0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan5 halaman

BAB II Tika

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai pembelajaran matematika, kemampuan pemahaman matematis siswa, dan metode pembelajaran. Dokumen ini juga menjelaskan kerangka berpikir peneliti untuk meningkatkan kemampuan matematis siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Thinking Aloud Pair Problem Solving.

Diunggah oleh

Isti qomah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan5 halaman

BAB II Tika

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai pembelajaran matematika, kemampuan pemahaman matematis siswa, dan metode pembelajaran. Dokumen ini juga menjelaskan kerangka berpikir peneliti untuk meningkatkan kemampuan matematis siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Thinking Aloud Pair Problem Solving.

Diunggah oleh

Isti qomah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGUJIAN


HIPOTESIS

A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Matematika
Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang sering digunakan di
dunia nyata. Seperti transaksi jual beli, simpan pinjam, dll. Matematika
sebagai ilmu dasar dari segala ilmu pengetahuan dan dasar dari
pengembangannya, sehingga isi dan aplikasinya sangat berguna di dunia
nyata. Dalam penerapannya, matematika sangat dibutuhkan dalam segala
aspek kehidupan. Oleh sebab itu, matematika menjadi pelajaran dasar di
sekolah yang diharapkan mampu membuat peserta didik mengerti
pentingnya matematika dalam kehidupan.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 Tahun 2006,
tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah yaitu membantu peserta
didik agar memiliki kemampuan matematis, menjelaskan keterkaitan
konsep dan mengaplikasikannya secara akurat, efisien, dan tepat, (Murti
dan Dian, 2015).
Menurut Kemendikbud tahun 2014, kemampuan yang harus dimiliki
oleh peserta didik sesuai dengan tujuan dari pelajaran matematika ialah
kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan informasi yang
ada dan dikaitkan dengan pengetahuan matematika yang dimiliki untuk
menemukan cara penyelesaiannya, (Sri dkk, 2016).

2. Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa


Kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam menuntut ilmu
agar dapat menguasai materi pelajaran dengan baik yaitu dengan
pemahaman konsep. Menurut Zevika dkk (2012) pemahaman konsep
sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, (Joice,
2018). Sedangkan menurut Agustina (2016) hasil belajar yang lebih tinggi
yaitu pemahaman konsep daripada pengetahuan, (Joice, 2018).
Dalam memahami atau penyampaian informasi melalui tabel atau
persamaan pada model matematika penyederhanaan dari soal cerita atau
uraian, peserta didik diberikan pengalaman dari pembelajaran matematika,
(Murti dan Dian, 2015). Namun, masih banyak peserta didik yang kurang
paham dalam bernalar sehingga kemampuan pemahaman konsep
matematika masih rendah yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik
yang kurang memuaskan. Menurut Murizal dkk (2012), nyatanya masih
banyak peserta didik yang kesulitan dalam memahami konsep matematis,
(Joice, 2018). Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan
bernalar peserta didik yaitu salah satunya kurangnya peserta didik dalam
berlatih soal-soal pemecahan masalah. Banyak berlatih mengerjakan soal-
soal pemecahan masalah sangat diperlukan peserta didik dalam mengasah
kemampuan bernalar dan kemampuan pemahaman konsep matematika
peserta didik. Dengan begitu peserta didik akan lebih terbiasa dalam
memahami dan mengaitkan berbagai konsep serta memecahkan masalah
matematika dalam bentuk visual yang berbeda sesuai dengan pengetahuan
yang dimilikinya.
Berdasarkan hasil penelitian menyatakan, kurang dari 50% peserta
didik belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang dilihat
dari hasil UTS peserta didik, (Joice, 2018). Sedangkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Mawaddah dan Maryanti (2016) bahwa matematika
yang dianggap sebagai pembelajaran yang sulit dikarenakan rendahnya
pemahaman konsep matematis peserta didik, (Joice, 2018). Hal tersebut
dikarenakan pembelajaran yang di dapat peserta didik dari guru belum
mampu tersampaikan dengan baik kepada peserta didik. Sistem
pengajaran yang sering digunakan guru menjadi salah satu alasan peserta
didik kurang dalam pemahaman konsep matematis. Pemahaman konsep
matematis peserta didik masih tergolong rendah dikarenakan kurangnya
keterlibatan peserta didik dalam mengkonstruksikan pengetahuannya dan
hanya menerima informasi, (Hutagalung, 2017).
Berdasarkan hal tersebut pemahaman konsep penting dalam
pembelajaran matematika. Pemahaman konsep yang kuat dapat memberi
kemudahan dalam meningkatkan pengetahuan prosedural matematika
peserta didik, (Hutagalung, 2017). Oleh karena itu, pemahaman konsep
matematis penting dalam matematika sebelum melanjutkan pembelajaran
pada tingkat yang lebih tinggi lagi.

3. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan proses penyampaian materi dengan
terstruktur dari guru kepada peserta didik. Metode pembelajaran yang
digunakan diharapkan mampu menjadikan peserta didik aktif dalam
belajar. Selain dari kurangnya peserta didik dalam berlatih soal-soal
pemecahan masalah, menurut Mahmuzah dan Akhlimawati (2016)
kurangnya kemampuan matematis peserta didik karena metode
pembelajaran yang berpusat pada guru yang tidak memberi kesempatan
pada peserta didik untuk mengemukakan ide serta gagasannya, (Suharno
dkk, 2019).
Salah satu upaya mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan
mengimplementasikan sistem pengajaran yang mampu menciptakan
suasana belajar yang aktif, sehingga peserta didik dapat mengembangkan
kemampuan pemahaman konsep matematis, (Nurastiyani dan Supriyono,
2014). Banyak sistem pengajaran yang mampu meningkatkan kemampuan
matematis peserta didik, salah satunya ialah metode pembelajaran
Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS).
Metode pembelajaran TAPPS merupakan metode pembelajaran yang
meminta peserta didik untuk memahami masalah, kemudian di selesaikan
sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki secara berpasangan. Dalam
pembelajaran dengan menggunakan metode TAPPS ini, satu orang
berperan menjadi problem solver (PS) dan satunya lagi berperan menjadi
listener (L). Guru akan memberikan suatu masalah yang kemudian
seorang PS diminta untuk menganalisis permasalahan tersebut yang
kemudian memecahkan masalah sesuai dengan hasil pemikirannya dan
diungkapkan secara lisan. Sedangkan seorang L diminta untuk
mendengarkan dan memahami maksud dan kesalahan dari konsep
pemecahan masalah yang diungkapkan seorang PS tanpa menunjukkan
letak kesalahannya kepada PS. Setelah masalah terpecahkan, maka mereka
akan bertukar posisi.
Menurut Johson dan Chung (Widiyastuti, 2014) yang dikutip dari
(Joice, 2018) mengemukakan tugas dari seorang PS dan L sebagai berikut.
a. Tugas Seorang PS
1) Membacakan soal kepada L agar mengetahui permasalahan yang
ingin dipecahkan.
2) Mengemukakan ide, serta konsep yang dipakai untuk memecahkan
masalah tersebut.
3) Terus mencoba menyelesaikan masalah meskipun masalah tersebut
dianggap sulit oleh PS.
b. Tugas Seorang L
1) Menuntun PS agar terus berbicara.
2) Memastikan konsep pemecahan masalah yang diungkapkan PS
tidak terjadi kesalahan atau tidak terdapat langkah solusi yang
terlewatkan.
3) Membantu PS agar lebih teliti dalam mengungkapkan solusi
permasalahan tersebut.
4) Memberitahukan PS jika terjadi kesalahan dalam proses berpikir
atau perhitungannya tanpa menunjukkan letak kesalahannya.

Menurut Handayani dkk (2014) dengan menggunakan metode ini,


peserta didik dilatih untuk mampu menyampaikan ide serta gagasan dan
pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan pemahamannya untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut yang diharapkan mampu
meningkatkan pemahaman konsep matematis peserta didik, (Joice, 2018).
Langkah-langkah metode pembelajaran TAPPS menurut Anwar (Zai,
2015) yang dikutip dari (Joice, 2018) adalah sebagai berikut :
a. Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari dua
orang, yaitu problem solver (PS) dan listener (L) dan menjelaskan
kegiatan yang harus dilakukan dalam diskusi kelompok. Guru
memberitahu peran dari PS, yaitu mengungkapkan pengetahuannya
untuk menyelesaikan masalah dan L mengarahkan untuk
menyelesaikan masalah serta membantu menggambarkan konsep
penyelesaian masalah. Selain itu L dapat membantu dalam
memberikan saran yang berkaitan dengan masalah yang ingin
dipecahkan.
b. Peserta didik diminta menyelesaikan soal dan berganti peran.
c. Kegiatan dihentikan saat peserta didik telah menyelesaikan semua
masalah dan peserta didik merepresentasikan hasil pengerjaannya.

Dengan begitu diharapkan peserta didik mampu mengembangkan dan


mengasah kemampuannya dalam bernalar serta memberi kesempatan
peserta didik untuk mengungkapkan hasil dari pemikirannya dan
mendengarkan hasil pemikiran orang lain.

B. Kerangka Berpikir
Penelitian ini diawali dengan adanya permasalahan-permasalahan yang
peserta didik hadapi saat ini, yaitu rendahnya kemampuan matematis peserta
didik dikarenakan sistem pengajaran yang diterapkan guru hanya mampu
mentransfer informasi tanpa memberi kesempatan peserta didik untuk bisa
mengungkapkan pengetahuan yang dimiliki peserta didik. Oleh karena itu,
kemampuan matematis peserta didik kurang berkembang dan hanya berputar
pada pengetahuan yang diajarkan tanpa tahu pengetahuan yang bisa
diterapkan pada dunia nyata.
Maka dari itu, peneliti ingin menggunakan metode pemebelajaran
Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS). Metode pembelajaran
TAPPS ini merupakan metode pembelajaran secara berpasangan yang dimana
peserta didik dilatih untuk mengungkapkan ide, pendapat, serta konsep dari
pengetahuannya dan merepresentasikannya. Dengan metode pembelajaran ini
diharapkan mampu mengasah kemampuan peserta didik dalam bernalar dan
meningkatkan kemampuan matematis peserta didik, serta menjadikan peserta
didik aktif dalam belajar matematika, sehingga matematika bukan lagi suatu
hal yang sulit bagi peserta didik.

1. Rendahnya kemampuan pemahaman konsep


matematis
2. Rendahnya hasil belajar
3. Kurangnya kemampuan dalam bernalar
4. Kurangnya berlatih soal pemecahan masalah

Metode
Pembelajaran
TAPPS

Diharapkan mampu membantu peserta didik


menjadi berani berpendapat dan melatih agar
peserta didik terbiasa dengan soal-soal
pemecahan masalah yang meningkatkan
kemampuan matematis peserta didik

C. Hipotesis Penelitian
Mengacu pada pembahasan di atas, maka hipotesis penelitian ini yaitu
adanya pengaruh metode pembelajaran Thinking Aloud Pair Problem Solving
(TAPPS) terhadap kemampuan matematis siswa SMP.

Anda mungkin juga menyukai