Anda di halaman 1dari 15

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Peta


Menurut Kusnedi (2010) peta adalah gambar sebagian atau seluruh
permukaan bumi atau gambar geografi di atas bidang datar dengan ukuran kecil
bersifat selektif serta yang dapat dipertanggung jawabkan secara matematis
maupun secara visual. Beberapa ahli mendefinisikan peta dengan berbagai
pengertian, namun hakikatnya semua mempunyai inti dan maksud yang sama.
1. Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala
tertentu melalui suatu sistem proyeksi peta pada awal abad ke 2 (87M –
150M), Claudius Ptolomaeus mengemukakan mengenai pentingnya peta.
Kumpulan dari peta–peta karya Claudius Ptolomaeus dibukukan dan diberi
nama “atlas Ptolomaeus” ilmu yang membahas mengenai peta adalah
kartografi. Sedangkan orang ahli membuat peta disebut kartografer
(Andika, 2009).
2. Peta merupakan gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu,
digambar pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu (Hartono,
2010).
3. Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi
lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para perencana dan
pengambilan keputusan pada tahapan dan tingkatan pembangunan.

3.2 Macam-macam Peta


Berdasarkan kegunaanya peta dibagi menjadi 5 yaitu: peta umum, peta
topografi, peta chorografi, peta tematik, dan peta khusus.
3.2.1 Peta umum
Peta umum adalah peta yang menggambarkan permukaan bumi secara
umum. Peta umum ini memuat semua penampakan yang terdapat di suatu
daerah, baik kenampakan fisis (alam) maupun kenampakan sosial budaya.

13
Kenampakan fisis misalnya sungai, gunung, laut, danau, dan lainya.
Kenampakan sosial budaya misalnya jalan raya, jalan kereta api, pemukiman
kota dan lainya. Peta umum ada dua jenis yaitu: peta topografi dan peta
chorografi (Hartono, 2010).
3.2.2 Peta Topografi
Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang
seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas, diperkecil
dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara
proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkiraan
bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan
dalam bentuk garis-garis kontur. Peta topografi menampilkan semua unsur
yang berada di atas permukaan bumi, baik unsur alam maupun buatan
manusia. Peta jenis ini biasa dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan di alam
bebas, termasuk peta untuk kepentingan militer, teknik sipil dan arkeologi
(Sulistyo, 2010).
3.2.3 Peta Chorografi
Peta chorografi adalah peta yang menggambarkan seluruh atau
sebagian permukaan bumi dengan skala yang lebih kecil yakni antara
1:250.000 sampai 1:1000.000 atau bahkan lebih. Perbedaan chorografi
dengan topografi terletak pada penggunaan garis-garis kontur, karena peta
topografi itu lebih kepada penggambaran bentuk relief (tinggi rendahnya)
permukaan bumi, skala yang digunakan sendiri lebih kepada skala besar. Peta
chorografi menggambarkan daerah yang luas, misalnya provinsi, negara,
benua bahkan dunia. Dalam peta chorografi digambarkan semua kenampakan
yang ada pada suatu wilayah di antaranya gunung, sungai, danau, jalan raya,
jalan kereta api, batas wilayah, kota, garis pantai, rawa dan lain-lain
(Sulistyo, 2010).
3.2.4 Peta Tematik
Peta tematik juga disebut sebagai peta statistik ataupun peta khusus,
yaitu peta dengan obyek khusus. Tujuan utamanya adalah untuk secara
spesifik mengkomunikasikan konsep data. Contoh peta tematik yang biasa

