruk mulai berisi kolagen serabut protein putih. Sel
epitel beregenerasi dalam 1 minggu. Jaringan baru memiliki banyak
pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan
baik dalam 6 – 7 hari. Jadi jahitan diangkat pada waktu ini,
tergantung pada tempat dan luasnya bedah.
c. Fase III (Maturasi )
Kolagen terus bertumpuk. Ini menekan pembuluh darah baru dan
arus darah menurun. Luka terlihat seperti merah jambu yang luas.
Fase ini berlangsung minggu kedua sampai minggu keenam. Pasien
harus menjaga agar tidak menggunakan otot yang terkena.
d. Fase IV
Fase terakhir berlangsung beberapa bulan setelah bedah. Pasien akan
mengeluh gatal di seputar luka. Walaupun kolagen terus menimbun
pada waktu ini luka menciut dan menjadi tegang. Karena penciutan
luka terjadi ceruk yang berwarna/berlapis putih. Bila jaringan itu
aseluler, avaskuler, jaringan kolagen tidak akan menjadi coklat
karena sinar matahari dan tidak akan keluar keringat dan tumbuh
rambut (Smeltzer, 2001).

5. Periode pascapartum
Ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ
reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Perubahan
fisiologis pada masa ini sangat jelas yang merupakan kebalikan dari
proses kehamilan. Pada masa nifas tejadi perubahan-perubahan fisiologis
terutama pada alat-alat genitalia eksterna maupun interna, dan akan
berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahan yang terjadi pada masa nifas ini adalah:
a. Perubahan Sistem Reproduksi
Perubahan pada sistem reproduksi secara keseluruhan disebut proses
involusi, disamping itu juga terjadi perubahan-perubahan penting
lain yaitu terjadinya hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi.Organ
dalam system reproduksi yang mengalami perubahan yaitu:
1) Uterus
Uterus adalah organ yang mengalami banyak perubahan
besar karena telah mengalami perubahan besar selama masa
kehamilan dan persalinan. Pembesaran uterus tidak akan terjadi
secara terus menerus, sehingga adanya janin dalam uterus tidak
akan terlalu lama. Bila adanya janin tersebut melebihi waktu yang
seharusnya, maka akan terjadi kerusakan serabut otot jika tidak
dikehendaki. Proses katabolisme akan bermanfaat untuk
mencegah terjadinya masalah tersebut. Proses katabolisme
sebagian besar disebabkan oleh dua faktor, yaitu :
a) Ischemia Myometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus-
menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta, membuat
uterus relatif anemi dan menyebabkan serat otot atropi.
b) Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi
di dalam otot uterus. Enzim proteolitik dan makrofag akan
memendekan jaringan otot yang sempat mengendur hingga
10 kali panjangnya dari semula dan 5 kali lebar dari semula
selama kehamilan. Akhir 6 minggu pertama persalinan :
1. Berat uterus berubah dari 1000 gram menjadi 60 gram
2. Ukuran uterus berubah dari 15 x 12 x 8 cm menjadi 8 x 6
x 4cm.
3. Uterus secara berangsur-angsur akan menjadi kecil
(involusi) sehingga akhirnya kembali pada keadaan
seperti sebelum hamil.
Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa
involusi terlihat pada table berikut :

No Waktu Involusi Tinggi Fundus Berat Diameter Palpasi


. Uteri Uterus Uterus Serviks
1. Bayi Lahir Setinggi Pusat 1000 gram 12,5 cm Lunak

2. Uri/ Plasenta lahir Dua jari bawah pusat 750 gram 12,5 cm Lunak

3. 1 Minggu Pertengahan pusat- 500 gram. 7,5 cm 2 cm


simfisis
4. 2 Minggu Tidak teraba di atas 300 gram 5 cm 1 cm
simfisis
5. 6 Minggu 60 gram 2,5 cm Menyempit
Bertambah kecil

