Anda di halaman 1dari 15

PROSES DAN CIRI-CIRI PENUAAN PADA HEWAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Perkembangan Hewan
Yang diampu oleh Bapak Prof. Dr.Abdul Gofur, M.Si

Disusun Oleh:
Maria Angelina Genere Koban (200342857002)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S2 BIOLOGI
DESEMBER 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmatnya, penulis dapat menyelesaikan makalah Proses dan ciri-ciri penuaan pada hewan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Abdul Gofur,M.Si selaku
pengampuh matakuliah perkembangan hewan yang telah membimbing selama proses penulisan
makalah ini.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memahami proses dan ciri-ciri
penuaan pada hewan. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam
isi makalah ini, oleh karena itu, sangat diharapkan kritik dan saran dari bapak Prof. Abdul Gofur,
M.Si sebagai penyempurnaan atas makalah yang telah disusun dan bermanfaat bagi penulis di
masa yang akan datang.

Malang, 6 Desember 2020

Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penuaan (aging) adalah perubahan fisiologis yang terjadi seiring dengan bertambahnya
usia kronologis dan akan terjadi pada semua organisme. Proses penuaan pada manusia,
tumbuhan hewan dan organisme bersel satu terjadi secara bertahap. Fenomena fisiologis yang
terjadi adalah berkurangnya jumlah sel jaringan, menurunnya laju metabolisme, juga
meningkatnya kejadian penyakit. Faktor lingkungan, seperti stress, olahraga berlebihan, merokok
dan radiasi sinar ultraviolet dapat memicu penuaan (Pangkahila, 2007). Bertambahnya usia akan
menyebabakan terjadi penurunan fungsi organ tubuh dan perubahan fisik baik tingkat seluler,
organ maupun sistem karena proses penuaan. Proses penuaan pada setiap orang berbeda-beda,
pada umumnya terjadi setelah pertumbuhan dan perkembangan sudah mencapai kedewasaan.
Biasanya dimulai di usia 25-30an tahun dan gejalanya terlihat jelas pada usia 50an tahun keatas.
Penuaan yang paling tampak secara kasat mata adalah penuaan kulit. Proses penuaan
kulit merupakan proses fisiologis yang tidak dapat dihindari. Berdasarkan data penduduk dunia,
terjadi peningkatan proporsi populasi usia lanjut (di atas 65 tahun) yang cukup signifikan yakni
dari sekitar 8% pada tahun 1950 menjadi sekitar 11% pada tahun 2009, dan diperkirakan akan
mencapai angka 20% di tahun 2050. Hal ini akan menyebabkan permasalahan kesehatan terkait
penuaan, termasuk didalamnya penuaan kulit yang juga akan meningkat. Penuaan kulit akan
memengaruhi kehidupan sosial individu, yang didukung adanya fakta bahwa kulit merupakan
bagian tubuh yang paling sering terpapar oleh faktorfaktor luar dan juga merupakan hal yang
pertama kali nampak dari seorang individu saat berinteraksi dengan orang lain.(Rubinstein,
2008)
Penuaan kulit biasanya ditandai dengan kondisi kulit yang kering (xerosis), bersisik,
kasar, dan noda hitam (flek) disertai dengan munculnya kerutan-kerutan pada kulit. Adapaun
faktor yang mempengaruhi proses penuaan yaitu faktor internal yang meliputi radikal bebas,
hormon yang berkurang, proses glikosilasi, metilasi, apoptosis, sistem kekebalan yang menurun
dan gen. Faktor eksternal meliputi gaya hidup tidak sehat, diet tidak sehat, kebiasaan salah,
polusi lingkungan, stres dan ekonomi. Jika faktor penyebab itu dapat dihindari, maka proses
penuaan tentu dapat dicegah, diperlambat, bahkan mungkin dihambat dan kualitas hidup dapat
dipertahankan. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui proses dan ciri-ciri penuaan
pada hewan. Proses penuaan yang dibahas adalah proses penuaan kulit pada manusia.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah ciri-ciri dan proses penuaan pada kulit manusia?
2. Teori apasajakah yang menjelaskan proses penuaan kulit?
3. Faktor-faktor apasajakah yang mempengaruhi proses penuaan pada kulit?
4. Bagaimanakah pembentukan radikal bebas pada kulit??
5. Bagaimanakah Mekanisme Penuaan pada Kulit Akibat Paparan Radiasi Sinar
Ultraviolet?