14
digunakan dalam perencanaan termasuk peta kadastral (batas pemilikan), peta
zona (peta rancangan legal penggunan lahan), peta tata guna lahan, peta
kepadatan penduduk, peta kelerengan, peta geologi, peta curah hujan dan peta
produktivitas pertanian. Pemilihan sumber data disesuaikan dengan maksud
dan tujuan pembuatan peta serta keadaan medan yang dihadapi. Terdapat
beberapa sumber data yang digunakan pada pemetaan yaitu dengan
pengamatan langsung di lapangan, dengan pengindraan jauh atau dari peta
yang sudah ada. Secara khusus, peta pengelolahan hutan berisikan tentang
kejelasan pemilikan (batas-batas kadastral maupun administrasi), wilayah itu
sendiri dan hasil inventarisasi yang menujukan unit-unit tegakan yang
seragam. Kerena kegiatan survei lapangan umumnya sangat mahal, maka peta
hutan biasanya digambarkan dari potret udara dengan penafsiran kegiatan
dilapangan hanya diperlukan untuk pembuktian apakan penafsiran sudah
betul apa belum dan juga melengkapi rincian di lapangan yang tidak dapat
dilihat secara langsung pada potret (Diki, 2009).
3.2.5 Peta Khusus
Peta khusus adalah peta yang menampakan suatu keadaan atau kondisi
khusus suatu daerah tertentu atau keseluruhan daerah bumi. Contohnya
adalah peta persebaran hasil tambang, peta curah hujan, peta pertanian
perkebunan, peta iklim, dan lain sebagainya. Disebut peta khusus atau
tematik karena peta tersebut hanya menggambarkan satu atau dua
kenampakan pada permukaan bumi yang ingin ditampilkan dengan kata lain,
yang ditampilkan berdasarkan tema tertentu. Peta khusus adalah peta yang
menggambarkan kenampakankenampakan (fenomena geosfer) tertentu, baik
kepadatan penduduk, peta penyebaran hasil pertanian, peta penyebaran hasil
tambang, chart (peta jalur penerbangan atau pelayaran) (Diki, 2009).

3.3 Jenis Peta Berdasarkan Skala


Menurut Hidayat (2010) peta tidak sama besarnya (ukurannya) karena ada
peta yang berukuran besar dan ada peta yang berukuran kecil. Besar kecilnya peta
ditentukan oleh besar-kecilnya skala yang digunakan. Skala peta adalah

15
perbandingan jarak antara dua titik di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan
bumi (lapangan). Berdasarkan skalanya peta dapat digolongkan menjadi empat
jenis, yaitu:
a. Peta kadaster atau teknik adalah peta yang mempunyai skala antara 1:100
sampai 1:5.000. peta ini digunakan untuk menggambarkan peta tanah atau
peta dalam sertifikat tanah, oleh karena itu banyak terdapat di Departemen
Dalam Negeri, pada Dinas Agraria (Badan Pertahanan Nasional).
b. Peta skala besar adalah peta yang mempunyai skala 1:5.000 sampai
1:250.000. Peta skala besar digunakan untuk menggambarkan wilayah
yang relative sempit, misalnya peta kelurahan, peta kecamatan.
c. Peta skala sedang adalah peta yang mempunyai skala antara 1:250.000
sampai 1:500.000 peta skala sedang digunakan untuk menggambarkan
daerah yang agak luas, misalnya peta provinsi Jawa Tengah, peta provinsi
Maluku.
d. Peta skala kecil adalah peta yang mempunyai skala 1:500.000 sampai 1:
1000.000 atau lebih. Peta skala kecil digunakan untuk menggambarkan
daerah yang relatif luas, misalnya peta negara, benua bahkan dunia.

3.4 Proyeksi Peta


Untuk menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar, dalam ukuran (luas
dan jarak) bentuk permukaan bumi pada peta, maka dalam pembuatan peta
digunakan proyeksi peta. Proyeksi peta adalah teknik pemindahan bentuk
permukaan bumi yang lengkung (bulat) ke bidang datar (Suryadi, 2010). Proyeksi
peta adalah suatu aturan dalam menggambarkan posisi di permukaan bumi ke
bidang datar dengan rumus-rumus matematik atau ilmu yang mempelajari cara
pemindahan data topografi dari atas permukaan bumi ke atas permukaan peta,
sehingga bentuk dan perubahan besaran data tersebut dapat dirumuskan dengan
formula tertentu. Karena perbedaan di atas, maka diperlukan pembahasan yang
mendasar, sehingga untuk dapat memindahkan data di permukaan bumi ke atas
bidang proyeksi peta diperlukan beberapa ilmu pengetahuan yang menunjang,
antara lain: Matematika, Fisika, Geodesi, Astronomi, Kartografi, Geografi,

16
Fotogrametri, dll. Menurut Suryadi (2010) jenis-jenis bidang proyeksi
dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
a. Proyeksi bidang datar (azimuthal / zenithal) merupakan jenis proyeksi
peta yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya.
b. Proyeksi kerucut merupakan jenis proyeksi peta yang mengunakan
bidang kerucut sebagai bidang proyeksinya. Bidang kerucut ini
merupakan bidang lengkung yang dapat di datarkan tanpa perubahan
lebih lanjut, sehingga tidak mengubah bentuk dan besaran data yang
disajikan di atas.
c. Proyeksi silinder merupakan jenis proyeksi peta yang menggunakan
bidang silinder sebagai bidang proyeksinya. Bidang silinder ini
merupakan bidang lengkung yang dapat didatarkan tanpa ada
perubahan lebih lanjut, sehingga tidak mengubah bentuk dan besaran
data yang disajikan di atasnya.

