Anda di halaman 1dari 3

RANGKUMAN MOVEMENT DISORDER

Sejarah Gangguan Gerak

Awal mula diperkenalkannya istilah gangguan gerak di pusatkan pada kumpulan-kumpulan


dari tulisan dan materi untuk mendapatkan gambaran serta pengertian sementara dari gangguan
gerak, dasar-dasar anatomi serta fisiologis. Sedangkan pengertian awal dari gangguan gerak awal
mulanya diperkenalkan oleh beberapa tokoh yaitu Hammod, Oppenheim, Osler dan Mitchel yang
memberikan kontribusi berupa tulisan.

Sejarah Penyakit Parkinson

Sekitar sebelum abad ke 19 penyakit Tremor sudah mulai diperkenalkan dari berbagai
sumber yang awal mulanya berasal dari Sylvius Dela Baue yang merupakan seorang apoteker dan
beberapa tokoh lainnya. Pada Tahun 1817 seorang tokoh bernama James Parkinson membuat
sebuah karya ilmiah mengenai parkinson dimana pada karya ilmiah tersebut dijelaskan bahwa gejala-
gejala dari parkinson itu sendiri berupa tremor yang muncul saat istirahat, rigiditas serta adanya
gangguan dari postur pada tubuh.

Pada sekitar abad ke 19 seorang neurologis yang sangat terkenal pada masanya yang
mengajar di rumah sakit bernama Salpetiere bernama Jean Martin Charcot menyebutkan bahwa ada
gejala yang terpisah dari rigiditas yaitu bradikinesia. Jean Martin Charcot mengatakan bahwa jauh
sebelum terjadinya rigiditas terjadi, para pasien sudah mulai mengalami kesulitan untuk melakukan
akitvitas harian mereka yang diakibatkan bukan oleh karena rigiditas itu sendiri atau bahkan dari
tremornya namun kelulitan tersebyt berasal dari pusat pikiran dan aksi untuk mengeksekusi gerakan
dan menjadi lamban. Sehingga terjadi jeda waktu yang cukup bermakna. Sedangkan Cliche yaitu
murid dari Charcot memberikan gambaran mengenai postur dari penderita parkinson yang menjadi
sebuah perjalanan penyakit parkinson itu sendiri. Menurutnya Charcot sendiri tidak menyetujui
bahwa penyakit tersebut merupakan paralisis adjuvant dan menyebutnya sebagai penyakit
parkinson.

Charcot yang merupakan seorang ahli di bidang anatomi melakukan studi dari segi fisiologis
mengenai penyakit dari Parkinson ini dimana dia melakukannya dari hasil adaptasi dari beberapa alat
spesialistik lainnya. Beberapa sensor-sensor dipasangkan pada bagian pergelangan tangan dari
penderita parkinson serta dilakukan perekaman sehingga didapatkan karakteristik fisiologis dari
bentuk tremornya. Dengan cara inilah didapatkan adanya tremor saat istirahat pada penderita
parkinson dan karakterisitk tremor yang didapatkan sangat berbeda pada gambaran tremor pada
penderita penyakit multiple sclerosis. Pada saat ini sudah ada teknologi yang dapat digunakan seperti
misalnya aktigrafi yang digunakan untuk mengukur adanya tremor dan juga aspek aspek lain dari
kelainan gangguan gerak. Seorang tokoh lain bernama Babynski menyebutkan ada aktivitas fluktuasi
pada bagian motorik pada penyakit parkinson, dalam studi yang dilakukannya didapatkan adanya
klasifikasi dari fluktuasi motor serta efek dari penyakit Parkinson.