1.3 TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui ciri-ciri dan proses penuaan pada kulit manusia
2. Untuk mengetahui teori-teori proses penuaan pada kulit
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses penuaan pada kulit
4. Untuk menjelaskan mekanisme pembentukan radikal bebas pada kulit
5. Untuk menjelaskan mekanisme penuaan pada kulit akibat paparan radiasi sinar ultraviolet
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Proses Penuaan (Aging)


Penuaan (aging) adalah perubahan fisiologis yang terjadi seiring dengan bertambahnya
usia kronologis dan akan terjadi pada semua organisme. Proses penuaan pada manusia,
tumbuhan hewan dan organisme bersel satu terjadi secara bertahap. Fenomena fisiologis yang
terjadi adalah berkurangnya jumlah sel jaringan, menurunnya laju metabolisme, juga
meningkatnya kejadian penyakit. Faktor lingkungan, seperti stress, olahraga berlebihan, merokok
dan radiasi sinar ultraviolet dapat memicu penuaan (Pangkahila, 2007).
Pada penuaan terjadi perubahan fisiologis lanjut yang menyangkut disfungsi organ vital
seperti kerusakan organ kardiopulmonar, persarafan, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan juga
fungsi motorik. Karena itu, munculnya faktor risiko seperti hipertensi, hiperlipidemia, perubahan
metabolisme glukosa, obesitas, kebiasaan gaya hidup tidak sehat, alkohol, dan stress
menyebabkan penyakit yang bervariasi pada berbagai sistem tubuh, antara lain : penyakit
degeneratif, stroke, katarak, hilangnya komunikasi sistem saraf, arteriosklerosis, gagal jantung,
aritmia, emfisema paru, ulkus lambung, diabetes, gagal ginjal, osteoporosis, arthritis, dan apabila
ada luka, infeksi, atau tumor, dapat terjadi penuaan lanjut secara patologis (Park dan Yeo, 2013).
 Gejala Klinis Proses Penuaan
Proses penuaan dimulai dengan menurunnya bahkan terhentinya fungsi berbagai organ
tubuh. Akibat menurunnya fungsi tersebut, maka muncul berbagai tanda dan gejala proses
penuaan, yang pada dasarnya dibagi dalam dua bagian yaitu:
a) Tanda fisik, seperti masa otot berkurang, lemak meningkat, kulit berkerut, daya ingat
berkurang, fungsi seksual, dan reproduksi terganggu, kemampuan kerja menurun,
sakit tulang.
b) Tanda psikis, seperti gairah hidup menurun, sulit tidur, mudah cemas, mudah
tersinggung, merasa tidak berarti lagi.
Proses penuaan tidak terjadi begitu saja dengan langsung menampakkan perubahan
fisik dan psikis seperti di atas. Proses penuaan berlangsung dalam tiga tahap sebagai
berikut (Pangkahila, 2007) :
1. Tahap subklinik (usia 25-35 tahun)
Pada tahap ini, sebagian besar hormon di dalam tubuh mulai menurun, yaitu hormon
testosteron, growth hormone, dan hormon estrogen. Kerusakan ini biasanya tidak
tampak dari luar, sehingga pada tahap ini orang merasa dan tampak normal, tidak
mengalami gejala dan tanda penuaan.
2. Tahap Transisi (usia 35-45 tahun)
Selama tahap ini level hormon menurun hingga 25 persen. Massa otot berkurang
sebanyak satu kilogram setiap beberapa tahun, akibatnya kekuatan dan tenaga terasa
hilang, sedangkan komposisi lemak terus bertambah. Pada tahap ini orang merasa
tidak muda lagi dan tampak lebih tua. Kerusakan akibat radikal bebas mulai merusak
ekspresi genetik, yang dapat menghasilkan penyakit
3. Tahap klinik (usia lebih dari 45 tahun)
Pada tahap ini, penurunan kadar hormon terus menurun yang meliputi DHEA
(Dehydroepiandrosterone), melatonin, growth hormone, testosteron, estrogen, dan
hormon tiroid. Penurunan bahkan hilangnya kemampuan penyerapan bahan makanan,
vitamin, dan mineral juga terjadi. Densitas tulang menurun, massa otot berkurang
sekitar satu kilogram setiap tiga tahun, yang mengakibatkan ketidakmampuan
membakar kalori, meningkatnya lemak tubuh, dan berat badan.