3.5 Fungsi-fungsi Peta


Menurut Suryadi (2010) fungsi peta adalah penyajian suatu informasi
tentang suatu objek kepada pembaca peta agar informasinya mudah diterima dan
cepat dipahami, maka cara penyampaiannya harus jelas, dengan bahasa sederhana.
Bahasa peta adalah simbol-simbol (titik, garis dan luasan atau areal, kualitatif atau
kuantitatif, warna, notasi, arsir) yang merupakan sistem komunikasi antara
pembuat peta dengan pembaca peta. Dalam hal ini, informasinya dapat
dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu:
a. Informasi dasar, yaitu unsur-unsur pada peta dasar yang perlu atau tidak
perlu disajikan sebagai latar peta tematik.
b. Informasi pokok, yaitu informasi yang berkaitan dengan tema tematik.
Apakah hutan perlu diklasifikasikan atau distratifikasi. Apakah batas
fungsi hutan atau batas administrasi perlu dicantumkan.
c. Informasi penunjang, yaitu informasi yang diharapkan dapat melengkapi
informasi pokok da nada relevasinya untuk dicantumkan dalam peta.
Informasi apa saja yang perlu dicantumkan pada peta tematik sulit dirinci.

17
Hal ini sangat tergantung kepada tema peta, tersedianya data dan
kerateristik serta relevansinya. Apabila unsur-unsur dan informasinya
terlalu banyak, maka petanya akan menjadi ruwet dan sukar dibaca,
sedangkan kalau informasinya terlalu sedikit, peta menjadi kurang
informatif.

3.6 Komponen-komponen atau Kelengkapan Peta


Menurut Kusnedi (2010) komponen-komponen peta atau kelengkapan
peta ada 3 yang harus di utamakan, yaitu:
3.6.1 Judul Peta
Judul peta merupakan komponen yang sangat penting. Biasanya,
sebelum pembaca memperhatikan isi peta, pasti terlebih dahulu judul yang
dibacanya. Judul peta jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda pada
peta. Judul peta biasanya diletakan di bagian tengah atas peta. Tetapi judul
peta dapat juga diletakan di bagian lain dari peta, asalkan tidak menggangu
kenampakan dari keseluruhan peta. Judul peta memuat isi peta. Dari judul
peta kita dapat segera mengetahui data dan daerah mana yang tergambar
dalam peta tersebut contoh:
a. Peta penyebaran penduduk pulau jawa.
b. Peta bentuk muka bumi asia.
c. Peta Indonesia.
3.6.2 Skala Peta
Skala adalah perbandingan jarak antara jarak sebenarnya di lapangan
dengan jarak di peta, skala merupakan ciri yang membedakan peta dengan
gambar lain. Skala peta sangat erat kaitanya dengan data yang membedakan
peta dengan gambar lain. Skala peta sangat erat kaitanya dengan data yang
disajikan dengan secara rinci.
3.6.3 Legenda atau Keterangan Peta
Legenda merupakan komponen penting pada peta, karena peta tanpa
legenda keterangan petanya sulit untuk dibaca, jadi agar mudah dibaca dan
ditafsirkan peta harus dilengkapi dengan legenda atau keterangan. Legenda

18
menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat dalam peta. Contoh:
legenda atau keterangan peta. Legenda biasanya diletakan di pojok kiri bawah
peta. Selain itu legenda peta dapat juga diletakan pada bagian lain peta,
sepanjang tidak menggangu pada peta. Gunanya untuk menunjukan arah
utara, selatan, timur dan barat. Tanda orientasi perlu dicantumkan pada peta
untuk menghindari kekeliruhan. Petunjuk arah pada biasanya berbentuk tanda
panah yang menunjuk kearah utara. Petunjuk ini diletakan di bagian mana
saja dari peta, asalkan tidak menggangu kenampakan peta.