Fundus Uteri kira-kira sepusat dalam hari pertama


bersalin. Penyusutan antara 1-1,5 cm atau sekitar 1 jari per
hari. Dalam 10-12 hari uterus tidak teraba lagi di abdomen
karena sudah masuk di bawah simfisis. Pada buku
Keperawatan maternitas pada hari ke-9 uterus sudah tidak
terba. Involusi ligament uterus berangsur-angsur, pada
awalnya cenderung miring ke belakang. Kembali normal
antefleksi dan posisi anteverted pada akhir minggu keenam.
c) Afterpains
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus
pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang
periodik sering dialami multipara dan biasa menimbulkan
nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. Rasa
nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata setelah ibu
melahirkan, di tempat uterus terlalu teregang (misalnya, pada
bayi besar, dan kembar). Menyusui dan oksitosin tambahan
biasanya meningkatkan nyeri ini karena keduanya
merangsang kontraksi uterus.
2) Lochea
Pelepasan plasenta dan selaput janin dari dinding rahim
terjadi pada stratum spongiosum bagian atas. Setelah 2-3 hari
tampak lapisan atas stratum yang tinggal menjadi nekrotis,
sedangkan lapisan bawah yang berhubungan dengan lapisan otot
terpelihara dengan baik dan menjadi lapisan endomerium yang
baru. Bagian yang nekrotis akan keluar menjadi lochea. Lochea
adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas mempunyai reaksi
basa/ alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih
cepat. Lochea mempunyai bau amis (anyir), meskipun tidak
terlalu menyengat dan volumenya berbeda pada setiap wanita.
Lochea juga mengalami perubahan karena proses involusi.
Perubahan lochea tersebut adalah :
a) Lochea rubra (Cruenta)
Muncul pada hari pertama sampai hari kedua post partum,
warnanya merah mengandung darah dari luka pada plasenta
dan serabut dari decidua dan chorion.
b) Lochea Sanguilenta
Berwarna merah kuning, berisi darah lendir, hari ke 3-7 paska
persalinan.
c) Lochea Serosa
Muncul pada hari ke 7-14, berwarna kecoklatan mengandung
lebih banyak serum, lebih sedikit darah juga leukosit dan
laserasi plasenta.
d) Lochea Alba
Sejak 2 -6 minggu setelah persalinan, warnanya putih
kekuningan menngandung leukosit, selaput lendir serviks dan
serabut jaringan yang mati.
3) Tempat Tertanamnya Plasenta
Saat plasenta keluar normalnya uterus berkontraksi dan
relaksasi/ retraksi sehingga volume/ ruang tempat plasenta
berkurang atau berubah cepat dan 1 hari setelah persalinan
berkerut sampai diameter 7,5 cm. Kira-kira 10 hari setelah
persalinan, diameter tempat plasenta ± 2,5 cm. Segera setelah
akhir minggu ke 5-6 epithelial menutup dan meregenerasi
sempurna akibat dari ketidakseimbangan volume darah, plasma
dan sel darah merah.
4) Perineum, Vagina, Vulva, dan Anus
Berkurangnya sirkulasi progesteron membantu pemulihan
otot panggul, perineum, vagina, dan vulva kearah elastisitas dari
ligamentum otot rahim. Merupakan proses yang bertahap akan
berguna jika ibu melakukan ambulasi dini, dan senam nifas.
Involusi cerviks terjadi bersamaan dengan uterus kira-kira 2-3
minggu, cervik menjadi seperti celah. Ostium eksternum dapat
dilalui oleh 2 jari, pingirannya tidak rata, tetapi retak-retak karena
robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama dilalui
oleh satu jari. Karena hyperplasia dan retraksi dari serviks,
robekan serviks menjadi sembuh. Pada awal masa nifas, vagina
dan muara vagina membentuk suatu lorong luas berdinding licin
yang berangsur-angsur mengecil ukurannya tapi jarang kembali
ke bentuk nulipara. Rugae mulai tampak pada minggu ketiga.
Himen muncul kembali sebagai kepingan-kepingan kecil
jaringan, yang setelah mengalami sikatrisasi akan berubah
menjadi caruncule mirtiformis. Estrogen pascapartum yang
munurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya
rugae.
Mukosa vagina tetap atrofi pada wanita yang menyusui
sekurang-kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali.
Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi
ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah
pelumas vagina dan penipisan mukosa vagina. Kekeringan lokal
dan rasa tidak nyaman saat koitus (dispareunia) menetap sampai
fungsi ovarium kembali normal dan menstruasi dimulai lagi.
Mukosa vagina memakan waktu 2-3 minggu untuk sembuh tetapi
pemulihan luka sub-mukosa lebih lama yaitu 4-6 minngu.
Beberapa laserasi superficial yang dapat terjadi akan sembuh
relatif lebih cepat. Laserasi perineum sembuh pada hari ke-7 dan
otot perineum akan pulih pada hari ke5-6. Pada anus umumnya
terlihat hemoroid (varises anus), dengan ditambah gejala seperti
rasa gatal, tidak nyaman, dan perdarahan berwarna merah terang
pada waktu defekasi. Ukuran hemoroid biasanya mengecil
beberapa minggu postpartum.