 Untuk mempermudah menilai penuaan kulit, Glagou mengklasifikasikan berdasarkan
tingkat keparahannya menjadi 4 tipe atau kelompok, yaitu:
a) Tipe I (derajat ringan), muncul di usia 20-30 tahun dengan gambaran klinis seperti: tidak
ditemukan keratosis, terjadi perubahan pigmentasi dan adanya kerutan yang sangat
minimal.
b) Tipe II (derajat sedang), muncul di usia 30-40 tahun dengan gambaran klinis seperti:
kerutan terlihat saat berekspresi, terdapat keratosis yang palpable tapi tidak tampak dan
ditemukan lentigo senilis awal.
c) Tipe III (derajat lanjut), muncul di usia 50 tahun dengan gambaran klinis seperti: kerutan
terlihat jelas, diskromia, telangiektasi dan keratosis mulai tampak.
d) Tipe IV (derajat parah), muncul di usia > 60 tahun dengan gambaran klinis seperti: terjadi
perubahan warna kulit menjadi kuning coklat atau kuning keabuan, keganasan pada kulit
mulai terjadi Ca sel squamosal dan kerutan diseluruh kulit (tidak ada kulit normal)
2.2 Teori Proses Penuaan
Terdapat empat teori utama yang menjelaskan terjadinya proses penuaan:
1) Teori Wear and Tear
Teori ini dikenal juga dengan teori pakai dan rusak diperkenalkan pertama kali tahun
1882 oleh August Weismann yang merupakan seorang ahli biologi dari Jerman yang
pada prinsipnya menyatakan bahwa tubuh dan sel akan rusak karena penggunaan dan
disalahgunakan, baik penggunaan secara alami apalagi penyalahgunaan. Organ tubuh,
seperti hati, lambung, ginjal, kulit, dan yang lain, menurun karena toksin di dalam
makanan dan lingkungan, konsumsi berlebihan lemak,gula, kafein, alkohol, dan
nikotin, karena sinar ultraviolet, dan karena stress fisik dan emosional. Kerusakan
yang terjadi tidak terbatas pada organ melainkan juga terjadi di tingkat sel. Pada usia
muda, kerusakan yang terjadi dapat diatasi atau dikompensasi karena sistem
perbaikan dan pemeliharan yang masih baik tetapi seiring dengan bertambahnya
umur, tubuh mulai kehilangan kemampuan memperbaiki kerusakan karena penyebab
apapun. Hal ini berarti walaupun seseorang tidak pernah merokok, minum alkohol,
dan hanya mengonsumsi makanan alami, dengan menggunakan organ tubuh secara
biasa saja, pada akhirnya terjadi kerusakan. Teori ini juga meyakini pemberian
suplemen yang tepat dan pengobatan yang tidak terlambat dapat membantu
mengembalikan proses penuaan dengan merangsang kemampuan tubuh untuk
melakukan perbaikan dan mempertahankan organ tubuh dan sel (Pangkahila, 2011)
2) Teori Neuroendokrin
Teori ini berdasarkan pada peranan berbagai hormon yang mengatur fungsi tubuh.
Hormon dikeluarkan oleh beberapa organ yang dikendalikan oleh hipotalamus.
Fungsi Hormon mengatur dan memperbaiki fungsi tubuh. Pada usia muda, berbagai
hormon masih berfungsi baik dalam mengendalikan berbagai fungsi organ tubuh.
Hormon bersifat vital untuk memperbaiki dan mengatur fungsi tubuh. Ketika manusia
menjadi tua, tubuh hanya mampu memproduksi hormon lebih sedikit sehingga
kadarnya menurun. Akibatnya berbagai fungsi tubuh terganggu. Growth hormone
yang membantu pembentukan massa otot, Human Growth Hormon (HGH),
testosteron, dan hormon tiroid, akan menurun tajam ketika menjadi tua. Ketika
manusia menjadi tua, produksi hormon menurun, fungsi tubuh menjadi terganggu.
Beberapa contoh yang sering ditemui adalah menopause pada wanita dimana terjadi
penurunan hormon estrogen yang terjadi karena proses penuaan, lebih jauh kualitas
hidup menurun karena berbagai keluhan yang muncul sebagai akibatnya, juga
terjadinya penurunan kadar hormon testosteron pada pria yang dimulai sejak usia 30
tahun dan terus menurun yang kemudian menimbulkan berbagai keluhan yang disebut
Andropouse (Pangkahila, 2011).