3.7 Pengukuran Poligon


Pengukuran poligon atau pengukuran batas dianggap penting karena
dari data poligon tersebut maka akan dapat menentukan batas suatu areal
kerja sebagai hasil dari pelaksanaan penataan batas yang memuat letak, luas,
dan titik koordinat batas yang kemudian dituangkan dalam bentuk peta.
Dalam pengukuran batas dan pemetaan detail pasti selalu ada kesalahan
akumulatif pada sudut-sudut terukur dalam jaringan triangulasi atau dalam
pengukuran jaring-jaring, tetapi untuk menghindari kesalahan itu sangat silit
yaitu dengan menentukan faktor koreksi yang juga belum mendekati hasil
paling akurat. Hal ini sesuai dengan literatur Gayo (1984), yang menyatakan
bahwa dalam pengukuran batas dan pemetaan detail dilakukan juga
pengukuran sudut azimuth dan kelerengan dari profil tanah yang diukur. Data
yang diperoleh ini kemudian akan dimasukkan dalam peta dan dibuat batas-
batasnya. Pengukuran batas dan pemetaan detail berguna untuk mengetahui
bentuk dari lokasi percobaan apabila dimasukkan ke dalam peta. Azimuth
diukur dengan metode astronomi dengan menggunakan alat-alat, seperi jarum
magnit, gyrocompas dll. Pengukuran azimuth diadakan bermacam-macam
tujuan salah satunya adalah koreksi azimuth guna menghilangkan kesalahan
akumulatif pada sudut-sudut terukur dalam jaringan triangulasi atau dalam
pengukuran jaring-jaring (travering), dibaca pada stasiun-stasiun, dibaca pada
perubahan. Perubahan permukaan tanah dan pada titik-titik kritis sampai
dicapai batas bidikan yang akan diteliti (Brinker, 1984).

19
3.7.1 Pengukuran Detail
Menurut Basuki (2006) pengukuran detail adalah mengukur segala
objek yang ada di lapangan, baik yang bersifat almiah seperti sungai, lembah,
bukit, jalur, dan rawa, maupun hasil budaya manusia seperti jalan, jembatan,
gedung, lapangan, stasiun, selokan, dan batas-batas pemilikan tanah yang
akan dijadikan isi dari peta yang akan dibuat. Pemilihan detail, distribusi dan
teknik pengukuranya dalam pemetaan sangat tergantung dari skala dan tujuan
peta itu dibuat. Misal untuk peta kadaster atau pendaftaran hak atas tanah,
yang diperlukan adalah unsur batasbatas pemilikan tanah, sedang beda tinggi
atau topografi tidak diperlukan. Sedang untuk peta teknik, yang diperlukan
unsur-unsur topografi, detail almiah serta hasil budaya manusia yang konkrit
ada di lapangan. Penetuan posisi dari titik-titik detail, dikatakan pada titik-
titik kerangka pemetaan yang terdekat yang telah diukur sebelumnya, atau
mungkin juga ditentukan dari garis ukur, yang merupakan sisi-sisi dari
kerangka peta ataupun garis yang dibuat khusus untuk itu (Basuki, 2006).
Ada beberapa metode atau cara pengukuran (penetuan posisi) tititk
detail antara lain:
a. Metode offset
b. Metode Radial
c. Metode polar atau koordinat kutup
d. Metode pemotongan (kemuka)

3.8 Pengukuran Kemajuan Tambang


Kemajuan tambang adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada daerah
tambang setelah dilakukan kegiatan penambangan. Dalam hal ini adalah
perubahan bentuk permukaan karena proses penambangan. Perubahan ini diukur
menggunakan alat ukur Total Station. Data hasil pengukuran ini diolah
menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2007 dalam perhitungannya dan
menggunakan Aplikasi program AutoCAD, sehingga nantinya akan diketahui
berapa besar volume dan tonase yang telah terbongkar selama 1 bulan.

