Anda di halaman 1dari 28

FRANCIS FUKUYAMA

The End of History and The Last Man


Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal
Penyaji :
HENDRA PRIJATNA

I. Pendahuluan

Melalui bukunya, “The End of History and The Last Man”, Fukuyama
(1999) hendak mengatakan bahwa paska perang dingin, tidak akan ada lagi
pertarungan antar ideologi besar, karena sejarah telah berakhir dengan
kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal. Meskipun menyadari evolusi
sejarah, Fukuyama beranggapan bahwa demokrasi liberal merupakan titik akhir
dari evolusi ideologis umat manusia sekaligus bentuk final pemerintahan manusia.
Runtuhnya Soviet dan ambruknya tembok Berlin menjadi pertanda kalahnya
sosialisme, dan sebagai gantinya adalah perayaan dan kemenangan kapitalisme
tanpa ada kompetitornya.

Tulisan berikut hendak menjelaskan alur logika Fukuyama determinisme


historis Fukuyama yang meyakini apa yang ia sebut dengan sejarah direksional,
keterarahan sejarah pada tujuan akhir tertentu. Inilah yang kemudian
mengantarkan Fukuyama pada kesimpulan akhir sejarah.

Dari pandangan Fukuyama yang demikian, muncul pertanyaan baru;


bagaimana berakhirnya sejarah dengan ekesistensi negara-bangsa? dan bagaimana
pula posisi negara-bangsa dalam menghadapi persaingan idiologis di antara
bangsa-bangsa di dunia dan diikuti pula dengan pengaruh globalisasi modernitas
saat ini? Dan Untuk menjawab sejumlah pertanyaan di atas, maka kita perlu
mengkaji tesis yang diajukan Fukuyama dalam bukunya “The End of History and
The Last Man”.

II. Pemikiran Fukuyama

1. Pesimisme dan Reaksinya

1
Fukuyama mengawali penjabaran panjangnya mengenai tesis akhir sejarah
ini dengan kegelisahan dan pesimisme yang terjadi di kalangan masyarakat dunia
mengenai kepastian tesisnya tentang kemajuan sejarah yang berujung pada
kejayaan demokrasi liberal. Pesimisme ini terjadi karena dua faktor yang saling
berkaitan: krisis politik pada abad ke-20 dan krisis intelektual dari rasionalisme
Barat.

Krisis politik yang terjadi akibat dua perang dunia itu telah menelan
korban puluhan juta orang dan memaksa ratusan juta lainnya hidup di bawah
bentuk-bentuk perbudakan baru yang lebih brutal. Pada saat yang sama,
demokrasi liberal dibiarkan tanpa sumberdaya intelektual yang sejatinya
digunakan sebagai alat untuk mempertahankan dirinya [h. 32]. Padahal, pada abad
sebelumnya, abad ke-19, mayoritas Negara Eropa berpikir bahwa kemajuan yang
dimaksud adalah kemajuan menuju demokrasi (liberal) [h. 26]. Tapi tidak
kenyataannya pada abad ke-20. Pada abad itu, beragam peristiwa traumatik akibat
tragedi dua perang dunia menjadi krisis kepercayaan bagi mayoritas orang Eropa
saat itu. Pada abad ini, demokrasi (liberal) telah ditantang oleh dua kompetitornya,
fasisme dan komunisme, yang mengusulkan visi yang sangat berbeda mengenai
masyakarat yang baik.

Pada abad ini, bayangan manis tentang demokrasi itu sirna. Pesimisme
akibat faktor di atas itu akhirnya memicu keyakinan baru di kalangan masyarakat
dunia akan hadirnya alternatif baru, yaitu alternatif komunis-totalitarian sebagai
ganti dari demokrasi liberal (h. 27). Namun sayangnya, lagi-lagi alternatif ini
tidak melahirkan apa yang diimpikan, alih-alih melahirkan krisis baru.

Di satu sisi, pemerintahan otoritarian sayap kanan di Eropa Selatan satu-


persatu runtuh menjadi bukti rapuhnya legitimasi ideologi yang dianutnya.
Jatuhnya serangkaian pemerintahan otoritarian sayap Kanan di Eropa Selatan
inilah yang oleh Fukuyama dianggap sebagai krisis otoritarianisme (h. 35).

Krisis itulah yang mendesakkan serangkaian upaya transisi menuju


demokrasi di berbagai belahan dunia. Negara-negara di Eropa Selatan, misalnya,
terjadi proses transisi menuju demokrasi dan berhasil cukup stabil. Begitu juga di

2
Amerika Latin pada tahun 1980-an. Di Peru misalnya berhasil melakukan
restorasi pemerintahan yang terpilih secara demokratis setelah 12 tahun di bawah
cengkraman kekuasaan militer. Di Argentina, perang Falkland/Malvinas pada
tahun 1982 memuluskan runtuhnya junta militer dengan terbentuknya
pemerintahan Alfosin yang terpilih secara demokratis. Proses transisi di Argentina
ini pun diikuti beberapa negara lain di Amerika Latin semisal Uruguai pada tahun
1983 dan Brazil pada tahun 1984 yang berhasil meruntuhkan rezim militer. Begitu
juga rezim Stroessner di Paraguai dan Pinochet di Chile pun memberi jalan bagi
pemerintahan yang terpilih secara popular dan demokratis (h. 36)

Fenomena serupa juga terjadi di wilayah Asia Timur. Pada tahun 1986,
pemerintahan diktator Marcos berhasil digulingkan di Filipina dan digantikan oleh
Corazon Aquino; Jenderal Chun, pada tahun berikutnya, menyerahkan jabatan di
Korea Selatan dan memberikan peluang bagi terpilihnya Roh Tae Woo. Dan
banyak kasus lagi yang menjadi fenomena runtuhnya negara-negara kuat di
berbagai belahan dunia akibat krisis otoritarianisme. Dan sebagai gantinya adalah
apa yang disebut pemerintahan demokratis.

Di pihak yang lain, totalitarianisme yang berkembang paska PD II di


Soviet dengan komunismenya dan Jerman dengan Nazinya pun tidak kuasa
bertahan. Tantangan-tangan eksternal dan kerapuhan internal menjadi faktor
pemicunya. Seiring dengan berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya tembok
Berlin, pertarungan ideologi besar tidak lagi terjadi. Adalah Soviet (Komunis)
yang menjadi kompetitor Amerika (Kapitalis) telah ambruk. Ini terjadi karena
krisis legitimasi totalitarianisme sebagai sebuah sistem secara keseluruhan. (h.
57). Tidak saja karena faktor ekonomi, tetapi lebih dari itu adalah faktor supervisi
pikiran. Inilah fenomena yang menonjol dalam paham totalitarianisme.