3) Teori Kontrol Genetika
Teori terfokus pada kode genetik yang ada dalam DNA, meskipun seluruh
aspek diwariskan dalam gen tiap individu, waktu jam biologis tergantung pada pola
hidup penuaan masing-masing individu. Tiap individu memiliki jam biologis yang
telah diatur waktunya. Berhentinya jam biologis menandakan proses penuaan dan
meninggal (Pangkahila, 2011).
Kehidupan sel juga dipengaruhi oleh panjang telomere (enam nukleotida sekuen
DNA yaitu TTAGGG) yang terletak pada ujung chromosome strands. Telomere
berpengaruh pada fungsi sel punca pada organ yang pergantian selnya tinggi. Dengan
setiap replikasi sel, telomere memendek pada setiap pembelahan sel. Setelah sejumlah
pembelahan sel, telomere telah dipakai dan pembelahan sel berhenti. Mekanism
telomere menentukan rentang usia sel dan pada akhirnya juga rentang usia organisme
sendiri (Pangkahila, 2011).
4) Teori Radikal Bebas
Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang sangat reaktif karena mempunyai
elektron tidak berpasangan pada orbit luarnya, dapat bereaksi dengan molekul lain,
menimbulkan reaksi berantai yang sangat destruktif (Pangkahila, 2007). Radikal
bebas dihasilkan dari pembakaran gula dan lemak yang kita konsumsi untuk
memberikan energi pada tubuh kita. Radikal bebas merusak membran sel, kode DNA,
enzim, protein, dan akhirnya terjadi kerusakan pada seluruh organ. Kerusakan terjadi
mulai dari lahir dan terus berlanjut hingga meninggal. Pada usia muda, dampak
penggantian sel yang masih berfungsi baik. Seiring dengan usia bertambah,
akumulasi kerusakan akibat radikal bebas akan mengganggu metabolisme sel,
terjadilah mutasi sel yang mengakibatkan timbulnya kanker dan kematian. Age Spot
merupakan salah satu bentuk kerusakan pada membran sel yang disebabkan oleh
radikal bebas. Kerusakan membran ini menghasilkan produk sisa yang dikenal
sebagai lipofuscin. Jumlah lipofuscin yang tinggi dalam tubuh memberikan warna
gelap pada daerah tertentu yang disebut Age spot. Lipofuscins mengganggu sintesis
DNA dan RNA mempengaruhi sintesis protein (menurunkan energi dan menghambat
pembentukan massa otot), merusak enzim seluler yang diperlukan untuk proses kimia
vital dalam tubuh (Pangkahila, 2007). Antioksidan diyakini dapat menghambat
kerusakan akibat radikal bebas, dimana Superokside dismutase pada antioksidan
dapat mengubah radikal oksigen menjadi hidrogen peroksidasi yang mengakibatkan
degradasi oleh enzim katalase menjadi oksigen dan air (Pangkahila,2011)

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Penuaan


Proses penuaan kulit adalah interaksi antara faktor endogen dan faktor eksogen.
Perubahan kulit secara klinis dibagi menjadi 2, yaitu penuaan intrinsik dan penuaan ekstrinsik.
Proses penuaan intrinsik dan penuaan ekstrinsik ini berbeda dalam mekanisme biologis, biokimia
dan molekular. Perubahan klinis pada penuaan intrinsik berupa berkurangnya fungsi sawar kulit,
turnover sel epidermis yang melambat, dan aliran darah yang berkurang pada lapisan kulit
sehingga kulit menjadi atrofi. Sel yang paling terpengaruh adalah keratinosit dan fibroblast yang
mengalami penurunan jumlah. Semua ini akan membuat penurunan pada fungsi kulit, jumlah sel
Langerhans, sel fibroblast, kolagen, serabut elastik, sel mast, makrofag pada lapisan dermis,
folikel rambut, dermal epidermal junction menjadi lebih datar dan juga sel melanosit sehingga
terjadi penurunan pigmentasi. Selain itu, produksi sebum juga berkurang dan kemampuan
stratum korneum pada lapisan epidermis untuk mengikat air juga menurun sehingga kulit
menjadi kering (xerosis).
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses penuaan adalah sebagai berikut:
a) Faktor intrinsik antara lain, yaitu:
1) Genetik dimana pada orang tertentu memiliki kulit yang kering kecendurangan
untuk mengalamipenuaan lebih awal.
