Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah Swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
ucapkan syukur kehadirat-Nya yang telah memberikan kami kesehatan.Sehingga
kami Bisa menyelesaikan makalah mengenai“PENGELOLAAN IMS PADA
TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN PRIMER”.
Di dalam makalah ini penulis menjelaskan mengenai masalah gizi
seimbang.Penulis berharap semoga apa yang ditulis di dalam makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pembaca pada umumnya, Amin.
Di dalam penulisan karya tulis ilmiah penulis mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah MUTU
PELAYANAN KEBIDANAN

Langsa,15 September 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. 1
DAFTAR ISI ................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 3
A. Latar Belakang ................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C. Tujuan Umum .................................................................................... 4
D. Tujuan Khusu ..................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN TEORITIS ................................................................. 5
A. Pengertian IMS ................................................................................... 5
B. Penanggulangan IMS ......................................................................... 6
C. Klinik IMS.......................................................................................... 6
D. Struktur dan Standar Pelayanan ......................................................... 7
E. Pengelolaan IMS di Tingkat Pelayanan Kesehatan Primer ................ 9
F. Penjagaan Kesehatan Ibu Dan Janin Dari Aspek Pencegahan IMS . 10
BAB III PENUTUP .................................................................................... 11
A. Kesimpulan .................................................................................... 11
B. Saran .............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 12

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan
sosial dan semua hal yang berkaitan dengan system reproduksi, serta
fungsinya. Ruang lingkup kesehatan reproduksi secara nasional, antara lain:
kesehatan ibu dan bayi baru lahir (BBL), keluarga berencana (KB),
pencegahan dan penanggulangan penyakit menular seksual termasuk IMS dan
HIV/AIDS, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanggulangan
aborsi, kesehatan reproduksi remaja.
Di Indonesia angka kematian ibu dan bayi masih terbilang tinggi
dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya. Sedangkan Angka Kematian
Ibu di Kota Semarang Jawa Tengah beberapa tahun terakhir tergolong tinggi.
Dari data yang ada hingga bulan November tahun 2015 angka kematian ibu
melahirkan mencapai 36 kasus, padahal fasilitas kesehatan yang ada di Kota
Semarang sudah tergolong lengkap dan modern.
Kesehatan termasuk salah satu unsur kesejahteraan yang harus
diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tertera pada
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
alinea ke empat. Pemerintah perlu bekerja keras menghadapi masalah
kesehatan salah satunya dengan melakukan pemerataan tenaga kesehatan di
setiap wilayah agar seluruh penduduk Indonesia mendapatkan pelayanan
kesehatan yang optimal terutama masalah kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari IMS?
2. Bagaimana penanggulangan IMS?
3. Bagaimana pengelolaan IMS di tingkat pelayanan kesehatan primer?
4. Bagaimana penjagaan kesehatan ibu dan janin dari aspek pencegahan
IMS?

3
C. Tujuan Umum
Tujuan umum dari pembuatan makalah ini supaya si pembaca mengetahui
bagaimana pengelolaan IMS dalam pelayanan kesehatan primer.

D. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui definisi dari IMS
2. Untuk mengetahui Bagaimana penanggulangan IMS
3. Untuk mengetahui Bagaimana pengelolaan IMS di tingkat pelayanan
kesehatan primer
4. Untuk mengetahui Bagaimana penjagaan kesehatan ibu dan janin dari
aspek pencegahan IMS

4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian IMS
IMS adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin
atau kontak intim (Jan T, 2000). IMS adalah penyakit yang disebabkan karena
adanya invasi organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang
sebagian besar menular melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis
ataupun sesama jenis. (Aprilianingrum, 2002). Umumnya mata rantai
penularan IMS adalah PSK. Rasio penularan akan meningkat bila pemakaian
kondom dan hubungan seksual dengan PSK tidak dilakukan. PMS banyak
ditemui Gonorrhoe (GO), sifilis, trikomoniasis, herpes simpleks, HIV/AIDS.
Penularan penyakit tidak selalu harus melalui hubungan kelamin. Penyakit
dapat terjadi pada orang-orang yang belum pernah melakukan hubungan
kelamin. Sebagian penderita adalah akibat korban keadaan diluar kemampuan
mereka, dalam arti mereka sudah berusaha sepenuhnya untuk tidak mendapat
penyakit, tetapi kenyataan masih juga terjangkit (Adhi J, 2007).
Mengenali gejala infeksi menular seksual cukup mudah, yaitu dengan
mengecek apakah ada cairan seperti nanah keluar dari vagina, penis
ataudubur, lalu cairan ini biasanya berupa lendir dalam jumlah banyak, bau
dan kental. Terasa pedih atau panas ketika buang air kecil atau saat melakukan
hubungan seksual, nyeri di perut bagian bawah (pada wanita) dan di buah
zakar (pada pria), serta bokong dan kaki. Gejala umum IMS yaitu:
1. Perubahan pada kulit disekitar kemaluan
2. Gatal pada alat kelamin.
3. Terasa nyeri saat buang air kecil.
4. Muncul cairan tertentu, dan terlihat tidak normal
5. Ada perubahan yang tidak wajar seperti melepuh, lecet, luka, muncul
bintil, ruam atau pembengkakan di kelamin atau sekitar kelamin.
6. Ada benjolan yang mencurigakan
7. Berdarah dan nyeri saat berhubungan.