b. Perubahan Sistem Pencernaan


Ibu menjadi lapar dan siap untuk makan pada 1-2 jam setelah
bersalin. Konstipasi dapat menjadi masalah pada awal puerperium
akibat dari kurangnya makanan dan pengendalian diri terhadap BAB.
Ibu dapat melakukan pengendalian terhadap BAB karena kurang
pengetahuan dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila BAB.
Dalam buku Keperawatan Maternitas(2004), buang air besar secara
spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu
melahirkan. Keadaan ini biasa disebabkan karena tonus otot usus
menurun. Selama proses persalinan dan pada awal masa
pascapartum, diare sebelum persalinan, kurang makan, atau
dehidrasi. Ibu seringkali sudah menduga nyeri saat defekasi karena
nyeri yang dirasakannya di perineum akibat episiotomi, laserasi, atau
hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali
setelah tonus usus kembali ke normal.
c. Perubahan Sistem Perkemihan
Terjadi diuresis yang sangat banyak dalam hari-hari pertama
puerperium. Diuresis yang banyak mulai segera setelah persalinan
sampai 5 hari postpartum. Empat puluh persen ibu postpartum tidak
mempunyai proteinuri yang patologi dari segera setelah lahir sampai
hari kedua postpartum, kecuali ada gejala infeksi dan preeklamsi.
Dinding saluran kencing memperlihatkan oedema dan hyperaemia.
Kadang-kadang oedema dari trigonum, menimbulkan obstruksi dari
uretra sehingga terjadi retensio urine. Kandung kencing dalam
puerperium kurang sensitive dan kapasitasnya bertambah, sehingga
kandung kencing poenuh atau sesudah kencing masih tinggal urine
residual. Sisa urine ini dan trauma pada kandung kencing waktu
persalinan memudahkan terjadinya infeksi. Dilatasi ureter dan
pyelum, normal kembali dalam waktu 2 minggu.

d. Perubahan sistem Muskusluskeletal


Adaptasi system muskuluskeletal ibu yang terjadi mencakup
hal-hal yang dapat membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan
perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran uterus. Stabilisasi sendi
lengkap akan terjadi pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah wanita
melahirkan. Striae pada abdomen tidak dapat menghilang sempurna
tapi berubah menjadi halus/ samar, garis putih keperakan. Dinding
abdomen menjadi lembek setelah persalinan karena teregang selama
kehamilan. Semau ibu puerperium mempunyai tingkatan diastasis
yang mana terjadi pemisahan muskulus rektus abdominus. Beratnya
diastasis tergantung pada factor-faktor penting termasuk keadaan
umum ibu, tonus otot, aktivitas/ pergerakan yang tepat, paritas, jarak
kehamilan, kejadian/ kehamilan denagn overdistensi. Faktor-faktor
tersebut menentukan lama waktu yang diperlukan untuk
mendapatkan kembali tonus otot.
e. Perubahan Sistem Endokrin
1) Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan oleh glandula pituitary posterior dan
bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Oksitosin di
dalam sirkulasi darah menyebabkan kontraksi otot uterus dan
pada waktu yang sama membantu proses involusi uterus.
2) Prolaktin
Penurunan estrogen menjadikan prolaktin yang dikeluarkan oleh
glandula pituitary anterior bereaksi terhadap alveoli dari
payudara sehingga menstimulasi produksi ASI. Pada ibu yang
menyusui kadar prolaktin tetap tinggi dan merupakan permulaan
stimulasi folikel di dalam ovarium ditekan.
3) HCG, HPL, Estrogen, dan progesterone
Ketika plasenta lepas dari dinding uterus dan lahir, tingkat
hormone HCG, HPL, estrogen, dan progesterone di dalam darah
ibu menurun dengan cepat, normalnya setelah 7 hari.
4) Pemulihan Ovulasi dan Menstruasi
Pada ibu yang menyusui bayinya, ovulasi jarang sekali terjadi
sebelum 20 minggu, dan tidak terjadi diatas 28 minggu pada ibu
yang melanjutkan menyusui untuk 6 bulan. Pada ibu yang tidak
menyusui ovulasi dan menstruasi biasanya mulai antara 7-10
minggu.

