CANDI BURUNG
Dusun Longgara - Desa Kebunan
Berapa puluh tahun silam terdapat suatu kampung di ujung utara Kecamatan Kota Sumenep,yaitu
Dusun Longgara Desa Kebunan. Sebelum kampung tersebut diberi nama Longgara, terdapat sebuah
cerita fakta yang sangat bersejarah yang tidak semuanya masyarakat di Kampung tersebut
mengetahuinya. Sebelum Longgara tercipta terlebih dahulu masyarakat Desa tersebut menamainya
dengan kampung Girpajung . Didalam Kampung tersebut di era kejayaan pemuda kesatria yang bernama
Jokotole,terdapat sebuah rencana untuk membangun candi burung tersebut. Candi adalah salah satu istilah
dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan atau tempat ibadah
peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban Hindu-Buddha. Sedangkan Burung berasal dari
Bahasa Madura yang berarti tidak. Jadi Candi Burung tersebut adalah bangunan keagamaan atau tempat
ibadah agama Hindu Buddha yang tidak tercipta/terjadi.
Sebelum kaum Hindu-Buddha tersebut merencanakan untuk membangun candi, terlebih dahulu
mereka menjadikan salah satu tempat yang ada di kampung Girpajung sebagai tempat untuk menyembah
Tuhannya. Para kaum tersebut kebanyakan asli dari pulau Dewata Bali yang pada saat itu mereka
menyebarkan luaskan agamanya di berbagai penjuru. Bahkan beberapa warga di Kampung Girpajung
tersebut sudah mulai bergabung didalamnya, dari awal mula mereka mayoritas beragama islam kini
dengan kehadiran orang-orang dari Bali agama Islampun mulai pecah pada masa waktu itu. Rencana
pembangunan candi sudah mulai dilakukan. Pada waktu itu disaat sebelum pembangunan,mereka
meratakannya terlebih dahulu,karena lokasi pembangunan tersebut berada diatas bukit yang penuh
dengan bebatuan. Dengan tekat dan semangat mereka terus bekerja untuk mewujudkan keinginannya
membangun candi tersebut. Setelah semuanya hampir rata salah satu anggotanya mencoba untuk
menghancurkan batu besar dilokasi pembangunan tersebut. Mereka tidak patah semangat meskipun batu
itu sangat sulit untuk dipecahkan,dengan semangat penuh akhirnya batupun hancur .
Setelah batu besar tersebut berhasil dihancurkan ternyata semuanya tidak menyangka bahwa
terdapat sumber mata air yang begitu luas biasa ,bahkan mereka kebingungan dengan kejadian pada
waktu itu. Airpun meluap dan tak bisa dibendung. Dari kejadian tersebut warga kampung yang masih
beragama Islam tidak tinggal diam, mereka beserta para tokoh agamanya mendatangai tempat
pembangunan candi yang tidak jauh dari mereka yang masih berislam. Mereka (Islam) menyuruh mereka
(Hindu-Buddha) untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Mereka membantah kata-kata perintah
untuk pergi,akhirnya kedua kubu yang berkeyakinan berbeda kini berseteru dan pertumpahan darah sudah
dimulai. Dengan jumlah yang lebih banyak warga kampung Girpajung tersebut memenangkan
pertarungan ditengah-tengah air yang mennggenangi tempat itu.
Dengan pergi membawa kekalahan, mereka kini lari menyusuri kearah timur Kota Sumenep,yaitu
Desa Pinggir Papas atau lebih dikenal dengan sebutan Girpapas. Tidak lama mereka setelah sembuh dari
kekalahan dalam pertarungan melawan warga Girpajung,mereka Putra dan Putri Bali beserta para
pengikutnya bangkit untuk kembali menyebarkan Hindu-Buddha di Desa Girpapas. Perlahan mereka
berhasil menyebarkan agamanya di Desa tersebut. Makanya sampai saat ini di Girpapas dan sekitarnya
masih saja menyelenggarakan budaya Nyadar secara rutin setiap tahun.