5
B. Penanggulangan IMS
Upaya pencegahan dan penanggulangan IMS ditingkat pelayanan dasar
masih ditujukan kepada kelompok risiko tinggi berupa upaya pencegahan dan
penanggulangan IMS dengan pendekatan sindrom. Saat ini ditemui hambatan
sosiobudaya yang sering mengakibatkan ketidak tuntasan dalam
pengobatannya, sehingga menimbulkan komplikasi IMS yang serius seperti
kemandulan, keguguran, dan kecacatan janin (Depkes RI, 2004).
Pedoman penatalaksanaan IMS yang diterbitkan oleh Depkes RI
(2004) tentang kriteria yang digunakan dalam pemilihan obat untuk IMS yaitu
angka kesembuhan atau kemanjuran tinggi (sekurang-kurangnya 90-95% di
wilayahnya), harga murah, toksisitas dan toleransi yang masih dapat diterima,
diberikan dalam dosis tunggal, cara pemberian per oral, dan tidak merupakan
kontra indikasi pada ibu hamil atau ibu menyusui.
Kebijaksanaan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS sebagai
berikut: (a) meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor termasuk
kerjasama internasional dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam
penanggulangan IMS dan HIV/AIDS, (b) meningkatkan desentralisasi dengan
pendekatan pelayanan kesehatan dasar, (c) pencegahan adalah fokus utama,
diintegrasikan dengan perawatan, dukungan dan pengobatan, (d) memperkuat
aspek manajemen dan aspek hukum dan perundangan yang berkaitan dengan
upaya penanggulangan IMS dan HIV/AIDS, termasuk aspek perlingdungan
kerahasiaan dan aspek pencegahan diskriminasi/stigmatisasi penderita IMS
dan HIV/AIDS, dan (e) mengintegrasikan kegiatan penanggulangan IMS dan
HIV/AIDS dengan penyakit lainnya antara lain tuberkulosis.

C. Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS)


Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Klinik IMS ini mencakup:
1. Melaksanakan kegiatan pencegahan seperti promosi kondom dan seks
aman
2. Memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan bagi mereka yang telah
tertular IMS,

6
3. Melaksanakan kegiatan penapisan untuk IMS asymptomatic bagi semua
populasi beresiko secara rutin sedikitnya sekali setiap 3 (tiga) bulan,
4. Memberikan layanan konseling, pemeriksaan, dan pengobatan bagi
pasangan tetap klien pekerja seks melalui sistem partner notification,
5. Menjalankan sistem monitoring dan surveilans,
6. Memberikan layanan KIE tentang mitos penggunaan obat –obat bebas
untuk mencegah atau mengobati IMS (KPA Nasional, 2005).

D. Struktur dan Standar Pelayanan


1. Program Pengendalian HIV/AIDS dan IMS
Berbagai upaya untuk pengendalian HIV AIDSdan IMSyang telah dilakukan
selama ini masih belum mencapai hasil yang optimal sehingga perlu dilakukan
akselerasi. Kegiatan-kegiatan dikelompokkan berdasarkan isu spesifik
sebanyak 16 akan dijalankan untuk mencapai tujuan pengendalian.
a. Peningkatan Tes HIV
Program ini mencakup pelaksanaan layanan tes HIV pada populasi
kunci, populasi khusus (pasien IMS, TB dan hepatitis, dan pasien dengan
penyakit-penyakit yang mengindikasikan HIV AIDS); ibu hamil, WBP,
dan pasangan ODHA).di wilayah dengan epidemi HIV terkonsentrasi dan
layanan tes HIV pada seluruh pasien di Tanah Papua. serta tindak lanjut
hasil skrining darah di UTD.
b. Peningkatan Cakupan dan Retensi Pengobatan ARV
Program ini mencakup penyediaan dan perluasan layanan
perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) bagi ODHA, menyediakan
ARV bagi yang memenuhi syarat dan obat-obat infeksi oportunistik dan
profilaksis, upaya-upaya untuk meningkatkan retensi ODHA di dalam
perawatan HIV (termasuk membina kelompok dukungan sebaya).
c. Pengendalian Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)
Program ini mencakup penyediaan layanan IMS sebagai standar di
seluruh Puskesmas dan fasyankes lainnya (termasuk pemeriksaan rutin
IMS dan penapisan sifilis untuk populasi kunci dan ibu hamil di Kab/