2) Hormon, pengaruhnya terlihat jelas pada wanita yang mengalami menopause.
Dimana wanita yang mengalami menopause maka hormon estrogen akan
menurun yang dapat menyebabkan elastisitas kulit berkurang sehingga kulit
menjadi kering dan keriput
3) Rasial, berbagai ras manusia memiliki perbedaan struktur terutama peranan
melanin yang berfungsi sebagai proteksi terhadap paparan sinar ultraviolet. Orang
kulit putih lebih mudah terbakar sinar ultravioletdibanding orang yang berkulit
yang berwarna, sehingga pada kulit putih lebih cepat terjadi proses penuaan.
b) Faktor ekstrinsik antara lain, yaitu
1) Sinar matahari, kerusakan yang diakibatkan oleh sinar ultraviolet berupa eritema,
edema, nyeri diikuti eksfoilasi, tanning dan penuaan dini.
2) Perawatan kulit yang kurang tepat menyebabkan kulit menjadi kering seperti
pemakaian sabun berlebihan dan pembersih yang mengandung alkohol tinggi,
kelembapan udara yang rendah, ruangan ber AC dan paparan angin.
3) Faktor yang berhubungan dengan pembentukan radikal bebas, diantaranya adalah
pajanan sinar UV, radiasisinar X, polusi udara (asap mobil, freon dan asap rokok),
pajanan dengan bahan kimia dan bahanpada makanan seperti: pengawet, pelezat
dan pewarna. Senyawa oksigen reaktif (SOR)yang terbentuk akibat stress
oksidatif sangat berperan dalam proses penuaan, yakni pada metabolisme
kolagen.
c) Faktor lainnya yaitu:
1) Nutrisi atau gizi yang kurang
2) Pola hidup yang tidak tepat seperti kebiasaan merokok, alkohol, dan kopi yang
berlebihan
3) Stress dan waktu istrahat yang kurang dapat meningkatkan beberapa hormon yaitu
hormon adrenalin dan kortison sehingga dapat memicu penuaan.
4) Bentuk otot muka yang berulang-ulang dan berlangsung lama seperti: cemberut,
mengerutkan kening atau dahi akan memunculkan garis-garis diwajah.
5) Penyakit sistemik seperti diabetes militus, arteroschlerosis, autoimun
menyebabkan system biologik terganggu.
6) Penurunan berat badan yang drastis dapat menyebabkan lapisan lemak di bawah
kulit berkurang
2.4. Pembentukan Radikal Bebas pada Kulit
Pengertian radikal bebas dan oksidan sering dikaburkan karena keduanya mempunyai
sifat yang mirip dalam hal sebagai penerima elektron (Baumann & Allemann, 2009). Oksidan
dalam pengertian kimia adalah senyawa penerima elektron, yaitu senyawa-senyawa yang dapat
menarik elektron (Fisher, 2002) sedangkan radikal bebas adalah atom atau molekul yang
memiliki elektron yang tidak berpasangan pada orbit luarnya (Baumann & Allemann, 2009).
Molekul radikal bebas ini dapat menarik elektron dari molekul normal lain sehingga
menimbulkan radikal bebas baru yang pada akhirnya menimbulkan efek domino (self
perpetuating process). Bahan radikal bebas dalam tubuh paling banyak berasal dari oksigen
disebut sebagai ROS, yang dapat timbul dalam pembentukan energi dalam tubuh atau pada
waktu netrofil menghancurkan benda asing dalam tubuh. Sebaliknya radikal bebas dari luar
dapat berasal dari polusi asap rokok, atau sinar matahari (sinar UVA dan UVB) ( Pillai, et al.,
2005). Satu triliun molekul oksigen melalui sel dalam tubuh setiap hari, dapat menimbulkan
100.000 free radical wounds pada DNA. Kerusakan DNA mempunyai potensi menimbulkan
mutasi genetik yang menjurus ke arah onkogenesis. Sampai dengan umur 50 tahun sekitar 30%
dari protein seluler dalam tubuh kita mengalami kerusakan oleh radikal bebas (Fisher, 2002)
Adanya molekul oksigen (O2) dalam kulit yang terdapat pada bagian bawah epidermis
merupakan target utama gelombang sinar UV yang masuk ke dalam kulit (Jenkins, 2000; Bickers
& Athar, 2006). Molekul oksigen bersifat unik karena elektron yang terdapat pada lapisan luar
tidak lengkap berada dalam orbit elektron sehingga mempunyai kecenderungan untuk menarik
elektron dalam melengkapi pasangan elektronnya. Konsekuensinya adalah bahwa masuknya
sinar UV dapat berperan sebagai donatur sebuah elektron kepada molekul oksigen di epidermis.