Oleh karena itu, baik komunisme kiri maupun otoritarianisme kanan sama-
sama gagal mempertahankan ideologinya. Kelemahan Negara-negara otoritarian
kanan terletak pada kegagalan mereka untuk mengontrol masyarakat sipil.
Sementara totalitarianisme kiri menghindari persoalan tersebut dengan

3
mensubordinasikan seluruh elemen masyarakat sipil di bawah control mereka,
termasuk apakah para wartawan Negara itu boleh berpikir (h. 70).

Karena kelemahan-kelemahan ‘negara kuat’ (kominisme kiri dan


otoritarianisme kanan) itulah, maka banyak negara-negara yang menerapkan
sistem itu mulai membuka jalan untuk demokrasi. Ini secara politis. Selain itu,
sebagai respons ketidakpuasan pada sistem itu, Negara-negara tersebut mulai
melakukan revolusi di bidang ekonomi. Ini misalnya terlihat dari perkembangan
ekonomi yang fenomenal di Asia Timur sejak PD II. Kisah sukses ini tidak saja
terjadi pada Negara-negara modern awal semisal Jepang, tetapi juga semua
Negara Asia yang bersedia mengadopsi prinsi-prinsip pasar dan mereka
sepenuhnya mengintegrasikan dengan sistem ekonomi global-kapitalis (h. 71-72).
Sejak itu, slogan privatisasi dan perdagangan bebas menggantikan slogan
nasionalisasi dan substitusi impor (h. 73). Di sinilah tampak bahwa krisis yang
terjadi pada otoritarianisme dan sosialisme hanya menyisakan satu pesaing
tangguhnya, yaitu demokrasi liberal.

Liberalisme dan demokrasi sebenarnya merupakan konsep-konsep yang


berbeda meskipun antara keduanya ada keterkaitan yang erat. Liberalisme politik
secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu aturan hukum yang mengakui
hak-hak tertentu individu atau kebebasan dari kontrol pemerintah.Sedangkan
demokrasi, sebagai mana dalam definisi Lord Bryce menyebutkan setidaknya tiga
elemen mendasar dalam demokrasi, yaitu: hak-hak sipil hak-hak beragam, dan
hak-hak politik (h. 74). Dengan demikian, untuk menilai Negara manakah yang
layak disebut demokratis, yaitu ketika Negara memberikan kepada rakyatnya hak
untuk memilih pemerintah sendiri melalui pemelihan secara periodic, bebas, dan
rahasia, menggunakan system multi partai, atas dasar hak pilih orang dewasa yang
sederajat (h. 74).

Dalam manifestasi ekonominya, liberalisme adalah pengakuan terhadap


hak-hak untuk melakukan aktivitas ekonomi bebas dan pertukaran ekonomi
berdasarkan kepemilikan pribadi dan pasar. Singkatnya adalah ekonomi pasar

4
bebas, sebagai istilah lain dari kapitalisme yang belakangan istilah ini
dikonotasikan secara pejorative (h. 75)

Meskipun keduanya (demokrasi dan liberalisme) terkait erat, namun


mungkin saja sebuah Negara itu menjadi liberal tanpa secara parikular menjadi
demokratis. Dalam konteks ini, Inggris pada abad ke-18 dapat dijadikan contoh.Di
Inggris saat itu, hak-hak warga Negara, termasuk hak suara sepenuhnya dilindungi
untuk kepentingan sempit para elit. Begitu pula sebaliknya, mungkin saja Negara
menjadi demokratis tanpa harus menjadi liberal. Negara Republik Islam Iran dapat
dikategorikan dalam jenis ini. Republik Islam Iran ini benar-benar telah
menyelenggarakan pemilihan-pemilihan regular yang benar-benar fair dan
membentuk Negara yang demokratis. Namun Negara ini jauh dari kesan liberal
karena di sana tidak ada jaminan terhadap kebebasan berbicara, pertemuan,
apalagi kebebasan beragama (h. 75).

Adalah Islam, sebagaimana liberalisme dan komunisme, yang juga


memiliki ideologi yang sistematik dan koheren. Dan di sebagian besar dunia
Islam, Islam benar-benar telah berhasil mengalahkan demokrasi liberal dan
memposisikan dirinya sebagai ancaman terhadap prakti-praktik liberal bahkan di
Negara di mana Islam tidak memiliki kekuasaan politik secara langsung. Paska
berakhirnya perang dingin, Islam tampil sebagai tantangan terhadap Barat, sebuah
tesis yang kemudian dikukuhkan oleh Huntington dalam clash of civilization-nya
(h. 77). Meskipun demikian, dunia Islam akan tampak lebih mudah diserang ide-
ide liberal dalam jangka panjang ketimbang sebaliknya. Karena tampaknya ide-
ide liberal lebih memikat para pengikut Islam sepanjang satu setengah abad yang
lalu. Sebagai reaksinya adalah lahirnya apa yang kemudian disebut
fundamentalisme (h. 78).

Dari pengalaman rezim-rezim pemerintahan dalam perjalanan sejarah


manusia, dari pemerintahan monarki dan aristokrasi, teokrasi religius, hingga
pemerintahan diktator fasis dan komunis abad ini, tampaknya demokrasi liberal
merupakan satu-satunya rezim pemerintahan yang paling bertahan hingga akhir
abad ke-20 (h. 77). Kenyataan inilah yang mengukuhkan tesis Fukuyama

5
mengenai apa yang ia sebut sebagai ‘akhir sejarah’. Dan sejarah dalam
perjalanannya benar-benar tunggal, tanpa kompetitor dengan kemenangan
demokrasi liberal. Keyakinan inilah yang mengantarkan Fukuyama untuk
mengurai apa yang ia sebut sebagai sejarah universal.

2. Kemungkinan Sejarah Universal

Fukuyama mendasarkan uraiannya kepada Immanuel Kant (di samping


pada tokoh ilmu alam semisal Galilio dan Bacon), yang mengatakan bahwa
sejarah akan sampai pada titik akhir. Titik akhir itu adalah realisasi kebebasan
manusia (h. 99). Postulat ini juga ditegaskan Hegel yang mengatakan adanya titik
akhir sejarah yang dituju, yaitu perkembangan kesadaran kemerdekaan. Bagi
Hegel, wujud kebebasan manusia adalah Negara konstitusional modern yang
disebut demokrasi liberal. Dan sejarah universal manusia adalah memuka
perkembangan menuju rasionalitas yang penuh, dan untuk kesadaran diri terhadap
rasionalitas yang mengeksposisikan diri dalam pemerintahan yang rasional (h.
102).