Setelah Hindu-Buddha lenyap dari pandangan warga Girpajung,kini mereka mencari cara
bagaimana menutup sumber mata air yang terlalu besar untuk dimanfaatkan. Jika sumber tersebut
dibiarkan tidak mustahi jika di kampung itu menjadi lautan. Akhirnya mereka bersama-sama menutup
sumber itu dengan Gung . Gung adalah alat musik trsdisional madura yang masih digunakan sampai saat
ini. Seperti contoh seni kerawitan, saronen, ludruk, musik tong-tong dan seni musik lainnya yang ada di
Sumenep Madura. Gung dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti Gong. Sangatlah
mustahil jika kita telaah sumber mata air yang begitu besar hanya dapat ditutup dengan gung. Namun kata
gung hanyalah kiasan yang mempunyai arti yang Maha Agung. Maka sumber itu bisa tertutup dengan
pembacaan Allahu Akbar setiap malam secara rutin yang berarti Allah maha besar.
Setelah warga Girpajung berhasil mengusir kaum Agama Hindu-Buddha barulah Kampung
Girpajung diganti namanya menjadi Dusun Longgara. Di Dusun itu banyak sekali peninggalan sejarah
diantaranya batu tumpang, batu tersebut terletak di pinggir jalan jalan lingkar utara Kota Sumenep.
Konon katanya batu tersebut sangatlah keramat, sampai-sampai tidak ada satupun orang yang berani
memisahkan kedua batu tersebut. Selain batu tumpang di Dusun Longgara juga terdapat makam yang
panjangnya kurang lebih 3 meter. Makam tersebut jaraknya tidak jauh dengan keberadaan batu tumpang.
Ada pula yang dinamakan makam atau asta Totapa, warga sekitar menyebutnya karena dulu asta tersebut
memiliki beberapa batu besar yang digunaka sebagai tempat untuk bertapa.
Bahkan sekarang ini di tahun 2020 Dusun Longgara mempunyai wisata yang diberi nama Femaru
Hill. Tempat ini di dirikan pada bulan februari 2018 oleh pengusaha muda asli keturunan warga Desa
Kebunan. Beliau bernama Venus Femaru. Bang venus sendiri mengatakan bahwa Dusun Longgara Desa
Kebunan Kec.Kota Sumenep ini akan menjadikan Desa ini menjadi Desa wisata besar nantiya menyamai
kota-kota wisata lainnya. Sekarang ini di Femaru Hill sudah terdapat beberapa wisata diantaranya; wisata
berkuda dan memanah, bahkan Bang Venus menjelaskan aka ada juga kolam renang dan AGRO wisata.
Bapak Sutipyo merupakan Ketua RT.02/RW.03 Dusun Longgara dan sekaligus pemilik buku
PAKEM DESA KEBUNAN. saat ini beliau kondisinya dalam keadaan sakit dan tidak bisa memandangi
Dusun Longgara ini seperti dulu lagi. Namun Bapak Sutipyo masih saja mampu menjelaskan dengan
sangat detail tentang Longgara ini. Tahun 2008 beliau mengatakan bahwa dibuku PAKEM tersebut
dijelaskan aka ada jalan besar untuk Longgara, ternyata apa yang dipaparkan oleh beliau menjadi
kenyataan seperti saat ini yaitu didirikannya jalan Lingkar Utara. Dengan adanya akses Jl.Lingkar utara
ini warga Longgara aka ada dijalur kesuksesan,khususnya di bidang perekonomian. Beliau juga
menjelaskan bahwa suatu saat nanti salah satu warga yang ada di Longgara akan menjadi orang besar.
Dengan semua itu, pastilah semua warga akan merasakan kebahagiaan. Namun disisi lain beliau
mngatakan bahwa di Longgara tersebut masih tersimpan sejuta misteri dalam buku PAKEM tersebut,
didalamnya mengatakan bahwa dengan adanya Jl.Lingkar Utara ini suatu saat nanti akan terjadi
pertumpahan darah . Sampai saat ini bapak Sutipyo masih belum menemukan maksud penjelasan dari
buku PAKEM tersebut. Semoga pertumpahan darah tersebut tidak datang dan terjadi di Dusun Longgara
yang penuh sejarah ini.