Tokoh Lain bernama William Gower menyebutkan serta memberikan kontribusi dari hasil
studinya yang ditulis pada “Manual of Disease pf Nervous System” yang ditulis pada tahun 1868.
Pada hasil studinya disebutkan bahwa Pada penyakit parkinson didapatkan lebih banyak pada laki-
laki dibandingkan dengan perempuan serta biasanya dimulai pada usia pertengahan bukan pada laki-
laki usia lanjut. Sedangkan Willis menyebutkan bahwa ada peranan pada bagian Ganglia basalis
namun pada saat itu masih belum dapat teridentifikasi. Pada tahun 1864, Willis menulis sebuah teori
mengenai kopus kalosum yang menempel pada bagian stria purpura dan terhubung ke bagian
serebelum hingga ke medula oblongata yang dimana semua struktur ini menginisiasikan gerakan.
Penelitian yang dilakukan oleh Charcot difokuskan pada bagian korteks dan setelah sepeninggalan
Charcot penelitiannya dilanjutkan ke bagian batang otak.

Pada tahun 1895 Brissaud sempat menyinggung adanya keterlibatan dari mesensefalon
sedangkan pada tahun 1921 dan 1925 para peneliti seperti Tretiakoff, Foix dan Nivolesco meneliti
patologis pada bagian mesensefalon. Analisis pada bagian patologis mengenai lesi dan parkinson
dijelaskan lebih lengkap oleh Greenfield dan bousanquet. Hoehn dan Yahr mempelajari Morbiditas
serta perjalanan penyakit parkinsonisme pada 1969. Mereka membuat skala dimanan mulai
digunakan pada penyakit parkinson. Skala 1 berupa kelainan unilateral sedangkan stadium 2 pada
gangguan bilateral namun masih didapatkan keseimbangan yang normal, serta stadium-stadium
berikutnya didapatkan gangguan keseimbangan yang berat serta progresif. Fase berikutnya
dikembangakan pada tahun 1960 dari perkembangan Parkinson yaitu adanya keterlibatan biokimia
dan segi farmakologis. Ehrunger dan Hornkhykiewicz sempat mendokumentasikan adanya dopamin
yang hilang pada bagian stratum otak penderita epilepsi dan juga parkinson. Pada tahun 1962
dilakukan uji coba klinis mengenai levodopa oral dan intravena yang dilakukan oleh Berbeu dan
Birkmayer dan Hornkhykiewic.

Buku College of Physicians of Philadelpia yang dibuat Charcot menyebutkan bahwa ada sifat
antikolinergik yang poten dalam pengobatan parkinson dan juga Bromokriptin sebagai obat yang
lebih modern dimana obat ini merupakan deruvat ergot. Penggunaannya dikombinasikan antara
dopaminergik dan antikolinergik sehingga terjadi keseimbangan antara dopamin serta asetilkolin
sehingga fungsi otak dapat berjalan normal. Pada tahun 1983, Langston serta rekannya melakukan
observasi terhadap sekelompok orang yang mengalami kencanduan terhadap obat (Senyawa MPTP)
untuk menekan parkinsonisme, dimana didapatkan adanya gejala tremor, bradikinesiam rigiditas
serta gangguan postural. MPTP Plus merupakan oksidasi kuat dan ada efek neurotoksisitas selektif
pada bagian substansia nigra dimana teori mengenai adanya toksin lingkungan dapat meningkatkan
terjadinya penyakit parkinsonisme.

Pembedahan pada penderita gangguan gerak pertama kali dilakukan pada tahun 1909 oleh
Victor Hosley, pada bagian korteks motorik yang menyebabkan perkembangan bermakna pada
penderita dengan gangguan gerak involunter. Dia bersama rekannya bernama Robert Henry Clarke
pada tahun 1908 membuat perlengkapan steriotaksik untuk mengarahkan bagian pusak otak. Dalam
Surgical Intervention of Movement Disorder seorang tokoh bernama Meyer mengatakan bahwa efek
dari lesi pada nukleus sserta globus palidus dapat membuktikan tremor pada Parkinson dan adanya
rigiditas tanpa adanya kelemahan. Tatalaksana pada palidus dapat mengurangi hiperkinesia. Hal
inilah yang menjadi dasar dalam pengobatan parkinson dengan Deep Brain Stimulation (palidotomi).