Hegel menampik bahwa sejarah bergerak tanpa batas, melainkan selalu


akan menuju pada suatu akhir, yaitu suatu prestasi masyarakat yang bebas di
dalam dunia yang nyata (h. 106). Adalah Karl Marx yang juga mengapresiasi
model historisisme Hegel, dan dia bersepakat dengan teori dialektika Hegel
mengenai kontradiksi-kontradiksi internal sistem politik yang kemudian
dimenangkan oleh sistem yang lebih tinggi, yang dalam hal ini adalah demokrasi
liberal. Marx percaya bahwa negara liberal telah berhasil memutuskan suatu
kontradiksi yang fundamental yang merupakan konflik kelas, yaitu perjuagan
kelas borjuis dan proletar. Namun bagi Marx, negara liberal itu tidak
merepresentasikan universalisasi kebebasan, tetapi hanya kemenangan kebebasan
suatu kelas tertentu, yaitu borjuis.

Sebaliknya, kalangan Marxis berkeyakinan bahwa akhir sejarah akan


datang hanya dengan kemenangan kelas universal yang benar, yaitu kaum proletar
(h. 108). Berbeda dengan Marx, Lenin berpendapat bahwa kontradiksi final yang
akan menjatuhkan kapitalisme bukanlah perjuangan kelas dalam Negara yang

6
berkembang, tetapi antara utara yang berkembang dan proletariat global di
Negara-negara terbelakang (h. 151). Di sini tampak bahwa Marx hendak
membalik historisme Hegel, dari kemenangan borjuis menjadi kemenangan
proletar. Sayangnya, kritik kalangan Marxis tidak lagi bergema saat ini, karena
impian itu tidak pernah terbukti (h. 108). Karl Marx adalah salah satu penafsir
Hegel yang tampaknya gagal membuktikan tafsirannya.
Selain itu, ada penafsir Hegel yang lain, yang tampaknya diikuti oleh Fukuyama.
Ia adalah Alexander Kojeve, seorang filsuf Prancis-Rusia. Kalau Marx adalah
penafsir Hegel pada abad ke-19, Kojeve adalah penafsir Hegel abad ke-20. Bagi
Kojeve, prinsip-prinsip persamaan dan kebebasa yang muncul dari Revolusi
Perancis terwujud dalam apa yang ia sebut sebagai Negara yang universal dan
homogen yang merepresentasikan melebihi titik akhir dari evolusi ekologi
manusia yang tidak mungkin untuk berkembang lebih lanjut (h. 109). Ini artinya
bahwa komunis tidak menghadapi kembali suatu tingkat yang lebih tinggi dari
demokrasi liberal. Akhirnya Kojeve percaya bahwa akhir sejarah tidak hanya
dalam arti akhir dari konflik-konflik dan perjuangan politik yang luas, tetapi juga
akhir filsafat. Dan komunitas Eropa merupakan suatu perwujudan institusi yang
tepat untuk akhir sejarah (h. 110).

Fukuyama juga menjelaskan mengapa sistem dunia kapitalis tidak begitu


tumbuh di Amerika Latin (tidak seperti Asia) dan sejumlah dunia ketiga lainnya.
Setidaknya ada dua alasan, pertama, alasan kultural bahwa kebiasan-kebiasaan,
adat istiadat, agama-agama dan struktur masyarakat di wilayah seperti Amerika
Latin sedikit banyak berperan dalam menghambat pencapaian tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang berbeda dengan budaya yang dihadapi
oleh masyarakat Asia dan Eropa. Kedua, kapitalisme tidak pernah dilakukan
secara serius. Ini terlihat bahwa kebanyakan ekonomi-ekonomi kapitalis di
Amerika Latin dilumpuhkan oleh tradisi-tradisi merkantilis mereka dan seluruh
sektor negara yang bersifat all pervasive ditegakkkan atas dalih keadilan ekonomi
(h. 156)

7
Secara umum, kemajuan industrial berbanding lurus dengan tingkat
keberhasilan demokrasi. Setidaknya ada tiga alasan untuk menjelaskan hal ini.
Pertama, argument fungsional. Ini artinya fungsi industrialiasi hanya untuk
mempengaruhi demokrasi yang mampu menengahi jaringan yang kompleks dari
konflik kepentingan yang diciptakan oleh ekonomi modern. Kedua, pengaruh
perkembangan ekonomi yang harus dilakukan untuk menghasilkan demokrasi
untuk tujuan para diktator. Rezim diktator ini mungkin saja akan memerintah
secara efektif di awal-awal pemerintahannya, namun begitu pendiri rezim ini tiada
maka tidak ada jaminan bagi penggantinya untuk mencapai kekuasaan sepertin
pendahalunya. Ketiga, keberhasilan industrialisasi akan melahirkan kelas
menengah yang kuat. Kelas menengah ini muncul akibat pendidikan yang
universal (h. 167-171). Faktor pendidikan inilah yang jika tidak disebut sebagai
prakondisi demokrasi, setidaknya ia menjadi nilai plus yang bernilai tinggi dari
yang diinginkan untuk menuju demokrasi. Karena sangat sulit membayangkan
kerja demokrasi dalam lingkungan masyarakat yang buta huruf (h. 179).

3. Akhir Sejarah

Sebagaimana dikatakan Hegel dan Kojeve, bahwa akhir sejarah terjadi jika
telah tidak ada kontradiksi-kontradiksi. Jika pernyataan ini benar maka kita harus
mengatakan bahwa sejarah akan berlanjut (h. 442). Mungkin saja ini selaras
dengan teori dialektika Hegel yang bermula dari kontradiksi tesis dan antitesis dan
berakhir dengan sintesis. Dan begitu sintesis dihasilkan (atau dalam bahasa
Kojeve, tidak ada ‘kontradiksi-kontradiksi’) maka ia akan menjadi tesis baru.
Demikian seterusnya.

Klaim akhir sejarah Kojeve ini didasarkan pada pandangannya bahwa


hasrat untuk diakui adalah kerinduan manusia yang paling fundamental.
Perjuangan untuk pengakuan ini mengarahkan sejarah dari pertempuran berdarah
pertama, dan sejarah telah berakhir karena kondisi universal dan homogen telah
membentuk pengakuan resiprokal yang sepenuhnya memuaskan kerinduan ini.
Atas dasar ini, apakah demokrasi liberal telah benar-benar memenuhi hasrat untuk
diakui?

8
Kojeve akhirnya percaya bahwa sejarah sendiri pada akhirnya akan
membenarkan rasionalitasnya sendiri, yaitu gerbong-gerbong yang cukup akan
menuju kota sehingga orang-orang rasional yang melihat situasi itu terpaksa
menyetujui bahwa hanya ada sebuah perjalanan dan sebuah penentuan takdir.
Takdir itu mungkin saja bernama demokrasi liberal, dan inilah yang dibayangkan
Fukuyama sebagai akhir sejarah.

