0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
148 tayangan12 halaman

Strategi Advokasi Turunkan Stunting Sabang

Stunting merupakan masalah kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk di Kota Sabang. Prevalensi stunting di Sabang mencapai 26,5% atau lebih tinggi dari standar WHO sebesar 20%. Penyebabnya multifactorial dan terkait dengan praktek gizi dan pengasuhan yang kurang baik, keterbatasan layanan kesehatan dan gizi, serta akses terhadap makanan bergizi. Upaya integratif diperlukan untuk menanggulangi stunting dan

Diunggah oleh

Dara Raihan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
148 tayangan12 halaman

Strategi Advokasi Turunkan Stunting Sabang

Stunting merupakan masalah kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk di Kota Sabang. Prevalensi stunting di Sabang mencapai 26,5% atau lebih tinggi dari standar WHO sebesar 20%. Penyebabnya multifactorial dan terkait dengan praktek gizi dan pengasuhan yang kurang baik, keterbatasan layanan kesehatan dan gizi, serta akses terhadap makanan bergizi. Upaya integratif diperlukan untuk menanggulangi stunting dan

Diunggah oleh

Dara Raihan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Makalah

ADVOKASI

STARTEGI ADVOKASI UNTUK PENURUNAN STUNTING DI KOTA SABANG

DI

OLEH :

RAIHANNAH (P07131217028)

REG A DIV GIZI TK.III

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN ACEH

PRODI DIV GIZI

2019/2020
BAB I

Latar Belakang

Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh Kementerian Kesehatan RI, ada sekitar
8,9 juta anak di Indonesia yang menderita kondisi stunting. Artinya, 1 dari 3 balita mengalami
gangguan pertumbuhan dan butuh perhatian lebih. Indonesia menduduki peringkat tertinggi
penderita kondisi stunting di Asia Tenggara dan kelima di dunia. Ini bukan jumlah yang sedikit.
Hal ini terjadi semata-mata karena asupan gizi yang kurang.

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada anak balita (bawah lima tahun)
akibat kekurangan asupan nutrisi atau malnutrisi dalam waktu cukup lama. Penyebabnya adalah
makanan yang ia konsumsi tidak memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai usia si anak. Pada
umumnya, stunting terjadi pada balita, khususnya usia 1-3 tahun. Pada rentang usia tersebut, Ibu
sudah bisa melihat apakah si anak terkena stunting atau tidak. Meski baru dikenali setelah lahir,
ternyata stunting bisa berlangsung sejak si anak masih berada dalam kandungan.

Salah satu dampak stunting yang bisa dilihat adalah tinggi dan berat badan anak jauh di
bawah rata-rata anak seusianya. Selain itu, stunting juga bisa membuat anakl mudah sakit, punya
postur tubuh kecil ketika dewasa, dan menyebabkan kematian pada usia dini. Stunting juga bisa
memengaruhi kecerdasan anak. Anak kemungkinan akan sulit belajar dan menyerap informasi,
baik secara akademik maupun non akademik, karena kekurangan nutrisi sejak dini.

Berdasarkan kajian International Children’s Emergency Fund (UNICEF) Indonesia


terdapat berbagai hambatan yang menyebabkan tingginya angka stunting di Indonesia
diantaranya pengetahuan yang tidak memadai dan praktek-praktek pengasuhan yang tidak
memadai. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyadarkan masyarakat dibidang
gizi cukup banyak, seperti yang tertuang dalam rencana aksi Kementrian Kesehatan RI, yaitu
meningkatkan pendidikan gizi masyarakat melalui penyediaan materi Komunikasi Informasi dan
Edukasi (KIE) dan kampanye gizi. Disamping pendidikan kegiatan yang terkait antara lain
promosi gizi, penyuluhan gizi, advokasi, pelatihan, dan konsultasi gizi.
BAB II

Pembahasan

A. Stunting di Indonesia

Anak Indonesia masa depan harus sehat, cerdas, kreatif, dan produktif. Jika anak-anak
terlahir sehat, tumbuh dengan baik dan didukung oleh pendidikan yang berkualitas maka mereka
akan menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa. Sebaliknya jika anak-
anak terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak kerdil
(stunting).

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup
tinggi dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan menengah lainnya. Situasi ini jika
tidak diatasi dapat mempengaruhi kinerja pembangunan Indonesia baik yang menyangkut
pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan ketimpangan.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat
dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi
sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting
baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely
stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya
dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006.
Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita
dengan nilai z-scorenya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3SD
(severely stunted).