20
3.9 Total Station
3.9.1 Pengertian Total Station
Total station adalah alat ukur sudut dan jarak yang terintegrasi dalam
satu unit alat. Total station juga sudah dilengkapi dengan processor sehingga
bisa menghitung jarak datar, koordinat, dan beda tinggi secara langsung tanpa
perlu kalkulator lagi. Total station juga merupakan teknologi alat yang
menggabungkan secara elektornik antara teknologi theodolite dengan
teknologi EDM (electronic distance measurement). Total station merupakan
alat ukur jarak elektronik yang menggunakan gelombang elektromagnetik
sinar infra merah (infra red) sebagai gelombang pembawa sinyal pengukuran
dan dibantu dengan sebuah reflektor berupa prisma sebagai target (alat
pemantul sinar infra merah agar kembali ke EDM). Berikut ini adalah
Gambar dan juga penjabaran mengenai pengertian total station:

Gambar 3.1. Total Station Nikon DTM 325


a. Total Station adalah peralatan elektronik ukur sudut dan jarak yang
menyatu dalam 1 unit alat.
b. Data dapat disimpan dalam media perekam. Media ini ada yang
berupa on-board atau internal, external (elect field book) atau
berupa card/PCMCIA Card. -> salah catat tidak ada.
c. Mampu melakukan beberapa hitungan (misalnya: jarak datar, beda
tinggi) di dalam alat. Juga mampu menjalankan program-program

21
survei, misalnya: Orientasi arah, Setting-out (pengembalian titik),
hitungan Luas dan masih banyak lagi, kemampuan ini tergantung
tipe dari alat total station.
d. Untuk tipe “high end”nya ada yang dilengkapi motor penggerak, dan
dilengkapi dengan ATR-Automatic Target Recocnition, pengenal
objek otomatis (prisma).
e. Tipe tertentu mampu meminimalisir kesalahan-kesalahan: kolimasi
Horizontal dan Vertikal, kesalahan diametral, dan koreksi refraksi
sehingga data yang didapat sangat akurat.
f. Ketelitian dan kecepatan ukur sudut dan jarak jauh lebih baik dari
theodolite manual dan meteran, terutama untuk pemetaan situasi.
g. Alat dilengkapi dengan sinar laser, sangat praktis dan Reflektor-less
EDM ( EDM tanpa reflector )
h. Data secara elektronis dapat didownload ke PC dan diolah menjadi
peta dengan program mapping software.
3.9.2 Cara Kerja Total Station
Total station merupakan perangkat elektronik yang dilengkapi piringan
horisontal, piringan vertikal dan komponen pengukur jarak. Dari ketiga data
primer ini (Sudut horisontal, sudut vertikal dan jarak) bisa didapatkan nilai
koordinat X, Y, Z serta beda tinggi. Data direkam dalam memori dan
selanjutnya dapat ditransfer ke komputer untuk diolah menjadi data spasial.
3.9.3 Rekomendasi Pemakaian
a. Total Station sebaiknya digunakan untuk pengukuran tata batas baru,
baik itu tata batas hutan maupun tata batas dengan pihak ketiga
seperti halnya pinjam pakai dan tukar menukar kawasan hutan.
b. Total Station sebaiknya digunakan untuk pengukuran berulang
(contoh: rekonstruksi batas kawasan hutan), dimana data sebelumnya
diperoleh dari pengukuran menggunakan Total Station juga.
3.9.4 Beberapa Hal yang Diperhatikan Mengenai Total Station
a. Total Station merupakan teknologi baru di lingkup Departemen
Kehutanan (DK), walaupun sebenarnya di dunia pengukuran total

22
station sudah muncul dan berkembang cukup lama, sehingga
persiapan tenaga ukur yang handal perlu dipersiapkan.
b. Total Station dioperasikan dengan menggunakan tenaga dari baterai,
kelemahannya adalah harus membawa banyak baterai. Perlu
diperhitungkan dan dipersiapkan jumlah dan atau jenis baterai yang
akan digunakan. Pabrikan total station rata-rata sudah menggunakan
baterai lithium, akan tetapi surveior sebagai pengguna harus menguji
lamanya baterai yang dapat digunakan dalam suatu rangkaian
pengukuran. Kondisi hutan jauh dari pemukiman mengakibatkan
proses isi ulang baterai sulit dilakukan. Dari pengujian lamanya
kemampuan baterai lithium tersebut maka dapat ditentukan berapa
baterai cadangan yang harus dibawa dalam suatu kegiatan
pengukuran.
c. Beberapa total station dilengkapi pula dengan kotak khusus untuk
pengganti baterai lithium yaitu digunakan apabila surveior akan
menggunakan baterai jenis alkaline ukuran AAA+. Baterai alkaline
bisa dijadikan alternatif untuk persediaan baterai cadangan, tentunya
sebelum memutuskan memilih jenis baterai cadangan perlu menguji
lamanya baterai tersebut bisa dipakai. Sehingga baterai jenis alkaline
bisa ditentukan jumlahnya untuk keperluan cadangan di lapangan.
d. Total station memiliki rangkaian elektronik di dalam alatnya,
sehingga dalam membawanya perlu perhatian lebih dibanding T0
yang memiliki konstruksi alat di dalam cukup sederhana dan tidak
ada rangkaian elektronik.
e. Pengukuran menggunakan alat total station memerlukan 2 (dua) titik
pasti berkoordinat tetap yang memiliki ketelitian tinggi di awal
pengukuran sebagai orientasi awal. Titik tersebut bisa berupa pal
batas berkoordinat atau jatikon atau titik pasti berkoordinat lainnya.
f. Penggunaan statif atau kaki tiga untuk menempatkan prisma
membutuhkan kemampuan teknis dalam mendirikannya untuk