f. Perubahan Tanda-tanda Vital


Tekanan darah seharusnya stabil dalam kondisi normal.
Temperatur kembali ke normal dari sedikit peningkatan selama
periode intrapartum dan menjadi stabil dalam 24 jam pertama
postpartum. Nadi dalam keadaan normal kecuali partus lama dan
persalinan sulit. Dalam buku Keperwatan Maternitas, terdapat table
perubahan tanda-tanda vital sebagai berikut :
No. Tanda Vital
1. Temperatur

2.
Selama 24 jam pertama dapat meningkat saampai 38 derajat selsius sebagai
3. akibat efek dehidrasi persalinan. Setelah 24 jam wanita tidak harus demam.

4.
Denyut nadi Denyut nadi dan volume sekuncup serta curah jantung tetap
tinggi selama jam pertama setelah bayi lahir. Kemudian mulai
menurundengan frekuensi yang tidak diketahui. Pada minggu ke-8 sampai
ke-10 setelah melahirkan, denyut nadi kewmbali ke frekunsi sebelum
hamil.

Pernapasan

Pernapsan harus berada dalam rentang normal sebelum melahirkan.

Tekanan Darah

Sedikit berubah atau menetap.

g. Perubahan Sistem Kardiovaskuler


Cardiac output meningkat selama persalinan dan peningkatan
lebih lanjut setelah kala III, ketika besarnya volume darah dari uterus
terjepit di dalam sirkulasi. Penurunan setelah hari pertama
puerperium dan kembali normal pada akhir minggu ketiga.
Meskipun terjadi penurunan dei dalam aliuran darahke organ setelah
hari pertama, aliran darh ke payudara meningkat untuk mengdakan
laktasi. Merupakan perubahan umum yang penting keadaan normal
dari sel darah merah dan putih pada akhir puerperium. Pada
beberapa hari pertama setelah kelahiran, fibrinogen, plasminogen,
dan factor pembekuan menurun cukup cepat. Akan tetapi darah lebih
mampu untuk melakukan koagulasi denagn peningkatan viskositas,
dan ini berakibat meningkatkan resiko thrombosis.
h. Perubahan Sistem Hematologi
Lekositosis meningkat, sel darah putih sampai berjumlah 15.000
selama persalinan, tetap meningkat pada beberapa hari pertama post
partum. Jumlah sel darah putih dapat meningkat lebih lanjut sampai
25.000-30.000 di luar keadaan patologi jika ibu mengalami partus
lama. Hb, Ht, dan eritrosit jumlahnya berubah di dalam awal
puerperium.

i. Perubahan Berat badan


1. Kehilangan 5 sampai 6 kg pada waktu melahirkan
2. Kehilangan 3 sampai 5 kg selama minggu pertama masa nifas.
Faktor-faktor yang mempercepat penurunan berat badan pada
masa nifas diantaranya adalah peningkatan berat badan selama
kehamilan, primiparitas, segera kembali bekerja di luar rumah,
dan merokok. Usia atau status pernikahan tidak mempengaruhi
penurunan berat badan. Kehilangan cairan melalui keringat dan
peningkatan jumlah urine menyebabkan penurunan berat badan
sekitar 2,5 kg selama masa pascapartum.

j. Perubahan Kulit
Pada waktu hamil terjadi pigmenrtasi kulit pada bebrapa tempat
karena prose hormonal. Pigmentasi ini berupa kloasma gravidarum
pada pipi, hiperpimentasi kulit sekitar payudara, hiperpigmentasi
kulit dinding peryrt (striae gravidarum). Setelah persalinan,
hormonal berkurang dan hiperpigmentasi pun menghilang. Pada
dinding perutakan menjadi putih mengkilap yaitu”striae albikan”
E. Pathway