III. Komentar dan Kritik


1. Menanggapi berakhirnya sejarah
Pandangan Fukuyama tentang berakhirnya sejarah diinspirasi oleh filsafat
sejarah Hegel. Fukuyama menginterpretasikan perkembangan masyarakat dunia
dalam kurun waktu sekarang. Zaman kita, itu adalah suatu proses globalisasi yang
didorang oleh dua faktor yang sesungguhnya bertentangan. Faktor pertama
bersifat material dalam bentuk perkembangan ekonomi yang pada gilirannya
didorong oleh ilmu pengetahuan alam, dan kedua bersifat spiritual yang dalam
falsafah Plato dinamakan “thymos”, yaitu keinginan untuk diakui, dihargai,
persamaan hak.Tujuan sejarah, atau akhir sejarah, adalah masyarakat kapitalis
dengan sistem politik demokrasi liberal.

Menurut Karl Marx (Fukuyama, 1999) tentang akhir sejarah adalah arah
perkembangan sejarah mempunyai tujuan tertentu yang ditetapkan oleh jalinan
kekuatan-kekuatan materiil, dan akan berkahir pada tercapainya utopia komunis
yang akhirnya akan menyelesaikan semua kontradiksi yang ada sebelumnya.

Kemudian, Kojeve (Robert D.Kaplan el, 2005) membangkitkan pemikiran


Hegel dalam Phenomenology of Mind, di mana Hegel menyatakan bahwa sejarah
akan berkahir pada 1806. Karena pada saat itu Hegel melihat dalam kekalahan
Napoleon dari kerjaaan Prussia pada Pertempuran Jena kemenangan cita-cita
Revolusi Prancis, dan makin universalnya negara-negara yang mengakui prinsip-
prinsip kebebasan dan kesetaraan. Pertempuran Jena menandai akhir sejarah
karena pada titik itulah garda depan kemanusiaan mengaktualisasikan prinsip-
prinsip Revolusi Prancis. Sementara ada banyak persoalan yang mesti
diselesaikan setelah 1806, yaitu menghapus perbudakan dan perdagangan budak,

9
meluaskan hak suara kepada pekerja, wanita, kulit hitam, dan ras-ras minoritas
lainnya, dan sebagainya. Prinsip-prinsip dasar dari negara demokratis liberal
sudah tak bisa lebih sempurna lagi. Dalam hal ini pendapat Kojeve sangat kontras
dengan penafsir Hegel dari Jerman seperti Herbert Marcuce, yang karena lebih
bersimpati kepada Marx, menganggap Hegel terbatas secara sejarah.

Negara yang muncul pada akhir sejarah adalah liberal, sejauh ia mengakui
dan melindungi hak universal manusia akan kemerdekaan melalui sistem hukum,
dan demokratis sejauh ia hadir hanya dengan persetujuan mereka yang diperintah.
Bagi Kojeve, apa yang disebut “negara homogen universal” ini menemukan
pengejawatahannya yang nyata di negara-negara Eropa Barat pascaperang
menciptakan negara-negara damai, makmur, berpuas diri, berorientasi ke dalam,
dan berkehendak kuat. Sebagai kemungkinan lain, Kojeve mengindetifikasi akhir
sejarah dengan “gaya hidup Amerika” pascaperang yang menurutnya juga hal ini
ditiru oleh Uni Soviet.

Pemikiran Fukuyama dalam menguraikan konsep sejarah bersifat


deterministik karena menempatkan nasib manusia dalam suatu kerangka umum
yang telah ditentukan sebelumnya dan tidak dapat ditiadakan harus berkembang
menuju satu titik akhir yang juga telah dipatok sebelum. Akan tetapi R.Z. Leirissa
(2005:xii) menyatakan bahwa interpretasi Fukuyama tentang sejarah
sesungguhnya sudah banyak ditinggalkan oleh para ahli sejarah profesional.
Pemikiran Fukuyama lebih didasarkan atas falsafah sejarah Hegel yang muncul
sejak abad ke-18 dan 19 yang disesuaikan dengan kondisi Jerman pad saat itu.
Dari sinilah Fukuyama mengajukan tesis berakhirnya sejarah yang ditandai
dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal.

Pandangan Fukuyama ini bertentangan dengan ilmu sejarah di masa kini.


Di mana ilmu sejarah justuru mengambil titik-tolak yang lain, bahkan bertolak
belakang. R.Z.Leirissa (2005:xiii) menyatakan bahwa dalam pengertian ilmu
sejarah, proses bukanlah “objektivitas yang utuh” dengan teologi yang sudah pasti
dan telah ditentukan sebelumnya seperti dikemukakan Hegel. Tetapi sejarah
adalah suatu proses terbuka dengan berbagai kemungkinan di masa yang akan

10
datang. Selain itu, dalam ilmu sejarah manusia bukan sekedar alat bagi
perwujudan suatu gagasan, tetapi sejarah justuru berawal dan berakhir pada
manusia yang memiliki kebebasan dan kemampuan untuk mengatur massa
depannya. Sejarah diartikan sebagai perjuangan yang terus-menerus untuk
mewujudkan kebebasan.

Kemudian Christopher Lloyd yang diilhami oleh Anthony Goddens,


Sejarah adalah hasil interaksi antara individu atau kelompok sosial dengan
struktur sosial. Perkebangan sejarah tidak ditentukan struktur sosial. Perubahan
sosial, atau sejarah, adalah upaya manusia ataupun suatu kelompok sosial
(peristiwa) yang berhasil mengubah struktur sosialnya.

Dari uraian di atas dapat disimak maknanya bahwa kemenangan


kapitalisme dan demokrasi liberal sebagaimana disampaikan oleh Fukuyama
dengan tesisnya berkhirnya sejarah tidak terbukti. Pemikiran Fukuyama ini
diinspirasi oleh konsep filsafat Hegel dengan titik tolak atau tesis dari pemikiran
dialektika “idée an sich, kesatuan antara Ada dan pemikiran yang belum
dibedakan (Bambang Q.Anees, 2005:378-379). Dengan demikian pemikiran
Fukuyama ini baru pada tataran ide belum pada tataran praktis. Pandangan ini
juga dapat dilihat dari pernyataan Hegel,“sejarah dunia tidak lain adalah
perkembangan ide kebebasan”, yang hal itu dicapai melalui serangkaian
perjuangan dialektika menuju realisasi diri (S.Avenry,1968:162).

Teori Marx ide perkebangan speritualitas absolut Hegel diterjemahkan


menjadi sejarah perkembangan produksi material di mana di bawah
perkembangan kapitalisme karakter progresif sejarah perkembangan masyarakat
bergulir. Bagi Marx perkembangan kapitalisme dan perjuangan kelas pekerja
adalah merupakan dua kekuatan yang mendorong sejarah yang tidak bisa
dielakkan dalam perkembangan masyarakat manusia (Ibid).