23
memperoleh posisi yang benar, oleh karena itu diperlukan 3 tenaga
teknis dalam pengukuran.
g. Alternatif penggunaan prisma pole sebagai pengganti penggunaan
statif atau kaki tiga untuk prisma dapat membantu meningkatkan
kecepatan pengukuran.
h. Alat ukur total station memiliki metode pengukuran poligon sudut,
sehingga harus mendirikan alat di setiap titik pal batas, berbeda
halnya dengan T0 kompas. T0 kompas dapat melakukan pengukuran
dengan melompat 1 titik ke titik berikutnya, sehingga pengukuran
lebih cepat dibandingkan dengan total station.
i. Pemakaian total station di lingkup Departemen Kehutanan (DK)
belum memiliki payung hukum yang jelas diantaranya mengenai
standar jarak yang dapat ditempuh dengan total station. Sebagai
contoh: standar jarak untuk pekerjaan pemancangan batas sementara
yang dikerjakan dengan menggunakan T0 yaitu 1 km dalam 1 hari.
Untuk kelancaran pekerjaan, maka perlunya penetapan aturan yang
jelas berkenaan dengan pemakaian alat ukur total station.
3.9.5 Manfaat Total Station
Alat total station dan theodolite yang digunakan untuk mengukur sudut
horisontal dan vertikal selama melakukan survei, masing-masing memiliki
pro dan kontra tertentu yang dapat digunakan dalam berbagai situasi. Secara
umum, hal itu akan tergantung pada waktu, uang, tenaga, dan keahlian yang
telah tersedia pada saat penentuan alat yang tepat untuk pekerjaa. Keakuratan
dalam pekerjaan konstruksi atau design anda saat survei gunakanlah alat laser
Auto Level. Meskipun theodolite telah digunakan selama ratusan tahun,
operasi utama dari alat ini tetap sama. theodolite terdiri dari teleskop bergerak
dipasang antara sumbu vertikal dan horisontal. Sudut dari masing-masing
sumbu dapat diukur dengan presisi cukup akurat selama operator memiliki
pengetahuan yang cukup menggunakan alat dan trigonometri dasar. Namun,
penggunaan theodolite secara umum memerlukan bantuan dari setidaknya
satu orang lain selain operator utama untuk membantu mengukur dan

24
menyelaraskan sudut. Ketika menghitung presisi, sangat penting bahwa kedua
operator yang terlatih dan memahami semua elemen pengumpulan data, ini
mungkin termasuk meratakan saham tripod atau theodolite dan pengukuran,
serta menyelaraskan tiang dan mengukur garis untuk mengumpulkan data
yang akurat, dan akhirnya menggunakan kemampuan matematika dan grafis
untuk menghasilkan output yang sesuai. Manfaat dari total station akan
melebihi downsides, dalam banyak kasus, karena fitur-fiturnya semua-
inklusif dan integrasi digital. Alat total station mengintegrasikan fungsi
theodolite untuk mengukur sudut dan jarak dengan EDM (meter jarak
elektronik). Total station menggunakan sistem prisma dan laser untuk
mengembangkan pembacaan digital dari seluruh pengukuran selama
pekerjaan. Semua informasi yang dikumpulkan dengan total station disimpan
dalam sebuah komputer eksternal di mana data dapat dimanipulasi dan
ditambahkan ke program Autocad.