Di Indonesia, sekitar 37% (hampir 9 Juta) anak balita mengalami stunting (Riset
Kesehatan Dasar/ Riskesdas 2013) dan di seluruh dunia, Indonesia adalah negara dengan
prevalensi stunting kelima terbesar. Balita/Baduta (Bayi dibawah usia Dua Tahun) yang
mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi
lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat
produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan
ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.
Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting dapat menghambat
pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan
hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa
hingga 20%. Selain itu, stunting juga dapat berkontribusi pada melebarnya
kesenjangan/inequality, sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga
menyebabkan kemiskinan antar-generasi.

Anak kerdil yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak hanya dialami oleh rumah
tangga/keluarga yang miskin dan kurang mampu, karena stunting juga dialami oleh rumah
tangga/keluarga yang tidak miskin/yang berada di atas 40 % tingkat kesejahteraan sosial dan
ekonomi. Kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak Balita
(Bawah 5 Tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek
untuk usianya.

Kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun.
Dengan demikian periode 1000 hari pertama kehidupan seyogyanya mendapat perhatian khusus
karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di
masa depan.

B. Penyebab Stunting

Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor
gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan
untuk dapat mengurangi prevalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1.000 Hari
Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Secara lebih detil, beberapa faktor yang menjadi
penyebab stunting dapat digambarkan sebagai berikut :

1) Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai
kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan.
Beberapa fakta dan informasi yang ada menunjukkan bahwa 60% dari anak usia 0-6
bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24
bulan tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI
diberikan/mulai diperkenalkan ketika balita berusia diatas 6 bulan. Selain berfungsi untuk
mengenalkan jenis makanan baru pada bayi, MPASI juga dapat mencukupi kebutuhan
nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI, serta membentuk daya tahan
tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadap makanan maupun minuman.
2) Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan
kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post Natal Care dan pembelajaran dini
yang berkualitas. Informasi yang dikumpulkan dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia
menyatakan bahwa tingkat kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di
2007 menjadi 64% di 2013 dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan
imunisasi. Fakta lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi
yang memadai serta masih terbatasnya akses ke layanan pembelajaran dini yang
berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan
PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini).
3) Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi. Hal ini dikarenakan
harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal.Menurut beberapa sumber
(RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS), komoditas makanan di Jakarta 94% lebih
mahal dibanding dengan di New Delhi, India. Harga buah dan sayuran di Indonesia lebih
mahal daripada di Singapura. Terbatasnya akses ke makanan bergizi di Indonesia juga
dicatat telah berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia
4) Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Data yang diperoleh di lapangan
menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar (BAB)
diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih.

Beberapa penyebab seperti yang dijelaskan di atas, telah berkontibusi pada masih
tingginya pervalensi stunting di Indonesia dan oleh karenanya diperlukan rencana intervensi
yang komprehensif untuk dapat mengurangi pervalensi stunting di Indonesia.

C. Masalah Stunting di Sabang

Menurut (E-PPGBM) prevelensi kasus malnutris dan stunting di Pulau Weh ini harus
diperhatikan. Dari data aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-
PPGBM), pada 2018 angka stunting balita di Sabang mencapai 540 dari total 2.037 balita, atau
sebesar 26,5 persen. Maka jumlah ini melampaui batasan yang ditetapkan badan kesehatan dunia
atau WHO sebesar 20 persen.
Penanganan malnutrisi dan stunting di kota Sabang harus ditangani secara terintegrasi
agar tidak menyebabkan berbagai masalah lanjutan terkait gizi, yang berdampak pada ancaman
kehilangan generasi sehat di Kota Sabang.

Dampak stunting berisiko tinggi menurunkan tingkat kecerdasan, produktivitas serta


kualitas sumber daya manusia (SDM) dimasa depan. Selain itu dampak stunting pada usia
dewasa sangat luas termasuk perkembangan motorik dan penyakit degeneratif. Menurut United
Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) faktor yang berperan terhadap
kejadian stunting adalah faktor lingkungan, penyakit infeksi berulang, morbiditas meningkat,
pengasuhan anak yang tidak memadai, sanitasi yang buruk, akses terhadap pelayanan kesehatan
yang kurang, pendapatan yang rendah, pendidikan dan pengetahuan gizi, serta kesehatan ibu
yang minim.

Berdasarkan kajian International Children’s Emergency Fund (UNICEF) Indonesia


terdapat berbagai hambatan yang menyebabkan tingginya angka stunting di Indonesia
diantaranya pengetahuan yang tidak memadai dan praktek-praktek pengasuhan yang tidak
memadai. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyadarkan masyarakat dibidang
gizi cukup banyak, seperti yang tertuang dalam rencana aksi Kementrian Kesehatan RI, yaitu
meningkatkan pendidikan gizi masyarakat melalui penyediaan materi Komunikasi Informasi dan
Edukasi (KIE) dan kampanye gizi. Disamping pendidikan kegiatan yang terkait antara lain
promosi gizi, penyuluhan gizi, advokasi, pelatihan, dan konsultasi gizi.