Nyeri Resiko
akut infeksi

Hmbatan
mobilitas
fisik

Asi tidak Devisit


dapat keluar pengetahuan

F. Komplikasi
1. Melukai organ sekitar rahim
Di sekitar rahim terdapat organ penting seperti kandung kemih, saluran
kencing, dan usus besar. Organ-organ serta syaraf yang terletak
berdekatan bisa saja terkena goresan pisau bedah. Meski begitu, kasus ini
sangat jarang terjadi.
2. Melukai bayi
Bayi juga bisa terluka ketika dinding rahim dibuka.
3. Perdarahan
Perdarahan lanjutan yang terjadi akibat kontraksi rahim tidak baik setelah
plasenta dilahirkan sehingga Anda membutuhkan tranfusi darah. Bila
terjadi perdarahan berat saat operasi maka pada kasus yang lebih parah
akan dilakukan pengagkatan rahim.
4. Problem buang air kecil
Pada saat pembedahan dokter akan menodorong kandung kencing agar
tidak ikut tersayat ketika membuka dinding rahim. Akibatnya, otot-otot
saluran kencing akan terganggu sehingga masih ada sisa urin di kandung
kemih meski Anda sudah buang air kecil. Penderita akan mengeluarkan
urin saat tertawa, batuk, atau mengejan. Untuk mengatasinya akan
dipasang selang kateter untuk membantu mengeluarkan urin. Lakukan
latihan otot dasar panggul untuk menghindari masalah ini.
5. Infeksi
Infeksi bisa terjadi akibat kurangnya sterilitas alat-alat operasi, retensi
urin, luka operasi yang terkontaminasi atau melalui transfusi darah.
Infeksi bakteri pada umumnya dapat ditangani baik dengan antibiotik.
6. Perlengketan
Ibu yang menjalani operasi caesar berisiko mengalami perlengkatan
plasenta pada rahim (plasenta akreta). Perlengketan juga bisa terjadi bila
darah, jaringan rahim (endometrium) atau jaringan plasenta tertinggal
dan menempel pada usus atau organ dalam lainnya.
7. Trombus dan emboli
Pemberian obat bius selama operasi berlangsung dapat membuat otot-
otot berelaksasi, dimikian pula dengan otot-otot pembuluh darah. Kondisi
ini menyebabkan aliran darah melambat. Akibatnya, resiko pembentukan
trombus dan emboli meningkat. Trombus merupakan bekuan darah yang
bisa menyumbat aliran darah. Bila bekuan darah terbawa aliran darah
maka dapat menyumbat pembuluh darah di kaki, paru-paru, otak atau
jantung. Kondisi ini dapat menimbulkan kematian bila penyumbatan
sampai terjadi otak dan jantung.
8. Emboli air ketuban
Emboli terjadi bila cairan ketuban dan komponennya masuk ke dalam
aliran darah hingga menyumbat pembuluh darah. Emboli air ketuban bisa
terjadi pada persalinan normal atau operasi Caesar, sebab ketika proses
persalinan berlangsung terdapat banyak pembuluh darah yang terbuka.
Kejadian ini amat sangat jarang terjadi.
9. Infeksi puerpuralis (nifas)
a. Ringan : Dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
b. Sedang : Dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi
atau perut sedikit kembung
c. Berat : Dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering
kita jumpai pada partus terlantar dimana sebelumnya telah terjadi
infeksi intrapartum karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.