3.10 Sejarah AutoCAD


AutoCAD Pertama kali dirilis pada Desember 1982 oleh Autodesk. pada tahun
setelah yang membeli dari bentuk pertama dari perangkat lunak Autodesk oleh
pendiri, John Walker. AutoCAD berasal dari sebuah program yang disebut
Berinteraksi, yang ditulis dalam bahasa berpemilik (SPL) oleh Riddle Michael
penemu. Versi awal berlari pada komputer Sistem Marinchip 9900 (Marinchip
Sistem dimiliki oleh Autodesk pendiri John Walker dan Dan Drake).
Ketika Marinchip Software Mitra (kemudian dikenal sebagai Autodesk)
terbentuk, pendiri memutuskan untuk kembali kode Berinteraksi di C dan PL / 1.
Mereka memilih C karena tampaknya menjadi bahasa mendatang terbesar. Pada
akhirnya, versi PL / 1 tidak berhasil. Versi C, pada saat itu, salah satu program
yang paling kompleks dalam bahasa tersebut. Autodesk harus bekerja dengan
pengembang compiler, Lattice, untuk memperbarui C, memungkinkan untuk
menjalankan AutoCAD [3] rilis awal dari AutoCAD digunakan entitas primitif -.
Garis, polyline, lingkaran, busur, dan teks – untuk membangun objek yang lebih

25
kompleks. Sejak pertengahan 1990-an, AutoCAD didukung objek kustom melalui
program C + + Application Programming Interface (API).
AutoCAD menjadi produk andalan Autodesk dan dengan Maret 1986 telah
menjadi program desain yang paling mana-mana mikrokomputer di dunia,
memanfaatkan fungsi-fungsi seperti “polyline” dan “curve fitting”. Sebelum
pengenalan AutoCAD, sebagian lainnya CAD program berlari pada komputer
mainframe atau minicomputer, dengan unit masing-masing pengguna terhubung
ke terminal komputer grafis.
Dalam sejarah , dimana secara sederhana AutoCAD dipublikasikan mulai dari
versi yang paling sederhana versi 2.0 tahun 1984 kemampuan untuk membuat
bentuk 3D Setelah itu versi Autodesk sebagai pembuat program AutoCAD dan
disempurnakan Versi 2.1X tahun 1985, versi 2.5X tahun 1986 dan sudah dapat
digunakan aplikasi 3 D sehingga berkembang versi 2.6X dimulai dari versi 10, 11,
12, 13, 14, AutoCAD 2000 dan berkembang terbaru AutoCAD 2006, 2007, 2008,
2009, 2010, 2011, 2012, 2013 dan muncul terbaru AutoCAD 2017. dan software
AutoCAD ini selalu memperbaharui versi- versi mereka setiap tahunnya.
Autodesk AutoCAD banyak digunakan oleh insinyur sipil, land developers,
arsitek, insinyur mesin, desainer interior dan yang berhubungan dengan
penggunaan CAD, adapun fungsi dari penggunaan AutoCAD adalah sebagai
berikut :

1. Merancang Konsep Bangunan dan Tata Ruang


2. Merancang Konsep Struktur dan Infrastruktur Bangunan
3. Merancang Konsep Instalasi Mekanikal dan Elektrical
4. Merancang Konsep Disain Manufaktur
5. Merancang Permodelan Manufaktur seperti Mur, baut, blog mesin, dll
6. Dan yang berkenaan dengan semua bidang teknik lainnya.

26
Berikut adalah tampilan pada layar / toolsbar pada versi AutoCAD 2000 s/d 2008 :

Gambar 3.2 Contoh Tampilan versi 2000 s/d 2008


Seiring dengan berkembangnya jaman Autodesk menambah dan merubah
vigur pada tampilan

Gambar 3.3 Contoh Tampilan versi 2009 s/d 2017


Adapun macam - macam tampilan pada layar AutoCAD tidak merubah fungsi
serta perintah - perintahnya hanya saja seiring dengan perkembangan jaman agar
mempermudah dalam penggunaannya dari tahun ke tahun selalu diberikan vigur
serta perintah - perintah baru hal ini bertujuan agar mempermudah para pengguna
Program AutoCAD. Demikian hasil dan ulasan yang sangat singkat ini semoga
bermanfaat sepenggal tentang program aplikasi AutoCAD.

27