Korea

Tahun 1984 seorang bernama Wiliam Osler mengatakan bahwa korea hanyalah sebuah
diagnosis keranjang sampah dikarenakan tidak diketahui penyababnya. Korea diambil dari bahasa
latin yang artinya adalah dansa sedangkan dalam bahasa yunani berarti bersama-sama. Saat itu
korea digunakan hanya untuk menggambarkan gangguan organik dan psikologik dari kontrol motorik.
Sedangkan pada abad pertengahan di Eropa tengah ada epidemi yang disebut dengan Dancing
Mania. Seseorang bernama Hecker menyebutkan bahwa penderita melakukan gerakan seperti
membentuk lingkaran pada tangan kanan serta kehilangan kontrol dari indranya. Tahun 1696 Lexicon
medicum menyebutkan gangguan tersebut sebagai tarian hiruk pikuk. Seorang tokoh lain bernama
Paracelsus membedakan korea menjadi dua yaitu organik dan menari, dimana ada 3 kategori.
Kategori pertama yaitu korea imaginativa yang berasal dari imajinasi kesadaran, kedua adalah lasciva
yang berasal dari sentral sedangkan yang ketiga adalah korea naturalis atau organik. Menurutnya
korea disebabkan oleh hal intrinsik dan bukan oleh karena sebab lain.

Sedangkan secara medis korea diawali dari Sydenham dimana dideskripsikan sebagai anak
anak yang demam dan tidak diketahui sebabnya dan mengalami gerakan involunter. Hanya saja
Sydenham sendiri terjadi simpangisur bila dibandingkan dengan kontribusinya. Sydenham sendiri
menyebut penyakit ini sebagai dansa. Charcot berusaha untuk menyederhanakan definisinya dimana
disebutkan bahwa korea merupakan gerakan amenari, memiliki ritme dan gerakan stereotipik yang
terjadi terus menerus. Tahun 1872 Goerge Huntington pertama kali menemukan bentuk familian
yang diturunkan secara autosomal dominan. Dimana semua penyakit neurologis primer akan
diturunkan dari orang tua dan memiliki fenotip yang berbeda beda.Tahun 1897 Penderita Distonia
generalisata pertama kali di temukan oleh Barraquer, ia belajar pada Charcot di RS Salpetriere. Pada
saat itu distonia digolongkan kedalam histeria lalu Schwalbe mengembangkan desktripsi tersebut
dan meyadari bahwa gerakan distonia tidak ditemukan pada gangguan gerak lain.

Pada tahun 1911 Oppenheim pertama kali mendeskripsikan distonia sebagai tonus abnormal
secara umum yang disertai dengan fluktuasi hipertonus secara berkesinambungan, namun
menyebabkan kontroversi pada tahun 1929 di seminar neurologi internasional di Paris sehingga
akhirnya distonia merupakan nomenklatur psikiatri dan bukan neurologi. 15 Tahun setelahnya Hertz
melakukan analisa khusus dari literatur dan data sinematografi dan gerakan distonia dideskripsikan
sebagai gerakan yang fluktuatif hiprtonusitas dan gerakan memuntir, ganglia basal diduga terlibat
namum tidak ada bukti kecuali pada distonia sekunder. Pada studi yang dilakukan pada akhir akhir ini
terhadap toksin botulinum yang disuntikan melalui otot yang hiperaktif menyebabkan kelemahan
fokal pada spasme distonia dan menjadi terapi pilihan. Seorang bernama Kerner berkebangsaan
Jerman pada tahun 1786 hingga 1862 ia merangkum adanya 150 kejadian intoksikasi pada manusia
sehungga ia membuat prototipe racun yang disebut racun sosis dan telah dilakukan eksperimen pada
binatang dan pernah berakibat fatal. Namun pada bukunya ia juga menulis bahwa ada transmisi
signal pada bagian perifer dan otonom serta membahas adanya kemungkinan penggunaan racun ini
untuk mengobati penyakit seperti kroea sydenham dan juga mengatasi gangguan otonom juga untuk
hipersalivasi dan hiperhidrosis.