G. Data Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Hemoglobin atau hematokrit untuk mengkaji perubahan kadar pra
operasi dan untuk mengevaluasi efek kehilangan darah pada
pembedahan.
b. Leukosit (WBC) untuk mengidentifikasi adanya infeksi.
c. Urinalisis/ kulture urine
d. Pemeriksaan elektrolit.
(Doengoes M, 2010)
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien Post SC diantaranya:

a. Penatalaksanaan secara medis


1) Analgesik diberikan setiap 3 – 4 jam atau bila diperlukan seperti
Asam Mefenamat, Ketorolak, Tramadol.
2) Pemberian tranfusi darah bila terjadi perdarahan partum yang hebat.
3) Pemberian antibiotik seperti Cefotaxim, Ceftriaxon dan lain-lain
Walaupun pemberian antibiotika sesudah Sectio Caesaria
keefektifannaya masih dipersoalkan, namun pada umumnya
pemberiannya dianjurkan.
4) Pemberian cairan parenteral seperti Ringer Laktat dan NaCl.
b. Kateterisasi
c. Pengaturan Diit
Makanan dan minuman diberikan setelah klien Flatus, diilakukan secara
bertahap dari minum air putih sedikit tapi sering. Makanan yang
diberikan berupa bubur saring, selanjutnya bubur, nasi tim dan makanan
biasa.
d. Penatalaksanaan secara keperawatan
1) Periksa dan catat tanda – tanda vital setiap 15 menit pada 1 jam
pertama dan 30 menit pada 4 jam kemudian.
2) Perdarahan dan urin harus dipantau secara ketat
3) Mobilisasi
4) Pada hari pertama setelah operasi penderita harus turun dari tempat
5) tidur dengan dibantu paling sedikit 2 kali. Pada hari kedua penderita
6) sudah dapat berjalan ke kamar mandi dengan bantuan.
7) Pembalutan luka ( Wound Dressing / wound care)
8) Pemulangan
Jika tidak terdapat komplikasi penderita dapat dipulangkan pada hari
kelima setelah operasi

I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas klien : nama, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan dan nama penanggung jawab/suami,
umur, suku bangsa dll.

b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama : nyeri karena trauma karena pembedahan
section caesaria
2) Riwayat kesehatan sekarang
a) Provocative : adanya indikasi section caesaria ,
menyebabkan klien dilkukan operasi SC  trauma
pembedahan  discontinuiras jaringan menimbulkan nyeri.
b) Qualitas / Quantitas : nyeri dirasakan klien setelah efek
anestesi secara perlahan hilang, nyeri akan timbul jika efek
pemberian analgetika berakhir ( 4 jam setelah pemberian)
dan akan hilang saat analgetika di berikan. Qualitas nyeri
bersifat subyektif tergantung bagaimana klien
mempersepsikan nyeri tersebut.
c) Region : daerah yang mengalami nyeri adalah luka insisi
yang terdapat pada abdomen. Insisi pada SC klasik di
Midline Abdomen antara pusat dan simpisis pubis, pada SC
Transprovunda di daerah supra simpisis pubis dengan luka
insisi melintang. Area penyebaran nyeri dirasakan sampai
bokong dan terkadang adanya after pain ( nyeri alihan) yang
dirasakan klien sampai ke pinggang.
d) Skala nyeri berkisar dari nyeri sedang sampai nyeri berat,
dengan skala numeric 1-10, berada pada rentang 5-10.
e) Timing : nyeri dirasakan setelah 6 – 12 jam post section
caesaria, dan 1-3 hari pertama SC.

3) Riwayat kesehatan Dahulu


a) Riwayat Ante Natal Care (ANC)
3. Kehamilan sekarang G…P…..A…..H…..mg
4. HPHT : tgl….bln….th…..HPL : tgl….bln…..th……
5. Keluhan saat hamil ;\:……………………..
6. Penyakit Yang di derita ibu saat hamil , penanganan
penyakit
7. Riwayat imunisasi TT ( sudah/ belum )
8. Status imunisasi TT ( TT1,TT2,TT3,TT4.TT5)
9. ANC berapa kali.......tempat pemeriksaan
bidan/perawat/DSOG
 Trimester I ……..X
 Trimester II …….X
 Trimester II……...X