Dari paparan di atas, bahwa berakhirnya sejarah sebagaimana digagas


Fukuyama menunjukkan adanya korelasi antara gagasan atau ide Hegel dengan
tesis Fukuyama tentang berakhirnya sejarah tsersebut. Memang demikian, karena
Fukuyama memberikan prediksi-predikasi sesuai perkembangan masyarakat

11
Eropa pasca Perang Dingin. Apa yang dilontarkan Fukuyama tentang kemenangan
kapitalisme dan demokrasi liberal ini hanya sebuah pesimisme terhadap
perkembangan masyarakat dunia, agar negara di dunia mau tidak mau akan
mengikuti sistem politik tersebut.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pandangan Fukuyama tidak


semestinya harus diterima secara totalitas tetapi perlu adanya selektif dalam
memahami substansi pemikirannya. Pemikiran Fukuyama perlu dikaji dari sisi
konteks, bagaimana setuasi dan kondisi politik dan perkembangan masyarakat
saat itu, latar belakang kehidupan, sikap dan komitmennya dalam memperjuangan
hak-hak sipil di berbagai negara di dunia.

2. Globalisasi budaya modernitas

Dalam konteks global saat ini, tampaknya persoalan globalisasi


modernitas lebih penting daripada globalisasi ekonomi dan politik. Leslei Skalair
(1991:51) menyatakan globalisasi ekonomi dan politik adalah phenomena yang
ditunjukkan oleh semakin meluasnya cakupan pengaruh penetrasi sistem
organisasi korporasi ekonomi dan politik modern seperti terdapat dalam
perusahaan multinasional dan transnasional dan pengaruh kelas kapitalis
transnasional terhadap sistem ekonomi negara-negara sedang berkembang.
Sementara globaliasi budaya modernitas merupakan globalisasi dalam level
budaya yang mengacu pada prinsip hidup modern sebagaimana tercermin dalam
idiologi kultural konsumerisme.

Dalam banyak pembahasan tentang pengaruh globalisasi terhadap


perubahan-perubahan budaya lokal si negara sedang berkembang dikemukakan
bahwa globalisasi ekonomi dan politik ternyata diakui memiliki kekuatan terbatas
dalam mengubah masyarakat lokal disbanding globalisasi budaya modernitas.
Scott Lash & John Urry (1994: 160-167) menyatakan globalisasi ekonomi dan
politik tidak dapat secara bebas menembus masyarakat lokal karena dibatasi oleh
lingkup negara bangsa. salah unsure penting dari pengaruh globalisasi ekonomi
dan politik yaitu sistem kapitalisme, misalnya, ternyata tidak begitu saja mudah
berkembang dan diterima begitu saja kapitalisme sebagaimana yang berkembang

12
di negara industri maju, tetapi diterima secara berbeda sesuai dengan kepentingan
kekuasaan yang ada. Karena misalnya muncul banyak phenomena kapitalimse ala
Jepang, kapitalisme ala Asia Tenggara, yang berbeda dengan kapitalisme Jerman
atau Amerika Serikat.

Menanggapi apa yang dikemukakan Fukuyama tentang globalisasi


modernitas ini ia berusaha untuk memberikan keyakinan terhadap masyarakat
dunia bahwa kapitalisme merupakan sebuah idiologi terkuat di dunia, melalui
penyeragaman idiologi dan tidak mengakui idiologi lainnya. Penulis menanggapi
bahwa apa yang diungkapkan Fukuyama terlalu tergesa-gesa, jika dilihat dari
konteks glabalisasi maka alur logika fukuyama sangat keliru dalam memahami
keragaman idiologi. Dalam konteks posmodernisme seyogianya kita harus
mengakui keragaman yang integrated pluralisme bukan penyeragaman. Hal ini
dapat diperkuat dengan pendapat Pauline Marle (1992: 8) menyatakan bahwa teori
postmodern pada gilirannya menolak adanya proyek global “ perbedaan”,
“keunikan dari bagian-bagian”, daripada kesatuan teori sosial secara keseluruhan.

Kenyataan menunjukkan pada kita bahwa pengaruh globalisasi modernitas


telah mengaburkan batas-batas negara-bangsa. Dalam lingkungan budaya dewasa
ini kita telah memasuki suatu situasi di mana batas-batas negara-bangsa menjadi
semakin sulit dikenali. Hal itu disebabkan karena pengaruh globalisasi budaya
sulit dikontrol oleh suatu sistem politik negara-bangsa.

Mengkaji apa yang disampaikan oleh Fukuyama tentang kemenangan


kapitalisme dan demikrasi liberal. Dalam hubungan ini Anthony Giddens (1981)
dalam pemikirannya tentang nation-state ia memberikan satu kerangka pikir yang
mengkaitkan negara dan masyarakat dalam satu kesatuan yang mengandaikan.
Pemikirannya tentang nation-state sendiri menempatkan modernitas sebagai titik
tolak pemahaman. Bagi Giddens modernitas ditopang oleh empat dimensi yang
sifatnya institusional yaitu monopoli sarana-sarana kekerasan, kapitalisme,
industrialisme Surveillance atau pengawasan.

Modernitas merupakan satu fenomena yang sangat khas Eropa. Secara


umum istilah modernitas merujuk pada bentuk masyarakat yang mulai muncul di

13
Eropa Barat dalam abad ke tujuh belas dan delapan belas yang tercermin di
Amerika Utara dan sejak itu telah menyebar atau mengenai bagian-bagian dunia
lainnya. Reindhard Bendix, misalnya menyatakan bahwa semua konsepsi
mengenai proses modernisasi harus dimulai dari pengalaman Eropa Barat karena
dari sanalah asal mula berkembangnya komersialisasi industri dan revolusi.

Proses pergulatan ideologi telah mencapai kepada kemenangan


kapitalisme dan demokrasi liberal, mengalahkan ideologi sosialisme dan fasisme.
Semua negara akan berjalan dengan tuntutan kapitalisme dan demokrasi liberal,
sehingga pada akhirnya tercipta sebuah pemerintahan tunggal dunia yang menyatu
di bawah pimpinan AS sebagai aktor utama dunia. Anthony Gidden (1990)
menyatakan bahwa kapitalisme global telah merombak tatanan kehidupan
masyarakat.

Melihat fenomena-fenomena yang tragis tersebut, maka tidak


mengherankan apabila sejumlah pakar politik dan ekonomi terkemuka, mengkritik
dan mencemaskan kekuatan idiologis kapitalisme dalam mewujudkan
kemakmuran masyarakat dunia di muka bumi ini. Bahkan cukup banyak klaim
yang menyebutkan bahwa kapitalisme telah gagal sebagai sistem sosial dan
model idiologi ekonomi dunia.

