Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Hiperplasia prostat (Benign Prostatic Hyperplasia) adalah pembesaran


progresif dari kelenjar prostat, bersifat jinak disebabkan oleh hiperplasi
beberapa atau semua komponen prostat yang mengakibatkan penyumbatan
uretra pras prostatika (Arif Muttaqin & Kumala Sari, 2012).

Hiperplasia prostat benigna (Benign Prostatic Hyperplasia, BPH) adalah


pembesaran atau hipertrofi, kelenjar prostat. Kelenjar prostat membesar,
meluas ke atas menuju kandung kemih dan menghambat aliran keluar urine.
Berkamih yang tidak lampias dan retensi urine yang memicu statis urine dapat
menyebabkan hidronefrosis, hidroureter, dan infeksi saluran kemih (urinary
tract disease, UTI). Penyebab gangguan ini tidak dipahami dengan baik, tetapi
bukti menunjukkan adanya pengaruh hormonal. BHP sering terjadi pada pria
berusia lebih dari 40 tahun (Brunner & Suddarth, 2013).

Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan istilah histopatologi yang


digunakan untuk menggambarkan adanya pembesaran prostat. Terminologi
BPH secara histologi ialah terdapat pembesaran pada sel-sel stroma dan sel-sel
epitel pada kelenjar prostat. BPH akan menjadi suatu kondisi klinis jika telah
terdapat berbagai gejala pada penderita. Gejala yang dirasakan ini dikenal
sebagai gejala saluran kemih bawah (lower urinary tract symptoms= LUTS)
(Coyne, 2008 dalam Heru Haryanto dan Tori Rihiantoro, 2016).

2.2 Etiologi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)


Penyebab yang pasti dari terjadinya BHP sampai sekarang belum
diketahui secara pasti; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa
hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron
(DHT) dan proses penuaan. (Purnomo, 2005)

Selain faktor tersebut ada beberapa hipotesis yang diduga sebagai


penyebab timbulnya hiperplasia prostat, yaitu sebagai berikut.

1. Dihydrotestosteron, peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen


menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi.
2. Ketidakseimbangna hormon estrogen-testosteron. Pada proses penuaan pria
terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang
mengakibatkan hiperplasi stroma.
3. Interaksi stroma-epitel. Peningkatan epidermal growth factor dan fibroblast
growth factor dan penurunan transforming growth factor beta
menyebabkan hiperplasi stroma dan apitel.
4. Berkurangnya sel yang mati. Estrogen yang meningkat menyebabkan
peningkatan lama hidup stroma dan apitel dari kelenjar prostat.
5. Teori sel stem. Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel
transit.
2.3 Manifestasi Klinis dari Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Kategori keparahan BPH berdasarkan gejala dan tanda

Keparahan Penyakit Kekhasan gejala dan tanda

Ringan Asimtomatik

Kecepatan urinary puncak <10 mL/s

Volume urin residural setelah pengosongan >25-50 mL

Peningkatan BUN dan kreatinin serum

Sedang Semua tanda diatas ditambah obstruktif penghilangan


gejala dan iritatif penghilangan gejala (tanda dari
detrusor yang tidak stabil)

Parah Semua yang diatas tambah satu atau dua lebih


komplikasi BPH

Sumber: ISO Farmakoterapi 2 hal: 146

Ket; BUN: Blood Urea Nitrogen

Menurut Brunner & Suddarth (2013) tanda dan gejala dari hiperplasia prostat
benigna (Benign Prostatic Hyperplasia, BPH), yaitu:

1. Prostat besar, seperti karet, dan tidak lunak (nontender). Prostatisme


(kompleks gejala obstruktif dan iritatif) terlihat.
2. Keraguan dalam memulai berkemih, peningkatan frekuensi berkemih,
nokturia, urgensi, mengejan.
3. Penurunan volume dan kekuatan aliran urine, gangguan saluran urine, urine
menetes.
4. Sensasi berkemih yang tidak lampias, retensi urine akut (lebih dari 60 mL),
dan UTI berulang.
5. Keletihan, anoreksia, mual dan muntah, serta ketidaknyamanan pada
panggul juga dilaporkan terjadi, dan pada akhirnya terjadi azotemia dan
gagal ginjal akibat retensi urine kronis dan volume residu yang besar.
2.4 Patofisiologi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami
hiperplasia. Jika prostat membesar maka akan meluas ke atas (kandung kemih)
sehingga pada bagian dalam akan mempersempit saluran uretra prostatica dan
menyumbat aliran urine.
Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravertikal ebagai kompensasi
terhadap tahanan uretra prostatica maka otot destrusor dan kandung kemih
berkontraksi lebih kuat agar dapat memompa urine keluar. Kontraksi yang
terus menerus menyebabkan perubahan anatomi dan kandung kemih berupa:
hipertropi otot destrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula, dan
divertikel kandung kemih.
Tekanan intraveratikal yang tinggi diteruskan keseluruh bagian buli-buli
tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini
dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi
refluks vesiko-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus menerus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat ke dalam
gagal ginjal.
2.5 WOC Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Hiperplasia Prostat

Penyempitan lumen uretra

Respon obstruksi : Peningkatan Respon iritasi :


tekanan intravesika
 Pancaran miksi  Frekuensi
lemah meningkat
 Intermitensi  Noktura
 Hesistensi  Urgensi
 Miksi tidak puas  disuria
 Menetas setelah
miksi

Gangguan pemenuhan Perubahan pola


eliminasi urine pemenuhan eliminasi
urine
Nyeri miksi

Respon perubahan pada Respon perubahan pada ginjal


kandung kemih: dan ureter:

 Hipertropi otot destrusor  Refluks vesiko-ureter


 Trabekulasi  Hidroureter
 Selula  Hidronefrosis
 Divertikel kandung kemih  Pielonefritis
 Gagal ginjal
2.6 Pemeriksaan Diagnostik Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
1. Laboratorium: meliputi ureum (BUN), kreatinin, elektrolit, tes sentivitas
dan biakan urin.
2. Radiologis menurut Wim De Jong et al (2005):
a. Intravena pylografi
b. BNO
c. Sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk.
d. Retrograd
e. Ultrasonografi (USG) dapat dilakukan secara trans abdominal atau
trans rectal (TRUS= Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk
mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan
volume buli-buli, mengukur sisa urine dan keadaan patologi lain
seperti difertikel, tumor dan batu.
f. Ct Scanning
g. Cystoscopy
h. Foto polos abdomen.
3. Prostatektomi Retro Pubis: pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi
kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan abematous prostat
diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.
4. Prostatektomi parineal: yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang
melalui perineum.
2.7 Penatalaksanaan Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
1. Penatalaksanaan Medis
Rencana terapi bergantung pada penyebab, tingkat keparahan obstruksi
dan kondisi pasien. Terapi mencakup:

a. Segera melakukan kateterisasi jika pasien tidak dapat berkemih


(konsultasikan denan ahli urologi jika kateter biasa tidak dapat
dimasukkan). Kistostomi suprapubik terkadang diperlukan.
b. “Mengunggu dengan penuh waspada” untuk memantau
perkembangan penyakit.
2. Penatalaksanaan Farmakologi
a. Penyekat alfa-adrenergik (mis., alfuzosin, terazosin), yang merelaksasi
otot polos leher kandung kemih dan prostat, dan penyekat 5-alfa-
reduktase.
b. Manipulasi hormonal dengan agens antiandrogen (finasterida
[Proscar]) mengurangi ukuran prostat dan mencegah pengubahan
teetosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT).
c. Penggunaan agens fitoterapeutik dan suplemen diet lain (Serenoa
repens [saw palmetto berry] dan Pygeum africanum [plum Afrika])
tidak direkomendasikan, meskipun biasa digunakan
3. Penatalaksanaan Bedah
a. Gunakan terapi invasif secara minimal: terapi panas mikro-gelombang
transuretra (transurethral microwave heat treatment, TUMT; kompres
panas ke jaringan prostat); ablasi jarum transuretra (transurethral
needle ablation, TUNA; melalui jarum tipis yang ditempatkan di
dalam kelenjar prostat); sten prostat (tetapi hanya untuk pasien retensi
kemih dan untuk pasien yang memiliki risiko bedah yang buruk).
b. Reseksi bedah: reseksi prostat transuretra (transurethral resection of
the prostate, TURP; standar terapi bedah); insisi prostat transuretra
(transurethral incision of the prostate, TUIP); elektrovaporisasi
transuretra; terapi laser; dan prostatektomi terbuka.
(Brunner & Suddarth, 2013)

Anda mungkin juga menyukai