b) Riwayat Intra natal


Riwayat Persalinan terdahulu : cara persalinan ( spontan,
buatan (SC, induksi)), penolong persalinan, tempat
kelahiran, umur kehamilan ( aterm/preterm)
1. Plasenta ( spontan/ dibantu)Jumlah darah yang keluar
2. Riwayat pemberian obat ( suntikan sebelum dan
sesudah lahir)
3. Riwayat Intranatal saat ini, kaji etiologi/ indikasi SC
antara lain : partus lama, partus tak maju dan rupture
uteri mengancam serta adanya gawat janin, gagal
induksi, KPD, CPD, atau adanya tumor pelvic yang
menghambat persalinan.
c) Riwayat post natal
Pengkajian pada nifas yang lalu: Tanyakan apakah adanya
gangguan / komplikasi pada nifas yang lalu. Pengkajian
pada post Sectio Caesaria. Pada 4 jam sampai dengan 5
hari post partum kaji :
1. Sirkulasi darah : periksa kadar Hb dan Ht
2. Eliminasi : urin : pemasangan kateter indwelling; kaji
warna, bau, jumlah. Bila kateter sudah di lepas
observasi vesika urinaria
3. Eliminasi : Faeces : pengosongan sistem pencernaan
pada saat pra operasi dan saat operasi menyebabkan
tidak adanya bising usus menyebabkan penumpukan
gas  resiko infeksi
4. Pencernaan : kaji bising usus, adanya flatus
5. Neurosensori : kaji sensasi dan gerakan klien setelah
efek anestesi menghilang
6. Nyeri : rasa nyeri yang di nyatakan klien karena insisi
Sectio caesaria
7. Pernafasan : kaji jumlah nafas dalam 1 menit, irama
pernafasan, kemampuan klien dalam bernafas (
pernafasan dada/ abdomen), serta bunyi paru.
8. Balutan insisi : kaji kebersihan luka, proses
penyembuhan luka, serta tanda- tanda infeksi.
9. Cairan dan elektrolit : kaji jumlah / intake cairan (oral
dan parenteral) , kaji output cairan, kaji adanya
perdarahan.
10. Abdomen : letak fundus uteri, kontraksi uterus, serta
tinggi fundus uteri.
11. Psikis ibu : kecemasan, kemampuan adaptasi,support
system yang mendukung ibu.
d) Riwayat pemakaian kontrasepsi
Kapan , jenis / metode kontrasepsi, lama penggunaan,
keluhan, cara penanggulangan, kapan berhenti serta
alasannya.
e) Riwayat pemakaian obat-obatan
Pemakaian obat-obat tertentu yang sering di gunakan klien.
Pemakaian obat sebelum dan selama hamil.

4) Riwayat Kesehatan Keluarga


Kaji adanya penyakit herediter, ada tdaknya keluarga yang
menderita tumor atau kanker

5) Pemeriksaan Fisik
a. Sistem Reproduksi
 Abdomen : luka insisi, proses penyembuhan luka
 Uterus : TFU, kontraksi, letak fundus uter.
 Lokhea : jumlah, warna, bau, serta kaji adanya
bekuan/ tidak
 Vulva &Vagina : kebersihan, ada tidaknya tanda-tanda
radang
 Payudara : laktasi, pengeluaran ASI, kesulitan dalam
pemberian ASI / menyusui, kemampuan bayi
menghisap
b. System Gastrointestinal
Bising usus di observasi setiap 1-2 jam post SC
c. System Kardiovaskuler
Ukur Tekana Darah, Denyut nadi, HB,Ht. Leucosit
d. System Genitourinaria
Vesicaurinaria, urine, warna, bau
e. System Muskuloskeletal
Kemampuan bergerak dan respon terhadap rangsangan,
ambulasi dini, kaji Howman sign.
f. Sietem Respirasi
Kaji respirasi rate, pola serta jenis pernafasan.
g. System Panca Indra
Penglihatan, pendengaran, perasa, peraba serta penciuman.
6) Psikologis
Penerimaan ibu terhadap bayi, pelaksanan Inisiasi Menyusu
Dini ( IMD).
7) Pemeriksaan terhadap bayi baru lahir
Penilaiian APGAR SCORE

2. Diagnosa Keperawatan
a. (00132) Nyeri akut b.d agen cedera fisik
b. (00004) Resiko Infeksi b.d prosedur invasif
c. (00092) Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri
d. (00108) devisit perawatan diri; mandi b.d nyeri
e. (00126) Devisien pengetahuan b.d kurangnya informasi