Penanganan stunting perlu koordinasi antar sektor dan melibatkan berbagai pemangku
kepentingan seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, Masyarakat Umum,
dan lainnya. Presiden dan Wakil Presiden berkomitmen untuk memimpin langsung upaya
penanganan stunting agar penurunan prevalensi stunting dapat dipercepat dan dapat terjadi
secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

WHO ( 1989) diukutip dalam UNFPA dan BKKBN (2002) menggunkan advocacy is a
combination on individual and social action design to gain political commitment, policy support,
social acceptance and systems support for particular health goal or programme. Jadi advokasi
adalah kombinasi kegiatan individu dan sosial yang dirancang untuk memperoleh komitmen
politis, dukungan kebijakan, penerimaan sosial dan sisitem yang mendukung tujuan atau
program kesehatan tertentu.

Advokasi adalah suatu kegiatan untuk memperoleh komitmen politik, dukungan


kebijakan, penerimaan sosial, dan dukungan sistem dari para pembuat keputusan atau pejabat
pembuat kebijakan (WHO, 1989). Oleh karena itu, tujuan utama advokasi adalah memberikan
dorongan dan dukungan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan publik yang berkaitan dengan
program-program kesehatan.

Definisi Chapela 1994 yang dikutip WISE (2001) secara harfiah:” melakakukan advokasi
berarti mempertahankan, berbicara mendukung seseorang atau sesuatu atau mempertahankan
ide. Sedangkan advokator adalah seseorang yang melakukan kegiatan atau negosiasi yang
ditujukan untuk mencapai sesuatu untuk seseorang,kelompok ,masyarakt tertentu atau secara
keseluruhan.

D. Pendekatan Utama Advokasi

Ada 5 pendekatan utama dalam advokasi (UNFPA dan BKKBN 2002) yaitu:

1) Melibatkan para pemimpin

Para pembuat undang-undang,mereka yang terlibatdalam ppenyusunan hukum, peraturan


maupun pemimpin poilitik,yaitu mereka yangmenetapkan kebijakan publik sangat berpengaruh
dalam menciptakan perubahan yang terkait dengan masalah sosial termaksud kesehatan dan
kependudukan. Oleh karena itu, sangat penting melibatkan mereka semaksimum mungkin
dalamisu yang akan diadvokasikan.

2) Bekerja dengan media massa

Media massa sangat penting berperan dalam membentuk oponi publik. Media juga sangat
kiuat dalam mempengaruhi presespsi publik atas isu atau masalah tertentu. Mengenal,
membangun dan menjaga kemitraan dengan media massasangat penting dalam proses advokasi.
3) Membangun kemitraan

Dalam upaya advokasi sangat penting dilakukan uapaya jaringan, kemtraan yang
brekelanjutan dengan individu, prganisasi-organisasi dan sektor lain yang bergerak dalam isu
yang sama. Kemitraan ini dibentuk oleh individu, kelompok yang bekerja sama yang nertujuan
untuk mencapai tujun umum yang sama atau hampir sama. Namum membangun pengembangan
kemitraan tidak mudah, memrlukan aktual, perencanaan yang matang serta memerlukan
penilaian kebutuhan serta minat dari calon mitra.

4) Memobilisasi masa

Memobilisasi massa merupaka suatu proses mengorganisasikan individu yang telah


termotivasi kedalam kelompok-kelompok atau mengorganisasikan kelompok yang sudah
ada.dengan mobilisasi dimaksudkan agar motivasi individu dapat diubah menjadi tindakan
kolektif.

5) Membangun kapasitas

Membngaun kapasitas disini dimasudkan melembagakan kemempuan utnuk


mengembangkan dan mengelolah program yang komprehensif dan membangun critical mass
pendukukung yang memiliki ketereampilan advokasi. Kelompok ini dapat diidentifikasikan dari
LSM tertentu,kelompok profesi serta kelompok lain.

Adapun Arus komunikasi Advokasi Kesehatan

Komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus agar komunikasi
tersebut efektif antara lain sebagai berikut:

1) Jelas (clear): pesan yang disampaikan kepada sasaran harus disusun sedemikian rupa
sehingga jelas, baik isinya maupun bahasa yang digunakan.
2) Benar (correct): apa yg disampaikan (pesan) harus didasarkan kepada kebenaran. Pesan
yang benar adalah pesan yang disertai fakta atau data empiris.
3) Kongkret (concrete): apabila petugas kesehatan dalam advokasi mengajukan usulan
program yang dimintakan dukungan dari para pejabat terkait, maka harus dirumuskan
dalam bentuk yang kongkrit (bukan kira-kira) atau dalam bentuk operasional.
4) Lengkap (complete): timbulnya kesalahpahaman atau mis komunikasi adalah karena
belum lengkapnya pesan yang disampaikan kepada orang lain.
5) Ringkas (concise) : pesan komunikasi harus lengkap, tetapi padat, tidak bertele-tele.
6) Meyakinkan (convince) : agar komunikasi advokasi kita di terima oleh para pejabat,
maka harus meyakinkan, agar komunikasi advokasi kita diterima
7) Kontekstual (contextual): advokasi kesehatan hendaknya bersifat kontekstual. Artinya
pesan atau program yang akan diadvokasi harus diletakkan atau di kaitkan dengan
masalah pembangunan daerah bersangkutan. Pesan-pesan atau program-program
kesehatan apapun harus dikaitkan dengan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat pemerintah setempat.
8) Berani (courage): seorang petugas kesehatan yang akan melakukan advokasi kepada para
pejabat, harus mempunyai keberanian berargumentasi dan berdiskusi dengan para pejabat
yang bersangkutan.
9) Hati-hati (contious): meskipun berani, tetapi harus hati-hati dan tidak boleh keluar dari
etika berkomunikasi dengan para pejabat, hindari sikap "menggurui" para pejabat yang
bersangkutan.
10) Sopan (courteous): disamping hati-hati, advokator harus bersikap sopan, baik sopan
dalam tutur kata maupun penampilan fisik, termasuk cara berpakaian.

Setelah mengetahui arus komunikaasi yang baik agar advokasi berjalan efektif,
selanjutnya adalah menyusun langkah-langkah advokasi.

E. Langkah-Langkah Advokasi

Advokasi adalah proses atau kegiatan yang hasil akhirnya adalah diperolehnya dukungan
dari para pembuat keputusan terhadap program kesehatan yang ditawarkan atau diusulkan. Oleh
sebab itu, proses ini antara lain melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Tahap persiapan

Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan (materi) atau instrumen
advokasi.
2. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan advokasi sangat tergantung dari metode atau cara advokasi. Cara advokasi yang
sering digunakan adalah lobbi dan seminar atau presentasi.

3. Tahap penilaian

Seperti yang disebutkan diatas bahwa hasil advokasi yang diharafkan adalah adanya
dukungan dari pembuat keputusan, baik dalam bentuk perangkat lunak (software) maupun
perangkat keras (hardware). Oleh sebab itu, untuk menilai atau mengevaluasi keberhasilan
advokasi dapat menggunakan indikator-indikator seperti dibawah ini:

a) Software (piranti lunak): misalnya dikeluarkannya:


 Undang-undang
 Peraturan pemerintah
 Peraturan pemerintah daerah (perda)
 Keputusan menteri
 Surat keputusan gubernur/ bupati
 Nota kesepahaman(MOU), dan sebagainya

b) Hardware (piranti keras): misalnya:


 Meningkatnya anggaran kesehatan dalam APBN atau APBD
 Meningkatnya anggaran untuk satu program yang di prioritaskan
 Adanya bantuan peralatan, sarana atau prasarana program dan sebagainya.

Adapun Beberapa hal yang kemungkinan menjadi penyebab belum efektifnya kebijakan
serta program Intervensi Stunting yang ada dan telah dilakukan adalah:

1) Kebijakan dan regulasi terkait Intervensi Stunting belum secara maksimal dijadikan
landasan bersama untuk menangani stunting, contohnya bisa dilihat pada grafik 2 yang
menunjukkan belum maksimalnya fungsi alokasi anggaran kesehatan.
2) Kementerian/Lembaga (K/L) melaksanakan program masing-masing tanpa koordinasi
yang cukup.
3) Program-program Intervensi Stunting yang telah direncanakan belum seluruhnya
dilaksanakan.
4) Program/intervensi yang ada (baik yang bersifat spesifik gizi maupun sensitif gizi) masih
perlu ditingkatkan rancangannya, cakupannya, kualitasnya dan sasarannya.
5) Program yang secara efektif mendorong peningkatan pengetahuan gizi yang baik dan
perubahan perilaku hidup sehat masyarakat belum banyak dilakukan.
6) Program-program berbasis komunitas yang efektif di masa lalu tidak lagi dijalankan
secara maksimal seperti sebelumnya misalnya akses ke Posyandu, PLKB, kader PKK,
Dasawisma, dan lainnya, serta;
7) Pengetahuan dan kapasitas pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menangani
stunting perlu ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

theconversation.com › strategi-menurunkan-angka-stunting-di-indonesia

staging-point.com › read › 2018/07/15 › 5.Program.Strategis.Atasi.Stunting

https://dinkes.acehprov.go.id › news › read › 2018/03/26 › cegah-stunting

https://aceh.tribunnews.com › Nanggroe › Sabang

https://www.antaranews.com › berita › pemko-sabang-lawan-angka-stunting

Anda mungkin juga menyukai