7
kota), penyediaan kondom sebagai alat pencegahan dan paket pengobatan
IMS.
d. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu dan Anak (PPIA)
Program PPIA merupakan program pencegahan penularan vertikal
dari seorang ibu kepada bayinya. Kerangka kerja program PPIA
dilaksanakan melalui kegiatan pencegahan dan penanganan HIV secara
komprehensif berkesinambungan yang meliputi empat komponen (prong)
sebagai berikut:
Prong 1 :pencegahan primer agar perempuan pada usia reproduksi
tidak tertular HIV. Kegiatan ini merupakan pencegahan primer untuk
mencegah penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun).
Kegiatannya meliputi:
1) Penyebarluasan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang
pencegahan infeksi HIV
2) Tes HIV padaperempuan usia reproduksi, termasuk ibu hamil.

Prong 2 : Pencegahan kehamilan yang tak direncanakan pada


perempuan pengidap HIV. Pada prinsipnya setiap perempuan perlu
merencanakan kehamilannya, namun pada perempuan dengan HIV
perencanaan kehamilan harus dilakukan dengan lebih hati-hati dan matang
karena adanya risiko penularan HIV kepada bayinya.Kegiatan yang
dilakukan meliputi:
1) Pencegahan dan penundaan kehamilan pada ibu dengan HIV melalui
konseling dan penyediaan sarana kontrasepsi yang aman dan efektif;
dan
2) Perencanaan dan persiapan kehamilan yang tepat, jika ibu ingin
hamil.Termasuk di sini adalah merencanakan kapan saat yang tepat
untuk hamil

Prong 3 : Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang


dikandungnya dan yang disusuinya.Strategi pencegahan penularan

8
HIVpada ibu hamil merupakan inti dari upaya PPIA.Semua ibu hamil
dengan HIV diupayakan mendapatkan pelayanan berikut ini.
1) Layanan antenatal terpadu sesuai dengan standar.
2) Pemberian ARV dan kotrimoksasol profilaksis pada ibu hamil dengan
HIV.
3) Perencanaan persalinan yang aman dan tatalaksana persalinan, nifas
dan layanan neonatal.
4) Tatalaksana pemberian makanan terbaik bagi bayi.
5) Pemberian ARV dan kotrimoksasol profilaksis pada bayi.

Prong 4 : Pemberian dukungan psikologis, sosial dan perawatan


kepada ibu dengan HIV beserta anak dan keluarganya. Upaya pencegahan
penularan HIV dari ibu ke anak tidak berhenti setelah ibu melahirkan. Ibu
akan tetap hidup dengan HIV di tubuhnya, sehingga membutuhkan
dukungan medis, psikologis, sosial dan perawatan selama hidupnya.
Perempuan dengan HIV lebih rentan terkena IMS, sehingga bila terinfeksi
HPV (human papiloma virus) akan lebih rentan untuk terjadi perubahan ke
arah kanker serviks, sehingga pemeriksaan IVA (inspeksi visual asam
asetat) atau Pap smear harus lebih sering dilakukan, misalnya setiap 6-9
bulan.

E. Pengelolaan IMS di Tingkat Pelayanan Kesehatan Primer


Pencegahan dan penanggulangan IMS termasuk HIV/AIDS
pelayanannya adalah :
1. Konseling tentang pencegahan dan penanggulangan PMS termasuk
HIV/AIDS.

2. Promosi penggunaan kondom untuk perlindungan.


Kondom untuk pria merupakan salah satu alat kontrasepsi yang
banyak dipilih karena praktis, murah, dan mudah diperoleh. Jika
digunakan dengan tepat, kondom dapat mencegah kehamilan sekaligus

9
melindungi dari penyakit menular seksual (PMS). Pada dasarnya,
tujuan kondom adalah untuk mencegah kehamilan, yaitu sebagai alat
penghalang fisik yang menghentikan sperma memasuki vagina dan
mencapai sel telur. Penggunaan kondom secara konsisten dan benar dapat
mengurangi risiko penularan penyakit menular seksual seperti herpes
genital dan sifilis. Penggunaan kondom juga mengurangi risiko penularan
virus HIV/AIDS, serta risiko infeksi HPV yang menyebabkan kutil
kelamin hingga kanker serviks. Berbagai penelitian telah menunjukkan
bahwa kondom menjadi penghalang efektif untuk mencegah penyakit
menular seksual akibat kuman serta virus yang paling kecil sekalipun.