Namun demikian, berakhirnya ketegangan idiologis tersebut ternyata tidak


lantas menjadikan dunia lebih aman karena hal tersebut hanya mengurangi
ketegangan di tingkat global, tidak menyelesaikan konflik-konflik di kawasan
yang telah memiliki bibit konflik secara tradisonal. Hal ini terbukti ketika dunia
memasuki dekade 1990-an muncul berbagai konflik bersenjata di dunia. Mulai
dari konflik tradisional yang kembali muncul ke permukaan-Burundi, Rwanda-
sampai dengan konflik baru, seperti konflik bersenjata antar-etnis dibekas negara
Yugoslavia. Ternyata, perubahan yang lebih cepat telah menciptakan social-
political shock, sehingga hal ini membenarkan tesis yang dikemukakan oleh
Rosenau bahwa” semakin cepat tingkat perubahan sosial terjadi, semakin
memungkinkan terjadinya bentuk-bentuk kekerasan intra-sosietal.

14
Atas dasar ini, maka dapat dikatakan bahwa Fukuyama telah memberikan
kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa, bila kita mencermati kondisi masyarakat
masa kini, kapitalisme telah tervindikasi, karena krisis ekonomi masa kini masih
tetap terasa mendalam dan mengkhawatirkan serta telah menimbulkan
penderitaan-penderitaan yang memilukan bagi umat manusia. Dengan demikian
sangat keliru apa yang dilakukan Fukuyama yang mendeklarasikan kemenangan
kapitalisme liberal sebagai representasi akhir zaman “ The end of history”.
Bertolak sejumlah tanggapan atas tesis Fukuyama tentang kemenangan
kapitalisme dan demokrasi liberal dengan logika Fukuyama tentang akhir sejarah.
Bagi Fukuyama ini semua sebagai dampak daripada perkembangan dan kemajuan
industri di satu pihak dan sistem politik dipihak lain yang dikembangkan oleh
negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Dari pararan di atas, penulis menyatakan bahwa perkembangan kehidupan


manusia, baik di negara-negara Eropa, Amerika Seikat maupun di negara-negara
Asia belakangan ini telah beranjak ke erah globalisasi. Apa yang sebenarnya
terjadi adalah faktor-faktor kemajuan teknologi komunikasi dan infofrmasi yang
hebat maka sekarang batas-batas nasional dari lingkungan kehidupan manusia
makin mengabur. Bahkan seperti diargumentasikan oleh Kenichi Ohmae (I. Gde
Widja, 2002:18) batas-batas negara-bangsa telah berakhir (Berakhirnya Negara
Bangsa, lihat lebih lanjut pada Analisis CSIS, 1996). Sebagai gantinya mulai
lebih menonjol munculnya “negara-negara wilayah” yang arahnya sudah jelas
menuju ke lingkungan yang makin menglobal dan dunia seperti tampa batas lagi
(borderless word). Memang yang dimaksud Ohmae lebih terkait dengan aspek
kehidupan ekonomi, namun dalam kenyataannya ternyata berdampak pada hampir
keseluruhan dimensi kehidupan manusia.

Hal ini bisa dikaitkan dengan kenyataan bahwa dalam kecenderungan


mengglobal ini memang batas-batas kesadaran nasional seperti di Indonesia saat
ini melemah, tetapi di lain pihak kita saksikan pula kenyataan bahwa justuru
kesadaran subnasional (kesadaran daerah dan keadaran etnisitas) makin menguat.
Keadaan ini bisa terjadi karena melalui perkembangan teknologi

15
komunikasi/informasi maka basis-basis sasaran pengaruh global tidak lagi hanya
setingkat batas/satuan nasional, tetapi sudah menerobos sampai ke tingkat lokal.

Setuasi seperti ini digambarkan kemudian sebagai fenomena “globalisasi”,


khususnya dalam bidang sosial budaya, dimana unsure-unsur budaya global dan
lokal saling bertukar dan berbaur menjadi satu. Hal ini sejalan pula dengan istilah-
istilah seperti “global village” yang merefleksikan suasana “time space
compression” (perapatan batas-batas waktu dan ruang).

Keadaan ini semua mendorong munculnya fenomena baru, yaitu di satu


pihak meningkatkan kesadaran global (menembus kesadaran nasional) pada
masyarakat-masyarakat lokal, tetapi di lain pihak sekaligus pula meningkatkan
kesadaran lokal, dalam arti meningkatnya kesadaran untuk lebih berorientasi dan
memperhatikan kepentingan-kepentingan lokal, baik dalam satuan wilayah
kelompok etnisnya. Menurut pendapat penulis bahwa dalam setuasi begini
kelompok-kelompok masyarakat lokal sekarang menjadi makin sadar akan jati
dirinya serta haknya, dan selanjutnya makin merasakan ketidak adilan yang
kemudian bermuara pada timbulnya pergolakan-pergolakan di berbagai daerah
baik yang berdimensi sosio-kultural maupun politik dalam berbagai tingkat
kegewatannya.

Dari perspektif sejarah, ini tidak lain berarti makin derasnya dinamika
sejarah di daerah-daerah. Sebagai konsekuensinya kita dituntut un tuk lebih
mencurahkan perhatian yang lebih besar pada studi sejarah yang berdimensi
mikro, baik untuk lebih memahami akar-akar dinamika tersebut, maupun
selanjutnya untuk bisa menyumbangkan pemikiran bagi jalan keluar penyelesaian
pergolakan-pergolakan di berbagai wliayah Indonesia.

Apa yang dikemukakan di atas, jelas bagi kita karena ketika terjadi
perubahan paradigma pembangunan dari sistem desentralisasi ke sistem
dersentralisasi ini membawa pengaruh terhadap segemen kehidupan pengelolaan
negara. Di mana di setiap daerah bisa melakukan kerjasama antar negara tanpa
harus mendapat legitimasi dari pemerintah pusat. Dari kecendurungan seperti ini
bisa membawa konsekuensi terhadap terjadinya keretakan integrasi bangsa. Oleh

16
karena itu upaya yang dilakukan adalah harus adanya peningkatan kesadaran
nasionalisme warga negara melalui pendidikan berbasis idiologi yang
integralistik. Dan untuk menyembut perkembangan Indonesia di masa depan
hendaknya dicanangkan penyedaran nasionalisme bangsa yang berbasis subsektor
perkenomian seperti pertanian dan lain-lain.

17
DAFTAR PUSTAKA

Bambang Q. Anees, 2003. Filsafat untuk Umum. Jakarta: Kencana.

Bendict Anderson, 2002. Image Communities (terjemahan, 2002). Omi Intan.