Produksi radikal bebas yang berasal dari interaksi sinar UV dengan molekul oksigen di dalam sel
kulit adalah anion superoksida, hidrogen peroksida, hidroksi radikal, dan oksigen singlet
(Schwarz, et al.,2001)
Salah satu kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas adalah hilangnya fungsi kontrol
membran sel (Fisher, 2002; Pillai, et al., 2005). Walaupun demikian, sel kulit masih mempunyai
enzim antioksidan, seperti superoksida dismutase yang dapat menghilangkan dan menetralisir
anion superoksid. Vitamin E yang ada dalam sel kulit juga dapat mencegah terbentuknya
beberapa radikal bebas dari anion superoksid. Namun, ketika sel-sel kulit terpajan sinar UV yang
kuat dan lama, mekanisme pertahanan antioksidan yang normal dalam sel tidak mampu
menghambat perkembangbiakan radikal bebas. Akibatnya, kerusakan yang berat akibat radikal
bebas pada sel kulit tak dapat dielakkan. Semua ini akan mempercepat proses penuaan dini dan
meningkatkan risiko terjadinya kanker kulit (Breinneisen, et al., 2002)

2.5 Mekanisme Penuaan pada Kulit Akibat Paparan Radiasi Sinar Ultraviolet
Penuaan pada kulit terjadi seperti halnya penuaan sel tubuh secara umum, yaitu terjadi
akumulasi kerusakan endogen akibat pembentukan senyawa oksigen Reaktif (Reactive Oxygen
Species = ROS) selama metabolisme oksidasi seluler (Yaar dan Gilcrest, 2008). Meskipun sistem
pertahanan sel terhadap oksidasi telah sedemikian canggihnya, ROS tetap menimbulkan
kerusakan unsur sel termasuk membran sel, enzym dan DNA, serta mengganggu hubungan /
interaksi DNA protein dan protein-protein (Poljšak and Dahmane, 2012).
Faktor eksternal yang terutama adalah radiasi sinar UV. Penuaan dini yang disebabkan
oleh radiasi UV sinar matahari ini, disebut sebagai Photoaging (Trojahn et al., 2015). Selain itu
juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban udara, rokok, polusi udara dari kendaraan bermotor,
bahan kimia eksogen endogen. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti keadaan gizi
yang buruk, stres psikologis, pemakaian otot wajah yang berulang-ulang dan terus menerus
menyebabkan terbentuknya kerutan dan alur kulit yang menetap, penyakit kronis, kehilangan
struktur penunjang kulit yang berlebihan (Schagen et al., 2012). Telah diketahui bahwa ROS
bersifat sebagai oksidan dan melalui proses oksidasi tersebut akan menurunkan enzim protein-
tyrosine phosphatase.
