Anda di halaman 1dari 4

No : SOP-00-HSE-013

SOP Tgl terbit : 01-10-2015

KASUS LINGKUNGAN Revisi : 00

Halaman : 1 dari 4

TUJUAN : 1. Memberikan panduan dalam menentukan kriteria kecelakaan


lingkungan.

RUANG LINGKUP : Diterapkan di seluruh area kerja PT.Manggala Usaha Manunggal.

REFERENSI : 1. Keputusan Mentri Pertambangan dan Energi No. 1211 K. /008/M.Pe/


1995
2. Kep MenLH No. 113 Tahun 2003
3. PP No. 74 tahun 2001
4. UU No. 32 tahun

1. DEFINISI
1.1 Kasus lingkungan pertambangan adalah suatu kejadian yang setelah melalui proses
pemeriksaan terbukti telah terjadi kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan yang
diakibatkan oleh kegiatan pertambangan.
1.2 Kontaminasi top soil adalah tercampurnya material tanah penutup hasil pengupasan
dengan material lain seperti overburden, lumpur, atau lapisan batubara dan bijih yang
dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan erosi tanah penutup.
1.3 Yang termasuk dalam lapisan soil adalah lapisan top soil dan lapisan sub soil. Lapisan top
soil adalah lapisan atas soil yang mengandung humus berwarna coklat hingga coklat
muda. Lapisan sub soil atau lapisan bawah soil adalah lapisan tanah yang berwarna
kuning dan dikupas setelah lapisan top soil.
1.4 Pemompaan langsung/direct pumping adalah pengaliran air limbah tambang (air
limpasan tambang, air hasil kegiatan pencucian batubara, air hasil penyiraman jalan
tambang, air dari kegiatan workshop, maupun air hasil pencucian unit) langsung ke
perairan umum tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu di kolam pengendap.
1.5 Air limbah tambang yang melebihi baku mutu adalah hasil pengukuran kualitas air
limbah yang nilai unsur pencemarnya melebihi batas.
1.6 Tumpahan B3 atau limbah B3 terdiri dari 3 kriteria, yaitu :

1.6.1 Atmosphoric release : keluarnya zat dari wadah utama secara langsung ke udara,
contoh: kapur atau Amonium Nitrat yang pengelolaannya tidak tepat sehingga
menyebabkan partikelnya beterbangan di udara.
1.6.2 Leak : bocornya zat dari wadah utama, yang tidak sampai ke tanah, air tanah,
maupun air permukaan (tidak berdampak pada lingkungan) karena tertampung
pada secondary containment, namun membutuhkan isolasi/tindakan perbaikan
segera
1.6.3 Spill : adalah bocornya zat dari wadah utama atau wadah kedua (secondary
containment) yang sampai ke tanah, air tanah, maupun air permukaan dan
menimbulkan atau memiliki potensi dampak terhadap lingkungan sehingga
membutuhkan perbaikkan segera. Tumpahan B3 yang termasuk dalam kriteria
kasus lingkungan adalah spill.
No : SOP-00-HSE-013

SOP Tgl terbit : 01-10-2015

KASUS LINGKUNGAN Revisi : 00

Halaman : 2 dari 4

2. TANGGUNG JAWAB, AKUNTABILITAS DAN KEWENANGAN

3. DIAGRAM ALIR

4. URAIAN
Kriteria Peraturan dan Standard Parameter Ket.

Top soil yang tidak dapat 4 x ritasi (1 jam)


Keputusan Mentri kontaminasi material
Kontaminasi segera dimanfaatkan
Pertambangan dan Energi bukan top soil, berupa
Top soil kembali perlu diamankan
No. 1211 K. /008/M.Pe/ 1995 overburden, atau
dari perusakan dan erosi
lapisan batubara, atau
bijih
Air yang berasal dari
kegiatan usaha
pertambangan sebelum
Keputusan Mentri dialirkan ke perairan
Melakukan Hasil pengukuran pH,
Pertambangan dan Energi umum harus diolah
direct pumping Residu tersuspensi,
No. 1211 K. /008/ M.Pe/ terlebih dahulu sehingga
tanpa treatment Fe, Mn
1995 memenuhi baku mutu
lingkungan sesuai
peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Penanggung jawab
usaha wajib melakukan
Pengukuran
pengelohan air limbah
dilakukan di settling
Air limbah dari kegiatan
pond kompartemen
tambang yang Kep MenLH No. 113 Tahun penambangan sehingga
terakhir, untuk
melebihi baku 2003 mutu air limbah yang
pengukuran pH,
mutu dibuang ke lingkungan
Residu tersuspensi,
tidak melampaui baku
Fe, Mn
mutu air limbah yang
ditetapkan

Tumpahan PP No. 74 tahun 2001 Pengguna dan penghasil Spill sebanyak


B3/Limbah B3 B3 dilarang membuang minimal 50 L
limbah B3 secara
UU No. 32 tahun 2009 langsung ke lingkungan
No : SOP-00-HSE-013

SOP Tgl terbit : 01-10-2015

KASUS LINGKUNGAN Revisi : 00

Halaman : 3 dari 4

4.1 Untuk mencegah adanya kontaminasi top soil maka perlu dilakukan management soil
yang sesuai standar yang dimiliki PT.Manggala Usaha Manunggal atau sesuai dengan
aturan yang dikeluarkan oleh customer. Apabila kontaminasi top soil sudah terjadi
sebanyak 4x ritasi (1 jam), maka sudah dikategorikan sebagai terjadinya kasus
lingkungan yang perlu dilakukan handling top soil dari material kontaminasi.
4.2 Direct pumping dikategorikan sebagai kasus lingkungan apabila pemompaan dilakukan
langsung tanpa treatment ke perairan bebas, dan menyebabkan dilampauinya baku
mutu akibat pemompaan tersebut untuk parameter pH, TSS, Fe, dan Mn sesuai
Standar Pemantauan dan Pengukuran Lingkungan Kerja.
4.3 Air limbah tambang yang melebihi baku mutu dikategorikan sebagai kasus lingkungan
apabila air yang dikeluarkan dari kolam pengelolaan ke perairan bebas melebihi baku
mutu yang diizinkan untuk parameter pH, TSS, Fe, dan Mn sesuai dengan Standar
Pemantauan dan Pengukuran Lingkungan Kerja.
4.4 Tumpahan B3 atau limbah B3 dikategorikan sebagai kasus lingkungan apabila
terjadi tumpahan B3 langsung ke tanah, air tanah, maupun air permukaan sebanyak lebih
dari 50 L.
4.5 Jika terjadi keempat kasus di atas, maka penanganan keadaan darurat yang
diperlukan adalah dengan menghentikan sumber pencemar, lokalisir area
pencemaran (untuk tumpahan B3/atau limbah B3), mengumpulkan pencemar (untuk
kontaminan top soil, dan tumpahan B3/limbah B3), dan melakukan recovery.
4.6 Tindakan lanjut yang perlu dilakukan setelah penanganan secara langsung adalah
dengan melakukan investigasi kecelakaan dan hasilnya dicatat dalam form laporan
investigasi insiden.

5. DOKUMEN TERKAIT
No : SOP-00-HSE-013

SOP Tgl terbit : 01-10-2015

KASUS LINGKUNGAN Revisi : 00

Halaman : 4 dari 4

Kolom Pengesahan

Dibuat Oleh Diperiksa Oleh Disetujui Oleh

Gunawan Arie AP Tarub Arinto Pramudyo


HSE Corporate General Manager Operation Management Representatif

Riwayat Revisi

Tanggal Penjelasan Perubahan Diajukan Disetujui


No Revisi
Oleh Oleh