Yogyakarta: Pustaka Fajar.
Francis Fukuyama,1999. The End of History and The Last Man (terjemahan)
Amrullah. Yogyakarta: Qalam.
-------------, 2002. The Greet Disruption: Human Nature and the Reconstitution of
Social Oeder (terjemahan,2004) Ruslani. Jakarta: Triarga Utama.
Francis Fukuyama & Samuel P. Huntington, 2003. The Future of Word Order:
Masa Depan Peradaban dalam Cedngkraman Demokrasi Liberal versus
Pluralisme (terjemahan) Ahmad Faridl Ma’ruf. Yogyakarta: Ircisod.
Giddens, Anthony, 1981. Power Property and The State. Volume I of A
Contemporary Critique of Historical Materialisme, University of
California Press Barkeley dan Los Angles.
I.Gde Widja, 2002. Menuju wajah Baru Pendidikan sejarah.Yogyakarta: Lappera
Pustaka Utama.
---------, 1990. The Conequences of Modernity, Polity Press, Cambridge.
Jurnal, Analisis CSIS.Tahun XXV, No.2. Maret-April 1996.Nasionalisme dan
Berakhirnya Negara-bangsa.
Leslei Skalair, 1991. Sociology of the Global System, Social Change in Global
Perpektive. Baltimore: The John Hopkins University Press.
Lasth, Scott & John Urry. 1994. Economies of Signs and Space. London: sage
Publications.
Pauline Marie Rosenau, 1992. Postmodernisme and the Social Science, Insights,
Inroads, and intrusion. Princenton: University Press.
Robert D. Kaplan, et.a.l, 2005. Ameican and Word, Debating New Shape of
International Politics (terjemahan) Yusi A. Pareanom. Jakarta: Obor
Indonesia.
Samuel P. Huntington, 1996. The Clash of Civilzatations and the Remarking of
Word Order (Terjemahan, 2005) M. Sadat Ismail. Yogyakarta: Qalam.
S.Avenri, 1968. The Social and Political Thought of Karl Marx. Cambridge
University Press.

18
Kajian Buku

The End of History and The Last Man


Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal

Bahan Kajian Matakuliah:


Etnisitas dan Nasionalisme
Dosen : Prof.Dr Rochiati Wiriatmadja,MA

IDENTITAS BUKU
The End of History and The Last Man
Published in Penguin Book 1999
Penulis:
Francis Fukuyama

Penyaji:

SYAHRIL MUHAMMD
NIM: 0603167

SEKOLAH PASCASARJANA PROGRAM S3 PIPS


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG 2007

19
20
Berdasarkan kegagalan kapitalisme tersebut mewujudkan
kesejahteraan yang berkeadilan, maka menjadi keniscayaan bagi
umat manusia zaman sekarang untuk mendekonstruksi ekonomi
kapitalisme dan merekonstruksi ekonomi berkeadilan dan
berketuhanan yang disebut dengan ekonomi syariah.
Dekonstruksi artinya meruntuhkan paradigma, sistem dan
konstruksi materialisme kapitalisme, lalu menggantinya dengan
sistem dan paradigma syari’ah. Capaian-capaian positif di bidang
sains dan teknologi tetap ada yang bisa kita manfaatkan, Artinya
puing-puing keruntuhan tersebut ada yang bisa digunakan,
seperti alat-alat analisis matamatis dan ekonometrik,.dsb.
Sedangkan nilai-nilai negatif, paradigma destrutktif filosofi
materalisme, pengabaian moral dan banyak lagi konsep
kapitalisme di bidang moneter dan ekonomi pembangunan yang
harus didekonstruksi. Karena tanpa upaya dekonstruksi, maka
ketidakadilan ekonomi di dunia akan semakin merajalela,
kesenjangan ekonomi makin menganga, kezaliman melalui sistem
riba dan mata uang kertas semakin hegemonis. Sekarang
tergantung kepada para akademisi dan praktisi ekonomi syari’ah

21
untuk menyuguhkan konstruksi ekonomi syariah yang benar-
benar adil, maslahah, dan dapat mewujudkan kesejahteraan umat
manusia, tanpa penindasan, kezaliman dan penghisapan, baik
antar individu dan perusahaan, negara terhadap perusahaan,
maupun negara kaya terhadap negara miskin.

Berdasarkan kegagalan kapitalisme tersebut mewujudkan


kesejahteraan yang berkeadilan, maka menjadi keniscayaan bagi
umat manusia zaman sekarang untuk mendekonstruksi ekonomi
kapitalisme dan merekonstruksi ekonomi berkeadilan dan
berketuhanan yang disebut dengan ekonomi syariah. Dekonstruksi
artinya meruntuhkan paradigma, sistem dan konstruksi
materialisme kapitalisme, lalu menggantinya dengan sistem dan
paradigma syari’ah. Capaian-capaian positif di bidang sains dan
teknologi tetap ada yang bisa kita manfaatkan, Artinya puing-puing
keruntuhan tersebut ada yang bisa digunakan, seperti alat-alat
analisis matamatis dan ekonometrik,.dsb. Sedangkan nilai-nilai
negatif, paradigma destrutktif,.filosofi materalisme, pengabaian
moral dan banyak lagi konsep kapitalisme di bidang moneter dan
ekonomi pembangunan yang harus didekonstruksi. Karena tanpa
upaya dekonstruksi, maka ketidakadilan ekonomi di dunia akan
semakin merajalela, kesenjangan ekonomi makin menganga,
kezaliman melalui sistem riba dan mata uang kertas semakin
hegemonis. Sekarang tergantung kepada para akademisi dan
praktisi ekonomi syari’ah untuk menyuguhkan konstruksi ekonomi
syariah yang benar-benar adil, maslahah, dan dapat mewujudkan
kesejahteraan umat manusia, tanpa penindasan, kezaliman dan
penghisapan, baik antar individu dan perusahaan, negara terhadap
perusahaan, maupun negara kaya terhadap negara miskin.

22
23
24
Dampaknya tentu saja kehancuran sendi-sendi
perekonomian negara-negara berkembang, proyek-proyek
raksasa terpaksa mengalami penjadwalan ulang, ratusan
pengusaha gulung tikar, harga-harga barang dan jasa termasuk
barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan tak
terkendali.

Meskipun proses penanggulangan dan penyembuhan dari


penyakit-penyakit itu kini sedang berlangsung, namun berbagai
ketidakpastian masih saja membayang-bayangi. Tingkat suku
bunga semakin tinggi dan diduga akan terus membumbung,
memperkuat kekhawatiran akan gagalnya proses penyembuhan
di atas. Krisis tersebut semakin memprihatinkan karena adanya
kemiskinan ekstrim di banyak negara, berbagai bentuk
ketidakadilan sosio-ekonomi, besarnya defisit neraca
pembayaran, dan ketidakmampuan beberapa negara
berkembang untuk membayar kembali hutang mereka. Henry
Kissinger mengatakan, kebanyakan ekonom sepakat dengan
pandangan yang mengatakan bahwa "Tidak satupun diantara
teori atau konsep ekonomi sebelum ini yang tampak mampu
menjelaskan krisis ekonomi dunia tersebut" (News Week, "Saving
the World Economy").