3. Intervensi Keperawatan
NOC NIC
Diagnosa
(00132) Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri (1400)
b.d agen cedera fisik keperawatan selama 3x24 jam 1. Lakukan pengakajian
diharapkan klien dapat nyeri secara
Kontrol nyeri (1605) komprehensif yang
1. (160502) mengenali kapan meliputi lokasi,
nyeri terjadi karakteristik, durasi,
2. (160504) menggunakan frekuensi, kualitas,
tindakan pengurangan nyeri faktor pencetus
tanpa analgesik 2. Ajarkan penggunaan
3. (160505) menggunakan teknik nonfarmakologi
analgesik yang direkomendasi 3. Dorong pasien untuk
memonitor nyeri dan
menangani nyeri
dengan tepat
4. Dukung istirahat tidur
untuk yang adekuat
untuk penurunan nyeri

Pemberian Analgesik
(2210)
1. Tentukan lokasi,
karakteristik,
keparahan nyeri
sebelum mengobati
pasien
2. Cek perintah
pengobatan meliputi
obat, dosis, dan
frekuensi
3. Monitor tanda-tanda
vital

(00004) Resiko Setelah dilakukan tindakan Perawatan postpartum


Infeksi b.d prosedur keperawatan selama 3x24 jam (6930)
invasif diharapkan klien dapat 1. Pantau TTV
Kontrol Resiko (1902) 2. Pantau nyeri pasien
1. (190216) mengenali perubahan 3. Berikan analgesik
status kesehatan sesuai kebutuhan
2. (190217) memonitor 4. Ajarkan penanganan
perubahan status kesehatan teknik non farmakologi
5. Pantau perineum atau
luka operasi dan
ajringan sekitarnya
(merah, edema,
ekimosis, cairan,
perkiraan tepi luka
(00092) Hambatan Pergerakan (0208) Perawatan tirah baring
mobilitas fisik b.d 1. (020810) tidak ada gangguan (0740)
nyeri berjalan 1. Jelaskan alasan
2. (020803) dapat menggerakan diperlukannya tirah
otot sendi baring
2. Monitor komplikasi
dari tirah baring
(nyeri)

(00108) Devisit Setelah dilakukan tindakan Memandikan (1610)


perawatan diri; mandi keperawatan selama 3x24 jam 1. Bantu memandikan
b.d nyeri diharapkan klien dapat pasien
Perawatan diri: Kebersihan (0305) 2. Monitor kondisi
1. (030517) memertahankan kulit saat mandi
kebersihan tubuh 3. Mandi dengan
2. (030503) membersihkan area menggunakan air
perinium dengan suhu yang
3. (030151) menggunakan nyaman
pembalut
(00126) Devisien Setelah dilakukan tindakan Konseling laktasi (95244)
pengetahuan b.d keperawatan selama 3x24 jam 1. Berikan kesempatan
kurangnya informasi diharapkan klien dapat mengetahui pada ibu untuk
Pengetahuan: menyusui (1800) menyusui setelah
1. (180005) teknik yang tepat melahirkan
untuk menempelkan bayi ke instruksikan pada
payudara ibu bagaimana
2. (180006) posisi bayi yang memutuskan hisapan
tepat saat menusui pada ibu saat
3. (180009) teknik yang tepat menusui bayi
untuk memutuskan hisapan 2. Instruksikan posisi
bayi menyusui yang
4. (180024) metode untuk bervariasi
menyendawakan bayi
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M.E. 2010. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Mochtar, Rustam. 2011. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC
Mansjoer Arief. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta : Media
Aesculapius
dr. Joshephine Darmawan. 2019. Sectio Caesarea.
https://www.alomedika.com/tindakan-medis/obstetrik-dan-ginekologi/sectio-
caesarea. Diakses pada 17 Juni 2019.
Komplikasi Akibat Melahirkan Secara Caesar. 2019.
https://doktersehat.com/komplikasi-akibat-melahirkan-secara-caesar/).
Diakses pada 17 Juni 2019
Jitowiyono S dan Kristiyanasari, W. 2010. Asuhan Keperawatan Post
Operasi.Yogyakarta : Nuha Medika
NANDA-I International Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2018-
2020. Penerbit buku kedokteran: EGC
Bulecheck M Gloria. 2013. Nursing Interventions Classification. Edisi keenam:
Elsevier
Moorhead Sue. 2013. Nursing Outcomes Classification. Edisi kelima: Elsevier