3. Diagnosis dan pengobatan kasus PMS.


a) Pengobatan Penyakit Menular Seksual
Pengobatan terhadap penyakit menular seksual disesuaikan dengan
penyebab infeksi, melalui pemberian obat-obatan berikut ini:
1) Antibiotik
Antibiotik digunakan untuk mengobati berbagai penyakit menular
seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti
gonore, chlamydia, dan sifilis. Antibiotik harus tetap dikonsumsi,
walaupun gejala yang dirasakan telah membaik. Hal ini dilakukan
untuk mencegah infeksi kembali terjadi. Dokter juga akan
menganjurkan pasien untuk tidak berhubungan intim hingga masa
pengobatan berakhir dan gejala menghilang. Jenis antibiotik yang
diberikan antara lain penisilin, doxycycline, amoxicillin,
dan erythromycin. Selain membunuh bakteri, antibiotik
seperti metronidazole dapat membunuh parasit pada penyakit
trikomoniasis. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet yang diminum
maupun sediaan yang dimasukkan ke dalam vagina.
2) Antivirus
Pengobatan dengan obat antivirus hanya bertujuan untuk
meredakan gejala dan mengurangi risiko penyebaran. Jenis obat

10
antivirus yang digunakan untuk menangani herpes genital
adalah acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir. Sementara untuk
hepatitis, obat yang diberikan meliputi entecavir, interferon,
dan lamivudine.
3) Antijamur
Untuk penyakit menular seksual yang disebabkan oleh jamur,
seperti candidiasis, dokter akan memberikan krim antijamur yang
dioleskan ke vagina, seperti nystatin dan clotrimazole. Obat
antijamur dalam bentuk tablet juga dapat diresepkan oleh dokter,
seperti fluconazole dan miconazole.

b) Komplikasi Penyakit Menular Seksual


Deteksi dan penanganan terhadap penyakit menular seksual perlu
dilakukan sejak dini. Jika dibiarkan, penyakit menular seksual dapat
menyebabkan beberapa komplikasi berikut:
 Peradangan pada mata
 Radang sendi
 Nyeri panggul
 Radang panggul
 Infertilitas
 Penyakit jantung
 Kanker serviks
 Kanker anus
Penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan komplikasi pada
kehamilan. Beberapa penyakit menular seksual, seperti
gonore, chlamydia, HIV, dan sifilis dapat menular dari ibu hamil ke
janinnya selama kehamilan atau saat persalinan. Kondisi ini dapat
memicu keguguran dan gangguan kesehatan atau cacat lahir pada bayi.

11
c) Mencegah Penyakit Menular Seksual
Langkah utama pencegahan penyakit menular seksual adalah
menerapkan perilaku seks yang aman, yaitu menggunakan kondom dan
tidak bergonta-ganti pasangan seksual. Selain itu, ada beberapa
tindakan pencegahan lain yang dapat dilakukan, yaitu:
 Kenali pasangan seksual masing-masing.
 Lakukan vaksinasi, terutama vaksin HPV dan hepatitis B.
 Tidak menggunakan NAPZA, terutama dengan berbagi
penggunaan jarum suntik.
 Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, khususnya yang
berkaitan dengan organ reproduksi.
Penderita penyakit menular seksual sebaiknya tidak melakukan
hubungan seks hingga penyakit dinyatakan sembuh oleh dokter. Hal
ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit kepada pasangan.

4. Pemeriksaan laboratorium untuk PMS bila mungkin juga untuk


HIV/AIDS.
5. Kesehatan reproduksi remaja.

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
IMS adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin
atau kontak intim. IMS adalah penyakit yang disebabkan karena adanya invasi
organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar
menular melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesama
jenis. Umumnya mata rantai penularan IMS adalah PSK. Rasio penularan
akan meningkat bila pemakaian kondom dan hubungan seksual dengan PSK
tidak dilakukan. PMS banyak ditemui Gonorrhoe (GO), sifilis, trikomoniasis,
herpes simpleks, HIV/AIDS. Penularan penyakit tidak selalu harus melalui
hubungan kelamin. Penyakit dapat terjadi pada orang-orang yang belum
pernah melakukan hubungan kelamin. Sebagian penderita adalah akibat
korban keadaan diluar kemampuan mereka, dalam arti mereka sudah berusaha
sepenuhnya untuk tidak mendapat penyakit, tetapi kenyataan masih juga
terjangkit.

B. Saran
Untuk tenaga kesehatan khususnya seorang bidan, alangkah baiknya
untuk melakukan pemantauan dan pengelolaan mengenai IMS agar dapat
meminimalisir angka terjadinya IMS.

13
DAFTAR PUSTAKA
Satrianegara, M. Fais.2009.Buku Ajar Organisasi dan Manajemen Pelayanan
Kesehatan.Jakarta: Salemba Medika
Wijono, Djoko.2000.Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan.Surabaya: Airlangga
University Press, 3
Azwar, Azrul. 1996.Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan,4
Marimbi, Hanum.2008.Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan.Yogyakarta :
Mitra CendikiaPress

14