Penurunan enzim ini akan menyebabkan terjadi up-regulation reseptor growth factor dan
pada akhirnya akan mengaktivasi AP-1 yang merupakan nuclear transcription factor, melalui
aktivasi dari faktor transkripsi c-Jun dan c-Fos menghasilkan AP-1, dan mengurangi
penghambatan RA reseptor pada AP-1. Efek lebih lanjut dari UV termasuk mutagenesis pada
DNA secara langsung, pengaturan regulasi faktor-kB (NF-kB), dan regulasi Transformig Growth
Factor-beta. Efek ini berakibat dengan penurunan produksi kolagen, serta terjadi peningkatan
produksi sitokin inflamasi. (Yin et al., 2015). Pada manusia dalam waktu beberapa jam terpapar
sinar UV akan terbentuk MMPs khususnya gelatinase dan kolagenase yang pada akhirnya
menurunkan jumlah kolagen pada lapisan dermis (Fisher et al.., 2008; Rhein and Santiago, 2010)
Gambar. 1 Penyebab dan mekanisme Penuaan Kulit akibat sinar UV (Yin et al, 2015)
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari penulisan makalah ini yakni :
1. Penuaan (aging) adalah perubahan fisiologis yang terjadi seiring dengan
bertambahnya usia kronologis dan akan terjadi pada semua organisme
2. Gejala Klinis Proses Penuaan dibagi dalam dua bagian yaitu: 1) Tanda fisik, seperti
masa otot berkurang, lemak meningkat, kulit berkerut, daya ingat berkurang, fungsi
seksual, dan reproduksi terganggu, kemampuan kerja menurun, sakit tulang.2) Tanda
psikis, seperti gairah hidup menurun, sulit tidur, mudah cemas, mudah tersinggung,
merasa tidak berarti lagi
3. Proses penuaan berlangsung dalam tiga tahap yaitu: 1) Tahap subklinik (usia 25-35
tahun), 2) Tahap Transisi (usia 35-45 tahun), 3) Tahap klinik (usia lebih dari 45 tahun
4. Terdapat empat teori utama yang menjelaskan terjadinya proses penuaan:
 Teori Wear and Tear
 Teori Neuroendokrin
 Teori Kontrol Genetika
 Teori Radikal Bebas

5. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses penuaan adalah sebagai berikut:


 Faktor intrinsik, misalnya Genetik, Hormon dan Rasial
 Faktor ekstrinsik, misalnya Sinar matahari, Perawatan kulit yang kurang tepat,
Faktor yang berhubungan dengan pembentukan radikal bebas
 Faktor lainnya misalnya, Nutrisi atau gizi yang kurang, Pola hidup yang tidak
tepat, Stress dan waktu istrahat yang kurang , Penyakit sistemik dan
Penurunan berat badan yang drastis
3.2 SARAN
Penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis
menghimbau kepada pembaca untuk menggali lebih jauh informasi terkait mengetahui proses
dan ciri-ciri penuaan pada kulit manusia
DAFTAR RUJUKAN

Baumann, L. dan Alleman, I.B., (2009). Antioxidants, dalam: Baumann, L., Saghari, S.,
Weisberg, E. (Eds.), Cosmetic Dermatology: Principles and Practice, 2nd Ed. McGraw-
Hill Professional, New York, hal. 292–311.
Brenneisen P, Sies H, Scharffetter-Kochanek K. 2002. Ultraviolet-B irradiation and matrix
metalloproteinases: from induction via signaling to initial events. Ann N Y Acad
Sci. 2002;973:31–43.
Fisher, GJ 2002, Mechanism of photoaging and chronological aging: Arch. Derm,vol. 138,
no.110, pp.1462-70.
Jenkins G. 2000. Molecular mechanisms of skin aging. Mech Ageing Dev 2000;123:801-10.
Poljsak B, Dahmane RG and Godic A. 2012. Intrinsic skin aging: the role of oxidative stress.
Acta Dermatovenerol Alp Pannonica Adriat 2012;21:33-6.
Pangkahila, Wimpie, 2011. Anti-Aging. Tetap Muda dan Sehat. Penerbit : PT. Kompas Media
Nusantara.
Pangkahila, Wimpie. 2007. Anti-Aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan
Kualitas Hidup. Jakarta : Kompas Media Nusantara.
Park DC, Yeo SG. Aging. Korean J Audiol. 2013 Sep;17(2):39-44. doi:
10.7874/kja.2013.17.2.39. Epub 2013 Sep 24. PMID: 24653904; PMCID: PMC3936540.
Rubinstein RL, Canham S. 2008. Aging skin in sociocultural perspective. In: Dayan N, editor.
Skin aging handbook: an integrated approach to biochemistry and product development.
New York: William Andrew Inc; 2008. p. 3-14.
Schwartz R, Ting CS, King J. 2001. Whole proteome pI values correlate with subcellular
localizations of proteins for organisms within the three domains of life. Genome
Res.;11(5):703-9. doi: 10.1101/gr.gr-1587r. PMID: 11337469.
Yaar M, Gilchrest BA.2008. Aging skin. In:Wolf KW, et al. Fitzpatrick’s dermatology in
General Medicine, 7thed. Mc Graw Hill Medical.963-7
Yin, F., Yao, J., Sancheti, H., Feng, T., Melcangi, R.C., Morgan, T.E., Finch, C.E., Pike, C.J.,
Mack, W.J., Cadenas, E., Brinton, R.D., 2015. The perimenopausal aging transition in
the female rat brain: decline in bioenergetic systems and synaptic plasticity. Neurobiol.
Aging 36, 2282–2295