Melihat fenomena-fenomena yang tragis tersebut, maka


tidak mengherankan apabila sejumlah pakar ekonomi
terkemuka, mengkritik dan mencemaskan kemampuan ekonomi
kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka
bumi ini. Bahkan cukup banyak klaim yang menyebutkan
bahwa kapitalisme telah gagal sebagai sistem dan model
ekonomi.

Sebenarnya, sejak awal tahun 1940-an, para ahli ekonomi


Barat, telah menyadari indikasi kegagalan tersebut. Adalah
Joseph Schumpeter dengan bukunya Capitalism, Socialism and
Democracy menyebutkan bahwa teori ekonomi modern telah
memasuki masa-masa krisis. Pandangan yang sama
dikemukakan juga oleh ekonom generasi 1950-an dan 60-an,
seperti Daniel Bell dan Irving Kristol dalam buku The Crisis in
Economic Theory. Demikian pula Gunnar Myrdal dalam buku
Institusional Economics, Journal of Economic Issues, juga Hla
Mynt, dalam buku Economic Theory and the Underdeveloped
Countries serta Mahbubul Haq dalam buku The Poverty Curtain :

25
Choices for the Third World.

Pandangan miring kepada kapitalisme tersebut semakin


keras pada era 1990-an di mana berbagai ahli ekonomi Barat
generasi dekade ini dan para ahli ekonomi Islam pada generasi
yang sama menyatakan secara tegas bahwa teori ekonomi telah
mati, di antaranya yang paling menonjol adalah Paul Ormerod.
Dia menulis buku (1994) berjudul The Death of Economics
(Matinya Ilmu Ekonomi). Dalam buku ini ia menyatakan bahwa
dunia saat ini dilanda suatu kecemasan yang maha dahsyat
dengan kurang dapat beroperasinya sistem ekonomi yang
memiliki ketahanan untuk menghadapi setiap gejolak ekonomi
maupun moneter. Indikasi yang dapat disebutkan di sini adalah
pada akhir abad 19 dunia mengalami krisis dengan jumlah
tingkat pengangguran yang tidak hanya terjadi di belahan diunia
negara-negara berkembang akan tetapi juga melanda negara-
negara maju.

Selanjutnya Omerrod menandaskan bahwa ahli ekonomi


terjebak pada ideologi kapitalisme yang mekanistik yang ternyata
tidak memiliki kekuatan dalam membantu dan mengatasi resesi
ekonomi yang melanda dunia. Mekanisme pasar yang
merupakan bentuk dari sistem yang diterapkan kapitalis
cenderung pada pemusatan kekayaan pada kelompok orang
tertentu.

Karena itu, kini telah mencul gelombang kesadaran untuk


menemukan dan menggunakan sistem ekonomi ”baru” yang
membawa implikasi keadilan, pemerataan, kemakmuran secara
komprehensif serta pencapaian tujuan-tujuan efisiensi. Konsep
ekonomi baru tersebut dipandang sangat mendesak diwujudkan.
Konstruksi ekonomi tersebut dilakukan dengan analisis objektif
terhadap keseluruhan format ekonomi kontemporer dengan
pandangan yang jernih dan pendekatan yang segar dan
komprehensif.

Kehadiran konsep ekonomi baru tersebut, bukanlah


gagasan awam, tetapi mendapat dukungan dari ekonom
terkemuka di dunia yang mendapat hadiah Nobel 1999, yaitu
Joseph E.Stiglitz. Dia dan Bruce Greenwald menulis buku
“Toward a New Paradigm in Monetary Economics”. Mereka
menawarkan paradigma baru dalam ekonomi moneter. Dalam
buku tersebut mereka mengkritik teori ekonomi kapitalis
(konvensional) dengan mengemukakan pendekatan moneter

26
baru yang entah disadari atau tidak, merupakan sudut pandang
ekonomi Islam di bidang moneter, seperti peranan uang, bunga,
dan kredit perbankan (kaitan sektor riil dan moneter).

Penutup
Berdasarkan kegagalan kapitalisme tersebut
mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, maka menjadi
keniscayaan bagi umat manusia zaman sekarang untuk
mendekonstruksi ekonomi kapitalisme dan merekonstruksi
ekonomi berkeadilan dan berketuhanan yang disebut dengan
ekonomi syariah. Dekonstruksi artinya meruntuhkan paradigma,
sistem dan konstruksi materialisme kapitalisme, lalu
menggantinya dengan sistem dan paradigma syari’ah. Capaian-
capaian positif di bidang sains dan teknologi tetap ada yang bisa
kita manfaatkan, Artinya puing-puing keruntuhan tersebut ada
yang bisa digunakan, seperti alat-alat analisis matamatis dan
ekonometrik,.dsb. Sedangkan nilai-nilai negatif, paradigma
destrutktif,.filosofi materalisme, pengabaian moral dan banyak
lagi konsep kapitalisme di bidang moneter dan ekonomi
pembangunan yang harus didekonstruksi. Karena tanpa upaya
dekonstruksi, maka ketidakadilan ekonomi di dunia akan
semakin merajalela, kesenjangan ekonomi makin menganga,
kezaliman melalui sistem riba dan mata uang kertas semakin
hegemonis. Sekarang tergantung kepada para akademisi dan
praktisi ekonomi syari’ah untuk menyuguhkan konstruksi
ekonomi syariah yang benar-benar adil, maslahah, dan dapat
mewujudkan kesejahteraan umat manusia, tanpa penindasan,
kezaliman dan penghisapan, baik antar individu dan
perusahaan, negara terhadap perusahaan, maupun negara kaya
terhadap negara miskin.

Fukuyama menyebutkan bahwayang meyakini apa yang ia sebut


dengan sejarah direksional, keterarahan sejarah pada tujuan
akhir tertentu. Inilah yang kemudian mengantarkan Fukuyama
pada kesimpulan akhir sejarah.

Melalui bukunya, The End of History and The Last Man,

27
Fukuyama hendak mengatakan bahwa paska perang dingin,
tidak akan ada lagi pertarungan antar ideologi besar, karena
sejarah telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan
demokrasi liberal. Meskipun menyadari evolusi sejarah,
Fukuyama beranggapan bahwa demokrasi liberal merupakan
titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia sekaligus bentuk
final pemerintahan manusia. Runtuhnya Soviet dan ambruknya
tembok Berlin menjadi pertanda kalahnya sosialisme, dan
sebagai gantinya adalah pera

28

Anda mungkin juga menyukai