Anda di halaman 1dari 4

UPAYA HUKUM

KASASI

1. PENGERTIAN UPAYA HUKUM DAN UPAYA KASASI

- Upaya Hukum adalah upaya yang diberikan oleh Undang-undang kepada seseorang atau
badan hukum untuk dalam hal tertentu melawan putusan hakim.

- Dalam teori dan praktek, mengena dua macam upaya hukum yaitu, upaya hukum biasa
dan upaya hukum luar biasa. Perbedaan yang ada antara keduanya adalah bahwa pada azasnya
upaya hukum biasa menangguhkan eksekusi (kecuali bila terhadap suatu putusan dikabulkan
tuntutan serta mertanya), sedangkan upaya hukum luar biasa tidak menangguhkan eksekusi.

- Tujuan utama dalam dalam suatu proses di muka Pengadilan adalah untuk memperoleh
putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Namun, setiap putusan yang dijatuhkan oleh
hakim belum tentu dapan menjamin kebenaran secara yuridis, karena keputusan itu tidak lepas
dari kekeliruan dan kekhilafan, bahkan tidak mustahil bersifat memihak. Agar kesalahan tersebut
dapat diperbaiki demi tegaknya kebenaran dan keadilan maka dilaksanakan upaya hukum.

- Upaya hukum merupakan hak terdakwa yang dapat dipergunakan apabila terdakwa
merasa tidak puas atas putusan yang diberikan oleh pengadilan. Karena upaya hukum ini
merupakan hak, jadi hak tersebut bisa saja dipergunakan dan bisa juga terdakwa tidak
menggunakan hak tersebut.

- Upaya Kasasi adalah salah satu upaya hukum biasa yang dapat diminta oleh salah satu
atau kedua belah pihak yang berperkara terhadap suatu putusan Pengadilan Tinggi. Para pihak
dapat mengajukan kasasi bila merasa tidak puas dengan isi putusan Pengadilan Tinggi kepada
Mahkamah Agung.

- Kasasi berasal dari perkataan “casser” yang berarti memecahkan atau membatalkan,
sehingga bila suatu permohonan kasasi terhadap putusan pengadilan dibawahnya diterima oleh
Mahkamah Agung, maka berarti putusan tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung karena
dianggap mengandung kesalahan dalam penerapan hukumnya.

- Pemeriksaan kasasi hanya meliputi seluruh putusan hakim yang mengenai hukum, jadi
tidak dilakukan pemeriksaan ulang mengenai duduk perkaranya sehingga pemeriksaaan tingkat
kasasi tidak boleh/dapat dianggap sebagai pemeriksaan tinggak ketiga.
- Pengertian upaya kasasi menurut Pasal 244 KUHAP dan pendapat kalangan doktrina
dapat dijelaskan bahwa upaya hukum kasasi merupakan suatu hak yang dapat dipergunakan atau
dikesampingkan oleh terdakwa atau penuntut umum. Apabila terdakwa atau penuntut umum
tidak menerima putusan yang dijatuhkan pengadilan tingkat bawahnya maka dapat mengajukan
permohonan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung terhadap pelaksanaan dan
pengetrapan hukum yang telah dijalankan oleh pengadilan dibawahnya kecuali terhadap putusan
yang mengandung kebebasan.

2. ALASAN-ALASAN MENGAJUKAN KASASI

- Diatur dalam Pasal 30 UU No.14 Tahun 1985 jo Pasal 30 UU No.5 Tahun 2005 Tentang
MA jo Pasal 30 UU No.4 Tahun 2004.

1. Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang.

Tidak bewenangan yang dimaksud berkaitan dengan kompetensi relatif dan absolut pengadilan,
sedang melampaui batas bisa terjadi bila pengadilan mengabulkan gugatan melebihi yang
diminta dalam surat gugatan.

2. Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku.

Kesalahan menerapkan hukum baik hukum formil maupun hukum materil, sedangkan melanggar
hukum adalah penerapan hukum yang dilakukan oleh Judex facti salah atau bertentangan dengan
ketentuan hukum yang berlaku atau dapat juga diinterprestasikan penerapan hukum tersebut
tidak tepat dilakukan oleh judex facti.

3. Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang


mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. Contohnya dalam suatu
putusan tidak terdapat irah-irah.

3. TENGGAT WAKTU MENGAJUKAN KASASI

- Permohonan kasasi harus sedah disampaikan dalam jangka waktu 14 hari setelah putusan
atau penetepan pengadilan yang dimaksud diberitahukan kepada Pemohon (pasal 46 ayat(1) UU
No. 14/1985), bila tidak terpenuhi maka permohonan kasasi tidak dapat diterima.
4. PROSEDUR MENGAJUKAN PERMOHONAN KASASI

1. Permohonan kasasi disampaikan oleh pihak yang berhak baik secara tertulis atau lisan
kepada Panitera Pengadilan Negeri yang memutus perkara tersebut dengan melunasi biaya
kasasi.

2. Pengadilan Negeri akan mencatat permohonan kasasi dalam buku daftar, dan hari itu juga
membuat akta permohonan kasasi yang dilampurkan pada berkas (pasal 46 ayat (3) UU No.
14/1985).

3. Paling lambat 7 hari setelah permohonan kasasi didaftarkan panitera Pengadilan Negeri
memberitahukan secara tertulis kepada pihak lawan (pasal 46 ayat (4) UU No. 14/1985).
4. Dalam tenggang waktu 14 hari setelah permohonan kasasi dicatat dalam buku daftar
pemohon kasasi wajib membuat memori kasasi yang berisi alasan-alasan permohonan kasasi
(pasal 47 ayat (1) UU No. 14/1985).

5. Panitera Pengadilan Negeri menyampaikan salinan memori kasasi pada lawan paling
lambat 30 hari (pasal 47 ayat (2) UU No. 14/1985).

6. Pihak lawan berhak mengajukan kontra memori kasais dalam tenggang waktu 14 hari sejak
tanggal diterimanya salinan memori kasai (pasal 47 ayat (3) UU No. 14/1985).

7. Setelah menerima memori dan kontra memori kasasi dalam jangka waktu 30 hari Panitera
Pengadilan Negeri harus mengirimkan semua berkas kepada Mahkamah Agung (pasal 48 ayat
(1) UU No. 14/1985).

5. PUTUSAN KASASI OLEH MAHKAMAH AGUNG TERDAPAT TIGA MACAM


YAITU:

1.Menyatakan permohonan kasasi tidak dapat diterima


Dalam hal ini bila syarat formal tidak dipenuhi.

2. Permohonan kasasi ditolak


Dalam hal ini keberatan-keberatan yang diajukan oleh pemohon kasasi tidak dapat dibenarkan
oleh karena judex factie tidak salah menerapkan hukum atau tidak lalai memenuhi acara
sebagaimana diwajibkan undang-undang.

3. Permohonan kasasi dikabulkan.


Dalam hal ini apabila alasan-alasan yang diajukan pemohon kasasi dibenarkan oleh Mahkamah
Agung.
Beberapa Yurisprudensi berkaitan dengan kasasi antara lain :

Yurisprudensi MARI No. 47 K/Kr/1971 tanggal 20 September 1972 : Keberatan yang diajukan
penuntut umum bahwa ia tidak diberitahu tentang permohonan banding dari jaksa dan tidak
diberitahu isi memori banding sehingga ia tidak dapat mengajukan kontra memori banding.
Tidak dapat diterima, karena hal tersebut tidak menyebabkan batalnya putusan, lagi pula kontra
memori banding tidak bersifat menentukan, karena dalam tingkat banding perkara diperiksa
kembali dalam keseluruhannya .

Yurisprudensi MARI No. 104 K/Kr/1977 tanggal 16 Oktober 1977 : Keberatan penuntut kasasi
bahwa memori banding jaksa tidak pernah dikemukakan kepadanya tidak dapat diterima, karena
hal tersebut tidak menyebabkan batalnya putusan, lagi pula dengan tingkat banding perkara
ditinjau secara menyeluruh.